Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Kultum Ramadhan: Ketika Mulut-mulut Dikunci

"Kalian (lalai) berlomba mengejar kemegahan (harta), tiba-tiba kalian sudah sampai di (pintu) kubur" QS At-Takaatsur: 1-2.

"Akan datang hari mulut dikunci, kata - tak ada lagi. Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita. Terkadang tangan kita, entah apa yang dilakukannya...".

Demikianlah penggalan syair lagu alm. Chrisye, yang mengutip maw'izhoh dari Al-Qur'anul Karim.

Setelah kumandang sangkakala kedua, maka seluruh makhluk -yang telah dimatikan pada sangkakala pertama- dibangkitkan kembali dari kubur, menghadap kepada Allah swt.

Mereka seluruhnya akan dikumpulkan di sebuah tempat yang sangat luas yaitu, Padang Mahsyar.

Setiap yang pernah berlaku zhalim akan diadili di sini. Di mahkamah ini, tanpa ada yang bisa menolong dan melakukan intervensi. Keadilan diputuskan dengan haq.

Mengapa memukul orang tak bersalah?, mengapa tidak membayarkan upah? Mengapa melanggar perintah Allah swt? mengapa tidak membimbing anak untuk beribadah?

Mengapa menganiaya hewan? Mengapa dan mengapa? Alangkah banyak pertanyaan dan persoalan yang harus dijawab setiap insan.

Lalu ketika orang-orang yang berdosa masih saja berkelit, maka: "Pada hari ini, kami kunci mulut-mulut mereka. Lalu tangan-tangan mereka akan berbicara dan kaki-kaki mereka akan memberikan kesaksian tentang apa-apa yang pernah mereka kerjakan" QS Yasin: 65.

Saking banyaknya perkara –yang mesti diadili- baik antara manusia dengan Rabb mereka, serta persoalan antara sesama manusia, maka masa hisab tersebut memakan waktu hingga ratusan ribu tahun lamanya.

Kemudian manusia akan digiring ke jembatan shirotal mustaqiim, hingga orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dimasukkan ke dalam surga dan kaum yang ingkar masuk neraka.

"Sesungguhnya Allah swt akan menerima taubat seorang hamba, sebelum nyawa sampai di 'yugharghir', di tenggorokan" ~ Hadits Nabi saw.

Sebelum datang satu masa, dimana mulut tak bisa berkata, tangan mengungkap rahasia dan kaki membeberkan fakta-fakta, marilah membersihkan diri disaat masih ada kesempatan. Taubatan nasuha.

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk munajat, memohon ampun dan bertaubat atas segala salah dan lalai kepada Yang Maha Pencipta, Allah swt.

Sungguh –kalian dapati- bahwa Allah swt adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika masih ada sangkut paut persoalan dengan manusia, selesaikan hari ini, selagi masih bisa.

Mohon maaf atas kesalahan, penuhi kewajiban, lunasi hutang piutang, tunaikan hak-hak pekerja atau bawahan yang merupakan tanggung jawab kita.

Persoalan pokok yang mesti dituntaskan sebelum ajal tiba, ada dua hal, yaitu: hablun minallah, hubungan dengan Allah dan hablun minannas, hubungan dengan manusia.

Kedua hal ini bisa melempangkan jalan ke surga, atau sebaliknya, bisa sebagai penghambat dari memperoleh kasih sayang Allah swt.

Perbaikilah selagi bisa.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kultum Ramadhan: Hakekat kehidupan

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku" QS Adz-Dzariat:56.

Rasulullah saw terjaga dari tidurnya, ketika diberitahu ada Abdurrahman bin ‘Auf datang bertamu. Rupanya beliau saw sempat terlelap sejenak, saat rehat menjelang Ashar itu.

Di pipi Nabi saw masih jelas gurat-gurat kasarnya tikar anyaman pelepah kurma, tempat merebahkan diri ditengah panasnya gurun. Melihat wajah Rasulullah saw seperti itu, "Apakah aku bawakan hambal (permadani tebal) untukmu ya Rasulullah," ujar Abdurrahman.

"Tidak usah, ya Abdurrahman. Bagiku dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang tengah istirahat sejenak di bawah kerindangan pohon, lalu ia akan melanjutkan perjalanannya kembali," jawab Nabi saw.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan, sambil menanti 'Lailatul Qadr', adalah saat yang tepat untuk muhasabah diri. Menghitung-hitung diri, introspeksi, menakar-nakar atau istilah anak muda Jakarta "Ngaca" diri.

Siapa diri kita sesungguhnya?. Dari mana asal kita, sedang apa kita, lalu nanti setelah ini akan ke mana?. Lalu apakah kita ini pencipta atau justru hanya hasil ciptaan. Apakah kita kaya atau fakir di hadapan Allah swt. Kita tahu segala hal dan berilmu atau sebaliknya 'jahil'. Apakah kita kuat atau sebenarnya hanyalah makhluk yang lemah.

Dulu wujud diri kita tidak ada apa-apanya sama sekali, lalu menjadi ada. Dimulai dari ruh, yang Allah swt tiupkan ke dalam rahim ibunda. Sehingga janin dalam kandungan itu mulai bergerak, disempurnakan proses kejadiannya. Lalu setelah kurang lebih 9 bulan 10 hari, lahirlah kita ke dunia.

Dibesarkan oleh ibunda dengan penuh kasih sayang, diberi nafkah oleh ayah, lalu menjadi dewasa, tua dan kemudian manusia akan diwafatkan. Dan hal ini pasti akan terjadi atas setiap diri yang bernyawa.

Ternyata kita adalah makhluk ciptaan Allah, yang diciptakan untuk beribadah, mengabdikan diri pada-Nya. Merepresentasikan kehendak-kehendak-Nya di muka bumi, yaitu tugas sebagai khalifah.

Sudah selayaknya pula, bahwa perbuatan dan amal-amal kita, tidak menyimpang dari petunjuk dan bimbingan Al-Qur’an dan sunnah. Yang memang diciptakan Allah sebagai petunjuk kehidupan.

Akan ada evaluasi total di akhirat nanti. Akan ada "rewards and punishment" atas setiap perbuatan. Besar kecil, baik buruk, halal haram, boleh atau tidak boleh.

Apakah berkaitan dengan Allah swt, dengan manusia atau bahkan hal-hal yang berkaitan dengan hewan dan tumbuhan. Semuanya akan diputuskan dengan haq, penuh keadilan, pengadilan tanpa intervensi siapapun.

Dari keterangan Nabi saw, melalui haditsnya, ternyata puncak kebahagiaan itu nanti adalah: masuk surga, lalu berjumpa dengan Allah swt dan bercakap-cakap dengan-Nya. Disinilah terminal akhir kehidupan manusia.

"Maka barang siapa yang berharap akan berjumpa dengan Allah swt, maka hendaklah ia beramal sholeh dan tidak mempersekutukan Allah -saat beribadah- dengan sesuatu apapun" QS Al-Kahfi : 110.

Ya Allah, sungguh Engkau benar, kata-kata Engkau benar, janji Engkau benar dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar. Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Semoga saja kita, beserta isteri dan anak cucu kita, tidak dihalau ke tempat celaka, yaitu neraka jahiiim. "Na’udzubillahi min dzalik".(*)


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kultum Ramadhan: Keluarga yang Berkumpul di Surga

"Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka" QS At-Thuur : 21.

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. "Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat)-mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan bisa menolong engkau sedikitpun di akhirat nanti," tegas Rasulullah saw.

"Subhaanallah," begitulah nasihat Nabi saw untuk Fathimah. Dan memang orangtua tidak dapat memberikan garansi kepada anak-anaknya, kecuali sang anak mau berupaya menggapai surga itu.

Perhatikanlah apa yang terjadi pada Nabi Nuh as. Beliau berpisah dengan sang anak, lantaran si anak tidak mau mengikutinya beriman. Bahkan ketika air banjir bandang datang, ketika sang anak timbul tenggelam dipermainkan gelombang air bah, sebagai ayah, Nuh as tidak tega melihatnya. Dan diapun berdoa:

"Ya Rabbi, itu anakku adalah keluargaku. Sungguh janji Engkau benar, dan hanya Engkau Hakim yang Maha Adil," pinta Nuh as.

Allah swt menjawab: "Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah tergolong keluargamu, karena dia tidak beramal sholeh. Maka janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya,".

Ternyata, sekalipun itu adalah anak kandung nabi Nuh as, namun jika dia tidak beriman, maka Allah swt mengatakan bahwa anak itu bukanlah termasuk anggota keluarganya.

Di samping usaha keras untuk mendidik dan mengarahkan tanggung jawab kita, anak-anak tercinta bersama isteri, agar kelak dapat berkumpul di surga Allah, maka janganlah lupa berdoa untuk meraih kebahagiaan tersebut.

Karena sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu adalah, tatkala kita bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan beriman dan bertakwa saat di dunia, kemudian berhasil pula berkumpul kembali di surga Allah swt kelak. Semoga saja kita bisa meraihnya.

Namun ingatlah akan Hadits Nabis saw: "Nanti di hari Kiamat, seseorang suami diseret ke tengah-tengah Padang Mahsyar. Bergelayutan isteri dan anak-anaknya di lengan kanan dan lengan kirinya,".

Ketika dihisab, ternyata sang suami bisa masuk surga, lantaran amalnya cukup. Sementara sang isteri dan anak-anaknya dinyatakan masuk neraka, lantaran kurang amal saat di dunia.

Lalu sang isteri berkata: "Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinikahi dan dipergauli, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari laki-laki ini," ujar isterinya sambil menunjuk-nunjuk suaminya.

Lalu anak-anaknyapun protes: "Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinafkahi dan diberi harta, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari ayah kami ini," ujar anak-anaknya.

Akhirnya, semua keluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. "Nau’dzubillahi min dzalik".


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

3 Cara Terbaik Memburu Lailatul Qadar

Lailatul qadar adalah malam yang sangat dirindukan oleh seluruh umat Islam. Sebab keutamaannya, malam itu lebih baik dari seribu bulan. "Khairun min alfi syahr," firman Allah di dalam surat Al Qadr. Tidak heran jika banyak umat Islam yang memburu lailatul qadar.

Kepastian lailatul qadar turun pada tanggal berapa, apakah tanggalnya tetap setiap tahun atau berganti-ganti, menjadi misteri tersendiri yang membuat umat Islam semestinya termotivasi untuk mendapatinya, meski tidak bisa memastikannya.

Berikut ini 3 cara terbaik memburu lailatul qadar:

Cara terbaik 3:
Menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan ibadah

Ada hadits yang menyebutkan bahwa lailatul qadar (pernah) terjadi pada malam ke-27, tetapi para ulama tidak memastikan bahwa lailatul qadar pasti jatuh pada tanggal itu di setiap tahun. Ulama Syafi'iyah berpendapat lailatul qadar terjadi pada malam ke-21. Mayoritas ulama meyakini, lailatul qadar jatuh pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Yakni malam 21, 23, 25, 27, atau 29.

Maka untuk "memburu" lailatul qadar, hidupkanlah malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan itu dengan memperbanyak ibadah. Lebih utama jika bisa menunaikan i'tikaf di malam-malam itu.

Cara terbaik 2:
Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan ibadah

Meskipun mayoritas ulama berpendapat, sebagaimana hadits Rasulullah, bahwa lailatul qadar jatuh pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, kenyataan hari ini memperlihatkan malam ganjil bagi sebagian umat Islam ternyata adalah malam genap bagi umat Islam yang lain. Contohnya saja di Indonesia yang saat ini terjadi perbedaan hari dimulainya Ramadhan yang kemudian secara otomatis membawa perbedaan kapan malam ganjil dan kapan malam genap. Karenanya, untuk "memburu" lailatul qadar, hidupkanlah sepuluh malam terakhir Ramadhan itu dengan memperbanyak ibadah. Lebih utama jika bisa menunaikan i'tikaf di sepuluh hari itu sebagaimana dicontohkan Rasulullah, istri beliau dan para sahabat beliau.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ
Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil. (Muttafaq alaih)

Mengomentari hadits tersebut, Syaikh Yusuf Qaradhawi berkata, "Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits di atas adalah malam ke-21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara, sebagaimana yang kita saksikan sekarang, maka malam-malam ganjil di sebagian wilayah adalah malam genap di wilayah lain. Sehingga untuk hati-hati, carilah lailatul qadar ini di seluruh malam sepuluh terkahir Ramadhan."

Cara terbaik 1:
Menghidupkan seluruh malam Ramadhan dengan ibadah

Meskipun mayoritas ulama berpendapat bahwa lailatul qadar jatuh pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, ada juga yang mengatakan kemungkinan terjadinya di malam lain di bulan Ramadhan. Jika demikian halnya, maka cara terbaik adalah menghidupkan seluruh malam Ramadhan dengan ibadah. Minimal, di penghujung malam (sepertiga malam terakhir) pada 20 hari pertama Ramadhan dan beriktikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan. Mengapa untuk awal Ramadhan di sepertiga malam terakhir? Sebab seperti dijelaskan di surat Al Qadr, lailatul qadar terbentang hingga terbitnya fajar. Kapan mulainya kita tidak tahu, tetapi kapan akhirnya kita tahu: terbitnya fajar. Maka jika pun tak mendapat dari awal, kita tidak ketinggalan dari bagian akhirnya.

Cara terbaik inilah yang dipraktikkan oleh para ulama seperti Imam Syafi'i dan Imam Bukhari yang menghidupkan seluruh malam pada bulan Ramadhan hingga beliau bisa mengkhatamkan Al Qur'an setiap malam. Wallahu a'lam bish shawab. [Abu Nida]

Kultum Ramadhan: 4 Pertanyaan di Mahsyar

"Dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi dan diputuskan diantara mereka dengan adil" QS Az-Zumar:69.

Di Padang Mahsyar, seluruh manusia akan dikumpulkan kembali. Padang yang terhampar luas dan rata, serta terang benderang disinari cahaya Allah swt.

Manusia akan berjejer, berbaris-baris menghadapkan wajahnya kepada Allah menanti perhitungan diri masing-masing. Akan ditimbang seluruh kebaikan dan keburukan manusia, apa yang pernah dikerjakan dan apa yang pernah ditinggalkan.

Sebesar debu kebaikan ia akan melihatnya, dan sebesar debu kejahatannya ia akan melihatnya pula. Tidak ada yang luput dari catatan aparat malaikat yang bertugas mencatatnya sewaktu di dunia.

Tentu banyak pertanyaan yang akan dihadapi, apalagi terkait urusan dengan manusia yang belum selesai saat di dunia. Disinilah pengadilan yang hakiki. Namun ada sabda Nabi saw sbb:

"Tidak boleh melangkah kaki seseorang di hari kiamat (mahsyar) sehingga ia ditanya tentang empat perkara. Tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. Tentang jasadnya, untuk apa dia pergunakan. Tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan. Tentang ilmunya, apa amal yang diperbuatnya"~ Al-Hadits.

Ini adalah pertanyaan yang berat dan tidak mudah dijawab. Ketika seseorang dikarunia Allah swt berumur panjang, untuk apa dia habiskan. Apakah untuk beribadah kepada Allah swt atau justru untuk maksiat. Umur dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, hari ke hari, bahkan dari menit ke menit akan dipertanggung jawabkan di Padang Mahsyar kelak.

Ketika kita diberi tubuh yang sehat, paras yang cantik atau ganteng, untuk apa kita gunakan. Apakah untuk ketaatan kepada Allah, atau melalaikan perintah-perintahNya.

Ketika kita diberikan harta, dari mana diperoleh. Halal atau haramkah harta itu. Lalu dibelanjakan untuk apa? Apakah untuk mendekatkan diri pada-Nya, atau justru berleha-leha semakin jauh dari penghambaan diri kepada Allah swt?

Tentang ilmu dan kepintaran yang kita miliki, adakah pengamalannya sudah sesuai dengan tuntunan syariat. Bagaimana akibatnya, jika yang bersangkutan malah menuntut ilmu hitam dan melakukan kedurhakaan dan kejahatan.

Amat pelik persoalan yang akan melilitnya esok saat yaumul hisab, hari perhitungan. Seorang ayah akan ditanya tanggung jawabnya terhadap isteri dan anak-anaknya, sudahkah ia mendidik dan membimbing anak isterinya ke jalan Allah. Ataukah ia abai terhadap amanah tersebut.

Seorang ibu akan ditanya tentang rumah suaminya, tanggung jawab terhadap anak-anaknya. Bahkan seorang pemimpin akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya. Sehingga para pemimpin akan dihisab belakangan, setelah orang-orang biasa selesai.

Lalu berapa lamakah manusia akan berada di Padang Mahsyar. Satu keterangan hadits, mengatakan lamanya ribuan tahun.

"Siapa yang dirincikan hisabnya, maka ia akan celaka," ujar Nabi saw.

"Allahumma yassir hisabanaa, Wa Yammin kitaabana..Ya Allah mudahkanlah hisab kami. Dan berilah kitab kami dari sebelah kanan".

Kalau tupai membidik cempedak
Arahnya jelas tak kan tersasar
Kalaulah lalai mendidik si anak
Jadi musuh di padang mahsyar.



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kultum Ramadhan: Tahu Diri

"Bukankah telah datang suatu masa atas manusia, yang ketika itu dia merupakan sesuatu yang tidak bisa disebut" QS Al-Insan :1.

Ketika Rasulullah saw, dalam sebuah taklim, menjelaskan tentang hari berbangkit. Dimana setelah kiamat besar terjadi, manusia akan dibangkitkan kembali dari kuburnya dan menghadap kepada Allah swt untuk di-hisab, diadili di Padang Mahsyar.

Tiba-tiba seorang musyrik yang mendengarkan kalimat ini, bergegas ke rumahnya, diambilnya cangkul dan digalinya kuburan. Lalu dipungutnya tulang belulang yang telah patah, sampai potongan-potongan kecil. Lalu dibawanya dan di tumpahkannya ke hadapan Rasulullah saw.

"Ya Muhammad, engkau yang benar saja. Apakah mungkin tulang belulang yang sudah hancur ini bisa hidup kembali," ujar orang musyrik itu.

Lalu Rassulullah saw membacakan surat Al-Insan diatas. "Bukankah telah datang suatu masa atas manusia, yang ketika itu dia merupakan sesuatu yang tidak bisa disebut?," terang Nabi saw.

"Dulu, sebelum lahir saya ini tidak ada, engkaupun tidak ada, semua manusia tidak ada. Tidak bisa diberi nama, tidak bisa disebut, karena sesuatu yang belum ada wujudnya. Barulah Allah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur".

Dengan kata lain Nabi saw, ingin menguji logika orang musyrik tadi. Bahwa dulu manusia tidak ada, atas kekuasaan Allah swt kemudian menjadi ada. Nah sekarang bahannya sudah ada, sudah ada tulang belulangnya, tentu dengan Maha Pencipta Allah swt, akan bisa menyusunnya kembali.

"Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur" QS Al-Insan:2.

Oh, ternyata manusia itu hanya diciptakan dari setetes mani saja. Bukan dari sebongkah emas atau sekarat berlian.

Kemudian dijadikan-Nya pendengaran, penglihatan dan hati, agar manusia itu bersyukur.

Tahu diri itu sangat penting. Siapa kita, dari mana asal kita dan akan kemana kita setelah kehidupan ini berakhir. Kalau orang tidak tahu diri, maka tentu tidak tahu posisi, tidak tahu menempatkan dirinya, baik di hadapan Allah swt, Yang Maha segalanya ataupun dihadapan manusia.

Dengan memahami hakikat diri, tentu akan menjauhkan kita dari sikap sombong dan takabur. Sombong kepada Allah swt, sombong kepada manusia atau sombong kepada hewan, tumbuhan atau makhluk lainnya.

Apapun kedudukan kita dihadapan manusia, ternyata kita hanyalah makhluk Allah yang kecil dan kerdil.

Ya Allah, janganlah Engkau usir kami –dalam kehinaan kami ini- dari sisi-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau usir kami –dalam kehinaan diri kami- dari pintu-pintu-Mu. Pinta kami di akhir Ramadhan ini. Duhai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Antara Ramadhan





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kultum Ramadhan: Jibril menangis

ilustrasi
"Maka orang-orang kafir itu, pakaian mereka dibuatkan dari api neraka, lalu disiramkan ke atas kepalanya rebusan air mendidih. Hancur luluhlah isi perut dan kulit-kulit mereka" QS Al-Hajj: 19-20.

Ketika peristiwa Isra' Mi'raj, Rasulullah saw diperlihatkan kepada pemandangan penduduk neraka. Diantaranya, ada orang yang lidahnya setiap saat semakin panjang, hingga berlilit-lilit dan diinjak-injak orang di jalan.

Lantaran merasa kesakitan, orang itu lalu menggunting lidahnya. Akan tetapi lidahnya kembali menjadi panjang, lalu diguntingnya kembali. Begitulah keadaannya seterusnya.

Ada lagi seseorang yang membawa bara neraka di sebuah piring. Lalu bara itu dimakannya, langsung tembus dari mulut hingga ke anusnya. Orang itu melolong sangat kesakitan, namun bara itu kembali dimakannya, dan tembus lagi sampai ke anusnya, dia melolong kembali. Begitulah seterusnya.

Ada pula orang yang perutnya sebesar kamar, setiap akan berdiri, orang itu langsung terbanting jatuh. Dicobanya lagi berdiri, namun ia jatuh lagi. Begitulah seterusnya.

Ada juga pemandangan perempuan lacur, orang yang saling pukul kepala dengan martil dan sebagainya.

Rassulullah saw bertanya kepadaa Malaikat Jibril yang menemani beliau saw:
"Apa dosa-dosa orang itu wahai Jibril," tanya Rasulullah saw.

Malaikat Jibrilpun menjelaskan, bahwa orang yang memotong-motong lidahnya itu, adalah diakibatkan dosanya yang sering bergunjing, membicarakan keburukan saudaranya.

Adapun orang yang memakan bara api neraka itu disebabkan, karena waktu di dunia ia suka memakan harta anak yatim dengan cara tidak benar. Sedangkan orang yang perutnya sebesar kamar itu disebabkan dosanya yang suka memakan riba, bunga uang.

Lalu malaikat Jibril bercerita tentang api neraka. Bahwa Allah swt, telah menyalakan api neraka itu selama 1.000 tahun, sehingga apinya menjadi merah padam bernyala-nyala.

Lalu dipanaskan lagi 1.000 tahun, lantaran suhu panasnya, api itu berubah warna menjadi putih. Lalu Allah swt memanaskannya selama 1.000 tahun lagi, hingga apinya berubah menjadi hitam pekat dan gelap.

"Jika ada manusia yang dilemparkan ke dalamnya, maka sekejap saja langsung akan musnah," ujar Jibril.

Kemudian malaikat Jibril pun menangis. "Mengapa engkau menangis Ya Jibril," tanya Rasulullah saw. "Aku takut kepada jiwaku," ucap Jibril.

"Bukankah engkau adalah malaikat, yang tidak mungkin berbuat maksiat kepada Allah swt," kata Nabi saw.

"Benar, akan tetapi takdir Allah bisa berlaku atas siapa saja. Bukankankah Iblis itu asalnya adalah penduduk Surga, lalu berlaku takdir Allah swt atasnya. Hingga Iblis menjadi penghuni Neraka," urai Jibril.

Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari api neraka dan segala apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik niyat, perkataan, perbuatan maupun tekad-tekad kami. Amien.

Ada seroja yang tengah merona
Simbol kota-raja semakin merekah
Apa bahagia yang paling sempurna
Berkumpul keluarga di syurga Allah



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kultum Ramadhan: Ibadah dan Cinta

"Dan Cinta... dapat menghilangkan segala rasa sakit" ~ Al-Bushiri.

Wajah Tsaubaa' terlihat pucat, sehingga seorang sahabat bertanya kepadanya: "Ya Tsaubaa', mengapa engkau terlihat pucat? Apakah engkau kurang sehat?," ujar sahabat.

"Alhamdulillah sehat, akan tetapi aku sudah tiga hari tidak berjumpa dengan Rasulullah saw," jawab Tsaubaa'.

Kerinduan kepada seseorang yang kita cintai terkadang mempengaruhi jiwa dan alam pikiran. Bahkan terkenang setiap waktu.

Dan ini terlukis di wajah Tsaubaa' yang rindu berjumpa Nabi saw, rindu mendengarkan taujih, arahan beliau saw. Rindu mendengar berita wahyu yang baru turun. Bahkan sekadar ingin memastikan apakah Rasulullah saw, baik-baik dan sehat-sehat saja.

Kisah lain yaitu tentang sahabat bernama Ka'ab, yang setiap sebelum subuh mencari air lalu memberikannya kepada Rasulullah saw untuk berwudhu. Demikianlah yang dilakukan Ka'ab setiap hari menjelang Subuh, sehingga Rasulullah saw, berkata: "Ya Ka'ab, mintalah apa yang engkau inginkan. Nanti aku mohonkan kepada Allah, dan Insya Allah akan dikabulkan," ujar Nabi saw.

"Saya tidak minta apa-apa ya Rasulullah. Saya hanya ingin bersama engkau di surga Allah," jawab Ka'ab.

"Kalau engkau ingin bersamaku di Surga kelak, maka bantulah dengan memperbanyak sujud," kata Nabi saw.

"Katakanlah (Ya Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi saw). Maka kalian akan dicintai Allah dan diampuni segala dosa kalian..." QS 3:31.

Cara mencintai Allah swt adalah dengan menghidupkan sunnah Nabi saw, bukan dengan mengada-adakan sesuatu yang tidak ada tuntunannya di dalam Al Quran maupun sunnah Nabi saw.

Ibadah adalah puncak dari rasa kecintaan. Dia berawal dari pengenalan kita terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat qawliyyah (Al-Qur’an dan Sunnah) maupun ayat-ayat kawniyyah (Alam dan seluruh makhluk).

Dari pendalaman memahami ini, akan mulai muncul rasa simpati kepada kebesaran Allah swt, kepada nikmat Allah, kekuasaan Allah, kebaikan Allah swt dan sebagainya.

Barulah kemudian mewujud dalam bentuk ketaatan yang sejati, kesetiaan yang tak mudah goyah, yang berujung dalam bentuk penghambaan dan penyerahan total diri kita kepada Allah swt.

Inilah hakekat ibadah yang sebenarnya, yaitu pengabdian kepada Yang Maha Pencipta, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Upaya penghambaan ini tentu akan berbuah manis, yaitu beroleh cinta dari Allah swt, diampuni segala dosanya dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Semoga ibadah Ramadhan ini, kian menuntun kita semakin dekat kepada cinta Allah swt.

Kalau mengerti jenisnya lebah
Tentu hindari si pohon kapuk
Kalau mengerti makna ibadah
Tentu menjadi lebih khusyuk



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

I’tikaf

I’tikaf secara bahasa berarti tinggal/diam di suatu tempat, baik dengan tujuan yang baik maupun tujuan yang buruk. Jadi secara bahasa, orang yang diam di suatu tempat persembunyian untuk bersiap mencuri –misalnya- bisa disebut sebagai i’tikaf. Sebagaimana Al Qur’an juga menyebutkan, orang yang berdiam diri di depan patung untuk menyembahnya, secara bahasa juga menggunakan akar kata yang sama dengan i’tikaf.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَـٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ
"(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Patung-patung apakah ini, yang kamu beri’tikaf/tekun dalam beribadah kepadanya?'." (QS. Al Anbiya’ : 52)

Pengertian I’tikaf secara Istilah
Pengertian i’tikaf secara istilah dalam syariat adalah menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Disyariatkannya I’tikaf
Para ulama’ berijma’ bahwa i’tikaf disyariatkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari terakhir. Para sahabat juga melakukan i’tikaf sebagaimana contoh Nabi Muhammad ini.

Bahkan, pada Ramadhan terakhir sebelum wafat, Rasulullah beri’tikaf hingga dua puluh hari. Hal ini diterangkan di hadits riwayat Imam Bukhari, Abu Dawud, dan lain-lain.

Sepeninggal Rasulullah, para istri beliau juga beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Hukum I’tikaf
I’tikaf (secara istilah, syar’i), hukum asalnya adalah sunnah. Terutama i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. I’tikaf di waktu yang lain yang dilakukan secara sukarela juga hukumnya sunnah.

Sedangkan yang kedua, i’tikaf bisa menjadi wajib jika seseorang bernazar akan melakukan i’tikaf. Sebagaimana Umar bin Khatab radhiyallahu anhu menyampaikan nazarnya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, aku telah bernazar akan beri’tikaf di Masjidil Haram satu malam.” Rasulullah pun bersabda: “Penuhilah nazarmu itu!”

Demikian pengertian dan hukum i’tikaf, masih ada beberapa pembahasan berikutnya mengenai i’tikaf yang semoga bisa menyusul kemudian, yakni:
- Batasan waktu i’tikaf
- Tempat sah i’tikaf
- Syarat i’tikaf
- Rukun i’tikaf
- Sunnah-sunnah i’tikaf
- Hal yang makruh dilakukan saat i’tikaf
- Hal yang boleh dilakukan saat i’tikaf
- Hal yang membatalkan i’tikaf

[Maraji’: Fiqih Sunnah bab i’tikaf, Panduan Taklim Ramadhan]

Kultum Ramadhan Imam Masjid Gaza: "Semoga Ramadhan Depan Palestina Bebas dari Penjajahan"

Shalat tarawih di Masjid Muhajirin Gresik, Rabu (24/7) malam, sangat istimewa. Sebabnya, kultum Ramadhan ba’da tarawih diisi oleh Syaikh Amzad Khalifah Abu Hamzah, Pengasuh Tahfidzul Qur’an Al Kahfi Gaza dan sekaligus imam masjid di Palestina.

Syaikh Amzad memulai kultumnya dengan membaca surat Al Isra’ ayat pertama:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Beliau menjelaskan tentang Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam, dan keutamaan untuk mengingat dan menjaganya. Kedudukan masjid Al Aqsha juga bisa dilihat dari histori masjid mulia ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu.

Warga Gaza saat ini sedang mempertahankan tanah Palestina yang dijajah oleh Israel sejak 1948. Palestina bukan hanya milik penduduknya saja, tapi milik umat Islam seluruh dunia. Di dalamnya terdapat kiblat pertama. Oleh karena itu, wajib bagi seluruh umat Islam untuk berjuang dan berkontribusi bagi masjid Al Aqsha. Syaikh Amzad mempertegas, hukum berjuang membela Masjid Al Aqsha ini adalah fardhu ‘ain sama sepeti kita melakukan sholat dan puasa.

Kondisi Palestina saat ini sangat menyedihkan. Anak, keluarga, rumah, dan harta umat Islam di sana dikorbankan untuk untuk berjuang melawan penindasan dari bangsa Yahudi. Setiap hari zionis menghancurkan masjid, rumah, dan ladang milik umat Islam lalu diganti oleh zionis menjadi tempat-tempat maksiat.

Yang mengherankan, Syaikh Amzad menyampaikan bahwa jumlah umat Yahudi saat ini hanya 15 juta saja namum mereka sangat gigih siang malam menghancurkan Palestina dan menghancurkan umat Islam. Sedangkan umat Islam jumlahnya lebih 1,5 miliar. Pertanyaanya adalah, apakah kita akan tinggal diam saja Masjid Al Aqsha dihancurkan?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10 تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya

Selanjutnya beliau menyinggung tentang jihad bagi umat Islam, di mana pengertian di sini bisa bermakna jihad dengan jiwa raga kita ataupun jihad dengan harta atau dana yang kita miliki. Dan inilah yang memungkinkan kita lakukan, karena jihad dengan jiwa orang Palestina sendiri sudah cukup dan mampu untuk melakukannya.

Gaza telah diblokade selama 7 tahun. Kota ini luasnya tidak lebih dari kota Jombang Jawa Timur yang memiliki warga 2 juta, yang mana saat ini sangat sulit menemukan kondisi untuk santai, karena rudal musuh sewaktu waktu bisa jatuh dan ini hampir setiap hari, selama 365 hari dalam setahun.

Beliau menambahkan bahwa kondisi ekonomi di sana sangat memprihatinkan. Dalam kungkungan embargo ekonomi , kondisi makanan kekurangan, susu untuk anak-anak sangat terbatas, listrik hampir mati, BBM harganya sangat tinggi. Namun demikian, meski banyak jatuh korban yang syahid, mereka menolak mengangkat bendera putih.

Meskipun kondisi di sana sangat memprihatinkan, Gaza mampu melahirkan ribuan penghafal Qur’an. Bahkan ada yang sanggup menghapal Al Qur’an 30 juz hanya dalam waktu 2 bulan. Para mujahidin di Gaza hampir setiap hari menghafal Al Qur’an, mereka selalu dekat dengan Al Qur’ an sehingga mereka tidak takut dengan Israel, walaupun Israel merupakan negara yang ditakuti Amerika, Rusia, China termasuk Arab.

Sekarang mereka membuat miniatur Masjid Al Aqsha untuk memberikan pelajaran bagi generasi penerus mereka , dengan cara menaruh d irumah rumah mereka. Salah satu tujuannya adalah melatih anak kecil mencintai Al Aqsha dan cinta akan jihad Palestina.

Sebelum ditutup, beliau mengingatkan bahwa yang membebaskan Al Aqsha dulu adalah Umar Bin Khattab yang keturuna Arab dan selanjutnya adalah Shalahudin Al Ayyubi yang bukan keturunan dari Arab, tetapi keturunan dari bangsa Qurtubi. Dan bisa jadi, pembebas selanjutnya adalah dari bangsa Indonesia. Semoga Ramadhan depan Masjid Al Aqsha sudah terbebas dari penjajahan. [Danil S]

Kultum Ramadhan: Kejujuran Hati

"Maka barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung" QS Ali-Imran:185.

Usai perang Khandaq, Rasulullah saw memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk mengepung benteng Yahudi di Khaibar.

Hal ini untuk membuat perhitungan akibat ketua mereka, Hujay bin Akhtab menghasut kabilah-kabilah agar mengepung Madinah di perang Khandaq.

Saat pengepungan salah satu benteng di Khaibar, tiba-tiba datanglah seorang pengembala Yahudi bernama Aswad sedang menggiring ribuan ekor kambing.

Khawatir mata-mata, maka Aswadpun ditangkap, lalu dihadapkan kepada Rasulullah saw.
Nabi saw menasehati Aswad dan akhirnya dia taslim dan mengucapkan kalimat syahadat.

"Tapi saya harus kembalikan kambing-kambing ini kepada pemiliknya ya Rasulullah," ujar Aswad. "Silakan, hak orang harus dikembalikan," jawab Nabi saw.

Lalu Aswad mulai memasukkan kambing-kambing itu ke benteng Yahudi, dan pasukan kaum muslimin dilarang menyerang hingga Aswad selesai.

Selanjutnya Aswad ikut bergabung dengan pasukan kaum muslimin. Siang itu, akhirnya kaum muslimin berhasil merebut satu dari tiga benteng Yahudi tersebut. Lalu harta rampasan pun di bagi-bagikan, termasuk bagian untuk Aswad. Akan tetapi Aswad menampiknya, dia tidak mau menerimanya.

"Aku tidak menginginkan ini ya Rasulullah, saya ingin syahid dan tertusuk di sini dan di sini," ujar Aswad sambil menunjuk dada dan lehernya.

Setengah berbisik sahabat bertanya kepada Rasulullah, apakah keinginan Aswad itu sungguh-sungguh atau bukan.

"Kalau kata-kata itu keluar dari hati nuraninya, maka Allah swt akan membuktikannya," kata Nabi saw.

Menjelang Ashar, perangpun kembali berkecamuk, dan kaum muslimin berhasil merebut benteng kedua. Namun Aswad gugur, dia syahid.

Sahabat melaporkan hal ini kepada Raasulullah saw. "Aswad syahid ya Rasulullah, dia tertusuk di sini dan di sini," ujar sahabat itu sambil menunjuk leher dan dadanya.

"Faqad Shadaq (Sungguh dia jujur)," kata Nabi saw. "Dia yang bicara tadi ya Rasulullah," tanya sahabat. "Benar, dia itu," jawab Nabi saw, dan Aswad akan menjadi ahli surga.

Dalam keterangan lain dikisahkan, bahwa sejak mengucapkan kalimah syahadat hingga mencapai syahidnya, ternyata Aswad belum sempat menunaikan shalat, namun takdir berlaku baginya mendapatkan surga Allah swt.

"Barang siapa diciptakan sebagai ahli surga, maka dimudahkan baginya amal-amal ahli surga" (Al-Hadits).

Kalau ditinjau dari segi umur keimanan, tentu Aswad masih sangat belia, masih mualaf. Namun karena kejujuran hatinya, dia disebut Nabi saw sebagai orang sidiq dan berhak mendapat surga Allah swt.

"Subhaanallah, bagaimana dengan kita, yang umur keimanannya jauh lebih tua?" Tanyakan kepada diri kita masing-masing.

Suara tekukur sedih bunyinya
Tentu rindukan bebas terbang
Siapa tak jujur pada hatinya
Tentu selalu merasa bimbang
.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kultum Ramadhan: Ketika Tiba-tiba Rasulullah SAW Beruban

"Maka istiqomahlah engkau (Muhammad) sebagaimana diperintahkan, bersama orang yang taubat, jangan melampaui batas” -QS Hud:112

Tiba-tiba saja rambut Rasulullah saw cepat beruban, sehingga seorang sahabat bertanya kepada beliau saw. "Mengapa engkau cepat beruban Ya Rasulullah?'".

"Aku cepat beruban lantaran turunnya surat Hud dan saudara-saudaraanya," jawab Nabi saw.

Surat Hud (11) dalam Al Quran, diantara berisi perintah kepada Rasulullah saw agar istiqomah, tetap di jalan yang lurus. Dan lantaran memikirkan konsekuensi dari ayat inilah yang membuat rambut beliau cepat memutih.

Istiqomah juga bermakna konsisten dengan semua nilai-nilai yang diturunkan Allah swt dan disunnahkan Nabi saw. Di samping ikhtiar sebagai manusia, maka dalam setiap shalat, kita senantiasa berdoa:

"Ihdinas shiraathal mustaqiim". Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Paling tidak, doa ini dibaca 17 kali sehari semalam. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya agar kita tidak tergoda menyimpang ke jalan yang bengkok.

Perintah istiqomah dalam surat Hud ini, diikuti pula agar mengajak serta orang-orang yang bertaubat, namun jangan melampaui batas. Yaitu istiqomah dalam beramal saleh dan berdoa kepada Allah swt, namun harus tetap menyeimbangkan segala hak, seperti hak Allah atas kita, hak diri kita atas kita, hak keluarga, atau hak orang lain atas kita.

Maksudnya adalah, meski istiqomah, jangan sampai kita menutup diri, kemudian tidak berinteraksi lagi dengan manusia yang lain. Untuk menjaga tetap istiqomah, Allah swt dalam ayat berikutnya QS Hud:113 memerintahkan agar kita tidak cenderung kepada orang-orang zhalim.

Sekali condong kepada kezhaliman, maka Allah swt akan mencabut perlindungan-Nya dan pertolongan-Nya. Selanjutnya tentu kerugian besar yang akan diperoleh, baik di dunia maupun di akhirat.

Menjadi manusia yang istiqomah di tengah kehidupan yang penuh getah ini tidaklah mudah. Perlu energi sendiri untuk bertahan di tengah-tengah banyaknya godaan harta, tahta dan lawan jenis. Mungkin kita harus berulang kali, meng-adjust, membetulkan langkah-langkah kita, manakala sudah mulai dirasakan ada yang menyimpang.

Bagi orang-orang yang beriman dan senantiasa istiqomah dalam kehidupannya, maka di akhir hayatnya, kala sakaratul maut tiba, maka Allah swt akan mengutus malaikat yang akan menghibur dan berkata: "Wahai Hamba Allah yang saleh/ah, janganlah engkau takut, dan janganlah bersedih. Dan Allah telah menjanjikan surga untuk engkau". (QS Fussilat:30).

Di sinilah mungkin tersimpan sebuah rahasia, mengapa kadang kita saksikan, seorang hamba Allah bisa tersenyum saat wafat, melepas ruh dari jasadnya. Kerap rasa takut merasuk di hati, adakah kita dapat meraih husnul khatimah, akhir yang baik dan bersyahadah: Asyhadu anLaailaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rassulullah. "Ya Allah, kasihi kami dalam sakratul maut kami". Amien.

Siapa senang bunga dahlia
Tentu memilih si warna merah
Siapa tahan godaan dunia
Tentu bahagia di surga Allah



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Ceramah Ramadhan: Lelaki Penduduk Surga

"Masuklah kalian ke dalam Surga, tidak ada ketakutan bagi kalian dan tidak akan ada kesedihan" QS Al-A’raaf: 49.

Saat tengah berlangsung Taklim Rasulullah SAW, selepas shalat Ashar di Masjid Madinah. Tiba-tiba Nabi SAW berkata, "Akan datang seorang lelaki penduduk Surga".

Semua mata sahabat melihat ke pintu masjid. Maka masuklah seorang laki-laki, nampaknya ia baru selesai berwudhu, dia usap air yang membasahi jenggotnya kemudian dipercikkan ke belakang. Lalu laki-laki itu shalat sunnat dua rakaat, kemudian ikut bergabung mendengarkan taklim tersebut.

Esok harinya pada jam yang sama, taklim rutin berjalan kembali. Tiba-tiba Nabi SAW berkata pula, "Akan datang seorang lelaki dari pendduduk Surga".

Semua orangpun menoleh, ternyata dia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah SAW kemarin.

Adalah putra Umar bin Khattab, yang bernama Abdullah, merasa penasaran mendengar ungkapan Nabi SAW tersebut dua hari berturut-turut. Apa rahasia ibadah orang ini?, hingga diberi predikat sebagai "lelaki penduduk Surga".

Selesai shalat Isya, maka Abdullah pun mengikuti laki-laki tersebut dari belakang. Merasa ada orang berjalan di belakangnya, lelaki itupun menoleh, "Ada apa ya Abdullah?", sapa laki-laki itu.

"Bolehkah saya menumpang menginap tiga malam ini, saya sedang kurang enak di rumah," ujar Abdullah.

"Boleh, silakan," ujar laki-laki itu.

Setiap tengah malam menjelang subuh, Abdullah bin Umar bangun, mencoba mengintip ibadah laki-laki ini. Mungkin dia punya kelebihan ibadah dan rajin shalat malam.

Akan tetapi yang dia lihat, hanyalah sebagaimana kebiasaan sahabat secara umum, beribadah menjelang Subuh saja. Selama tiga malam berturut-turut seperti itu.

Merasa sudah cukup, Abdullahpun pamit dan berterima kasih kepada tuan rumah. Namun sebelum pergi Abdullah menyempatkan diri bertanya.

"Aku mendengar Rasulullah saw berkata bahwa engkau adalah lelaki dari penduduk Surga. Tapi setelah saya perhatikan, ternyata ibadah engkau biasa-biasa saja. Apakah ada sesuatu yang engkau sembunyikan?," tanya Abdullah.

"Iya, seperti yang engkau lihat," ujar lelaki itu.

"Baiklah, kalau begitu saya pamit dan terimakasih atas tumpangan menginapnya," kata Abdullah sambil berlalu.

Setelah agak jauh, tiba-tiba lelaki itu memanggil, "Ya Abdullah, ke sini".
Abdullahpun datang menghampiri, "Ada apa?".

"Kalaupun ada suatu rahasia yang saya lakukan adalah: Setiap malam sebelum tidur saya menghilangkan semua rasa iri terhadap semua saudara-saudara saya dan saya memaafkan mereka," ujar laki-laki itu.

"Baiklah, terimakasih," ucap Abdullah kemudian pergi.

Ternyata dengan membersihkan penyakit hati, berupa iri hati dan menjadi pemaaf sepanjang hidupnya, menyebabkan lelaki itu disebut Nabi SAW sebagai penduduk Surga.

Pemaaf dan tidak hasad, iri hati adalah sikap seorang yang bertaqwa. Nan tengah kita tempa di dalam bulan Ramadhan ini. Insya Allah.

Kalau ingin untaian melati
Boleh petik di dekat saga
Kalau rajin bersihkan hati
Boleh jadi penghuni surga
.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Ceramah Ramadhan: 4 Langkah Menuju Surga

"Wahai orang-orang yang beriman, ruku, sujud dan beribadahlah kepada Allah, dan perbuatlah kebaikan-kebaikan agar kalian beruntung" QS Al-Hajj : 77

Setelah lelah berhijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah saw beristirahat di Quba'. Bahkan beliau saw beserta sahabat sempat menidirikan sebuah masjid, walaupun saat itu masih dalam wujud sangat sederhana. Batas-batasnya adalah pohon kurma, dan sebagian atapnya dari pelepah kurma ditambah daun-daun kering. Saat ini, masjid tersebut sudah terlihat cantik dan megah yang kita kenal dengan nama Masjid Quba'.

Lebih sepekan Rasulullah saw berada di Quba', dan di sinilah awal sejarah bermula sholat Jumat pertama. Dulu pada waktu sebelum hijrah, sholat Jumat belum bisa ditunaikan karena masih berada di bawah kekuasaan Quraisy, di kota Makkah.

Usai melaksanakan sholat Jumat, Rasulullah saw berangkat dengan berjalan kaki, memasuki kota Madinah. Beliau diiringi oleh para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor. Sementara unta Nabi saw dilepaskan dan berjalan paling depan.

"Biarkan unta itu berjalan, karena dia dalam bimbingan Allah swt," Ujar Nabi saw.

Lalu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, tahun apakah ini?, bulan apakah ini? dan hari apakah ini?

Lalu beliau saw bersabda: "Ayyuhannas Afsyus salaam, wa'ath'imuth tho'aam, wasiilul arham, washallu billaili wannaasu niyaam, tadkhulul jannata bissalaam" HR. Muslim

Artinya: Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan (kepada fakir miskin), sambungkan tali silaturrahim. Dan sholat malamlah kalian ketika manusia sedang nyenyak tidur. Engkau akan masuk syurga dengan salam (selamat).

Dalam hadits ini, Nabi saw mengungkapkan empat langkah untuk menuju syurga Allah swt:

Pertama, tebarkanlah salam. Ucapan Assalaamu’alaaikum warahmatullahi wabarakatuhu, disunnatkan bagi yang mengucapkannya, dan bagi yang mendengarnya, hukumnya wajib untuk menjawab. Ucapan salam adalah doa terhadap sesama hamba Allah swt, ucapan salam dapat memadamkan api dedam dan permusuhan, bahkan dapat memperkuat tali persaudaraan sesama kita.

Kedua, berilah makan. Sungguh banyak orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan makanan. Ada fakir miskin, anak-anak terlantar atau siapapun yang membutuhkannya. Kalaupun mengundang untuk walimahan atau syukuran, maka disunnahkan juga untuk mengundang orang-orang papa. Jangan sampai ada sebuah keluarga kepalaran, sementara tetangganya tertidur nyenyak lantaran kekenyangan.

Ketiga, menyambungkan silaturrahim. Menyambungkan kasih sayang, menyambungkan tali persaudaraan. Berkunjung, bertatap muka, berbincang-bincang agar suasana masyarakat menjadi damai dan tenteram. Dengan bersilaturrahim banyak pekerjaan-perkerjaan yang sulit bisa diselesaikan. Pesan Nabi saw, bahwa silaturrahim itu memperpanjang umur dan menambah rezeki.

Keempat, sholat malam. Ada saat-saat khusus, dimana doa kita lebih dikabulkan oleh Allah swt. Yaitu bermunajat dan berdoa di malam hari, saat-saat orang lain sedang nyenyak tidur. Kita kenal dengan istilah qiyaamul lail, mendirikan ibadah malam, dengan sholat tahajjud, berdoa dan berdzikir kepada Allah swt. Bahkan pada bulan Ramadhan ini disunnahkan sholat tarawih, membaca Al-Qur’an, istighfar dll.

Dari empat langkah menuju syurga Allah swt, ternyata tiga syaratnya,sangat terkait dengan hablun minannas dan hanya satu poin yang menyebutkan ibadah mahdhoh, hablun minallah yaitu sholat malam.

Jadi untuk memasuki surga Allah swt, dalam pemahaman hadits ini, maka hubungan kita dengan manusia harus terus diperbaiki. Kualitas hubungan dan interaksi kita dengan manusia seperti mengucapkan salam, memberi makan dan menyambung kasih sayang justru menjadi faktor besar untuk masuk surga.

Siapa suka beternak ayam
Buatlah sangkar pemikat punai
Siapa suka mengucap salam
Membuat hati menjadi damai



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kehati-hatian Seorang Abu Bakar

"Wahai manusia makanlah yang ada di muka bumi ini yang halal dan baik. Janganlah ikuti langkah-langkah setan, sungguh dia musuhmu yang nyata" QS Al-Baqarah: 168

Sepeninggal Rasulullah saw, para sahabat memilih dan mengangkat Abu Bakar Shiddiq sebagai Khalifah. Meskipun dari segi fisik beliau tidak terlalu besar, namun Abu Bakar mempunyai banyak kelebihan, bahkan diberi gelaran As-Shiddiq (jujur dan yakin).

Suatu siang, karena sibuk bekerja sebagai Khalifah, Abu Bakar telat makan siang. Lantas beliau memanggil pembantunya.

"Belikan makanan", ujar Khalifah.

Maka sang pembantu bergegas mencari makanan, lalu kembali dan memberikannya kepada Abu Bakar. Karena memang perut beliau terasa sangat lapar, makanan itu langsung disantap oleh Khalifah. Sekejap, separuh makanan itu sudah habis dimakan.

Akan tetapi, sang pembantu tetap berdiri, memperhatikan Abu Bakar makan. Lantaran heran, Abu Bakar pun bertanya.

"Engkau sudah makan?"

"Sudah tuan," jawab pembantunya.

"Lalu mengapa engkau terus berdiri di situ?" tanya Khalifah.

"Aku heran, biasanya tuan tanya dulu asal makanan itu dari mana. Tapi kini tuan langsung menyantapnya," ujar pembantunya.

"Lah, memangnya engkau dapat makanan ini dari mana?," selidik Abu Bakar.

Lalu sang pembantupun bercerita, di waktu hendak membeli makanan tadi, tiba-tiba ada sebuah keluarga memanggilnya. Rupanya ada anggota keluarga tersebut yang sedang sakit keras. Mereka minta pembantu Abu Bakar ini untuk menjampi (membaca mantra). Karena dulu ia memang mantan tukang jampi (dukun). Namun setelah masuk Islam, dia tidak mau lagi menjampi, karena perbuatan itu diharamkan. Namun karena setengah dipaksa, akhirnya dia jampi sekedarnya. Lalu diberilah upah makanan ini.

"Jadi ini makanan dari hasil engkau menjampi?," tanya Abu Bakar gusar.

"Betul Amirul mu’minin," jawab sang pembantu.

Khalifah Abu Bakar langsung berhenti makan, lalu di masukkannya jari ke tenggorokannya. Sehingga beliau muntah-muntah dan makanan itu keluar kembali dari perutnya. Sampai-sampai beliau mengalami sesak napas. Kebetulan dilihat oleh Abdullah bin Masúd.

"Ya Abu Bakar, tidak usah serepot itu, engkaukan tidak tahu sebelumnya bahwa makanan itu adalah haram, Insya Allah dimaafkan oleh Allah," ujar Ibnu Masúd.

"Tidak, meskipun makanan ini keluar dari perutku, bersamaan dengan lepasnya nyawaku dari tenggorokanku, aku rela. Karena aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Tiap makanan yang tumbuh dari barang yang haram, maka nerakalah tempatnya," tegas Abu Bakar.

Wara’, hati-hati adalah sikap seorang insan yang bertaqwa. Bahwa yang halal itu jelas, dan yang harampun sudah jelas. Diantara keduanya ada mutasyabihah, meragukan. Siapa yang mengambil mutasyabihah itu dia telah menjatuhkan dirinya ke jurang celaka. Siapa yang menghindarkannya, sungguh telah menjaga dirinya dari adzab Allah swt.

Jauhi sarang lebah di bumbungan
Mereka menyerang tanpa ampun
Jauhi barang yang diharamkan
Rezeki tak berkurang sedikitpun



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Ceramah Ramadhan Singkat: Puasa adalah Benteng

Ada sebuah nasehat pendek dalam hadist yang hampir semua perawi meriwayatkannya, baik Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Imam Ahmad, Abu Dawud, maupun An-Nasa’i.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ
Puasa adalah benteng (Muttafaq ‘alaih)

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, benteng berarti dinding dari tembok (batu, tanah) untuk melindungi kota (tempat pasukan) dari serangan musuh. Bisa juga berarti tempat yang diperkuat dinding tembok dan sebagainya untuk kediaman prajurit.

Puasa sebagai benteng, sedikitnya membentengi pelakunya dari tiga hal:

1. Benteng terhadap syahwat

Dengan berpuasa, seseorang akan terbentengi dari syahwat, secara khusus dalam konotasi seksual. Sebab, lapar dan dahaga mampu menekan gejolak syahwat.

Karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Benteng terhadap perbuatan maksiat
Selain syahwat seksual, puasa juga menjadi benteng bagi seorang muslim dari berbagai bentuk kemaksiatan. Baik kemaksiatan tangan, kaki, mata, lisan, maupun telinga. Puasa melatih pelakunya untuk menghindari perbuatan-perbuatan maksiat yang telah diketahui mampu menghilangkan pahala puasa. Inilah penjelasannya mengapa di bulan Ramadhan suasana keshalihan masyarakat kita lebih terasa.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ
Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak keras, jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa. (Muttafaq ’alaih)


2. Benteng terhadap perbuatan sia-sia

Diantara ciri orang yang beriman adalah orang yang terbentengi dari perbuatas sia-sia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya," (QS. Al Mukminun : 1-5)

Puasa menjadi benteng bagi orang yang beriman dari perbuatan sia-sia, sebab puasa yang benar menarik pelakunya untuk memenuhi waktu-waktunya dengan ibadah dan kebaikan.

Pada akhirnya, puasa yang menjadi benteng bagi orang beriman dari tiga perkara tersebut akan menjadi benteng baginya pada hari kiamat dari siksa api neraka. [Danil S]

Ceramah Ramadhan: Pembunuh 99 Orang

"Katakanlah, hai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas (berdosa), janganlah putus asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah swt. mengampuni segala dosa, sungguh Dia Maha Pengampun dan Penyayang" QS Az-Zumar: 53.

Dalam hadits riwayat Bukharie & Muslim, dikisahkan seorang Bani Israil telah membunuh 99 orang, kemudian ingin bertaubat. Dia mencari tempat bertanya, lalu berjumpa seorang abid, ahli ibadah.

Pembunuh ini bertanya, "Aku telah membunuh 99 orang, tapi aku ingin bertaubat. Apakah taubatku akan diterima?". Sang abid menjawab, "Tidak bisa !". Lantas abid itu dibunuhnya pula, maka dia telah membunuh genap 100 orang.

Lalu pembunuh ini masih mencari tempat bertanya, dan berjumpalah dengan seorang alim. Pembunuh itu bertanya, "Aku sudah membunuh 100 orang, tapi aku ingin bertaubat. Apakah taubatku akan diterima".

Orang alim itu menjawab,"Oh, tentu diterima".

Lantas orang alim itu memberi tahu, kalau si pembunuh itu ingin sungguh-sungguh taubat, maka ia harus pindah dari daerah ini, karena. masyarakatnya berperangai sangat buruk.

"Pergilah ke negeri anu, disana banyak orang beribadah, ikutilah mereka". Maka si pembunuh 100 orang itupun pergi.

Tiba-tiba orang itu meninggal di tengah perjalanan, lalu berebutlah antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Masing-masing mengklaim orang ini bagian dia.
Malaikat rahmat berkata, "Orang ini sudah berazam untuk bertaubat". Malaikat azab menjawab, "Tapi kan belum sampai ke tujuannya".

Lalu Allah mengutus malaikat untuk menengahinya, lantas disuruh untuk mengukur jaraknya, mana yang lebih dekat, dari tempat berangkatnya atau ke tujuannya.

Setelah diukur, ternyata mayat itu lebih dekat hanya sejengkal kearah tujuannya. Maka orang itu menjadi bagian malaikat rahmat dan masuk surga.

Ciri orang takwa itu adalah suka bertaubat, "Dan apabila mereka terlanjur berbuat dosa kekejian atau menzhalimi dirinya, mereka ingat kepada Allah dan meminta ampun atas dosa-dosanya" (QS Ali-Imran :135)

Bertaubatlah sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Dan tentunya upayakan menjauhi dosa-dosa besar seperti: syirik kepada Allah, durhaka pada orangtua, membunuh orang, berzina dsb.

Jika engkau mendekat sejengkal, Allah akan mendekat sehasta
Jika engkau mendekat sehasta, Allah akan mendekat sedepa
Jika engkau berjalan menuju Allah, Allah akan berlari menuju engkau
Karena Allah adalah Maha Pengampun…



Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Tausiyah Ramadhan 2013: Anak Iblis

"Mereka telah dikuasai oleh syaithan, maka mereka lupa mengingat Allah. Itulah golongan syaithan" ~ QS 58:19.

Dalam sebuah harian yang terbit di Kuwait, pernah dimuat sebuah artikel atsar sahabat yang menceritakan interaksi manusia dengan syaithan.

Dikisahkan, ketika mendengar kumandang suara azan Maghrib, seorang kakek yang sudah mulai uzur, segera mengambil air wudhu. Setengah berlari sang kakek bergegas menuju masjid. Karena faktor ketuaan dan bobot tubuh yang cukup berat, tiba-tiba bruuk...! sang kakek terpleset dan jatuh terduduk.

Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda kekar bertelanjang dada, menghampiri sang kakek dan membantu memapahnya hingga sampai ke pintu masjid. Kebetulan sudah iqomat, maka sang kakekpun langsung bergabung dalam shalat berjamaah.

Selesai menunaikan shalat, wirid dan shalat sunnah ba’da Maghrib, kakek tua tadi teringat telah ditolong oleh seorang pemuda, dan beliau belum sempat mengucapkan terimakasih.

Sang kakek mencari diantara jamaah, namun tidak melihat anak muda itu. Lalu beliau melangkah ke luar masjid, memandang ke sekeliling pelataran, dan melihat anak itu sedang duduk di bawah sebatang pohon. Kakek tua itupun menghampirinya.

"Wahai anak muda, engkau baik hati sekali, tadi sudah menolong saya saat jatuh. Terimakasih ya. Tapi mengapa engkau tidak ikut shalat berjamaah dengan kami. Waman anta ? (engkau ini siapa)," tanya sang kakek.

"Ana ibnu iblis (saya anak iblis)," jawab anak muda itu.

"Hah..? anak iblis? Bukankah biasanya iblis justru menghalangi manusia untuk beribadah, mengapa tadi engkau menolongku?", tanya sang kakek penuh keheranan.

"Ya, tadi waktu kakek jatuh saat berjalan ke masjid, ayah saya bilang, ‘cepat tolong orang tua itu, jangan sampai dia jatuh sekali lagi’. Sebab ketika kakek jatuh tadi, maka dosa-dosa kakek yang lalu sudah diampuni Allah, dan kata ayah saya, jika kakek jatuh sekali lagi, maka dosa kakek yang akan datangpun diampuni pula oleh Allah. Kami tidak mau kehilangan kesempatan," jawab anak iblis itu.

"Astaghfirullah..," ucap sang kakek.

Mendengar kalimat istighfar itu, anak iblis itu merasa terbakar dan segera berlari dan menghilang di keremangan senja itu.

Pada bulan Ramadhan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithan-syaithan dibelenggu. Pertanyaannya, apakah setelah lewat Ramadhan yang penuh berkah ini, kita sanggup untuk bertahan dari godaan syaithan tersebut. Namun waspadalah terhadap tekad syaithan ini.

Berkata iblis: "Maka disebabkan kami telah sesat, maka kami akan tongkrongi anak cucu Adam itu di jalan yang lurus". QS Al-A’raaf :16.

Semoga bekal Ramadhan ini, dapat memperkuat keimanan kita agar tak mudah tergelincir oleh godaan syaithan terkutuk.

Jangan membeli tiruan berlian
Karena itu bukanlah permata
Jangan ikuti langkah syaithan
Karena dia musuh yang nyata
.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Tausiyah Ramadhan 2013: Bersegeralah Menuju Surga

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan Allah dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, yang hanya diberikan kepada orang-orang bertaqwa” ~ QS Ali Imran: 133.

Dalam kitab sirah Nabawiyah, dikisahkan bahwa disuatu malam Ju'mat, seorang pemuda Madinah, yang ahli memanah bernama Hanzhalah menikah dengan seorang gadis Jamilah.

Merekapun mengadakan walimahtu ‘ursy, perhelatan, yang juga dihadiri oleh Rasulullah saw. beserta sahabat-sahabat yang lain.

Selanjutnya sebagaimana kebiasaan pengantin baru, setelah para tamu pulang, maka kedua mempelaipun masuk ke dalam rumah dan tentunya menikmati malam pertama mereka berdua.

Pada Jum’at paginya menjelang waktu Subuh, tiba-tiba rumah Hanzhalah diketuk oleh seorang sahabat yang membawa pesan bahwa Hanzhalah diminta segera menghadap Rasulullah saw.

Entah apa yang dilihat oleh Rasulullah saw, saat bertemu dengan Hanzhalah, sampai Nabi saw bertanya, “Apakah aku membuat engkau terburu-buru ya Hanzhalah". "Tidak ya Rasulullah", Jawab Hanzhalah.

"Kalau begitu, engkau kuperintahkan sekarang untuk membawa perlengkapan perangmu, berangkatlah, karena musuh sudah mendekati batas kota Madinah," kata Nabi saw.

"Labbaik, siap Ya Rasulullah", jawab Hanzhalah tanpa banyak tanya, karena sebagaimana ahli memanah, dia sudah memahami tugas-tugasnya.

Kemudian berlakulah takdir, ketentuan Allah swt atas Hanzhalah, dia syahid dalam peperangan itu.

Rasulullah saw sangat sedih mendengar kematian salah seorang ahli memanahnya. Namun kepada Nabi saw, Allah swt memperlihatkan suatu pemandangan luar biasa tentang Hanzholah yang kemudian diceritakan kepada isterinya Jamilah.

"Wahai Jamilah, aku diperlihatkan Allah swt, bahwa Hanzhalah tengah dimandikan oleh para malaikat di sebuah bejana yang terbuat dari emas. Ada apa dengan suamimu ya Jamilah?", ucap Rasulullah saw.

Sambil tersipu malu, Jamilah mengungkapkan, "Tadi waktu engkau suruh berangkat berjihad, Hanzhalah belum sempat mandi (junub) Ya Rasulullah".

Subhaanallah, kisah Hanzhalah yang kerap terngiang dalam ingatan. Karena sebenarnya, tidaklah makan waktu lama bagi seorang suami untuk menuntaskan keinginan biologisnya kepada sang isteri. Namun hal itu ditinggalkannya demi bersegera meraih ridho Allah swt dan Surga-Nya.

Bulan Ramadhan melatih kita untuk bersegera menuju syurga Allah swt. Bersegera berbuka saat adzan Maghrib tiba. Bersegera ke masjid saat menjelang waktu shalat.

Bersegera mengkhatamkan Al-Qur’an. Bersegera membayarkan zakat fithrah dsb. Dan semua kesegeraan ini, insya Allah, akan mengantarkan kita ke surga, "jannatu naiim".

Siapa suka minuman serbat
Tentu jahe bikin hangatnya
Siapa suka lalaikan shalat
Tentu neraka wail tempatnya.




Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara





Untuk membaca kultum Ramadhan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KULTUM RAMADHAN 2013

Kumpulan Materi Fiqih Puasa Syaikh DR Yusuf Qardhawi


Ramadhan telah berjalan lebih dari satu pekan. Namun, tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali membaca panduan puasa dan hal-hal yang terkait dengannya. Salah satu referensi penting di abad ini adalah Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi.

Berikut sebagian dari kumpulan Materi Fiqih Puasa yang bersumber dari kitab Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi:



Makna Puasa
Hikmah Puasa
Macam-macam Puasa
Wajibnya Puasa Ramadhan
Niat dan Batas Waktu Niat
Hal-hal yang Membatalkan Puasa
Hal-hal yang Disunnahkan bagi Orang yang Berpuasa
Hijamah (bekam) Membatalkan Puasa?
Suntik Membatalkan Puasa?
Maksiat Membatalkan Puasa?
Hukum Mencium Istri saat Berpuasa
Hukum Jima' di Siang Ramadhan karena Lupa

Demikian kumpulan Materi Fiqih Puasa yang bersumber dari kitab Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi. Jika ada materi yang belum bisa diklik, berarti masih belum diposting. []
 

suara islam Powered by Blogger