Hitam Putih Perjalanan Hidupku

Hitam Putih Perjalanan Hidupku

Ilustrasi ADK (foto my.opera.com)
Aku terlahir dari keluarga biasa saja, di suatu kampung di wilayah kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sejak kecil aku sudah diajari untuk dapat hidup dan belajar mandiri, karena kebetulan ibuku adalah seorang single parent. Di dalam selembar kertas ini aku akan bercerita tentang hitam-putih sebuah perjalanan hidupku, semenjak aku lulus SMK sampai saat aku mengenal sebuah organisasi Islam yang sangat berpengaruh dalam kehidupanku.

Tahun 2007, alhamdulillah akhirnya aku lulus dari SMK dengan mendapatkan peringkat terbaik ke-3 di tingkat jurusan. Dari situlah sebenarnya banyak tawaran dari Universitas-universitas yang masuk kepadaku, mulai dari ATMI (Siapa sih yang kenal itu, Kiblatnya Teknik di Indonesia) dan UGM juga merekomendasikanku untuk masuk tanpa tes. Selain itu ada juga UNS, bahkan di situ aku akan dibiayai sampai lulus. Mungkin sudah suratan takdirku yang tertulis di sana, dan akhirnya akupun memilih melanjutkan ke BBLKI (Balai Besar Latihan Kerja Industri, Salah satu Unit Lembaga dari Depnakertrans). Mungkin juga itu sesuai dengan kehendakku karena sejak SMK aku pun ingin cepat-cepat lulus, dan cepat bekerja. Tiga bulan lamanya aku belajar di BBLKI aku mendapatkan panggilan test di PT. Katsushiro Indonesia ,yang berdomisili di Cikarang, Bekasi.

Februari 2008 aku menginjakkan kaki pertama kali di bumi Cikarang. Di mana di situ adalah dunia baruku dan juga tempat kerjaku yang hingga saat ini. Di situ aku berinteraksi, beradaptasi dengan suasana baru yang berbeda dengan di kampung. Di sana aku belajar teknik-teknik, skill-skill, dan juga belajar bagaimana sesungguhnya mencari rizqi dengan hasil keringat sendiri.

Waktu pun terus berlalu, terbersit dalam pikiranku aku ingin belajar lagi, aku ingin menuntut ilmu lagi. Mumpung masih ada kesempatan, begitu fikirku. Akhirnya akupun mencari-cari referensi kampus yang ada di wilayah Cikarang–Bekasi dan sekitarnya. Mulai dari LP3I, Gunadarma, dan kampus-kampus kecil yang ada di wilayah Cikarang. Namun entah kenapa saat itu aku mendapatkan brosur BSI dari temanku, kebetulan dia juga bingung mau kuliah, setelah aku baca dan ku berfikir, akhirnya aku mantap untuk masuk di Kampus BSI.

Tepatnya bulan Maret 2010 aku mulai masuk kampus . Berangkat kerja pagi, sorenya pun langsung kuliah, begitulah aktifitasku dalam tiga tahun terakhir ini. Aku bersyukur dapat belajar dengan biaya keringatku sendiri.

Seiring berjalannya waktu bulan Desember 2010 aku diajak dan dikenalkan oleh temanku untuk mengikuti sebuah event akhir tahun di daerah puncak, Bogor. Event tersebut diprakarsai oleh Lembaga Dakwah Kampus yang ada di kampusku. Awalnya aku sempat menolak, tapi temanku terus menyakinkan untuk mencoba ikut dulu, nanti kalau tidak puas tahun depan gak usah ikut lagi deh. Akhirnya aku pun memutuskan untuk ikut di hari-hari terakhir pendaftaran (fikirku kala itu sebagai pengalaman aja deh). Rangkaian acara demi acara pun aku lalui, di situ aku mengenal mentoring, di situ aku mengenal kebersamaan, di situ aku mengenal hakikat sebuah perjuangan. Waktupun terus berlalu tak terasa, sudah tiga hari dua malam aku mengikutinya. Dalam hati aku bersyukur Dia telah mempertemukanku dengan sebuah acara yang luar biasa, sebuah acara yang sangat berkesan dan juga sebuah acara yang sangat bermakna. Seandainya waktu itu aku tidak berfikir untuk mencoba mengikuti dulu, mungkin aku tidak bisa seperti sekarang ini. Mungkin aku masih awam akan ilmu-ilmu agama. Dari situlah pengalamanku pertama mengenal apa itu Lembaga Dakwah Kampus. Semenjak acara tersebut aku-pun semakin tertarik untuk mengikuti setiap even-even yang diadakannya. Dan semenjak itu pula aku memutuskan untuk bergabung dan menjadi salah satu lokomotif perjuangan teman-teman di Lembaga Dakwah Kampus. BADARIS (Badan Dakwah Rohani Islam) itulah namanya, sebuah LDK di Kampus Bina Sarana Informatika.

Setelah tiga tahun lamanya aku belajar di BSI, alhamdulillah bulan tahun 2013, aku Lulus dan mendapatkan Grade A. Aku sangat bersyukur sekali, perjuanganku belajar di samping bekerja dan juga berorganisasi pun tidak sia-sia.

Mungkin hanya sekian sebuah catatan, hitam putihnya perjalanan hidupku. Mudah-mudahan dapat menginspirasi dan memotivasi teman-teman untuk terus berjuang dan jangan pernah menyerah. Teringat ada sebuah kata bijak, “Dengan Keterbatasan dan kekurangan itulah yang mampu membuat kita bertahan, yang mampu membuat kita tegar dalam menghadapi problematika kehidupan ini“. []

Penulis: Heri Suprihatin
Bekasi

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)



0 komentar:

Posting Komentar