Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jejak Salaf Dalam Mengisi Waktu

Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata: “Wahai, anak Adam. Engkau hanyalah hari-hari yang dikumpulkan. Setiap satu hari pergi, sebagian dirimu juga pergi”. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/382)

Beberapa riwayat dari Salafush Shalih yang menunjukkan betapa fahamnya mereka terhadap kesempatan dan nilai waktu yang ada.
1. Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari rahimahullah, pemilik tafsir yang sangat mashur, tafsir Ath Thabari. Beliau seorang yang sangat mengagumkan. Seandainya kertas-kertas yang telah beliau tulis dibagi pada umur beliau semenjak lahir, didapati bahwa beliau menulis setiap harinya 60 lembar atau lebih! Ini perkara yang sangat menakjubkan! [Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hlm. 88, karya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As Sud-han].

2. Imam Nawawi rahimahullah juga mengagumkan. Umur beliau hanyalah sekitar 45 tahun, namun kitab-kitab karya beliau memenuhi perpustakaan-perpustakaan umat Islam sekitar 20 jilid. Padahal setiap harinya, beliau mengajar 12 mata pelajaran. [Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hlm. 88].

Di antara karya beliau adalah Syarah Shahih Muslim, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Tahdzibul Asma’ Wal Lughaat, Riyadhush Shalihin, Al Adzkar, dan lain-lain.

3. Imam Az Zuhri rahimahullah, seorang imam yang dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah : “Disepakati kebesaran dan keahliannya”, dahulu beliau biasa mendatangi nenek-nenek, kakek-kakek, anak-anak, gadis-gadis pingitan, anak kecil, orang tua, beliau bertanya kepada mereka, mencari (ilmu) dari mereka, sehingga memiliki ilmu yang besar. [Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hlm. 90].

4. Imam Al Anmathi rahimahullah, seorang ahli hadits Baghdad. Beliau menulis (menyalin) kitab Ath Thabaqat karya Ibnus Sa’ad dan kitab Tarikh Baghdad, dengan tangannya. Seandainya kita kumpulkan juz-juz kedua kitab itu, banyak di antara kita yang berat atau susah membawanya. [Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hlm. 91].

5. Imam Isma’il Al Jurjani rahimahullah. Beliau menulis 90 lembar setiap malam, dengan tulisan yang rapi. Beliau menulisnya pelan-pelan. Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkomentar: “Ini, beliau memungkinkan untuk menulis Shahih Muslim selama sepekan”. [Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hlm. 96]
==========

Lalu Bagaimana dengan kita??? Terutama yang MASIH MUDA, SEHAT, SARANA PRASARANA MEMADAI, dan MASIH KUAT???

Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepadaNya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepadaNya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana Sabda Rasulullah, Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih sebelum kedatangan perkara-perkara yang menghalanginya.

Imam Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda menasihati seorang laki-laki :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaiutu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu. [HR Al Hakim di dalam Al Mustadrak; dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih At Targhib wat Targhib 3/311, no. 3355, Penerbit Maktabul Ma’arif, Cet. I, Th. 1421 H / 2000 M].

Kisah Istri Sholihah Yang Dimadu (Menakjubkan)

Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, “Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.”

Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”

Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”

Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.” Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.

Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.

Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”

Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”

Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.

Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”

Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)

Subhanallah…….

Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69

Ketika Orangtua Justru Durhaka Kepada Anaknya

Ketika Orangtua Justru Durhaka kepada Anaknya

Kita banyak mnemukan anak yg Ingkar kpd Orgtuanya bahkan jengkel kepada mereka jk tdk prnah sjalan dg kemauan orangtua. Jk anak tdk mengerjakan perintah, otak kita yg telah terisi oleh akumulasi ilmu pengetahuan agama sejak anak2 dulu hingga skrg mjd orangtua, mgkn lgsg mmberikan perintah kpd tangan untk memukul & mulut untuk mgucapkan kata2 makian..., celaan & umpatan. Kondisi ini perlu diwaspadai bila tindakan & ucapan dr perintah otak itu sdh turun ke hati & mjd sebuah keyakinan lalu memunculkan sebuah kesimpulan, bahwa sang anak tlh durhaka kpd orangtua. Semoga tdk trjadi pd kita.

Anakku, mana baktimu? Statemen sprti ini sering membangun pmahaman yg tidak berimbang pd orangtua. Mereka selalu menuntut agar hak agama ini terpenuhi dan bila tidak terpenuhi selalu anak yg disalahkan.

Memang benar, berbakti kpd orangtua adlh kewajiban bg anak & durhaka kpd orangtua adlh salah satu dosa besar yg trbesar. Tetapi jgn lupa bhwa Islam tdk melihat 1 sisi sj lalu melalaikan sisi lain. Islam jg mewajibkan bg orangtua untuk berbuat baik kpd anak2nya, & juga tdk durhaka kpd mereka.

Seseorang prnah dtg kpd Umar bin Khoththob Radhiyallahu 'Anhu & mengadukan anaknya, “Anakku ini benar2 telah durhaka kepadaku.”

“Apakah engkau tdk takut kepada Allah dg durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena itu adlh hak orangtua,” kata Umar kepada sang anak.

“Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga punya hak atas orang tuanya?”

“Benar, haknya adalah memilihkan ibu yg baik, memberi nama yg bagus, & mengajarkan Al-Kitab (Al-Quran).”

“Demi Allah, ayahku tdk memilihkan ibu yg baik. Ibuku adlh hamba sahaya jelek berkulit hitam yg dibelinya dr pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yg baik untukku. Ia menamaiku Ju’al. Dan dia jg tdk mengajarkan Al-Quran kpdku kecuali 1 ayat sj.” Ju’al adlh sjenis kumbang yg selalu bergumul pd kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yg berkulit hitam & berparas jelek atau orang yg emosional. [Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977]

Umar menoleh ke sang ayah & berkata, “Engkau mengatakan anakmu tlh durhaka kpdmu tetapi engkau tlh durhaka kpdnya sbelum ia mendurhakaimu. Enyahlah dr hadapanku!.” [As-Samarqandi, Tahbihul Ghafilin, 130]

Ibnul Qayyim berkata, “Siapa yg mengabaikan pendidikan yg bermanfaat untuk anaknya & membiarkannya begitu sj, maka ia tlh mlakukan `tindakan trburuk thd anaknya itu. Kerusakan anak2 itu kebanyakan bersumber dr orangtua yg membiarkan mereka & tdk mgajarkan kwajiban2 & sunnah diin ini kpd mreka. Mereka tdk mmperhatikan masalah2 agama tsb saat masih kecil, shg saat sdh besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bg orangtua mereka.” [Tuhfatul Maudud, I: 229]

Karena itu, jgn seenaknya mencela anak. Ada banyak hak anak atas orangtuanya. Bila salah satu sisinya diabaikan, lalu anak menjadi bandel, menyimpang, & keras kepala, ada kemungkinan kita tdk memperhatikan sisi tsb...

Nas'alullaha lanaa wa lakum......

Suamiku Hanya Memiliki Satu Pakaian Saja...!

Suamiku Hanya Memiliki Satu Pakaian Saja...! Jika aku mencuci pakaiannya, maka dia berada di dalam kamarnya dalam keadaan telanjang hingga pakaiannya kering...

Maslamah bin Abdul Malik mengisahkan:
Suatu hari saya masuk ke kamar Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit untuk menjenguknya. Saat itu, saya melihatnya memakai baju yang lusuh, maka akupun berkata kepada Fatimah (istrinya), "Hai Fatimah binti Abdul Malik... hai Fatimah, cucilah pakaian Amirul Mukminin ini." Fatimah menyahut, "Insya Allah kami akan melakukannya." Kemudian saya kembali, namum keadaan pakaian tersebut masih tetap seperti semula. Maka akupun kembali berkata kepada Fatimah, "Hai Fatimah, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mencuci pakaian Amirul Mukminin? Sebab orang-orang akan menjenguknya." Fatimah menjawab, "Demi Allah, dia tidak mempunyai baju lagi selain itu."

Dikisah lain juga suatu ketika Umar bin Abdul 'Aziz mendatangi sebuah pertemuan dengan menteri-menteri untuk merapatkan suatu masalah. Setelah tiba dalam ruang pertemuan menteri-menterinya pun kaget melihat pakaian Umar bin Abdul Aziz dengan berpakaian yang sederhana dan lusuh. Setelah selesai salah seorang dari menterinya mendatangi rumahnya dan berkata kepada istrinya, " Wahai Fathimah, cucilah pakaian suamimu itu". dan Fatimah pun mengiyakan.

Beberapa hari kemudian Umar bin Abdul Aziz mendatangi kembali pertemuan dengan menteri-menterinya. Maka menteri-menterinya pun kaget bukan kepalang, karena pakaian yang dipakai Amirul Mu'minin masih sama seperti kemarin dalam keadaan Lusuh dan compang camping. setelah selesai orang yang kemarin datang ke rumah istrinya pun datang kembali dan berkata, "Wahai Fatimah, tidakkah engkau mencuci pakaian Suamimu?" Fatimah menjawab, "Sudah saya cuci pakaian suamiku". Orang itu berkata lagi, "Lantas kenapa beliau masih saja berpakaian yang lusuh dan compang camping?". Maka istri Umar bin Abdul Aziz pun menjawab, "Wallahi, suamiku hanya mempunyai satu pakaian saja dan aku telah mencucinya. Jika aku mencuci pakaian suamiku, maka dia akan dalam keadaan telanjang di dalam kamarnya hingga pakaian tersebut kering."

Subhanallah...... Umar bin 'Abdul 'Aziz. Siapa yang tak kenal dengan beliau?? Seorang khalifah dari Bani Umayyah yang paling melarat. Beliau memerintah dengan adil selama sekitar 29 bulan. Pada masanya seluruh rakyatnya hidup makmur. Beliau wafat pada tahun 101 Hijriyah pada hari Jum'at di Hams dalam usia 39 tahun 6 bulan. Beliau menjadi khalifah selama dua setengah tahun. Dia meninggal dunia disaat rakyat semua dalam keadaan sejahtera, sampai sampai saat seorang lelaki datang kepada kami untuk menyerahkan harta yang banyak dengan pesan, "Bagikan harta ini kepada orang yang kamu anggap miskin", maka kami tidak menemukannya. Dia terus menerus mencari orang miskin, namun tetap saja tidak menemukan sehingga dia kembali lagi sambil membawa hartanya. Saat dia berniat memberikan hartanya kepada orang yang biasa membagikannya (amil zakat) kepada para fakir miskin, ternyata dia sudah tidak menemukannya sehingga diapun kembali sambil membawa harta yang ingin dia bagikan. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membuat manusia merasa berkecukupan (menjadi kaya) melalui kekuasaan Umar bin Abdul Aziz.

Semoga, kisah ini bisa memberikan contoh teladan bagi kita dari seorang khalifah di Negeri Termakmur yang hanya memiliki sepotong pakaianLihat Selengkapnya

Bagaimana Syaikh Muqbil Mendidik Putri Beliau....???

Pernahkan membaca buku Nasehati lin Nisa? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’I rahimahullah.Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:

  • Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)
  • Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
  • Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
  • Nasehati lin Nisa
  • dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah
Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya.

Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya,

… Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.

Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.

Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian.

Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah.

Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.

Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.

Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dipimpinnya.”

Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin beliau.

Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil.

Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat, maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.

Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:- Qatrun Nada sampai dua kali- Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga- Tadribur Rawi- Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai karena beliau sakit)

Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon.

Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan, “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat ke 86 dari surat An-Nisa.

Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadits Muadz.

Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut, atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami. Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami sepeninggal ayahanda?

Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut. Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah (beliau-ed) tidak pernah (keras/menekan-ed) kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami, seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.

Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat, karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang dirahmati Allah.

Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong. Beliau sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya, beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”

Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang rendah ini. Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar memperoleh pahala dari Allah. Beliau katakan, “Janganlah kamu sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang mudah diolah, kita makan.”

Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Di antara ucapan beliau kepada saya, “Saya berharap agar kamu menjadi wanita yang faqih.” Ya Allah, wujudkanlah harapan ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya, tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi.

(Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I”, terbitan pustaka Al-Haura Jogjakarta).

Kiat Agar Semangat Ketika Membaca

بسم الله الرحمن الرحيم

KATA PENGANTAR PENULIS

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Alhamdulillah tidak lupa kita mengucapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang selalu memberi nikmat-nikmatnya kepada kita semua. Serta Shalawat dan Salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu A'laihi Wa Sallam. 
Ketika saya melihat sebagian penuntut ilmu merasa lemas, malas, dan tidak semangat ketika membaca, oleh karena itu saya membawa sedikit bingkisan dengan tema "kiat-kiat agar bacaan lebih semangat" untuk mereka yang haus akan ilmu, mudah-mudahan dengan risalah yang singkat ini bisa memberikan manfaat kepada penulis pribadi secara khusus dan kepada penuntut ilmu pada umumnya, dan mengampuni dosa penulis, orang tuanya, serta kaum muslimin dan muslimat amin!!!

KIAT-KIAT AGAR SEMANGAT KETIKA MEMBACA
Pada zaman sekarang telah banyak manusia yang melalaikan tentang nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Diantara nikmat tersebut adalah nikmat waktu, banyak diantara manusia menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,yang akhirnya bisa merugikan diri mereka sendiri. Dan Rasulallah Shalallahu A'laihi Wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ. رَوَاهُ  الْبُخَارِىُّ
"Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah sehat dan waktu luang." [H.R Bukhari]
Apakah mereka tidak berfikir bahwasannya Allah Subhanahu Wa Ta'la menciptakan waktu agar manusia memanfaatkannya sebaik mungkin untuk beribadah kepadaNya. Dan diantara tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." [Ad Dzaariyat : 56]
Sungguh sangat merugi dan menyesal bagi orang yang lalai dalam menggunakan waktunya, tidak menjaganya untuk melakukan ketaatan serta ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena waktu tidak mungkin kembali lagi. Apabila waktu itu tidak digunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala , maka bisa dipastikan akan digunakan dalam kemaksiatan kepadaNya. Beruntunglah bagi seorang mukmin yang mengetahui tentang berharganya waktu sehingga dia akan banyak menggunakan waktunya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sesungguhnya waktu itu adalah modal bagi seorang mukmin,apabila seluruh waktunya digunakan dalam menjalankan ketaatan pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka orang seperti itu beruntung di dunia dan diakhirat. Manfaatkan waktu itu sebaik mungkin dan jangan digunakan untuk hal-hal yang sia-sia misalnya : membongkar aib orang, kekurangan orang lain, karena masing-masing manusia memiliki aib dan kekurangan, sebaliknya supaya dia menjadi diantara orang-orang yang beruntung hendaklah menyibukkan diri untuk mencari aibnya sendiri dan memperbaikinya. Seseorang semakin banyak mengoreksi aib sendiri dan memperbaikinya maka dia akan menjadi orang yang beruntung.

Diantara yang bisa membantu seseorang dalam memanfaatkan waktunya adalah dengan membaca dan ini adalah salah satu wasilah untuk mendapatkan ilmu. Tapi sering kita saksikan bahwa seseorang  menjadikan kegiatan membaca,sesuatu yang berat dan sulit diwujudkan. Dengan izin Allah apabila seseorang memperhatikan kiat-kiat dibawah ini.Insya Allah dia tidak akan berat untuk membaca, bahkan dia akan rindu untuk membaca.

Diantara kiat-kiat supaya semangat dalam membaca adalah sebagai berikut:

1.Pasang Niat
Sebelum seseorang membaca hendaklah dia menghadirkan di dalam hatinya rasa ikhlas karena Allah Ta'ala. Suatu perbuatan apabila diawali dengan niat yang benar, maka pekerjaan itu akan diberkahi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebaliknya apabila niatnya salah, maka amalan-amalan yang ia lakukan akan menjadi sia-sia. Suatu pekerjaan apabila dibiasakan dengan ikhlas maka pekerjaan itu akan menjadi ringan, seberat apapun pekerjaan tersebut. Seorang penuntut ilmu juga demikian, pertama kali yang harus ditancapkan dalam hatinya adalah ikhlas karena Allah Ta'ala. Berkata Ibnu Mubarak :
"أَوَّلُ الْعِلْمِ : النِّيَّةُ، ثُمَّ الاِسْتِمَاعُ، ثُمَّ الْفَهْمُ، ثُمَّ الحِفْظُ، ثُمَّ العَمَلُ، ثُمَّ النَّشْرُ"
"Pertama yang harus dihadirkan untuk mendapatkan ilmu adalah niat yang benar, mendengar, paham , menghafal, beramal, dan kemudian menyebarkan ( berdakwah ).[Jami' Bayanil ilmi Wa Fadhlihi 1/476 no: 759]
            Dan diantara berkahnya suatu ilmu adalah dengan diamalkan dan diajarkan.Barangsiapa yang mencari ilmu tidak untuk diamalkan, maka dia tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali kesombongan. Berkata Malik bin Dinar :
مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِلْعَمَلِ وَفَّقَهُ اللهُ وَمَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِغَيْرِ العَمَلِ يَزْدَادُ باِلْعِلْمِ فَخْرًا
"Barangsiapa yang mencari ilmu untuk diamalkan maka Allah memberinya taufik kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ilmu tidak untuk diamalkan tidaklah akan bertambah dengan ilmu tersebut kecuali kesombongan."
           Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak hanya mencari ilmu untuk dirinya sendiri, akan tetapi mencari ilmu untuk berdakwah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Berkata Malik bin Dinar :
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِنَفْسِهِ ؛ فَالْقَلِيلُ مِنْهُ يَكْفِي ، وَمَنْ طَلَبَهُ لِلنَّاسِ ؛ فَحَوَائِجُ النَّاسِ كَثِيرَةٌ
"Barangsiapa yang mencari ilmu untuk dirinya sendiri maka ilmu yang sedikit baginya sudah cukup, dan barangsiapa mencari ilmu untuk manusia, maka kebutuhan manusia sangatlah banyak." [Kitab Jami' Bayanil ‘ilmi Wa Fadhlihi]

Jadi apabila seseorang mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohannya dan untuk umat, maka dia akan memperoleh ilmu yang banyak dan Insya Allah juga akan diberkahi.

            2.Bersabar
           Banyak sekali di dalam firman Allah yang menyebutkan tentang keutamaan sabar dan balasan bagi orang-orang yang bersabar diantaranya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: 
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." [Az-Zumar:10]
Seseorang yang sedang membaca sangatlah membutuhkan kesabaran, apabila tidak sabar maka dia akan meninggalkan aktifitas ini. Oleh karena itu pembaca dituntut untuk bersabar entah sabar ketika  memandangi buku berjam-jam, ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam bahasa, harus buka kamus, menghabiskan waktu yang lama, atau belum paham dan bersabar ketika rasa ngantuk datang. Sebalikannya lawan dari sifat sabar  adalah sikap  putus asa,seorang pembaca harus meninggalkan jauh-jauh rasa putus asa karena sifat ini tercela dan banyak merugikan bagi pelakunya. Dikisahkan ada ulama nahwu namanya Kisai. Beliau berkali-kali belajar ilmu nahwu akan tetapi beliau tidak paham. Suatu hari beliau melihat seekor semut yang sedang membawa makanan. Semut ini berusaha melewati dinding akan tetapi berkali-kali ia  jatuh, setiap semut ini naik kemudian jatuh hingga berkali-kali, akan tetapi semut ini tidak menyerah dan putus asa, dia terus berusaha, akhirnya semut tersebut berhasil menaiki dinding tersebut, melihat kejadian tersebut akhirnya beliau berusaha terus dan tidak putus asa, dan akhirnya beliau menjadi Imam nahwu di kufah. Subhanallah….!!!
            Saudaraku yang seiman…lihatlah bagaimana semangatnya beliau dan perjuangannya, padahal sebelum beliau menjadi imam nahwu beliau bodoh akan nahwu, tidak paham, dan sering mengalami kesulitan. Akan tetapi dengan sabar beliau terus belajar dan tidak putus asa. Apakah seseorang tidak bisa seperti beliau? Saya yakin semua orang bisa melakukan seperti beliau, terus berusaha, jangan putus asa dan disertai dengan doa serta memohon kepada Allah Insya Allah kita akan berhasil!!!

           3. Istiqamah
           Apabila seseorang mengambil suatu pekerjaan maka usahakanlah untuk selalu menjaga amalan tersebut dan istiqamah, karena amalan yang sedikit dan istiqamah itu lebih Allah cintai dari pada banyak akan tetapi tidak istiqamah. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasannya Rasulallah Shalallahu A'laihi Wa Sallam bersabda :
أَحَبُّ الأَْعْمَال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَل (متفق عليه)
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah istiqamah meskipun sedikit." [Mutafaq Alaihi]
            Oleh karena itu lebih baik baca sedikit, misalnya baca 50 halaman setiap hari, hafal 2 ayat atau 1 hadits dan dia menjaga istiqamah, itu lebih baik dari pada banyak membaca kemudian ditinggalkan.

4.  Memikirkan umat dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka terutama masalah ilmu.

Apabila seseorang memikirkan tugas-tugas ini maka dia akan bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya meskipun harus mengorbankan jiwa, tenaga, harta, dan waktu.Dan dia yakin akan janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulallah Shalallahu A'laihi Wa Sallam bersabda :
مَنْ كَانَ في حَاجَة أخيه ، كاَنَ اللهُ في حَاجَته ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِم كُرْبَةً ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بها كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ يَومَ القِيامَةِ  . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

"Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barangsiapa yang membantu melepaskan kesusahan saudaranya yang muslim, maka Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat." [H.R Mutafaq A'laih]
Dan di dalam hadis yang lain Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda :


وَ الله فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فيِ عَوْنِ أَخِيْهِ.رواه مسلم
"Allah akan menolong hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya." [H.R Muslim]
            Saudaraku seiman… Sudahkah di benak kita memikirkan hal seperti ini?? Akan tetapi kebanyakan manusia mementingkan dirinya sendiri, sibuk dengan dirinya sendiri dan melupakan janji Allah dan hadits tersebut padahal dia mampu untuk menolong saudaranya.Apabila seseorang mengamalkan hadits ini Insya Allah hidupnya akan lebih berkah dan bermanfaat.
            Pada zaman sekarang ini manusia sangat butuh akan ilmu dibandingkan kebutuhan manusia pada makanan, minuman dan kebutuhan yang lainnya. Apabila seseorang memikirkan akan kebutuhan umat dan ingin membantu untuk memberikan ilmu pada mereka, maka hendaklah dia belajar dengan sungguh-sungguh dan banyak meluangkan waktunya untuk mencari ilmu misalnya dengan membaca, hadir di pengajian, mendengarkan kaset dan mencatatnya. Dengan membaca seseorang akan banyak mendapatkan ilmu yang belum dia ketahui. Dengan memikirkan umat serta ingin memenuhi kebutuhan mereka maka dia akan semangat dan terus semangat dalam membaca dan tidak bermalas-malasan karena umat sedang menunggu.
Berkata ulama salaf :
لا يُنَاْلُ العلمُ براحةِ الجَسَدِ
"Tidaklah ilmu didapat dengan bersantai-santai"
Berkata yang lain:
أََعْطِ العِلْمَ كُلَّكَ يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ ، وَأَعْطِهِ بَعْضَكَ يَفُتْكَ كُلَّهُ
"Kamu tumpahkan seluruh waktumu untuk ilmu, maka ilmupun akan memberinya sebagian dan kamu berikan sebagian waktumu untuk ilmu maka ilmu itu pun lenyap darimu."

            5.Mengasingkan diri
            Ketika seseorang membaca maka hendaklah dia berusaha mencari tempat yang nyaman,tenang tanpa ada gangguan karena dengan ini dia akan lebih konsentrasi dan akan menjadi semangat ketika membaca, oleh karena itu pilihlah waktu yang tepat ketika akan membaca misalnya pada malam hari ketika manusia tertidur lelap, maka bagilah waktu anda untuk tahajud, berdoa, dan membaca. Tentu orang akan merasa terganggu apabila dia membaca ditempat yang bising dan ramai.
            Pada waktu suasana yang tenang ini kadang ada ide-ide yang muncul atau suatu masalah yang belum diketahui, oleh karena itu apabila kita mendapatkan ide-ide tersebut, yang mana ide ini bermanfaat, apalagi bermanfaat bagi umat maka bersegeralah untuk ditulis karena mungkin saja apabila tidak ditulis maka ide itu akan lenyap. Dan diantara wasilah untuk mendapatkan ilmu adalah dengan cara ditulis.
 Berkata Ibnu Katsir Rahimahullah :
 قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِة

"Ikatlah ilmu dengan tulisan"
Karena tabiat manusia adalah sering lupa maka alangkah baiknya ketika seseorang membaca maka menulis poin-poin yang penting dari apa yang dia dapat ketika membaca, jangan sampai pembaca tidak menangkap buruannya.

            6. Memberikan manfaat kepada orang lain
            Biar kita tambah semangat membaca tancapkan didalam hati kita rasa sosial yang berusaha banyak memberikan manfaat kepada orang lain terutama masalah ilmu. Mungkinkah seseorang bisa memberikan manfaat ilmu agama apabila dia sendiri tidak memiliki ilmu?? Tentunya tidak!!! Dan diantara sarana atau cara untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca. Orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain maka dia akan dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulallah Shalallahu Shalallahu A'laihi bersabda :
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah manusia yang paling bermanfaat,dan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah memberikan rasa gembira kepada seorang muslim, membantu melepaskan kesusahannya atau membantu melunasi hutangnya."[HR.Ibnu Abu Dunya dan Thabrani]
Hadits ini dishahihkan oleh syaikh Al-Albany didalam Silsilah hadits shahih no. 906
Apabila seseorang ingin memberikan manfaat kepada orang lain terutama dalam masalah ilmu syar'i hendaknya dia belajar dengan sungguh-sungguh dan menumbuhkan rasa ingin memberikan manfaat yang banyak kepada manusia.Insya Allah dia akan lebih semangat untuk membaca karena dengan membaca adalah salah satu sarana untuk mendapatkan ilmu, akan tetapi seseorang tidak cukup hanya mengandalkan  pada kitab saja, hendaklah dia mencari guru yang mampu membimbingnya supaya ilmunya lebih diberkahi dan tidak memahami nash dengan hawa nafsunya, kadang seseorang sudah merasa cukup dengan membaca saja tanpa bertanya kepada orang yang lebih alim darinya dan ini adalah kekeliruan yang banyak dilakukan oleh sebagian penuntut ilmu. Dan seseorang diperintahkan untuk bertanya ketika tidak tahu kepada ahlinya. Allah Ta'ala telah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." [Al-Anbiya’:7]
             Dan barangsiapa yang  menunjukkan suatu kebenaran. Maka dia akan mendapatkan pahala dari orang yang melakukannya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ دَلَّ إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا,وَمَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثاَمِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ آثاَمِهِمْ شَيْئًا.رواه مسلم
"Barang siapa yang menunjukkan suatu kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala dari orang-orang yang melakukannya dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa dari orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi dosa orang-orang yang melakukannya." [HR.Muslim]

            7. Menjauhi kemaksiatan dan selalu menjaga ketaatan
            Ketika seseorang melakukan kemaksiatan kepada Allah maka hatinya akan menjadi bernoda dan ilmu itu tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Berkata Imam Syafi'i: 
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

            “Saya telah mengadu kepada guruku Waki' tentang jeleknya hafalanku maka beliau menyarankan kepadaku supaya meninggalkan maksiat dan beliau mengabarkan kepada saya bahwasannya ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat"
            Apabila hati sudah bernoda maka dia akan malas menjalankan ketaatan kepada Allah dan tidak akan bisa menikmati manisnya ibadah kepada Allah.Mencari ilmu adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah, dan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca. Apabila dia menjaga ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan maka hatinya akan bersinar, tenang, dan mudah akan mendapatkan ilmu, serta akan rindu dengan membaca.
            8. Menulis didepan buku / buku tulis
            Biar bacaan kita lebih semangat, maka tulislah manfaat yang bisa diambil dari membaca, jangan sampai pembaca tidak mengambil faidah dari buku yang dibaca. Ketika pembaca menemukan suatu masalah atau poin-poin yang penting maka hendaklah dia segera menulisnya, karena dengan menulis itu akan membantu untuk mengingat. Kadang seseorang membaca tidak mendapatkan manfaat dari apa yang dia baca, pikirannya kemana-mana atau dia mengerti akan tetapi ketika diminta dari mana sumbernya, dia tidak bisa memberikan maraji'nya. Akan tetapi apabila dia menulis atau mengikatnya dari apa yang dia baca dengan tulisan maka inilah yang diinginkan. Misalnya ditulis dibuku yang sedang ia baca dan jangan sekali-kali merasa eman dengan coret-coretan yang ada di buku. Ada sebagian penuntut ilmu ketika membeli buku baru kemudian dia enggan untuk menulis dibukunya sambil berkata:  “Aduh…eman nih buku baru kok dicoret-coret”, sikap seperti ini harus dihindari jauh-jauh, apakah dia eman dengan kitabnya yang banyak coretannya ataukah akan lari ilmu darinya? Jadi seorang pembaca bisa menulis di buku tulis atau di buku yang sedang dibaca dan jangan lupa pula mencantumkan nama kitabnya,pengarang,cetakan keberapa,halaman berapa apabila ditulis di buku tulis, dan semuanya ini nanti akan bisa dijadikan maraji', jadi dengan cara seperti ini pembaca akan lebih semangat dan akan menikmati bacaannya.

            9. Merujuk ke kitab-kitab besar dan memperluas pembahasan suatu masalah
            Apabila seseorang membaca suatu kitab hendaklah merujuk kepada kitab-kitab besar dan memperluas pembahasan suatu masalah.Misalnya seseorang sedang membaca kemudian menemukan didalam kitab tersebut hanya disebutkan hadits saja tanpa ada penjelasan dari ulama. Maka dari itu sipembaca boleh memperluas bacaannya dengan melihat kitab-kitab yang penjelasannya dari berbagai ulama supaya mendapatkan wawasan yang luas tanpa fanatik terhadap salah satu madzhab tertentu, akan tetapi mengembalikan semua perkara pada Al-Qur'an dan As-Sunah.
            Misal lagi: Si pembaca sedang membaca suatu buku kemudian terdapat ayat tanpa ada penjelasan dari ulama maka supaya bacaan kita lebih semangat sipembaca bisa memperluas bacaan dengan membuka tafsir Ibnu Katsiratau tafsir Karimir Rohman atau tafsir-tafsir yang lainnya.

            10. Kosentrasi
            Seorang pembaca hendaklah memperhatikan apa yang sedang dibaca, jangan sampai tidak mengambil manfaat dari apa yang di baca. Oleh karena itu kosentrasi sangat penting dan dibutuhkan disaat sedang membaca.
            Perkara-perkara yang bisa membantu dalam kosentrasi:
1. Memilih tempat yang tenang, nyaman, tanpa ada gangguan entah dari suara yang bising dll.
2. Tidak menghiraukan bisikan syaithon. Ketika seseorang sedang membaca jangan sampai mengikuti bisikan-bisikan syaithon dan janganlah mengalihkan pikiran atau perhatian kecuali kepada buku yang sedang dibaca.

3. Mematikan Hp atau menjauhkan Hp.
     Tapi tidak disetiap waktu baca, Hp dimatikan, akan tetapi mematikan Hp ketika kita benar-benar ingin kosentrasi penuh dan tidak mau diganggu dengan suara Hp atau getaran-getarannya,oleh karena itu mematikan Hp bisa membantu pembaca untuk bisa menikmati bacaannya karena apabila disibukkan dengan Hp maka bacaannya akan menjadi terganggu dan tidak akan merasakan nikmatnya membaca.
4. Lampu yang terang
     Ada perbedaan antara lampu yang gelap dan yang terang. Apabila seseorang membaca dibawah lampu yang terang maka itu akan menambah kosentrasi ketika membaca.
5. Bahasa
     Poin ini sangat penting sekali. Diusahakan untuk pembaca supaya menguasai bahasa ketika membaca.
     Misalnya ketika seseorang sedang membaca kitab arab, apabila tidak mengetahui kosa kata maka segeralah mencari di kamus. Semakin kita banyak mengerti bahasa maka semakin nikmat pula ketika membaca.

            11. Memperhatikan poin-poin yang penting ketika membaca
           Supaya dalam membaca kita lebih semangat dan nikmat, hendaknya sipembaca memperhatikan poin-poin  penting. Dengan memperhatikan poin-poin penting tersebut Insya Allah akan merasakan nikmatnya membaca.
Diantara poin-poin yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a.  Ta'rif (pengertian) suatu masalah
b.  Contoh-contohnya
c.  Pembagian-pembagiannya
d.  Hukum-hukumnya
e.  Memahami ikhtilaf atau perbedaan-perbedaan pendapat ulama misalnya didalam masalah fiqh dan mengambil pendapat yang rajih atau yang paling kuat.
f.  Ketika sedang membaca kitab aqidah hendaknya mengetahui aqidah yang hak dan juga mengetahui aqidah yang batil guna untuk menjauhi dan membantah subhat-subhat dari aqidah yang batil
            Pada semua poin penting tersebut jangan lupa memberi garis bawah kemudian ditulis didepan atau belakang buku yang sedang dibaca. Insya Allah dengan cara seperti ini pembaca akan lebih merasakan nikmatnya membaca.

            12. Berdoa
Berdoa adalah ibadah. Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَة.ُوَرَوَاهُ أَبوْ دَاوُوْدَ
"Doa adalalah ibadah" [HR.Abu Dawud]
            Doa adalah ibadah yang paling agung. Oleh karena itu apabila seseorang berdoa kepada selain Allah Ta'ala maka dia telah melakukan dosa yang paling besar, menyekutukanNya dan Allah tidak akan mengampuninya apabila pelakunya meninggal dalam keadaan tidak bertaubat.
Allah Ta'ala telah berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.[An-Nisa': 48]
            Doa adalah senjatanya orang mukmin, tidaklah cukup seseorang hanya mengambil sebab dan meninggalkan doa. Oleh karena itu tawakal yang haqiqi adalah dia mencari sebab dan juga tidak meninggalkan doa, kemudian menyerahkan segala urusannya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Ketika pembaca tidak ada rasa semangat ketika membaca atau malas maka carilah penyebabnya, kira-kira apa penyebabnya? Setelah mengetahui penyebabnya,kemudian berusahalah memperbaiki diri, serta bersungguh sungguh berdoa kepada Allah Ta'ala meminta agar diberi kemudahan,dan kenikmatan ketika membaca. Perlu diperhatikan dalam berdoa hendaknya orang menjauhi dari mengkonsumsi makanan-makanan yang haram. Karena itu merupakan diantara sebab-sebab terhalangnya doa.
Rasulallah Shalallahu A'laihi Wasallam bersabda :
إِن الله تَعَالَى طيب لَا يقبل إِلَّا طيبا ، وَإِن الله تَعَالَى أَمر الْمُؤمنِينَ بِمَا أَمر بِهِ الْمُرْسلين ، فَقَالَ تَعَالَى : { يَا أَيهَا الرُّسُل كلوا من الطَّيِّبَات وَاعْمَلُوا صَالحا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عليم } ، وَقَالَ تَعَالَى : { يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا كلوا من طَيّبَات مَا رزقناكم } ، ثمَّ ذكر الرجل يُطِيل السّفر ، أَشْعَث أغبر ، يمد يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء ، يَا رب يَا رب ، ومطعمه حرَام ، ومشربه حرَام ، وملبسه حرَام ، وغذي بالحرام ، فَأَنَّى يُسْتَجَاب لذَلِك " رَوَاهُ مُسلم
"Sesungguhnya Allah Ta'ala adalah baik dan tidak menerima kecuali yang baik,dan sesungguhnya Allah Ta'ala  telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Allah Ta'ala memerintahkan kepada para Rasul. Allah Ta'ala telah berfirman: "Wahai para Rasul makanlah makanan yang baik dan lakukanlah amalan-amalan shalih, dan Allah Ta'ala juga berfirman:"Wahai orang-orang yang beriman makanlah makanan yang baik dari apa-apa yang telah kami rezekikan kepada kalian" kemudian menyebutkan seorang yang sedang bepergian yang keadaannya kusut, berdebu, kemudian mengangkat kedua tangannya sambil berdoa: Wahai Tuhanku..wahai Tuhanku,akan tetapi makanannya haram, minumannya haram,dan pakaiannya haram, mana mungkin dikabulkan baginya.” [HR. Muslim]
            Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini bisa bermanfaat bagi penulis dan para penuntut ilmu yang haus akan ilmu dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa penulis, orang tuanya, serta kaum muslimin dan muslimat Amin….!!!!. Sangat kami harapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Karena penulis tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.

والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين

Penulis yang fakir kepada Allah

Budi Suryanto Abu Muhammad
Ahad  14/3/1431 Buraidah Qasim


Maraji’ :

1. Al-Qur'anul Karim
2. Shahih Bukhari
3. Shahih Muslim
4. Jami' bayanul Ilmi Wa Fadhlihi:Ibn Abdil bar Al-Qurthubi
5. Qoulul Mufid As-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin
6. Kitabul ilmi As-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin
7. Sunan Abu Dawud
8. Silsilah Ahadits Shahihah As-Syaikh Al-Albany

Atau Download Makalahnya di sini : DOWNLOAD

FIQH DA'WAH

FIQH DA’WAH 

oleh: Ustadz Abu Ubaidillah Ridhwan Al-Atsary
          الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، إله الأولين والآخرين، وقيوم السماوات والأرضين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وخليله وأمينه على وحيه، أرسله إلى الناس كافة بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه الذين ساروا على طريقته في الدعوة إلى سبيله، وصبروا على ذلك، وجاهدوا فيه حتى أظهر الله بهم دينه، وأعلى كلمته ولو كره المشركون، وسلم تسليما كثيرا أما بعد:


      Segala puji bagi Allah dengan berkat karunia dan taufiq-Nya kita kembali dipertemukan dalam kesempatan yang mulia dan insya Allah berbarokah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita yang mulia anutan dan teladan bagi orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, kepada keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari akhir.
        Selanjutnya pada kesempatan ini, dengan memohon pertolongan Allah dan menjadikan kita selalu ikhlas dalam beribadah khanya kepada-Nya, akan bersama-sama mempelajari tentang fiqh da’wah berlandaskan kitabullah dan sunnah Nabi dengan pemahaman para sahabatnya yang meliputi:
A.   Pengertian Dakwah, keutamaan dan hukumnya:

1.   Pengertian secara bahasa: berasal dari kata da’a- yad’uu- du’aan- da’watan yang berarti mengajak, menyeru dan memanggil (al-Mu’jamul Wasith, hal 286)
2.   Sedangkan secara istilah/ syara’ adalah: mengajak orang lain agar melakukan perintah Allah baik berupa ucapan maupun amalan, dan meningggalkan segala larangan Allah baik berupa ucapan maupun amalan. (Lihat Usus Manhajis Salaf  fid Da’wah ilallah hal 31)
3.   Syaikh Fawwaz bin Hulail as-Suhaimi di dalam kitab beliau yang mengagumkan yakni Usus Manhajis Salaf  fid Da’wah ilallah hal 32-34 menyebutkan di antara Keutamaan dakwah adalah:
a.    Memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan penting.
b.    Diberikan pahala yang sangat besar bagi para pelakunya.
c.    Termasuk amalan yang fardhu dan wajib bagi kaum muslimin khususnya para ulama.
d.    Dakwah merupakan jalan para Rasul yang dijadikan sebagai panutan dan pemimpin dalam menjalankan tugas yang sangat agung ini. (Q.S An-Nahl/16: 36)


Silahkan Download Tulisan Beliau di sini dalam bentuk Document yang merupakan makalah dari Kegiatan Training Kementoringan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Download Makalah : "FIQH DAWAH"

 

suara islam Powered by Blogger