Kembali Pada Cahaya

Kembali Pada Cahaya

Laki-laki sujud (Flickr)
Pagi ini begitu indah, langit cerah dengan lukisan awan-awan yang tersusun rapi. Cahaya matahari tidak terlalu meyilau. Sayup-sayup terdengar suara burung yang sedang memperagakan kemahirannya bersenandung kepada manusia. Beberapa menit kemudian masyarakat digegerkan dengan suatu kejadian yang terjadi pada waktu subuh, yaitu salah satu rumah warga dimasuki oleh orang yang tidak dikenal, kemudian malarikan perhiasan, Hp dan uang.

Salah seorang warga menduga otak di balik ini semua, yaitu pemuda yang selalu membuat onar, selalu membuat kebisingan di malam hari. Pemuda itu bernama Marzuki. “Ah, gak boleh menuduh sebelum ada bukti, lagi pula Marzuki kan sudah berubah, rajin ke masjid, dan Dia juga sudah ada pekerjaan, mengajar anak-anak baca Al-Quran. Gak mungkin Marzuki pelakunya” bela Pak Haris ayah dari salah satu murid Marzuki.

Marzuki adalah pemuda yang kehidupannya penuh dengan kegelapan, segala keburukan telah ia lakukan kecuali berhubungan intim dengan lawan jenis. Itu dulu, sebelum Sekenario Allah berjalan. Waktu itu Subuh, seperti biasa Marzuki baru selesai dari pertemuan rutinnya dengan teman-teman yang selalu mabuk-mabukan dan main kartu, Dia pulang dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang Marzuki dikagetkan dengan suara yang berbunyi “Apakah kalian kira wahai manusia, akan dibiarkan begitu saja di muka bumi ini tanpa ada perhitungan”. Dia terhenti dan diam mematung, kakinya gemeteran serta benda yang paling berharga bagi manusia (otak) berpikir dan mencerna kata-kata yang baru saja Dia dengar. Ternyata suara itu bersumber dari Masjid Nurul Falah, yang setiap selesai salat subuh melakukan kultum yang di isi oleh ustad. Horizal, S.Ag. Sebelumnya Marzuki belum pernah mendapatkan pengajaran agama dan keluarganya adalah keluarga yang acuh terhadap agama.

Semenjak mendengar kata-kata itu Marzuki selalu gelisah dan pikirannya tidak bisa tenang. Ia tidak tahan dengan keadaannya, dengan rasa malu Marzuki mendatangi Horizal, S.Ag, yang bekerja sebagai petani dan mangutarakan apa yang Dia dengar dan dirasakan serta apa saja yang telah menjadi karyanya selama ini.

Sejenak ustad berfikir dan berkata, “Yang dimaksud dengan apakah kalian kira wahai manusia, akan dibiarkan begitu saja di muka bumi ini tanpa ada perhitungan, itu adalah ucapan Allah yang ditujukan kepada hamba yang disayang, seperti Marzuki, ana dan semua umat muslim. Allah mengatakan pada kita, bahwasanya segala sesuatu yang kita lakukan, bahkan yang kita ucapkan akan kita pertanggungjawabkan di pengadilan Allah. Di sana tidak aka ada suap-menyuap atau sogok-menyogok.”

Marzuki terdiam, tubuhnya kembali bergetar dan mengeluarkan keringat yang bercucuran serta ada sesuatu yang menyesak dalam dada setelah mendengar penjelasan ustad yang begitu membelai hatinya. Keburukan yang telah dibuatnya kembali teringat jelas dalam ingatannya.

Semenjak itu, Marzuki memulai langkah baru dengan penampilan baru untuk tujuan yang baru yaitu kebaikan dunia dan akhirat. Salat sudah mulai dikerjakan, bahkan Ia lakukan berjamah di masjid. Ketika Ia salat berjamaah di masjid, semua mata tertuju padanya, jamaah kaget melihatnya, diantara mereka ada yang bersyukur dan ada pula yang berkata, “ah, mungkin hanya sebentar saja, nanti kembali lagi seperti semula.” Marzuki tidak menghiraukan, Ia tetap fokus untuk salat berjamaah.

Setiap malam Marzuki merubah kebiasaannya yang dahulu aktif dengan majlis yang tidak bermanfaat ke majlis yang sangat memberikan keselamatan baginya, yaitu majlis ilmu. Dia setiap malam Marzuki datang kerumah ustad Horizal dan menimba ilmu disana, Ia menanyakan semua hal yang ingin diketahuinya tentang agama serta Marzuki juga belajar membaca dan memahami Al-Quran.

Marzuki menjadi sosok yang ramah, santun dan rajin menolong. Setiap kegiatan kemasyarakatan yang ada di desa Ia selalu ikut membantu dan bahkan Marzuki adalah orang yang terdepan untuk melakukannya.

Perubahan yang dilakukan Marzuki tidak semua orang yang percay. Teman-temannya selalu mengeje-ejek dan mengolok-olok bahkan warga masyarakat banyak yang tidak peracaya dengan perubahannya. Cacian sering bersarang ditelinganya, makian sudah menjadi makanannya semenjak perubahannya. Alhamdulillah dengan bantuan yang diberikan Allah memalui ustad Horizal, Marzuki tetap istiqomah dalam perubahannya dan ustad pun dengan ikhlas selalu memberikan curahan perhatian sehingga Marzuki telah dianggap sebagai bagian dari keluarganya. []

Penulis : Musliadi
Kampar, Provinsi Riau

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar