The True Story of “Mujahidah Jilbab”

The True Story of “Mujahidah Jilbab”

Ilustrasi demo jilbab
“Mas, memang kerja di sini ndak boleh pakai jilbab ya..?”, begitu pertanyaan seseorang yang baru saja masuk kerja di tempat kerjaku. Sore itu, seorang muslimah minta bertemu denganku untuk menceritakan kejadian di pagi hari yang baru saja dialaminya. Pelan dan penuh kebimbangan ia ceritakan bagaimana ia diminta serta diancam dikeluarkan jika ia tetap memakai jilbab dalam bekerja. Ya, memang kami berada di sebuah perusahaan makanan dan minuman skala multi nasional, yang mayoritas pimpinannya non muslim dari etnis Tionghoa. Sudah jamak, mayoritas perusahaan tidak begitu concern, atau bahkan alergi dengan mereka para pekerja muslimah yang memakai jilbab. Tetapi aku menyakini bahwa di manapun tempatnya selalu ada kebaikan, harapan dan perubahan .

Tersentak ku mendengar pertanyaan itu, karena tak terhitung sudah berapa kali pertanyaan semacam itu yang ditujukan kepadaku. Kiranya mereka memahami bahwa sebagai muslimah, jilbab adalah kewajiban dan sebagai identitas mereka ( QS. 33: 59). Kuyakinkan bahwa tidak ada larangan dalam pemakaian jilbab. Setiap warga negara dijamin untuk melaksanakan syariat agamanya sebagaimana tercantum dalam UUD '45 pasal 29 . Bahkan DISNAKER melalui UU 13 Th. 2003 menjamin pelaksanaan syariat agama dalam bekerja. “Yang benar itu diatur bukan dilarang”, begitu kukatakan kepadanya. Akhirnya kuajari ia untuk melawan dan beradu argumen dengan siapapun yang melarang berjilbab dalam bekerja, termasuk atasan dan pihak personalia tentunya. Melihat semangat dan keyakinannya, dalam syukurku, kurangkai sebuah doa “Ya Allah berikan kekuatan dan kemudahan kepada kami untuk tetap istiqomah dalam dakwah di jalan-Mu serta beri hidayah kepada mereka yang mempersulit kami dalam menjalankan syariat-Mu”.

Sebagai mantan aktifis rohis semasa SMK dulu, pengurus/takmir masjid dipabrik dan juga pengurus serikat pekerja. Kiranya masalah ini menjadi tanggung jawab, ladang dakwah dan momentum yang tepat untuk “berjihad” membela syariat-Nya serta menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Gayungpun bersambut, strategi awal mulai berhasil dan sesuai harapan, masalah mulai membesar dan banyak yang menaruh simpati. Namun mereka tahu, siapa di balik layar. Aku dipanggil dan diinterogasi, bahkan sampai fitnahpun pernah diluncurkan. Alhamdulillah semuanya pupus, dengan kesabaran dan pertolongan-Nya.

Bersama teman-teman seperjuangan dan melalui media Masjid, terkumpullah mereka para “Mujahidah Jilbab” dari berbagai bagian. Dengan kajian dan kegiatan keislaman yang kami adakan, semakin hidup dan bergelora azzam serta keikhlasan perjuangan yang di kemudian hari benar-benar diuji oleh-Nya. Ya, mereka manjadi da'iyah di tempat dan bagiannya masing-masing.

Perang urat syaraf berlanjut, melalui perpanjangan tangan, intimidasi dan diskriminasi terus dilakukan kepada mereka para “Mujahidah Jilbab”. Diantaranya : tidak boleh masuk area kerja, dipulangkan, dipindah bagian ke cleaning service, diturunkan jabatannya, dibiarkan tanpa pekerjaan, dipermalukan di hadapan umum dan yang lain sebagainya. Tidak jarang mereka sms atau telpon malam-malam karena beratnya jihad jilbab yang mereka lakukan. “Tenang dan sabar teman-teman, Allah bersama kita”, kukuatkan hati mereka. Tapi sebagai manusia, tentunya mereka juga khawatir dengan keberlangsungan pekerjaannya. Besoknya, sudah pasti bisa ditebak, kami ribut dengan pimpinan dan personalia setempat. Adu argumen, lobi-lobi dan juga adu strategi silih berganti. Seribu alasan mereka lontarkan, seribu satu sanggahan kami sampaikan. Allahu Akbar!

Proses panjang dan melelahkan memang sengaja diciptakan, masalah yang menggantung dan teman-teman yang terus “disiksa”, menjadikan kami harus segera berbuat untuk segera mengakhiri perang ini, tentunya dengan kemenangan bukan penyerahan atau kekalahan. Yah, jurus pamungkas kami rancang. Kami hubungi Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kesehatan, Departemen Agama dan bahkan MUI setempat. Semuanya sudah kami minta rekomendasi dan bantuannya.

Dan akhirnya bagai berbuka di saat shaum, perundingan pamungkas disepakati. Tapi kiranya tak lupa kami kukuhkan dengan sedikit nada ancaman “ Jika masalah ini masih mengambang, kami akan blow up dan minta bantuan masyarakat sekabupaten serta Bupati sendiri untuk menyelesaikannya”. Airpun mengalir, membasahi tanah yang rindu akan sentuhan kesegaran dan kelembutannya. Peraturan dan ketentuan berjilbab dibuat dan disepakati bersama. Allahu Akbar Walillahilhamd.

Tak terasa sudah 5 tahun peristiwa itu berlalu, pekerja muslimah yang memakai jilbab bagai jamur dan bunga kebaikan yang semakin menyebar wangi mewarnai mesin dan area kerja disetiap bagian. Luruskan niatmu wahai saudariku! Perjuangan kita masih panjang. Perbaiki diri dan lejitkan potensimu untuk umat yang bermartabat. Semoga tetap semangat menebar manfaat dimanapun anda bertempat . Allahu Akbar!

Penulis: Syahrul Maftuhin
Gresik, Jawa Timur

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar