Sentuhan Cinta Ilahi

Sentuhan Cinta Ilahi

Pergi ke masjid - ilustrasi
Di tengah kesibukan sebagai panitia dalam acara seminar, Muhammad Arifin, pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mengkoordinir panitia lainnya terkait tugas masing-masing. Sejenak berdiri di depan aula tempat seminar sambil mengecek apa yang kurang, Andre datang menemuinya sambil menggenggam lembaran-lembaran tulisan. “Peserta seminar ya mas?” tanya Arifin, sambil senyum kepada Andre yang memiliki wajah agak seram serta memakai kalung rantai kecil. “Bukan Mas.” jawabnya. Sambil mengulurkan lembaran-lembaran kertas yang distaples pojoknya. “Ini Mas dariku.” tambahnya. Sekilas mengamati tulisan tersebut, Arifin kembali bertanya, “Oh mau ikut lomba cerpennya ya?” Karena pada waktu dekat, LDK juga mengadakan lomba menulis cerpen. Dengan wajah yang ternyata bisa senyum, Andre menjelaskan bahwa dia hanya ingin memberikan tulisannya. “Bukan Mas, ini cuma tulisanku yang aku buat. Mungkin bisa digunakan atau ditempel buat LDK.” katanya. “Oh ya syukron –terima kasih–, nanti biar ditempel di mading LDK.” timpal Arifin sambil berbincang-bincang berkenalan lebih dalam dengan Andre.

Seiring waktu berjalan, Arifin semakin akrab dengan adik angkatannya yang sama-sama kuliah program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) ini. “Dulu SMA-nya dimana?” tanya Arifin dalam obrolan santai yang kebetulan tadi bertemu Andre di depan kelas. “Saya dulu SMA Mas, di Suruh –Kecamatan dekat Salatiga– di SMK Suruh.” jawabnya. “Dulu aku itu anak band, Mas. Dan bergaul dengan orang-orang yang bermacam-macam bentuknya. Tapi sekarang sudah jarang main musik.” tambahnya. “Mau ikut grup nasyid LDK?” tawar Arifin yang saat itu LDK sedang merancang grup nasyid religi dan kebetulan masih kekurangan personil baru untuk bagian alat musik. “Wah tidak usah, Mas. Kapan-kapan lagi aja.” jawab Andre sambil menjawab salam dan berjabat tangan mengikuti tingkah Arifin yang melakukan hal yang sama saat bertemu dengan teman-temannya. “Kenapa Mas kita harus mengucapkan salam dan berjabat tangan? Padahal sudah tiap hari ketemu.” Tiba-tiba tanya Andre dengan wajah penasaran. Dengan wajah santai, Arifin hanya senyum tipis tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Andre semakin bingung dan mungkin jika digambarkan dalam film kartun Dragon Ball, di atas kepalanya ada gambar tanda tanya besar.

Di setiap pekannya, Arifin tidak lupa mengirimkan SMS tausyiah ataupun hanya sekedar kata-kata motivasi kepada Andre. Dan Andre memberikan respon positif. Selain itu, Arifin juga mengajak sahabatnya itu untuk sekedar mengikuti mentoring –ngaji bareng berkelompok– meskipun dalam pelaksanaannya, Andre hanya seperti pelangi yang munculnya hanya sebentar tapi lama tidak muncul lagi.

Waktu pun berjalan, dan menginjak ke bulan Ramadhan 1434 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, LDK, unit kegiatan rohis kampus ini diminta untuk melakukan pembinaan bertajuk pesantren kilat di beberapa sekolah di Salatiga. Dan dalam pesantren kilat ini, Arifin tidak lupa mengajak Andre untuk mengisi kegiatan rutin ini. “Biar buat belajar dia.” terang Arifin kepada panitia yang lain saat menanyakan tentang orang baru menginjak semester dua ini.

Jadwal pun sudah disusun oleh panitia dan Andre mendapat jatah di SMP N 10 Salatiga. “SMP 10 itu mana sih Mas?” tanya Andre saat pembekalan pemateri. “Dari pertigaan ABC itu lurus lalu ambil kanan.” terang Luqman, selaku kordinator di SMP N 10. “Kalau masih bingung, besok pas mau berangkat, kita kumpul dulu di kampus. Nanti berangkat bareng-bareng.” tambah Luqman yang dengan santunnya memberikan penjelasan kepada Andre dan yang lainnya.

Andre, mahasiswa yang dulunya belum memiliki banyak pengalaman agama ini dituntut untuk bisa mengajarkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak SMP. Maka, setelah merasa dipercaya oleh panitia ini dia dengan serius mempelajari materi yang akan disampaikannya. Dan dari situlah, dia mendapatkan sebuah rasa cinta kepada Islam, agama yang dianutnya dari kecil.

Luqman, yang pada waktu itu habis mendampingi Andre –karena satu kelas diisi oleh dua orang– tertawa tak karuan ketika keluar kelas menuju ruang transit pemateri pesantren kilat. “Kenapa Akhi? Kok kayak habis nonton OVJ –Opera Van Java– saja?” tanya Fajar, sesama pemateri yang penasaran akan tingkah Luqman. “Ane pengen tertawa aja kalau ingat tadi di kelas.” jawab Luqman. “Lha memangnya apa yang lucu?” sahut Rini yang juga penasaran. “Begini, tadi kan materinya tentang zakat dan macamnya, tapi Andre belum bisa menjelaskan materi tersebut. Jadi, tadi dari jam pertama sampai jam ketiga dia hanya menjelaskan materi tentang Rasulullah saja.” terang Luqman. “Tapi tadi sambil ane dampingi, jadi semua materi sudah tersampaikan.” tambahnya yang masih saja dengan nada menahan tawa. Andre yang duduk di sampingnya hanya bisa ikut tertawa tanpa komentar apapun sambil sibuk melihat jadwal hari esok. Bagitu pun dengan hari-hari selanjutnya di pesantren kilat, banyak hal-hal lucu dari Andre.

Tidak hanya sampai itu, perjalanan Andre dalam menemukan jalan bersama punggawa da’wah kampus tetap berlanjut dengan keaktifannya dalam kegiatan mentoring dan kajian Islami. Dan dalam suatu forum kajian Islami, ketika ada pemateri meminta peserta untuk menyebutkan mimpinya, Andre dengan girang menyebutkan mimpinya untuk membuat studio dan grup musik yang nantinya akan menyenandungkan nada-nada religi.[]

Penulis : Ahmad Fikri Sabiq
Salatiga

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar