Mengenalkan Jilbab di Negeri Sosialis

Mengenalkan Jilbab di Negeri Sosialis

Ilustrasi jilbab di Jepang (desainkawanimut)
“你有没有头发 (Ni you meiyou toufa)?” Begitulah kira-kira pertanyaan dari beberapa orang Cina yang saya temui di semester pertama saya belajar di kota Nanning, propinsi Guangxi, Cina selatan. Dalam bahasa Indonesia pertanyaan tersebut berarti “Apakah kamu punya rambut?”. Ya, mereka bertanya apakah saya punya rambut karena heran melihat saya mengenakan jilbab rapat, tak nampak sehelai rambut pun. Haruskah saya menjawab “Ya, saya punya rambut”?, tentu bukan itu jawaban yang tepat. Namun, bagaimana saya bisa menjelaskan dengan tepat mengenai kewajiban berjilbab bagi muslimah sementara bahasa Mandarin saya saat itu masih jatuh bangun (bahkan sampai sekarang pun bisa dikatakan masih jatuh bangun, hehe). Jikapun saya jelaskan dalam bahasa Inggris, kebanyakan mereka tidak paham, karena seperti halnya orang Indonesia, orang Cina pada umumnya tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Alhasil, saya hanya bisa menjawab dengan senyum, senyum termanis dari seorang muslimah berjilbab 

Itulah pengalaman di bulan-bulan pertama saya belajar di Cina. Di negeri yang terkenal dengan paham sosialis dengan sebagian besar penduduknya atheis ini, jilbab adalah barang aneh. Selain karena muslim merupakan kaum minoritas di Cina, keanehan jilbab juga disebabkan selama ini negeri ini cenderung tertutup terhadap berbagai pemahaman atau ideologi dari luar negaranya. Rasanya ingin sekali saya menjelaskan mengapa saya berjilbab kepada setiap orang yang memandang saya dengan tatapan keheranan. Ingin sekali saya mengatakan dengan bangga “Isyhadu bi anna muslimah”. Meskipun saat itu saya hanya bisa diam, saya bertekad untuk belajar bahasa Mandarin dengan sungguh-sungguh agar suatu ketika bisa mengenalkan dan berbagi pemahaman tentang Islam kepada masyarakat Cina.

Tiba di semester kedua, Fakultas Pendidikan Internasional Universitas Kebangsaan Guangxi, tempat dimana saya belajar waktu itu, mengadakan lomba berbicara bahasa Mandarin bagi mahasiswa internasional. Awalnya saya ragu untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut karena kelemahan terbesar saya dalam penguasaan bahasa Mandarin adalah pada pelafalan dan nada saat berbicara. Akan tetapi saat itu saya seperti tersadar bahwa lomba tersebut adalah kesempatan emas bagi saya untuk memacu diri agar lebih serius belajar bahasa Mandarin dan menggunakannya untuk sarana berdakwah. Jadilah saat itu saya mendaftar untuk mengikuti lomba. Dengan mengucap Bismillah akhirnya saya memutuskan untuk berpidato dalam bahasa Mandarin dengan tema “穆斯林的服饰 - Musilin de Fushi” atau “Cara Berpakaian Muslim”. Dengan bantuan dari dosen yang memperbaiki beberapa kesalahan tata bahasa dalam naskah pidato saya, saya pun maju dengan yakin, meski sangat gugup.

Dalam forum lomba yang dihadiri oleh sekitar 200 penonton yang terdiri dari para dosen baik lokal maupun asing, mahasiswa lokal Cina, serta mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Jepang, Korea, Rumania dan Indonesia itu, saya berusaha menyampaikan pidato dengan bahasa yang sederhana tanpa menggunakan istilah-istilah syariat yang rumit sehingga perlu saya jelaskan satu per satu. Saya sampaikan bahwa dalam Islam muslim laki-laki dan perempuan memiliki aturan berpakaian yang berbeda. Laki-laki cukup menutup bagian tubuh tertentu dengan pakaian yang sopan dan pantas, sementara perempuan wajib menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Perbedaan ini karena wanita memang memiliki fitrah yang berbeda dari laki-laki dan Islam melindungi dan menghormati fitrah tersebut.

Jika diibaratkan pakaian, wanita yang berjilbab, baik fisik maupun hatinya, seperti pakaian yang dijual di butik yang mahal, tidak bisa dilihat, disentuh apalagi dipakai oleh sembarang orang karena di butik tersebut sudah ada pakaian sample untuk dicoba sementara ketika membeli pembeli akan diberi pakaian yang benar-benar baru. Lantas, bagaimana dengan wanita yang tidak mau berjilbab? (Tanpa bermaksud menyamakan) Ia ibarat pakaian yang dijual di pinggir jalan, tidak terbungkus, bisa dilihat, dipegang, bahkan dicoba oleh siapa saja. Jika setelah dicoba orang tak jadi membeli pun tak jadi masalah. Dari kedua jenis pakaian tersebut, pakaian manakah yang lebih terjaga kebersihannya? Tentulah pakaian yang tak sembarang orang bisa mencobanya. Selain itu, Islam memandang manusia bukan dari penampilan fisiknya. Seorang muslimah yang baik ingin orang lain menghargai dan menyukainya bukan karena kecantikan fisik atau penampilan luar tetapi karena kecerdasan, kebaikan dan akhlaqnya.

Pidato saya malam itu mungkin tidak cukup menjawab semua pertanyaan orang-orang tentang Islam, tetapi saya berharap penjelasan saya cukup untuk mengenalkan citra positif tentang Islam dan menjadi awal bagi yang mendengar untuk belajar lebih jauh tentang Islam. Saya bersyukur karena antusisme penonton begitu besar ketika saya menyampaikan pidato di atas panggung, hingga akhirnya berdasarkan penilaian juri saya menjadi juara III lomba berbicara bahasa Mandarin untuk tingkat pemula. Alhamdulillah. []

Penulis : Dwi Titi Maesaroh
Bantul, DI Yogyakarta

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar