Pasca Kudeta, Mesir Jadi Tempat Paling Berbahaya bagi Wartawan

Pasca Kudeta, Mesir Jadi Tempat Paling Berbahaya bagi Wartawan

Ulah militer tangkap wartawan
Kudeta militer yang menggulingkan Presiden Muhammad Mursi membawa banyak ‘perubahan’ bagi Mesir. Salah satunya, negeri seribu menara itu berubah menjadi tempat paling berbahaya bagi para wartawan.

Situs berita Aljazeera mencatat, enam wartawan tewas dan sedikitnya 25 dipenjara. Aljazeera adalah media yang paling diincar untuk ditangkap di Mesir saat ini. Dua wartawannya, Abdullah al-Shami and Mohammed Badr, masih ditahan di Penjara Abu Zabaal.

Mesir kini masuk dalam daftar 5 negara paling berbahaya bagi pekerja pers. Padahal, tiga tahun lalu, Mesir bahkan tidak masuk peringkat 10 besar, lansir Hidayatullah.com, Jum’at (20/9).

Bulan Agustus 2013, pasukan keamanan Mesir membunuh kepala biro provinsi surat kabar pemerintah Al-Ahram dan menangkap wartawan Turki.

Tamer Abdel Raouf, kepala biro Al-Ahram di Provinsi Buhayra Mesir, ditembak mati saat seorang wartawan dari surat kabar negara bagian lain, Al Gomhuriya, terluka. Keamanan menembaki mobil wartawan Al-Ahram karena dituding berusaha melarikan diri dari pos pemeriksaan jam malam yang dilakukan dari petang hingga fajar.

Di bulan yang sama, kelompok kebebasan pers, Institut Pers Internasional (IPI), telah meminta militer Mesir untuk melepaskan Tahir Osman Hamde, Kepala Biro Kairo pada Kantor Berita Turki, Ihlas.

Tahir ditangkap pada Selasa (20/8) setelah militer menyerbu kantornya di sebuah hotel di Kairo. Pasukan keamanan tersebut menyita komputer dan peralatan lainnya.

"Kami sangat mengkhawatirkannya karena ia tidak ada jejak," kata Ahu Kirimlioglu, manajer produksi kantor berita yang berbasis di London itu kepada The Guardian.

Pihak berwenang Mesir telah menolak untuk melepaskan informasi tentang Hamde. Wartawan ini merupakan warga negara Belanda sehingg Ihlas bekerja sama dengan Kedutaan Belanda untuk mengusahakan pembebasannya.

Koresponden penyiaran Turki lain, Metin Turan yang bekerja untuk penyiaran publik negara Turki juga telah ditahan. [AM/Hdy]

0 komentar:

Posting Komentar