Segelas Kisah Bernama Cinta

Segelas Kisah Bernama Cinta

Ilustrasi gelas cinta (foto toppuisi.blogspot.com)
“Jangan pernah mundur dari barisan dakwah ini. Karena anti akan mendapatkan segala sesuatu yang bahkan anti sendiri tidak pernah terpikir untuk memintanya pada Allah. Anti akan belajar banyak hal di sini.” Itulah kalimat nasehat dari seorang kakak yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Kalimat itu selalu terbersit di pikiran seiring ketika aku mengingat kenangan bersamanya.

Kholisnawati atau lebih akrab disapa mbak Kholis, beliau adalah kakak angkatan sekaligus teman satu kamarku di sebuah kost binaan, yaitu pesantren mahasiswa (pesma) di Kota Pekalongan. Selisih usia kami sekitar 4 (empat) tahun. Sifat keibuan yang melekat pada dirinya membuatku merasa nyaman dan ingin berlama-lama ketika bersamanya. Bahkan tidak jarang aku bertingkah seperti anak kecil yang merajuk manja. Tingkah kekanak-kanakan itulah yang membuat ikatan persaudaraan kami semakin kuat. Tidak hanya itu, beliau juga telah membuatku semakin mengerti dan mencintai Islam. Melalui diskusi-diskusi serta taujih ringan di setiap kesempatan, sedikit demi sedikit membuka pikiranku betapa banyak hal yang harus aku perbaiki dalam hidup ini. Apalagi sebelumnya aku termasuk siswi SMA yang tergolong urakan dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Hal yang sampai saat ini masih tertancap kuat di hatiku adalah ketika beliau memberi hadiah satu stel gamis dan jilbab lebar kepadaku. Padahal saat itu bukan hari ulang tahunku. Namun Allah membuat hari tersebut menjadi sangat istimewa melalui beliau. Itulah kali pertama aku memakai gamis dan jilbab lebar setelah sekian lama terlalu percaya diri dengan tampilan “preman”.

Subhanallah, terlihat semakin cantik, Dik. Semoga istiqamah, ya.” komentar beliau sebelum aku berangkat kuliah dengan “kemasan” berbeda. Karena terharu, aku langsung tenggelam dalam pelukan beliau. Hangat. Seketika itu bertambahlah rasa percaya diriku untuk menampilkan identitas seorang muslimah dimana pun dan kapan pun. Ya Rabbul Izzati, muliakanlah aku dengan pakaian ini dan limpahkanlah ridhaMu kepada orang yang memberikan hadiah istimewa ini.

Sejak saat itu, aku merasa risih jika tidak memakai jilbab lebar. Jadi mau tidak mau aku harus menyisihkan sebagian uang saku untuk membeli jilbab. Dan tentu saja jilbab pemberiannya menjadi jilbab favoritku. Sejak itu pula aku mulai memperbaiki intensitas liqa’ pekanan. Sudah bukan saatnya lagi menganggap “pertemuan agung” itu sebagai beban dalam aktivitas keseharianku melainkan membuatnya menjadi sebuah kebutuhan pokok dalam hidup. Bismillah, ini saatnya untuk hijrah dalam rangka berbenah diri, tekadku dalam hati.

Sisi lain dari mbak Kholis adalah beliau termasuk tipe orang yang vokal dan suka bercerita tentang pengalaman yang mengandung pelajaran hidup. Beliau juga sangat menyukai sejarah, terutama sejarah peradaban Islam dan sirah. Aku pernah diceritakan betapa sederhananya kehidupan Rasulullan Saw.. Beliau sampai mengganjal perut dengan batu untuk menahan rasa lapar karena ketiadaan bahan makanan. Puasa sunah menjadi hal biasa dalam perjalanan hidup beliau. Ketiadaan makanan tidak menjadi penghalang untuk tetap optimal dalam berbuat dan menyeru kepada kebaikan.

Teladan Rasul tersebut kemudian menjadi penyemangatku ketika harus sahur dengan makanan seadanya. Pernah suatu ketika aku sahur bersama mbak Kholis hanya dengan sebutir telur dan sepiring nasi. “Mbak yang goreng telur, nanti anti menyiapkan nasi dan air putih,” kata beliau kalem. Aku agak kaget ketika memakan telur dadar buatan mbak Kholis. Asin sekali. Sebenarnya aku ragu untuk mengatakan pada beliau terkait ini, tetapi akhirnya aku sampaikan juga. “Karena telurnya cuma satu, mbak sengaja ngasih garam lebih banyak biar cukup untuk menghabiskan nasi ini. Kalau asinnya pas, nanti pasti telurnya habis duluan.” tutur beliau dengan nada menggoda. Aku hanya tersenyum dan hampir menangis karena terharu. Kami juga pernah makan sahur hanya dengan beberapa keping biskuit dan segelas susu yang hambar karena terlalu banyak air. Subhanallah, anugerah cinta dariMu membuat makan sahur yang seadanya itu terasa sangat nikmat.

Keseharianku dengan mbak Kholis tidak pernah terlewat tanpa diskusi. Selalu ada saja ilmu baru yang beliau sampaikan baik secara langsung melalui lisan atau pun tidak langsung (melalui teladan). Kepada adik-adik pesma yang lain, beliau juga memberikan perlakuan yang tidak jauh berbeda meskipun aku merasa beliau lebih memperhatikanku dari yang lain. Barangkali beliau memandangku sebagai santri “berkebutuhan khusus” sehingga memang perlu diberi perhatian lebih.

Saking dekatnya kami, sampai pada saat beliau lulus dan menikah, aku merasa sangat kehilangan karena tidak bisa lagi secara intensif bertemu dan berkomunikasi dengan beliau. Namun beliau memang sudah saatnya membangun peradaban baru dalam keluarganya. Tidak terasa air mataku membasahi jilbab beliau ketika kami tenggelam dalam dekapan yang hangat. Dalam dan lama. []

Penulis : Tri Agustina
Pemalang, Jawa Tengah

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar