Wakafku Sempurnakan Zakatku

Wakafku Sempurnakan Zakatku

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan menghadiri peluncuran sebuah buku yang luar biasa. Judulnya “Rezeki itu Misteri, Mati itu Pasti”. Buku ini ditulis oleh sahabat saya, Ali Akbar, yang lebih dikenal sebagai @PakarSEO di dunia twitter. Selain menjadi pakar dalam dunia internet marketing, ternyata sahabat saya ini juga luar biasa dalam menginspirasi pentingnya kebijaksanaan dalam masalah rezeki.

Ada satu bagian dari presentasi hari itu yang mencuri perhatian saya. Disimulasikan sebuah pertanyaan oleh beliau kepada dua orang peserta yang hadir: “Kalau saya sekarang sedang punya rezeki Rp 100.000, dan saya ingin berikan SEBAGIAN REZEKI saya ini untuk Anda, berapa rupiah yang Anda MINTA?”. Ternyata, jawaban satu peserta adalah Rp. 50.000, sementara yang lain menjawab Rp. 90.000. Dengan kata lain, 50% dan 90% dari rezeki sang penulis.

Apa komentar selanjutnya dari Mas Ali Akbar? Ternyata sangat menginspirasi:
“Hadirin sekalian, Allah berfirman dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 92, bahwa “Kita tidak akan sampai pada kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan SEBAGIAN HARTA yang kita miliki”. Tolong ditekankan, SEBAGIAN harta kita.

Nah, diri kita saja ketika ditantang untuk MEMINTA SEBAGIAN REZEKI saya tadi, mulai dari angka 50%, bahkan ada yang 90%. Pertanyaannya, ketika Allah sudah meminta kita untuk mensedekahkan SEBAGIAN REZEKI kita, kira-kira BERAPA PERSEN yang selama ini sudah kita berikan kepada Allah? Sudahkah sebesar 50% harta? Beranikah jika sebesar 90% harta kita? Atau jangan-jangan kita merasa sudah cukup puas dengan zakat yang hanya 2,5% ?”

Hadirin terdiam. Saya pun terdiam. Tapi dalam hati, saya sependapat dengan beliau.

Zakat harta yang 2,5% persen memang disyariatkan untuk membersihkan dan mensucikan harta (QS At Taubah: 103). Zakat pun adalah bagian orang lain yang dititipkan pada harta seseorang. Sehingga saat zakat ditunaikan, maka belum berhak seseorang mengatakan dirinya telah dermawan. Meski zakatnya Rp. 1 milyar sekalipun. Tetap saja, selama itu zakat, itu adalah hak orang lain.

Guru saya, Mas Eri Sudewo, salah satu pendiri Dompet Dhuafa, mengatakan bahwa esensi kedermawanan sesorang akan terlihat dari seberapa besar sedekah dan wakaf yang dia keluarkan. Karena sedekah dan wakaf membutuhkan rasa kepedulian kepada sesama serta kecintaan kepada Allah swt. Dan disisi lain, melawan rasa egoisme dan cinta harta berlebihan. Dengan demikian, pemenuhan zakat, sedekah dan wakaf akan membuat sempurnanya ibadah harta seseorang.

Pastilah kita ingin shalat kita sempurna. Tak mungkin pula kita bersiasat mencari celah penghilang dahaga dan lapar saat berpuasa. Terlebih melalaikan wukuf saat berhaji. Hanya orang bodoh yang tidak ingin memastikan ibadahnya sempurna.

Jadi, bagaimana kalau ibadah harta kita juga kita sempurnakan? Jika zakat sudah menjadi kebutuhan dan kebiasaan, bagaimana kalau kita mulai juga untuk mensempurnakannya dengan sedekah dan wakaf? Terlebih dengan wakaf yang insya Allah memberikan pahala mengalir abadi, bagaimana kalu kita mulai terbiasa mengatakan “Wakafku Sempurnakan Zakatku”? []


Penulis : Urip Budiarto
Direktur Tabung Wakaf Indonesia - Dompet Dhuafa

0 komentar:

Posting Komentar