Merasai Cinta

Merasai Cinta

Bunga cinta (foto ltips.net)
Lantunan takbir dan tahmid menggema dalam ruang dunia yang sebenarnya telah hening berselimut malam. Malamku yang masih siang bagi mereka yang sedang berkumpul di suatu daerah terbuka beratap langit; Arafah. Tiada batas bersama sang Rabb seraya menyeru...

Labbaik Allaahumma labbaik
Labbaika laa syariika laka labbaik
Innal hamda wanni'mata laka walmulk laa syariikalak


Penuh cemas dan harap atas ampunan, cinta dan keridhoan sang Maha. Di sudut ruang hati sebait do’a dan pinta, kelak juga jiwa dan raga berada disana; suatu saat.

Dalam gelap langit nampak berbinar bintang. Teriring ingat kisah Bapak agama ini. Ialah Ibrahim 'alaihis salam, dalam pencarian hakikat kehidupannya yang sempat menjadikan bintang sebagai Tuhannya. Hingga kekecewaan berujung ketika tergantikan mentari di pagi hari. Sebuah refleksi bahwa inilah hakikat manusia. Dalam perjalanan masa hidup maka ia akan tiba satu titik pencarian. Beruntunglah bagi mereka yang tertuang kasih hidayah maka ia akan menemukan-Nya. Merugilah yang menjauh. Proses berpikir yang jernih lagi tulus, jalan itulah yang mengantarkan Ibrahim 'alaihis salam benar bertemu dengan jalan-Nya. Semoga kita termasuk yang mengikuti.

Merasai cinta. Nabi Ibrahim mendapat julukan sebagai kekasih Allah. Suatu predikat romantis lagi indah. Tentu bukan tanpa sebab tanpa perkara. Tiada hujan sebelum mendung tiba.

Merasai cinta. Ada gejolak kebahagiaan yang sangat besar. Tatkala sebuah penantian panjang dengan segala usaha, minta dan do’a untuk mendapatkan pelanjut pembawa estafet tongkat kenabian. Allah kabulkan di ujung satu masa. Keceriaan, canda tawa penuh mengisi hari yang semakin menua. Semakin cinta beliau dengan segala nikmat pemberiaan. Semakin dalam juga cinta bagi pemberi nikmat tersebut.

Tiba satu masa yang lain. Dalam alur bahagia waktu. Hentakan ujian cinta justru seolah sejenak menghentikan waktu dunia. Himpitan perasaan menyesakkan dada menerima perintah. Rencana apa yang hendak terjadi? Kebahagiaan yang memuncak tiba-tiba yang harus dihempaskan ke dasar tanpa sedikit pengharapan.

Ismail si buah hati dan jiwa, harus diakhiri hidupnya. Inilah ujian yang mengalahkan total nurani lagi akal. Sekali lagi, buah pengharapan yang panjang. Anak semata wayang. Semakin berat karena semua harus selesai di tangan Nabi Ibrahim sendiri.

Diteruskan kabar kepada sang anak. Atas celupan iman maka tidak ada keraguan selain “Ayahku, silahkan kerjakan kalau itu adalah perintah dari Allah. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” pungkas Ismail mantap.

Meski berat, semua tetap dilanjutkan. Kisah bahagia akan menjadi kisah “tragis”. Tepat sebelum diteruskan, Allah mengganti Ismail dengan seekor qibas. Beruntung dan haru yang terjadi. Benar, ternyata Allah sedang menguji mereka; Ibrahim 'alaihis salam terutama.

Allah menguji cinta Ibrahim kepada-Nya. Adakah yang lain dalam hati Ibrahim cinta itu ia turutkan? Ibrahim lulus dari ujian cinta itu. Berhasil merasai puncak cinta. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Totalitas, satu, sempurna, setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam lewat keikhlasan dan keberaniannya.

Nabi Ibrahim menulis takdir cintanya. Yang paling ia cintai adalah Allah, di atas anaknya sendiri. Yang memenuhi hatinya adalah perintah kenabian di atas nalurinya sebagai seorang ayah. Termasuk pilihan kewajibannya di atas hak yang bisa ia lakukan. Maka kemudian Allah memberikan hadiah yang sepadan...

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya....” (QS. An Nisa' : 125)

Kisah ini bukanlah kisah baru. Ia terulang di setiap moment qurban tiba. Ya... mereka yang telah lulus dalam ujian cinta sajalah yang akan merasai cinta. Kekuatan cinta pun terlahir semakin kuat hanya atas bertahan dalam cobaan cinta itu sendiri. Segala konsekuensi cinta tidak menjadi pelemah melainkan ajang pembuktian cinta itu sendiri. Maka kutelisik relung batinku, adakah diriku sudah merasai cinta ini?

Penuhi jiwa ini dengan satu rindu
Rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu
Meski tak layak kuharap debu cinta-Mu
Meski begitu hina kubersimpuh

Cukup bagiku Allah segalanya yang kutunggu
Di hatiku ini penuh berisi segala tentang Allah
Kepada Nabi Muhammad, tercurah shalawat Allah
Tiada Tuhan selain Allah, cukup bagiku Allah

...

(Opick - Cukup bagiku)

Penulis: Fardan
CEO Badan Mentoring IT Telkom, Bandung
Facebook - Twitter - Wordpress

0 komentar:

Posting Komentar