Renungan Kecil Untukmu Guruku

Renungan Kecil Untukmu Guruku

Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan “Man ‘allamani harfan kuntu lahu ‘abdan (Barang siapa mengajariku satu huruf, aku rela menjadi budaknya)”. Itulah bentuk keta'dhiman Sahabat Ali kepada guru-guru beliau. Walau hanya mengajarakan satu alif.

Sedangkan guru atau yang biasa dipanggil ustadz, ustadzah, bapak ibu guru atau murobbi/yah kita?. Ilmu yang beliau berikan lebih dari satu alif. Dan entah berapa banyaknya sehingga tak dapat kusebutkan. Kalaulah begitu, berapa banyak guru yang telah mengajariku?

Ada beliau yang ahli fikih, ada yang ahli di bidang bahasa Arab, guru ngaji, guru tahsin, dan masih banyak lagi. Tak dapat aku sebutkan satu persatu.

Namun aku belum sanggup berbakti kepada beliau-beliau seperti apa yang dikatakan Sahabat Ali. Kadang kala aku sering menyepelehkan dan meremehkannya. Dengan mengatakan “aah, guru ini begini dan begitu” bahkan namamu saja kadang aku lupa. Aku hanya memanggilmu bapak dosen psikologi atau ustadz yang ngajar hadits, atau malah memberi gelar yang sungguh tak etis.

Eits! Aku masih ingat saat di MTs dulu aku pernah memanggil salah satu guru matematika dengan sebutan “gorilla cokelat”. Astaghfirullah, padahal matematikaku waktu itu nilainya jeblok. Atau aku yang sering kabur saat kajian karena tidak menyukai salah seorang ustadz. Padahal pepatah Arab mengatakan “undzur maa qoola walaa tandzur man qoola”. Lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan.

Aku berani bertindak seperti itu padahal aku sendiri belum bisa menjadi santri yang baik, aku sendiri belum bisa menjadi guru yang baik buat murid-muridku. Aku tidaklah lebih baik dari guru-guruku yang pengetahuannya jauh lebih luas, yang kedewasaannya jauh dariku, yang akhlaknya lebih baik dariku.

Kadangkala terbesit rasa sesal di hatiku karena aku jarang memperhatikan saat pelajaran berlangsung, malah aku bolos. Dan baru aku sadari ternyata apa yang engkau ajarkan di masa lalu, aku butuhkan di masa sekarang. Apa yang engkau ajarkan di masa lalu, kini kucari-cari dan aku hanya bisa bilang “ooh dulu ustadz ini pernah menjariku seperti ini dan seperti itu. Tapi sayang, dulu aku tak begitu memperhatikannya”

Aah, bapak ibu guruku, ustadz ustadzahku, murobbiyahku, dosen-dosenku di manapun kini engkau berada, maafkanlah diriku karena belum bisa menjadi murid, santri, mahasiswa (dan entahlah apa sebutannya) yang bisa berbakti padamu, aku belum buisa membalas semua kebaikanmu seperti sahabat Ali. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah selalu memuliakanmu, menjadikan hidupmu berkah, dan mengangkat derajatmu setinggi-tingginya. Kuucapkan banyak terimah kasih atas semua jasa-jasamu. [Putry Asy Syifa]

0 komentar:

Posting Komentar