Kiat Agar Semangat Ketika Membaca

بسم الله الرحمن الرحيم

KATA PENGANTAR PENULIS

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Alhamdulillah tidak lupa kita mengucapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang selalu memberi nikmat-nikmatnya kepada kita semua. Serta Shalawat dan Salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu A'laihi Wa Sallam. 
Ketika saya melihat sebagian penuntut ilmu merasa lemas, malas, dan tidak semangat ketika membaca, oleh karena itu saya membawa sedikit bingkisan dengan tema "kiat-kiat agar bacaan lebih semangat" untuk mereka yang haus akan ilmu, mudah-mudahan dengan risalah yang singkat ini bisa memberikan manfaat kepada penulis pribadi secara khusus dan kepada penuntut ilmu pada umumnya, dan mengampuni dosa penulis, orang tuanya, serta kaum muslimin dan muslimat amin!!!

KIAT-KIAT AGAR SEMANGAT KETIKA MEMBACA
Pada zaman sekarang telah banyak manusia yang melalaikan tentang nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Diantara nikmat tersebut adalah nikmat waktu, banyak diantara manusia menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,yang akhirnya bisa merugikan diri mereka sendiri. Dan Rasulallah Shalallahu A'laihi Wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ. رَوَاهُ  الْبُخَارِىُّ
"Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah sehat dan waktu luang." [H.R Bukhari]
Apakah mereka tidak berfikir bahwasannya Allah Subhanahu Wa Ta'la menciptakan waktu agar manusia memanfaatkannya sebaik mungkin untuk beribadah kepadaNya. Dan diantara tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." [Ad Dzaariyat : 56]
Sungguh sangat merugi dan menyesal bagi orang yang lalai dalam menggunakan waktunya, tidak menjaganya untuk melakukan ketaatan serta ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena waktu tidak mungkin kembali lagi. Apabila waktu itu tidak digunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala , maka bisa dipastikan akan digunakan dalam kemaksiatan kepadaNya. Beruntunglah bagi seorang mukmin yang mengetahui tentang berharganya waktu sehingga dia akan banyak menggunakan waktunya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sesungguhnya waktu itu adalah modal bagi seorang mukmin,apabila seluruh waktunya digunakan dalam menjalankan ketaatan pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka orang seperti itu beruntung di dunia dan diakhirat. Manfaatkan waktu itu sebaik mungkin dan jangan digunakan untuk hal-hal yang sia-sia misalnya : membongkar aib orang, kekurangan orang lain, karena masing-masing manusia memiliki aib dan kekurangan, sebaliknya supaya dia menjadi diantara orang-orang yang beruntung hendaklah menyibukkan diri untuk mencari aibnya sendiri dan memperbaikinya. Seseorang semakin banyak mengoreksi aib sendiri dan memperbaikinya maka dia akan menjadi orang yang beruntung.

Diantara yang bisa membantu seseorang dalam memanfaatkan waktunya adalah dengan membaca dan ini adalah salah satu wasilah untuk mendapatkan ilmu. Tapi sering kita saksikan bahwa seseorang  menjadikan kegiatan membaca,sesuatu yang berat dan sulit diwujudkan. Dengan izin Allah apabila seseorang memperhatikan kiat-kiat dibawah ini.Insya Allah dia tidak akan berat untuk membaca, bahkan dia akan rindu untuk membaca.

Diantara kiat-kiat supaya semangat dalam membaca adalah sebagai berikut:

1.Pasang Niat
Sebelum seseorang membaca hendaklah dia menghadirkan di dalam hatinya rasa ikhlas karena Allah Ta'ala. Suatu perbuatan apabila diawali dengan niat yang benar, maka pekerjaan itu akan diberkahi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebaliknya apabila niatnya salah, maka amalan-amalan yang ia lakukan akan menjadi sia-sia. Suatu pekerjaan apabila dibiasakan dengan ikhlas maka pekerjaan itu akan menjadi ringan, seberat apapun pekerjaan tersebut. Seorang penuntut ilmu juga demikian, pertama kali yang harus ditancapkan dalam hatinya adalah ikhlas karena Allah Ta'ala. Berkata Ibnu Mubarak :
"أَوَّلُ الْعِلْمِ : النِّيَّةُ، ثُمَّ الاِسْتِمَاعُ، ثُمَّ الْفَهْمُ، ثُمَّ الحِفْظُ، ثُمَّ العَمَلُ، ثُمَّ النَّشْرُ"
"Pertama yang harus dihadirkan untuk mendapatkan ilmu adalah niat yang benar, mendengar, paham , menghafal, beramal, dan kemudian menyebarkan ( berdakwah ).[Jami' Bayanil ilmi Wa Fadhlihi 1/476 no: 759]
            Dan diantara berkahnya suatu ilmu adalah dengan diamalkan dan diajarkan.Barangsiapa yang mencari ilmu tidak untuk diamalkan, maka dia tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali kesombongan. Berkata Malik bin Dinar :
مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِلْعَمَلِ وَفَّقَهُ اللهُ وَمَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِغَيْرِ العَمَلِ يَزْدَادُ باِلْعِلْمِ فَخْرًا
"Barangsiapa yang mencari ilmu untuk diamalkan maka Allah memberinya taufik kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ilmu tidak untuk diamalkan tidaklah akan bertambah dengan ilmu tersebut kecuali kesombongan."
           Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak hanya mencari ilmu untuk dirinya sendiri, akan tetapi mencari ilmu untuk berdakwah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Berkata Malik bin Dinar :
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِنَفْسِهِ ؛ فَالْقَلِيلُ مِنْهُ يَكْفِي ، وَمَنْ طَلَبَهُ لِلنَّاسِ ؛ فَحَوَائِجُ النَّاسِ كَثِيرَةٌ
"Barangsiapa yang mencari ilmu untuk dirinya sendiri maka ilmu yang sedikit baginya sudah cukup, dan barangsiapa mencari ilmu untuk manusia, maka kebutuhan manusia sangatlah banyak." [Kitab Jami' Bayanil ‘ilmi Wa Fadhlihi]

Jadi apabila seseorang mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohannya dan untuk umat, maka dia akan memperoleh ilmu yang banyak dan Insya Allah juga akan diberkahi.

            2.Bersabar
           Banyak sekali di dalam firman Allah yang menyebutkan tentang keutamaan sabar dan balasan bagi orang-orang yang bersabar diantaranya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: 
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." [Az-Zumar:10]
Seseorang yang sedang membaca sangatlah membutuhkan kesabaran, apabila tidak sabar maka dia akan meninggalkan aktifitas ini. Oleh karena itu pembaca dituntut untuk bersabar entah sabar ketika  memandangi buku berjam-jam, ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam bahasa, harus buka kamus, menghabiskan waktu yang lama, atau belum paham dan bersabar ketika rasa ngantuk datang. Sebalikannya lawan dari sifat sabar  adalah sikap  putus asa,seorang pembaca harus meninggalkan jauh-jauh rasa putus asa karena sifat ini tercela dan banyak merugikan bagi pelakunya. Dikisahkan ada ulama nahwu namanya Kisai. Beliau berkali-kali belajar ilmu nahwu akan tetapi beliau tidak paham. Suatu hari beliau melihat seekor semut yang sedang membawa makanan. Semut ini berusaha melewati dinding akan tetapi berkali-kali ia  jatuh, setiap semut ini naik kemudian jatuh hingga berkali-kali, akan tetapi semut ini tidak menyerah dan putus asa, dia terus berusaha, akhirnya semut tersebut berhasil menaiki dinding tersebut, melihat kejadian tersebut akhirnya beliau berusaha terus dan tidak putus asa, dan akhirnya beliau menjadi Imam nahwu di kufah. Subhanallah….!!!
            Saudaraku yang seiman…lihatlah bagaimana semangatnya beliau dan perjuangannya, padahal sebelum beliau menjadi imam nahwu beliau bodoh akan nahwu, tidak paham, dan sering mengalami kesulitan. Akan tetapi dengan sabar beliau terus belajar dan tidak putus asa. Apakah seseorang tidak bisa seperti beliau? Saya yakin semua orang bisa melakukan seperti beliau, terus berusaha, jangan putus asa dan disertai dengan doa serta memohon kepada Allah Insya Allah kita akan berhasil!!!

           3. Istiqamah
           Apabila seseorang mengambil suatu pekerjaan maka usahakanlah untuk selalu menjaga amalan tersebut dan istiqamah, karena amalan yang sedikit dan istiqamah itu lebih Allah cintai dari pada banyak akan tetapi tidak istiqamah. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasannya Rasulallah Shalallahu A'laihi Wa Sallam bersabda :
أَحَبُّ الأَْعْمَال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَل (متفق عليه)
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah istiqamah meskipun sedikit." [Mutafaq Alaihi]
            Oleh karena itu lebih baik baca sedikit, misalnya baca 50 halaman setiap hari, hafal 2 ayat atau 1 hadits dan dia menjaga istiqamah, itu lebih baik dari pada banyak membaca kemudian ditinggalkan.

4.  Memikirkan umat dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka terutama masalah ilmu.

Apabila seseorang memikirkan tugas-tugas ini maka dia akan bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya meskipun harus mengorbankan jiwa, tenaga, harta, dan waktu.Dan dia yakin akan janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulallah Shalallahu A'laihi Wa Sallam bersabda :
مَنْ كَانَ في حَاجَة أخيه ، كاَنَ اللهُ في حَاجَته ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِم كُرْبَةً ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بها كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ يَومَ القِيامَةِ  . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

"Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barangsiapa yang membantu melepaskan kesusahan saudaranya yang muslim, maka Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat." [H.R Mutafaq A'laih]
Dan di dalam hadis yang lain Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda :


وَ الله فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فيِ عَوْنِ أَخِيْهِ.رواه مسلم
"Allah akan menolong hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya." [H.R Muslim]
            Saudaraku seiman… Sudahkah di benak kita memikirkan hal seperti ini?? Akan tetapi kebanyakan manusia mementingkan dirinya sendiri, sibuk dengan dirinya sendiri dan melupakan janji Allah dan hadits tersebut padahal dia mampu untuk menolong saudaranya.Apabila seseorang mengamalkan hadits ini Insya Allah hidupnya akan lebih berkah dan bermanfaat.
            Pada zaman sekarang ini manusia sangat butuh akan ilmu dibandingkan kebutuhan manusia pada makanan, minuman dan kebutuhan yang lainnya. Apabila seseorang memikirkan akan kebutuhan umat dan ingin membantu untuk memberikan ilmu pada mereka, maka hendaklah dia belajar dengan sungguh-sungguh dan banyak meluangkan waktunya untuk mencari ilmu misalnya dengan membaca, hadir di pengajian, mendengarkan kaset dan mencatatnya. Dengan membaca seseorang akan banyak mendapatkan ilmu yang belum dia ketahui. Dengan memikirkan umat serta ingin memenuhi kebutuhan mereka maka dia akan semangat dan terus semangat dalam membaca dan tidak bermalas-malasan karena umat sedang menunggu.
Berkata ulama salaf :
لا يُنَاْلُ العلمُ براحةِ الجَسَدِ
"Tidaklah ilmu didapat dengan bersantai-santai"
Berkata yang lain:
أََعْطِ العِلْمَ كُلَّكَ يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ ، وَأَعْطِهِ بَعْضَكَ يَفُتْكَ كُلَّهُ
"Kamu tumpahkan seluruh waktumu untuk ilmu, maka ilmupun akan memberinya sebagian dan kamu berikan sebagian waktumu untuk ilmu maka ilmu itu pun lenyap darimu."

            5.Mengasingkan diri
            Ketika seseorang membaca maka hendaklah dia berusaha mencari tempat yang nyaman,tenang tanpa ada gangguan karena dengan ini dia akan lebih konsentrasi dan akan menjadi semangat ketika membaca, oleh karena itu pilihlah waktu yang tepat ketika akan membaca misalnya pada malam hari ketika manusia tertidur lelap, maka bagilah waktu anda untuk tahajud, berdoa, dan membaca. Tentu orang akan merasa terganggu apabila dia membaca ditempat yang bising dan ramai.
            Pada waktu suasana yang tenang ini kadang ada ide-ide yang muncul atau suatu masalah yang belum diketahui, oleh karena itu apabila kita mendapatkan ide-ide tersebut, yang mana ide ini bermanfaat, apalagi bermanfaat bagi umat maka bersegeralah untuk ditulis karena mungkin saja apabila tidak ditulis maka ide itu akan lenyap. Dan diantara wasilah untuk mendapatkan ilmu adalah dengan cara ditulis.
 Berkata Ibnu Katsir Rahimahullah :
 قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِة

"Ikatlah ilmu dengan tulisan"
Karena tabiat manusia adalah sering lupa maka alangkah baiknya ketika seseorang membaca maka menulis poin-poin yang penting dari apa yang dia dapat ketika membaca, jangan sampai pembaca tidak menangkap buruannya.

            6. Memberikan manfaat kepada orang lain
            Biar kita tambah semangat membaca tancapkan didalam hati kita rasa sosial yang berusaha banyak memberikan manfaat kepada orang lain terutama masalah ilmu. Mungkinkah seseorang bisa memberikan manfaat ilmu agama apabila dia sendiri tidak memiliki ilmu?? Tentunya tidak!!! Dan diantara sarana atau cara untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca. Orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain maka dia akan dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulallah Shalallahu Shalallahu A'laihi bersabda :
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah manusia yang paling bermanfaat,dan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah memberikan rasa gembira kepada seorang muslim, membantu melepaskan kesusahannya atau membantu melunasi hutangnya."[HR.Ibnu Abu Dunya dan Thabrani]
Hadits ini dishahihkan oleh syaikh Al-Albany didalam Silsilah hadits shahih no. 906
Apabila seseorang ingin memberikan manfaat kepada orang lain terutama dalam masalah ilmu syar'i hendaknya dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menumbuhkan rasa ingin memberikan manfaat yang banyak kepada manusia.Insya Allah dia akan lebih semangat untuk membaca karena dengan membaca adalah salah satu sarana untuk mendapatkan ilmu, akan tetapi seseorang tidak cukup hanya mengandalkan  pada kitab saja, hendaklah dia mencari guru yang mampu membimbingnya supaya ilmunya lebih diberkahi dan tidak memahami nash dengan hawa nafsunya, kadang seseorang sudah merasa cukup dengan membaca saja tanpa bertanya kepada orang yang lebih alim darinya dan ini adalah kekeliruan yang banyak dilakukan oleh sebagian penuntut ilmu. Dan seseorang diperintahkan untuk bertanya ketika tidak tahu kepada ahlinya. Allah Ta'ala telah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." [Al-Anbiya’:7]
             Dan barangsiapa yang  menunjukkan suatu kebenaran. Maka dia akan mendapatkan pahala dari orang yang melakukannya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ دَلَّ إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا,وَمَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثاَمِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ آثاَمِهِمْ شَيْئًا.رواه مسلم
"Barang siapa yang menunjukkan suatu kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala dari orang-orang yang melakukannya dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa dari orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi dosa orang-orang yang melakukannya." [HR.Muslim]

            7. Menjauhi kemaksiatan dan selalu menjaga ketaatan
            Ketika seseorang melakukan kemaksiatan kepada Allah maka hatinya akan menjadi bernoda dan ilmu itu tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Berkata Imam Syafi'i: 
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

            “Saya telah mengadu kepada guruku Waki' tentang jeleknya hafalanku maka beliau menyarankan kepadaku supaya meninggalkan maksiat dan beliau mengabarkan kepada saya bahwasannya ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat"
            Apabila hati sudah bernoda maka dia akan malas menjalankan ketaatan kepada Allah dan tidak akan bisa menikmati manisnya ibadah kepada Allah.Mencari ilmu adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah, dan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca. Apabila dia menjaga ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan maka hatinya akan bersinar, tenang, dan mudah akan mendapatkan ilmu, serta akan rindu dengan membaca.
            8. Menulis didepan buku / buku tulis
            Biar bacaan kita lebih semangat, maka tulislah manfaat yang bisa diambil dari membaca, jangan sampai pembaca tidak mengambil faidah dari buku yang dibaca. Ketika pembaca menemukan suatu masalah atau poin-poin yang penting maka hendaklah dia segera menulisnya, karena dengan menulis itu akan membantu untuk mengingat. Kadang seseorang membaca tidak mendapatkan manfaat dari apa yang dia baca, pikirannya kemana-mana atau dia mengerti akan tetapi ketika diminta dari mana sumbernya, dia tidak bisa memberikan maraji'nya. Akan tetapi apabila dia menulis atau mengikatnya dari apa yang dia baca dengan tulisan maka inilah yang diinginkan. Misalnya ditulis dibuku yang sedang ia baca dan jangan sekali-kali merasa eman dengan coret-coretan yang ada di buku. Ada sebagian penuntut ilmu ketika membeli buku baru kemudian dia enggan untuk menulis dibukunya sambil berkata:  “Aduh…eman nih buku baru kok dicoret-coret”, sikap seperti ini harus dihindari jauh-jauh, apakah dia eman dengan kitabnya yang banyak coretannya ataukah akan lari ilmu darinya? Jadi seorang pembaca bisa menulis di buku tulis atau di buku yang sedang dibaca dan jangan lupa pula mencantumkan nama kitabnya,pengarang,cetakan keberapa,halaman berapa apabila ditulis di buku tulis, dan semuanya ini nanti akan bisa dijadikan maraji', jadi dengan cara seperti ini pembaca akan lebih semangat dan akan menikmati bacaannya.

            9. Merujuk ke kitab-kitab besar dan memperluas pembahasan suatu masalah
            Apabila seseorang membaca suatu kitab hendaklah merujuk kepada kitab-kitab besar dan memperluas pembahasan suatu masalah.Misalnya seseorang sedang membaca kemudian menemukan didalam kitab tersebut hanya disebutkan hadits saja tanpa ada penjelasan dari ulama. Maka dari itu sipembaca boleh memperluas bacaannya dengan melihat kitab-kitab yang penjelasannya dari berbagai ulama supaya mendapatkan wawasan yang luas tanpa fanatik terhadap salah satu madzhab tertentu, akan tetapi mengembalikan semua perkara pada Al-Qur'an dan As-Sunah.
            Misal lagi: Si pembaca sedang membaca suatu buku kemudian terdapat ayat tanpa ada penjelasan dari ulama maka supaya bacaan kita lebih semangat sipembaca bisa memperluas bacaan dengan membuka tafsir Ibnu Katsiratau tafsir Karimir Rohman atau tafsir-tafsir yang lainnya.

            10. Kosentrasi
            Seorang pembaca hendaklah memperhatikan apa yang sedang dibaca, jangan sampai tidak mengambil manfaat dari apa yang di baca. Oleh karena itu kosentrasi sangat penting dan dibutuhkan disaat sedang membaca.
            Perkara-perkara yang bisa membantu dalam kosentrasi:
1. Memilih tempat yang tenang, nyaman, tanpa ada gangguan entah dari suara yang bising dll.
2. Tidak menghiraukan bisikan syaithon. Ketika seseorang sedang membaca jangan sampai mengikuti bisikan-bisikan syaithon dan janganlah mengalihkan pikiran atau perhatian kecuali kepada buku yang sedang dibaca.

3. Mematikan Hp atau menjauhkan Hp.
     Tapi tidak disetiap waktu baca, Hp dimatikan, akan tetapi mematikan Hp ketika kita benar-benar ingin kosentrasi penuh dan tidak mau diganggu dengan suara Hp atau getaran-getarannya,oleh karena itu mematikan Hp bisa membantu pembaca untuk bisa menikmati bacaannya karena apabila disibukkan dengan Hp maka bacaannya akan menjadi terganggu dan tidak akan merasakan nikmatnya membaca.
4. Lampu yang terang
     Ada perbedaan antara lampu yang gelap dan yang terang. Apabila seseorang membaca dibawah lampu yang terang maka itu akan menambah kosentrasi ketika membaca.
5. Bahasa
     Poin ini sangat penting sekali. Diusahakan untuk pembaca supaya menguasai bahasa ketika membaca.
     Misalnya ketika seseorang sedang membaca kitab arab, apabila tidak mengetahui kosa kata maka segeralah mencari di kamus. Semakin kita banyak mengerti bahasa maka semakin nikmat pula ketika membaca.

            11. Memperhatikan poin-poin yang penting ketika membaca
           Supaya dalam membaca kita lebih semangat dan nikmat, hendaknya sipembaca memperhatikan poin-poin  penting. Dengan memperhatikan poin-poin penting tersebut Insya Allah akan merasakan nikmatnya membaca.
Diantara poin-poin yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a.  Ta'rif (pengertian) suatu masalah
b.  Contoh-contohnya
c.  Pembagian-pembagiannya
d.  Hukum-hukumnya
e.  Memahami ikhtilaf atau perbedaan-perbedaan pendapat ulama misalnya didalam masalah fiqh dan mengambil pendapat yang rajih atau yang paling kuat.
f.  Ketika sedang membaca kitab aqidah hendaknya mengetahui aqidah yang hak dan juga mengetahui aqidah yang batil guna untuk menjauhi dan membantah subhat-subhat dari aqidah yang batil
            Pada semua poin penting tersebut jangan lupa memberi garis bawah kemudian ditulis didepan atau belakang buku yang sedang dibaca. Insya Allah dengan cara seperti ini pembaca akan lebih merasakan nikmatnya membaca.

            12. Berdoa
Berdoa adalah ibadah. Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَة.ُوَرَوَاهُ أَبوْ دَاوُوْدَ
"Doa adalalah ibadah" [HR.Abu Dawud]
            Doa adalah ibadah yang paling agung. Oleh karena itu apabila seseorang berdoa kepada selain Allah Ta'ala maka dia telah melakukan dosa yang paling besar, menyekutukanNya dan Allah tidak akan mengampuninya apabila pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat.
Allah Ta'ala telah berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.[An-Nisa': 48]
            Doa adalah senjatanya orang mukmin, tidaklah cukup seseorang hanya mengambil sebab dan meninggalkan doa. Oleh karena itu tawakal yang haqiqi adalah dia mencari sebab dan juga tidak meninggalkan doa, kemudian menyerahkan segala urusannya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Ketika pembaca tidak ada rasa semangat ketika membaca atau malas maka carilah penyebabnya, kira-kira apa penyebabnya? Setelah mengetahui penyebabnya,kemudian berusahalah memperbaiki diri, serta bersungguh sungguh berdoa kepada Allah Ta'ala meminta agar diberi kemudahan,dan kenikmatan ketika membaca. Perlu diperhatikan dalam berdoa hendaknya orang menjauhi dari mengkonsumsi makanan-makanan yang haram. Karena itu merupakan diantara sebab-sebab terhalangnya doa.
Rasulallah Shalallahu A'laihi Wasallam bersabda :
إِن الله تَعَالَى طيب لَا يقبل إِلَّا طيبا ، وَإِن الله تَعَالَى أَمر الْمُؤمنِينَ بِمَا أَمر بِهِ الْمُرْسلين ، فَقَالَ تَعَالَى : { يَا أَيهَا الرُّسُل كلوا من الطَّيِّبَات وَاعْمَلُوا صَالحا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عليم } ، وَقَالَ تَعَالَى : { يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا كلوا من طَيّبَات مَا رزقناكم } ، ثمَّ ذكر الرجل يُطِيل السّفر ، أَشْعَث أغبر ، يمد يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء ، يَا رب يَا رب ، ومطعمه حرَام ، ومشربه حرَام ، وملبسه حرَام ، وغذي بالحرام ، فَأَنَّى يُسْتَجَاب لذَلِك " رَوَاهُ مُسلم
"Sesungguhnya Allah Ta'ala adalah baik dan tidak menerima kecuali yang baik,dan sesungguhnya Allah Ta'ala  telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Allah Ta'ala memerintahkan kepada para Rasul. Allah Ta'ala telah berfirman: "Wahai para Rasul makanlah makanan yang baik dan lakukanlah amalan-amalan shalih, dan Allah Ta'ala juga berfirman:"Wahai orang-orang yang beriman makanlah makanan yang baik dari apa-apa yang telah kami rezekikan kepada kalian" kemudian menyebutkan seorang yang sedang bepergian yang keadaannya kusut, berdebu, kemudian mengangkat kedua tangannya sambil berdoa: Wahai Tuhanku..wahai Tuhanku,akan tetapi makanannya haram, minumannya haram,dan pakaiannya haram, mana mungkin dikabulkan baginya.” [HR. Muslim]
            Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini bisa bermanfaat bagi penulis dan para penuntut ilmu yang haus akan ilmu dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa penulis, orang tuanya, serta kaum muslimin dan muslimat Amin….!!!!. Sangat kami harapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Karena penulis tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.

والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين

Penulis yang fakir kepada Allah

Budi Suryanto Abu Muhammad
Ahad  14/3/1431 Buraidah Qasim


Maraji’ :

1. Al-Qur'anul Karim
2. Shahih Bukhari
3. Shahih Muslim
4. Jami' bayanul Ilmi Wa Fadhlihi:Ibn Abdil bar Al-Qurthubi
5. Qoulul Mufid As-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin
6. Kitabul ilmi As-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin
7. Sunan Abu Dawud
8. Silsilah Ahadits Shahihah As-Syaikh Al-Albany

Atau Download Makalahnya di sini : DOWNLOAD

Berdoa Dengan Mengangkat Tangan

Oleh : Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

Mengangkat tangan dalam berdoa merupakan etika yang paling agung dan memiliki keutamaan mulia serta penyebab terkabulnya doa.
Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No. 1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438.
Dishahihkan Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa lafazh hayyun berasal dari lafazh haya’ yang bermakna malu. Allah memiliki sifat malu yang sesuai dengan keagungan dzat-Nya kita beriman tanpa menggambarkan sifat tersebut. Lafazh kariim yang berarti Maha Memberi tanpa diminta dan dihitung atau Maha Pemurah lagi Maha Memberi yang tidak pernah habis pemberian-Nya, Dia dzat yang Maha Pemurah secara mutlaq. Lafazh an yarudahuma shifron artinya kosong tanpa ada sesuatu. (Mur’atul Mafatih 7/363).


Dari Anas Radhiyalahu ’anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tidak berdoa dengan mengangkat tangan kecuali dalam shalat Istisqa. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa’ 2/12. Shahih Muslim, kitab Istisqa’ 3/24].
Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hadits tersebut tidak menafikan berdoa dengan mengangkat tangan akan tetapi menafikan sifat dan cara tertentu dalam mengangkat tangan pada saat berdoa, artinya mengangkat tangan dalam doa istisqa’ memiliki cara tersendiri mungkin dengan cara mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak seperti pada saat doa-doa yang lain yang hanya mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajah saja.
Berdoa dengan mengangkat tangan hingga sejajar dengan kedua pundak tidaklah bertentangan dengan hadits di atas sebab beliau pernah berdoa mengangkat tangan hingga kelihatan putih ketiaknya, maka boleh mengangkat tangan dalam berdoa hingga kelihatan ketiaknya, akan tetapi di dalam shalat istisqa dianjurkan lebih dari itu atau mungkin pada shalat istisqa kedua telapak tangan diarahkan ke bumi dan dalam doa selainnya kedua telapak tangan diarahkan ke atas langit.
Imam Al-Mundziri mengatakan bahwa jika seandainya tidak mungkin menyatukan hadits-hadits diatas, maka pendapat yang menyatakan berdoa dengan mengangkat tangan lebih mendekati kebenaran sebab banyak sekali hadits-hadits yang menetapkan mengangkat tangan dalam berdoa, seperti yang telah disebut Imam Al-Mundziri dan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muhadzdzab dan Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. Adapun hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari ’Amarah bin Ruwaibah bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangan dalam berdoa, lalu mengingkarinya kemudian berkata : "Saya melihat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tidak lebih dari ini sambil mengisyaratkan jari telunjuknya. Imam At-Thabari meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa disunnahkan berdoa dengan mengisyaratkan jari telunjuk. Akan tetapi hadits di atas terjadi pada saat khutbah Jum’at dan bukan berarti hadits tersebut menafikan hadits-hadits yang menganjurkan mengangkat tangan dalam berdoa. [athul Bari 11/146-147].
Akan tetapi dalam masalah ini terjadi kekeliruan, sebagian orang ada yang berlebihan dan tidak pernah sama sekali mau meninggalkan mengangkat tangan, dan sebagian yang lainnya tidak pernah sama sekali mengangkat tangan kecuali waktu-waktu khusus saja, serta sebagian yang lain di antara keduanya, artinya mengangkat tangan pada waktu berdoa yang memang dianjurkan dan tidak mengangkat tangan pada waktu berdoa yang tidak ada anjurannya. Imam Al-’Izz bin Abdussalam berkata bahwa tidak dianjurkan mengangkat tangan pada waktu membaca doa iftitah atau doa diantara dua sujud. Tidak ada satu haditspun yang shahih yang membenarkan pendapat tersebut.
Begitupula tidak disunahkan mengangkat tangan tatkala membaca doa tasyahud dan tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan kecuali waktu-waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengangkat tangan. [Fatawa Al-Izz bin Abdussalam hal. 47].
Syaikh Bin Bazz berkata bahwa dianjurkan berdoa mengangkat tangan karena demikian itu menjadi penyebab terkabulnya doa, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam.
"Artinya : Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu kepada hamba-Nya yang mengankat kedua tangannya (meminta-Nya), Dia kembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa". [Hadits Riwayat Abu Dawud].
Dan sanda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam.
"Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para rasul, Allah berfirman.
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah". [Al-Baqarah : 172].
Dan firman Allah : "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". [Al-Mukminuun : 51]
Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang lusuh mengangkat kedua tangannya ke arah langit berdoa : ’Ya Rabi, ya Rabbi tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram serta darah dagingnya tumbuh dari yang haram, bagaimana doanya bisa dikabulkan .?" [Shahih Muslim, kitab Zakat 3/85-86]
Tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan bila Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu berdoa seperti berdoa pada waktu sehabis salam dari shalat, membaca doa di antara dua sujud dan membaca doa sebelum salam dari shalat serta pada waktu berdoa dalam khutbah Jum’at dan Idul fitri, tidak pernah ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam mengangkat tangan pada waktu waktu tersebut.
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah panutan kita dalam segala hal, apa yang ditinggalkan dan apa yang dilaksanakan semuanya suatu yang terbaik buat umatnya, akan tetapi jika dalam khutbah Jum’at khatib membaca doa istisqa’, maka dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallah ’alaihi wa sallam. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa’, bab Jamaah Mengangkat Tangan Bersama Imam 2/21].
Dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat sunnah tetapi lebih baik jangan rutin melakukannya karena Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tidak rutin melakukan perbuatan tersebut dan seandainya demikian, maka pasti kita menemukan riwayat dari beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam terlebih para sahabat selalu menyampaikan segala tindakan dan ucapan beliau baik dalam keadaan mukim atau safar.
Adapun hadits yang berbunyi :
"Artinya : Shalat adalah ibadah yang membutuhkan khusyu’ dan berserah diri, maka angkatlah kedua tanganmu dan ucapkanlah : Ya Rabbi, ya Rabbi". [Hadits Dhaif, Fatawa Muhimmmah hal. 47-49].
Dan tidak dianjurkan mengangkat tangan dalam membaca doa thawaf sebab Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berkali-kali melakukan thawaf tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau berdoa mengangkat tangan pada saat thawaf.
Sesuatu yang terbaik adalah mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan sesuatu yang terburuk adalah mengikuti perbuatan bid’ah.
Cara mengangkat tangan dalam berdoa.
Ibnu Abbas berpendapat bahwa cara mengangkat tangan dalam berdoa adalah kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua pundak, dan beristighfar berisyarat dengan satu jari, adapun ibtihal (istighasah) dengan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. [Sunan Abu Daud, bab Witir, bab Doa 2/79 No. 14950. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud].
Imam Al-Qasim bin Muhammad berkata bahwa saya melihat Ibnu Umar berdoa di Al-Qashi dengan mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya. [Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/147. Dinisbatkan kepada AL-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad tetapi tidak ada].
Ketahuilah bahwa doa Istisqa’ memiliki dua cara
Pertama.
Mengangkat kedua tangan dan mengarahkan kedua telapak tangan ke wajah, berdasarkan dari Umair Maula Abi Al-Lahm bahwa dia melihat Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berdoa istisqa di Ahjari Zait dekat dengan Zaura’ sambil berdiri mengangkat kedua telapak tangannya tidak melebihi di atas kepalanya dan mengarahkan kedua telapak tangan ke arah wajahnya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf’ul Yadain fil Istisqa’ 1/303 No. 1168. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].
Kedua
Mengangkat tagan tinggi-tinggi dan mengarahkan luar telapak tangan ke arah langit dan dalam telapak tangan ke arah bumi. Dari Anas bahwa beliau melihat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berdoa saat istisqa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengarahkan telapak tangan sebelah dalam ke arah bumi hingga terlihat putih ketiaknya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf’ul Yadain fil Istisqa’ 1/303 No. 1168. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

Disalin dari buku Jahalatun naas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 61-69 terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin Lc.

Menikah Dengan Non Muslim

Di antara masalah yang membuat miris hati kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam, banyaknya orang yang menikah dengan pasangan yang berbeda aqidah tanpa mengindahkan larangan dan aturan agama. Oleh sebab itu, masalah tersebut perlu dibahas dengan merujuk kepada Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala  dan sabda Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam  dengan penjelasan para ulama.

Muslimah Menikah dengan Laki-Laki Non Muslim.
Tidak ada seorang ulama pun yang membolehkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, bahkan ijma’ ulama menyatakan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim,
baik dari kalangan musyrikin (Budha, Hindu, Majusi, Shinto, Konghucu, Penyembah kuburan dan lain-lain) ataupun dari kalangan orang-orang murtad dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).1 Hal ini berdasarkan firman Allah
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kemba-likan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al Mumtahanah: 10)
Di dalam ayat ini, sangat jelas sekali Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa wanita muslimah itu tidak halal bagi orang kafir. Dan di antara hikmah pengharaman ini adalah bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada  yang lebih tinggi darinya.2 Dan sesungguhnya laki-laki itu memilki hak qawamah (pengendalian) atas istrinya dan si istri itu wajib mentaatinya di dalam perintah yang ma’ruf. Hal ini berarti mengandung makna perwalian dan kekuasaan atas wanita, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan kekuasaan bagi orang kafir terhadap orang muslim atau muslimah.3 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir atas orang-orang mu’min.” (An Nisaa: 141).
Kemudian suami yang kafir itu tidak mengakui akan agama wanita muslimah, bahkan dia itu mendustakan Kitabnya, mengingkari Rasulnya dan tidak mungkin rumah tangga bisa damai dan kehidupan bisa terus berlangsung bila disertai perbedaan yang sangat mendasar ini.4

Dan di antara dalil yang mengharamkan pernikahan ini adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala ,
“Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang para wali (ayah, kakek, saudara, paman dan orang-orang yang memiliki hak perwalian atas wanita) menikahkan wanita yang menjadi tanggung jawabnya dengan orang musyrik. Yang dimaksud musyrik di sini adalah semua orang yang tidak beragama Islam, mencakup penyembah berhala, Majusi, Yahudi, Nashrani dan orang yang murtad dari Islam.5
Ibnu Katsir Asy Syafi’iy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita-wanita muslimat dengan orang-orang musyrik.”6
Al Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita muslimah dengan orang musyrik. Dan Umat ini telah berijma’ bahwa laki-laki musyrik itu tidak boleh menggauli wanita mu’minah, bagaimanapun bentuknya, karena perbuatan itu merupakan penghinaan terhadap Islam.”7
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, (Ulama ijma’) bahwa muslimah tidak halal menjadi istri orang kafir.8
Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iriy hafidhahullah berkata, “Tidak halal bagi muslimah menikah dengan orang kafir secara mutlaq, baik Ahlul Kitab ataupun bukan.”9
Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata, “Laki-laki kafir tidak halal menikahi wanita muslimah,10 berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala, “Dan jangalah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).

Jelaslah bahwa pernikahan antara muslimah dengan laki-laki non muslim itu adalah haram, tidak sah dan bathil.

Pernikahan Laki-Laki Muslim dengan Wanita Non Islam.
Sebagaimana wanita muslimah haram dinikahi oleh laki-laki non muslim, begitu juga laki-laki muslim haram menikah dengan wanita non Islam, berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).
Ayat ini secara umum menerangkan keharaman laki-laki muslim menikah dengan wanita musyrik (kafir), meskipun ada ayat yang mengecualikan darinya, yakni untuk wanita ahlu kitab, yang akan kita bahas nanti. Tidak boleh seorang muslim menikahi wanita Budha, Hindu, Konghucu, Shinto, wanita yang murtad dari Islam. Dan jika seorang laki-laki kafir masuk Islam sedangkan istrinya tidak atau bila si istri murtad dari Islam, maka dia harus melepaskannya, berdasar-kan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (All Mumtahanah: 10).Di dalam hal ini, sama saja baik wanita itu murtad masuk agama Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) atau agama lainnya atau tidak masuk agama mana-mana atau dia itu tidak shalat, tetap pernikahannya lepas, karena Islam tidak mengakui statusnya saat masuk agama barunya, berbeda kalau memang dia dari awalnya termasuk Ahlul Kitab, maka  hal ini memiliki hukum tersendiri.
Namun dari keharaman menikahi wanita kafir ini dikecualikan terhadap wanita dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) yang memang sejak awal dia memeluk agama ini, bukan karena murtad, ini adalah pendapat Jumhur Ulama,11 yang didasarkan pada Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,
“Dan (dihalalkan bagi kalian meni-kahi) wanita-wanita yang menjaga kehor-matan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kalian.” (Al Maidah: 5)
Namun demikian, para ulama meng-anggap makruh12 pernikahan muslim dengan wanita Ahlul Kitab. Umar Ibnu Al Khaththab Radhiallaahu anhu  pernah memerintahkan Hudzaifah agar melepas istrinya yang beragama Yahudi, beliau berkata, “Saya tidak mengklaim itu haram, namun saya khawatir kalian mendapatkan wanita-wanita pezina dari mereka.”1314
Ibnu Umar  Radhiallaahu anhu berpendapat, haram hukumnya menikahi wanita Ahlul Kitab. Beliau berkata saat ditanya tentang laki-laki muslim menikahi wanita Yahudi atau Nashrani, “Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik atas kaum muslimin dan saya tidak mengetahui sesuatu dari syirik yang lebih dahsyat dari perkataan wanita, bahwa Tuhannya adalah Isa, atau hamba dari hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala.”15
Namun sebenarnya ada perbedaan antara syiriknya orang-orang musyrik dengan syiriknya Ahlul Kitab, yaitu kemusy-rikan di dalam keyakinan orang musyrik adalah asli (pokok) ajaran mereka, sedangkan syirik pada Ahlul Kitab adalah bid’ah di dalam agama mereka, ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t.16
Dan perlu diingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya membolehkan menikahi wanita Ahlul Kitab, jika wanita itu wanita yang selalu menjaga kehormatannya, selain mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkannya. Selanjutnya kita patut bertanya, “Adakah wanita ahlul kitab yang mampu menjaga kehormatannya?” Realitas menunjuk-kan, wanita-wanita muslim pun banyak yang tak sanggup menjaga kehormatan diri mereka, yang di antaranya disebabkan oleh profokasi wanita ahlul kitab. Yang terpengaruh sudah begitu parah keadaannya, bagaimana lagi yang mempengaruhi (yang merupakan sumber kehinaan diri). Untuk itu, setiap muslim dituntut agar bersikap selektif dan waspada demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi dalam hal yang menyangkut keselamatan akidah dan masa depan Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam. (Abu Sulaiman)

Endnote:
Fiqhus Sunnah: 2/181, Rawai’ul Bayan 1/289.
Rawai’ul Bayan 1/289.
Fiqhus Sunnah: 2/181
Fiqhus Sunnah: 2/181
Rawai’ul Bayan 1/289.
Tafsir Al Quranil Adhim 1/348.
Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 3/67, lihat pula Fathul Qadir Karya Asy Syaukani 1/284, Fathul Bayan Fi Maqaslidil Qur’an karya Shiddiq Hasan Khan 1/446.
Al Ijma Karya Ibnu Abdil Barr: 250.
Minhajul Muslim: 563.
Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272.
Al Mulakhkhash Al Fiqhiy 2/272, Fiqhus Sunnah 2/179, Tafsir Ibni Katsir 1/347, Al Jami Li Ahkamil Qur’an 3/63-65, Asy Syarhul Kabir Karya Ar Rafiiy 8/67-73, Rawai’ul Bayan 1/287.
Ini dikarenakan kekhawatiran akan pengaruh isteri terhadap suaminya juga akan anak-anaknya.
Isnadnya shahih, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/347.
Dan memang untuk zaman sekarang sangat sulit mencari wanita yang mampu menjaga kehormatan dari kalangan Yahudi dan Nashrani.
Tafsir Ibnu Katsir ibid, Al Jami Li Ahkamil Qur’an ibid, Rawai’ul Bayan ibid.
Al Fatawa Al Kubraa 3/116-117