Menunggu

Menunggu

Menunggu (ilustrasi dari th08.deviantart.net)
Sore itu, hujan turun rintik-rintik menguyupkan kota Bogor. Aku duduk bersandar pada dinding pelataran Masjid Al-Hijri sambil memperhatikan teman-teman mahasiswa yang berlalu lalang, masuk keluar mesjid. Sebagian mereka akan melaksanakan shalat setelah mengikuti kuliah, sebagian yang lain telah selesai melaksanakan shalat dan menuju rumah mereka masing-masing.

Inilah kali pertama aku diamanahi menjadi pembimbing, mengajarkan teman-teman di semester pertama. Beberapa kali, aku melirik layar Hp. “Belum ada balasan sms yang masuk.” Aku sudah janjian dengan lima orang adik kelas yang akan kubimbing membaca Al-Quran dan keislaman.

Waktu sudah menunjukan jam empat lewat seperempat. Janjiku bersama mereka jam empat teng. Ke mana mereka?

Dua menit berjalan, Hp-ku bergetar. Aku tatap sebuah nama yang sedang kutunggu. Jempol kutekankan pada tombol OK, membuka pesan singkat itu.
Aslm... Maaf ka, aku ijin ada tugas dadakan dari dosen. Waslm..
Sesingkat ini?

Udara masuk ke hidungku, panjang. Huuuh, ada keluhan di hati. Sudah 15 menit lebih aku menunggu eh tidak datang. Gimana ini, kenapa nggak...? Astaghfirullah, aku tidak boleh mengeluh. Aku harus sabar dan terus semangat. Teringat aku sebuah nasihat dari Ustad Abdul Wahid, Murobbi pertamaku bahwa dakwah itu harus sabar. Ia mengisahkan perjuangan Nabi Nuh ‘Alaihi Salam yang berdakwah menyeru kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun, siang dan malam. Namun, kaumnya malah lari. Sebagian kaumnya memasukkan jari telunjuk mereka ke dalam telinganya, menutupkan bajunya ke mukanya menolak seruan Nabi Nuh. Mereka mengingkari dan menyombongkan diri dengan sangat.

Sabar.. sabar.. wahai hati, dalam berdakwah harus selalu ada sabar, sebisa-bisanya. Mungkin, kesabaran yang kusabar-sabarkan ini tidaklah seberapa dibanding kesabaran Nabi Nuh as.
Astaghfirullah hal adzhim.....
Aku balas sms kawan tadi.
Ya, tdk apa2 mudahan Allah memudahkan setiap urusan antum akhii.

Air hujan jatuh dari atap genting menimpa genangan air di bawahnya. Suaranya yang gemericik menambah ramai suasana sore yang dingin ini. Di dalam masjid, tepatnya di lantai dua, suara-suara akhwat ramai mengobrol. Entah, apa yang mereka bicarakan. Tidak di mana-mana, akhwat-akhwat itu selalu ramai merumpi. Masih kulihat sebagaian mahasiswa yang masuk sore sedang shalat. Mereka ruku, sujud, dan berserah diri kepada Allah.

Di luar kampus, mobil dan motor berserakan ke setiap arah. Suara knalpotnya sampai ke telingaku. Bising. Tapi, itulah kehidupan kota. Sungguh, berbeda dengan kampungku di timur Indonesia yang tenang dan tentram tak ramai dengan suara kendaraan. Yang ada hanya kicauan burung dan hembusan angin yang menimpa dedaunan.

Dua puluh lima menit berlalu. Belum satupun yang kutunggu datang. Satu orang sudah ijin berarti tinggal empat orang lagi. Mudah-mudahan mereka datang. Dari pada diam menunggu, lebih baik aku membaca Hisnul Muslim saja. Hisnul Muslim adalah sebuah kitab kecil panduan dzikir pagi dan petang yang dikarang oleh Syaikh Sa’id ‘Ali bin Wahf Al-Qahthoni. Sebuah kitab yang dikumpulkan dari Al-Quran dan hadis-hadis shahih.

Aku coba mencari kedamaian bersama rintikan hujan yang membasahi bumi. Aku mencoba menyatu dalam hembusan angin, menikmati kehidupan dengan lantunan dzikir kepada-Nya.

Allohumma innii a’udzubika minal hammi wal hazan, wa auudzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli wa a’uudzubika min gholabatid-daini wa qahrir-rijal.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dan sifat pengecut dan bakhil, dan dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang.”

Hp-ku bergetar kembali. Ketika dibuka, sebuah pesan dari orang yang kutunggu juga.
Sory ka, ane lupa kalau sore ini ada pengajian. Tadi setelah selesai kuliah langsung pulang. Sekarang sudah ada di rumah...

“Alhamdulillah, satu orang lupa. Mudah-mudahan tiga orang lagi tidak lupa.” Kukuatkan hati ini, dan kucoba berlapang dada. Walaupun, ada juga setruman-setruman kegemesan, kekesalan-kekesalan yang meruak dalam hati. Tapi, aku redam semuanya. Aku tidak mau menyerah. “Niat baikku janganlah ternodai atau terkotori hanya dengan kekecewaan-kekecewaan kecil.”

Aku coba mengingat-ingat perjuangan Nabi Muhammad yang berdakwah ke Thaif dalam buku Sirah Nabawiyah. Pada bulan Syawwal tahun ke-10 dari kenabian, Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wa Sallam keluar menuju Thaif yang letaknya sekitar 60 mil dari kota Mekkah. Beliau datang dan pergi ke sana dengan berjalan kaki, didampingi Zaid bin Hâritsah. Setiap melewati perkampungan sebuah kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam namun tidak satupun yang memberikan responsnya. Tatkala tiba di Thaif, beliau mendekati tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka kabilah Tsaqîf. Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wa Sallam duduk-duduk bersama mereka sembari mengajak mereka kepada Allah Ta’ala dan membela Islam.

Salah seorang dari mereka berkata, “Jika Allah benar-benar mengutusmu, maka Dia akan merobek-robek pakaian Ka’bah.”
Yang seorang lagi berkata, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?”
Orang terakhir berkata, “Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu! Jika memang engkau seorang Rasul tentu engkau adalah bahaya besar bila aku menjawab pertanyaanmu dan jika engkau seorang pendusta terhadap Allah, maka tidak patut pula aku berbicara denganmu”.

Rasulullah berdiam di tengah penduduk Thaif selama sepuluh hari. Dan selama masa itu, beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan para pemuka mereka. Namun, yang beliau dapatkan hanyalah teriakan “Keluarlah dari negeri kami!”

Rasulullah dicaci-caci dengan ucapan-ucapan tak senonoh. Mereka melempari beliau dengan batu dan mengarahkannye ke urat di atas tumit beliau sehingga kedua sandal yang beliau pakai bersimbah darah.

Zaid bin Hâritsah yang bersama beliau, menjadikan dirinya sebagai perisai untuk membentengi diri beliau Shallallâhu 'Alaihi Wa Sallam. Tindakan ini mengakibatkan kepalanya mengalami luka-luka.

Betapa, perjuangan Rasulullah tidaklah setara dengan perjuangan yang kita lakukan. Mengingat sejarah itu, ada air mata mengalir hangat di pipi ini. Aku bangga dengan sikap beliau ketika pulang menuju Mekkah.

Setelah keluar dari Thaif, Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wa Sallam pulang menuju Mekkah dengan perasaan getir dan sedih serta hati yang hancur lebur. Tatkala sampai di suatu tempat yang bernama Qarn al-Manâzil, Allah mengutus Jibril kepadanya bersama malaikat penjaga gunung.

Malaikat penjaga gunung tersebut memanggil Rasulullah sembari memberi salam kepada, kemudian berkata, “Wahai Muhammad! Hal itu terserah padamu; jika engkau menginginkan aku meratakan mereka dengan al-Akhasyabain, maka akan aku lakukan.”

Malaikat gunung ini menewarkan bantuan kepada Rasulullah untuk menghancurkan orang-orang yang memusuhi dan memerangi dakwah beliau. Akan tetapi, Rasulullah menjawab tawaran malaikat itu dengan perkataan, “bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah ‘Azza Wa Jalla semata, Yang tidak boleh disekutukan dengan sesuatupun.”

Subhanallah, siapakah diriku dibanding Rasulullah. Belaiu adalah sosok penyabar dan selalu optimis. Aku harus menumbuhkan kembali harapan kepada mutarabbi-ku, mudah-mudahan di anatara mereka ada menjadi orang yang lebih baik dariku.

Dari kejauhan, aku melihat sebuah sosok yang kukenali. Semakin mendekat, ia semakin dekat, alhamdulillah, ada juga yang hadir walaupun baru satu orang. Mudah-mudahan dua orang lagi cepat menyusul.

“Assalamu ‘alaikum.” Orang yang kutunggu mengucapkan salam sambil menjabat tangan.
“Wa ‘alaikum salam, Alhamdulillah bisa hadir juga. ayo duduk di sini. Ajakku kepadanya.

Akan tetapi, “Afwan ka. Saya baru keluar kelas tadi dosen masuknya telat. Dan... saya sebenarnya ke sini mau minta ijin. Ibu meminta saya pulang cepat-cepat, ada sesuatu yang harus dibereskan, gimana ka?”

Aku termenung menatapnya. Aku coba bersenyum, “Oh iya, gak apa-apa. Silahkan aja pulang, mungkin ibumu sudah menunggu. Kewajiban berbakti kepada ibu lebih besar..”
Ia pun pulang meninggalkanku yang masih terduduk bersandar. Allahu Akbar.
Tiga orang tidak bisa hadir, tinggal dua orang lagi yang belum ada kabarnya.

Aku coba untuk bersabar menunggu. Perutku lama-lama berkeroncong ria, lapar hujan-hujan gini. Aku ambil mushaf dan membaca surat Maryam. Mudah-mudahan rasa lapar hilang teralihkan dengan fokus membaca ayat-ayat suci kitab umat Islam.

Senja menyapa. Sang surya terlelap dalam peraduaannya. Adzan maghrib berkumandang. Burung-burung kembali ke sarangnya. Aku pun bangkit dari tempat duduk. Alhamdulillah, 3 orang ijin dua orang tak ada kabar. Aku kirimkan sebuah pesan kepada lima kawanku.
Assalamu ‘alaikum, mudah2an minggu besok kita bisa berkumpul. Aku undang antum semua di kantin kampus. Jangan lupa ya, Wasallam.

[Kisah ini adalah pengalaman temanku satu kamar di Pesantren Ulil Albaab Bogor]

Penulis : Bahrum Subagia
Bogor, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar