Tampilkan postingan dengan label Bedah Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bedah Buku. Tampilkan semua postingan

Pengkhianatan-Pengkhianatan Syiah

Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah
Judul : Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah
Judul Asli : Khiyanat Asy Syi'ah wa Atsaruha fi Hazaa-im Al Ummah Al Islamiyah
Penulis : DR Imad Ali Abdus Sami'
Penerjemah :Hafidz Muhammad Amin, Lc
Penerbit : Pustaka Al Kautsar, Jakarta
Cetakan ke : 3
Tahun terbit : Januari 2012
Dimensi : 17,5 cm; xx + 216 hlm
ISBN : 979-592-337-4

Melihat sepak terjang Syiah akhir-akhir ini, khususnya di Irak dan Suriah, sebagian umat Islam mungkin bertanya-tanya. Mengapa mereka demikian sengit berhadapan dengan ahlus sunnah? Mengapa mereka mati-matian membela rezim Assad di Suriah hingga harus mensuplai tentara dari Iran dan Hezbullat Lebanon?

DR. Imad Ali Abdus Sami' menyusun sebuah dokumentasi berharga yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama, dimulai dari masalah aqidah, yang dipaparkan pada halaman 13 sampai 28.

Menurut aqidah Syiah, orang yang tidak beriman terhadap otoritas Imam Itsna Asyariah (iman dua belas) adalah kafir. Aqidah tersebut dapat dijumpai di berbagai literatur Syiah. Misalnya Al I'tiqadaat karya Muhammad bin Ali bin Husein bin Bawabih Al Qummi yang digelari Ash Shaduq, Al Alfain fi Imamah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karya Jamaludin bin Al Husein bin Muthahar Al Hully, Bihar Al Anwar karya Al Mulla Muhammad Bakir Al Majlisi, dan lain-lain.

Persoalan aqidah kedua, Syiah meyakini bahwa ahlus Sunnah memusuhi Ahlul Bait, dan karenanya mereka harus dilawan. Bahkan, keyakinan ini membawa implikasi pada permusuhan besar Syiah yang meyakini bahwa ahlus sunnah halal darah dan hartanya.

"Darah kaum sunni itu halal, akan tetapi saya mengingatkan Anda, jika Anda mampu untuk memendamnya di bawah dinding atau menenggelamkannya di dalam air agar mereka tidak menyaksikan hal tersebut, maka lakukanlah," demikian fatwa dalam kitab Ilal Asy Syara'i. (hlm 23-24). Penulis juga mengutip fatwa Ruhullah Khumaini dalam kitab Tahrir Al Wasilah yang menghukumi ahlus sunnah sebagaimana ahlul harb yang boleh dirampas hartanya sebagai ghanimah.

Setelah memaparkan aqidah di balik pengkhianatan Syiah, halaman 29 hingga 193 dalam buku ini memotret pengkhianatan-pengkhianatan Syiah di berbagai zaman. Sejak zaman sahabat hingga zaman modern.

Pengkhianatan pertama Syiah adalah pengkhianatan kepada ahlul bait, yang justru mereka mengklaim diri sebagai penerus ahlul bait tersebut. Pengkhianatan kepada Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu, diantaranya, adalah pembangkangan mereka yang saat itu berpusat di Kufah ketika Ali hendak berperang ke Syam. Ali pun menyebut mereka sebagai "serigala-serigala penipu." (hlm. 30)

Pengkhiantan Syiah kepada Hasan dan Husein lebih parah lagi. Mereka membujuk Hasan agar berperang melawan Muawiyah. Namun mereka justru mengkhianati Hasan dan berencana menyerahkannya kepada Muawiyah. Hasan pun melaknat mereka: "Aku memandang Muawiyah lebih baik terhadapku daripada orang-orang yang mengaku mendukungku tetapi justru ingin membunuhku dan mengambil hartaku." (hlm. 33)

Setelah wafatnya Muawiyah pada tahun 60 H, mereka membujuk Husein bin Ali agar datang ke Kufah untuk memimpin mereka. Namun pengkhianatan kembali terjadi. Mereka membiarkan Husein dan keluarganya dibunuh oleh Ibnu Ziyad.

Pengkhianatan Syiah yang lain terus terjadi sepanjang sejarah Islam. Entitas terbesar Syiah terwujud pada Daulah Fathimiyah pada tahun 296 H. Dengan dimilikinya kekuatan senjata yang besar dalam institusi daulah inilah, Syiah melakukan berbagai macam usaha untuk melenyapkan orang-orang ahlus sunnah (hlm.47). Mereka bekerja sama dengan Eropa untuk merebut Alexandria dari tangan Shalahuddin Al Ayyubi. Bahkan mereka merencanakan pembunuhan terhadap Shalahuddin Al Ayyubi pada tahun 569 h. (hlm. 109).

Di zaman modern, pengkhianatan Syiah juga membentuk daftar yang cukup panjang. Di Bahrain, 12 pemimpin Syiah menggerakkan revolusi dan menciptakan kerusuhan besar-besaran. (hlm. 176). Di Kuwait, huru hara yang hampir sama juga terjadi setelah Syiah berulah melalui tokohnya Ahmad Abbas Al Muhri yang mendapatkan dukungan penuh Khomeini.

Pada 1925, organisasi Syiah didirikan di bagian timur Saudi. 23 tahun kemudian gerakan mereka meluas hingga sampai ke Jubail dan meresahkan kalangan ahlus sunnah di Saudi. Hingga pada 1950 pemerintah Saudi membasmi gerakan tersebut. Tahun 1970 Syiah di Saudi bangkit lagi, bahkan menggelar demonstrasi dan kerusuhan hingga ledakan pada 1978. Bersamaan dengan revolusi Iran, Syiah di Syiria dan Lebanon juga bangkit.

Di Irak, Syiah mendukung serangan AS ke negara itu. Begitu AS menang, pengikut Syiah segera tumpah ruah ke jalanan, beraksi menjarah dan menghancurkan aset-aset ahlus sunnah. Pengkhianatan Syiah di Irak ini dibahas sepanjang 10 halaman hingga halaman 193. Sayangnya, buku ini terbit satu dekade lalu sehingga tidak dapat mengetengahkan perkembangan terbaru saat Nuri Al Maliki, perdana menteri Irak boneka AS, mengusulkan Karbala menjadi kiblat umat Islam menggantikan Makkah. Andaikan buku ini terbit tahun ini, mungkin akan menjadi semakin tebal dengan pengkhianatan Syiah di Suriah dan dukungan mereka secara militer terhadap rezim Bashar Assad sejak 2012. [Abu Nida]

Beauty Jannaty

Beauty Jannaty
Judul : Beauty Jannaty ; 99 Bekal Menjadi Muslimah Jelita Dambaan Surga
Penulis : Keisya Avicenna
Penerbit : Tinta Medina( Imprint Tiga Serangkai –Solo )
Tebal : xx + 412Halaman ; 21 cm
Cetakan : I ; Agustus 2013
ISBN : 978-602-9211-87-0

Menjadi muslimah shalihah adalah anugerah terindah dari Sang Maha Kuasa. Menjadi muslimah shalihah adalah salah satu jalan pasti menuju surga. Menjadi muslimah shalihah adalah cara paling jitu untuk membuat para bidadari surga cemburu. Karena muslimah shalihah, dalam sebuah hadits nabi, disebutkan sebaga perhiasan dunia yang paling berharga. Menjadi muslimah shalihah adalah jalan panjang, terjal nan berliku. Banyak onak, ujian, godaan dan aneka makar yang menghiasi perjalanan untuk menujunya.

Menjadi muslimah shalihah dimulai dari jelitanya taqwa. Yaitu sejauh mana seorang muslimah melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-laranganNya. Dalam menggapai derajat taqwa ini, ada lima kiat yang bisa ditempuh. Yaitu mengingat janji (Mu’ahadah) kepada Allah di awal penciptaan, bersungguh-sungguh (Mujahadah) dalam menjalankan setiap amal menuju taqwa, merasa diawasi (Muraqabah) oleh Allah Yang Maha Mengetahui, evaluasi diri (Muhasabah) atas semua amal yang telah, sedang dan akan dilakukan serta memberikan sanksi kepada diri sendiri (Mu’aqabah) jika suatu ketika melakukan kesalahan, baik besar atau kecil, baik disengaja atau tidak. (Halaman 2-3).

Selanjutnya taqwa ini terderivasi dalam banyak amalan, baik ibadah langsung kepada Allah maupun dalam setiap muamalah kepada seama manusia. Ibadah langsung kepada Allah meliputi semua ibadah wajib, ibadah sunnah, ikhlas, zuhud, mengingat surga, memvisualisasikan neraka, ridha kepada tadir, banyak membaca al-Qur’an, menjaga wudhu dan seterusnya.

Sedangkan terkait diri sendiri dan amalan kepada sesama, muslimah shalihah senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji. Seperti, senantiasa mengenakan pakaian yang syar’i, menjaga kesehatan, tidak berlebihan dalam makan dan minum, menjaga kesehatan mulut, berpakaian bersih dan rapi, selalu merawat kebersihan dan keindahan rambut, berparas menarik, menghindari tabarruj dan tidak berlebihan dalam berhias. (Hal 86-102)

Muslimah shalihah yang jelita juga piawai dalam mengembangkan setiap potensi. Baik potensi ruh, pikiran juga fisik. Mereka adalah pribadi yang jelita dalam melindungi akalnya dengan ilmu, tidak lepas dari membaca dan menulis, selalu menghadiri majlis ilmu, berpikir sebelum bertindak, pandai mengatur waktu, tangguh dan pantang mengeluh, menjaga amanah, siap dikritik dan menerima saran, selalu belajar dan mengembangkan bakatnya.

Sebagai istri, muslimah shalihah pandai merawat diri agar suaminya tidak berpaling kepada wanita lain. Mereka menyadari bahwa berdandan tidak harus dengan make up dan perhiasan mahal. Tetapi cukup dengan membersihkan diri dengan mandi, siwak, memakai parfum serta berpakaian rapi dan serasi, dan aneka tuntunan sunnah yang lain dalam berdandan. (Hal 375)

Andai semua ajaran Allah dan Rasulullah yang disajikan dalam buku ini berhasil dipraktekan secara menyeluruh, maka kebangkitan Islam dari Bumi Pertiwi Indonesia bukanlah mimpi. Karena muslimah shalihah merupakan soko guru paling utama dalam kemajuan sebuah bangsa. Di pundaknyalah, diamanahkan pendidikan para generasi muslim yang kelak menjadi pemimpin masa depan.

Andai buku ini bisa diringkas, bisa jadi ia lebih menarik. Sehingga bentuk yang lebih kecil, tipis namun aplikatif itu, tidak merepotkan dan memberatkan jika dimasukkan dalam tas maupun saku setiap muslimah yang berkenan mempraktekan ilmunya.

Buku ini, tidak hanya bagus untuk muslimah. Melainkan bacaan wajib bagi para lelaki. Karena surga bagi muslimah, terdapat dalam ketaatan kepada lelaki,baik sebagai suami maupun bapak. Tentu, ketika perintah suami atau bapak, sesuai dengan perintah Allah, Rasulullah dan Syari’at Islam. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Beauty Jannaty ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia
Judul : Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia
Penulis : Tim Penulis Majlis Ulama Indonesia
Penerbit : Nashirus Sunnah - Jakarta
Tebal : 152 Halaman ; 11,5 x 17,5 cm
Cetakan : I, November 2013
ISBN : 978-602-7734-44-9

Pertempuran abadi antara kebaikan dan keburukan akan terus berlangsung hingga kiamat menjelang. Pertempuran-pertempuran ini terjadi dalam banyak bidang, dengan berbagai medan. Mulai aqidah, ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan seterusnya. Sehingga, kaum muslimin di segala lapis kehidupan, harus terus bersiap siaga sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Tentu, dalam hal ini, semua perjuangan kaum muslimin di segala lini, harus didukung. Hingga kelak, Islam kembali berjaya dan memimpin dunia.

Satu diantara jenis pertempuran ini adalah terkait perang aqidah. Di negeri ini, hal tersebut semakin menggejala dengan bermunculannya aliran-aliran sesat yang mengaku sebagai bagian dari Islam. Mulai nabi Mushadeq yang ditangkap polisi di bilangan Depok Jawa Barat, ‘Malaikat’ Lia Eden yang meringkuk di jeruji besi, hingga bermacam aliran sesat yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Yang tak kalah bahayanya adalah aliran Syi’ah. Di mana mereka mengaku sebagai Islam dan merupakan pemegang otoritas akan keontetikan Islam yang sebenarnya. Jika dibiarkan, faham ini bisa merusak tatanan Islam itu sendiri kemudian mengganti Islam dengan faham Syi’ah. Jika ini terjadi, tidak menutup kemungkinan, negeri ini akan bernasib serupa dengan Iran dan Suriah. Di mana di kedua negara dengan pemimpin Syi’ah itu, darah kaum muslimin dengan mudah ditumpahkan dengan dalih pemberontak, teroris dan sebutan keji lainnya.

Jika merunut kepada angka sejarah, sejatinya Syi’ah Ali yang pertama ada merupakan generasi sahabat yang sholih. Mereka tidak bertentangan dengan apa yang Rasulullah ajarkan dan tidak pernah memprotes apa yang ada dalam al-Qur’an. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ketika fitnah mulai menggerogoti semua sendi kehidupan kaum muslimin, Syi’ah bertransformasi menjadi Syi’ah Rafidhah yang sangat bertolak belakang dengan Syi’ah Ali.

Saking bahayanya, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Syi’ah Rafidhah ini lebih berbahaya dibanding dengan Nasrani dan Yahudi. Jika Nasrani dan Yahudi berada di luar Islam, maka Syi’ah Rafidhah ini menyelinap dan mengklaim diri sebagai bagian dari Islam. Ini, semacam serigala yang berbulu domba. Mirisnya, golongan ini suka bermanis muka ketika menjadi minoritas, dan bermuka durjana ketika sudah menjadi mayoritas.

Setidaknya, ada 5 kesesatan Syi’ah Rafidhah yang ada di Indonesia dan seluruh dunia saat ini. Pertama, mereka meragukan orisinilitas al-Qur’an. Dalam faham mereka, al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin saat ini merupakan al-Qur’an palsu. Dalam pemahaman mereka, al-Qur’an asli hanya diwariskan dari Jibril kepada Ali bin Abi Thalib. Kelak, menurut pemahaman mereka pula, Ali bin Abi Thalib akan diturunkan di akhir zaman dengan membawa transkrip asli al-Qur’an yang orisinil, langsung dari Allah.

Kedua, mereka salah memahami tentang Ahli Bait dan mencaci maki sahabat. Ini bukan barang aneh bagi mereka. Bahkan, kebencian mereka kepada Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan sangat besar. Ketiga sahabat mulia ini, dianggap telah tersesat. Dalam pemahaman sesat mereka, diyakini bahwa ketiga khalifah tersebut, merebut otoritas yang seharusnya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Dalam tahap kronis akut, ada yang membenci Rasulullah dan mengklaim bahwa Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu. Yang lebih parah, ada yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib dan Imam-imam sepeninggalnya, tak ubahnya Tuhan yang berhak mengatur segala hal terkait peribadahan mereka. Ini hanya klaim sesat, karena Ali bin Abi Thalib sendiri, tidak pernah merasa lebih hebat dari ketiga sahabat pendahulunya, apalagi merasa lebih baik dari Rasulullah.

Ketiga, selain mencaci maki sahabat, mereka menganggap kafir kaum muslimin. Sehingga, ketika menjadi mayoritas, mereka dengan mudah membunuh siapa saja yang bertolak faham dengannya. Bagi mereka, darah kaum muslimin halal ditumpahkan, dengan alasan apapun. Inilah yang terjadi saat ini di Suriah, dimana Presidennya merupakan salah satu penganut Syi’ah. Bahkan, banyak ditemui kaum muslimin di Suriah dipaksa untuk menyembah Bashar Asad, karena dia mengklaim diri sebagai Tuhan.

Keempat, mereka memandang bahwa Imam Syi’ah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Rasul bahkan Malaikat. Sebagimana disampaikan oleh Khumaini, salah satu orang yang dianggap Imam oleh Syi’ah. Dia berujar, “Dan termasuk para Imam kita mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqarrabin ataupun nabi yang diutus.” (Hal 76 sebagaimana dikutip dari buku Khumaini yang berjudul al-Hukumat al-Islamiyah hal 52). Termasuk di dalamnya, disebutkan bahwa siapa yang tidak mempercayai kedudukan mulia para Imam, maka dia telah dinyatakan kafir.

Kelima, Syi’ah menganggap bahwa kawin kontrak (Mut’ah) itu halal. Parahnya, mereka memandang kawin kontrak ini sebagai sebuah kemuliaan bagi siapa yang melakukannya. Lebih bejat lagi, mereka membolehkan kawin kontrak kepada semua wanita. Baik yang perawan, sedang bersuami, janda maupu pelacur. Di Indonesia, banyak basis-basis Syi’ah yang sudah menyediakan wanita-wanita untuk dimut’ah dengan tarif tertentu. Mulai yang perjam, perhari, perpekan, perbulan bahkan pertahun ataupun bertahun-tahun. Wanita-wanita itu tidak hanya berasal dari dalam negeri. Melainkan dari negeri-negeri Syi’ah semacam Iran, Suriah, dan seterusnya.

Diantara contoh kesesatan Syi’ah, nampak jelas pada beberapa hal lain. Sebut saja tentang Rukun Islam, mereka meyakini 5 rukun yang meliputi : Shalat, Shaum, Zakat, Haji dan Wilayah. Dalam hal ini, mereka membolehkan berbohong di negara yang bukan wilayah Syi’ah, mereka juga membolehkan mengqashar shalat ketika tidak sedang berada di wilayah Syi’ah.

Terkait rukun Iman, mereka hanya meyakini 5 rukun. Yaitu Tauhid, Nubuwwah, Imamah, al-Adl dan al-Ma’ad. Sedangkan terkait Syahadat, mereka memiliki 3 kalimat Syahadat ditambah dengan menyebut kedua belas Imam mereka.

Kita juga bisa menelusuri sejarah konflik antara Syi’ah dan Islam, mulai dari pembakaran Ponpes al-hadi di Batang Jawa Tengah pada tahun 2000 sampai dengan konflik di Omben Sampang pada tanggal 26 Agustus 2012.

Di Indonesia, Syi’ah memiliki 5 poros penyebaran. Pertama, poros Jakarta di Islamic Cultural Center (ICC) yang berkantor di Jalan Buncit Raya Kav.35 Pejaten Barat Jaksel. ICC ini membawai 18 lembaga Syi’ah yang tersebar di seluruh Jabodetabek. Kedua, poros Pekalongan-Semarang. Pusat komando poros kedua ini ada di Yayasan Nurul Tsaqalain di Jalan Boom Lama No.2 Semarang Utara. Sedangkan di Pekalongan, pusat komando ada di Ponpes al-Hadi yang didirikan tahun 1988 di Jalan Agus Salim Gang 5 Nomor 4 RT. 1 RW.3 Kelurahan Klego, Kota Pekalongan Jawa Tengah.

Ketiga, poros Yogyakarta yang dikomandoi di Yayasan Rausyan Fikr. Komunitas ini juga aktif menyebarkan Syi’ah melalui perkumpulan Al-Amin. Keempat, poros Bangil dan Pasuruan. Pusatnya ada di Ponpes YAPI Bangil dan Yayasan al-Itrah di Pasuruan. Di Jawa Timur sendiri, ada 17 lembaga Syi’ah yang tersebar di Probolinggo, Surabaya, Jember, Bangil, Pasuruan, Malang dan Bondowoso.

Kelima, poros Bandung. Di Kota Kembang ini, motor penggeraknya adalah Jalaludin Rakhmat yang merupakan calon anggota DPR RI Dapil Jawa Barat dari PDIP pada pemilu 2014 mendatang. Dia bergerak melalui IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Di bawah IJABI ini, ada sekitar 12 lembaga Syi’ah yang tersebar di Purwakarta, Tasikmalaya, Kota/Kabupaten Bandung, Cirebon dan Majalengka.

Selain itu, penyebarab Syi’ah juga dilakukan melalui organisasi Syi’ah berkelas nasional, lembaga Syi’ah di luar Jawa, situs-situs komunitas Syi’ah, Radio/TV Syi’ah, Lembaga Penerbitan Syi’ah dan 10 sayap Yayasan Syi’ah lengkap dengan sepak terjang mereka.

Sebagai akhir dan merupakan rekomendasi, kita disuguhi dengan kesepakatan Ulama’ Indonesia tentang kesesatan Syi’ah. Selain fatwa MUI ini, kita semakin diperjelas dengan pendapat Ulama’-ulama’ pendiri bangsa ini. Seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Prof. DR. Hamka, Dr. Muhammad Natsir dan KH. Hasan Basri.

Kesemua Ulama’ robbani itu, bersepakat dalam satu kata bahwa Syi’ah sesat. Mereka bukan bagian dari Islam. Sehingga, yang harus kita lakukan sekarang adalah, membuang Syi’ah pada tempatnya.[]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


Mengapa Saya Keluar dari Syiah; Kesaksian Penulis Sebelum Dibunuh

Mengapa Saya Keluar dari Syiah
Judul buku : Mengapa Saya Keluar dari Syiah; Kesaksian Penulis Sebelum Dibunuh
Judul asli : Lillah… tsumma li tarikh
Penulis : Sayyid Husain Al-Musawi
Penerjemah : Iman Sulaiman
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Cetakan ke : 10
Tahun Terbit : Februari 2013
Dimensi : xxiv + 152 hlm; 13 x 20,5 cm
ISBN : 978-979-592-189-4

Sepanjang tahun 2013, Syiah di Indonesia semakin gencar mendakwahkan ajarannya. Sejumlah perhelatan besar digelar secara terbuka, lebih berani dari tahun-tahun sebelumnya yang masih sembunyi-sembunyi. Diantaranya, perayaan Idul Ghadir pada 26 Oktober 2013 di Jakarta. Juga peringatan Asyura (tragedi Karbala) di sejumlah daerah.

Melihat massa yang mengikuti perhelatan-perhelatan tersebut, tampak ada orang-orang baru yang menjadi pengikut Syiah, terutama para wanita. Ketidaktahuan tentang hakikat Syiah menjadikan mereka termakan propaganda. Hal ini bertolak belakang dengan mereka yang keluar dari Syiah setelah mengetahui hakikatnya.

Sayyid Husain Al-Musawi, penulis buku ini, adalah salah seorang dari mereka yang keluar setelah mengetahui hakikat Syiah melalui pengembaraan spiritual, mengkaji Islam yang sebenarnya. Tokoh Syiah yang lahir di Karbala dan menjadi ulama Syiah di kota Najaf ini kemudian menuliskan penyimpangan dan kesesatan Syiah dalam buku yang aslinya berjudul "Lillahi tsumma li tarikh" ini.

Membunuh Husein, Memfitnah Ahlus Sunnah
Syiah mengaku sebagai ahlul bait dan menyebut ahlus sunnah sebagai nawashib (para pembangkang) yang memusuhi ahlul bait. Syiah juga memfitnah ahlus sunnah sebagai pembunuh cucu Rasulullah, Husain radhiyallahu 'anhu. Setelah menelusuri berbagai referensi, Sayyid Husain Al-Musawi menemukan bahwa Syiahlah yang membunuh Husein. "Maka mengapa mereka melemparkan tanggung jawab kepada ahlus sunnah dalam pembunuhan Husain alaihis salam?" (hlm 19)

Nikah Mut'ah
Bab yang dibahas di halaman 43 hingga 72 ini dimulai dari pemaparan riwayat-riwayat bathil Syiah tentang nikah mut'ah. Syiah mengklaim Nabi menjelaskan bahwa siapa yang nikah mut'ah seolah-olah ia berkunjung ke ka'bah sebanyak 70 kali. Siapa yang melakukan nikah mut'ah maka ia aman dari murka Allah, dan sejumlah riwayat aneh lainnya.

Penulis juga mengutip Tafsir Manhaj Ash Shadiqin tentang keutamaan memperbanyak nikah mut'ah. Bahwa siapa yang nikah mut'ah sekali, ia seperti derajat Husain. Nikah mut'ah dua kali, ia seperti derajat Hasan. Nikah mut'ah tiga kali, ia seperti derajat Ali. Nikah mut'ah empat kali, ia seperti derajat Rasulullah.

Berangkat dari riwayat-riwayat bathil ini, beragam penyimpangan nikah Mut'ah pun dipraktikkan oleh Syiah. Disebutkan penulis, di Iran banyak lelaki yang nikah mut'ah dengan wanita lalu wanita itu hamir dan melahirkan, kemudian anak gadisnya dimut'ah lagi oleh orang tersebut. Jadilah banyak perempuan yang dimut'ah oleh saudaranya, bahkan oleh ayahnya. Namun, para tokoh Syiah sendiri melarang putrinya dimut'ah. "Saya adalah pembesar dan hal itu (nikah mut'ah) haram atas para pembesar, namun halal bagi kalangan awam dari orang-orang Syiah," kata Imam Al Khaui ketika putrinya diminta untuk dimut'ah oleh seorang pemuda. (hlm 49).

Pekan lalu, Menteri Kesehatan Iran Hassan Hassemi menyebutkan bahwa dalam 11 tahun pengidap HIV/AIDS di Iran naik 9 kali lipat. Naik 80 persen setiap tahun. Ia menjelaskan, penularan lebih banyak karena hubungan seksual. Mungkinkah ini akibat nikah mut'ah? Sangat mungkin.

Khumus
Penyimpangan besar lain yang dipraktikkan Syiah adalah konsep khumus. Yakni kewajiban memberikan sebagian (seperlima) harta kepada Syiah untuk dikelola oleh para imam atau ulamanya. Baik harta itu kemudian untuk membiayai dakwah Syiah, maupun untuk keperluan lain yang dipandang baik oleh imam dan ulama Syiah.

Selain tiga alasan besar ini, ada sejumlah alasan lain yang keseluruhannya semakin menunjukkan kesesatan Syiah dan menjadi alasan Sayyid Husain Al-Musawi keluar darinya. Di halaman terakhir buku ini disertakan lampiran fatwa dari Syiah Hauzah. Fatwa yang ditandatangani oleh Husain Bahrulum ini menyatakan Sayyid Husain Al-Musawi telah sesat dan bukunya "Lillahi tsumma li tarikh" menyesatkan. Ia juga diancam dengan hukuman mati sebagai orang yang murtad dari agama. Namun, tidak ada penjelasan dari penerjemah maupun penerbit, apakah penulis kemudian benar-benar dibunuh. [Abu Nida]

Character Building; Membangun Karakter Menjadi Pemimpin

Character Building; Membangun Karakter Menjadi Pemimpin
Judul : Character Building; Membangun Karakter Menjadi Pemimpin
Penulis : Yudha Kurniawan, S.P. – Ir. Tri Puji Hindarsih
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Tebal : 306 Halaman ; 16 x 24 cm
Cetakan : I ; 2013
ISBN : 978-602-7820-05-0

Krisis multi dimensi yang tengah menjangkiti negeri ini, khususnya, dan dunia pada umumnya, adalah buah dari gagalnya pendidikan karakter dalam diri masing-masing individu. Bagi seorang muslim, hal ini merupakan raport merah yang tak boleh dibiarkan. Karena lembaran-lembaran sejarah Islam diisi oleh generasi-generasi yang cemerlang dalam segala bidang. Bukan hanya bidang ruhani yang tercermin dalam akhlak keseharian, tetapi juga dalam bidang keilmuan. Seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi, dan seterusnya.

Sehingga, proyek kebangkitan Islam harus menjadi perkejaan bersama kaum muslimin sebagai wujud dari mengejawantahkan Islam yang merupakan rahmat bagi semseta. Proyek kebangkitan Islam ini, harus dimulai dari pendidikan. Baik dalam tahap pribadi, kelembagaan dan di segala bidang. Garis besar dari proses pendidikan itu, bukan hanya tercapainya angka-angka kognitif belaka, namun harus menyentuh pendidikan karakter sebagai bagian paling penting dalam kehidupan.

Sayangnya prosentase pendidikan akhlak ini tidak mendapatkan porsi yang pas, jika tak bisa disebut kurang. Sebut saja pelajaran agama sebagai inti dari akhlak, hanya diberi waktu sekali dalam sepekan, itupun hanya satu sampai dua jam pelajaran. Sementara dalam pelajaran lain, seperti pendidikan kewarganegaraan dan seterusnya, lebih cenderung kepada hal-hal teoritis. Padahal, seharusnya, porsi pelajaran tersebut, lebih pada aspek praktek.

Padahal, dampak buruk dari gagalnya penanaman karakter ini, tidak hanya berdampak sementara, melainkan menjadi bahaya laten lintas generasi. Jika mau jujur, budaya korupsi, misalnya, adalah hasil panen dari bibit mencontek yang sudah dilakukan sejak dini di bangku sekolah. Begitu juga dengan aneka tindak kekerasan dan kriminal lainnya. Merupakan sebuah akibat jangka panjang dan saling berkaitan.

Oleh karena itu, pendidikan karakter ini, sangat perlu ditekankan sejak dini, di bangku-bangku sekolah, di rumah dan di segala bidang kehidupan, agar ke depan generasi yang terlahir adalah generasi yang cakap secara psikomotorik, cerdik secara kognitif dan santun secara akhlak. Inilah pribadi-pribadi paripurna yang layak memimpin bangsa.

Lebih jauh tentang budaya korupsi, dimana hal itu menjadi masalah bersama bangsa, faktor mutlak yang harus terpenuhi dalam pemberantasannya adalah karakter kepemimpinan politik dan birokrasi yang amanah berdasarkan pada sikap dan perilaku jujur, tegas, adil, kerakyatan, antikorupsi, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, mengutamakan tindakan nyata daripada retorika, tidak egosentris, serta berjiwa besar mengakui kekurangan maupun kelemahannya. (Hal 115)

Untuk menanamkan hal tersebut, sejak dini, di sekolah-sekolah kita, maupun di rumah-rumah kita, harus ditanamkan sifat dan sikap amanah dalam masing-masing murid dan anggota keluarga. Bisa dibuat dalam bentuk penanggungjawaban pelaksanaan tugas. Dengan tugas yang spesifik, termasuk segi pelaksanaan dan waktu, juga rewards dan punishment yang sesuai.

Faktor lain yang tak kalah pentingnya, sebagai penyusun kuatnya karakter dan kemajuan bangsa adalah adanya sifat tegar, optimis dan memandang tekanan hidup sebagai tantangan yang dapat dihadapi. Sifat tegar ini bermakna pula ketabahan hati sebagai komitmen yang kuat terhadap diri sendiri sehingga dapat menciptakan tingkah laku yang aktif terhadap lingkungan dan perasaan menetralkan efek negatif stres. (Halaman 146)

Di dalam buku ini, dibeberkan 37 jenis karakter positif yang dilengkapi dengan indikator pencapaian, fakta berupa kisah nyata, deskripsi, renungan, peta berfikir, jenis kegiatan praktek (outing), refleksi, dan reportase setelah melakukan praktek.[]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Character Building ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


7 Tangan Di Balik Kudeta Mesir

Judul : Al-Riddah `an al-Hurriyyah
Penulis : Muhammad Ahmad Rasyid

Militer Mesir tidak sendirian. Ternyata di balik kudeta militer atas Presiden Morsi pada 3 Juli lalu ada tujuh tangan yang bermain sehingga As Sisi berani mengumumkan kudeta yang kemudian menelan korban ribuan umat Islam. Siapakah mereka? Ustadz Muhammad Ahmad Rasyid melalui buku Al-Riddah `an al-Hurriyyah ini mengungkap wajah-wajah mereka beserta perannya.

1. Amerika
Peta kudeta yang terjadi di Mesir adalah peta buatan Amerika yang sudah cukup dikenal, dengan cara memperdaya militer setelah terjadi chaos, serta peran sosmed. Cara yang dilakukan adalah: mengumpulkan orang-orang jahil, para pelaku kriminal. Menyuntikkan dana kepada mereka. Kemudian meminta mereka turun ke jalan untuk memprotes kebijakan politik. Kemudian militer datang dengan melakukan kudeta, seolah-olah kudeta itu adalah sebagai jawaban dari keinginan rakyat, beriringan dengan peran sosmed yang memutarbalikkan fakta. Kemudian mengalirlah bantuan dana internasional, memberikan pinjaman untuk mengukuhkan kudeta dengan cara mengambil hati rakyat dengan memberikan kehidupan mewah yang sifatnya temporal dari sebagian bantuan tersebut, sementara sebagian yang lain digarong oleh para militer dan konco-konconya. Campur tangan Amerika, bukanlah sesuatu yang baru, dan juga bukan sebab kesalahan aktivis dalam memerintah, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang.

2. Israel
Ahmad Rasyid menegaskan bahwa Israel memberikan saham mempercepatkan keinginan Amerika untuk menghancurkan pemerintahan DR. Morsi di Mesir. Dan Israel terus memaksa Amerika agar keinginan ini segera diwujudkan.

3. Negara Teluk
Ahmad Rasyid mengatakan bahwa harta kekayaan milik penguasa teluk terutama Saudi dan Emirat, telah digunakan untuk merusak citra Presiden Morsi. Mengapa? Karena mereka ini adalah sekutu Amerika dari satu sisi. Dan dari sisi yang lain kemunculan Mesir akan akan membuat rakyat mereka memberontak kepada penguasanya. Yang terpenting dari itu semuanya adalah aspek ekonomi yang cukup jelas kenapa negara teluk menyokong kudeta di Mesir. Aspek ekonomi itu nyata sekali pada “Proyek Terusan Suez” yang dijadikan oleh DR. Morsi sebagai proyek unggulannya. Proyek itu akan memberikan income kepada Mesir ratusan miliyar dolar setiap tahun dan akan memberikan 1.000.000 peluang pekerjaan bagi orang Mesir. Akan tetapi Emirat merasa bahwa proyek ini akan memberikan dampak buruk pada proyek yang ada di Dubai. Bukan saja memberikan dampak buruk bahkan bisa mematikan. Karena itu Emirat menyokong kudeta. Yang kelihatan sekali begitu penguasa kudeta berkuasa seminggu langsung projek Terusen Suez dibatalkan.

4. Syiah dan Rakyat Iran
Ahmad Rasyid juga menegaskan bahwa wajah Iran juga ada dalam kudeta di Mesir, ia mengatakan bahwa Iran berkongsi dalam tindakan kriminal ini. Merekalah yang mengatur agar semua Syiah Arab bangkit melawan Morsi. Sebagai buktinya adalah dukungan yang diberikan oleh Dr. Morsi terhadap Krisis Syiria, dan juga sikap Morsi yang menolak usulan-usulan Iran agar dibolehkan mereka untuk bebas menziarahi peninggalan-peninggalan Daulah Fathimiyyah.

5. Qibthi Nasrani
Qibthi Nasrani juga terlibat dalam mendukung kudeta, walaupun di sini Ahmad Rasyid menegaskan bahwa tidak semua qibthi demikian.

6. Islam Palsu
Mereka adalah para masyayikh yang mengubah kebathilan menjadi haq dan haq menjadi bathil.

7. Kaum Sekuler
Ahmad Rasyid menjelaskan bahwa tokoh-tokoh kudeta sekarang sudah punya hubungan intim dengan Amerika sejak masa Husni Mubarak. Sebut saja misalnya Baradai, Sabahi dan Amar Musa. Mereka ini punya hubungan yang kuat sebelumnya dengan Amerika, bahkan mereka telah menjadi bagian dari peta jalan mereka di Timur Tengah. Sebagai bukti laporan Baradai tengan senjata nuklir yang ada di Irak, dimana dia telah memuluskan jalan masuknya Amerika. Begitu juga dengan usaha Amar Musa untuk menekan HAMAS agar mengakui Negara Israel, dan berusaha untuk melupakan permusuhan dengan Israel. Begitu juga sokongan yang telah diberikan oleh Amerika kepada Sabahi, karena Amerika memandang bahwa Sabahi ini adalah orang yang paling bisa menolong karena banyak ide-ide Amerika yang diterima olehnya. Di samping itu juga PM Kudeta Hazim al-Bablawy, karena ternyata bahwa dia ini adalah salah seorang yang ikut menyokong pemindahan kekuasaan kepada Jamal Mubarak dari ayahnya. Ditambah lagi dengan negara-negara yang loyal kepada Mubarak, dimana mereka ini menjadi batu sandungan bagi Presiden Morsi dalam setiap langkah perbaikan yang ingin dilakukannya.

Kewajiban Dakwah
Dari sisi dakwah Ustadz Ahmad Rasyid meemfokuskan pembahasan pada “kewajiban dakwah setelah terjadi kudeta ini”, yaitu kontinu untuk demonstrasi damai, dan terus menjaga “kedamaiannya” sekalipun berjatuhan ratusan atau ribuan syuhada. Semuanya harus yakin bahwa ini adalah pilihan satu-satunya yang benar, yang cocok bagi Mesir pada hari-hari ini, dan pada tahapan ini, walaupun bisa jadi lebih sesuai cara yang lain (selain demonstrasi damai) di negara lain, baik secara syar`i maupun realitasnya, akan tetapi situasi Mesir berbeda. Yang diinginkan oleh musuh adalah kita bertindak “ganas” sehingga ada alasan mereka untuk memukul kita, menjadi kewajiban kita untuk “tidak memberikan” peluang ini kepada mereka.

Menjadi kewajiban dakwah juga “mentarbiyah pada duat dan penyokong dakwah dan yang loyal kepada dakwah untuk terus meningkatkan iman, `iffah dan menjaga akhlaq keprajuritan dan menanamkan rasa rindu untuk syahid di jalan Allah.”

Begitu juga kewajiban duat untuk menyebarkan kesadaran politik kepada rakyat melalui berbagai macam somed dan sarana tarbawiyyah, membangkitkan semangat untuk terus maju, berfikiran positif, selalu berada di garda terdepan, berani menantang untuk mengukir sejarah kehidupan”.

Beberapa Manfaat
Pada bagian akhir buku ini Ustadz Ahmad Rasyid menjelaskan beberapa manfaat. Bahwa beliau melihat bahwa kudeta telah memberikan dampak positif bagi dakwah, diantaranya:
1. Bahwa dakwah telah berhasil memperoleh loyalitas mayoritas rakyat Mesir, juga mayoritas masyarakat Arab, dan kaum muslimin di dunia Islam, dan juga kebanyakan masyakarat dunia di dunia ketiga, sama saja di Barat ataupun di Timur. Dan ini adalah tahapan baru bagi sebaran dakwah yang telah berhasil pertama sekali dalam sejarah dalam capaian sebesar ini.
2. Kita telah mendapatkan seorang “pahlawan” yang kaya dengan kebaikan, pemimpin Qur`ani, faqih, yang telah mengingatkan umat Islam semuanya bukan hanya di Mesir saja.
3. Kudeta ini telah melahirkan tingkat tertinggi dari pengerahan potensi kekuatan Islam, bersamaan dengan tingkat keyakinan yang paling tinggi terhadap nilai “kontribusi”, “pengorbanan”, “sabar”, “tsabat”, begitu juga kudeta ini telah meledakkan potensi wanita yang selama ini tersembunyi.
4. Kudeta menyingkap orang-orang yang menyelinap masuk ke dalam barisan Islam dan menimbulkan kedustaan.
Di akhir bukunya Ahmad Rasyid menegaskan pentingnya tsiqah kepada Allah bahwa masalah Mesir telah menjadi masalah umat Islam semuanya, kemenangan umat Islam di Mesir akan menjadi kunci bagi kemenangan berikutnya di seluruh negara. []

Resensi diterjemahkan dari EgyptWindow
Oleh Ustadz Usman Jakfar, Ketua Bidang Kaderisasi PIP PKS Malaysia

DR. Moursi, President From Hero to Superhero

DR MOURSI President from Zero to Superhero
Judul : DR. Moursi, President From Hero to Superhero
Penulis : Abdurrahman Al-Anbari
Penerbit : Aufa International - Bandung
Tebal : xiv + 196 Halaman ; 13,5 x 20,5 cm
Cetakan : I ; September 2013
ISBN : 978-979-1370-30-1

Kudeta berdarah Militer terhadap kepemimpinan resmi Muhammad Mursi di Mesir, merupakan tragedi paling memilukan sepanjang tahun ini. Bagi sejarah Demokrasi, kudeta ini menambah daftar merah tentang ‘kedigdayaan’ demokrasi itu sendiri. Sehingga, demokrasi yang diklaim sebagai suara Tuhan suara rakyat, seakan tak bermakna ketika berhadapan dengan tangan besi kaum militer.

Sudah menjadi mafhum, ketika kudeta terjadi, maka babak berikutnya adalah penculikan, penindasan, tindakan-tindakan anarkis tak berperikemanusiaan, hingga pemusnahan massal dengan dalih menghalau para pengacau.

Jika kita mengamati dengan seksama, apa yang dilakukan oleh pendukung Presiden syah Republik Mesir ini, merupakan cara yang belum dilakukan oleh pejuang manapun. Mereka sama sekali tidak melakukan protes dengan jalan kekerasan atau perang fisik, melainkan demo damai menuntut Presiden mereka kembal bertahta dalam singgasana kepresidenan. Tak tanggung-tanggung, aksi ini dijalankan berbulan-bulan, di segala tempat dengan cara yang tak biasa. Dalam lapangan-lapangan juang itu, mereka melakukan tilawah berkelompok, tarawih berjama’ah, qiyamullail berjama’ah dan aktivitas-aktivitas lain yang bernilai ibadah di sisi Allah. Tak heran, jika majalah sekelas TIME menurunkan berita bertajuk Demonstran Paling Damai di seluruh Dunia untuk meliput aksi damai pendukung Mursi tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Kudeta Berdarah ini didukung oleh Amerika dan Zionisme Internasional. Ditambah lagi dengan sikap banci negara-negara teluk. Amerika yang mengklaim diri sebagai Guru Besar Demokrasi, dalam hal ini menunjukkan wajah mereka yang sesungguhnya. Karena faktanya, mereka menyalurkan bantuan milyaran dolar untuk militer beberapa bulan sebelum Kudeta Berdarah terjadi. Sedangkan Zionis, melakukan hal ini lantaran takut akan kekuasaan Islam yang dimotori oleh Mursi dan pendukungnya. Sehingga, jika kepemimpinan Mursi dibiarkan, maka keberlangsungan mereka sebagai penjajah Palestina, tinggal menghitung hari.

Zionis menyadari sepenuhnya, bahwa bebasnya Palestina akan bermula dari Suriah dan Mesir. Maka, Mursi yang pro Islam, harus segera disingkirkan, bagaimanapun caranya. Ironisnya lagi, hampir seluruh komponen Militer Mesir, merupakan didikan Zionis dan Amerika. Sehingga tentara-tentara itu, merasa berhutang budi kepada ‘bosnya’. Tatkala ‘bos’ menitahkan perintah, maka tak mungkin mereka memungkiri perintah tersebut.

Kudeta ini juga dilatarbelakangi karena keakutan Amerika dan Zionis atas sosok Mursi sendiri. Beliau memang anak petani, tapi beliau berhasil mengamalkan Islam, dalam diri dan keluarganya. Beliau merupakan satu-satuya Presiden yang hafal al-Qur’an saat ini. Keluarga beliau –istri dan anak-anaknya- juga penghafal al-Qur’an. Dalam bidang keilmuan, Mursi merupakan sosok Doktor Teknik lulusan Amerika. Kemudian, begabungnya beliau dalam Ikhwanul Muslimin menjadikan beliau sosok yang tegar, tak mudah menyerah dan berani mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk kejayaan Islam.

Dalam tataran keislaman, Mursi ingin meningkatkan derajatnya sebagai seorang Muslim. Agar Islam tak hanya tegak dalam diri dan keluarganya, tetapi juga dalam tataran negara dan dunia.

Sehingga, jangan heran, Mursi merupakan sosok Presiden sederhana yang tidak mau menempati istana Kepresidenan. Ia memilih untuk menyewa apartemen di dekat kantornya. Beliau juga tidak mengambil gajinya. Bahkan, anak-anaknya tidak ada yang menduduki jabatan strategis. Satu diantaranya, memilih untuk tetap menjadi dokter di Arab Saudi. Ia juga sosok yang dekat dengan rakyat, tidak gila protokoler. Dalam keseharian, beliau terbiasa sholat berjamah bersama rakyat jelata, tanpa paspamres yang seringkali merepotkan warga.

Tak berhenti sampai di sana, beliau berhasil menasionalisasi terusan Suez, swasembada gandum sehingga menghentikan impor dari Amerika, membangun pabrik gadget, mobil, dan banyak lagi yang lainnya. Kepeduliannya terhadap Palestina juga bukan isapan jempol atau retorika. Melainkan sebuah bukti, meski belum semuanya tercapai. Setelah menjabat, perbatasan Mesir - Palestina langsug dibuka, sehingga warga Gaza bisa keluar masuk untuk mencukupi kebutuhan mereka dengan damai. Sehingga, tak berlebih-lebihan jika majalah sekelas TIME, menyatakan bahwa Mursi merupakan salah satu orang paling berpengaruh di dunia tahun 2013 ini.

Namun begitulah, dalam sejarah perjuangan, tak kan pernah sepi dari rintangan. Selalu saja ada onak dan duri yang menanti. Mursi digulingkan dari kursi Kepresidenan dengan dalih gagah memimpin, padahal baru menjabat satu tahun. Dia dipaksa berhasil menyelesaikan kerusakan Mesir warisan Mubarok selama enam puluh tahun dalam masa satu tahun jabatannya.

Yang patut kita jadikan catatan dalam kehidupan kita, setidaknya ada dua hal. Pertama, ketika Mursi didatangi oleh Jenderal Subkhi agar Mursi menyerahkan Mesir ke tangan militer, dia dengan lantang menjawab, “Pergilah! Kau telah mengganggu waktu qiyamullailku.” Setelah Ia dijebloskan ke dalam tahanan militer, hanya dua hal yang diminta. Yakni Sajadah dan al-Qur’an. Hingga kini, kita belum mengetahui dimana Mursi berada. Tapi kita semua berharap, semoga keadilan akan kembali tertegak di bumi ini. Karena penjajahan di atas dunia, harus dihapuskan. Karena penjajahan, tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Buku ini, yang ditulis oleh lulsan Al-Azhar, dimana penulisnya secara seksama mengamati serta menyaksikan langsung dari tempat kejadian, menyajikan sebuah fakta tak terbantahkan akan kekejaman rezim militer serta gigih dan tegarnya Mursi dan Pejuang-pejuang Kebenaran di Mesir.

Laporan dalam buku ini dinukil perhari, bahkan permenit. Dimulai dari sebelum Kudeta, ketika dan setelah kudeta, aksi damai pendukung Mursi dan prediksi Mesir paska kudeta. Dalam sejarah perbukuan di tanah air, ini merupakan buku ketiga yang mengupas kehidupan Mursi dan perihal Kudeta Berdarah. Sebelumnya, sudah ada buku DR Mursi Presiden yang Hafal al-Qur’an dan Air Mata Presiden Mursi. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Ayat-ayat Sehat ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Senad Hadzic, Naik Haji Jalan Kaki 5700 Km dari Bosnia

Naik Haji Jalan Kaki 5700 Km dari Bosnia
Judul : Senad Hadzic, Naik Haji Jalan Kaki 5700 Km dari Bosnia
Penulis : Mujahidin Nur
Penerbit : Zahira
Cetakan : 1 , Oktober 2013
Tebal : 186 Halaman
ISBN : 978-602-1258-36-1

Seorang lelaki Muslim Senad Hadzic, 47 berjalan kaki sejauh 5700 km atau tepatnya 5,650km dari Bosnia menuju Mekah, Arab Saudi, guna menjalankan ibadah haji. Kepada BBC dia mengaku, Allah menjaganya ketika dia berjalan melintas negara yang sedang berkecamuk perang, Suriah. Hadzic mengatakan dia menghabiskan beberapa jam di perbatasan Suriah, tawar menawar dengan petugas imigrasi untuk mendapatkan visa. Kemudian dia berhasil bernegosiasi melewati beragam pos penjagaan - diantaranya dijaga oleh tentara pemerintah, dan yang lainnya dijaga pemberontak. "Beberapa diantara mereka bahkan mencium Qur'an yang saya bawa," katanya. Haji ke Mekkah merupakan rukun ke lima Islam - tugas yang dilakukan Muslim jika mampu setidaknya sekali dalam hidup.

Hadzic memulai perjalanannya di sebuah kota dekat ibukota Bosnia, Sarajevo, akhir tahun lalu. Dan cobaan pertama yang harus dia hadapi adalah melewati suhu minus 35 derajat Celcius di Bulgaria. "Setiap harinya tidak semakin mudah, setiap hari selalu susah. Tetapi sekaligus mengasyikan pada saat bersamaan," katanya. Ketika dia mendapatkan visa Suriah, dia mengatakan, seorang petugas tentara Presiden Bashar al-Assad meminta saya untuk berdoa untuknya di Mekah, jika saya berhasil keluar dari Suriah hidup-hidup".

"Jalanan diantara perbatasan di mana saya masuki, dan kota Aleppo penuh dengan batu-batu besar. Pemberontak melemparkan batu agar mobil dan bas sukar bergerak. Orang dengan keluarga jelas sukar keluar dengan mobilnya."

Dia kemudian mengatakan bahawa mendapatkan visa Suriah ""tidak ada artinya - karena seorang pejuang pemberontak bisa keluar dari ladang jagung dan meminta pasport anda".
"Tidak ada yang menembak saya. Saya dihentikan oleh orang bersenjata memeriksa pasport saya. Tetapi ketika saya mengatakan saya dalam perjalanan menuju Allah, baik pemberontak mau pun tentera Presiden Assad membiarkan saya pergi." Selain membawa al Qur’an Hadzic juga membawa Injil di tas punggungnya, dia mengaku membawa kedua kitab suci tersebut "kerana saya orang yang sangat agamis".
"Jika saya tidak percaya kepada Allah bahwa dia bersama saya, melindungi dan menjaga saya, saya mungkin tidak akan mampu melewati Bulgaria, apalagi Mekah."
"Saya berjalan melintas tujuh negara, dua gurun, sejauh 5,700 kilometer, tanpa uang, hanya dengan sebuah tas punggung seberat 20 kilogram," katanya kepada BBC.

Hadzic akhirnya sampai ke Mekkah pada Sabtu (20/10) dan langsung sujud dan berdoa di tanah suci. Subhanallah.

Kisah Senad Hazdic itu diabadikan dalam sebuah buku berjudul Naik Haji Jalan Kaki 5700 Km dari Bosnia. []


Penulis : Mujahidin Nur
Writer for Indonesian and Malaysian Publishers




Ayat-Ayat Sehat

Ayat-ayat Sehat
Judul : Ayat-Ayat Sehat
Penulis : Yuga Pramita
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : I ; 2013
Tebal : 208 Halaman ; 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-7820-08-1
Harga : Rp 32.000,-

Sehat adalah mutiara berharga dalam sejarah kehidupan seseorang. Bagi muslimin, sehat merupakan karunia yang bisa semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. Dalam sebuah hadits, sehat dikategorikan dalam satu dari dua hal yang sering dilupakan oleh kaum muslimin. Bahkan, sehat baru benar-benar dirasakan kemanfaatannya ketika seseorang tengah diuji dengan sakit.

Bagi sebagian kalangan, dan mungkin kita satu diantaranya, sehat merupakan barang mahal. Memang, sehat itu mahal. Meskipun, jika kita mau merelakan hidup dengan aturan Allah, maka sehat menjadi barang yang murah meriah dan bisa kita dapati dari beragam cara.

Sehat bermula dari hati, bisa diindikasi dengan adanya sikap ikhlas. Setulus hati melaksanakan perintah Allah. Memang, ikhlas adalah urusan sangat pribadi antara Allah dengan pelaku amal. Tapi amalan ikhlas ini, bisa dibuktikan dalam diri seseorang. Hal ini, dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh DR. M. Sholeh. Dalam penelitiannya terhadap orang yang melakukan shalat tahajjud di seprtiga malam, didapati dua kelompok. Kelompok pertama merasa tenang, damai, sehat dan bahagia. Sedangkan kelompok kedua, mengalami sebaliknya. Gelisah, gundah gulana, pegel dan sedih. ( Hal 17 ). Dua hal yang bertolak belakang itu, erat kaitannya dengan kadar keikhlasan seseorang dalam menjalankan apapun, khususnya ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Menuntut ilmu juga disinyalir bisa menjadi salah satu kunci kebahagiaan karena di dalamnya terdapat beragam aktivitas yang menjadi kunci-kunci kesehatan. Menuntut ilmu, setidaknya memiliki enam manfaat : Meninggikan Derajat, Memudahkan Seorang Masuk Surga, Deposito Pahala Sepanjang Masa, Menjauhakn dari Perasaan Miskin, Melindungi dari Penyakit, Meningkatkan Usia Harapan Hidup. ( Hal 19-21)

Menuntut ilmu juga erat kaitannya dengan membaca. Baik berupa buku yang bermanfaat, terutama al-Qur’an. Membaca secara umum, khususnya membaca al-Qur’an, juga merupakan obat mujarab bagi berbagai penyakit dan menjadi salah satu kunci sehatnya seseorang. Hal ini, salah satunya, dibuktikan oleh Annie Sabri. Seorang penderita penyakit Asma selama 20 tahun. Sudah berobat ke berbagai tempat, namun nihil. Hingga akhirnya, ia merutinkan membaca al-Qur’an.

Allah punya Kuasa. Lantaran kesungguhan dan baik sangkanya kepada Allah, dimana dalam aktivitas membaca al-Qur’an ada latihan pernafasan dan install muatan-muatan positif ke dalam diri seseorang, Annie Sobari kemudian dinyatakan sembuh dari penyakit Asmanya.

Ikhlas, menuntut ilmu dan membaca, hanyalah secuil contoh dari aktivitas yang bisa menyehatkan seseorang. Masih banyak hal lain yang jika kita galih, ternyata merupakan kunci kesehatan dalam kehidupan kita.

Sebut saja misalnya, aktivitas bersin. Mungkin, bersin menjadi hal yang sangat biasa dan tidak memiliki faedah apapun. Padahal, dalam penelitian terbaru, bahwa udara yang keluar sewaktu bersin bisa mencapai kecepatan 950 km/jam. Sehingga ribuan kuman dan kotoran yang hendak masuk ke dalam tubuh, bisa serta merta terpental keluar. Mungkin, ini adalah salah satu bukti kenapa Rasulullah menyunahkan kepada kita untuk mengucap Alhamdulillah ketika bersin. ( Hal 48 )

Masih banyak hal lain yang bisa dijadikan sumber kesehatan, jika kita mengetahui ilmunya. Termasuk di dalamnya, Shalat yang rutin kita lakukan, puasa, lauk-pauk meliputi sayur dan daging, buah-buahan istimewa, menikah, berhubungan suami istri, sedekah dan air mata yang dikeluarkan karena menyadari dosa, juga hal lain di sekitar kita.

Buku ini, dilengkapi dengan penelitian-penelitian terkini, dipadukan dengan teks-teks langit yang tak terbantahkan. Sehingga, bagi kita kaum muslimin, dan umat manusia pada umumnya yang mendamba kesehatan sejati, wajib membaca, menelaah dan mempraktekannya dalam keseharian. Akhirnya, sehat adalah pilihan orang-orang yang berakal dan keniscayaan bagi mereka yang beriman dan menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan melalu sunnah NabiNya. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Ayat-ayat Sehat ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Ya Allah, Siapa Jodohku?

Ya Allah, Siapa Jodohku
Judul : Ya Allah, Siapa Jodohku?
Penulis : Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit : Quanta - Jakarta
Cetakan : III , Juni 2013
Tebal : 189 Halaman
ISBN : 978-602-02-0719-3

Membicarakan jodoh, adalah membincang satu dari sekian banyaknya misteri kehidupan. Ia benar-benar tidak bisa diprediksi oleh professor sehebat apapun. Bahkan, peramal yang katanya sudah malang melintang dan mendunia di dunia paranormal sekalipun, tidak akan mungkin bisa memprediksi tentang kemisterian jodoh itu sendiri.

Oleh karena itu, hal terbaik yang harus kita lakukan terkait jodoh adalah menggantungkan sepenuhnya kepada Allah setelah selesai melakukan upaya-upaya ikhtiari dalam menjemputnya. Sehingga, momentum perjodohan itu, ketika dua pengantin bersanding di pelaminan, dan berlanjut hingga jenjang waktu yang lama, bisa dijalani dengan harapan penuh akan kekuasaan Allah yang Maha Menyatukan Hati.

Sayangnya, dalam satu hal ini – dan mungkin juga dalam banyak hal lain- banyak diantara kita yang dilanda kegamangan akut, hingga masuk pada taraf galau. Galau yang terjadi sebelum jodoh menyambut, lebih disebabkan karena lemahnya kebergantungan seseorang kepada Allah. Sehingga, banyak muda-mudi yang salah menyalurkannya melalui jalan pacaran.

Pacaran diklaim sebagai tahap perkenalan sebelum menikah. Padahal, dalam prakteknya, pacaran lebih pada ajang penyaluran dosa lantaran tidak menaati perintah Allah. Pacaran juga disinyalir menjadikan muda-mudi itu memperlambat persiapan diri sehingga terlambat dan menghambat nikah. Hal ini, merupakan salah satu penyebab terjadinya aneka jenis penyimpangan seksual dan kriminalitas yang akhir-akhir ini menjadi fenomena cendawan di tengah musim penghujan.

Alasan lain yang sering digunakan oleh mereka yang menunda menjemput jodoh, adalah tentang penghasilan. Nunggu lulus kuliah, nunggu mendapat kerja yang layak, nunggu punya motor, mobil, rumah dan tabungan puluhan juta rupiah serta alasan materi lainnya yang nampak logis, padahal sebenarnya dipaksakan.

Yang terjadi justru sebaliknya. Jika niat menjemput jodoh dilakukan dengan niat yang benar, yakin akan keMahaKuasaan Allah, maka kekayaan dan aneka jenis materi itu akan Allah berikan tanpa henti. Bahkan, nikah sebagai sarana paling syar’i dalam menjemput jodoh, ibarat kran yang membuat rejeki semakin mengalir. Tanpa henti.

Maka, mereka yang masih galau terhadap jodoh, perlu dididik dengan benar akan jaminan kekayaan yang akan Allah berikan selepas nikah. Sehingga, kegamangan yang melanda bisa berangsur-angsur hilang dan berganti dengan kemantapan.

Apalagi, setelah menikah dengan benar, seseorang akan mempunyai rasa tanggung jawab yang lebih jika dibanding sebelum menikah. Ada diri yang harus dicukupi, ada istri yang harus dinafkahi, ada anak yang harus dibiayai. Ada pula banyak kebutuhan yang harus ditunaikan.

Buku yang merupakan karya Best Seller dari Ahmad Rifa’i Rif’an ini, memberikan sajian yang menarik terkait jodoh. Apalagi, penulisnya sudah membuktikan secara langsung dan terbukti kebenarannya. Disajikan dengan mengalir, sederhana, tak terkesan menggurui dan sarat hikmah.

Sangat disayangkan jika dilewatkan oleh mereka yang tengah berupaya menyambut jodoh, laki-laki maupun perempuan, juga penting untuk orang tua yang menghendaki jodoh terbaik untuk putra-putrinya.

Akhirnya, jodoh erat kaitannya dengan kelayakan. Bahwa orang baik, pastilah bersanding dengan orang baik pula. Satu hal yang perlu dicatat. Keberkahan bukan hanya terletak pada seberapa cepat seseorang menikah. Tapi lebih dari itu, terletak pada seberapa benar niat menikah dan persiapan ilmu sebelum mengarungi samudera bergelombang bernama menikah. Sehingga, hal ini tidak membuat saudara kita yang belum bertemu menjadi galau. Melainkan menguatkan niat untuk dianugerahi rejeki berupa jodoh terbaik, dan bersabar dengan sepenuh hati ketika ia belum juga menyapa.

Bukankah, ada banyak orang hebat yang tetap melejang ketika ajal menjemputnya? Dan, tidak sedikit mereka yang mendapat kemuliaan di sisi Allah lantaran memuliakan sunnah dengan menikah? Semoga kita semakin mengerti, bukan sekedar menikah, tapi bagaimana semakin menebalkan kuantitas dan kualitas taqwa sebelum atau selepas ada suami istri dan anak-anak yang setia menemani. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Ya Allah, Siapa Jodohku ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Fikih Manhaji 2

Fikih Manhaji Jilid 2
Judul Asli : Al-Fiqh al-Manhaj ‘ala al-Madzhab al-Imam asy-Syafi’i
Judul Terjemahan : Fikih Manhaji; Kitab Fikih Lengkap Imam Syafi’i (Jilid II)
Penulis : Dr. Mushthafa al-Bugha, Dr. Mushthafa al-Khan, Ali al-Syurbaji’
Penerbit : Darul Uswah ( Kelompok Pro-U Media) – Yogyakarta
Cetakan : 2012
Tebal : 844 Halaman ; 16 x 24 cm
ISBN : 978-979-8143-20-5
Harga : Rp 150.000,-

Ilmu Fikih menjadi salah satu bukti akan kesempurnaan agama Islam sebagai agama terbaik di sisi Allah dan di muka bumi. Di dalam ilmu ini, tidak hanya dibahas bagaimana adab seorang hamba saat akan berhubungan dengan Penciptanya. Tapi juga membahas tentang bagaimana seharusnya ia bersikap dengan sesamanya. Karena dalam Islam, tidak ada dikotomi antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Keduanya diatur dengan sangat proporsional dan penuh dengan kesempurnaan.

Satu diantara tujuh bidang ilmu Fikih adalah tentang interaksi dengan sesama manusia. Baik terkait jual beli atau kerjasama kemitraan lainnya. Sehingga, sebagai seorang muslim, mengetahui ilmu tentang hal ini menjadi keniscayaan. Agar Islam bisa diejawantahkan dalam berbagai aspek, di semua tempat.

Guna mengetahui secara pasti dan detail tentang Fikih itu sendiri, dibutuhkan guru dan juga panduan yang menyeluruh dari sumber yang benar. Sehingga kredibiltasnya bisa dipertanggungjawabkan dan bernilai ibadah.

Oleh karena itu, keberadaan Kitab Fikih ini menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan setelah adanya guru dalam memahami agar tidak asal dalam menafsirkan. Jika dalam Kitab Fikih Imam Syafi’i Jilid I banyak dibahas tentang adab individu sebelum berhadapan dengan Allah secara langsung, maka dalam Jilid II ini banyak dibincang tentang aneka jenis hubungan dengan sesama manusia dalam bingkai muamalah.

Jilid II ini terdiri dari 3 juz. Mulai juz 6 sampai dengan juz 8. Di dalam juz 6, terdiri dari 10 bagian meliputi : Jual Beli, As-Salam (Uang Muka), Riba, Sharf (Jual Beli Alat Tukar), Qaradh (Pinjaman), Hibah (Pemberian tanpa mengharapkan imbalan), Ijarah (Sewa-Menyewa), Ji’alaah (Upah), Ash-Shulh (Akad untuk mengakhiri perselisihan antara dua orang/perdamaian ), dan Hiwalah (Akad Pemindahan Pembayaran Hutang).

Memasuki Juz 7, pembaca akan diajak untuk mendalami 13 pembahasan penting meliputi : Asy-Syuf’ah (Penggabunagn kepemilikan antara dua mitra ke dalam salah satu mitra), Al-Musaaqaah (Transaksi antara pemilik tanah atau kebun kepada seseorang untuk mengurus kebunnya, meliputi pengairan dan sejenisnya), Al-Muzaara’ah dan Al-Mukharabah (Akad kerja sama antara pemilik lahan dengan seseorang untuk mengelola lahan miliknya. Jika Al Muzara’ah berarti benih dari pemilik lahan, sedangkan al-Mukharabah berarti benih berasal dari pekerja), ‘Aariyah (Peminjaman barang yang bermanfaat tapi tidak menyebabkan berkurangnya barang yang dipinjamkan. Misal : meminjamkan mobil atau baju.)

Selanjutnya, ada tema tentang Asy-Syirkah (Kerjasama untuk menghasilkan keuntungan, baik investasi atau bukan), Mudharabah (Penyerahan modal kepada orang lain untuk dipakai berniaga dengan pembagian keuntungan berdasarkan kesepakatan), Wadi’ah (Akad penitipan terhadap penjagaan sebuah barang), Al-Luqathah (Hukum tentang penemuan barang yang bermanfaat, di sebuah tempat yang tidak diketahui pemiliknya), Ar-Rahn (Akad Gadai, bisa berupa jaminan sebuah barang untuk pembayaran hutang. Jika hutang tidak bias dilunasi, maka jaminan tersebut yang digunakan untuk melunasi), Kafaalah (Kesediaan untuk menunaikan kewajiban yang menjadi beban orang lain), Al-Wakaalah (Penjagaan, perlindungan atau pelimpahan kekuasaan), Al-Ikraah (Memaksa orang lain melakukan sesuatu yang tidak disukainya), dan Ghashab (Mengambil hak orang lain secara dholim) .

Sedangkan di juz terakhir, pembaca akan disuguhi penjelasan menyeluruh nan sederhana yang terdiri dari 10 bagian. Yaitu: Jinayat dan Hudud, Jihad, Al Futuwwah (Keperwiraan), Al-Lahwu (Hiburan), Al-Qadhaa’ (Peradilan), Ad-Da’awaa (Gugatan) Asy-Syahaadaat (Kesaksian) dan Al Yamiin (Sumpah), Al Qismah (Pembagian), Al Iqraar (Pengakuan), Al-Hajr (Pencegahan Bertindak), dan Al-Imaamah al-‘Uzhmaa’ (Kepemimpinan dalam Islam).

Dalam masing-masing bab, dijelaskan tentang pengertian secara bahasa dan istilah, syarat dan rukun, dalil dari Al-Qur’an serta banyak riwayat hadits shahih yang menjadi dasar hukum, dijelaskan pula hikmah pensyari’atan dari hukum-hukum tersebut. Satu hal yang menjadi ‘sedikit’ kekurangan dalam kitab terjemahan ini adalah pada beberapa penulisan.

Misalnya di halaman 4 tertulis bahwa kitab ini terdiri dari 1044 halaman, padahal jumlah halamannya hanya 844. Hal serupa dijumpai pula dalam halaman 11 (Daftar Isi). Tertulis Hikmah Haji dan Umrah di Halaman 194. Sedangkan di halaman tersebut, pembahasannya adalah bab Landasan dan Hikmah Ji’aalah (Upah).

Di luar kekurangan yang secuil itu, Kitab ini merupakan kebutuhan wajib bagi setiap keluarga Muslim di negeri ini. Apalagi, Madzhab Syafi’i dianut oleh mayoritas kaum muslimin di negeri Jamrut Kathulistiwa ini. Semoga kita semakin mengerti, bahwa beragama tanpa ilmu bagaikan pengendara mobil yang tidak mengetahui bagaimana menjalankanya. Jangankan sampai ke tujuan, untuk menghidupkan mesin dan memulai menyetir saja gagap. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Fikih Manhaji Jilid 2 ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Agar Jodoh Idaman Berlabuh di Pelaminan

Agar Jodoh Idaman Berlabuh di Pelaminan
Judul : Agar Jodoh Idaman Berlabuh di Pelaminan
Penulis : Mas Udik Abdullah
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : II ; 2013
Tebal : 205 Halaman ; 12 x 20 cm
ISBN : 979-1273-83-9
Harga : Rp 32.000,-

Membicarakan jodoh, sama dengan membincang misteri kehidupan itu sendiri. Karena dalam undang-undang langit telah ditetapkan, bahwa jodoh adalah satu diantara banyaknya misteri kehidupan. Ia sama dengan rejeki juga ajal seseorang. Diantara bentuk kemisterian jodoh itu, kita tidak pernah tahu akan menikah dengan siapa, orang mana, anak siapa dan detail lain tentang jodoh kita. Baik sebelum ia bersanding di pelaminan. Ataupun, ketika misalnya kita sudah bersanding di pelaminan sebagai suami istri. Kita tidak pernah tahu, apakah dia akan menemani kita sepanjang hidup, atau pasangan kita lebih dulu menghadap Allah, atau bercerai di tengah jalan.

Satu hal yang harus kita lakukan karena misteri itu adalah keharusan untuk menggantungkan diri kepada Allah. Dia Maha Mengatur. Dia Maha Tahu siapa yang terbaik bagi kita. Dia Maha Mengerti akan apa yang kita butuhkan. Jika hal ini yang berhasil kita lakukan, maka terhadap satu misteri kehidupan ini, kita tak lagi mempunyai sedikitpun keraguan jika jodoh yang diidamkan tak kunjung bertamu. Karena satu-satunya hal yang layak membuat seorang mukmin risau adalah ketika Allah tak lagi ridho dengan dirinya.

Berbicara jodoh idaman, sejatinya sangat relatif jika dihadapkan pada selera masing-masing manusia. Apalagi, jika acuan yang dijadikan pedoman tidaklah jelas. Misalnya, ketika idaman diidentikkan dengan kecantikan. Maka, mereka yang menikah dengan seseorang yang kurang cantik, dianggap tidak mendapatkan jodoh yang diidamkan. Begitupun seterusnya. Ketika idaman diidentikkan dengan fisik dan duniawi, maka selamanya idaman bersifat relatif.

Sehingga, bagi seorang muslim yang mukmin, apalagi aktivis dakwah, jodoh idaman adalah jodoh yang sudah ditentukan kriterianya oleh Rasulullah. Yaitu yang baik agamanya, menawan perangainya. Jika hal ini yang dijadikan acuan, maka idaman, sejatinya adalah menurut Allah dan RasulNya, bukan menurut pribadi kita.

Jika acuan itu sudah dipegang teguh, selanjutnya kita bisa menambah kriteria idaman. Tentu, tambahan kriteria idaman ini tidak boleh keluar dari undang-undang Syaria’ah Islam. Maka, ketika seorang yang kita ingini untuk menjadi jodoh sudah baik agama dan akhlaknya, selanjutnya kita bisa menilik kriteria lain yang bisa membuat diri semakin mencintainya. Misalnya kecantikan, kekayaan, nasab yang bagus, subur rahimnya, sekufu dalam agama, yang perawan dan bukan dari kerabat dekat. (Bab IV).

Tentu, kesemua itu setelah seseorang sudah terbukti baik agama dan akhlaknya. Sehingga bukan menjadi hal yang pokok apalagi keutamaan. Karena dalam banyak hal, Rasul sudah mengingatkan, bahwa ketika kecantikan atau ketampanan menjadi sebuah alasan utama untuk menikah, maka bersiaplah untuk kecewa. Karena fisik hanya akan bertahan dalam hitungan tahun. Jika harta yang dijadikan acuan, maka bersiaplah menjadi miskin. Jika keturunan yang diunggulkan, maka bersiaplah untuk direndahkan.

Kesemua hal itu mengingatkan kepada kita, bahwa menikah adalah perintah Allah dan kita harus menjalani pula sesuai dengan peraturan yang telah Dia gariskan, bukan semau diri sendiri.

Selanjutnya, idaman akan menjadi lebih mudah didapatkan ketika diri menyederhakan kriteria sesuai dengan apa yang Rasulullah ajarkan. Sehingga tidak mempersulit apa-apa yang telah dimudahkan oleh Allah.

Setelah selesai tentang kriteria idaman, hal berikutnya adalah melayakkan diri. Ini paling penting. Karena Rasulullah telah mencontohkan, bahwa hanya beliaulah yang layak mempersunting Ummu Khadijah al Kubro. Padahal sebelum itu, banyak petinggi Quraisy yang melamar janda dua kali itu. Dalam kasus ini, Khadijah yang janda adalah jodoh idaman Sang Nabi yang ketika itu masih lajang. Begitupun dengan Ali dan Fathimah. Karena sebelum itu, Nabi menolak lamaran Abu Bakar, Umar dan Utsman yang berniat mempersunting Fathimah.

Melayakkan diri dimulai dengan niat. Menikah hanya karena Allah (Hal 113). Selanjutnya, perbanyak kebajikan (hal 118). Berupaya meraih pernikahan ruhani (Hal 120). Siap dalam suka dan duka (hal 126). Menjemput di tempat yang baik (Hal 129). Mengubah kriteria dan kekuatan doa (hal 134 )

Setelah upaya ikhtiari sudah dimaksimalkan, tentu saja diri tidak selamanya mendapatkan yang diidamkan. Di sinilah peran kesiapan dan keshalihan. Bahwa mereka yang telah memilih hanya karena Allah, maka dia siap untuk mengidealkan apa yang sebelumnya tidak ideal. Ini sangat wajar, karena yang ideal di dunia ini hanyalah Rasulullah. Meskipun kita tahu, seideal apapun kehidupan beliau, tetaplah penuh dengan ujian yang mendewasakan dan bisa dijadikan pelajaran bagi kita.

Lantas, jika ternyata orang yang dinikahi bukanlah jodoh idaman seperti dalam imajinasi kita? Buku ini memberikan jawaban yang menyeluruh atas hal tersebut.

Pertama, Mulailah dengan Rasa Syukur. Syukurilah karena pasangan kita mau menerima kita apa adanya. Jika memang fisiknya belum cantik, dia pasti memiliki kelebihan. Misalnya lembut, pandai memasak, perhatian, dan aneka kelebihan yang lain.

Kedua, Cinta Allah sebagai Cinta Tertinggi. Kembalilah berkaca tentang niat awal dalam menikah. Bahwa pasangan yang kita cintai hanyalah sarana dalam beribadah. Agar selepas nikah, agama kita menjadi sempurna, dan kita bisa lebih mencintai Allah di atas segalanya.

Ketiga, Jadikan Rumah sebagai Ladang Amal Shalih. Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hal ini. Misalnya membiasakan keluarga untuk melakukan amalan sunnah, membiasakan shalat tahajud berjamaah bersama istri dan anak-anak, mendirikan Majlis Ta’lim di rumah, dan seterusnya. Minimalisasi amalan sia-sia di dalam rumah kita. Jika bisa, hilangkan.

Keempat, Perbaiki Diri. Perbaikan diri bukan hanya sebelum menikah. Setelah menikah, hal itu justru lebih wajib. Apalagi sebagai kepala keluarga yang merupakan contoh bagi istri dan anak-anak. Perbaikan diri ini harus dilakuakn secara terprogram sehingga keberhasilannya bisa diukur dengan baik. Jadikan anak dan istri sebagai mitra. Insya Allah buahnya akan masak dengan sempurna.

Kelima, Didiklah Pasangan Anda. Ingat satu hal, istri kita bukanlah pembantu. Kerjanya bukan hanya sumur, dapur dan kasur. Apalagi jika istri kita adalah seorang sarjana. Jangan sampai tingkat intelektualitasnya tidak berkembang bahkan berhenti selepas menikah. Jika itu yang terjadi, bisa jadi hal itu merupakan dosa besar kita sebagai seorang suami.

Keenam, Pentingnya Komunikasi. Dalam biduk rumah tangga, salah faham menjadi sebuah kepastian. Pasti pernah terjadi. Seberapapun kadarnya. Maka dalam hal ini, komunikasi menjadi kunci penting untuk meminimalisasi keretakan apalagi perpecahan dalam rumah tangga. Komunikasi yang baik akan menautkan apa-apa yang sebelumnya retak.

Ketujuh, Ingat Kebaikan Pasangan. Carilah sebanyak mungkin kebaikan pasangan. Dan, jangan malu untuk mengungkapkannya sesering mungkin. Ucapkan “terima kasih” atas keikhlasannya, ucapkan “maaf” jika kita berlaku salah, dan sesekali bahkan seringkali, berikanlah hadiah untuk dia yang kita cinta.

Kedelapan, Sadar Diri dan Tidak Gemar Mencela. Sadarilah bahwa kita banyak salah. Sadarilah bahwa kita bukan manusia yang sempurna. Sehingga, kita mudah memaafkan jika suatu ketika pasangan kita itu berbuat salah kepada kita.

Akhirnya, buku setebal 250 halaman ini menjadi bacaan wajib, bukan saja bagi mereka yang belum menikah, tetapi lebih khusus bagi mereka yang baru atau telah lama menikah. Bahwa pasangan kita bukanlah malaikat yang tak punya khilaf. Andai diri tak seshalih Ali bin Abi Thalib, mengapa diri memimpikan istri seshalihah Fathimah binti Rasulullah? []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Agar Jodoh Idaman Berlabuh di Pelaminan ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Geliat Partai Dakwah Memasuki Ranah Kekuasaan

Geliat Partai Dakwah Memasuki Ranah Kekuasaan
Judul : Geliat Partai Dakwah Memasuki Ranah Kekuasaan
Penulis : Akmal Sjafril
Penerbit : Afnan Publishing - Jakarta
Cetakan : Juli 2013
Tebal : xxvii + 215 Halaman
ISBN : 978-601-17748-1-6

Pesta demokrasi di negeri tercinta akan berlangsung dalam hitungan bulan ke depan. Setelah Komisi Pemilihan Umum mengumumkan parta-partai yang lolos verifikasi dan berhak unjuk aksi di pentas demokrasi itu, partai-partai tersebut mulai melancarkan sejuta aksi, bermacam cara dilakukan untuk merebut hati masyarakat.

Mulai dari tebar spanduk, pasang baliho sembarangan, aneka aksi sosial seperti donor darah, santunan yatim piatu dan fakir miskin juga pembagian sembako. Hingga cara tak wajar seperti mendatangi dukun, paranormal dan sejenisnya. Tak ketinggalan, mereka yang menjadi Calon Anggota Dewan dengan modal tebal, langsung menyewa berbagai macam artis untuk kampanye mereka. Sehingga, jangan heran! Jika suatu ketika menyaksikan pemandangan dangdut koplo dengan biduan yang berpakaian seadanya saat kampanye. Ironis! Karena sebagian besar penontonnya adalah anak kecil.

Maka, jarang kita temui buku atau bahan yang menyeluruh tentang sebuah partai, mulai dari ideologi dan jalan juang yang mereka tempuh. Sehingga, setiap kali pemilu, masyarakat ‘dipaksa’ membeli kucing dalam karung.

Namun, tidak demikian dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai yang akhir-akhir ini menjadi headline dalam pemberitaan surat kabar dan televisi nasional ini secara terbuka mengenalkan dirinya kepada khalayak. Badai fitnah yang menimpa kadernya awal tahun 2013 malah menjadi pemicu. Sehingga petinggi dan seluruh kadernya bergerak massif ke berbagai bidang sesuai kapasitas mereka.

Faktanya, Misbakhun –salah satu kader PKS yang pernah dipenjarakan- dibebaskan dengan pemulihan nama baik karena tidak terbukti dalam mega skandal Bank Century. Kemudian mantan Presiden mereka –Luthfi Hasan Ishaq (LHI)- hingga kini masih terus menjalani persidangan. Dan, belum terbukti bersalah dalam kasus Impor Daging Sapi senilai satu milyar ini.

Nampak janggal memang, Anas Urbaningrum dan Andi Malarangeng yang dinyatakan tersangka oleh KPK sejak setahun lalu, hingga kini belum dijebloskan ke jeruji besi. Sedangkan LHI langsung digelandang ke hotel prodeo sesaat setelah ‘diduga’ akan disogok. Apalagi, LHI ditempatkan di rutan militer. Bukan rutan milik KPK. Sebagai rakyat kecil, kita tidak banyak tahu. Kita memang lebih layak memikirkan jawaban atas pertanyaan, “Besok kita sekeluarga mau makan apa?”

Dalam rangka membuka diri tentang ideologi dan jalan juang partai ini pula, Akmal Sjafril, seorang lulusan Sarjana Teknik Sipil ITB yang melanjutkan Strata Dua bidang Pemikiran Islam di Universitas Ibnu Khaldun merasa terpanggil untuk menulis tentang sepak terjang PKS. Ini menjadi semacam penjelasan tentang aneka sikap PKS dan juga partai Islam lainnya. Semacam jawaban, mengapa akhirnya Islam menempuh jalur politik?

Bagi beberapa golongan muslimin sendiri, masalah politik masih menjadi sesuatu yang tabu. Bahkan, bagi sebagian kaum muslimin yang lain, politik memasuki taraf ‘haram’. Jangankan dimasuki dan terjun bebas di dalamnya. Menyentuh saja, tidak diperbolehkan. Bagi golongan ini, politik adalah jalan kotor yang tidak boleh sekalipun ditempuh.

Dengan argumen dan data yang jelas, Penulis menjelaskan demokrasi dari kaca mata Islam. Sebagaimana politik yang masih ditabu dan diharamkan oleh sebagian pemeluk Islam, Demokrasi pun bernasib demikian.

Ada yang terlibat aktif dalam politik praktis melalu berbagai jenis partai, ada yang antipati dan memilih menjadi ‘manusia suci’ dengan sibuk di masjid saja, ada pula yang mengambil jalan ekstrim dengan menganggap pemerintah sebagai musuh dan akhirnya menempuh jalan kekerasan. Diluar itu, ada golongan yang hanya sibuk mempromosikan ideologi lain tanpa mau terlibat langsung dalam ketiga kelompok di atas.

Mengomentari hal ini, Penulis menyampaikan, “Apalagi ketika melihat begitu banyak tugas menanti, menuntut waktu, tenaga dan pikiran kita. Diantara seluruh kekuatan yang terus ‘bertempur’ tiada henti, yang akan bertahan hanyalah yang disibukkan dengan kerja nyata. Antipati pada demokrasi atau tidak, berjuang di dalam sistem atau tidak, kerja nyatalah yang akan menjadi ukuran. Tanpa kerja nyata, maka kita semua tidak lain hanyalah pembual.” (Hal 207)

Di luar itu semua, ini adalah pekerjaan rumah negeri ini. Bagaimana mungkin, satu rumah masih beda tujuan? Sehingga wajar. Ketika dunia luar sibuk dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, negeri kita masih sibuk dengan perdebatan dan masalah perselisihan antara golongan.

Apa yang disampaikan oleh Penulis dalam buku ini, selayaknya diikuti oleh politisi lain. Sehingga, kami yang menjadi rakyat jelata, bisa benar-benar mengetahui apa dan bagaimana partai mereka. Bukan sekedar aktif menjelang pemilu, tetapi terus bersosialisasi dan memberikan kontribusi di sepanjang masa. Sayangnya, kebanyakan mereka, saat ini, masih disibukkan dengan kasus korupsi yang menimpa petinggi-petinggi mereka. Semoga, kita semakin mengerti. Sebelum akhirnya, kita memilih berdasarkan nurani. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


Tertarik dengan buku Geliat Partai Dakwah Memasuki Ranah Kekuasaan ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Agar Hati Tak Salah Mencintai

Agar Hati tak Salah Mencintai
Judul : Agar Hati Tak Salah Mencintai
Penulis : Jauhar al-Zanki
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : 1, Januari 2013
Tebal : 214 Halaman ; 12 x 20 cm
ISBN : 979-1273-81-2

Membahas cinta tak ubahnya membincang kehidupan. Selalu seru, menarik dan tak jarang timbul perdebatan. Ibarat mata air, cinta akan bertambah seiring dengan semakin dalamnya penggalian makna cinta itu sendiri.

Tak ada kata yang bisa menjelaskan cinta selain kata itu sendiri. Ia ibarat arus listrik. Tak terlihat, tapi bisa membuat bola lampu bersinar. Ia juga bak angin. Ketika bergumul, kekuatannya bisa membadai dan menghancurkan aneka bangunan yang ditemuinya.

Banyak kisah cinta yang beredar diantara kita. Mulai yang jadul hingga yang terhangat. Mulai yang kuno hingga paling modern. Meski dengan banyak perbedaan, inti ceritanya sama. Bahwa cinta, tidak hanya bisa mengubah diri seseorang, tetapi juga mengubah sebuah bangsa bahkan sebuah peradaban.

Cinta bisa tumbuh dari banyak sebab. Mulai dari pandangan, kata-kata, wewangian, seringnya berinteraksi dan keserasian antara rasa dan jiwa. Cinta memang tak berbentuk. Tapi ia mempunyai ciri-ciri. Mereka yang tengah dilanda cinta bisa ditengarai dengan suka menyebut nama orang yang dicintai, bergetar bila disebutkan nama kekasihnya, selalu teringat dengan sosoknya, menuruti apa saja yang diingini sang kekasih, suka termenung, menggandengkan namanya dengan nama orang yang dicintai, senang bertanya kabar tentangnya, rindu untuk bertemu, dihinggapi rasa resah dan gelisah, menyukai tempat yang disukai kekasihnya, menyukai apa yang disukai kekasihnya, menekumi hobi kekasihnya, grogi dan salah tingkah saat berjumpa, muncul rasa cemburu, rela berkorban, bersikap sopan dan lemah lembut, dan suka memberi perhatian lebih kepada yang dicintai. ( Hal 46-62)

Cinta juga mempunyai banyak jenis. Mulai dari cinta monyet, cinta lokasi, cinta musiman, cinta kilat, cinta buta, cinta harta, dan cinta karena Allah. Ia juga sering disimbolkan. Baik dengan gambar hati yang ditusuk anak panah ataupun dengan warna merah jambu.

Oleh karena fitrahnya cinta, islam sebagai ajaran yang paling selaras dengan fitrah alam dan kemanusia memberikan aneka aturan agar cinta tumbuh sesuai dengan aturan Allah. Karena cinta adalah ciptaan Allah, maka hanya Allahlah yang berhak untuk memberikan aturan tentang cinta. Karakteristiknya dan bagaimana menyalurkannya.

Islam tak mengenal pengasingan diri tanpa cinta. Islam juga melarang perayaan cinta tanpa batas. Islam, mengatur cinta dalam koridor yang jelas, pernikahan. Jika mencintai, maka konsekuensinya adalah menikahi. Jika tak mampu, Rasul memberikan solusi untuk berpuasa.

Sehingga, sebagai kaum muslimin, maka yang harus dilakukan adalah mengatur cinta agar sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Agar cinta tetap suci dan bisa menjadi sarana untuk mengantarkan kepada cinta sejati, Allah dan RasulNya.

Diperlukan keteguhan hati untuk hal ini. Apalagi ketika zaman semakin tua. Ketika pergaulan sudah bebas. Begitupun dengan aneka buadaya yang tidak selaras dengan nilai kemusliman masuk dengan mudahnya ke dalam jenak kehidupan kita.

Sehingga, penjagaan diri adalah hal yang mutlak. Menjaga diri berarti terus memperbaiki kualitas diri agar tidak terjerumus dalam kehiduapn hedonis yang mendambakan materialisme dan fisik semata. Menjaga diri dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan memperdalam ilmu menjadikan seseorang menjadi lebih tenang (Hal 138). Penjagaan diri ini juga membuat seorang pemuda agar terus PD meskipun terasing dengan sekitarnya yang tidak islami. Ia bisa terus melaju dalam keimanan yang baik, agar cinta yang suci itu, bisa dirayakan ketika masanya tiba dengan cara yang benar pula.

Akhirnya, bagi kaum muslimin, cinta mereka adalah cinta yang sehat. Cinta mereka adalah cinta yang taat. Cinta mereka adalah cinta yang kuat. Cinta mereka adalah cinta yang bisa menjadi inspirasi penggugah jiwa. Yaitu cinta yang berbalut pernikahan islami sehingga rindumu, bersatu dengan rindu ia yang menjadi cintamu. Satu hal yang tak boleh dilupa, dirimu adalah potret kekasihmu. Maka perbaikan diri adalah cara paling jitu untuk mendapat cinta agar sesuai dengan yang kita cita-citakan. Memperbaiki diri adalah jalan, agar hati tak salah mencintai.[]


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik dengan buku Agar Hati Tak Salah Mencintai ini?
silahkan hubungi 085773291640
 

suara islam Powered by Blogger