Kiat Mengatasi Kebosanan

Kiat Mengatasi Kebosanan

Akhwat sedih - ilustrasi bosan
Satu diantara sekian banyaknya hikmah mengapa Allah mensyaria'atkan berbagai macam jenis ibadah, adalah karena kita seringkali dihinggapi rasa bosan. Sehingga, dengan banyaknya jenis ibadah tersebut, kita diberi 'wewenang' untuk memilih. Memilih mana yang paling sesuai dengan kemampuan kita. Tentu, yang dipilih adalah yang jelas keshahihannya. Bukan memilih antara baik dan tidak baik. Tapi memilih diantara yang baik. Bukan pula memilih antara sunnah atau bid'ah, tapi memilih satu atau dua diantara banyaknya jenis sunnah.

Misalnya saja, puasa sunnah. Ada banyak ragamnya. Yang paling lazim, sunnah Senin dan Kamis. Puasa ini banyak sekali peminatnya. Disamping pahala yang berlimpah dan janji dicintai Allah bagi siapa yang merutinkan amalan sunnah, ritme pelaksanaannya relatif lebih ringan.

Dalam sepekan hanya ada dua hari. Diantara dua hari itu, ada jeda dua dan tiga hari. Pun, dalam sebulan. Bisa dilaksanakan terus menerus sebulan-delapan kali puasa. Atau, bisa selang seling sepekan puasa sepekan tidak, atau dua pekan puasa, sepekan tidak puasa, dua pekan puasa lagi.

Tentu, yang paling baik adalah yang rutin dilakukan meskipun jumlahnya sedikit.

Disamping sunnah Senin - Kamis, ada juga puasa enam hari di bulan Syawal. Setahun adanya cuma sekali. Hanya disyariatkan di bulan Syawal juga, tidak boleh di bulan lain. Namanya aja puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Dalam pelaksanaan puasa ini, ada banyak opsi.

Misal, langsung menjalankan sejak tanggal dua Syawal sampai tujuh Syawal. Bisa juga di pertengahan atau akhir, tetap secara berturut-turut. Bisa juga, dilaksanakan selang-seling. Baik sehari puasa sehari tidak, dilaksanakan ketiga hari Senin - Kamis, atau dengan variasi lain.

Dan masih banyak lagi jenis ibadah sunnah lain yang mempunyai opsi syar'i dimana kita bisa mensiasatinya, agar tetap bisa menjalankannya.

Maka, bagi mereka yang ketika lajang rutin mendawamkan puasa sunnah Daud, akan lebih baik jika terus mengistiqomahkan itu selepas nikah. Tentu, dengan tidak mengabaikan hak suami istri sesuai yang telah disyari’atkan. Jika karena satu dan lain hal tidak bisa dilaksanakan, maka jangan sampai 'lulus' puasa sunnah selepas nikah. Hanya karena alasan waktunya 'berbuka'. Apalagi alasan lain yang tidak syar'i. Bukankah puasa bisa meningkatkan vitalitas ruh, fikir dan juga fisik?

Hampir, tidak ada alasan untuk tidak mendawamkan puasa sunnah, kecuali lantaran kemalasan diri dan kemauan yang lemah untuk menjadi lebih baik. Semoga Allah menolong kita. Semoga Allah menguatkan kita untuk istiqomah menjalankan perintahNya dan sunnah NabiNya.

Terkait kehidupan duniawipun, kita bisa menyiasati. Agar kita tidak bosan, agar kereta yang kita pacu terus melaju mulus menuju stasiun kesuksesan. Jika lamanya perjalanan membuat kita bosan, maka berhentilah, rehatlah. Ambil air wudhu dengan sempurna, gelar sajadah dan munajatlah pada Allah yang Maha Membolak-balikan hati. Karena sejatinya, sukses adalah hak seorang muslim yang mukmin.

Salam sepenuh cinta.[]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia




0 komentar:

Posting Komentar