Tampilkan postingan dengan label Wakaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wakaf. Tampilkan semua postingan

Wakaf untuk Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Petani panen (foto solusinews.com)
Ternyata Indonesia semakin sejahtera. Setujukah Anda dengan pernyataan ini?

Sebagian penduduk Indonesia mungkin akan setuju akan hal ini. Terutama untuk Anda yang membaca tulisan ini via internet. Mengapa? Karena kemampuan Anda mengakses internet setidaknya sudah memberikan indikasi bahwa Anda memiliki kemampuan finansial di atas rata-rata orang Indonesia.

Indikasi lain yang mungkin menyatakan kesetujuan bahwa Indonesia semakin sejahtera dapat dilihat dari faktor-faktor ekonomi lain. Pertumbuhan pendapatan per kapita yang melebihi USD 3.000, jumlah kelas menengah yag kabarnya mencapai 100 juta jiwa, hilir mudiknya mobil baru (dan mewah) terutama di kota besar, pengguna handphone yang mencapai 150 juta unit, naiknya peringkat investasi Indonesia, dan seterusnya. Semakin sejahtera? Sepertinya begitu.

Namun, bukan isapan jempol bahwa pertumbuhan kesejahteraan ini sayangnya hanya beredar di sebagian besar penduduk saja. Layaknya teori pareto, 20% penduduk ternyata memang menguasai 80% harta kekayaan Indonesia. Dengan kata lain, kenyamanan hidup di Indonesia tidak bisa dinikmati mayoritas rakyat Indonesia.

Ambil contoh perumahan yang lebih banyak diinisiasi sektor swasta. Untuk daerah pinggiran daerah penyangga Ibukota, harga cicilan rumah minimal Rp 1 juta per bulan. Dengan demikian, penghasilan minimal haruslah Rp. 3 juta per bulan untuk bisa membeli rumah secara kredit bank. Para karyawan atau buruh pabrik berpenghasilan Upah Minimum Regional (UMR) yang hanya dikisaran Rp 1,5 juta pastilah tinggal mimpi.

Lalu dalam kesehatan, peran dana perbankan dan pemegang saham (baca: investor) dalam pembangunan rumah sakit, pabrik obat, pabrik alat kesehatan, dan (sayangnya) sekolah kedokteran, telah membuat lingkaran derita layanan kesehatan bagi rakyat berpenghasilan rendah.

Bagaimana dengan pendidikan? Sudah lazim dalam benak masyarakat bahwa jika anak mau berprestasi maka sekolah swasta yang mahal lah solusinya. Sulit buat anak sekolah negeri yang kapasitas murid per kelasnya besar dan kualitas guru terbatas akan membuat anak mereka berprestasi. Kalo pun ada, itu di luar kelaziman.

Sampai kapan ini akan berlangsung? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi nyata untuk meminimalisasi. Ber-wakaf produktif adalah salah satu upayanya.

Wakaf menjadi salah satu esensi penting dalam sejarah membangun peradaban umat islam. Untuk Indonesia yang penuh berkah, saya yakin wakaf adalah salah satu kunci menjawab persoalan ketidakadilan sosial dan ekonomi yang terjadi di atas. Terlebih dengan jumlah penduduk muslim yang besar, potensi wakaf di Indonesia sangat luar biasa. Apalagi, kini sudah difatwakan sahnya ber-wakaf tunai (uang) sehingga membuat semua orang bisa berwakaf.

Jika saja 25 juta penduduk muslim Indonesia berwakaf Rp 600 ribu per tahun, atau Rp. 50 ribu per bulan, maka akan diperoleh dana wakaf Rp. 15 trilyun. Dana sebesar ini, meskipun masih jauh dari anggaran Departemen Sosial, tapi akan sangat signifikan jika digunakan untuk membangun sarana dan fasilitas umat yang terjangkau, misalnya rumah sakit, perumahan, transportasi massal dan sebagainya. Mengapa? Karena dana wakaf tidak menuntut margin layaknya perbankan, dan tidak pula menuntut balik modal yang cepat layaknya investor. Semata-mata untuk kelanggengan manfaat dan perluasan manfaat.

Bagaimana pula jika Rp 15 trilyun ini digunakan untuk sektor usaha produktif, seperti membangun pabrik obat dan pabrik alat kesehatan agar bisa menghasilkan obat yang terjangkau. Atau digunakan untuk membangun jaringan minimarket berbasis komunitas untuk menghadang gurita minimarket perusahaan besar yang menggilas pedagang-pedagang kecil. Ataupun digunakan untuk membangun jaringan distribusi pupuk dan alat pertanian untuk meringankan beban biaya produksi petani kita. Bahkan, jika perlu membangun jalan tol, pembangkit listrik, dan pabrik CPO kelapa sawit. Dan masih banyak lagi sekiranya potensi wakaf ini terwujud.

Apa ujung semuanya? Bangkitnya ekonomi rakyat dan hadirnya Indonesia penuh berkah. Wakaf akan menjadi pelengkap modal sosial ekonomi masyarakat yang berjuang semata-mata murni untuk kesejahteraan masyarakat. Manfaat dan surplus yang diperoleh dari pengelolaan wakaf akan mengalir kepada masyarakat kembali, tidak ke pemegang saham sebagaimana perusahaan komersil. Dan otomatis, seluruh stakeholder – donatur, pengelola, mitra, konsumen - yang terkait dengan wakaf adalah para pejuang kebaikan yang berjuang demi kesejahteraan umat.

Nah, saatnya bergandeng tangan bangkitkan ekonomi rakyat bersama wakaf. Saatnya merintis langkah menghadirkan Indonesia yang penuh berkah. Untuk Anda, untuk kita, untuk semua, titik.[]



Penulis : Urip Budiarto
Direktur Tabung Wakaf Indonesia - Dompet Dhuafa

Kepahlawanan dalam Ekonomi

Bukan isapan jempol bahwa kekuatan ekonomi yang digerakkan negara dan swasta belum mampu menghadirkan dunia yang mensejahterakan. Adalah sunatullah tentang adanya kaya dan miskin. Tetapi, semakin lebarnya jurang antara kaya dan miskin menghadirkan tanda tanya besar.

Di satu sisi, statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinyatakan sebagai terbaik ketiga setelah Cina dan India memang harus diakui. Toh, perhitungan memang dilakukan dengan metode yang dibenarkan. Faktanya pun, khususnya di kota besar, representasi atas semakin majunya Indonesia bisa dilihat.

Lihat saja Jakarta, kemacetan sudah hal yang biasa. Mayoritas mobil pribadi adalah keluaran tahun terbaru. Mobil pribadi berharga ratusan juta rupiah pun lebih sering terlihat daripada bus kota yang melintas. Berbagai media luar ruang menawarkan investasi rumah mewah, apartemen dan kondotel. Belum lagi, menjamurnya pusat perbelanjaan di seluruh penjuru ibukota.

Namun sepertinya, apa yang dilihat kasat mata ini hanyalah milik sebagian orang saja. Sebagian besar lain masih berjuang dalam memenuhi penghidupan dasar. Para buruh masih berdemo demi peraturan atas hak kebutuhan hidup layak. Para pedagang kaki lima masih berkejaran dengan aparat demi penghasilan puluhan ribu sehari.

Rumah sakit masih banyak yang membuat pasien kurang mampu bergeming karena biaya yang tak terjangkau. Pendidikan belum milik semua, terlebih untuk jenjang perguruan tinggi. Kenyamanan transportasi publik masih jauh panggang dari api.

Dua sisi fenomena tadi menarik untuk diamati. Mengingat, fenomena pertama adalah sebuah simbol nyata betapa ekonomi konsumtif dalam bingkai kapitalisme sudah sangat kuat. Pihak swasta dengan kekuatan jaringan dan pemasaran telah membangun keberhasilan dalam memuaskan para pemegang saham.

Dan fenomena kedua, adalah simbol atas masih lemahnya kemampuan birokrasi dalam memberikan layanan publik yang handal. Meski operasional birokrasi dibiayai APBN atau APBD yang notabene dibayar publik, harap maklum soal kualitas layanan. Silahkan hubungi aparat secara personal jika berharap pelayanan yang lebih cepat, lebih mudah dan pastinya lebih mahal.

Sektor Ekonomi Kepahlawanan
Butuh momentum yang luar biasa untuk menggerakkan birokrasi menjadi berpihak penuh pada publik. Akan sulit pula mengajak pihak swasta bicara soal menyisihkan sebagian besar keuntungan untuk kepedulian sosial. Sehingga, adalah sebuah kenyataan bahwa publik membutuhkan solusi sebuah sektor ekonomi baru yang berkarakter kepahlawanan.

Kepahlawanan didasari oleh pengorbanan untuk kepentingan yang lebih besar. Nilai kepahlawanan berorientasi pada harkat dan martabat, kesejahteraan masyarakat luas, serta kemajuan pembangunan bangsa. Dengan demikian, ekonomi kepahlawanan kemudian adalah sektor yang mengabdi dan berkhidmat untuk keberlanjutan ekonomi yang lebih berkeadilan.

Ekonomi kepahlawanan tidak akan berpikir soal pembagian keuntungan dan kepentingan golongan. Melainkan, mereka akan berpikir bagaimana memperluas skala operasional usaha, menolong lebih banyak orang serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang bermartabat. Sektor ini akan dipenuhi oleh orang-orang sosial berjiwa bisnis yang berakhlak dan profesional.

Beragam lembaga amil zakat profesional, pemberdayaan masyarakat, dan mikro kredit yang muncul saat ini telah mengawali lahirnya sektor ekonomi kepahlawanan. Dengan bertumpu pada donasi publik, lembaga-lembaga ini membuat sebagian masyarakat dhuafa memperoleh layanan kesehatan cuma-cuma, pendidikan yang lebih berkualitas, keterampilan usaha serta penghidupan yang lebih baik.

Tantangan berikutnya bagi praktisi ekonomi kepahlawanan adalah keberanian memasuki sektor riil dan bersaing di pasar. Pembeda utama hanya akan terletak pada bagaimana keuntungan dibagikan. Sementara kehandalan sumber daya manusia, kualitas produk atau jasa, serta kemampuan pemasaran haruslah kompetitif.

Namun, sektor ekonomi kepahlawanan tidak akan muncul dengan optimal tanpa ketersediaan akses permodalan yang mumpuni. Dibutuhkan investor-investor malaikat yang juga memiliki karakter kepahlawanan. Imbal hasil atas investasi disepakati untuk dikonversi ke dalam pertumbuhan jumlah penerima manfaat, social multiplier effect, dan perluasan operasional usaha. Dalam hal ini, wakaf bisa menjadi satu sumber pendanaan terbaik.

Dengan potensi besarnya masyarakat Indonesia yang dermawan, sektor ekonomi kepahlawanan perlu mampu menggalang investasi yang massif. Adalah sebuah kebanggaan tersendiri ketika sektor ekonomi kepahlawanan mampu mengelola proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan tol, pembangkit listrik ataupun layanan transportasi massal. Penting juga untuk masuk ke dalam sektor yang kurang diminati perbankan seperti pertanian, peternakan dan perikanan.

Sekali lagi, ekonomi harus lah bergerak dengan berkelanjutan, mensejahterakan dan berkeadilan. Tanpa karakter kepahlawanan, prinsip tersebut akan sulit dipenuhi oleh para praktisinya. Mari dengungkan kembali slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Hanya kali ini, demi perekonomian yang membanggakan.[]



Penulis : Urip Budiarto
Direktur Tabung Wakaf Indonesia - Dompet Dhuafa

Wakaf adalah Harta Terbaikku

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS Ali Imran: 92)

Di dalam ilmu tajwid, kita mengenal istilah “wakof”. Sebuah istilah yang mengatur bagaimana arahan mengenai kapan harus berhenti, sebaiknya berhenti atau malah dilarang berhenti ketika membaca Al Qur’an. Dengan memahami kaidah ini, tentunya pembacaan Al Qur’an yang kita lakukan akan sempurna.

Sementara dalam haji, kita juga mengenal istilah “wukuf”. Wukuf adalah kegiatan utama dalam ibadah haji. Bahkan, inti ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah untuk berdiam diri dan berdoa di tanggal 9 Zulhijjah. Bila dalam rangkaian kegiatan haji jamaah tidak dapat melaksanakan wukuf dengan baik, maka tidak sempurna ibadah hajinya.

Untuk ibadah harta, Rasulullah saw juga menganjurkan “wakaf”. Wakaf adalah satu jenis sedekah yang harus dikelola dengan khusus. Harta yang diwakafkan beralih dari kepemilikan pribadi kepada kepemilikan umat yang dikelola untuk sebesar-besar manfaatnya bagi umat. Harta wakaf tidak dapat diwariskan ataupun diperjualbelikan. Anjuran wakaf Rasulullah saw hadir sebagai bentuk ketaatan atas penegasan Allah bahwa kesempurnaan kebajikan akan hadir setelah mampu secara ikhlas mensedekahkan sebahagian harta yang paling kita cintai.

Kalau zakat adalah kewajiban dan sedekah untuk menjemput keberkahan hidup, maka wakaf adalah sebuah panggilan hati. Menafkahkan harta yang paling kita cintai adalah sebuah pilihan besar antara rasa berhak menikmati harta yang telah kita perjuangkan dengan susah payah; dengan keyakinan bahwa harta adalah titipan Allah semata dan dapat menjadi jalan ibadah menuju ridho-Nya dunia-akhirat. Belum lagi, harta tercinta tentu juga bukan harta sembarangan, pastilah harta terbaik yang kita miliki.

Adalah sebuah fitrah bahwa manusia tentu tergoda untuk mencintai harta berlebihan. Namun, menjadikan diri terhindar dari godaan untuk mencintai harta berlebihan adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk “menghilangkan” harta dengan jalan bersedekah atau berwakaf adalah sebuah keputusan yang kadang tidak mudah. Terlebih dengan perhitungan rasionalitas, logika dan berkurangnya kenyamanan hidup.

Tetapi, kehilangan harta pada akhirnya pasti akan terjadi. Bisa karena musibah/takdir dimana Allah berkehendak mencabut harta tersebut, kebakaran misalnya. Ataupun, memang karena kematian telah datang dan membuat harta kemudian menjadi hak ahli waris. Hanya saja, hilang karena sedekah atau wakaf tentulah hanya secara kasat mata di dunia. Setelah wafat, harta tersebut akan kembali dalam bentuk tabungan atau investasi pahala yang menjadi modal penting menghadapi hari perhitungan Allah kelak.

Karena itu, bila belum berwakaf, bisa jadi kita belum memiliki sebuah harta terbaik yang menyempurnakan keberkahan hidup. Tanpa wakaf, bisa jadi kita juga belum memiliki sebuah harta terbaik yang bisa kita banggakan ketika datang hari dimana Allah membandingkan kebaikan dan keburukan kita. Padahal, hasil pembandingan itu akan memutuskan apakah kita akan menghuni surga Allah yang Maha Indah, atau justru neraka Allah yang sedetik pun kita tidak sanggup menanggung pedih azabnya.

Mari sempurnakan ibadah harta kita dengan wakaf. Mari miliki harta terbaik untuk keberkahan hidup kita di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bis shawab.[]


Penulis : Urip Budiarto
Direktur Tabung Wakaf Indonesia - Dompet Dhuafa

Wakafku Sempurnakan Zakatku

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan menghadiri peluncuran sebuah buku yang luar biasa. Judulnya “Rezeki itu Misteri, Mati itu Pasti”. Buku ini ditulis oleh sahabat saya, Ali Akbar, yang lebih dikenal sebagai @PakarSEO di dunia twitter. Selain menjadi pakar dalam dunia internet marketing, ternyata sahabat saya ini juga luar biasa dalam menginspirasi pentingnya kebijaksanaan dalam masalah rezeki.

Ada satu bagian dari presentasi hari itu yang mencuri perhatian saya. Disimulasikan sebuah pertanyaan oleh beliau kepada dua orang peserta yang hadir: “Kalau saya sekarang sedang punya rezeki Rp 100.000, dan saya ingin berikan SEBAGIAN REZEKI saya ini untuk Anda, berapa rupiah yang Anda MINTA?”. Ternyata, jawaban satu peserta adalah Rp. 50.000, sementara yang lain menjawab Rp. 90.000. Dengan kata lain, 50% dan 90% dari rezeki sang penulis.

Apa komentar selanjutnya dari Mas Ali Akbar? Ternyata sangat menginspirasi:
“Hadirin sekalian, Allah berfirman dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 92, bahwa “Kita tidak akan sampai pada kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan SEBAGIAN HARTA yang kita miliki”. Tolong ditekankan, SEBAGIAN harta kita.

Nah, diri kita saja ketika ditantang untuk MEMINTA SEBAGIAN REZEKI saya tadi, mulai dari angka 50%, bahkan ada yang 90%. Pertanyaannya, ketika Allah sudah meminta kita untuk mensedekahkan SEBAGIAN REZEKI kita, kira-kira BERAPA PERSEN yang selama ini sudah kita berikan kepada Allah? Sudahkah sebesar 50% harta? Beranikah jika sebesar 90% harta kita? Atau jangan-jangan kita merasa sudah cukup puas dengan zakat yang hanya 2,5% ?”

Hadirin terdiam. Saya pun terdiam. Tapi dalam hati, saya sependapat dengan beliau.

Zakat harta yang 2,5% persen memang disyariatkan untuk membersihkan dan mensucikan harta (QS At Taubah: 103). Zakat pun adalah bagian orang lain yang dititipkan pada harta seseorang. Sehingga saat zakat ditunaikan, maka belum berhak seseorang mengatakan dirinya telah dermawan. Meski zakatnya Rp. 1 milyar sekalipun. Tetap saja, selama itu zakat, itu adalah hak orang lain.

Guru saya, Mas Eri Sudewo, salah satu pendiri Dompet Dhuafa, mengatakan bahwa esensi kedermawanan sesorang akan terlihat dari seberapa besar sedekah dan wakaf yang dia keluarkan. Karena sedekah dan wakaf membutuhkan rasa kepedulian kepada sesama serta kecintaan kepada Allah swt. Dan disisi lain, melawan rasa egoisme dan cinta harta berlebihan. Dengan demikian, pemenuhan zakat, sedekah dan wakaf akan membuat sempurnanya ibadah harta seseorang.

Pastilah kita ingin shalat kita sempurna. Tak mungkin pula kita bersiasat mencari celah penghilang dahaga dan lapar saat berpuasa. Terlebih melalaikan wukuf saat berhaji. Hanya orang bodoh yang tidak ingin memastikan ibadahnya sempurna.

Jadi, bagaimana kalau ibadah harta kita juga kita sempurnakan? Jika zakat sudah menjadi kebutuhan dan kebiasaan, bagaimana kalau kita mulai juga untuk mensempurnakannya dengan sedekah dan wakaf? Terlebih dengan wakaf yang insya Allah memberikan pahala mengalir abadi, bagaimana kalu kita mulai terbiasa mengatakan “Wakafku Sempurnakan Zakatku”? []


Penulis : Urip Budiarto
Direktur Tabung Wakaf Indonesia - Dompet Dhuafa

Wakafku Bekal Abadiku

Alkisah Budi, seorang ayah yang cinta keluarga berencana untuk piknik mandiri ke Singapura di masa liburan sekolah nanti. Dengan istri dan tiga orang anak yang masih kecil, tentu piknik ini bukan perkara yang simpel. Persiapan telah dilakukan sejak tahun lalu. Segala daftar perbekalan pun telah disusun dengan rapi.

Budi sudah mulai mencari tiket pesawat yang hemat di internet. Dia juga mulai browsing hotel-hotel yang nyaman tapi hemat di Singapura. Daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi pun telah diatur agendanya. Dan tak kalah penting, sebagian gaji pun mulai disisihkan sebagai bekal hidup selama disana. Budi sangat fokus untuk memastikan piknik SATU MINGGU di Singapura ini berjalan dengan lancar.

Itulah Budi dan piknik Singapura-nya. Barangkali kita mungkin juga pernah melakukan hal yang untuk urusan piknik kita. Betapa cinta dan niat membahagiakan keluarga membuat kita bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik untuk mereka.

Beralih ke sisi yang lain, bagaimana dengan kesungguhan kita mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang PASTI kita alami? Sejauh mana persiapan kita untuk sebuah perjalanan yang 1 hari disana setara dengan 1.000 tahun dunia saat ini? Siapkah bekal kita untuk sebuah perjalanan yang abadi? Tidak lain tidak bukan, ini adalah tentang perjalanan di akhirat setelah kita wafat.

Adalah jawaban setiap kita, bila ditanya “Cintakah kita kepada Allah?”, maka pastilah kita akan menjawab “YA”. Jika si Budi saja, yang dengan cintanya kepada anak dan istri bersungguh-sungguh mempersiapkan yang terbaik, maka tentu kecintaan kita kepada Allah (seharusnya) akan membuat kita juga bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk perjalanan abadi ini.

Pertanyaannya, sudahkah kita mempersiapkan bekal terbaik untuk akhirat kita? Sudahkah kita menjadi pribadi yang cukup baik ibadah dan akhlaknya untuk disambut dengan sukacita di akhirat kelak? Sudahkah kita memiliki bekal “tabungan harta” yang cukup untuk kehidupan akhirat kelak?

Untuk pertanyaan ketiga, wakaf telah dijadikan solusi oleh syariat Islam. Dengan wakaf, sedekah kita akan dikelola pokok hartanya dan hanya hasilnya yang dialirkan. Sehingga, saat kematian membuat kita tidak lagi bisa berzakat dan sedekah untuk menabung pahala, wakaf lah yang menjadi sumber tambahan tabungan pahala kita selama di alam kubur.

Perjalanan yang abadi tentu butuh bekal yang juga abadi. Kembangkan ilmu yang bermanfaat, didik anak menjadi sholeh, dan pastikan wakaf sudah kita tunaikan; inilah tiga bekal abadi kita menurut Rasulullah saw. Dengan demikian, untuk konteks harta, peganglah selalu bahwa: “Wakafku Bekal Abadiku”

Wallahu a’lam bis shawab. []


Penulis : Urip Budiarto
Direktur Tabung Wakaf Indonesia - Dompet Dhuafa
 

suara islam Powered by Blogger