Tentang Perjuangan serta Penantian Panjang

Tentang Perjuangan serta Penantian Panjang

Dakwah mengakar (ilustrasi dari maalimfitariq.wordpress.com)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(Ali Imran : 110)

Dakwah, menurut Syeikh Fathi Yakan, seorang guru besar serta duta dakwah bagi semua aktivis dakwah adalah ‘segala bentuk penghancuran akan kejahiliyahan’. Selanjutnya, dakwah didefinisikan sebagai ‘mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Tentang pengalaman dakwah, terlebih bagi saya yang masih terlalu bau kencur untuk menjadi bagian didalamnya dan menikmati lika-likunya merupakan sebuah tantangan serta harapan baru bagi risalah mulia yang dibawa Rasululullah, para tabi’in, tabi’ut serta penerus mereka yang insya Allah masih istiqomah hingga nanti.

Menjadi seorang pengemban dakwah, bukan hal yang mudah, penuh kekayaan, popularitas dan kemegahan duniawi lainnya, melainkan harus siap untuk tahan banting, menyerahkan seluruh jiwa raga, harta, pikiran dan waktu yang harus dipergunakan lebih dan menjadi pembeda bagi mereka yang belum mau ikut campur dengan urusan ini.

Dan, izinkan kali ini saya mulai bercerita tentang permulaan sebuah perjalanan panjang bernama ‘dakwah’ yang masih terlampau jauh dibandingkan kisah mereka –para pendahulu- yang jauh lebih heroik serta mengharukan ..
...
Lebih kurang 5 tahun lalu, saat saya masih telalu imut untuk memahami dunia dan seisinya, seorang siswa sebuah SMA negeri di Jakarta yang waktu itu tersihir oleh sebuah program yang dibuat oleh orang-orang yang sering saya identikkan dengan manusia bumi berhati langit bernama mentoring. Setelah itu, mereka mengadakan sebuah up-grading untuk mengajak kami para siswa-siswi yang mulai tersihir oleh mentoring untuk memahami hakikat keberadaan kami disini. Saat fase internalisasi tiba, ketika salah seorang senior mulai menyerukan sebuah kalimat yang hingga kini masih selalu tamparan paling menyakitkan jika ingin mundur atau menyerah di jalan dakwah yang berbunyi : “.. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.”- Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin - Hasan Al-Banna.

Mulai detik itu, sedemikian hingga saya tersadar akan tugas saya dihadirkan Allah ke bumi, akan sebuah makna penyampaian kebenaran yang didasari dari hati yang benar-benar hanya berharap pada-Nya, tentang dakwah, dan tentang ummat yang engkau cintai.

Dan alhamdulillah, hingga kini, Allah masih begitu mencintai saya dan kami, -orang-orang yang masih setia mengabdi- untuk terus melanjutkan perjuangan, untuk terus bersabar dalam penantian untuk sebuah kemenanngan dalam dekapan dakwah yang masih begitu panjang.

Hanya Allah yang mampu istiqomahkan keta’atan dan kepercayaan di jalan dakwah, walaupun perjuangan kini, jangan harap bisa dibandingkan dengan Rasulullah yang harus terlunta-lunta hingga dibilang gila oleh kaum-nya sendiri, atau Bilal bin Rabbah yang ditindih batu besar di teriknya matahari siang dan masih berkata ”ahad..ahad..” serta cerita paling mengharukan abad ini tentang sekelompok kader dakwah yang harus mati dengan serbuan peluru saat shalat subuh..

Saya sadar, dakwah ini jalan panjang, dan ini baru permulaan, taruhlah usia dakwah saya baru menginjak 5 tahun dan belum melakukan sebuah perubahan besar bagi peradaban, tapi dakwah adalah pekerjaan terus menerus, yang tidak selesai dalam hitungan bulan bahkan tahun. Maka jika kini, semakin banyak pengalaman dakwah yang saya alami, maka semakin besar akan keyakinan bahwa kemenangan dakwah yang Allah janjikan sudah begitu nyata. Maka ketika nanti mungkin saya akan kembali disibukkan dengan masalah kader-kader yang mulai berguguran, intervensi pihak musuh yang begitu memilukan atau kinerja tubuh yang selalu minta istirahat, maka semua itu semua itu bukan alasan untuk sekali lagi melanjutkan perjuangan dan bersabar dalam penantian panjang untuk memuliakan risalah dakwah demi ummat yang begitu kau cintai.. []

Penulis : Puti Halimah
Sumedang Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar