Di Tempat Kuliah, Aku Mengenal Tarbiyah

Di Tempat Kuliah, Aku Mengenal Tarbiyah

Halaqah (Film Sang Murabbi)
Sejak kelas dua SMA, tepatnya setelah putus dari pacar, karena sudah paham hukum haramnya pacaran, keinginanku untuk mengenal, mempelajari, dan mengamalakan risalah al-Islam sangat tinggi. Tapi sampai lulus SMA juga, aku masih tetap belum merasakan kenikmatan memeluk agama Islam ini. Aku tidak tahu saat itu, ke mana harus belajar tentang Islam? Perlu diketahui, saat itu - bahkan katanya sampai sekarang - di SMA ku belum ada yang namanya kegiatan Rohani Islam atau akrab dengan sebutan Rohis.

Sempat bingung akan melanjutkan kuliah ke mana, akhirnya qodarullah, aku melabuhkan pilihan ke sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di kota Bandung, dengan masuk di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Ilmu Komunikasi. Sampai aku masuk kuliah, prinsip hidupku yaitu mengalirkan saja mengikuti arus yang ada. Belum ada tujuan, belum ada cita-cita yang jelas, yang kemudian semua itu harus aku perjuangkan. Hidup mengalir saja seperti air, pikirku saat itu.

Kemudian cerita berlanjut saat aku mengikuti kegiatan di organisasi pers islam kampus dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Di sinilah aku memulai perkenalan secara mendalam terhadap Allah, Rosul-Nya, dan Al-Islam. Melalui pengajian sistem berkelompok, yang kemudian dikenal dengan sebutaan liqo atau halaqah. Dari kajian-kajian tiap pekan inilah, akal dan perasaanku mulai tersadarkan tentang bagaimana aku harus mengerti, memahami, dan mengamalkan konsep-konsep risalah al-Islam ini secara kaffah (menyeluruh).

Dan untuk mencapai tingkatan mengerti, memahami, dan mengamalkan konsep-konsep al-islam ini, memang tidaklah semudah memabalikkan kedua tangan. Materi-materi yang diajarkan pada pengajian itu, sering juga bertentangan dengan pendapat-pendapat yang selama ini aku pegang dan yakini. Namun perlahan secara pasti atas hidayah-Nya, akal dan perasaanku akhirnya mulai menerima materi-materi yang diajarkan dalam pengajian itu.

Di mulai dengan materi ma’rifatunnas, yang membuat diriku memahami, dari mana kita diciptakan? Untuk apa kita diciptakan? Akan ke mana kita setelah mati atau bumi ini hancur setelah hari kiamat? Siapa teman dan musuh kita sesungguhnya di dunia ini? Apa petunjuk hidup kita? Dari mar’rifatunnas kemudian berlanjut ke materi ma’rifatullah. Melalui ma’rifatullah ini aku mengenal yang namanya ilmu tauhid. Tauhid Rubbubiyah, Uluhiyyah, dan Mulkiyah. Itu lah tauhid yang kupelajari dalam liqo berdasarkan surat an-Nas (114) ayat 1-3, yang merupakan surat terakhir dalam Al-Qur’an. Inti dari materi ini, menyuruh kita untuk hanya mengabdikan seluruh kehidupan kita dari yang terkecil sampai yang terbesar hanya kepada Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal apapun. Singkatnya memahami dan mengaplikasikan kalimat Asyhadu ala ilaha illallah. Aku bersaksi tiada ilah kecuali Allah.

Berikutnya ma’rifaturrosul, mengenal konsep ar-rosul dan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini. Memahami dan mengamalkan konsep Nabi Muhammad SAW sebagai seorang teladan dan pemimpin yang harus diikuti oleh siapapun yang mengakui dan meyakini risalah yang dibawanya. Intinya, mengaplikasikan kalimat syahadah Wa asyhadu Muhammad rosulullah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian, dari materi ma’rifatudin aku mengenal tentang kelengkapan dinul islam. Islam adalah bukan hanya soal shalat, zakat, shaum, dan haji saja, tetapi sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan dari mulai urusan makan sampai dengan urusan negara dan perang.

Dari empat materi itulah, aku baru mulai merasakan bahagianya meyakini, memahami, dan mengamalkan al-Islam ini. Itulah materi-materi yang aku dapatkan di tempat kuliahku. Yang di kemudian hari aku tahu, bahwa materi yang kupelajari dalam kajian itu merupakan mater-materi yang disampaikan oleh mereka-mereka yang berjuang dalam sebuah gerakan, yang bernama gerakan tarbiyah. Sebuah gerakan yang cukup fenomenal yang mulai muncul sekitar tahun 1970-an, di bawah asuhan M. Natsir. Dan dikukuh lagi pada tahun 2001 pada sebuah seminar dengan judul “Tarbiyah di Era Baru” di gelar di Masjid Salam, Universitas Indonesia, Depok. Dan pada acara itu juga lah Tarbiyah bersepakat mendaulat K.H. Rahmat Abdullah, yang saat itu menduduki jabatan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan sebagai Syaikhut Tarbiyah, sang Syaikh Tarbiyah. Sebuah babak baru yang lain dari gerakan Tarbiyah yang sempat pula disebut dengan Jamaah Usrah ini.

Lima tahun sudah aku bersama Tarbiyah ini, bercengkerama, mengambil saripati-saripati kebaikan, menikmati keindahan ukhuwah, mengarungi luasnya kebesaran-Nya, serta terus berazzam untuk berjuangan mencapai kematian yang syahid! Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufik kepadaku, dan semoga aku tetap istiqomah dalam jalan ini. Di Tempat Kuliah, Aku Mengenal Tarbiyah…

“Kekuatan pertama sesungguhnya adalah iman, buah dari iman adalah kesatuan, dan produk dari kesatuan adalah kemenangan yang gilang gemilang.” (Hasan Al Banna)

Penulis : Adi Permana Sidik
Karawang, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar