Lentera dalam Kesuraman

Lentera dalam Kesuraman

Lampu (foto verlustdernacht.de)
Semilir angin menggoyangkan jilbab besar Anisa yang diam terpaku. Ia menatap nanar gundukan tanah yang masih basah di hadapannya. “Rasanya baru beberapa detik kita bersama menghabisakan waktu tapi kini sudah terpisahkan oleh ruang dan waktu. Ya Rabb kuatkanlah hamba menapaki kehidupan yang telah Engkau gariskan ini” kata Anisa membatin menatap pemakaman emaknya. Pandangan Anisa jauh menerawang mengingat kejadian beberapa tahun silam yang telah membawanya kepada hidayah.

Anisa hidup di lingkungan orang-orang yang hidupnya keras, kebudayaan jahil, kesyirikan dan kebid’ahan kerap dilakukan oleh masyarakat di tempat tinggalnya. Ia melanjutkan studinya di salah satu SMA favorit di daerahnya. Lokasi sekolah yang cukup jauh dari rumahnya membuat ia terpaksa menempati kos-kosan yang notabene lingkunganya ditempati oleh wanita-wanita yang berjilbab besar, bercadar dan laki-laki yang berjenggot dengan celana cengkrang yang selalu dikenakan, termasuk ibu dan bapak kosnya.

Rasa penasaran Anisa kian menjadi. Pernah terlintas di benak Anisa akan kegerahan yang dirasakan oleh ibu kosnya, namun rasa takjub menghampiri hatinya tiap kali melihat pemandangan itu. Keluarga bapak dan ibu kosnya hidup dalam kesederhanaan, keteraturan, penghargaan dan akhlak yang sangat menyejukkan. Hingga di puncak rasa ingin tahunya, ia memberanikan diri untuk lebih mengenal keluarga bapak dan ibu kosnya.

“Bu’ sebelumnya maaf, apa tidak kepanasan dengan pakaian seperti itu?” tanya Anisa ragu-ragu. Ibu kosnya yang akrab dengan panggilan Ummi Sulhiyah itu menatap lekat wajah Anisa.

“Nak, ini adalah perintah. Sebagai seorang muslim apa pantas ia mengingkari kesaksiannya pada Rabb yang telah memberikanya makan dan hidup? Jika teman kita mengingkari janjinya betapa kita akan marah dan murka. Tapi pernahkah kita bertanya bagaimana janji kita pada Tuhan untuk menaatinya dan mengesakannya dalam perintah dan larangan diingkari?” Anisa diam sejenak meresapi kalimat itu. Sungguh itu kata pertama yang sangat sederhana tapi menunjam jauh dalam hatinya.

“Bukalah surah Al-Ahzab, di sana dijelaskan tentang kewajiban seorang muslim untuk menutup aurat,” lanjut Bu Sulhiyah dengan hikmah. Anisa diam sejuta bahasa seolah bumi berhenti beredar dan angin terasa membisu mendengar tiap ucapan ibu kosnya.

Setelah shalat Magrib Anisa dengan ragu-ragu membuka surah yang disebutkan oleh ibu sulhiyah, ketika ia membaca arti ayat itu, ada rasa merinding menjalari kulitnya. “Apakah masih banyak hal yang aku lewati dalam ingkarku padaMu Tuhan?” bisik Anisa. Setelah perenungan panjang Anisa memutuskan mengikuti kajian dan memakai jilbab besar.

Ketika musim libur sekolah tiba, Anisa dan teman kosnya yang lain mempersiapkan diri untuk pulang kampung. Ada rasa bahagia karena akan menjumpai emaknya tapi kebahagiaan itu tampak muram saat ia memikirkan sesuatu di benaknya. “Biarkan saja waktu yang akan menjawabnya” bisik Anisa pada dirinya sendiri.

Setibanya di rumah, ia dapati emak sudah menyiapkan hidangan makanan karena tahu akan kedatanganya. Pandangan emaknya terlihat ragu dengan penampilan anaknya namun ia lebih banyak memilih diam.

Anisa sangat menikmati liburan pertamanya, ia banyak membantu ibunya melakukan aktivitas sehari-hari.

“Nak, sebenarnya emak sudah tidak bisa membendung perasaan emak. Semua orang mengatakan kamu termasuk salah satu penganut wahabi, apa itu benar?” tanya emaknya di suatu kesempatan. Anisa menarik napas dalam-dalam dan berusah tenang menjawab pertanyaan emaknya “Mak. jika semua perlakuan Anisa ke emak sudah lebih baik, apa itu salah? Jika sekarang Anisa membaca Al-Qur’an tiap malamnya dan mengerjakan shalat tanpa alpa lagi, disebut wahabi mungkin iya aku wahabi” Emaknya menatap anaknya dengan wajah yang tak biasa.

“Bukan itu Anisa, tapi kerudungmu sungguh kebesaran, bisakah kau ganti dengan kerudung yang kecil saja seperti anak sekolah yang lainnya?” timpal emaknya dengan hati-hati.

“Mak, jika syurga itu ditentukan oleh masyarakat maka Anisa akan melakukan semua tradisi dan jejak meraka, tapi sayang mak syurga itu ada di sisi Gusti Allah Ta’ala dan inilah salah satu cara untuk mendapatkannya” jelas Anisa dengan berusaha menyakinkan emaknya.

Emaknya tiba-tiba menangis dan memasuki kamar. Anisa hanya terdiam terpaku. Ini pertama kali ia melihat emaknya menangis di hadapannya “Kenapa? Apa Anisa salah memilih kata?” pertanyaan itu berputar di kepala Anisa, namun Anisa tidak mendapat jawabannya.

Keesokan harinya Anisa menatap wajah emaknya dengan kasih, ia menemukan ada sesuatu yang berubah. Emaknya sudah mulai bertanya kepada Anisa tentang agama dan menerima dakwah sedikit demi sedikit. Emak Anisa pun pada akhirnya menutup aurat.

Tatapan Anisa kembali pada kuburan emaknya “Semoga Allah menyayangimu di sisiNya, sungguh banyak hal yang telah kau lakukan, Mak” doa Anisa di atas pemakaman ibunya.[]

Penulis : Atipah
Mataram, NTB

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar