Kujemput Hidayah-MU di Bumi Beriman

Kujemput Hidayah-MU di Bumi Beriman

Muslimah shalat (foto ROL)
Bermula dari kelulusan SMAku pada tahun 2011 yang kemudian berlomba-lomba mengikuti SNMPTN. Waktu itu, bukanlah harapanku untuk kuliah di jurusan PGSD apalagi sampai sejauh ini dari kabupaten Sragen. Tapi orang tua lah yang selalu mendorongku untuk harus mengambil jurusan PGSD apalagi harus Universitas Sebelas Maret yang menurutku berat untuk ukuran kemampuan otak yang kumiliki, dan saingan PGSD selalu membludak tiap tahunnya. Waktu itu bapak hanya berkata, “Kowe kudu keterimo neng UNS, nek ra keterimo mending ora usah kuliah”1. Hmm aku hanya bisa nyengir dengan pernyataan bapak itu. Dalam hatiku berkata apa mungkin bisa diterima sementara saingannya mencapai ribuan orang. Bahkan, kakakku yang dari kecil terkenal berprestasi dan selalu meraih peringkat 3 besar saja tidak keterima di PGSD. Setengah pusing, akhirnya kuputuskan untuk browsing tentang UNS khususnya passing gradenya. Waktu itu aku lihat pasing grade UNS Kleco mencapai ribuan, sementara passing grade untuk PGSD Kebumen malah nol. Melihatnya aku merasa seperti ada harapan baru, lalu kupilih PGSD Kebumen saja dengan pertimbangan harus diterima di UNS, dan waktu itu aku hanya yakin memilih SNMPTN IPS, karena aku berpikir kalau mengambil SNMPTN IPC mungkin aku tidak akan akan diterima di UNS. Sulitnya soal-soal IPA terutama mata pelajaran Fisika dan Matematika sudah cukup membuatku pesimis.

Selain mendaftar SNMPTN, akupun juga mencoba peruntungan dengan mendaftar D3 Kebidanan dan Farmasi di UNS, dengan pertimbangan harus diterima di UNS juga. Tapi pengumuman D3 yang lebih awal dari S1 menyebutkan bahwa aku tidak diterima di Kebidanan maupun Farmasi. Waktu itu sempat down juga karena itu baru pertama kali merasakan ditolak dari perguruan tinggi. Semakin down ketika melihat reaksi bapak yang kecewa denganku karena tidak diterima di D3 UNS. Setelah itu aku hanya bisa berpasrah, dalam hati berkata, “Insya’ Allah jika diterima di S1 PGSD UNS, maka itu wujud pengabdianku kepada bangsa ini”

Tiba malam pengumuman SNMPTN, SMS dari salah seorang kakak sepupu mengagetkanku, “Rul, kode jurusanmu apa? Sini aku liatin sekalian, ini pengumumannya udah bisa diakses.” Tadinya aku berpikir baru besoknya pengumuman bisa diakses ternyata malamnya sudah bisa. Setelah mengirim SMS balasan, giliran kakak kandungku yang SMS, “Rul, kode jurusanmu apa? Aku liatin pengumumanmu”. Tak berapa lama kemudian kakak sepupu dan kakak kandungku mengirim SMS hampir bersamaan menanyakan kode ***** yang ternyata kode PGSD Kebumen. “Selamat ya kamu diterima di S1 UNS” SMS mereka hampir bersamaan lagi. Betapa girangnya hatiku malam itu, dan Alhamdulillah orang tuaku juga bahagia mendengarnya. Meski sedikit tidak percaya dengan kenyataan itu, mengingat hanya sedikit soal yang bisa aku selesaikan di SNMPTN. Ini pertolongan Allah, murni pertolongan Allah.

Setelah diterima di S1 PGSD UNS Kebumen, beberapa waktu kemudian terjadilah kehidupanku di Kota Kebumen Beriman. Awal mula di kota ini aku sering menangis sendiri di kamar asrama yang telah bapak sewa untukku. Aku sering sakit hati jika mendengar ada teman atau kakak kelas yang berkata kasar padaku dengan bahasa khas Kebumen yaitu Bahasa Ngapak. Menurutku Bahasa Ngapak itu terlalu kasar didengar untuk orang yang baru saja tinggal di kota ini sepertiku. Aku sedikit menyesal telah memilih untuk kuliah di kota ini.

Di kota ini pula aku mulai mengenal pergaulan dengan lawan jenis. Aku mulai dekat dengan beberapa seniorku. Tak kurang sudah empat laki-laki yang sempat singgah dalam hidupku, mengisi hatiku yang tengah labil dalam masa pencarian jati diri. Aku merasa jauh sekali dari Tuhanku waktu itu. Aku hidup dengan banyak berharap kepada manusia. Hari-hari sering sekali kulewati hanya dengan menggalaukan seseorang yang tak tentu jodoh siapa. Kuliahku juga tidak bisa menjadi fokus tujuanku saat aku berada di kota beriman ini.

Sampai suatu ketika, aku mulai mengenal liqo’ yang diadakan di kampusku. Awalnya aku menganggapnya biasa-biasa saja. Bahkan cenderung terasa aneh. Namun seiring waktu yang terus berjalan, aku merasakan dalam hatiku suatu kedamaian saat bersama sahabat-sahabatku di liqo’ itu. Di sini aku mulai mengenal murobbiah yang sangat sabar dan sholihah. Tenteram sekali rasanya saat bersama mereka. Merekalah orang-orang yang mengingatkanku untuk terus memperbaiki diri. Bersama mereka seakan masalahku di dunia ini terasa sangat ringan. Aku merasakan indahnya ukhuwah bersama mereka.

Bismillahirrahmanirrahim, aku mulai memperbaiki dan menjaga jarak dalam pergaulanku dengan lawan jenis yang sudah terlampau jauh menurut pandangan syar’i. Aku mulai mengerti batasan-batasan pergaulan yang telah diatur dalam Agama Islam ini. Pelan-pelan aku mulai memperbaiki hijabku yang belum sempurna, kupastikan kerudung yang aku kenakan menutupi dada, kulonggarkan baju yang kukenakan agar tak membentuk badan, kukenakan kaos kaki sebagai penyempurna dalam menutup auratku.

Kujemput hidayah Allah di Kota ini, di bumi beriman. meskipun awalnya aku tak bisa menerima tapi kini aku bersyukur aku ada di Kebumen. Disini aku mendapatkan sahabat-sahabat yang sholeh dan sholehah, yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Mulai saat ini, kuputuskan untuk hidup diatas kebenaran. Kuhibahkan diriku di jalan dakwah.[]
1 Kamu harus keterima di UNS, kalau tidak diterima mendingan tidak usah kuliah.

Penulis : Khoirulli Umah
Kebumen

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar