Balada Kampus Nyentrik

Balada Kampus Nyentrik

Kampus ITS (Foto fadlikadn.wordpress.com)
Nothing is Imposible adalah sebuah pameo yang akrab di telinga kita. Hal itu juga berlaku dalam dunia dakwah. Dakwah bisa dilakukan oleh siapapun dan kapanpun dan dimanapun. Petualangan ini berawal dari pengalamanku tatkala masuk kampus baru, tepatnya tahun 2011. Mahasiswa di kampusku mayoritas bertipe otak kanan, ekspresif, dan kreatif karena memang kampusku dikenal sebagai kampus desainer. Adagium yang berbunyi penampilan seseorang menentukan pribadinya memang benar. Kumpulan pribadi akan membentuk komunitas, sedangkan kumpulan komunitas akan membuahkan kultur. Kultur di kampusku se-nyentrik penghuninya. Bagi mahasiswa ‘awam’ sepertiku, kultur seperti ini ternyata belum bisa kuterima dengan mudah karena memang mengingat sebelumnya sekolahku ber-basics Islam yakni MTs dan MAN. Akhirnya, aku lebih cenderung bersikap ‘diam’ di tengah gemerlap kehidupan kampus. Hal inilah yang menjadikan aku pesimis, takut, hingga depresi.

Dengan segala pertimbangan dan juga restu orang tua, akhirnya aku memutuskan cuti pada semester kedua untuk menyiapkan ujian Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNMPTN) tahun 2012. Tujuanku hanya satu yakni pindah kampus. Di sela-sela aktifitas belajar, aku sempat mengikuti acara Program Studi Islam (PSI) dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di kampus walaupun ketika itu bukan berstatus mahasiswa aktif. Aku adalah satu-satunya delegasi dari jurusanku di acara tersebut mengingat rekan-rekanku masih disibukkan dengan agenda pengaderan jurusan. Di akhir acara, salah seorang panitia berpesan kepadaku agar bisa mengajak teman-teman sejurusan untuk menghidupkan kultur Islam melalui Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) yang sudah lama ‘mati suri’. Anehnya, amanah itu datang ketika aku sudah menyatakan pindah kampus. Namun, Allah sepertinya telah menggariskan jalan hidupku untuk melanjutkan perjuangan di kampus ini setelah mengetahui bahwa aku tidak lulus ujian SNMPTN.

Lalu aku teringat wejangan salah seorang panitia di PSI1 tentang LDJ yang sudah usang dan tak tersentuh muslim jurusan. Tidak ada salahnya bila aku mencoba menginisiasi reborn-nya LDJ. Namun, kondisi saat itu belum bisa dikatakan ‘bersahabat’ karena aku harus memulai semuanya dari nol alias powerless, ditambah lagi tak memliki link. Akhirnya aku berusaha mencari role model yakni sosok mahasiswa yang sudah memiliki jam terbang tinggi, baik segi prestasi akademik maupun organisasi. Beruntung, aku dipertemukan dengan kakak tingkat jurusanku. Dialah role model, mentor, sekaligus inspirator bagiku yang ketika itu sedang terjangkit krisis kepercayaan diri.

Aku coba mengajak beberapa rekanku untuk mentoring bersama beliau. Meskipun hanya segelintir orang tetapi melalui mentoring kami bisa merasakan kekeluargaan, kehangatan, serta keberasamaan. Semenjak itulah kami mulai mampu meretas asa dakwah. Tujuan kami jelas yakni merealisasikan reborn LDJ secara step by step. Tak hanya ilmu keorganisasian yang kami dapatkan dari beliau tetapi juga tentang manajemen diri. Namun, momentum itu terasa sangat singkat karena beliau harus fokus merampungkan tugas akhir untuk kelulusannya.

Perjalanan dakwah dimulai setelah aku diamanahi sebagai ketua LDJ yang ketika itu aku terpilih secara aklamasi. Pelbagai daya upaya metoda dakwah kami lakukan menyesuaikan medan dan objek dakwah. Kami berfokus pada lini yang menjadi fundamen dari sebuah LDJ yakni lini kaderisasi dan lini media. Selain dua lini itu, sifatnya hanya komplemen. Untuk agenda kaderisasi kami melakukan pembekalan pada mahasiswa baru muslim berupa mentoring. Namun, saat itu jumlah SDM kami sangat minim yakni hanya ada tiga mentor yan ketika harus mengakomodir 70 mahasiswa muslim. Kendati demikian kami tetap bersyukur sudah bisa mandiri meng-handle adik jurusan kami karena selama ini kami masih bergantung dengan mentor dari jurusan lain.

Di jurusanku terdapat beragam komunitas mahasiswa untuk berkarya. Tak mau kalah, kami turut mengembangkan komunitas kaligrafi. Tujuan komunitas ini adalah sebagai wahana mahasiswa yang ingin memelajari warisan seni islam dengan memadukan ilmu kaligrafi dengan langgam desain kontemporer. Pada tahun 2012, komunitas kaligrafi sukses mengadakan show-off perdana dalam sebuah pameran. Dengan segala keterbatasan, kami sangat bersyukur bisa membawa kaligrafi bisa sejajar dengan komunitas lain yang notabene lebih tua dan besar pada even pameran.

Kami juga berhasil membuat media alternatif atau biasa disebut zine. Zine ini ber-genre Islam. Kami menyadari bahwa mahasiswa desain lebih mudah mencerna informasi dengan baik melalui visual karena lebih interaktif. Oleh karena itu, kami menawarkan para pembaca untuk berpartisipasi dengan cara mengirmkan karya-karya visual terbaik mereka. Pun sebagai stimulan bagi para mahasiswa agar senantiasa berkarya. Selain itu, zine juga menawarkan pada khalayak umum yang ingin memromosikan produk atau jasa, dimana hasil pemasukan digunakan untuk pengelolaan zine agar sustainable.

Mayoritas mahasiswa kami adalah muslim. Oleh karena itu kami juga menginisiasi koko day pada hari besar Islam yakni Jumat. Gerakan ini bersifat ajakan, bukan paksaan. Dengan harapan dapat menunjukkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan antar muslim. Percaya diri menjadi muslim, dimanapun dan kapanpun. Bak gayung bersambut, ketika percobaan pertama, tidak sedikit yang mengapresiasi gerakan ini. Bahkan ada beberapa rekanku yang sebelumnya jarang memakai hijab setelah adanya ‘ajakan’ ini mereka dengan penuh semangat berhijab.

Minimnya SDM masih menjadi kendala utama. Meski banyak teman yang interest dengan gerakan dakwah kami tapi kebanyakan dari mereka masih sebatas simpatisan. Sebaliknya, yang menjadi pioneer hanya minoritas. Namun, kami tetap istiqomah menjalankannya. LDJ kami bukan hanya dapat berbicara dalam lingkup jurusan tetapi juga skala kampus. Alhamdulillah, atas izin Allah, LDJ kami berhasil menyabet gelar sebagai LDJ teladan dan menjadi inspirator bagi LDJ lainnya.

Apakah aku yang telah merencanakan semua capaian ini? Tidak, semua itu mengalir indah berkat kuasa ilahi. Alhamdulillah Allah masih mencintaiku dengan memberikan kesibukan. Kesibukan yang mulia, semulia ganjarannya kelak di hari akhir,insyaAllah. Lelah dan letih dalam semua aktifitas dakwah merupakan bagian dari sebuah pembuktian diri atas keimanan. Ketahuilah bahwa berjuang itu pahit karena surga itu manis. Berdakwah itu bukan sekadar pilihan melainkan kewajiban. Man Jadda Wajada!

Penulis: Muhamad Lutfi Ramadhani
Surabaya

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar