Tampilkan postingan dengan label KMPD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KMPD. Tampilkan semua postingan

Pengumuman Pemenang Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Kompetisi menulis pengalaman dakwah (KMPD)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, semoga kita selalu bersemangat untuk terus membersamai dakwah, bagaimanapun kondisi kita. Aamiin.

Shalawat dalam salam, semoga selalu kita haturkan untuk baginda nabi, Muhammad Musthofa. Semoga, kita tak kenal lelah untuk terus meneladani sunnahnya. Baik dalam ucap, terlebih lagi tingkah laku. Semoga, dengan mengamalkan sunnah itu, kita termasuk golongan yang kelak akan mendapat syafa’at. Aamiin

Sahabat Bersama Dakwah, kami mengucapkan Jazakumullah khairan katsira kepada sahabat sekalian atas dukungan dan partisipasinya selama ini. Khususnya dalam even Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD).

Even singkat yang kami adakan selama 30 hari itu, bisa dibilang sangat sukses. Sehingga, kami benar-benar ‘kewalahan’ karena keterbatasan waktu, yakni jarak yang sangat dekat antara pengumpulan naskah dan pengumuman pemenang. Untuk persembahan kami yang seadanya, kami berucap lirih, ‘afwan jiddan. Kelak, kami akan lebih profesional lagi, insya Allah.

Dalam kurun waktu 30 hari itu, kami menerima lebih dari 130 artikel kiriman pembaca. Dari 130an itu, kami hanya meloloskan 86 peserta. Peserta yang tidak lolos tahap penjurian pertama itu, ada banyak sebab. Utamanya, terkait persyaratan teknis dan kelengkapan naskah. Juga, cerita yang belum memenuhi kriteria yang kami tetapkan.

Dari 86 peserta, kami menemukan sekitar 3 peserta lolos seleksi yang bermukim di Luar Negeri. Sedangkan dalam daftar peserta yang tidak lolos, ada satu yang berasal dari Luar Negeri. Dari dalam negeri, peserta dalam even ini merata dari seluruh penjuru nusantara. Dari Aceh hingga Makassar. Semoga, semua yang terlibat dalam even ini, senantiasa dilimpahi keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Aamiin.

Sementara itu, dari 86 naskah yang kami publish, sudah kami lakukan tahap penjurian kedua berupa jumlah pageviews. Yaitu, seberapa banyak tulisan tersebut dibaca oleh Sahabat Bersama Dakwah. Untuk penilaian tahap kedua ini, kami hanya memboboti 30%. Sedangkan untuk penjurian tahap pertama, kami berikan presentase peniaian sebesar 70%.

Untuk tahap pertama, kami menilai 3 hal. Pertama tentang tema, kedua terkait penggunaan EYD dan kaidah kebahasan serta tampilan tulisan, di dalamnya ada penilaian tentang font, spasi dan sebagainya. Sedangkan aspek ketiga, kami menilai tentang teknik bercerita dan keterlibatan emosi dalam bertutur.

Untuk aspek pertama kami nilai maksimal 100 poin, aspek kedua sebesar 250 poin dan aspek ketiga 350 poin. Jumlah maksimal untuk aspek pertama 700 poin, ditambah dengan penjurian kedua sebesar 300 poin.

Dari dua tahap penjurian itu, yang berhak mendapat predikat 3 terbaik adalah sebagai berikut :
Terbaik Ketiga
Akhfiya San, Depok, judul artikel Saksi Bisu Warung Tenda Pinggir Jalan (34). Dengan total nilai 786.
Terbaik Kedua
Jefrey M Muis, Solok, judul artikel Dengan Adzan Hati Mereka Tertegun (4). Dengan jumlah nilai 825
Terbaik Pertama
Syarif Hidayat, Sukabumi, judul artikel Nurhasan (64). Dengan jumlah nilai 833.

Bagi ketiga pemenang, kami ucapkan, Barakallah. Semoga semangat berdakwah semakin bertambah hingga akhir menutup mata.

Bagi yang belum beruntung, kami akan adakan even selanjutnya, insya Allah. Terus berjuang, hingga nafas berhenti. Semoga Allah membalas semua amal kebaikan kita. Sampai bertemu di even berikutnya, doakan agar kami istiqomah bersama dakwah. Aamiin.

Salam Sepenuh Cinta,
Dewan Juri.
Tulisan yang lolos penjurian tahap pertama berikut total pageview bisa dilihat di
Kisah Nyata Pengalaman Dakwah (Kumpulan Naskah KMPD)

Tentang Sebuah Bisikan dalam Ceritaku

Menulis (ilustrasi Kompasiana)
Saya adalah seorang penulis yang dengan sadar memilih profesi ini karena menyadari bahwa saya bukan orang yang ‘berbakat bicara’. Saya seringkali merasa tidak nyaman berbicara di muka umum, meski sejak duduk di SD sudah aktif dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Ketika kuliah bahkan sempat pula melanjutkan menjadi aktivis kemahasiswaan. Namun tetap saja, sejatinya saya adalah orang yang cukup dilimpabi perasaan tidak percaya diri.

Alhamdulillah, Allah mengaruniai saya ‘kelebihan’ untuk menutupi kekurangan saya tersebut. Saya diberi-Nya bakat dan kesenangan menulis. Saya menulis apa saja, baik itu fiksi, nonfiksi, cerita anak, dan pernah pula menulis komik sewaktu masih duduk di SD kelas 4. Demikian pula ketika saya memutuskan mengenakan hijab, saya makin semangat mengembangkan hobi saya tersebut. Hingga kini, saya menghasilkan 40 buku karya sendiri, 5 buku sebagai co writer, dan 38 buku bersama teman-teman penulis lain, serta ratusan artikel dan cerpen/cerber yang tersebar di berbagai media cetak serta online.

Saya kadang takjub dan merasa ‘sangat diberkahi’ setiap kali karya-karya saya terbit. Betapa tidak, saat saya seringkali merasa minder karena tidak sepandai banyak teman-teman saya yang berdakwah melalui lisan, ternyata Allah memberi saya sarana berdakwah yang lain, yaitu melalui tulisan-tulisan saya. Justru dengan tulisan, saya, dengan izin Allah, bisa menyentuh hati lebih banyak orang, di seluruh tanah air, bahkan hingga ke luar negeri, dengan cara yang ‘lembut dan seringkali tak terduga’.

Hanya rasa syukur tak terhingga yang bisa saya gemakan dalam hati setiap kali mendapat respon dari pembaca karya-karya saya. Salah satunya adalah ketika saya selesai menerbitkan novel “Facebook on Love 1”.

Ada seorang pemuda non-Islam yang mengirimi saya message lewat inbox account Facebook saya. Dia bercerita bahwa dia sangat terkesan membaca novel saya. Salah satu bunyi pesannya kurang lebih seperti ini:
“Teteh, saat saya membaca Facebook on Love, saya baru menyadari betapa saya harus memuliakan perempuan. Saya jadi sadar bahwa selama ini sikap saya terhadfap kekasih saya sangat tidak pantas dan menyakitkan hatinya. Terima kasih ya, Teteh, novelnya sudah membuka mata hati saya tentang ajaran agama Islam yang memuliakan perempuan”.

Padahal saya di novel tersebut tidak terang-terangan menyebutkan ajaran Islam seperti yang dia maksud. Saya hanya menyampaikan pesan moral secara tersirat. Alhamdulillah ternyata pesan itu dapat ditangkap oleh pembaca. Hanya Allah sajalah yang memberikan bantuan kepada saya untuk menulis seperti itu.

Saya kemudian membalas pesan tersebut dan dilanjutkan saling berbalas inbox. Agak lama setelah itu dia menyatakan ingin segera menikahi teman perempuannya itu. Dia menyadari betapa tidak nyamannya berpacaran lama-lama. Terlepas dari dia dari pemeluk agama lain, saya cukup bersyukur bahwa dia menemukan satu sisi kebenaran ajaran Islam yang mengatur sedemikian rupa hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Ada lagi pesan yang masuk melalui Private Message account Twitter saya tentang novel saya “Cinta Semusim”, yang berkisah tentang badai rumah tangga sebuah pasangan yang diakibatkan oleh selingkuh. Pembaca yang mengomentari novel saya tersebut adalah seorang perempuan yang ‘nyaris terseret perilaku selingkuh’. Dia berterima kasih sekali karena setelah membaca novel saya, dia jadi bertekad untuk keluar dari jerat dosa tersebut. Alhamdulillah. Sekali lagi saya bersyukur pada Allah yang telah menuntun saya untuk menuliskan hikmah tersebut, walau dalam bentuk sebuah novel fiksi.

Kini 33 tahun sudah saya menulis, sejak kelas 3 SD, saya menyadari bahwa di sinilah saya berdakwah, Inilah medan dan sarana dakwah yang paling pas buat saya, yang sudah disiapkan perangkatnya sebaik-baiknya oleh Allah. Maha baik Allah yang telah menuntun hamba-hamba-Nya melangkah dalam jalan dakwah untuk mengemban amanah-Nya. Langkah-langkah saya masih sangat kecil, masih sangat jauh untuk bisa dikatakan sebagai ‘pendakwah’ atau da’i ulung di jalan pena. Yang saya yakini, ini jalan yang Allah pilihkan untuk saya. Semoga Dia akan selalu menuntun langkah-langkah saya yang kadang tertatih ini, dan dengan izin-Nya juga, saya masih ingin terus berbisik tentang ajaran-ajaran-Nya di jalan pena. Hanya berbisik, sebab saya tahu, saya tak cukup ‘pede’ untuk berteriak lantang :D .

Penulis : Ifa Avianty
Depok, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Amarah Dakwah

Jama'ah Tabligh (foto muhajir718.blogspot.com)
Alkisah, dari seorang Mubaligh di Kota Palu. Sepulang dari khuruj fiisabilillah selama 40 hari, ia menceritakan salah satu pengalaman dakwah dan rombongannya kepada saya. Kisah yang mengundang tawa dan tangis sekaligus. Siapa sangka!

Suatu pagi, usai ta’lim di waktu dhuha, Mubarak selaku Amir Jama’ah, beserta rombongannya mulai menyusuri wilayah kompleks perumahan di sekitar masjid yang mereka tinggali. Perumahan elit yang dihuni pejabat-pejabat daerah itu, mereka hampiri satu per satu. Ada yang menerima mereka dengan baik-baik, ada yang mengusir mereka, ada pula yang sama sekali tak mau membuka pintu. Balasan yang mereka terima tentu hanya membuat mereka tersenyum, tak menggoyahkan semangat mereka untuk menyeru yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Lalu, sampailah mereka pada sebuah rumah mewah yang penghuninya adalah seorang pengusaha besar di kota itu. Mereka diterima dengan ramah dan baik, sampai pada inti dari pembicaraan yang mengandung dakwah, mengajak Si Bapak untuk sholat dhuhur berjama’ah di masjid.

“Ohh jadi kamorang pe maksud ini?1 Hey, dengar!” Bantah Si Bapak dengan nada meninggi sembari berdiri dari tempat duduknya. “Kamorang2 itu umur berapa trus saya ini umur berapa? Masih anak kemarin sore mo baajar-ajar3 saya tentang agama.” Gerutunya dengan wajah memerah.
“Bukan Pak, maksud kami bukan untuk mengajar..”
“Intinya kamorang-kamorang ini mau ajak saya sholat di masjid supaya bisa ikut sama golongannya kamorang itu, yang pake-pake gamis dengan sorban kayak teroris itu. Sekarang keluar dari rumah saya cepat. Cepat!”

Sesampainya di pagar, Si Amir masih tetap mengajaknya untuk berbicara baik-baik. “Pak, tolong jangan marah dulu, dengarkan maksud kami dengan baik. Kami hanya ingin mengajak bapak sholat bersama kami di masjid, menghidupkan dan memakmurkan masjid.”

“Aah saya tidak butuh! Bawa, bawa sana sholatmu itu. Teusah4 ajak-ajak saya. Saya tahu juga kapan saya mo5 sholat kapan tidak. Bukan urusanmu! Pergi cepat!” Teriak Bapak berkumis tebal itu sambil menutup pagar lalu menguncinya.
“Kalo begitu mohon maaf jika saya salah Pak.” Jawab Si Amir sambil menutup pembicaraan dengan wajah merah menahan amarah.
“Oh memang salah. Kamorang memang pantas buat minta maaf! Jangan lupa, minta maaf juga pada Tuhan, caranya kamorang ini hanya bikin ribut dan mengganggu orang lain!” Jawabnya sambil menutup keras pintu rumahnya.

Kemudian rombongan Mubarak berjalan menuju masjid untuk persiapan sholat dhuhur. Hanya keheningan yang menemani langkah mereka. Sampai Si Amir memecahkannya dengan berteriak, “Sumpah! saya do’akan itu bapak, supaya cepat dapat hidayah! Mudah-mudahan dia yang paling cepat badapat6 hidayah! Supaya kalo ketemu kita lagi nanti, dia minta maaf dan menarik semua kata-katanya. Aaarrrgh!” wajah Si Amir merah mengurat. Sontak saja, teman serombongan kaget mendengar do’anya. Mereka berpikir Amirnya akan mendo’akan yang tidak-tidak karena ia sudah dicaci maki. Tapi, amarahnya ternyata dilampiaskan ke do’a yang sangat merinding. Begitu pula saya, yang mendengarnya. Meleleh! []

1.”Oh jadi maksud kalian ini?”
2.Kalian.
3.Mau ngajarin.
4.Tidak usah.
5.Mau.
6. Mendapat

Penulis : Dewi Triana
Palu

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Mengenalkan Jilbab di Negeri Sosialis

Ilustrasi jilbab di Jepang (desainkawanimut)
“你有没有头发 (Ni you meiyou toufa)?” Begitulah kira-kira pertanyaan dari beberapa orang Cina yang saya temui di semester pertama saya belajar di kota Nanning, propinsi Guangxi, Cina selatan. Dalam bahasa Indonesia pertanyaan tersebut berarti “Apakah kamu punya rambut?”. Ya, mereka bertanya apakah saya punya rambut karena heran melihat saya mengenakan jilbab rapat, tak nampak sehelai rambut pun. Haruskah saya menjawab “Ya, saya punya rambut”?, tentu bukan itu jawaban yang tepat. Namun, bagaimana saya bisa menjelaskan dengan tepat mengenai kewajiban berjilbab bagi muslimah sementara bahasa Mandarin saya saat itu masih jatuh bangun (bahkan sampai sekarang pun bisa dikatakan masih jatuh bangun, hehe). Jikapun saya jelaskan dalam bahasa Inggris, kebanyakan mereka tidak paham, karena seperti halnya orang Indonesia, orang Cina pada umumnya tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Alhasil, saya hanya bisa menjawab dengan senyum, senyum termanis dari seorang muslimah berjilbab 

Itulah pengalaman di bulan-bulan pertama saya belajar di Cina. Di negeri yang terkenal dengan paham sosialis dengan sebagian besar penduduknya atheis ini, jilbab adalah barang aneh. Selain karena muslim merupakan kaum minoritas di Cina, keanehan jilbab juga disebabkan selama ini negeri ini cenderung tertutup terhadap berbagai pemahaman atau ideologi dari luar negaranya. Rasanya ingin sekali saya menjelaskan mengapa saya berjilbab kepada setiap orang yang memandang saya dengan tatapan keheranan. Ingin sekali saya mengatakan dengan bangga “Isyhadu bi anna muslimah”. Meskipun saat itu saya hanya bisa diam, saya bertekad untuk belajar bahasa Mandarin dengan sungguh-sungguh agar suatu ketika bisa mengenalkan dan berbagi pemahaman tentang Islam kepada masyarakat Cina.

Tiba di semester kedua, Fakultas Pendidikan Internasional Universitas Kebangsaan Guangxi, tempat dimana saya belajar waktu itu, mengadakan lomba berbicara bahasa Mandarin bagi mahasiswa internasional. Awalnya saya ragu untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut karena kelemahan terbesar saya dalam penguasaan bahasa Mandarin adalah pada pelafalan dan nada saat berbicara. Akan tetapi saat itu saya seperti tersadar bahwa lomba tersebut adalah kesempatan emas bagi saya untuk memacu diri agar lebih serius belajar bahasa Mandarin dan menggunakannya untuk sarana berdakwah. Jadilah saat itu saya mendaftar untuk mengikuti lomba. Dengan mengucap Bismillah akhirnya saya memutuskan untuk berpidato dalam bahasa Mandarin dengan tema “穆斯林的服饰 - Musilin de Fushi” atau “Cara Berpakaian Muslim”. Dengan bantuan dari dosen yang memperbaiki beberapa kesalahan tata bahasa dalam naskah pidato saya, saya pun maju dengan yakin, meski sangat gugup.

Dalam forum lomba yang dihadiri oleh sekitar 200 penonton yang terdiri dari para dosen baik lokal maupun asing, mahasiswa lokal Cina, serta mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Jepang, Korea, Rumania dan Indonesia itu, saya berusaha menyampaikan pidato dengan bahasa yang sederhana tanpa menggunakan istilah-istilah syariat yang rumit sehingga perlu saya jelaskan satu per satu. Saya sampaikan bahwa dalam Islam muslim laki-laki dan perempuan memiliki aturan berpakaian yang berbeda. Laki-laki cukup menutup bagian tubuh tertentu dengan pakaian yang sopan dan pantas, sementara perempuan wajib menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Perbedaan ini karena wanita memang memiliki fitrah yang berbeda dari laki-laki dan Islam melindungi dan menghormati fitrah tersebut.

Jika diibaratkan pakaian, wanita yang berjilbab, baik fisik maupun hatinya, seperti pakaian yang dijual di butik yang mahal, tidak bisa dilihat, disentuh apalagi dipakai oleh sembarang orang karena di butik tersebut sudah ada pakaian sample untuk dicoba sementara ketika membeli pembeli akan diberi pakaian yang benar-benar baru. Lantas, bagaimana dengan wanita yang tidak mau berjilbab? (Tanpa bermaksud menyamakan) Ia ibarat pakaian yang dijual di pinggir jalan, tidak terbungkus, bisa dilihat, dipegang, bahkan dicoba oleh siapa saja. Jika setelah dicoba orang tak jadi membeli pun tak jadi masalah. Dari kedua jenis pakaian tersebut, pakaian manakah yang lebih terjaga kebersihannya? Tentulah pakaian yang tak sembarang orang bisa mencobanya. Selain itu, Islam memandang manusia bukan dari penampilan fisiknya. Seorang muslimah yang baik ingin orang lain menghargai dan menyukainya bukan karena kecantikan fisik atau penampilan luar tetapi karena kecerdasan, kebaikan dan akhlaqnya.

Pidato saya malam itu mungkin tidak cukup menjawab semua pertanyaan orang-orang tentang Islam, tetapi saya berharap penjelasan saya cukup untuk mengenalkan citra positif tentang Islam dan menjadi awal bagi yang mendengar untuk belajar lebih jauh tentang Islam. Saya bersyukur karena antusisme penonton begitu besar ketika saya menyampaikan pidato di atas panggung, hingga akhirnya berdasarkan penilaian juri saya menjadi juara III lomba berbicara bahasa Mandarin untuk tingkat pemula. Alhamdulillah. []

Penulis : Dwi Titi Maesaroh
Bantul, DI Yogyakarta

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Dakwah Pertamaku di Papua

Dai Fadlan Garamatan di Papua (foto ROL)
Alhamdulilah, kebahagiaan dan keharuan menyerbak di hati para mahasantri Ma’had ‘Aly Arrayah bak embun di pagi hari ketika wisuda terpampang di depan mata mereka. Dua tahun tak terasa begitu cepat berlalu. Canda, tawa, susah, senang telah mereka lalui di markas pendidikan islam tersebut,. Kini saatnya mereka melepas sahabat, asatidzah dan staff serta karyawan almahbubin demi melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun sebelum benar-benar meninggalkan Ma’had tersebut, mereka mempunyai tugas dakwah yang tak lain adalah safari dakwiyah ke seluruh penjuru Nusantara selama bulan Ramadhan 1434 H. Tugas yang akan membentuk mereka menjadi dai-dai masa depan.

Selama satu bulan mahasantri dibekali materi-materi yang akan mereka sampaikan di lokasi dakwah yang telah disusun dan dibawakan oleh masayih maupun asatidzah Ma’had ‘Ali Arrayah. Materi yang dibawakan menyangkut aqidah, akhlak, tazkiatun nafs, Alqur’an, dll. Pembekalan sangat bermanfaaat bagi mahasantri untuk menguasai materi dakwah serta tatacara penyampaian materi secara sempurna.

Setelah mahasantri menyiapkan perbekalan dan menyelesaikan perpisahan dengan asatidzah beserta jajaran lainnya , akhirnya mahasantri kloter pertama dengan destinasi Asmat, Papua dilepas dan diberangkatkan oleh Mudir Ma’had yaitu Ustadz Munir ahmad karim, Lc dengan dua mobil. Kami yang berjumlah 9 orang sadar betul akan jauhnya perjalanan ini yang mungkin akan melewati tiga elemen dasar penyusun bumi yaitu darat, laut, dan udara. Singkat cerita kami menyinggahi 5 Kota besar di 3 Pulau besar di Indonesia. Dari Sukabumi, Jakarta, Makassar, Jayapura, Merauke Papua.

Dua hari kami melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, total ada 2 mobil dan 3 pesawat telah kami tunggangi, namun kelelahan tersebut seolah-olah terbayarkan dengan senyuman dan dekapan hangat ustadz Syamsudin, Lc yang telah menyempatkan diri untuk menunggu kita di Bandara Merauke,. Perjalanan kami lanjutkan ke Ponpes Hidayatullah, disana kami dibekali ilmu serta pembagian lokasi dakwah.

Dengan kondisi yang begitu lelah, kami lanjutkan perjalanan pada jam 10 malam tepatnya 6 jam dari kedatangan kami. Kami harus menyebrang dengan kapal KM Tatamailau menuju Asmat Papua yang di tempuh dengan perjalanan 2 hari 1 malam. Sungguh ini adalah perjalanan terjauh kami menunggangi kapal.

Tak terasa bel KM Tatamailau berbunyi tanda kapal telah sampai di Pelabuhan Agats, Asmat, Papua. Kami terus menghubungi Ustadz Abdussomad Mahose yang bertanggung jawab atas kami di lokasi tersebut. Dengan jaket sport putih dan penutup kepala serta melambaikan tangan ke arah kami, kami langsung mengerti bahwa sosok tesebut adalah ustadz Abdussomad Mahoze pria asli suku yang menjadi da’i AMCF di Asmat.

Kamipun berjuang untuk menuruni tangga yang penuh sesak dengan para penumpang yang naik turun kapal KM Tatamailau. Setelah berhasil turun dari KM Tatamailau, kami disambut oleh Bapak Ridwan Omanhopa, beliau adalah supir speedboat yang menjemput kami dari pelabuhan ke lokasi dakwah. Sesampainya di lokasi kami sangat kagum dengan keramahan penduduk dan bentuk bangunan yang semuanya terbuat dari papan termasuk jalan jalan disini, selidik punya selidik ternyata daerah ini mempunyai tanah yang berlumpur sehingga semua jalan dan bangunan ditopang dengan kayu besi sehingga tampak semua bangunan berada melayang di atas tanah. Akhirnya kami sampai di Masjid Annur Agats yang akan kami jadikan sebagai Basecamp kami.

Keesokan harinya kami mulai menyususun agenda dakwah selama bulan Ramadhan, agenda untuk kajian, TPA , tarawih, dan pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu. Materi yang akan kami sampaikan berupa aqidah, akhlak, siroh nabawiyah, fiqh, Alqur’an, dll. Kami menyusun dengan jadwal yang telah dirancang oleh asatidzah kami dengan rincian kultum subuh dan tahsin Alqur’an di sesi pertama, kemudian sesi yang kedua pukul 08.00-10.00 adalah kajian ilmiah, dan sesi yang ketiga ba’da Ashar sampai Magrib adalah TPA, dan sesi yang keempat adalah kultum tarawih. Untuk mengantisipasi banyaknya pertanyaan dari peserta, kami membawa beberapa buku referensi seperti Kitabu attauhid, Rohiqulmahtum untuk siroh dan masih banyak lagi.

Ada hal yang menarik ketika kami berdakwah di lokasi ini, jamaah kami berasal dari berbagai suku di Indonesia. Ada suku Bugis, Jawa, Merauke, Maluku, Button dan Batak. Dan mayoritas mereka pendatang dari luar daerah, maklum mayoritas suku asmat adalah Nasrani. Walaupun mereka minoritas tetapi meraka adalah peggerak Pemerintahan Daerah di Asmat , Jamaah ada yang bertugas sebagai anggota DPR , Kapolres, Dinas Kesehatan, tentara, dan pegawai sipil lainya. Walupun mereka pembesar atau tokoh masyarakat, mereka sangat antusias dalam setiap kajian yang kami berikan walaupun kami tergolong lebih muda dari usia mereka namun mereka sangat menghargai kami.

Singkat cerita kegiatan dakwah tersebut kami lanjutkan hingga Ramadhan berakhir. Dan dari pengalaman yang kami peroleh adalah janganlah kita puas dengan dakwah kita selama ini masih banyak lahan dakwah yang belum terjamah oleh dai-dai yang notabene mereka sangat memerlukan.

Akhir cerita tetap sehat tetap semangat dan kita akhiri dengan do’a nasalullah ayyaj’alana addu’aat annajihin Amiin Ya Robbal ‘Alamin. []

Penulis : Fajar Shodiqin
Surakarta

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Sentuhan Cinta Ilahi

Pergi ke masjid - ilustrasi
Di tengah kesibukan sebagai panitia dalam acara seminar, Muhammad Arifin, pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mengkoordinir panitia lainnya terkait tugas masing-masing. Sejenak berdiri di depan aula tempat seminar sambil mengecek apa yang kurang, Andre datang menemuinya sambil menggenggam lembaran-lembaran tulisan. “Peserta seminar ya mas?” tanya Arifin, sambil senyum kepada Andre yang memiliki wajah agak seram serta memakai kalung rantai kecil. “Bukan Mas.” jawabnya. Sambil mengulurkan lembaran-lembaran kertas yang distaples pojoknya. “Ini Mas dariku.” tambahnya. Sekilas mengamati tulisan tersebut, Arifin kembali bertanya, “Oh mau ikut lomba cerpennya ya?” Karena pada waktu dekat, LDK juga mengadakan lomba menulis cerpen. Dengan wajah yang ternyata bisa senyum, Andre menjelaskan bahwa dia hanya ingin memberikan tulisannya. “Bukan Mas, ini cuma tulisanku yang aku buat. Mungkin bisa digunakan atau ditempel buat LDK.” katanya. “Oh ya syukron –terima kasih–, nanti biar ditempel di mading LDK.” timpal Arifin sambil berbincang-bincang berkenalan lebih dalam dengan Andre.

Seiring waktu berjalan, Arifin semakin akrab dengan adik angkatannya yang sama-sama kuliah program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) ini. “Dulu SMA-nya dimana?” tanya Arifin dalam obrolan santai yang kebetulan tadi bertemu Andre di depan kelas. “Saya dulu SMA Mas, di Suruh –Kecamatan dekat Salatiga– di SMK Suruh.” jawabnya. “Dulu aku itu anak band, Mas. Dan bergaul dengan orang-orang yang bermacam-macam bentuknya. Tapi sekarang sudah jarang main musik.” tambahnya. “Mau ikut grup nasyid LDK?” tawar Arifin yang saat itu LDK sedang merancang grup nasyid religi dan kebetulan masih kekurangan personil baru untuk bagian alat musik. “Wah tidak usah, Mas. Kapan-kapan lagi aja.” jawab Andre sambil menjawab salam dan berjabat tangan mengikuti tingkah Arifin yang melakukan hal yang sama saat bertemu dengan teman-temannya. “Kenapa Mas kita harus mengucapkan salam dan berjabat tangan? Padahal sudah tiap hari ketemu.” Tiba-tiba tanya Andre dengan wajah penasaran. Dengan wajah santai, Arifin hanya senyum tipis tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Andre semakin bingung dan mungkin jika digambarkan dalam film kartun Dragon Ball, di atas kepalanya ada gambar tanda tanya besar.

Di setiap pekannya, Arifin tidak lupa mengirimkan SMS tausyiah ataupun hanya sekedar kata-kata motivasi kepada Andre. Dan Andre memberikan respon positif. Selain itu, Arifin juga mengajak sahabatnya itu untuk sekedar mengikuti mentoring –ngaji bareng berkelompok– meskipun dalam pelaksanaannya, Andre hanya seperti pelangi yang munculnya hanya sebentar tapi lama tidak muncul lagi.

Waktu pun berjalan, dan menginjak ke bulan Ramadhan 1434 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, LDK, unit kegiatan rohis kampus ini diminta untuk melakukan pembinaan bertajuk pesantren kilat di beberapa sekolah di Salatiga. Dan dalam pesantren kilat ini, Arifin tidak lupa mengajak Andre untuk mengisi kegiatan rutin ini. “Biar buat belajar dia.” terang Arifin kepada panitia yang lain saat menanyakan tentang orang baru menginjak semester dua ini.

Jadwal pun sudah disusun oleh panitia dan Andre mendapat jatah di SMP N 10 Salatiga. “SMP 10 itu mana sih Mas?” tanya Andre saat pembekalan pemateri. “Dari pertigaan ABC itu lurus lalu ambil kanan.” terang Luqman, selaku kordinator di SMP N 10. “Kalau masih bingung, besok pas mau berangkat, kita kumpul dulu di kampus. Nanti berangkat bareng-bareng.” tambah Luqman yang dengan santunnya memberikan penjelasan kepada Andre dan yang lainnya.

Andre, mahasiswa yang dulunya belum memiliki banyak pengalaman agama ini dituntut untuk bisa mengajarkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak SMP. Maka, setelah merasa dipercaya oleh panitia ini dia dengan serius mempelajari materi yang akan disampaikannya. Dan dari situlah, dia mendapatkan sebuah rasa cinta kepada Islam, agama yang dianutnya dari kecil.

Luqman, yang pada waktu itu habis mendampingi Andre –karena satu kelas diisi oleh dua orang– tertawa tak karuan ketika keluar kelas menuju ruang transit pemateri pesantren kilat. “Kenapa Akhi? Kok kayak habis nonton OVJ –Opera Van Java– saja?” tanya Fajar, sesama pemateri yang penasaran akan tingkah Luqman. “Ane pengen tertawa aja kalau ingat tadi di kelas.” jawab Luqman. “Lha memangnya apa yang lucu?” sahut Rini yang juga penasaran. “Begini, tadi kan materinya tentang zakat dan macamnya, tapi Andre belum bisa menjelaskan materi tersebut. Jadi, tadi dari jam pertama sampai jam ketiga dia hanya menjelaskan materi tentang Rasulullah saja.” terang Luqman. “Tapi tadi sambil ane dampingi, jadi semua materi sudah tersampaikan.” tambahnya yang masih saja dengan nada menahan tawa. Andre yang duduk di sampingnya hanya bisa ikut tertawa tanpa komentar apapun sambil sibuk melihat jadwal hari esok. Bagitu pun dengan hari-hari selanjutnya di pesantren kilat, banyak hal-hal lucu dari Andre.

Tidak hanya sampai itu, perjalanan Andre dalam menemukan jalan bersama punggawa da’wah kampus tetap berlanjut dengan keaktifannya dalam kegiatan mentoring dan kajian Islami. Dan dalam suatu forum kajian Islami, ketika ada pemateri meminta peserta untuk menyebutkan mimpinya, Andre dengan girang menyebutkan mimpinya untuk membuat studio dan grup musik yang nantinya akan menyenandungkan nada-nada religi.[]

Penulis : Ahmad Fikri Sabiq
Salatiga

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Kembali Pada Cahaya

Laki-laki sujud (Flickr)
Pagi ini begitu indah, langit cerah dengan lukisan awan-awan yang tersusun rapi. Cahaya matahari tidak terlalu meyilau. Sayup-sayup terdengar suara burung yang sedang memperagakan kemahirannya bersenandung kepada manusia. Beberapa menit kemudian masyarakat digegerkan dengan suatu kejadian yang terjadi pada waktu subuh, yaitu salah satu rumah warga dimasuki oleh orang yang tidak dikenal, kemudian malarikan perhiasan, Hp dan uang.

Salah seorang warga menduga otak di balik ini semua, yaitu pemuda yang selalu membuat onar, selalu membuat kebisingan di malam hari. Pemuda itu bernama Marzuki. “Ah, gak boleh menuduh sebelum ada bukti, lagi pula Marzuki kan sudah berubah, rajin ke masjid, dan Dia juga sudah ada pekerjaan, mengajar anak-anak baca Al-Quran. Gak mungkin Marzuki pelakunya” bela Pak Haris ayah dari salah satu murid Marzuki.

Marzuki adalah pemuda yang kehidupannya penuh dengan kegelapan, segala keburukan telah ia lakukan kecuali berhubungan intim dengan lawan jenis. Itu dulu, sebelum Sekenario Allah berjalan. Waktu itu Subuh, seperti biasa Marzuki baru selesai dari pertemuan rutinnya dengan teman-teman yang selalu mabuk-mabukan dan main kartu, Dia pulang dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang Marzuki dikagetkan dengan suara yang berbunyi “Apakah kalian kira wahai manusia, akan dibiarkan begitu saja di muka bumi ini tanpa ada perhitungan”. Dia terhenti dan diam mematung, kakinya gemeteran serta benda yang paling berharga bagi manusia (otak) berpikir dan mencerna kata-kata yang baru saja Dia dengar. Ternyata suara itu bersumber dari Masjid Nurul Falah, yang setiap selesai salat subuh melakukan kultum yang di isi oleh ustad. Horizal, S.Ag. Sebelumnya Marzuki belum pernah mendapatkan pengajaran agama dan keluarganya adalah keluarga yang acuh terhadap agama.

Semenjak mendengar kata-kata itu Marzuki selalu gelisah dan pikirannya tidak bisa tenang. Ia tidak tahan dengan keadaannya, dengan rasa malu Marzuki mendatangi Horizal, S.Ag, yang bekerja sebagai petani dan mangutarakan apa yang Dia dengar dan dirasakan serta apa saja yang telah menjadi karyanya selama ini.

Sejenak ustad berfikir dan berkata, “Yang dimaksud dengan apakah kalian kira wahai manusia, akan dibiarkan begitu saja di muka bumi ini tanpa ada perhitungan, itu adalah ucapan Allah yang ditujukan kepada hamba yang disayang, seperti Marzuki, ana dan semua umat muslim. Allah mengatakan pada kita, bahwasanya segala sesuatu yang kita lakukan, bahkan yang kita ucapkan akan kita pertanggungjawabkan di pengadilan Allah. Di sana tidak aka ada suap-menyuap atau sogok-menyogok.”

Marzuki terdiam, tubuhnya kembali bergetar dan mengeluarkan keringat yang bercucuran serta ada sesuatu yang menyesak dalam dada setelah mendengar penjelasan ustad yang begitu membelai hatinya. Keburukan yang telah dibuatnya kembali teringat jelas dalam ingatannya.

Semenjak itu, Marzuki memulai langkah baru dengan penampilan baru untuk tujuan yang baru yaitu kebaikan dunia dan akhirat. Salat sudah mulai dikerjakan, bahkan Ia lakukan berjamah di masjid. Ketika Ia salat berjamaah di masjid, semua mata tertuju padanya, jamaah kaget melihatnya, diantara mereka ada yang bersyukur dan ada pula yang berkata, “ah, mungkin hanya sebentar saja, nanti kembali lagi seperti semula.” Marzuki tidak menghiraukan, Ia tetap fokus untuk salat berjamaah.

Setiap malam Marzuki merubah kebiasaannya yang dahulu aktif dengan majlis yang tidak bermanfaat ke majlis yang sangat memberikan keselamatan baginya, yaitu majlis ilmu. Dia setiap malam Marzuki datang kerumah ustad Horizal dan menimba ilmu disana, Ia menanyakan semua hal yang ingin diketahuinya tentang agama serta Marzuki juga belajar membaca dan memahami Al-Quran.

Marzuki menjadi sosok yang ramah, santun dan rajin menolong. Setiap kegiatan kemasyarakatan yang ada di desa Ia selalu ikut membantu dan bahkan Marzuki adalah orang yang terdepan untuk melakukannya.

Perubahan yang dilakukan Marzuki tidak semua orang yang percay. Teman-temannya selalu mengeje-ejek dan mengolok-olok bahkan warga masyarakat banyak yang tidak peracaya dengan perubahannya. Cacian sering bersarang ditelinganya, makian sudah menjadi makanannya semenjak perubahannya. Alhamdulillah dengan bantuan yang diberikan Allah memalui ustad Horizal, Marzuki tetap istiqomah dalam perubahannya dan ustad pun dengan ikhlas selalu memberikan curahan perhatian sehingga Marzuki telah dianggap sebagai bagian dari keluarganya. []

Penulis : Musliadi
Kampar, Provinsi Riau

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Di Sini Kutemukan CahayaMu

Akhwat cahaya (ilustrasi fto sabilarosyad.com)
Di kala matahari mulai menyingsing, dengan memantapkan hati perjalananku meniti langkah menuju STAIN Salatiga bersama bapak, beliau pun adalah sosok yang sangat luar biasa. Selalu berkorban apapun demi anak tercinta. “Emmm…mulai terasa, kesejukan udara di kota ini terselubung membelai jilbab tipisku” gumamku dalam hati. Ya, memang kala itu aku masih menjadi aku yang dulu, memakai jilbab tipis. Kontras dengan baju yang kukenakan, atasan putih dan rok hitam. Tetap melangkah, kutelusuri barisan kelas demi kelas menuju ruang akademik untuk registrasi. “Ah pakaian yang aku kenakan ini aneh nggak ya…” tanyaku dalam hati. Di hadapanku sana, ruang akademik sudah dipenuhi oleh kakak-kakak semester atas yang hendak registrasi. Di sanalah jejak perubahan pada diriku bermula, seakan sebuah wasilah, aku bertemu dengan salah satu kader KAMMI yang menawarkan sebuah penginapan OPAK.

Kesan pertama kali bertemu mereka yang kerapku sapa “mbak” dan “mas” itu membuatku terasa menemukan saudara dan tidak merasa sendirian lagi. Wanita-wanita muslimah yang kibaran jilbabnya menyejukkan pandangan mata itu menuntunku menuju penginapan. Diajaklah aku ke tempat penginapan KAMMI waktu itu. Lambat laun mantaplah hatiku yang kemudian memutuskan haluan untuk menetap di sini, di Wisma Safira namanya. Entah apa yang mendorongku untuk tetap tinggal di sini, keramahan penghuninya kah? sikap kekeluargaannya kah? Atau.. entahlah, yang pasti hatiku sudah mantap di sini.

Adzan subuh telah berkumandang terdengar sayup-sayup ditelingaku, “ah… masih pagi” gumamku sambil ku tarik slimut hangatku yang tersingkap. Tiba-tiba terdengar suara serentak yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an, “tapi…sepertinya bukan Al Qur’an, ah aku tidak tahulah”, sembari memejamkan mata kembali. Rasa penasarankupun mulai tak terbendung. “Mbak tadi bakda subuh pada baca apa? Kok serentak bacanya?” pertanyaan polosku pun mulai terlontar. “Oh itu, itu namanya al ma’tsurot dek..”. Rasa penasaranku semakin bertambah “al ma’tsurot tu apa sich mbak?”. Mbak Sani pun dengan sabar menjawab, “Al ma’tsurot itu do’a-do’a pagi dan sore, yang diajarkan oleh Rosulullah Saw, kalau kita rutin membacanya insyaAllah…kita akan senantiasa dilindungi Allah dari segala mara bahaya di setiap hari-hari kita”. “oooo….begitu”. sambil mengaguk-anggukan kepala seolah sudah paham.

Subhanallah… ternyata tidak hanya itu, setiap jam 03.00 semua penghuni wisma sudah bangun untuk mendirikan solat tahajjud. Setelah terdengar adzan subuh kemudian berbondong-bondong menuju masjid untuk solat berjama’ah, setelah usai jama’ah mereka membentuk formasi melingkar untuk membaca Al-Ma’tsurot bersama. Lingkaran putih layaknya melati yang sedang merekah. Astaghfirullah… ternyata aku baru sadar selama ini selama bertahun-tahun hidup di dunia aku belum pernah melakukan ibadah seperti ini, jangankan tahajjud bangun subuh saja sangat jarang sekali.

“Dek besok ada penerimaan anggota baru KAMM, adek ikut ya?”. KAMMI? Sebenarnya KAMMI itu apa siy mbak?”. Dengan senyum cantiknya mbak Ulfa salah satu anggota KAMMI sekaligus murobiyahku pun menjawab rasa penasaranku. “KAMMI itu merupakan singkatan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, di mana di dalamnya akan memberikan banyak pengalaman, banyak ilmu dari kegiatan-kegiatan yang KAMMI selenggarakan. Tidak hanya itu di KAMMI adek akan menemuka arti hidup dalam kehidupan, bagaimana beramal jama’i, bagaimana memahami karakter orang lain, bagaimana menjadikan teman tidak hanya sebagai teman tapi juga saudara”. Masih dengan seksama aku mendengar penjelasan dari mbak Ulfa. “InsyaAllah tidak akan sia-sia kok dek bergabung di KAMMI”. “ooo…begitu ya mbak?” sambil mengangguk-angguk aku coba pahami penjelasan dari mbak Ulfa. “iya mbak insyaAllah” kujawab dengan agak berat karena aku belum mengenal apa itu KAMMI.

Akhirnya bersama dengan teman-teman yang lain tibalah di lokasi DM (Dauroh Marhalah) 1. Benar yang dikatakan mba Ulfa banyak sekali hal yang aku temukan di sini. Terlebih saat mengikuti Dauroh Marhalah 2 yang diadakan oleh KAMMI Daerah Semarang. Bertemu dengan teman-teman yang sangat luaaarrr biasa dari berbagai daerah. Training kepemimpinan yang melatih kekritisan, dinamis, analitis. Memanfaatkan waktu luang untuk tilawah, membaca buku atau untuk diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, pejuang disiang hari dan rahib dimalam hari itulah ciri khas dari kader KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang tertera dalam kredo gerakan KAMMI. Setiap sepertiga malam tahajjud secara berjama’ah, kemudian solat subuh berjama’ah dilanjutkan membentuk formasi lingkaran. KAMMI merah bak bunga haroki yang siap mengobarkan syiar Islam lewat lantunan ma’tsurot pagi dan sore.

Alhamdulillah…disinilah ku temukan kembali cahaya Rabb Sang Maha Cinta. Yang dahulunya aku hanyalah seorang muslim yang awam (umum), hanya sekedar tahu tentang kewajiban, kini alhamdulillah cahaya-Nya menunjukiku ke jalan yang lebih terang insyaAllah. “minadh dhulumaati ilannur” dari gelap menuju cahaya.[]

Penulis : Yeni Purnamasari
Salatiga

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Kujemput Hidayah-MU di Bumi Beriman

Muslimah shalat (foto ROL)
Bermula dari kelulusan SMAku pada tahun 2011 yang kemudian berlomba-lomba mengikuti SNMPTN. Waktu itu, bukanlah harapanku untuk kuliah di jurusan PGSD apalagi sampai sejauh ini dari kabupaten Sragen. Tapi orang tua lah yang selalu mendorongku untuk harus mengambil jurusan PGSD apalagi harus Universitas Sebelas Maret yang menurutku berat untuk ukuran kemampuan otak yang kumiliki, dan saingan PGSD selalu membludak tiap tahunnya. Waktu itu bapak hanya berkata, “Kowe kudu keterimo neng UNS, nek ra keterimo mending ora usah kuliah”1. Hmm aku hanya bisa nyengir dengan pernyataan bapak itu. Dalam hatiku berkata apa mungkin bisa diterima sementara saingannya mencapai ribuan orang. Bahkan, kakakku yang dari kecil terkenal berprestasi dan selalu meraih peringkat 3 besar saja tidak keterima di PGSD. Setengah pusing, akhirnya kuputuskan untuk browsing tentang UNS khususnya passing gradenya. Waktu itu aku lihat pasing grade UNS Kleco mencapai ribuan, sementara passing grade untuk PGSD Kebumen malah nol. Melihatnya aku merasa seperti ada harapan baru, lalu kupilih PGSD Kebumen saja dengan pertimbangan harus diterima di UNS, dan waktu itu aku hanya yakin memilih SNMPTN IPS, karena aku berpikir kalau mengambil SNMPTN IPC mungkin aku tidak akan akan diterima di UNS. Sulitnya soal-soal IPA terutama mata pelajaran Fisika dan Matematika sudah cukup membuatku pesimis.

Selain mendaftar SNMPTN, akupun juga mencoba peruntungan dengan mendaftar D3 Kebidanan dan Farmasi di UNS, dengan pertimbangan harus diterima di UNS juga. Tapi pengumuman D3 yang lebih awal dari S1 menyebutkan bahwa aku tidak diterima di Kebidanan maupun Farmasi. Waktu itu sempat down juga karena itu baru pertama kali merasakan ditolak dari perguruan tinggi. Semakin down ketika melihat reaksi bapak yang kecewa denganku karena tidak diterima di D3 UNS. Setelah itu aku hanya bisa berpasrah, dalam hati berkata, “Insya’ Allah jika diterima di S1 PGSD UNS, maka itu wujud pengabdianku kepada bangsa ini”

Tiba malam pengumuman SNMPTN, SMS dari salah seorang kakak sepupu mengagetkanku, “Rul, kode jurusanmu apa? Sini aku liatin sekalian, ini pengumumannya udah bisa diakses.” Tadinya aku berpikir baru besoknya pengumuman bisa diakses ternyata malamnya sudah bisa. Setelah mengirim SMS balasan, giliran kakak kandungku yang SMS, “Rul, kode jurusanmu apa? Aku liatin pengumumanmu”. Tak berapa lama kemudian kakak sepupu dan kakak kandungku mengirim SMS hampir bersamaan menanyakan kode ***** yang ternyata kode PGSD Kebumen. “Selamat ya kamu diterima di S1 UNS” SMS mereka hampir bersamaan lagi. Betapa girangnya hatiku malam itu, dan Alhamdulillah orang tuaku juga bahagia mendengarnya. Meski sedikit tidak percaya dengan kenyataan itu, mengingat hanya sedikit soal yang bisa aku selesaikan di SNMPTN. Ini pertolongan Allah, murni pertolongan Allah.

Setelah diterima di S1 PGSD UNS Kebumen, beberapa waktu kemudian terjadilah kehidupanku di Kota Kebumen Beriman. Awal mula di kota ini aku sering menangis sendiri di kamar asrama yang telah bapak sewa untukku. Aku sering sakit hati jika mendengar ada teman atau kakak kelas yang berkata kasar padaku dengan bahasa khas Kebumen yaitu Bahasa Ngapak. Menurutku Bahasa Ngapak itu terlalu kasar didengar untuk orang yang baru saja tinggal di kota ini sepertiku. Aku sedikit menyesal telah memilih untuk kuliah di kota ini.

Di kota ini pula aku mulai mengenal pergaulan dengan lawan jenis. Aku mulai dekat dengan beberapa seniorku. Tak kurang sudah empat laki-laki yang sempat singgah dalam hidupku, mengisi hatiku yang tengah labil dalam masa pencarian jati diri. Aku merasa jauh sekali dari Tuhanku waktu itu. Aku hidup dengan banyak berharap kepada manusia. Hari-hari sering sekali kulewati hanya dengan menggalaukan seseorang yang tak tentu jodoh siapa. Kuliahku juga tidak bisa menjadi fokus tujuanku saat aku berada di kota beriman ini.

Sampai suatu ketika, aku mulai mengenal liqo’ yang diadakan di kampusku. Awalnya aku menganggapnya biasa-biasa saja. Bahkan cenderung terasa aneh. Namun seiring waktu yang terus berjalan, aku merasakan dalam hatiku suatu kedamaian saat bersama sahabat-sahabatku di liqo’ itu. Di sini aku mulai mengenal murobbiah yang sangat sabar dan sholihah. Tenteram sekali rasanya saat bersama mereka. Merekalah orang-orang yang mengingatkanku untuk terus memperbaiki diri. Bersama mereka seakan masalahku di dunia ini terasa sangat ringan. Aku merasakan indahnya ukhuwah bersama mereka.

Bismillahirrahmanirrahim, aku mulai memperbaiki dan menjaga jarak dalam pergaulanku dengan lawan jenis yang sudah terlampau jauh menurut pandangan syar’i. Aku mulai mengerti batasan-batasan pergaulan yang telah diatur dalam Agama Islam ini. Pelan-pelan aku mulai memperbaiki hijabku yang belum sempurna, kupastikan kerudung yang aku kenakan menutupi dada, kulonggarkan baju yang kukenakan agar tak membentuk badan, kukenakan kaos kaki sebagai penyempurna dalam menutup auratku.

Kujemput hidayah Allah di Kota ini, di bumi beriman. meskipun awalnya aku tak bisa menerima tapi kini aku bersyukur aku ada di Kebumen. Disini aku mendapatkan sahabat-sahabat yang sholeh dan sholehah, yang selalu mengingatkan dalam kebaikan. Mulai saat ini, kuputuskan untuk hidup diatas kebenaran. Kuhibahkan diriku di jalan dakwah.[]
1 Kamu harus keterima di UNS, kalau tidak diterima mendingan tidak usah kuliah.

Penulis : Khoirulli Umah
Kebumen

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

5 Ayat untuk Bapak

Akhwat berdoa (foto greatbelievers)
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dank eras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim 6)

Sejujurnya hati ini langsung akan luluh ketika bertemu dengan ayat ini. Bening mata sering merembes tatkala mengingat bahwa ada satu hal yang belum kudapatkan dalam perjalananku merentas jalan perjuangan dakwah. Ternyata, sering sekali kudapati diri ini begitu saja puas saat menimbang bahwa saat itu aku telah berhasil memberikan satu manfaat yang luas kepada umat. Sampai-sampai kesadaranku kesiangan bahwa seharusnya aku juga harus memberikan sebagian manfaat tersebut untuk keluargaku.

Shalat Bapak, adalah hal yang kurindui dalam perjalanan hidup ini. Meskipun sering bujukan lembutku pada beliau mengajak, terkadang jawaban ‘iya’ beliau jawabkan, tetapi tetap belum shalat pada akhirnya. Sejujurnya pula, Ibu pun sering membujuk Bapak untuk shalat lima waktu, jika memungkinkan dengan berjamaah, tetapi kami sadar bahwa Allah lah yang berhak memberikan hidayah kepada hamba-Nya, tanpa bisa seorang hamba memaksa.

Aku tidak akan begitu saja putus asa, mulai dari hal-hal kecil kucoba lakukan, seperti halnya menyiapkan baju koko dan sarung Bapak menjelang shalat, selalu merapikan baju-baju Bapak yang khusus untuk shalat, dan terkadang pula aku usahakan untuk memberikan baju koko atau apapun yang disukai Bapak di setiap hari lahir beliau. Semua masih sama, karena aku masih merindukan shalat Bapak, sangat merindukan.

Memang, Bapak adalah sosok yang memiliki peran luar biasa dalam perjalananku mendulang ilmu. Keuletan, kesabaran, keteguhan beliau selalu menciptakan motivasi baru dalam setiap aktivitasku. Hanya saja lingkungan kerja Beliau yang sudah bertahun-tahun beliau tekuni memiliki pengaruh sangat besar hingga dalam hal shalat, secara alami terasa biasa-biasa saja ketika tidak dilaksanakan oleh Beliau. Seiring hal itulah, aku sering tergugu tidak berdaya tatkala aku bisa dengan nikmat menyusuri sujud panjangku untuk menyandarkan lelah, tapi di sebalik kenikmatanku, Bapak sering memilih untuk menghabiskan pagi yang penuh kenikmatan ibadah dengan merapatkan selimut sampai matahari menegur beliau. Hendakkah aku ingin menikmatinya sendiri?? Sungguh tidak! Akhirnya, hanya do’a yang selalu menjadi senjata terampuhku untuk optimis, karena Allah yang menguasai hati hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia, bukannya tidak mungkin jika suatu waktu aku bisa juga terserang oleh rasa putus asa, bahkan sering. Sampai-sampai aku kadang berandai, kalau saja shalat Bapak bisa kugantikan, pasti akan kugantikan, dan aku akan nyaman kembali ketika bertemu dengan suart At-Tahrim ayat 6. Astaghfirullah…

Ditambah lagi pendapat teman-teman yang sering menegur kesadaranku ...
“Bapak Ibu anti pasti sudah haji ya?”
“Aku tahu bahwa Jenengan lebih beruntung Mbak memiliki orang tua seperti Bapak Jenengan yang sholeh dan bisa mendidik Jenengan seperti ini. Pasti mereka adalah orang yang sholeh …”
Mendadak kurasakan dadaku berdesir jika hal-hal yeng menyangkut ibadah orang tua ditujukan padaku, perih. Aku selalu memimpikan dalam sujudku untuk shalat bersama Bapak bukan hanya di hari raya saja. Aku berserah pada Allah, kuserahkan pada Allah, bahwa hal tersebut bukanlah hal mudah untuk kudapatkan, kecuali atas izin Allah.

Hingga suatu pagi menjelang menit-menit di adzan Subuh menggema di selereng Merapi Merbabu, aku benar-benar memohon agar Allah membukakan hati Bapak untuk mencintai dan melaksanakan shalat. Benar-benar kuserahkan segalanya hingga tidak sadar di sela sesenggukanku, dalam sujudku setelah salam, aku berulang melafalkan Surat Al-Falaq yang rasanya beda dengan biasanya. Semakin kuulang aku semakin merasa takut, tapi seiring juga muncul rasa tenang dalam hati. Aku benar-benar merasa di batas kemampuanku untuk berusaha mengajak Bapak untuk shalat. Aku merasakan ketakutan yang amat luar biasa bila-bila sampai batas akhir hidupku aku tetap tidak bisa mengajakkan Bapak untuk shalat.

“Mbak, …” Tidak kusadari sentuhan lembut mendarat di pundakku. Membuatku cepat-cepat memberesi air wajah yang masih deras membasahi sajadah. “Bapak akan shalat,” Kata itu Beliau ungkapkan sembari beliau memelukku dengan mata yang juga basah.

Kusaksikan dengan hati yang bergetar hebat bahwa Bapak telah berada di depanku dengan pakaian shalat yang sebelumnya telah kusiapkan. Rabbi, kucubit lenganku yang membuatku meringis karena sakit. Aku tidak bermimpi. Dan hari itu kusaksikan dengan ikhlasan nyata bahwa Bapak sudah shalat. Allahu Akbar. Laa khaula walaa quwwata ilaa billah … Ya Allah jagalah shalat kami karena-Mu. Amiin []

Penulis : Gunarti Yulfani
Magelang

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Ketika Hidayah Menyapa

Akhwat jilbab biru (desainkawanimut)
Tahun itu untuk pertama kalinya aku dipercaya memegang sebuah kelompok mentoring, padahal teman seangkatanku sudah memegang halaqoh. Wajar aku baru mencoba mengenal kembali, baru mencoba memahami dan baru mengabdiakan diri di jalan ini setelah sebelumnya tersesat lama dalam keegoisan hati yang beku membatu.

Siang itu matahari di atas bumi Sriwijaya terasa membakar ubun-ubun, sebenarnya hari itu aku tak punya jadwal kuliah tapi kewajiban mengisi mentoring mengharuskanku mengalahkan rasa malas ini. Mana mungkin aku mau mengalah pada panas yang tak seberapa. Sungguh belum ada apa-apanya jika di banding dengan apa yang Rasul dan para sahabat lakukan demi tersiarnya agama Allah, nyawa adalah taruhannya, batin ku mencoba menguatkan.

Mentoring hari ini sebenarnya berjalan menyenangkan seperti biasanya adik-adik yang semangat dan antusias selalu berhasil melenyapkan rasa lelahku. Walau semua berjalan lancar tapi ada satu hal yang menganjal pikiranku. Ya, Intan salah satu adik mentoringku ini sejak awal tak pernah datang dengan alasan yang kadang tak masuk akal. Jujur, aku kesal dan terkadang sedih karena kelakuan adik yang satu ini. Ketika di suatu sore saat perjalanan pulang ke asrama sebuah sms dari adik mentoringku membuyarkan pikiranku yang masih tertuju pada Intan.
“Assalamualaikum, Mbak, Apri pengen baca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” Mbak punya ngak? Kalo punya Apri pinjam ya”. Astaghfirullah, batinku tersentak, dalam hembusan angin sore yang mesra, ingatanku menerobos masuk ke dalam kepala membuka kunci kenangan masa lalu, membawaku di masa dimana dulu ada juga seorang mahasiswa dengan segenggam mimpi yang kemudian terjebak pada salah satu kegiatan mingguan yang awalnya disebut dengan mentoring. Dia hampir tak pernah datang pada agenda mentoring tersebut dengan segudang alasan. Dulu dia masih mengumbar aurat dan dengan santainya menjalin hubungan dengan laki-laki yang belum halal. Sampai takdir Allah membawanya tinggal di sebuah asrama rusunawa kebetulan waktu itu di asramanya kebanyakan dihuni oleh para wanita berjilbab yang dia tahu adalah aktivis dakwah, hatinya gundah dia dan temannya berpikir ini tidak bagus. Mereka berdua takut kalau tertular jadi seperti para ADK itu, namun Allah selalu punya jalannya, ada sebuah hari dimana membuatnya terpaksa tidur di salah satu kamar wanita itu, dia bernama Sari seorang ADK. Malam itu Sari sedang belajar, sementara dia sedang asyik guling-gulingan sambil sms-an dengan pacarnya yang kebetulan kuliah di Jawa.

Dalam hening malam itu tiba-tiba Sari angkat suara. “Li, kamu suka baca buku kan?” tanyanya.
“Eh, iya” dijawab seadanya.
“Nih buku keren, mau baca?”
“Ehm…boleh”.
Sebuah buku karya Salim A Fillah, “Agar Bidadari Cemburu Padamu.” Gubrak, buku dakwah nih, pikirnya sambil kemudian membolak-balik halaman dengan acuh. Tapi malam itu rupanya malam yang kemudian mengubah segalanya, kata-kata ringan Salim A Fillah membuatnya tertarik untuk melanjutkan bacaannya lembar demi lembar, sebuah tulisan indah, indah sekali tentang seorang wanita dan seluruh kemuliaannya yang bidadari pun cemburu padanya. Betapa mulia dan sucinya wanita dalam Islam, gemuruh dadanya bergejolak, deras rasanya hujan membasahi padang hatinya yang selama ini hampa kering kerontang tanpa iman, Ya Allah betapa buruknya hamba ini. Hati ini telah ternoda dengan cinta yang belum halal, kemudian hinaan yang kerap dibicarakannya dengan temannya soal wanita berjilbab itu terasa menusuk-nusuk hatinya. Tentang kakak tutornya yang masih sabar mengajaknya datang dalam agenda mentoring, semua itu berputar-putar dalam kepalanya, matanya tak lagi tahan untuk membendung air mata.

Hari sudah larut. Sari pun sudah terlelap, tapi mana bisa dia tidur. Rasa bersalah dan air mata ini tak juga mau reda, ada sesuatu yang aneh masuk ke dalam jiwanya malam itu, sebuah ketenangan. Setelah malam itu bayangan tentang wanita shaliha terus mengusiknya. Yusran pacarnya sudah lebih dari seminggu menghubunginya tapi tak di hiraukannya, sampai di suatu siang dia nekat membalas sms pacarnya, ”Assalamualaikum maaf tak mengangkat telponmu atau membalas sms mu, aku bukan sedang marah atau benci “aku hanya ingin cinta yang halal di mata dunia juga akhirat.” Kebetulan waktu itu lagi heboh film KCB, sejak hari itu dia putuskan menjadi wanita yang lebih baik, hari itu pun dia putuskan untuk memulai menutup auratnya dan belajar menjadi wanita shaliha kemudian belajar menjaga hatinya agar senantiasa terjaga sampai cinta yang sebenarnya datang.

Kelompok mentoringnya sudah memasuki kelompok lanjutan dan karena kelakuaannya selama ini, namanya tak masuk dalam rekomendasi. Dia sadar dia salah dan dia mau berubah setelah menyakinkan tutor lamanya akhirnya dia diikutkan pada mentoring lanjutan, yang menjadi langkah awalnya di jalan dakwah.

Aku tersenyum simpul, bahagia juga malu pada kenangan masa lalu itu. Tapi sore ini di kala matahari mulai terbenam dalam semburat warna jingga ku titip doa diam-diam ku untuk Intan semoga dia juga mendapatkan hadiah indah itu, sebuah “hidayah” amin

“Jika Allah sudah berkehendak kapanpun dan kepada siapapun hidayah itu pasti akan datang menyapa, bahkan seorang Umar sekalipun terluluhkan hati kerasnya ketika hidayah itu telah sampai, namun hidayah bukan untuk di tunggu kedatangannya tetapi untuk di jemput”.

Hati yang semula gundah akan tingkah Intan kemudian kembali tenang, kubalas sms dari Apri, “Walaikumsalam, Ya dek Mbak punya bukunya, Insyaallah besok mbak bawa, bukunya bagus banget lo dek (^_^)” Dan doa yang sama turut terucap untuk Apri dan adik-adik lainya di bumi ini yang mungkin mencari jati diri, dan sebuah doa juga terucap agar ana dan teman-teman yang lain selalu dikuatkan dan selalu istiqomah di jalan ini. Amin. []

Penulis : Amalia
Ogan Ilir, Sumatera Selatan

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Tentang Perjuangan serta Penantian Panjang

Dakwah mengakar (ilustrasi dari maalimfitariq.wordpress.com)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(Ali Imran : 110)

Dakwah, menurut Syeikh Fathi Yakan, seorang guru besar serta duta dakwah bagi semua aktivis dakwah adalah ‘segala bentuk penghancuran akan kejahiliyahan’. Selanjutnya, dakwah didefinisikan sebagai ‘mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Tentang pengalaman dakwah, terlebih bagi saya yang masih terlalu bau kencur untuk menjadi bagian didalamnya dan menikmati lika-likunya merupakan sebuah tantangan serta harapan baru bagi risalah mulia yang dibawa Rasululullah, para tabi’in, tabi’ut serta penerus mereka yang insya Allah masih istiqomah hingga nanti.

Menjadi seorang pengemban dakwah, bukan hal yang mudah, penuh kekayaan, popularitas dan kemegahan duniawi lainnya, melainkan harus siap untuk tahan banting, menyerahkan seluruh jiwa raga, harta, pikiran dan waktu yang harus dipergunakan lebih dan menjadi pembeda bagi mereka yang belum mau ikut campur dengan urusan ini.

Dan, izinkan kali ini saya mulai bercerita tentang permulaan sebuah perjalanan panjang bernama ‘dakwah’ yang masih terlampau jauh dibandingkan kisah mereka –para pendahulu- yang jauh lebih heroik serta mengharukan ..
...
Lebih kurang 5 tahun lalu, saat saya masih telalu imut untuk memahami dunia dan seisinya, seorang siswa sebuah SMA negeri di Jakarta yang waktu itu tersihir oleh sebuah program yang dibuat oleh orang-orang yang sering saya identikkan dengan manusia bumi berhati langit bernama mentoring. Setelah itu, mereka mengadakan sebuah up-grading untuk mengajak kami para siswa-siswi yang mulai tersihir oleh mentoring untuk memahami hakikat keberadaan kami disini. Saat fase internalisasi tiba, ketika salah seorang senior mulai menyerukan sebuah kalimat yang hingga kini masih selalu tamparan paling menyakitkan jika ingin mundur atau menyerah di jalan dakwah yang berbunyi : “.. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.”- Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin - Hasan Al-Banna.

Mulai detik itu, sedemikian hingga saya tersadar akan tugas saya dihadirkan Allah ke bumi, akan sebuah makna penyampaian kebenaran yang didasari dari hati yang benar-benar hanya berharap pada-Nya, tentang dakwah, dan tentang ummat yang engkau cintai.

Dan alhamdulillah, hingga kini, Allah masih begitu mencintai saya dan kami, -orang-orang yang masih setia mengabdi- untuk terus melanjutkan perjuangan, untuk terus bersabar dalam penantian untuk sebuah kemenanngan dalam dekapan dakwah yang masih begitu panjang.

Hanya Allah yang mampu istiqomahkan keta’atan dan kepercayaan di jalan dakwah, walaupun perjuangan kini, jangan harap bisa dibandingkan dengan Rasulullah yang harus terlunta-lunta hingga dibilang gila oleh kaum-nya sendiri, atau Bilal bin Rabbah yang ditindih batu besar di teriknya matahari siang dan masih berkata ”ahad..ahad..” serta cerita paling mengharukan abad ini tentang sekelompok kader dakwah yang harus mati dengan serbuan peluru saat shalat subuh..

Saya sadar, dakwah ini jalan panjang, dan ini baru permulaan, taruhlah usia dakwah saya baru menginjak 5 tahun dan belum melakukan sebuah perubahan besar bagi peradaban, tapi dakwah adalah pekerjaan terus menerus, yang tidak selesai dalam hitungan bulan bahkan tahun. Maka jika kini, semakin banyak pengalaman dakwah yang saya alami, maka semakin besar akan keyakinan bahwa kemenangan dakwah yang Allah janjikan sudah begitu nyata. Maka ketika nanti mungkin saya akan kembali disibukkan dengan masalah kader-kader yang mulai berguguran, intervensi pihak musuh yang begitu memilukan atau kinerja tubuh yang selalu minta istirahat, maka semua itu semua itu bukan alasan untuk sekali lagi melanjutkan perjuangan dan bersabar dalam penantian panjang untuk memuliakan risalah dakwah demi ummat yang begitu kau cintai.. []

Penulis : Puti Halimah
Sumedang Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Segelas Kisah Bernama Cinta

Ilustrasi gelas cinta (foto toppuisi.blogspot.com)
“Jangan pernah mundur dari barisan dakwah ini. Karena anti akan mendapatkan segala sesuatu yang bahkan anti sendiri tidak pernah terpikir untuk memintanya pada Allah. Anti akan belajar banyak hal di sini.” Itulah kalimat nasehat dari seorang kakak yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Kalimat itu selalu terbersit di pikiran seiring ketika aku mengingat kenangan bersamanya.

Kholisnawati atau lebih akrab disapa mbak Kholis, beliau adalah kakak angkatan sekaligus teman satu kamarku di sebuah kost binaan, yaitu pesantren mahasiswa (pesma) di Kota Pekalongan. Selisih usia kami sekitar 4 (empat) tahun. Sifat keibuan yang melekat pada dirinya membuatku merasa nyaman dan ingin berlama-lama ketika bersamanya. Bahkan tidak jarang aku bertingkah seperti anak kecil yang merajuk manja. Tingkah kekanak-kanakan itulah yang membuat ikatan persaudaraan kami semakin kuat. Tidak hanya itu, beliau juga telah membuatku semakin mengerti dan mencintai Islam. Melalui diskusi-diskusi serta taujih ringan di setiap kesempatan, sedikit demi sedikit membuka pikiranku betapa banyak hal yang harus aku perbaiki dalam hidup ini. Apalagi sebelumnya aku termasuk siswi SMA yang tergolong urakan dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Hal yang sampai saat ini masih tertancap kuat di hatiku adalah ketika beliau memberi hadiah satu stel gamis dan jilbab lebar kepadaku. Padahal saat itu bukan hari ulang tahunku. Namun Allah membuat hari tersebut menjadi sangat istimewa melalui beliau. Itulah kali pertama aku memakai gamis dan jilbab lebar setelah sekian lama terlalu percaya diri dengan tampilan “preman”.

Subhanallah, terlihat semakin cantik, Dik. Semoga istiqamah, ya.” komentar beliau sebelum aku berangkat kuliah dengan “kemasan” berbeda. Karena terharu, aku langsung tenggelam dalam pelukan beliau. Hangat. Seketika itu bertambahlah rasa percaya diriku untuk menampilkan identitas seorang muslimah dimana pun dan kapan pun. Ya Rabbul Izzati, muliakanlah aku dengan pakaian ini dan limpahkanlah ridhaMu kepada orang yang memberikan hadiah istimewa ini.

Sejak saat itu, aku merasa risih jika tidak memakai jilbab lebar. Jadi mau tidak mau aku harus menyisihkan sebagian uang saku untuk membeli jilbab. Dan tentu saja jilbab pemberiannya menjadi jilbab favoritku. Sejak itu pula aku mulai memperbaiki intensitas liqa’ pekanan. Sudah bukan saatnya lagi menganggap “pertemuan agung” itu sebagai beban dalam aktivitas keseharianku melainkan membuatnya menjadi sebuah kebutuhan pokok dalam hidup. Bismillah, ini saatnya untuk hijrah dalam rangka berbenah diri, tekadku dalam hati.

Sisi lain dari mbak Kholis adalah beliau termasuk tipe orang yang vokal dan suka bercerita tentang pengalaman yang mengandung pelajaran hidup. Beliau juga sangat menyukai sejarah, terutama sejarah peradaban Islam dan sirah. Aku pernah diceritakan betapa sederhananya kehidupan Rasulullan Saw.. Beliau sampai mengganjal perut dengan batu untuk menahan rasa lapar karena ketiadaan bahan makanan. Puasa sunah menjadi hal biasa dalam perjalanan hidup beliau. Ketiadaan makanan tidak menjadi penghalang untuk tetap optimal dalam berbuat dan menyeru kepada kebaikan.

Teladan Rasul tersebut kemudian menjadi penyemangatku ketika harus sahur dengan makanan seadanya. Pernah suatu ketika aku sahur bersama mbak Kholis hanya dengan sebutir telur dan sepiring nasi. “Mbak yang goreng telur, nanti anti menyiapkan nasi dan air putih,” kata beliau kalem. Aku agak kaget ketika memakan telur dadar buatan mbak Kholis. Asin sekali. Sebenarnya aku ragu untuk mengatakan pada beliau terkait ini, tetapi akhirnya aku sampaikan juga. “Karena telurnya cuma satu, mbak sengaja ngasih garam lebih banyak biar cukup untuk menghabiskan nasi ini. Kalau asinnya pas, nanti pasti telurnya habis duluan.” tutur beliau dengan nada menggoda. Aku hanya tersenyum dan hampir menangis karena terharu. Kami juga pernah makan sahur hanya dengan beberapa keping biskuit dan segelas susu yang hambar karena terlalu banyak air. Subhanallah, anugerah cinta dariMu membuat makan sahur yang seadanya itu terasa sangat nikmat.

Keseharianku dengan mbak Kholis tidak pernah terlewat tanpa diskusi. Selalu ada saja ilmu baru yang beliau sampaikan baik secara langsung melalui lisan atau pun tidak langsung (melalui teladan). Kepada adik-adik pesma yang lain, beliau juga memberikan perlakuan yang tidak jauh berbeda meskipun aku merasa beliau lebih memperhatikanku dari yang lain. Barangkali beliau memandangku sebagai santri “berkebutuhan khusus” sehingga memang perlu diberi perhatian lebih.

Saking dekatnya kami, sampai pada saat beliau lulus dan menikah, aku merasa sangat kehilangan karena tidak bisa lagi secara intensif bertemu dan berkomunikasi dengan beliau. Namun beliau memang sudah saatnya membangun peradaban baru dalam keluarganya. Tidak terasa air mataku membasahi jilbab beliau ketika kami tenggelam dalam dekapan yang hangat. Dalam dan lama. []

Penulis : Tri Agustina
Pemalang, Jawa Tengah

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Hijrah ke Hati-Mu ya Rabb

Muslimah tilawah
Di sebuah kamar yang berukuran sederhana, tinggallah aku seorang perempuan yang jauh dari orang tua. Kamar yang begitu pas-pasan untuk dua orang yang di dalamnya berisikan satu kamar mandi, 2 buah lemari pakaian dan 2 buah tempat tidur. Di kamar ini aku selalu mengenang masa lalu yang begitu suram, setiap memejamkan mata bayangan itu teringat. Masa sekolah yang begitu buruk jauh dari yang namanya agama Islam. Walaupun di sekolah pelajaran agama tersebut ada tapi tak dapat kuaplikasikan.

Mulai dari masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku adalah olaragahwan karate. Selama tiga tahun aku mempelajar semua jurus tanpa tekecuali, mencari tingkat sabuk tertinggi. Teman-temanku cowok. Sampai jenis pakaian dan style pun seperti anak laki-laki. Beranjak dari sekolah tersebut aku naik tingkat ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Pindah aliran ke seni teater, selalu pulang malam karena latihan. Bergaul dengan sekumpulan orang yang gila akan seni terkadang dan terkadang bisa membuat gila untuk memikirkan apa yang mereka lakukan. Termasuk aku sendiri.

Sekarang beradalah aku di jenjang pendidikan yang tertinggi di mana ujung jenjang tersebut adalah sarjana. Kegagalan pertamaku adalah tidak lulus di Universitas negri yang membuat prustasi dan akhirnya dikirim ke Universitas swasta yang jauh dari pikiran dan keinginanku yang tak sampai ke sana. Tapi dari tempat tersebutlah aku belajar betapa pentingnya mempelajari ilmu akhirat.

Enam bulan aku beradaptasi belum juga mendapatkan hidayah, ditambah enam bulan lagi masih kosong. Dan akhirnya aku dipertemukan dengan seorang perempuan yang begitu cantik menggunakan jilbanya. Begitu sejuk jika memandang wajahnya, dan begitu merdu mendengar suaranya. Bagiku beliaulah anugrah terindah yang pernah kumiliki.

Beliau selalu mengajakku untuk nongkrong bareng di mesjid, mengajakku dugem (duduk gembira) di sebuah kelompok kecil. Aku lihat satu per satu teman-teman baruku mereka pada membaca Al-Quran sehabis sholat, berdiskusi mengenai agama, dan pesta ria jika ada rejeki. Beliau juga tak lupa mengenalkanku kepada seseorang yang akan melindungiku ketika aku jauh dari orang tua. Seseorang tersebut akan menjaga dan bertanggung jawab akan semua kegiatan yang aku lakukan dan aku dapat menyebutnya dengan murobi.

Akhirnya aku dapat berjalan sesuai keinginan hati, dengan langkah kaki yang ringan aku melakuan segala yang disampaikan oleh murobi. Dari melakukan sholat wajib disertai sholat sunnah, dari puasa sunnah yang dulunya tak pernah kuketahui, membaca Al-Quran dengan targetan, mengikuti organisasi Islam dan berkumpul dengan orang-orang shalihah. Semua tercatat di mutaba’ah yaumiyah atau buku evaluasi amalan harian.

Tak hanya itu aku selalu mencatat semua nasehat yang aku dapat dari beberapa kegiatan Islam di kampus dari yang namanya seminar islam, tasqif, dauroh, Madrasah dan banyak hal lain yang kudapat hingga buku catatanku penuh dalam setahun. Bila kumerasa bosan dalam kegiatan ini aku selalu membaca sebuah pesan dari sahabat melalui handphone dan ku simpan. “Tak terhitung keluh yang lahir di helaan nafasku. Hidupku terkadang terasa tak adil, Ihklasku goyah dg iman yg terombang ambing ku coba utk mengadu. Yaa As samii’ berbisik dilelapku pun Engkau tau, namun tak jarang keyakinanku luluh lantak karena giuran fitan dunia. Ku coba utk meminta. Yaa Al wahhaab. Yaa Ar Razzaaq. Terhina sekalipun Engkau cukupi hajatku, namun syukurku tak Jarang mlupakn-Mu Yaa Al Ghaniyy. Dengan Rahman & Rahim-Mu, Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Mu yang hina tiada daya & upaya tanpa seizin-Mu. Oleh krn itu Yaa At Tawwab ampuni segala dosaku. Yaa Al Hafizh jangan Engkau Palingkan hatiku setelah Engkau berikan petunjuk”.

Dan saatnya aku yang membagikan ilmu yang aku dapat karena sudah tarbiyah selama 1,5 tahun, semangatku tumbuh ketika bertemu adik-adik binaan baru. Dengan hati gugup karena awal sekali dan aku merasa tak ada ilmu hanya satu pesan dari murobiku “Bila da’wah ibarat sebuah pohon, maka ada saja daun-daun yang berjatuhan. Tapi pohon dakwah itu tidak pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas barunya. Sementara daun-daun yang berguguran tak lebih akan menjadi sampah dalam sejarah. Jangan menyerah karena lelah. Biarlah lelah mengerjakanmu dampai lelah”. Satu buku yang selalu memenamiku saat mengisi mentoring yaitu buku Mentoring Fun karya Wida Az-Zahidda.

Dalam pikiranku terbesit bahwa mereka yang diluar sana sama sepertiku, namun hati mereka belum terbuka. Pemilik hati ini hanya Allah SWT, hanya Dia yang mampu membolak-balikan hati ini. Dan saat ini Allah telah membuka hatiku untuk berhijrah ke hati-Nya. Langkah berat akan terasa semakin berat jika dibarengi dengan memori negatif masa lalu, dan indahnya jalan akan terasa lebih nyaman jika dilewati dengan penuh semangat dan rasa cinta untuk menciptakan sebuah memori positif di masa depan.

Sebelum waktumu terasa terburu, sebelum lelahmu menutup mata, adakah langkahmu terisi ambisi, apakah kalbumu terasa sunyi? Ada, ambisi syahid dengan senyum di wajah dan sunyi jika hati ini jauh dari Rabb sang pencipta, sunyi jika qolbu ini hanya dipenuhi dengan hal duniawi. Ditutup dengan sebuah pertanyaan dengan jawaban dan senyuman penuh berkah.[]

Penulis : Adha Juningsih
Pekanbaru, Riau

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Semangat Berdakwah Seorang Minoritas

Shalat jamaah (foto Rol)
Berada di lingkup mayoritas mungkin terasa mudah bagi kita. Namun, pernahkah kita merasakan situasi di mana kita adalah minoritas dari yang lain. Sekarang saya berkuliah di sebuah Universitas Negeri di Jatinangor. Di sana saya merasakan kekuatan dakwah Islamnya sangat kuat dan saya pun adalah bagian dari itu. Semangat dakwah teman-teman di lingkungan saya sekarang tinggi sekali. Kita mengadakan berbagai acara seperti mentoring hingga seminar keislaman. Saya pandang ini wajar karena teman-teman dan saya berada di lingkungan mayoritas Islam. Hal yang tidak wajar adalah saya melihat semangat dakwah di kampus yang bernuansa Islam ini jauh dibanding semangat dakwah di lingkungan minoritas. Ini saya alami sendiri.

Sebelum masuk ke Universitas, saya bersekolah di sebuah SMA yang masuk siang di Palembang. SMA saya ini berbasiskan keagamaan, tetapi agama yang dipakai di sana adalah agama Katolik. Meskipun sekolah Katolik, SMA saya ini memiliki murid-murid yang memeluk agama lain seperti Buddha, Hindu, hingga Islam. Dibandingkan yang lain, siswa beragama Islam adalah minoritas. Saat pertama kali masuk tahun 2009, saya merasakan kesulitan dalam beribadah. Sekolah saya ini memulai kegiatan belajar mengajarnya di pukul 13.00 sampai pukul 18.00 dan istirahat yang diberikan hanya 10 menit. Di sini ada waktu sholat Ashar. Kesulitan yang saya alami adalah mencari tempat untuk sholatnya. Karena di sekolah tidak disediakan tempat sholat.

Suatu siang saat saya sedang berbincang dengan senior saya yang juga seorang Muslim, dia mengajak saya untuk mampir ke rumah penjual pempek di depan sekolah. Di sinilah biasanya dia melaksanakan ibadah Sholat Ashar selama mencari ilmu di SMA ini. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengannya. Selesai sholat ada keinginan dalam hati saya untuk mengajak teman-teman saya untuk bersama sholat di sana. Mengajak, inilah poin sulitnya. Tetapi, tekad saya sudah bulat karena saya merasa Islam akan kuat jika berjamaah, begitu juga dengan Islam di SMA saya.

Saat pertama kali mengajak teman-teman yang lain, sambutan yang kurang saya terima. Banyak yang memilih untuk bermain dan berkumpul dengan teman lain dibanding untuk melaksanakan kewajibannya. Alhamdulillah, Allah memberi saya seorang sahabat baru, bernama Praoja Yordan. Dia adalah anak petani di wilayah Belitang, Sumatera Selatan, yang merantau ke Palembang. Di sini dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah yang majikannya adalah seorang Katolik.

Praoja inilah yang selalu menemani saya untuk mencapai pahala 27o saat sholat Ashar di sekolah. Dia juga yang selalu bertanya bermacam hal mengenai Islam, Nabi Muhammad SAW, dan Al-Quran. Semangatnya yang tidak pernah padam dari tahun pertama di SMA yang membuat saya juga terus semangat. Benar kata Salim A. Fillah bahwa dengan sahabat yang kuat, tekad berdakwah kita juga akan lebih kuat. Dalam Dekapan Ukhuwah.

Berangsur-angsur saya mengajak teman-teman lain di SMA bersama Praoja. Ada yang awalnya juga mengalami masalah yang sama mengenai tempat, menjadi semangat setelah diberi tahu tempat untuk sholat yang lebih nyaman. Semangat mengajak dalam nuansa Islami di lingkungan minoritas ini sangat tinggi. Mungkin karena kami sudah minoritas, kami tidak ingin kehilangan jati diri. Apalagi saat mengingat amanat ayah dan ibu yang disampaikan sebelum saya masuk gerbang SMA Katolik ini, “Kamu memang akan menjadi minoritas, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri kamu sebagai Muslim ya!”

Penulis : Rio Alfajri
Palembang, Sumatera Selatan

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Di NTT Kutemukan Cinta, Kerja dan Harmoni

Dakwah di NTT (foto arrahmah.com)
Flores, Nusa Tengara Timur. Apa yang terbersit dalam pikiran anda ketika mendengar dua kata ini? Orangnya yang berkulit gelap? Jagung dan singkong? Sulit mendapatkan air bersih? Babi? Atau daerah rawan konflik? Hehe jangan dulu paranoid, saudaraku! Semua pertanyaan itu jawabannya bisa saja “ya”, bisa juga “tidak”, tergantung dari pengalaman dan pengetahuan anda semua. Alhamdulillah, penulis pernah merasakan atmosfer dakwah di NTT selama satu tahun. Banyak pengalaman yang penulis alami selama masa pengabdian di sana. Dan berikut ini, sedikit pengalaman penulis ketika berdakwah di NTT. Semoga bermanfaat!

Penulis adalah mahasiswa Ma’had ‘Aly An-Nu’aimy, Jakarta Selatan, angkatan VI, yang mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan khidmatul ummah di NTT, khususnya di Kabupaten Sikka. Kegiatan ini dimulai pada bulan Ramadhan 1433 H., atau bulan Juli 2013 lalu. Penulis berangkat dari Jakarta bersama seorang sahabat asal Laranthuka, Flores Timur.

Saudaraku, sifat dasar dakwah ini ialah membebani, penuh makar dan ujian, perlu pengorbanan, serta membutuhkan waktu yang sangat panjang. Tapi walaupun begitu, dakwah tetap harus kita tinggikan di manapun kita berada. Ketika ujian dan rintangan menyapa, hadapi dan nikmati saja, to! Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Banna, “Berjihad di jalan kebenaran dan petunjuk, sekalipun begitu terjalnya jalan yang harus dilalui dan betapa banyak rintangan yang harus dihadapi, merupakan hiburan dan kenikmatan yang mengasyikkan.” Dengan begitu, dakwah ini akan menjelma cinta bagi kita semua.

Saudaraku, susah dan senang menjadi lumrah dalam menapaki jalan dakwah ini (walaupun terkadang susahnya yang lebih banyak, ya!. Hehe). Begitu pula yang penulis rasakan ketika berkhidmah di tanah Flores. Cuaca daerah pesisir yang dirasa begitu “ekstrim”, hampir saja membuat penulis tumbang di awal-awal pengabdiannya karena kondisi tubuh yang belum siap menghadapi perubahan cuaca yang mendadak. Belum lagi ancaman malaria NTT yang katanya dahsyat buanget. Hehe. Alhamdulillah, penulis bisa melewati itu semua. Selain itu, kondisi medan yang berbentuk kepulauan juga sedikit menghambat proses dakwah. Penulis pernah mengikuti program jaulah Ramadhan yang bekerja sama dengan MUI dan Muhammadiyah setempat. Kegiatan ini mengharuskan penulis menyeberangi lautan sekitar 3 sampai 4 jam dengan menggunakan perahu motor. Penulis juga pernah berkeliling Pulau Besar untuk mendistribusikan hewan qurban titipan lembaga sosial dan beberapa yayasan islam dari Jakarta. Perjalanan ini memakan waktu hampir sehari penuh dengan menggunakan perahu motor yang lebih besar.

Ujian paling menantang adalah ancaman konflik sosial yang mengancam nyawa penulis dan penduduk muslim di Maumere. Peristiwa ini bersumber dari hal yang sepele. Kejadian yang berawal dari seorang gadis katholik yang tidak terima ejekan dari oknum pemuda muslim ini, terus berkembang dan hampir berbuntut konflik SARA. Penulis akhirnya ikut bersiaga bersama warga lainnya, berjaga-jaga seandainya ada serangan dari pihak musuh. Walaupun agak gentar, penulis sudah siap jika harus berkorban nyawa dalam kejadian ini. Tapi Alhamdulillah, kejadian yang memecah belah persatuan dan kesatuan ini berhasil dicegah setelah kedua belah pihak sepakat untuk berdamai.

Saudaraku, penulis juga mengadakan pelatihan membaca Al-Qur’an bagi ibu-ibu rumah tangga di Kampung nelayan Wuring. Ibu-ibu yang kebanyakan istri nelayan ini cukup antusias mengikuti majelis ini. Di majelis ini, separuh hati penulis terpaut di NTT. Kenapa? Entahlah. Mungkin inilah yang Allah SWT. hendak jelaskan kepada kita lewat Firman-Nya, “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di muka bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah, lagi Maha Bijaksana.” Penulis bercucuran air mata ketika harus berpisah dengan ibu-ibu pengajian tersebut. “Kalau ustadz pulang, siapa yang ngajar kami lagi, ustadz?” curhat salah seorang ibu kepada penulis. Kejadian ini sontak mengkudeta perasaan dan menciptakan konspirasi hati bagi penulis. Hehe.

Satu lagi! Alhamdulillah, selama satu tahun mengabdi kepada masyarakat, penulis sedikit sekali merogoh kocek pribadi untuk membeli makan. Mulai dari sarapan, makan siang, sampai makan malam, semuanya masyarakat yang menyediakan. Pokoknya, penulis tidak pernah khawatir kelaparan. Malahan, berat badan penulis sampai naik 10 kg, lho! Hehe. Alhamdu……lillah. Nah, temen-temen aktifis dakwah pasti ngerti kalo saya bilang, “ini belutnya!”, ya to? Hehe.

Saudaraku, dikarenakan halaman yang membatasi kita, penulis akhiri tulisan ini dengan mengutip Firman Allah SWT., “Sesungguhnya kamu tidak bisa memberi petunjuk kepada seseorang yang kau cintai. Akan tetapi Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” Semoga bermanfaat. Uhibbukum fillahi jami’an! Walhamdulillahi Robbil ‘alamin. Wassalaamu’alaikum.

Penulis : Dedi Sutardi
Bandung

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

 

suara islam Powered by Blogger