Ya Allah, Siapa Jodohku?

Ya Allah, Siapa Jodohku?

Ya Allah, Siapa Jodohku
Judul : Ya Allah, Siapa Jodohku?
Penulis : Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit : Quanta - Jakarta
Cetakan : III , Juni 2013
Tebal : 189 Halaman
ISBN : 978-602-02-0719-3

Membicarakan jodoh, adalah membincang satu dari sekian banyaknya misteri kehidupan. Ia benar-benar tidak bisa diprediksi oleh professor sehebat apapun. Bahkan, peramal yang katanya sudah malang melintang dan mendunia di dunia paranormal sekalipun, tidak akan mungkin bisa memprediksi tentang kemisterian jodoh itu sendiri.

Oleh karena itu, hal terbaik yang harus kita lakukan terkait jodoh adalah menggantungkan sepenuhnya kepada Allah setelah selesai melakukan upaya-upaya ikhtiari dalam menjemputnya. Sehingga, momentum perjodohan itu, ketika dua pengantin bersanding di pelaminan, dan berlanjut hingga jenjang waktu yang lama, bisa dijalani dengan harapan penuh akan kekuasaan Allah yang Maha Menyatukan Hati.

Sayangnya, dalam satu hal ini – dan mungkin juga dalam banyak hal lain- banyak diantara kita yang dilanda kegamangan akut, hingga masuk pada taraf galau. Galau yang terjadi sebelum jodoh menyambut, lebih disebabkan karena lemahnya kebergantungan seseorang kepada Allah. Sehingga, banyak muda-mudi yang salah menyalurkannya melalui jalan pacaran.

Pacaran diklaim sebagai tahap perkenalan sebelum menikah. Padahal, dalam prakteknya, pacaran lebih pada ajang penyaluran dosa lantaran tidak menaati perintah Allah. Pacaran juga disinyalir menjadikan muda-mudi itu memperlambat persiapan diri sehingga terlambat dan menghambat nikah. Hal ini, merupakan salah satu penyebab terjadinya aneka jenis penyimpangan seksual dan kriminalitas yang akhir-akhir ini menjadi fenomena cendawan di tengah musim penghujan.

Alasan lain yang sering digunakan oleh mereka yang menunda menjemput jodoh, adalah tentang penghasilan. Nunggu lulus kuliah, nunggu mendapat kerja yang layak, nunggu punya motor, mobil, rumah dan tabungan puluhan juta rupiah serta alasan materi lainnya yang nampak logis, padahal sebenarnya dipaksakan.

Yang terjadi justru sebaliknya. Jika niat menjemput jodoh dilakukan dengan niat yang benar, yakin akan keMahaKuasaan Allah, maka kekayaan dan aneka jenis materi itu akan Allah berikan tanpa henti. Bahkan, nikah sebagai sarana paling syar’i dalam menjemput jodoh, ibarat kran yang membuat rejeki semakin mengalir. Tanpa henti.

Maka, mereka yang masih galau terhadap jodoh, perlu dididik dengan benar akan jaminan kekayaan yang akan Allah berikan selepas nikah. Sehingga, kegamangan yang melanda bisa berangsur-angsur hilang dan berganti dengan kemantapan.

Apalagi, setelah menikah dengan benar, seseorang akan mempunyai rasa tanggung jawab yang lebih jika dibanding sebelum menikah. Ada diri yang harus dicukupi, ada istri yang harus dinafkahi, ada anak yang harus dibiayai. Ada pula banyak kebutuhan yang harus ditunaikan.

Buku yang merupakan karya Best Seller dari Ahmad Rifa’i Rif’an ini, memberikan sajian yang menarik terkait jodoh. Apalagi, penulisnya sudah membuktikan secara langsung dan terbukti kebenarannya. Disajikan dengan mengalir, sederhana, tak terkesan menggurui dan sarat hikmah.

Sangat disayangkan jika dilewatkan oleh mereka yang tengah berupaya menyambut jodoh, laki-laki maupun perempuan, juga penting untuk orang tua yang menghendaki jodoh terbaik untuk putra-putrinya.

Akhirnya, jodoh erat kaitannya dengan kelayakan. Bahwa orang baik, pastilah bersanding dengan orang baik pula. Satu hal yang perlu dicatat. Keberkahan bukan hanya terletak pada seberapa cepat seseorang menikah. Tapi lebih dari itu, terletak pada seberapa benar niat menikah dan persiapan ilmu sebelum mengarungi samudera bergelombang bernama menikah. Sehingga, hal ini tidak membuat saudara kita yang belum bertemu menjadi galau. Melainkan menguatkan niat untuk dianugerahi rejeki berupa jodoh terbaik, dan bersabar dengan sepenuh hati ketika ia belum juga menyapa.

Bukankah, ada banyak orang hebat yang tetap melejang ketika ajal menjemputnya? Dan, tidak sedikit mereka yang mendapat kemuliaan di sisi Allah lantaran memuliakan sunnah dengan menikah? Semoga kita semakin mengerti, bukan sekedar menikah, tapi bagaimana semakin menebalkan kuantitas dan kualitas taqwa sebelum atau selepas ada suami istri dan anak-anak yang setia menemani. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Ya Allah, Siapa Jodohku ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia



0 komentar:

Posting Komentar