Dakwah, Dengan atau Tanpa Kita?

Dakwah, Dengan atau Tanpa Kita?

Selayaknya tidak ada rasa kekhawatiran di dalam hati ketika ada seorang al-akh atau al-ukh tidak lagi bersama dalam barisan dakwah. Baik itu dikarenakan ia futur, mengundurkan diri ataupun pindah tugas. Karena kita telah meyakini bahwa islam ini milik Allah dan Allah lah yang akan menjaganya. Termasuk para juru dakwahnya, Allah telah menjamin akan selalu ada orang-orang yang menjaga islam dengan jalan dakwah setiap masanya. Ketika generasi sebelumnya telah hilang maka Dia akan menggantikannya dengan yang lain kembali, sehingga islam dan dakwah islam akan senantiasa ada sampai hari akhir kelak.

Berhenti atau terus itu adalah pilihan, bersama atau tidak juga adalah pilihan. Dakwah islam akan terus berjalan baik dengan atau tanpa kita. Itupun adalah pilihan, apakah kita yang akan sebagai juru dakwahnya atau membiarkan hanya orang lain saja yang menjalankan tugas dakwah itu. Sedangkan kita hanya duduk dan melihat perkembangannya saja.

”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar," (QS. An Nisa' : 95)

Seharusnya dan selayaknya bagi kita semua ketika hanya dengan alasan banyaknya aktifitas kita terus kemudian kita tidak lagi bersama dalam barisan dakwah. Begitu banyak keutamaan-keutamaan dakwah yang telah kita ketahui sebelumnya, lantas kalah dengan ego pribadi kita. Meruginya kita ketika tidak terus bersamanya atau bersamanya hanya sekedar saja tidak berkeinginan semaksimal mungkin. Karena seharusnya kita merasakan bahwa kehadiran kita di dalam barisan dakwah, dakwah akan diuntungkan. Dengan kita lah dakwah ini akan dimenangkan.

Seharusnya ada sebuah perasaan menyesal ketika kita harus berhenti sejenak atau selamanya, atau tidak lagi bersama barisan dakwah. Terus kemudian digantikan dengan orang-orang yang pasti lebih baik dengan kita. Yakni mereka yang akan selalu istiqomah menjalankan amanah dakwah itu. yang dengannya dakwah berkembang pesat bahkan mungkin dengan sarananya dakwah ini akan dimenangkan. Sedangkan kita hanya duduk terdiam dengan aktifitas-aktifitas pribadi kita melihat mereka yang berhasil menggantikan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Tidakkah ada rasa iri di hati kita, ketika kita tidak termasuk satu di dalam barisan dakwah itu? apakah kita akan seperti ini :
"jika ada 1 Mujahid di dunia ini, maka sudah dipastikan dia bukanlah aku.
Jika ada 10 Mujahid, amak aku tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 100 Mujahid, maka aku pun tidak termasuk satu di dalamnya.
Jika ada 1000 Mujahid, maka aku juga tidak termasuk satu di dalamnya."

Jadi, jangan bersedih saja bagi yang ditinggalkan teman-teman seperjuangan karena mereka tidak lagi bersama kita dengan alasan apapun itu. Jangan risau dengan sedikitnya orang yang bersama kita dalam barisan dakwah ini, karena itu bisa jadi memberikan peluang besar bagi kita untuk semakin banyak berkontribusi dan memberikan yang terbaik bagi dakwah ini. Jangan risau dengan perkembangan dakwah ini ketika ada sebagian dari kita yang rehat sejenak, karena dakwah ini milik Allah, islam ini milik Allah. Yakinlah Allah akan menjaganya dan menggantikan mereka yang rehat sejenak itu dengan generasi baru lagi.

“si anu mau mengundurkan diri, katanya jadwalnya full jadi takut gak bisa optimal dengan amanahnya di sini.” sms seorang staf kepada pemimpinnya. “sedangkan si itu mau pindah, mau melanjutkan study nya jadi gak di sini lagi, Jadi siapa yang akan menggantikan mereka?” Tambahnya. Salahkah jika pemimpinnya tersebut menjawab dengan jawabanya yang singkat dan padat “mujahid-mujahidah baru”.[]



Penulis : Yudhi Prasetyo
Sekretaris dan mentor Forum Peduli Remaja Jambi (FPRJ) Kota Jambi

0 komentar:

Posting Komentar