Tiga Wasiat Sopir Angkot

Tiga Wasiat Sopir Angkot

Ilustrasi nasehat (foto devianart.com)
Rasulullah berkali-kali mengingatkan kepada kita, bahwa hikmah adalah milik orang beriman. Di manapun hikmah itu berada, maka ambillah dan sebarkan kepada sesama. Beliau juga seringkali mengingatkan, bahwa satu diantara ciri kesombongan adalah anti kritik, tidak mau mendengarkan saran, nasehat atau aneka kebaikan dari selainnya.

Dalam kaitannya dengan hal ini, kesombongan bermakna juga merendahkan orang lain yang secara fisik maupun materi, lebih rendah dari diri kita. Padahal, Allah sudah jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa yang paling mulia diantara kita bukanlah yang paling tampan, bukan pula yang paling kaya, atau yang paling tinggi jabatannya. Allah menegaskan, bahwa yang paling mulia diantara kita adalah yang paling bertaqwa.

Adalah Faris. Seorang paruh baya asal Padang. Sudah sejakl 14 tahun menjadi pengendara mobil. Mulai angkot hingga bus antar provinsi, dan bus malam. Di usianya yang menanjak 44 tahun ini, atas kehendak Allah, dia sudah memiliki 3 anak, 1 istri dan 5 armada angkot di salah satu kota pinggiran Jakarta.

Dalam kesempatan yang sudah Allah atur dengan sangat baik, Faris bertutur kepada salah satu penumpangnya.

Dalam obrolan ringan, berteman mendung dan rintik senja itu, Faris yang menikah di usia 16 tahun itu, menuturkan banyak hal. Tentang kerja keras, kesungguhan dan pantang menyerah. Sehingga, sedikit banyak, di usianya yang memasuki angka 5 itu, ia sudah bisa membiayai kuliah anak pertamanya. Dia juga sudah mempunyai passif income dari 5 armada angkotnya itu. Dalam sehari, satu angkot disewakan dua kali. Sehingga, dalam sehari itu bisa 10 kali sewa. Persewa, tarifnya antara 80-85 ribu.

Dalam perbincangan hangat penuh canda itu, setidaknya ada 3 wasiat yang mungkin bisa kita petik hikmahnya.

Pertama, jangan tinggalkan sholat.
Banyak kita jumpai sopir angkot yang ugal-ugalan. Dengan penampilan yang kumuh, hiasan tato dan asesoris tak jelas lainnya. Sering juga kita jumpai mereka yang hobi mabuk, merokok tak kenal henti, hingga tindakan asusila yang tak selayaknya.

Namun, diantara kubangan lumpur itu, jika kita mau jernih dan sedikit berusaha mencari lebih mendalam, sejatinya masih banyak mutiara yang bisa kita ambil, bersihkan dan kita manfaatkan untuk kepentingan kehidupan kita.

Andai, nasehat ini berhasil dipraktekan, bukan hanya oleh Faris, insya Allah negeri ini akan berjaya. Karena bagaimanapun, khususnya di kota-kota besar, populasi sopir angkot lumayan banyak. Jika kebaikan sudah menjadi jamak, maka insya Allah, berkahNya akan tercurah limpah.

Dua, rajinlah menabung.
Masih ingat 5 armada angkot yang dimiliki Faris? Bahkan, ia sudah memiliki rumah sendiri. Kiat yang ia ceritakan, salah satunya adalah dengan rajin menabung. Ia menuturkan, menabung setidaknya mempunyai 3 manfaat. Untuk persediaan ketika ada kepentingan mendesak, untuk investasi jangka panjang dan agar bisa menolong ketika ada orang lain yang membutuhkan.

Menabung, hendaknya, bagi kita, tak sebatas recehan rupiah atau dollar yang tak teratur nilainya. Hendaknya, kita upayakan juga menabung dalam bentuk emas. Di samping karena nilainya yang stabil dan relatif menanjak, emas dalam bentuk dirham dan dinar adalah jaminan kesuksesan finansial sebagaimana terbukti sejak zaman nabi. Tentu, jika kesemuanya itu dibungkus dengan sholat sebagai manifestasi iman dan taqwanya seseorang.

Yang tak kalah pentingnya, jangan hanya maknai menabung sebagai tabungan duniawi. Ada akhirat yang harus kita kejar. Sehingga, sebagai seorang muslim, tabungan akhirat berupa amal sholih terbaik, sebanyak mungkin, haruslah kita upayakan. Insya Allah, kita bisa.

Ketiga, jangan lupakan orang tuamu.
Ridho Allah tergantung ridho orang tua, murka Allah tergantung murka orang tua. Nampaknya nasehat ini benar adanya. Cukuplah Malin Kundang yang menjadi batu karena kedurhakaannya.

Seringkali, setelah berumah tangga, seorang anak melupakan kewajibannya kepada orang tua. Apalagi, ketika ia sebagai anak laki-laki dan istrinya kurang bisa memahami. Hendaknya, hal ini bisa dikomunikasikan dengan baik. Bahwa bagi seorang anak, baktinya kepada orang tua tetaplah wajib. Pun, ketika ia sudah menikah dan memilki keluarga yang baru.

Faris menuturkan pengalamannya, “Kalau ada rejeki lebih, jangan simpan sendiri. Berikan hak orang tua. Insya Allah, hidup berkah, rejeki lancar.”

Akhirnya, hikmah memang berada di banyak tempat. Pertanyaannya, apakah kita berkenan mengambil dan menyebarkannya, atau antipasti lantaran melihat kegelapan di setiap penjuru, sehingga tak ada alasan untuk menyalakan pelita? []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




0 komentar:

Posting Komentar