Catatanku tentang Ibu

Catatanku tentang Ibu

Kasih ibu - ilustrasi
“Nyai Yah masih inget, dulu nyai berjalan sekian kilo hanya untuk mendapatkan beras” kata Nyai Yah saat kami silaturrahmi ke tempat beliau.

“Sekarang Nyai seneng lihat anak-anak sudah besar dan jadi guru semua” Nyai Yah menambahkan. Ada rasa haru dan pedih saat mendengar perkataan Nyai Yah. Cerita mengenai seorang ibu yang berjuang demi kesuksesan anak-anaknya. Cerita yang mengingatkan saya pada hari-hari saya bersama ibu.

Dulu keluarga kami tak seperti sekarang. Ayah dan ibu hanya seorang petani sekaligus usaha sarung kecil-kecilan. Kami hidup 3S (sangat sederhana sekali). Kala musim kemarau datang, kami kesulitan mencari air sehingga hampir tiap malam ibu mengajak saya menimba air di sumur samping masjid sebelah. Itupun kalau saya sedang tidak malas. Biasanya kalau saya sedang malas ibu menimba sendirian. Dan mengangkat berjerigen-jerigen air dari masjid ke rumah yang jaraknya sekitar 200 meter.

Karena pekerjaan yang cukup berat, ibu jadi sering sakit. Dari mulai mag, typus sampai paru-paru yang awalnya kami kira itu hanya batuk biasa. Sehingga hari-hari kami lalu dengan ibu yang sering terbaring sakit. Saya dan kakak jadi sering makan mie instant karena ayah juga tak pandai masak.

“Ya Allah, beri ibuku kesembuhan hingga ibu bisa hidup sampai aku SMP” doa saya di samping ibu yang terbaring lemah di tempat tidur dengan suara batuk yang membuat sesak dada saya. Saya yang waktu itu duduk di kelas 4 SD itupun tak mengerti apa-apa. Saya hanya sering melihat ibu sakit-sakitan. Terbaring lemah ditempat tidur. Selain itu saya juga sering mimpi kalau ibu akan pergi mendahului kami.

“Ibu... ibu jangan pergi” teriak saya dalam mimpi. Biasanya setelah itu saya langsung ke kamar ibu untuk memastikan beliau masih bernafas.

Seiring berjalannya waktu, perlahan ibu mulai jarang sakit. Seingat saya terakhir ibu sakit parah setelah ibu melahirkan adik. Saya sangat senang sekali. Namun saya terlena dengan kesehatan ibu. Saya jadi sering main, bandel dan tak bisa membahagiakan beliau.

Tahun 2008 setelah lulus SMA saya memutuskan untuk kuliah di Jawah Tengah. Berat ibu melepaskan saya setelah 3 tahun kami berpisah karena beliau meminta saya untuk mondok. Beliau lantas menyuruh saya untuk ikut SMPB lagi di Surabaya. Tapi saya tetap bersikukuh dan tetap berangkat walau ibu masih berat untuk melepaskan saya.

“Nur, kamu tahu ga? Hampir tiap hari ibumu menangisimu” kata Fita sahabat karib saya yang saat itu bekerja di rumah saya.

“Apa?” Saya terperanjat. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Fita. “Fit? Kamu yang benar?” tanya saya sekali lagi disambut anggukan Fita. Air mata saya mulai berjatuhan. Bayangan ibu menangis kembali menyeruak dalam hati saya, mencabik-cabik hati yang dulu diliputi keegoisan karena tak pernah memikirkan perasaan ibu.

Dengan segenap penyesalan ingin rasanya saya berhenti kuliah dan menemani ibu di rumah. Tapi aah... semuanya sudah terlanjur. Saya harus menyelesaikan studi saya dan harus membuktikan pada ibu kalau saya bisa mewujudkan mimpi saya.

Sungguh saya tak pernah tahu bahwah ibu begitu menyayangi saya. Di depan saya beliau kelihatan tegar, walau beliau sendiri rapuh. Kadang saya malah lebih sering ngambek karena sering dibanding-bandingkan dengan saudara. Dan memang ketika di rumah saya lebih sering berbuat onar dan bandel. Saya sengaja seperti itu supaya ibu tega untuk melepas saya ketika saya berangkat.Tapi itulah ibu, kasih sayangnya tak pernah putus walau “senakal” apapun saya di mata beliau.

Setiap saya berangkat ke pondok, setiap saya mau balik untuk melanjutkan studi saya yang belum selesai, kue buatan ibu, masakan ibu, bahkan hadiah dari ibu selalu mengisi tas ransel saya. Bahkan tak jarang ibu memberi saya uang saku tambahan.

Kecup kening ibu yang begitu hangat, doa-doa ibu dalam setiap sujud panjangnya. Aaah ibu… sungguh engkau wanita yang luar biasa. Doa-doamu diijabah olehnya. Ridhomu adalah ridho-NYA.

Saya masih ingat kata-kata beliau waktu saya bersikukuh untuk tinggal di tanah rantau. “Nak, dimanapun kamu hidup asal ibu ridho hidupmu akan berkah”. Dan ternyata itu benar. Engaku ridho kepada saya, meski berat rasanya untuk berpisah dengan “keluarga baru saya” di sana. karena ridhomu semuanya dipermudah oleh-Nya.

Ibu… beliau segalanya bagi saya. Saya tak menyangka dengan doa waktu kecil saya. Saya tak percaya dengan mimpi-mimpi saya yang selalu membuat saya gelisah dan murung. Karena saya tahu kasih sayang beliau yang begitu tulus mengisi setiap ruas sendi saya yang kini mulai rapuh.

Setiap kali saya pulang, memijit-mijit tangan beliau. Saya merasakan tangan beliau kian hari kian kusut. Tubuh itu tak sekokoh dulu. Wajah itu tak sesegar dulu. Namun kasih sayang dan cintanya tetap berdiri anggun dalam rengkuhan cinta-Nya.

Aku mencintamu dengan setulus hatiku, aku menyanyangimu dengan segenap jiwa ragaku. Meski itu tak bisa membayar semua pengorbananmu wahai ibuku... [Ukhtu Emil]


0 komentar:

Posting Komentar