Islam Rasa Salubua

Islam Rasa Salubua

Rumah panggung Sulawesi Selatan (foto getyourguide.com)
Saya menghabiskan waktu dua bulan lalu di kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Desa Salubua. Bersama beberapa teman, kami mengabdikan diri pada daerah. Berdekatan dengan Toraja, ada satu budaya Toraja yang terpelihara selama ratusan tahun pun meresap di wilayah ini. Budaya memakai kain sarung.

Masyarakat Salubua 100% muslim. Mereka senang memakai kain sarung, baik bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak mudanya. Saya kira itu karena masyarakat di sana sangat gemar beribadah. Tetapi teryata, kain sarung itu digunakan untuk menangkal hawa dingin dan gigitan nyamuk.

Awalnya saya senang sekali. Pertama kali menginjakkan kaki di Desa Salubua, saya telah membayangkan akan melewati bulan Ramadhan tahun ini dengan penuh berkah dan kebersamaan. Dengar-dengar dari penduduk, desa mereka secara turun-temurun mewajibkan warga mampu membaca Al-Qur’an dan belajar melagukan bacaan Al-Qur’an dengan indah.

Di minggu kedua saya dan teman-teman menyusun program pengabdian. Setelah merenung lama, saya putuskan untuk menghidupkan kembali kegiatan surau untuk anak-anak. Selain berbuat baik untuk masyarakat desa di sana, program itu saya harap mampu menyemangati saya untuk mengejar ketertinggalan belajar Al-Qur’an. Dengan ibadah harian saya yang naik turun. Tilawah maju mundur. Apalagi melagukan Al-Qur’an. Saya yakinkan bahwa yang saya lakukan ini karena Allah. Saya pun hanya tertawa ketika teman-teman menyoraki saya, “Ciee, ada ibu ustadzah ni!”

Lama saya mencari tahu sana-sini. Berkunjung ke tokoh-tokoh desa setempat. Mencari nasehat dari tetua-tetua guru mengaji di desa. Ternyata, kebiasaan indah membaca Al-Qur’an ternyata sudah tidak digandrungi lagi oleh anak-anak di sana. Padahal setelah saya ajak ngobrol, mereka semua tahu bahwa mengaji itu ibadah, membawa kebaikan, dan menambah pahala. Ketika ditanya mau mengaji lagi atau tidak mereka menjawab, “Mauuuu!” Dengan serentak. Tetapi ketika hari mengaji tiba, anak yang hadir jumlahnya cukup dihitung dengan jari.

Miris. Anak-anak di sana melihat orang datang dari kota dengan mata berbinar penuh pengharapan. Mereka terkagum-kagum dan bertanya dengan gembira soal ini, soal itu. Tentang berbagai hal. Ketika melihat itu saya, hati saya berdesir dan hanya mampu berkata dalam hening, “Tahukah kalian bahwa semua jawaban dari persoalan hidup ini ada di dalam sebuah buku manual hidup bernama Al-Qur’an?”

Kalau saja saya bisa menumpahkan segala pelajaran hidup yang saya tahu, rasakan, dan alami selama seperlima abad ini. Saya akan ceritakan. Namun, mereka hanya anak-anak. Sungguh tak tega. Tak terbayangkan apa yang akan mereka hadapi di sepuluh tahun ke depan, dengan suguhan TV yang tidak mendidik setiap harinya.

Semampu mungkin saya intensifkan interaksi saya dengan anak-anak. Saya kerahkan segala kemapuan untuk memberi teladan terbaik. Bagaimana berperilaku, bersikap, berpakaian, berinteraksi dengan lingkungan, dan menuntut ilmu di sekolah. Sayang, dari sekian mahasiswa di kelompok kami, sedikit yang sadar mengenai kesempatan dakwah ini. Beberapa teman bahkan tidak sadar tengah memberikan teladan yang buruk bagi mereka. Membuat usaha saya semakin terhambat. Tapi kemudian, saya pikir, mungkin tidak mengapa. Agar anak-anak mampu melihat dan membandingkan bahwa segala yang datang dari luar desa mereka bukan berarti lebih baik.

Setelah mereka percaya pada saya. Sedikit banyak mereka bercerita. Tentang senang susahnya hidup di desa. Tentang mimpi-mimpi mereka untuk merantau jauh menuntut ilmu. Sekali saya terperanjat. Satu anak dalam kelas berteriak lantang di kegiatan belajar mengajar, “Saya ingin bersekolah di Paris!” Maka berulang dan berulang lewat lisan saya berpesan, “Bermimpilah karena Allah akan mengabulkan doa para hamba-Nya.” Bagi saya pesan itu sekaligus tamparan bagi diri saya sendiri. Lebih dari satu kali saya hampir menyerah untuk mengusahakan mimpi-mimpi saya. Padahal, pantang bagi mukmin untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Di hadapan semua murid kelas itu, saya merasa Allah tengah menegur saya dengan cara-Nya yang paling lembut.

Beberapa kali, saya merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan program bakti daerah saya di Salubua. Memasuki bulan kedua, saya menemukan ternyata teman-teman Muslim saya belum ada yang sevisi dan semisi dengan saya. Situasinya sungguh gawat. Beberapa teman memang saya tahu dari awal menganut agama Kristen dan Katolik. Parahnya, teman-teman non-muslim ini lama-kelamaan sering bercanda tentang pindah agama. Satu malam setelah rapat, salah seorang teman non-muslim pun santai berkomentar, “Wah, di sini nggak ada gereja ya, susah kalau mau ibadah. Gimana kalau kita bangun aja?” Teman-teman sesama non-muslim pun meledak tertawa.

Sesak. Ya Allah, lindungi kami (saya dan teman-teman Muslim) dan warga Salubua dari ancaman misionaris dan kristenisasi. Semakin hari, senda gurau yang bertema misionaris dan kristenisasi pun makin gencar. Teman-teman muslim diajak main gitar, nonton TV, main kartu saat waktu shalat tiba. Ketika teman-teman muslim memilih untuk tidak shalat tarawih, teman-teman non-muslim pun berkata sambil tertawa-tawa, “Sekali-kali kan nggak papa.”

Maka, hingga akhir saya kuatkan hati untuk memegang erat-erat firman Allah dari Surat An-Nahl ayat 125 yaitu “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” []

Penulis : Sarah Kartika Pratiwi
Yogyakarta

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)


0 komentar:

Posting Komentar