Madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah Tentang Asma' dan Shifat-Shifat Allah Secara Tafshil / Rinci

Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah madzhab kaum salaf Rahimahumullah Ta'ala. Mereka beriman kepada apa saja yang disampaikan oleh Allah mengenai diri-Nya di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam dengan keimanan yang bersih dari tahrif dan ta'thil serta dari takyif dan tamtsil. Mereka menyatukan pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah dengan pembicaraan mengenai Dzat-Nya, dalam satu bab. Pendapat mereka mengenai sifat-sifat Allah sama dengan pendapat mereka mengenai Dzat-Nya. Bila penetapan Dzat adalah penetapan tentang keberadaannya, bukan penetapan tentang bagaimananya, maka seperti itu pulalah penetapan sifat. Menurut mereka, wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditegaskan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah, atau oleh salah satu dari keduanya. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut wajib diimani sebagaimana yang disebutkan dalam nash, tanpa takyif, wajib diimani berikut makna-makna agung yang terkandung didalamnya yang merupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Wajib mensifati Allah dengan makna sifat-sifat tersebut, dengan penyifatan yang layak bagi-Nya, tanpa tahrif, ta'thil, takyif, atau tamtsil [1]

Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak mengkiaskan Allah dengan makhluk-Nya, karena mereka tidak memperbolehkan penggunaan berbagai kias (analogi) yang mengandung konsekuensi penyerupaan dan penyamaan antara apa yang dikiaskan dengan apa yang menjadi obyek pengkiasan dalam masalah-masalah Ilahiyah. Karena itu mereka tidak menggunakan kias, tamtsil dan kias syumul/ menyeluruh terhadap Allah Ta'ala. Terhadap Allah SWT mereka menggunakan kias aula/ yang lebih utama. Inti kias ini adalah bahwa setiap kesempurnaan yang terdapat pada makhluk, tanpa kekurangan dipandang dari berbagai segi, maka Al-Khaliq lebih layak untuk memilikinya, sebaliknya setiap sifat kekurangan dihindari oleh makhluk, maka Al-Khaliq lebih layak untuk terhindar darinya.


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Setelah Syaikhul Islam Rahimahullah Ta'ala menyebutkan akidah Firqah Najiyah secara ijmal, yaitu: Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk dari Allah, maka beliau mulai menjelaskan hal itu secara mendetail. Beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa di antara manifestasi iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang disifatkan oleh-Nya untuk diri-Nya, atau oleh rasul-Nya Sallallahu 'alaihi wassalam, tanpa tahrif, ta'thil, takyif atau tamtsil.
Beliau Rahimahullah lalu menyebutkan sejumlah ayat dan hadits sahih yang di situ Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam menetapkan Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla, dengan penetapan yang layak bagi-Nya. Dalam hal ini, beliau Rahimahullah bermaksud menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk mengetahui Sifat-sifat Rabbnya yang Maha Tinggi dan Asma'-Nya yang Maha Indah, melainkan melalui perantaraan wahyu. Asma' dan Sifat-sifat Allah itu bersifat tauqifiyah (hanya bisa diketahui dari Allah). Maka, apapun yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, atau oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam, kita meyakininya. Demikian pula, apa yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam, kita menafikannya. Cukuplah bagi kita informasi yang datang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih ini.

Di antara ayat dan hadits yang disebutkan oleh beliau Rahimahullah adalah sebagai berikut:
 

Foote Note.
[1]. Lihat "Al-Aqidah Asy-Shahihah wa maa Yudhaadhuha", Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz, hal 7 dan 'Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah", Al-Haras hal. 25

Madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah Secara Ijma / Global Mengenai Shifat-Shifat Allah

Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala, tanpa ta'thil, tamtsil, tahrif, dan takyif[1]. Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan Al-Hadits.

[1]. Tahrif
Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya. Tahrif ini dibagi menjadi dua:
 

Pertama:
Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka, bahwa istawa [2] Adalah istaula [3] Disini ada penambahan huruf lam. Demikian pula perkataan orang-orang Yahudi, "Hinthah [4] ketika mereka diperintah untuk mengatakan "Hiththah[5]" Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid'ah yang memanshubkan[6] lafazh Allah dalam ayat :
وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيماً
"Artinya : Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung."[An-Nisa' : 164].

Kedua:
Merubah makna. Artinya, tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya, tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid'ah yang menafsirkan Ghadhab (marah), dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam); Rahmah (kasih sayang), dengan iradatul in'am (keinginan untuk memberi nikmat); dan Al-Yadu (tangan), dengan an-ni'mah (nikmat).

[2]. Ta'thil
Ta'thil secara bahasa berarti meniadakan. Adapun menurut pengertian syar'i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta'ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya. Jadi, perbedaan antara tahrif dan ta'thil yaitu : ta'thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah, sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil.

MACAM-MACAM TA'THIL

Ta'thil ada bermacam-macam.


[a]. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma' dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian dari-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah.

[b]. Meninggalkan muamalah dengan-Nya, yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya, baik secara total maupun sebagian, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya.

[c]. Meniadakan pencipta bagi makhluk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya, alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya.

Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta'thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta'thil melakukan tahrif. Siapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar, maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta'thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu'athil (pelaku ta'thil), tetapi bukan muharif (pelaku tahrif).

[3]. Takyif
Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/ keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/ keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah paham yang dianut oleh kaum Salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik Rahimahullahu Ta'ala ketika ditanya tentang bentuk/ keadaan istiwa', -bersemayam-. Beliau Rahimahullah menjawab :

"Istiwa' itu telah diketahui (maknanya), bentuk/ keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya adalah bid'ah."[7]

Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, dengan memasrahkan bentuk/ keadaannya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.

[4]. Tamtsil
Tamtsil artinya tasybih, menyerupakan, yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta'ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi'liyah-Nya.

Tamtsil ini dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama :
Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta'ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan 'Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.

Kedua :
Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.[8]

ILHAD TERHADAP ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

Pengertian ilhad terhadap Asma' dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, hakekat-hakekatnya, atau makna-maknanya, dari kebenarannya yang pasti. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya, atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar, atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid'ah, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham "Ittihad". Jadi, yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif, ta'thil, takyif, tamtsil dan tasbih. [9]
 

Foote Note.
[1]. Serta tanpa tafwidh
[2]. Istawa artinya berada di atas; (setelah dahulunya tidak)
[3]. Istaula artinya menguasai
[4]. Hinthat artinya gandum
[5]. Hiththah artinya bebaskan kami dari dosa
[6]. Maksudnya, lapazh Allah dibaca dengan harakat akhir fathah, padahal semestinya harakat akhirnya dibaca dengan dhammah . Dengan dimanshubkan, maka kedudukan lapazh Allah dalam ayat tersebut menjadi obyek, sehingga arti ayat tersebut berubah menjadi, Dan Musa berbicara kepada Allah secara langsung.
[7]. Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/144
[8]. Al-Kawasyif Al-jaliyah an Ma'ani Al-Wasithiyah, hal.86.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah berkata : Ada tasybih jenis ketiga, yaitu menyerupakan Sang Pencipta dengan madumat, (sesuatu yang tidak ada), tidak sempurna dan benda-benda mati. Inilah tasybih yang dilakukan oleh orang-orang yang menganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah.
[9]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 32 dan Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 24.

Metode Ahlussunnah Wa Jama'ah Dalam Meniadakan dan Menetapkan Asma' dan Shifat Bagi Allah

Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya secara tafshil, dengan landasan firman Allah :

 وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

"Artinya : Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat." [Asy-Syura : 11]

Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam, mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jama'ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh rasul-Nya, dengan penafian secara ijmal, berdasarkan kepada firman Allah :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ 
 
"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya..." [Asy-Syura : 11]

Penafian sesuatu menuntut penetapan terhadap kebalikannya, yaitu kesempurnaan. Semua yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, berupa kekurangan atau persekutuan makhluk dalam hal-hal yang merupakan kekhususan-Nya, menunjuk-kan ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan kebalikannya. Allah telah memadukan penafian dan penetapan dalam satu ayat. Maksud saya penafian secara ijmal dan penetapan secara tafshil yaitu dalam firman Allah Subhanallahu wa ta'ala :

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
 
"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [Asy-Syura: 11]

Ayat ini mengandung tanzih, -penyucian- Allah dari penyerupaan dengan makhluk-Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Bagian awal ayat di atas merupakan bantahan bagi kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah), yaitu firman Allah Ta'ala:

"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya ..."

Adapun bagian akhir dari firman Allah tersebut merupakan bantahan bagi kaum Mu'athilah -yang melakukan ta'thil-, yaitu firman Allah:

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير
 
"Artinya : Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [Asy-Syura : 11]

Pada bagian pertama terkandung penafian secara ijmal sedangkan pada bagian terakhir terkandung penetapan secara tafshil. Ayat di atas juga mengandung bantahan bagi kaum Asy'ariyah yang mengatakan bahwa Allah mendengar tanpa pendengaran dan melihat tanpa penglihatan. [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta'ala mencantumkan ayat diatas, berikut surah Al-Ikhlas dan ayat Al-Kursi, karena surah Al-Ikhlas dan ayat-ayat tersebut mengandung penafian dan penetapan. [2] Surah Al-Ikhlas memiliki bobot yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam [3] Para Ulama menyebutkan penafsiran sabda beliau itu, bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tiga macam kandungan, yaitu : Tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum, sedangkan surah Al-Ikhlas ini mengandung tauhid dengan ketiga macamnya, yaitu: Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Asma' wa Shifat. Karena itulah ia dikatakan sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an. [4]

Ayat Al-Kursi adalah ayat yang agung, bahkan merupakan ayat yang paling agung di dalam Al-Qur'an.[5] Itu disebabkan, ia mengandung nama-nama Allah Yang Maha Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut terkumpul di dalamnya, yang tidak terkumpul seperti itu dalam ayat lainnya. Karena itu, ayat yang mengandung makna-makna agung ini layak untuk menjadi ayat yang paling agung dalam Kitabullah. [6]
 

Foote Note.
[1]. Al-Ajwibah Al-Ushuliyah 'ala Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, hal.26
[2]. Ar-Raudah An-Nadiyah‌, hal. 120 dan Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah‌, Al-haras, hal.31
[3]. Al-Bukhari, lihat Fathul Bari‌XIII / 347 dan Muslim I/556 no.811.
[4]. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, Al-Haras, hal.21
[5]. Muslim I/556 no.810, Ahmad V/142, dan lain-lain.
[6]. Al-Ajwibah Al-Ushuliyah 'ala Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, hal.40

Sudah Siapkah Kita Bila Ajal Tiba ? (1)

Ada cerita mengenai orang-orang terdahulu, seseorang diantara mereka bertanya, "Maukah engkau mati sekarang?" Temannya menjawab, "Tentu tidak." Lalu ditanyakan lagi kepadanya, "Kenapa?" Jawabnya, "Saya belum bertaubat dan berbuat kebajikan." Selanjutnya dikatakan kepada orang itu, "Kerjakanlah sekarang!" Ia menjawab, "Nanti saya akan lakukan." Demikianlah ia selalu berkata, "Nanti dan nanti," Sehingga akhirnya ia meninggal dunia tanpa sempat bertaubat dan melakukan perbuatan baik. Saya yakin engkau tidak mau berakhir seperti ini. Jadi, 

"Lakukanlah bagi dirimu taubat dengan penuh pengharapan
Sebelum kematian dan sebelum dikuncinya lisan
Cepatlah bertaubat sebelum jiwa ditutup
Taubat itu simpanan bagi pelaku kebaikan."
Ingatlah wahai saudaraku, keadaanmu di saat engkau merasakan pedihnya sakaratul maut, yang pada saat menghadapinya demi Allah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling dicintai Allah bersabda, "Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah sesungguhnya dalam kematian itu terdapat rasa kesakitan." [HR. Bukhari]

Bayangkan wahai saudaraku, engkau berada di hadapan kematian ini. Malaikat maut tepat berada di atas kepalamu. Nafasmu tersengal, hatimu bergetar, nyawamu meregang, mulutmu terkunci, anggota badanmu lemas, lehermu berkeringat, matamu terbelalak, pintu taubat telah tertutup untukmu, dahimu berkeringat, di sekitarmu penuh dengan tangisan dan suara rintihan, sedang kau dalam kesedihan yang mendalam, tiada yang dapat menyelamatkan dan menghindarkanmu darinya. Engkau saksikan peristiwa mengerikan itu setelah sebelumnya kenikmatan  dan kesenangan yang kau rasakan. Telah datang kepadamu ketentuan Allah, lalu nyawamu diangkat kelangit. Kebahagian atau kesengsaraankah yang akan kau dapat? Jawaban atas pertanyaan itu mari kita lihat di surat Al Waqi'ah ayat 82-96.

Suatu ketika Khalifah Harun Al Rasyid memenuhi majlisnya dengan berbagai makanan dan perhiasan, lalu beliau menghadirkan Abu Al Atahiyah (Penyair ternama di masanya) dan berkata kepadanya, "Ungkapkan pada kami kenikmatan dunia yang telah kami peroleh." Ia menjawab, "Hiduplah dengan sesuka hatimu dalam naungan istana yang tinggi." Al Rasyid berkata, "Bagus, lalu apalagi?" Ia menjawab, "Kenikmatan menjadikan berlari dihadapan pergantian siang dan malam." Al Rasyid berkata, "Bagus. Lalu apa selanjutnya?"  Ia menjawab, 
"Jika nyawamu telah meregang
di hadapan hati yang bergetar,
saat itu kamu akan tahu dengan pasti
bahwa selama ini kamu terpedaya."

Lalu menangislah Khalifah Harun Al Rasyid. Salah seorangpejabatnya berkata kepada Abu Al Atahiyah, "Engkau dipanggilke sini oleh Amirul Mukminin untuk menghibur hatinya, akan tetapi engkau menjadikannya sedih." Harun Al Rasyid berkata, "Biarkanlah ia, sesungghnya ia melihat kita dalam kebutaan, dan ia tidak ingin kita semua buta."
Benar wahai saudaraku, cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, menjadikan mata menangis, perpisahan dengan orang-orang tercinta penghilang segala kanikmatan, pemutus segala cita-cita.
Suatu hari Hasan Al Bashri ditanya, "Apa yang kami lakukan? Kami senantiasa mempergauli kaum yang menakut-nakuti kami, hingga hati kami selalu khawatir?" Ia menjawab, "Demi Allah, jika engkau berkawan dengan kaum yang selalu menakut-nakutimu hingga engkau merasa aman jauh lebih baik daripadamempersgauli kaum yang selalu menentramkanmu, hingga engkau merasa takut."

Renungan kita kali ini mengenai ayat yang agung yang kadang menjadikan orang yang yang membacanya menjadi tergidik ketakutan. Namun baransiapa mempersiapkan diri untuknya, Insya Allah ia akan selamat. Yaitu sebuah ayat, yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya gunung tersebut akan bergetar. Sebuah ayat yang setiap kali terdengar, telinga segera menyimaknya. Sebuah ayat yang setiap kali dibaca, mata menjadi berkaca-kaca. Setiap kali dicerna, hati akan menjadi takut.

Sebuah ayat, yang setiap kali dipahami oleh orang yang lalai membuatnya bertaubat. Seyiap kali diperhatikan oleh orang yang berpaling menjadikannya segera kembali kepada Allah dan meminta ampunanNya.

Sebuah ayat yang menceritakan tentang perjalanan, kepergian, sebuah perjalanan yang berat. Ayat tersebut adalah firman Allah 'Aza wa Jalla, 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat saja;ah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."[Ali Imran: 185]
Memang wahai saudaraku...! perjalanann ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita memohon kepada Allah agar tujuan akhirnya adalah surga, bukan neraka.

Karena keagungan perjalanan ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." [Muttafaq 'Alaih]

Maksudnya jika kita mengetahui hakikat kematian dan kedahsyatannya, alam kubur dan kegelapannya, hari kiamat dan segala kesedihannya, Shirath (titian) dan segala rintangannya, kemudian jika kita memperhatikan surga dan segala kenikmatannya, neraka dan kobaran apinya, niscaya keadaan kita akan segera berubah. Akan tetapi terkadang  kita lupa atau pura-pura lupa dengan perjalanan tersebut dan malah memilih dunia ini yang nilainya di sisi Allah tidak lebih dari sehelai sayap Nyamuk.

Wahai orang-orang yang tertipu oleh dunianya, wahai orang yang berpaling dari Allah, wahai orang yang lengah dari ketaatan pada Rabbnya, wahai orang-orang yang setiap kali dinasehati hawa nafsunya menolak nasehat ini, wahai orang-orang yang dilalaikan oleh nafsunya, dan tertipu oleh angan-angan panjangnya.
Pernahkah engkau memikirkan saat-saat kematian sedangkan engkau tetap dalam keadaanmu semula? Tahukah kamu apa yang akan terjadi pada dirimu di saat kematianmu?
Tentu saat itu engkau akan mengucapkan Laa ilaaha illallah, tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Tidak mungkin wahai saudaraku, jika engkau masih tetap lalai dan berpaling dari kebenaran hingga tiba saat-saat kematianmu. tentu engkau tidak akan mampu mengucapkannya, bahkan kamu akan berharap untuk dihidupkan kembali. (lihat Al Mu'minun: 99-100).

Kilas Balik Pencetus Takfir

Oleh : Ustadz Abu Abdirrahman bin Thoyyib
 
Berbicara mengenai terorisme dan pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai negara, khususnya Indonesia dan Saudi Arabia, tidak terlepas dari pembahasan masalah takfir/pengkafiran. Tidaklah mereka yang berani dan nekad serta tega membunuh kaum muslimin, entah dengan bom bunuh diri atau bom waktu dan yang lainnya, melainkan telah mengakar dalam hatinya pemikiran takfir. Mereka menganggap bahwa kaum muslimin sekarang ini tidak ada bedanya dengan orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashara). Maka dari itu mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan kaum muslimin.
Sejarah telah membuktikan akan hal ini. Tidaklah orang-orang Khowarij[1] menghalalkan darah Ali dan para sahabat yang lain rodhiyallohu ‘anhum, melainkan dilatarbelakangi oleh keyakinan mereka, bahwa Ali dan para sahabat itu telah kafir. Oleh karena itu simak dengan seksama hal-hal berikut ini:


A- Peringatan akan bahaya takfir
Masalah takfir adalah masalah yang amat sensitif. Tidak boleh seseorang berbicara dalam masalah ini, kecuali dengan ilmu serta petunjuk dari para ulama. Karena barangsiapa yang mengkafirkan saudaranya muslim tanpa ilmu, maka dia telah melakukan dua kesalahan fatal, yaitu :

1- Berbicara terhadap Allah tanpa ilmu.
Padahal Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah.” (QS. Al-An’am : 21).
Dan Dia juga berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS.Al-A’roof : 33)
Dan Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isra’ : 36)
Kenapa bisa dikatakan demikian ? karena takfir adalah hak Allah dan Rasul-Nya. Yang disebut dengan orang kafir adalah yang dikatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Mewajibkan dan mengharamkan, dosa dan pahala, serta takfir dan tafsiq (menuduh orang sebagai fasik) adalah hak Allah dan Rasul-Nya saja. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghukumi didalamnya” (Majmu’ Fatawa : 5/545). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam qosidah nuniyahnya :
الكُفْرُ حَقُّ اللهِ ثُمَّ رَسُوْلِهِ بِالنَّصِّ يَثْبُتُ، لاَ بِقَوْلِ فُلاَنِ

مَنْ كَانَ رَبُّ اْلعَالَمِيْنَ وَعَبْدُهُ قَدْ كَفَّرَاهُ فَذَاكَ ذُواْلكُفْرَانِ

(Penetapan sesuatu itu) kufur adalah hak Allah kemudian Rasul-Nya
dengan penetapan nash bukan dengan ucapan si fulan (si B)
Barangsiapa yang oleh Rob semesta Alam dan Rasul-Nya
Dikafirkan maka dialah orang kafir

2- Orang tersebut telah melampaui batas terhadap saudaranya sesama muslim. Karena pengkafiran tersebut memiliki konsekwensi penghalalan darah, kehormatan dan hartanya, tidak boleh dia mewarisi atau diwarisi, tidak boleh disholatkan atau didoakan jika meninggal, serta tidak boleh disemayamkan di pemakaman kaum muslimin. Dan yang lebih parah lagi kalau yang dikafirkan itu seorang penguasa/pemimpin kaum muslimin, maka ini akan menimbulkan pertumpahan darah dan pemberontakan. Fallahul Musta’aan wa ilaihi Al-Musytaka.
Dikarenakan bahayanya yang sangat besar, maka Islam pun memperingatkan darinya dan para ulama juga ikut andil dalam menjelaskan masalah besar ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ ِلأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَ فِي رِوَايَةِ

مُسْلِمٍ : إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ …
“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya : wahai kafir, maka (dosa) pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari keduanya, jika dia benar dalam berkata (maka tidak mengapa), tapi jika tidak maka ucapan itu akan kembali kepadanya”. (HR.Bukhori (6104) dan Muslim (111) dengan lafadz (apabila seseorang mengkafirkan saudaranya (muslim) ….).

Adapun peringatan ulama akan bahaya takfir tanpa ilmu amat banyak sekali, diantaranya : 

1- Al-‘Ala’ bin Ziyad rahimahullah seorang tabi’in berkata : “Engkau menuduh kafir orang muslim atau kamu membunuhnya itu sama saja”.[2]

2- Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah berkata : “Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu- bahwa pemikiran takfir sangat banyak fitnah dan bahayanya, serta menimbulkan perpecahan. Sesungguhnya kekejian yang besar adalah menuduh bahwa Allah tidak mengampuni dan merahmati orang muslim, bahkan menganggapnya kekal di dalam neraka selama-lamanya, padahal ini adalah hukum bagi orang kafir setelah mati”.[3]

3- Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Pemikiran takfir itu sangat berbahaya, banyak manusia yang terjerumus kedalamnya hingga mereka jatuh berguguran. Adapun para ulama, mereka berhati-hati sekali dalam masalah ini, sehingga mereka itu selamat, dan tidak ada yang sebanding dengan keselamatan dalam perkara ini”.[4]

B- Syarat-Syarat Takfir
Tidak semua yang melakukan perbuatan kufur atau mengatakan perkataan kufur bisa dinamakan kafir, hingga tegak padanya hujjah dan terpenuhi syarat-syaratnya, serta dihilangkan darinya pencegah-pencegahnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Terkadang perkataan kufur bisa dikatakan secara umum bagi yang mengatakannya sebagai orang ‘kafir’, misalnya “Barangsiapa yang mengatakan perkataan (kufur ini) maka dia kafir”. Akan tetapi person (individu tertentu) yang mengatakan perkataan tersebut tidak bisa dikatakan kafir hingga tegak baginya hujjah, yang bisa menjadi kufur orang yang meninggalkannya”[5]
Beliau juga berkata : “Sesunguhnya orang yang duduk denganku telah mengetahui, bahwa aku termasuk orang yang paling melarang (berhati-hati) dalam masalah pengkafiran dan penfasikan seorang muslim, kecuali kalau sudah tegak baginya hujjah yang barangsiapa menyelisihinya dia kafir atau fasik”[6]
Beliau juga berkata : “Oleh karena itu aku mengatakan kepada orang-orang Jahmiyah dari kalangan Hululiyah (yang meyakini bersemayamnya Allah dalam diri makhluk-Nya) dan penolak (nama dan sifat Allah) yang meniadakan bahwa Allah diatas Arsy-Nya : “Seandainya aku menyetujui kalian, maka aku kafir karena aku tahu bahwa ucapan kalian itu kufur! Akan tetapi kalian menurutku tidak kafir sebab kalian itu bodoh”. Dan ucapan ini ditujukan kepada ulama, qodhi, syaikh dan pemimpin mereka. Sebab kebodohan mereka adalah syubhat dari akal pemimpin mereka yang tidak mau mengambil nash shohih atau akal yang sehat, yang sesuai dengan nash tersebut”.[7]
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : “Jika kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah berhala yang ada di kuburan Ahmad Badawi karena kebodohan mereka, serta ketidakadanya orang yang memperingatkan mereka, maka bagaimana mungkin kita mengkafirkan orang yang tidak berbuat syirik hanya lantaran dia tidak bergabung dengan kami ?!” [8]
Syarat-syarat takfir itu ada tiga yaitu ilmu, niat (berbuat), dan tidak dipaksa. Dan lawan dari ketiga ini dinamakan pencegah takfir, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : “Adapun jika orang tersebut memiliki ilmu tentang apa yang dia ucapkan, dan dia tidak dipaksa, serta dia memang berniat mengucapkan hal tersebut maka dia bisa (dikafirkan)”[9]. Adapun dalil dari ketiga syarat tersebut adalah :

1- Ilmu lawannya jahl, dalilnya kisah Dzatu Anwaat
Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu dia berkata : “Dahulu kami bepergian bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, sedangkan kami baru saja keluar dari kekafiran. Orang-orang musryrikin memiliki sebuah pohon bidara yang dinamakan Dzatu anwaat, mereka menggantungkan senjata mereka di atasnya (untuk ngalap /mencari berkah). Ketika kami melewati sebuah pohon bidara kami mengatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwaat sebagaimana yang dimiliki oleh orang-orang musyrikin dahulu !’ maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Allahu Akbar, ini adalah jalannya orang-orang terdahulu, demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, ini seperti ucapan Bani Israil kepada Musa ‘alaihis salam:

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ

“Buatkanlah untuk kami sesembahan seperti mereka.” (QS. Al-A’raf : 138) sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.” (HSR. Tirmidzi)
Ucapan dan permintaan (untuk mencari berkah kepada selain Allah) dari para sahabat di atas adalah kekufuran. Tapi karena mereka masih belum tahu hukum ucapan dan permintaan tersebut, karena mereka baru masuk Islam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menvonis mereka kafir. Dari sinilah kita dilarang seenaknya mengkafirkan kaum muslimin, khususnya para penguasa tanpa memperhatikan dahulu syarat takfir di atas. Bisa jadi penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah belum mengetahui apa hukum perbuatan mereka tersebut.

2- Tidak dipaksa lawannya dipaksa, dalilnya kisah Ammar bin Yasir.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS.An-Nahl : 106)

3- Niat berbuat dan lawannya tidak ada niat (bukan disengaja), dalilnya orang yang mengatakan : “Ya Allah engkau adalah hambaku dan aku adalah Robbmu” (HR.Muslim)
Ucapan orang ini kufur karena menghina Allah, Robb semesta alam, tapi karena orang tersebut mengucapkannya secara reflek/tidak sengaja, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menvonisnya kafir. Oleh karena itulah jangan tergesa-gesa mengkafirkan kaum muslimin.

C- Kilas balik Pencetus Takfir
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan : “Kelompok Khowarij adalah orang pertama yang mengkafirkan kaum muslimin, dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka, serta menghalalkan darah serta hartanya”[10]
Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafidhahullah berkata : “Yang pertama kali jatuh dalam jurang pengkafiran umat Islam adalah Khowarij. Dan benih Khowarij ini, muncul pertama kali pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Datang seseorang (Dzul Khuwaisiroh) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat beliau sedang membagikan harta rampasan perang, setelah datang dari Hunain. Orang itu berkata : “Wahai Muhammad, berbuat adillah, karena engkau tidak berbuat adil !” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Celaka engkau, siapa yang akan adil jika aku tidak adil ?!” kemudian beliau bersabda : “Akan keluar dari tulang rusuk orang ini sekelompok orang, yang kalian akan meremehkan sholat kalian jika kalian bandingkan dengan sholat mereka. Dan kalian juga akan meremehkan puasa kalian jika kalian bandingkan dengan puasa mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah menembus sasarannya” (HR. Bukhori).

Dan Khowarij inilah yang ikut andil dalam pengepungan rumah Utsman radhiyallahu ‘anhu hingga beliau terbunuh, dan mereka jugalah yang membunuh Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu. Pembunuhan terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib yang dilakukan oleh Abdurrohman bin Muljam ini, mereka yakini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, karena mereka menganggap telah bisa membunuh orang kafir. Imron bin Hiththon Al-Khooriji (seorang tokoh khowarij) mengatakan :
يَا ضَرَبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي اْلعَرْشِ رِضْوَانَا

إِنِّي َلأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ أَوْفَى اْلبَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا

Wahai sabetan (pedang) dari seorang yang bertakwa. Dia tidak menginginkan dengan (pembunuhan) itu
Melainkan untuk mencapai keridhoan dari (Allah) yang memiliki Arsy
Aku selalu mengingatnya dan aku menganggapnya
Sebagai orang yang paling berat timbangan (kebaikannya) disisi Allah
Subhanallahu, membunuh sahabat yang termasuk salah satu khulafa’ ar-rosyidin, yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya, dan beliau adalah salah seorang yang diberi kabar gembira untuk masuk surga, dianggap oleh Khowarij sebagai amal ibadah yang mulia. Maha benar Allah Ta’ala yang telah berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya : ” Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi : 103-104)
Kalau ada yang memuji pembunuh Ali radhiyallahu ‘anhu, maka pembunuh Utsman juga ada yang memujinya. Siapa dia ? Dialah tokoh Ikhwanul Muslimin Sayyid Quthub. Dia mengatakan : “Dan yang terakhir, muncul pemberontakan terhadap Utsman. Tercampur di dalamnya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejahatan. Akan tetapi bagi yang melihat setiap perkara dengan kaca mata Islam, serta merasakannya dengan semangat keIslaman, maka dia akan menyatakan bahwa pemberontakan tersebut secara umum merupakan kebangkitan Islam.”[11]

Diantara sebab mengapa Khowarij mengkafirkan Ali adalah anggapan mereka, bahwa Ali tidak berhukum kepada hukum Allah. Mereka dan anak cucunya (para teroris dan mujahidin gadungan) selalu mengkafirkan para penguasa kaum muslimin dengan ayat :

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Tidak ada hukum selain hukum Allah” (QS. Yusuf :40)
Dan firman-Nya :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu kafir” (QS. Al-Maidah : 44).

Imam Al-hafidz Abu Bakr Muhammad bin Al-Husein Al-Ajurri rahimahullah berkata : “Diantara syubhat Khowarij adalah (berpegangnya mereka dengan-pent) firman Allah Ta’ala : “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Mereka membacanya bersama firman Allah : ‘Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (Surat Al-an’am : 1). Apabila mereka melihat seorang hakim yang tidak berhukum dengan kebenaran, mereka berkata : Orang ini telah kafir, dan barangsiapa yang kafir, maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Maka mereka para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik”[12].

Al-Imam Al-Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata dalam masalah iman : “Khowarij berhujjah dengan firman Allah ta’ala : “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Dzohir dalil mereka ini, mengharuskan pengkafiran para pemimpin yang dzolim, dan ini adalah perkataan Khowarij, padahal yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah orang-orang yahudi”[13].
Abu Hayyan rahimahullah berkata dalam tafsirnya : “Khowarij berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan, bahwa orang yang berbuat maksiat kepada Allah itu kafir, mereka mengatakan : Ayat ini, adalah nash untuk setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bahwa dia itu kafir”[14].
Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah menukil perkataan dari Al- Qusyairi rahimahullah : “Madzhabnya Khowarij adalah barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Allah maka dia kafir”[15]
Wahai kaum muslimin, sadarlah akan bahaya pemikiran mereka ! Para kholifah dari kalangan sahabat saja, mereka bantai, meskipun dengan nama jihad, apalagi kita !!! Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran Khowarij, dan semoga Allah membasmi mereka semuanya, Amin Ya Robbal ‘Alamin.



[1] Akan datang sebentar lagi penjelasan singkat mengenai Khowarij.
[2] Hilyatul auliya’ 2/246
[3] Syarhuth Thohawiyah 2/432
[4] Al-Mufhim 3/111
[5] Majmu’ al-fatawa : 23/345
[6] Majmu’ al-fatawa 3/229
[7] Ar-roddu ‘alal Bakri 2/494
[8] Minhajul haq wal ittiba’ oleh Syaikh Ibnu Sahman.
[9] Majmu’ Fatawa 14/118
[10] Majmu’ al-Fatawa 7/279.
[11] Al-’Adaalah Al-Ijtima’iyah hal.160
[12] Asy-Syariah (1/342).
[13] Masaaailil Iman (340-341) dan telah lewat perkataan ini.
[14] Al-Bahrul Muhith (3/493).
[15] Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an (6/191).

Surat Terbuka Untuk Yahudi dan Juga Kaum Muslimin

Ditulis oleh Syaikh Rabi Ibnu Hadi al Madkhali Hafizhahullah
Kepada umat yang hina dan rendah, yang Allah telah mencampakkan atas mereka kerendahan dan kehinaan disebabkan kekufuran mereka dan pembunuhan terhadap nabi-nabi mereka:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu Karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (QS.Ali Imran:112)
Ini adalah sebagian dari sifat-sifat kalian yang dengannya kalian berhak mendapatkan kehinaan, kerendahan dan kemurkaan dari Allah. Tidak ada yang dapat mengangkat derajat kalian kecuali dengan berpegang terhadap tali (agama) Allah dan menjaga perjanjian dengan kaum muslimin hingga hari ini, bahkan hingga hari kiamat.
Kalian tidak memiliki sandaran dalam keimanan dan beraqidah, kalian tidak memiliki sandaran dalam kejantanan dan keberanian. Kalian masih saja berperang dari belakang dinding, permusuhan diantara kalian sendiri sangatlah hebat.
Sesungguhnya sifat-sifat buruk kalian sangatlah banyak, diantara suka berkhianat, menipu,menebarkan fitnah, menyalakan api peperangan, berjalan di muka bumi dengan membawa kerusakan. Setiap kalian menyalakan api peperangan, maka Allah pun memadamkannya.
Sesungguhnya sejarah kalian kelam dan merupakan perkara yang telah diketahui oleh seluruh umat hal itu dari kalian.
Maka untuk umat ini, saya menyatakan –dan dinyatakan pula oleh setiap muslim yang jujur- (wahai Yahudi), jangan kalian sombong dan congkak, jangan kalian terpesona dengan apa yang kalian peroleh dari kemenangan palsu. Sesungguhnya kalian –demi Allah- tidak akan menang menghadapi tentara Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan yang berada di atas aqidah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu aqidah tauhid “LAA ILAAHA ILLALLAH”.
Kalian tidak pernah menang melawan pasukan yang dipimpin oleh orang semisal Khalid bin Al-Walid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, ’Amr bin Al-‘Ash, Nu’man bin Muqorrin, serta mereka yang terdidik di atas aqidah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan manhaj Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Mereka mendidik pasukan mereka di atas perkara tersebut. Mereka menuntun pasukannya untuk menegakkan kalimat Allah, tidak ada yang mampu menghadapi mereka dari pasukan yang lebih kuat dari kalian, termasuk pasukannya kaum Persia dan Romawi.
Kalian (Yahudi) tidak akan menang melawan pasukan yang demikian keadaannya, ini aqidahnya, ini manhajnya dan tujuannya adalah menegakkan kalimat Allah. Kalian hanya dapat menang melawan pasukan yang terbelakang:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan
(QS Maryam:59)
Kalian dapat menang melawan pasukan yang mayoritasnya tidak beraqidah seperti aqidahnya Muhammad, para shahabatnya, tidak pula berada di atas manhaj Muhammad dan bala tentaranya. Dan bukan pula dengan tujuan (untuk menegakkan kalimat-Nya) yang dengannya mereka berjihad.
Terhadap mereka – yang bagaikan buih – inilah kalian dapat menang. Disebabkan kelalaian dan kekalahan mereka, maka tegaklah negara kalian, lantas kalian menjadi congkak di muka bumi dan kalian menyebarkan kerusakan:

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًافَإِذَا جَاء وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُواْ خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاًثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًاإِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا
4. Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".

5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

6. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.
7. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS.Al-Isra’:4-7).
Inilah sejarah kalian dan demikianlah Allah memperlakukan kalian. Dan jika kekalahan masa lalu kalian di tangan kaum Majusi.Maka Insya Allah kalian akan mendapatkan kekalahan yang lebih besar di tangan pasukan Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, pasukan Islam. Sebagaimana yang Allah janjikan terhadap kalian tentang hal itu, disebabkan kehinaan dan kerendahan kalian di sisi-Nya.
وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا
Dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS.Al-Isra’:8).
Kini kalian kembali dan akan kembali menghadapi kalian – kekuatan Allah yang super Hebat – yang Dia tidak akan mengingkari janjinya. Yakni melalui tangan-tangan dari pasukan Muhammad, bukan melalui tangan antek-antek kalian, bukan pula dari antek Barat yang Nashara dan materialistis.
Jangan kalian terpesona, jangan kalian congkak, demi Allah kalian tidak akan menang melawan Islam, pasukan Muhammad, Al-Faruq (Umar bin Khattab, pen), Khalid (bin Al-Walid) dan saudara-saudara mereka dari tentara Allah, tentara Islam.
Dan kepada seluruh kaum muslimin, baik pemerintah maupun rakyatnya, berbagai kelompok, partai, ulama dan para pemikir. Sampai kapan kalian selalu condong kepada kehidupan yang hina ini? Sampai kapan kalian hidup bagaikan buih? Sampai kapan…sampai kapan…sampai kapan?
Dimana para cendekia kalian? Dimana para ulama kalian? Dimana para pemikir kalian? Mana panglima ketentaraan kalian? Sungguh kalian telah mendirikan berbagai sekolah dan perguruan tinggi, lalu apa hasilnya?
Demi Allah, kalaulah sekiranya dibangun seper sepuluh dari sekolah dan perguruan tinggi ini di atas metode kenabian, baik aqidahnya, akhlaknya, penerapan syari’atnya secara bijaksana, niscaya hal itu akan menerangi dunia dengan cahaya Iman dan Tauhid. Maka akan hancurlah kegelapan kejahilan, syirik, bid’ah, sehingga musuh-musuh tidak akan menguasai kalian seperti keadaan ini.
Jikalau sebagian perguruan tinggi tegak di atas manhaj yang benar, lalu ada yang menyusup kedalamnya orang yang tidak menyukainya, sehingga merubah keadaan orang itu dan merubah pandangan kebanyakan orang yang telah belajar darinya. Hanya kepada Allah kita mengadu.
Bukankah dengan kejadian yang pahit ini mengharuskan kalian untuk mengoreksi kembali metode – yang diterapkan di sekolah dan perguruan tinggi kalian – tentang proses dan cara mendidik? Apakah telah tiba saatnya untuk memikirkan dengan penuh kesungguhan dalam merubah berbagai kondisi ini, melakukan perubahan secara total? Kemudian menegakkan metode Islam yang benar, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu alaihi wasallam dan manhaj salafus shalih.Demi Allah, tidak akan menjadi baik akhir dari umat ini, kecuali dengan cara merujuk kepada baiknya generasi terdahulu.
Hendaklah kalian merubah metode pendidikan yang secara umum tidak memberikan hasil baik bagi kalian kecuali hanya buih. Lalu tegakkan sebagai penggantinya metode Robbani – yang tidak ada kebaikan, kemenangan dan kesuksesan bagi kalian di dunia dan di akhirat kecuali dengannya-. Jika kalian menghendaki untuk diri dan umat kalian mendapatkan kemenangan, kebaikan, pertolongan atas musuh-musuhNya, terkhusus atas kaum yang Allah telah campakkan kepada mereka kehinaan dan kerendahan.

Khusus kepada pemerintah Muslimin : 
Sesungguhnya kalian memiliki tanggung jawab yang sangat besar:
Pertama: Hendaklah kalian komitmen dengan Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya,jalannya para Khulafa Ar-Rosyidin dalam beraqidah, beribadah, berpolitik. Serta membimbing rakyat, mendidik mereka di atas hal tersebut. Dan wajib atas kalian –kewajiban dari Allah sebagai Rabb kalian- untuk membuang undang-undang (selain hukum Allah) yang menyebabkan kekalahan –demi Allah-. Bimbinglah umat kalian dalam seluruh aspek kehidupannya, baik agama maupun dunianya dengan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya dan khulafa’ Ar-Rosyidin.
Sesungguhnya kalian adalah hamba-hamba Allah dan kalian hidup di atas bumi milik-Nya dan kalian makan,minum dan berpakaian dari rezqi pemberian-Nya. Maka diantara hak-Nya atas kalian ,yaitu kalian harus menyembah-Nya, bersyukur kepada-Nya dan merasa mulia dengan berpegang kepada agama dan syari’at-Nya. Lantas kalian komitmen dengannya dan memerintahkan hal itu kepada rakyat kalian, sehingga manusia berpegang di atas agama penguasa-penguasa kalian. Sesungguhnya Allah mencegah kejahatan melalui perantaraan penguasa lebih dari mencegahnya dengan Al-Qur’an, sebagaimana yang diucapkan oleh Khalifah Utsman.
Kedua: Hendaklah kalian membentuk pasukan Islam yang terdidik di atas Kitabullah dan Sunnah dan menjadikannya sebagai pondasi bagi pasukan Islam dan untuk mencapai tujuan dan target dari pasukan yang tegak di atas manhaj Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Wajib bagi kalian mendidiknya diatas aqidah, manhaj Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, metode Al-Faruq, Khalid (bin Al-Walid) dan mendidiknya di atas tujuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, agar mereka menjadi tentara Allah dengan sebenar-benarnya. Disaat itulah mereka tidak akan terkalahkan:
وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan Sesungguhnya tentara Kami Itulah yang pasti menang” (QS As-Shoffat:173)
Bukanlah dengan tujuan duniawi dan dengan syi’ar jahiliyyah dari fanatisme suatu kaum atau negara atau daerah, atau bahkan yang lebih buruk dari itu. Sudah cukuplah bagi kalian –insya Allah- dan telah cukup pula bagi rakyat kalian apa yang telah menimpa kalian dan mereka dari penghinaan yang berasal dari umat yang paling hina dan rendah. Mereka menentang kalian, sombong dan congkak atas kalian. Demi Allah tidak ada yang mampu menolak berbagai tindak kejahatan dan kesombongan itu kecuali dengan berpegang teguh dengan Islam dan mendidik umat serta pasukan kalian di atas prinsip-prinsipnya, dasar-dasarnya, disertai dengan meninggalkan semua syi’ar, pemikiran dan aqidah yang menyebabkan umat merasakan kenyataan yang sangat pahit ini.

Kepada rakyat Palestina secara khusus: 
Hendaklah rakyat ini mengetahui bahwa Palestina tidaklah dimenangkan kecuali dengan Islam, melalui tangan Al-Faruq milik Islam dan pasukan Islamnya di bawah bimbingan Al-Faruq. Tidaklah akan dapat dibebaskan (tanah Palestina) dari kotoran Yahudi kecuali dengan Islam yang benar pula, sebagaimana dimenangkannya melalui tangan Al-Faruq.
Kalian telah melakukan lemparan batu terhadap mereka dan aku tidak mengetahui ada rakyat yang memiliki kesabaran seperti kalian. Akan tetapi kebanyakan dari kalian tidak membawa aqidah yang dimiliki Al-Faruq, tidak pula manhajnya. Sekiranya jihad kalian ditegakkan di atas ini, maka akan terselesaikan problem kalian dan kalian akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan.
Maka wajib atas kalian untuk menegakkan aqidah,manhaj dan jihad kalian di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan berpegang teguh secara keseluruhan dengan tali Allah dan jangan kalian berpecah belah. Lakukan semua ini dengan kesungguhan dan ikhlas di masjid-masjid kalian, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi. Bersikap jujurlah terhadap Allah dalam semua itu. Insya Allah pasti pertolongan akan datang untuk mengalahkan saudara-saudara monyet dan babi itu.
Sesungguhnya penduduk Syam yang muslim mendapatkan janji yang benar melalui lisan Hamba yang benar dan dibenarkan ,yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dimana mereka mendapatkan kemenangan melawan Yahudi dan Nashara. Maka singsingkanlah lengan kalian dengan penuh kesungguhan. Niscaya Allah akan mewujudkannya untuk kalian. Tanpa itu semua, kalian tidak akan mendapatkan hasil kecuali kegagalan dan kerugian. Dan tidak –demi Allah-, tidak akan bermanfaat bagi kalian adanya campur tangan Amerika dan tidak pula PBB ataupun fanatisme yang terkutuk terhadap suatu kaum,atau negara.
Maka bersegeralah menuju kepada sebab –sebab pertolongan yang hakiki. Cukuplah bagi kalian banyaknya pengalaman yang tidak membawa hasil dan tidak akan membawa hasil bagi kalian sedikitpun. Janganlah kalian seperti apa yang disebutkan dalam sebuah sya’ir:
“Bagaikan unta dipadang pasir yang mati kehausan
Sementara air dipikul diatas punggungnya”
“Ya ALLAH, kokohkanlah umat ini diatas petunjuk, sehingga mulia para penolong agamaMu dan menjadi hina musuh-musuhMu.
Ya allah, tinggikanlah kalimatMu dan agungkanlah agamaMu dan agungkanlah kaum muslimin.
Bimbinglah mereka menuju jalanMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan do’a.”

Ditulis oleh :
Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali
Pada tanggal 21-7-1421 H.
Berikut naskah asli dalam bahasa Arab:

بسم الله الرحمن الرحيم
إلى أمة الغضب الذين قال الله فيهم { فباءوا بغضب على غضب وللكافرين عذاب مهين } .إلى أمة الذل والهوان الذين ضرب الله عليهم الذلة والمسكنة بكفرهم وقتلهم الأنبياء { ضربت عليهم الذلة أين ما ثقفوا إلا بحبل من الله وحبل من الناس وباؤا بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة ذلك بأنهم كانوا يكفرون بآيات الله ويقتلون الأنبياء بغير حق ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون }.فهذه بعض صفاتكم التي استوجبتم بها الذلة والمسكنة والغضب من الله ولا تقوم لكم قائمة إلا بحبل من الله وحبل من الناس إلى يومنا هذا وإلى يوم القيامة .فليس لكم سند من إيمان وعقيدة وليس لكم سند من رجولة وشجاعة فلا تزالون تقاتلون من وراء جدر بأسكم بينكم شديد ، إن أوصافكم الشنيعة لكثيرة جداً ومنها الخيانة والغدر وإثارة الفتن وتأجيج نار الحروب والسعي في الأرض بالفساد وكلما أوقدتم ناراً للحرب أطفأها الله ،وإن تأريخكم لأسود ومعروف ذلكم عنكم لدى الأمم جميعاً . لهذه الأمة أقول ويقولها كل مسلم صادق لا تبطروا ولا تأشروا ولا تغتروا بما أحرزتموه من نصر مغشوش فإنكم والله ما انتصرتم على جيش محمد صلى الله عليه وسلم ولا على عقيدة محمد صلى الله عليه وسلم عقيدة التوحيد " لا إله إلا الله " ، لم تنتصروا على جيش يقوده أمثال خالد بن الوليد وأبي عبيدة بن الجراح وسعد بن أبي وقاص وعمرو بن العاص والنعمان بن مقرن ممن تربوا على عقيدة محمد صلى الله عليه وسلم ومنهج محمد صلى الله عليه وسلم ، وربوا جيوشهم على ذلك وقادوهم لإعلاء كلمة الله فلم يقف في وجههم من هم أشد منكم قوة وبأساً من جيوش الأكاسرة والقياصرة .لم تنتصروا على جيش هذا حاله وهذه عقيدته وهذا منهجه وهذه غايته إعلاء كلمة الله . إنما انتصرتم على جيوش هي خلوف { فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غياً } .انتصرتم على جيش أكثرهم لا يعتقدون عقيدة محمد وأصحابه ولا منهج محمد وجنده ولا الغاية التي كانوا يجاهدون من أجلها .على هؤلاء الغثاء انتصرتم وبسبب ضياعهم وفشلهم قامت دولتكم وعلوتم في الأرض وأشعتم بها الفساد } وقضينا إلى بني إسرائيل في الكتاب لتفسدن في الأرض مرتين ولتعلون علواً كبيراً* فإذا جاء وعد أولاهما بعثنا عليكم عباداً لنا أولي بأس شديد فجاسوا خلال الديار وكان وعداً مفعولا* ثم رددنا لكم الكرة عليهم وأمددناكم بأموال وبنين وجعلناكم أكثر نفيراً * إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وإن أسأتم فلها فإذا جاء وعد الآخرة ليسوؤا وجوهكم وليدخلوا المسجد كما دخلوه أول مرة وليتبروا ما علوا تتبيراً {.وهذا هو تأريخكم وهكذا يعاملكم الله ولئن كانت هذه قد مضت على أيدي المجوس فلكم إن شاء الله ما هو أشد منها على أيدي جيش محمد صلى الله عليه وسلم جيش الإسلام كما توعدكم الله بذلك لهوانكم عليه ولحقارتكم لديه {وإن عدتم عدنا وجعلنا جهنم للكافرين حصيراً }.وهـأنتم عدتم وسيعود لكم بطش الله الشديد الذي لا يخلف الميعاد وعلى أيدي جيش محمد لا على أيدي أفراخكم وأفراخ الغرب النصراني والمادي .لا تغتروا ولا تبطروا فوالله ما انتصرتم على الإسلام ولا على جيش محمد والفاروق وخالد وإخوانه من جنود الله وجنود الإسلام .وإلى عموم المسلمين حكاماً ومحكومين طوائف وأحزاب وعلماء ومثقفين إلى متى تركنون إلى هذه الحياة الذليلة إلى متى تعيشون هذا الغثاء إلى متى وإلى متى وإلى متى فأين عقلاؤكم وأين علماؤكم وأين مثقفوكم وأين قاداتكم العسكريون .لقد أنشأتم آلاف المدارس والجامعات فما هي ثمارها ؟ والله لو قام عشر معشار هذه المدارس والجامعات على منهاج النبوة عقيدة وأخلاقاً وتشريعا حكيماً لأضاءت الدنيا بنور الإيمان والتوحيد ولتبددت ظلمات الجهل والشرك والبدع ولما تسلط عليكم الأعداء هذا التسلط وإن قامت بعض الجامعات على المنهج الحق تسلل إليها من لا يحب هذا المنهج فأثر في مسارها وغير وجهة كثير من منسوبيها فإلى الله المشتكى
ألا يحتم عليكم هذا الواقع المرير إعادة النظر في مناهج مدارسكم وجامعاتكم وأساليب تربيتكم هل آن الآوان للتفكير الجاد في تغيير هذه الأوضاع وقلبها رأساً على عقب وإقامة المناهج الإسلامية الصحيحة المستمدة من كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ومنهج السلف الصالح والله لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها .غيروا هذه المناهج التي لا تنتج لكم في الغالب إلا الغثاء وأقيموا على أنقاضها المنهج الرباني الذي لا صلاح ولا فلاح ولا نجاح لكم في الدنيا والآخرة إلا به إن كنتم تريدون لأنفسكم وأمتكم الفلاح والصلاح والنصر على الأعداء وعلى رأسهم من ضرب الله عليهم الذلة والمسكنة .وإلى حكام المسلمين خاصة إن عليكم لمسؤلية عظيمة جداً جداً :أولها :- إلتزامكم بكتاب الله وسنة رسوله وسيرة الخلفاء الراشدين في عقائدكم وعباداتكم وسياستكم وفي حمل رعاياكم وتربيتهم على كل ذلك وعليكم حتماً من الله ربكم أن تنبذوا القوانين – والله – الرجعية المتخلفة وسياسة أمتكم في جميع شؤون حياتها الدينية والدنيوية بكتاب الله وسنة رسوله وخلفائه الراشدين .فإنكم عباد الله وعلى أرضه تعيشون ومن رزقه تأكلون وتشربون وتلبسون فمن حقه عليكم أن تعبدوه وأن تشكروه وأن تعتزوا بدينه وشرعه فتلتزمونه وتلزمون به شعوبكم ، والناس على دين ملوكهم وإن الله ليزع بالسلطان مالا يزع بالقرآن كما قال الخليفة الراشد عثمان .ثانياً :- أن تكوِّنوا جيوشاً إسلامية تتربى على الكتاب والسنة وعلى أسس الجيش الإسلامي ولتحقيق غايات وأهداف الجيش المحمدي .يجب أن تربوه على عقيدة ومنهج محمد صلى الله عليه وسلم والفاروق وخالد وأن تربوه على الغايات التي رسمها الله لمحمد وصحبه ليكونوا جند الله حقاً وحينئذٍ فلن يغلبوا {وإن جندنا لهم الغالبون } لا على غايات دنيوية وشعارات جاهلية من قومية ووطنية وإقليمية وما هو أسوأ من ذلك فقد كفاكم إن شاء الله وكفى شعوبكم ما نزل بكم وبهم من استخفاف أحط الأمم وأذلها وتحديها لكم وغطرستها وكبريائها وطغيانها عليكم والله لا يدفع هذه الشرور والكبرياء إلا بالاعتصام بالإسلام وتربية أمتكم وجيوشكم على أصوله ومبادئه مع إسقاط كل الشعارات والأفكار والعقائد التي آلت بالأمة إلى هذا الواقع المرير .وإلى الشعب الفلسطيني خاصةً يجب أن يعلم هذا الشعب أن فلسطين ما فتحت إلا بالإسلام على يد فاروق الإسلام وجيوشه الإسلامية الفاروقية ولن تحرر من دنس اليهود إلا بالإسلام الحق الذي فتحت به على يد الفاروق .ولقد ناضلتم كثيراً وكثيراً ولا أعرف شعباً صبر مثل صبركم ولكن كثيراً منكم لا يحمل عقيدة الفاروق ولا منهجه ولو قام جهادكم على هذا لحلت مشكلتكم وأحرزتم النصر والظفر فعليكم أن تقيموا عقائدكم ومناهجكم وجهادكم على كتاب الله وسنة رسوله وأن تعتصموا جميعاً بحبل الله ولا تفرقوا افعلوا كل هذا بجد وإخلاص في مساجدكم ومدارسكم وجامعاتكم واصدقوا الله في كل ذلك إن شاء الله -تحقيقاً- النصر المؤزر على إخوان القردة والخنازير .وإن لأهل الشام المسلمين وعداً صادقاً على لسان الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم بالنصر على اليهود والنصارى فشمروا عن ساعد الجد ينجز لكم وعده وبدون ذلك فلن تحصلوا إلا على الخيبة والخسران فلا والله لا ينفعكم تدخل أمريكا ولا الأمم المتحدة ولا القومية ولا الوطنية المقيتة فالبدار البدار إلى أسباب النصر الحقيقي المؤزر فلقد كفتكم التجارب الكثيرة التي لم تغني ولن تغني عنكم شيئاً ولا تكونوا كما قيل :كالعيس في البيداء يقتله الظمأ والماء فوق ظهورها محمول
اللهم أبرم لهذه الأمة أمر رشد يعز فيه أولياؤك ويذل فيه أعداؤك . اللهم أعل كلمتك وأعز دينك وأعز به المسلمين . وخذ بنواصيهم إليك وإليه إنك سميع الدعاء . كتبه
ربيع بن هادي عمير المدخلي
في 21/7/1421 هـ


(Ditulis oleh Syaikh Rabi Ibn Hadi al Madkhali pada tanggal 21-7-1421 H. Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. Diambil dari situs www.sahab.net)


Sumber:  http://www.almakassari.com

Manfaat dan Keutamaan Mengikuti Manhaj (Metode Pemahaman) Salaf


 بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد
 Oleh : Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni

     Manhaj salaf  adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Allah berfirman:
{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah:100).
     Dalam ayat lain, Allah ‘Azza Wa Jalla memuji keimanan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya:
{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ}
“Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar)” (QS. Al Baqarah: 137).
     Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah”. Dalam riwayat lain: “Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku” ([1]).
    Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah ‘Azza Wa Jalla janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka” ([2]).
    Ketika menjelaskan makna hadits di atas Imam Ibnul Qayyim berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberitakan (dalam hadits ini) bahwa generasi yang terbaik secara mutlak([3]) adalah generasi di masa Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum), dan ini mengandung pengertian keterdepanan mereka dalam seluruh aspek kebaikan (dalam agama ini), karena kalau kebaikan mereka (hanya) dalam beberapa aspek (tidak sempurna dan menyeluruh) maka mereka tidak akan dinamakan (oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai) generasi yang terbaik secara mutlak”([4]).
     Untuk lebih jelasnya pembahasan masalah ini, berikut ini kami akan menyebutkan dan menjelaskan beberapa contoh/point penting yang menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita capai dengan berusaha memahami dan mengamalkan manhaj salaf dengan baik dan benar, serta mustahilnya mencapai semua itu dengan mengikuti selain manhaj yang benar ini:

 
1- Keteguhan iman dan keistiqamahan dalam agama di dunia dan akhirat

     Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}
 “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim:27).
     Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat}”([5]).
     Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa keteguhan iman dan keistiqamahan dalam agama hanyalah Allah ‘Azza Wa Jalla anugrahkan kepada orang beriman yang memiliki ‘ucapan yang teguh’, yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan baik dan benar.
     Maka berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi kita salah satu keutamaan dan manfaat besar mengikuti manhaj salaf, karena tidak diragukan lagi hanya manhaj salaf-lah satu-satunya manhaj yang benar-benar memberikan perhatian besar kepada pemahaman dan pengamalan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar, dengan selalu mangutamakan pembahasan tentang kalimat Tauhid (Laa Ilaaha Illallah), keutamaannya, kandungannya, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi kesempurnaannya, disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan syirik dan semua perbuatan yang bertentangan dengan tauhid.
     Demikian pula perhatian besar manhaj salaf terhadap kalimat syahadat (Muhammadur Rasulullah), dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang keindahan dan kesempurnaan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan bid’ah dan semua perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah.
     Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Al Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat dari ancaman azab Allah ‘Azza Wa Jalla/orang-orang yang mengikuti manhaj salaf) adalah orang-orang yang (sangat) mengutamakan Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah, seperti berdoa, meminta pertolongan, memohon keselamatan dalam keadaan susah maupun senang, berkurban, bernazar … dan ibadah-ibadah lainnya …, serta keharusan menjauhi syirik dan fenomena-fenomenanya yang terlihat nyata di kebanyakan negara Islam… Dan mereka adalah orang-orang yang selalu menghidupkan sunnah- sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ibadah, tingkah laku dan (semua sisi) kehidupan mereka, sehingga jadilah mereka sebagai orang-orang yang asing ditengah masyarakat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menggambarkan keadaan mereka: “Sesungguhnya islam awalnya datang dalam keadaan asing, dan nantinya pun (di akhir jaman) akan kembali asing, maka beruntunglah (akan mendapatkan surga) orang-orang yang asing (karena berpegang teguh dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam)” H.R Muslim. Dalam riwayat lain: “… Mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan ketika manusia dalam keadaan rusak”. Berkata Syaikh Al Albani: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu ‘Amr Ad Daani dengan sanad yang shahih”([6]).


2- Meraih kenikmatan tertinggi di Surga, yaitu melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia dan Maha Tinggi

     Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ‘Azza Wa Jalla Berfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Subhanahu wa Ta’ala”, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat berikut: {للذين أحسنوا الحسنى وزيادة}
“Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ‘Azza Wa Jalla)” (QS Yunus:26) ([7]).
     Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan”([8]) menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah ‘Azza Wa Jalla) adalah balasan yang Allah ‘Azza Wa Jalla berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya([9]). Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits yang shahih: “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”([10]).
     Dari keterangan di atas juga terlihat jelas besarnya keutamaan dan manfaat mengikuti manhaj salaf. Karena kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah ‘Azza Wa Jalla merupakan buah yang paling utama dari ma'rifatullah (pengenalan/pengetahuan yang benar dan sempurna tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya), yang mana ma’rifatullah yang benar dan sempurna tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan mempelajari dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza Wa Jalla dalam Al Qur-an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan metode pemahaman yang benar, yang ini semua hanya didapatkan dalam manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah/ manhaj Salaf.
     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini adalah ideologi golongan yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah ‘Azza Wa Jalla sampai hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal jama’ah (orang-orang yang mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (hari) kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk. Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal jama’ah) adalah mengimani sifat-sifat Allah ‘Azza Wa Jalla yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur-an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa tahriif (menyelewengkan maknanya), tanpa ta’thiil (menolaknya), tanpa takyiif (membagaimanakan/menanyakan bentuknya), dan tanpa tamtsiil (meyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal jama’ah mengimani bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla:
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}
 "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS Asy Syuura:11).
Maka Ahlus Sunnah wal jama’ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman Allah dari arti yang sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama Allah (yang maha indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak membagaimanakan/menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak meyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk. Karena Allah ‘Azza Wa Jalla tiada yang serupa, setara dan sebanding dengan-Nya, Dia ‘Azza Wa Jalla tidak boleh dianalogikan dengan makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang berkata tentang Allah ‘Azza Wa Jalla tanpa pengetahuan. Oleh karena itulah Allah ‘Azza Wa Jalla Berfirman:
{سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين}
 “Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka katakan, Dan keselamatan dilimpahkan kepada para Rasul, Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. (QS Ash Shaaffaat: 180-182).
Maka (dalam ayat ini) Allah mansucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan dari kekurangan dan celaan. Allah ‘Azza Wa Jalla telah menghimpun antara an nafyu (meniadakan sifat-sifat buruk) dan al itsbat (menetapkan sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal jama’ah sama sekali tidak menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, yaitu para Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh”([11]).



3- Menggapai taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan kunci pokok segala kebaikan

     Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri. Telah bersepakat al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah ‘Azza Wa Jalla kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah ‘Azza Wa Jalla dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (arti) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al khidzlaan (berpalingnya Allah ‘Azza Wa Jalla dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah ‘Azza Wa Jalla)([12])…”([13]).
     Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim di atas jelaslah bagi kita bahwa kunci pokok segala kebaikan adalah memahami dan mengimani bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi, yang ini merupakan kesimpulan makna iman kepada takdir Allah ‘Azza Wa Jalla yang baik maupun yang buruk. Dan sekali lagi ini menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena pemahaman yang benar terhadap masalah takdir Allah ‘Azza Wa Jalla hanya ada pada manhaj salaf. Untuk lebih jelasnya, baca keterangan Ibnu Taimiyyah dalam “Al ‘Aqiidatul waasithiyyah” (hal. 22) tentang lurusnya pemahaman Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam masalah iman kepada takdir Allah dan sesatnya pemahaman-pemahaman lain yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal jama’ah.



4- Mendapatkan semua kemuliaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan di akhirat

     Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan kewajiban mengimani keberadaan Al Haudh (telaga milik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di akhirat nanti) yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir, beliau berkata: “Penjelasan tentang telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat)([14]), sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut...”([15]).
    Ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ini menunjukkan bahwa semua kemuliaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan di akhirat, seperti kenikmatan di alam kubur, meminum dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mendapatkan syafa’at Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan orang-orang yang diizinkan Allah ‘Azza Wa Jalla untuk memberikan syafa’at, bahkan termasuk dalam hal ini kenikmatan di dalam surga, hanyalah Allah ‘Azza Wa Jalla anugrahkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari dan mengimaninya dengan benar. Ini juga menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena hanya dengan mengikuti manhaj salaflah kita bisa memahami dan mengimani  hal-hal tersebut dengan baik dan benar, sehingga orang-orang yang memahami dan mengimani hal-hal tersebut berdasarkan manhaj salaf merekalah yang paling diutamakan untuk meraih semua kemuliaan tersebut dengan sempurna. Adapun orang-orang yang tidak memahami dan mengimani hal-hal tersebut dengan benar karena tidak mengikuti manhaj salaf, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan-kemuliaan tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, tergantung dari jauh-dekat pemahaman tersebut dari pemahaman salaf.


Penutup

     Contoh-contoh di atas jelas sekali menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita raih di dunia dan akhirat dengan mengikuti manhaj salaf, masih banyak contoh lain yang tidak mungkin kami sebutkan semua. Semoga dengan contoh-contoh ini kita semakin termotivasi untuk lebih giat mengkaji dan mengamalkan petunjuk para ulama salaf dalam beragama, agar kita semakin sempurna mendapatkan manfaat dan kebaikan yang Allah ‘Azza Wa Jalla sediakn bagi hamba-hambanya yang menjalankan agamanya dengan baik dan benar.
     Sebagai penutup, alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata:
Semua kebaikan (hanya dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf
               Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid’ah orang-orang khalaf ([16]) 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

                                          Kota Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, 5 Dzulqa’dah 1429 H
    Abdullah bin Taslim (Irwan Sofyan) al-Buthoni




([1]) HR Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 204).
([2]) HSR Al Bukhari dan Muslim.
([3]) Artinya kebaikan yang ada pada mereka adalah kebaikan yang sempurna dan menyeluruh pada semua aspek kebaikan dalam agama.
([4]) Kitab “I’laamul muwaqqi’iin” (4/136- cet. Daarul jiil, Beirut, 1973)
([5]) HSR Al Bukhari dalam “Shahih Al Bukhari” (no. 4422- cet. Daar Ibni Katsir, Beirut, 1407 H). Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 2871- cet. Daar Ihya-it turats al ‘araby, Beirut).
([6]) Minhaajul Firqatin Naajiyah (hal. 7-8 – cet. Daarush Shami’i, Riyadh).
([7]) HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).
([8]) Hal. 70-71 dan hal. 79 (Mawaaridul amaan, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H).
([9]) Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini, silahkan baca tulisan kami yang berjudul “Indahnya Islam Manisnya Iman”. Dalam sebuah ucapannya yang terkenal Ibnu Taimiyyah berkata: "Sesungguhnya di dunia ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti" (Al Waabilush shayyib 1/69).
([10]) HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Sykh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).
([11]) Kitab “Al ‘Aqiidatul waasithiyyah” (hal. 6-8).
([12]) Oleh karena itulah Rasulullah r berlindung dari hal ini dalam doa beliau yang terkenal dan termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: “… (Ya Allah!) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata” (HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (6/147) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 2000), dishahihkan oleh Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (1/449, no. 227).
([13]) Kitab “Al Fawa-id” (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H).
([14]) Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik t.
([15]) Kitab “An Nihayah fiil fitani wal malaahim” (hal. 127).
([16]) Mereka adalah orang-orang yang menyelisihi manhaj salaf.