Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Mengapa Anakku Sering Marah-marah dan Sulit Konsentrasi?

Ilustrasi anak marah (givinglifeonline.com)
Menjadi seorang guru kadang kala seperti menjadi seorang dokter. Terutama ketika rapotan, orang tua akan berkonsultasi dengan guru, begitu juga sebaliknya. Seorang guru juga akan mencari informasi sedetail-detailnya tentang perkembangan ananda baik di rumah atau pun di sekolah.

Beberapa keluhan yang sering saya dapatkan ketika konsultasi adalah ketika seorang anak usia dini mudah sekali marah-marah yang tak wajar sampai membanting apa saja yang ada di sekitarnya atau teriak kencang-kencang bahkan memukul. Dalam pengamatan saya mendapati beberapa anak didik yang memiliki kasus serupa, orang tua tidak perlu panik dengan hal ini. Anak usia dini, seusia play group atau TK berada pada masa penuntasan sensorial mereka terutama taktil (perabaan). Jika hal ini belum tuntas, tidak salah jika mereka memang sulit sekali untuk konsentrasi, membaca, apalagi menulis. Selain itu, emosi mereka juga sulit sekali terkontrol. Bagaimana bisa begitu?

Orang buta dan tuli masih bisa survive dengan perabaan mereka. Sedangkan orang yang tidak memiliki tangan dan kaki, mereka akan sulit melakukan banyak hal. Itulah mengapa perabaan anak harus dituntaskan terlebih dahulu karena penglihatan dan pendengaran dapat diwakili dengan perabaan. Selain itu, sistem pengendalian saraf pusat anak sedang dalam proses perkembangan agar dapat disimpan otak dalam jangka panjang. Aspek yang mempengaruhi perkembangan sistem saraf pusat salah satunya adalah taktil (perabaan) ini. Sulitnya membaca, menulis, dan emosi yang sulit dikendalikan kemungkinan besar karena taktil yang belum tuntas.

Itulah mengapa anak-anak yang belum tuntas sensorial perabaannya sangat senang sekali ketika melihat air atau pun pasir. Entah itu genangan air atau air di bak mandi sekali pun. Anda pasti juga sering melihat anak-anak yang senang sekali bermain pasir, tidak peduli itu membahayakan kesehatannya atau tidak. Semua itu alamiah bagi anak-anak. Bagi orang tua dan pedidik sudah seharusnyalah kita mengetahui akan hal ini agar kita tidak “mendzolimi”anak karena kebodohan kita sendiri. Ketika kita melarang anak bermain kotor, ketika itu pula kita melarang mereka untuk berkembang lebih baik. Pasti karena alasan kesehatan dan kerepotan.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menuntaskan taktil anak dengan tetap menjaga kesehatan mereka?

1. Berenang
Sebaiknya kita mengganti kesenangan anak bermain genangan air dengan berenang. Banyak hal yang bisa diajarkan ketika anak bermain air di kolam renang. Selain mengajarkan renang, kita juga bisa mengajarkan berwudhu kepada mereka.

2. Bermain Pasir Putih
Hal yang kita khawatirkan ketika anak bermain pasir adalah tentang kesehatan mereka. Kita bisa menggunakan pasir putih untuk memperkecil kemungkinan cacingan dan gangguan kesehatan lainnya.

3. Bermain plastisin, tanah liat, lem, dan sejenisnya.
Satu hal yang perlu diingat, ketika anak bermain kotor, ketika itu pula mereka belajar. Jika mereka kotor setelah bermain, kita bisa mengajarkan kebersihan dengan mengajak mereka membersihkan diri. Jika bisa dibersihkan, mengapa kita panik? Selamat mencoba!

Wallahua’lam bish showab. [Gresia Divi]


Bijak Menyikapi Kesalahan Anak

Ayah dan anak (foto liputan6.com)
"Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa."

"Subhanallah, menakjubkan!" Itulah kalimat yang terlontar dari kami, para guru yang sedang mengikuti pelatihan siang itu. Pemateri kami, ustadz Setiawan Agung Wibowo menceritakan pengalaman temannya sebagai guru sekolah Jerman di Serpong untuk lebih membuka wawasan kami.

Berdasarkan kisah guru tersebut, beberapa waktu lalu seorang anak direktur salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di Indonesia menggunakan kosa kata baru yang tidak pantas dan mengandung unsur seksual yang vulgar. Beberapa guru di sana menduga anak ini telah mengakses website yang berisi konten dewasa yang tidak pantas.

Ketika pertama kali mendengar berita ini hampir kebanyakan orang pasti berfikir, anak orang kaya sih, terlalu dimanja, makanya aneh-aneh. Atau, paling-paling anaknya bodoh makanya buka-buka website porno. Bahkan kita mungkin berpikir, pasti ini anak kurang perhatian di rumah dan orangtuanya tidak pernah mendidiknya dengan baik. Kalau memang demikian, case closed. Kita tahu siapa kambing hitamnya.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Meskipun secara finansial berlimpah, anak ini tidak sombong atau sok pamer kekayaan. Pembawaannya sederhana, sopan, dan kemampuan sosialnya sangat baik. Selain itu, dia adalah salah satu murid yang memiliki kemampuan menonjol di bidang Fisika dan Matematika serta berkinerja sangat baik di bidang lain. Dia keukeuh bercita-cita untuk kuliah di bidang nuklir. Kemampuan akademisnya pun sangat menunjang. Kedua orangtuanya juga penuh perhatian dan dekat kepada anak ini sampai-sampai setiap kali bapaknya tugas ke luar negeri, anak dan istrinya dibawa supaya mereka selalu dekat.

Sebelum kepala sekolah memanggil orangtua anak ini, pihak sekolah menyampaikan kekhawatiran para guru kepadanya. Tanpa banyak tarik ulur, anak ini mengaku telah mengakses situs-situs porno dan merasa kalau dirinya kecanduan. Anak ini baru berusia 13 tahun dan duduk di kelas 7. Segera setelah itu pihak sekolah menghubungi kedua orangtua anak ini dan mereka serta merta datang hari itu juga.

Kedua orangtua ini begitu solid. Kalimat pertama yang mereka ucapkan ketika bertemu pihak sekolah adalah kalimat penuh terima kasih karena mereka telah diberitahu tentang hal buruk yang dilakukan anaknya. Setelah mendengar cerita tentang anak mereka, kedua orangtua anak ini langsung mengajak pihak sekolah berdiskusi mengenai solusinya. Tidak sekalipun mereka menyalahkan internet, gadget, pengaruh negatif teman-teman anaknya, sekolah yang terlalu bebas, guru-guru yang tidak mengkontrol, pendidikan agama yang kurang, masyarakat yang rusak, informasi yang terlalu terbuka, dll. Fokus mereka hanya mencari solusi terbaik untuk anaknya.

Setelah berdiskusi panjang lebar dan mencari solusi yang ramah terhadap anak, tanpa hukuman, yaitu melalui serangkaian pendidikan untuk menggugah kesadarannya yang dilakukan di sekolah dan di rumah, pihak sekolah mengakhiri pertemuan hari itu.

"Saya berkesempatan ngobrol lebih lanjut dengan kedua orangtua ini sembari jalan di hall sekolah. Terus terang saya kagum dengan mereka berdua dan saya ungkapkan rasa salut saya kepada mereka yang fokus mencari solusi daripada mencari kambing hitam," kata ustadz Agung menirukan cerita temannya.

"Dengan rendah hati dan tidak dibuat-buat, ayah anak ini bilang, 'Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa'," tambahnya lagi.

“Saya berharap ini jadi renungan para guru yang ada di sini,” ujarnya mengakhiri kisah ini. Saya pribadi berharap, ini bukan hanya menjadi renungan saya dan teman-teman saya tetapi juga seluruh pendidik dan orang tua. Jika orang tua dan pendidik memegang prinsip bahwa pendidikan adalah upaya perubahan maka mereka tidak akan langsung menghukum kesalahan anak.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Kitalah Teladan Mereka

Siswi muslimah (ilustrasi dari Sindikasi)
“Ustadzah itu begini dan begitu...” kata itu tertulis pada sebuah kertas yang ditaruh di atas tempat tidur teman saya.

Sesaat setelah membaca tulisan itu, teman saya terduduk lemas. Tangannya gemetar. Air mata mulai menetes mengalir di sela-sela pipinya. Tak disangka, di mata anak-anak ia seperti itu. Ia kemudian menenangkan diri. Diambilnya air wudlu lalu melaksanakan shalat. Kebetulan waktu itu adzan berkumandang.

Setelah sholat ia hanya diam di kamarnya. Tak beranjak walau hanya untuk menengok santri-santrinya. Entah takut atau kalut masih menyelimuti hatinya. Setelah agak sedikit tenang dibacanya kembali surat kaleng itu. Ada satu kata yang begitu menancap di hatinya: “Ustadzah itu nyuruh kami melakukan ini dan itu, tapi ustadzah sendiri gak mau melakukannya!”

Kalimat itu seolah terucap berapi-api. Mencabik-cabik hatinya. Teringat kembali akan surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ini hanyalah cerita singkat mengenai ekspresi seorang santri terhadap ustadzahnya. Ada banyak hal yang disampaikannya. Tapi dari surat itu saya mengambil kesimpulan, bahwa dalam benak santri tersebut ada pertanyaan yang selalu mengeglayuti hatinya, “Mengapa ustadzahku menyuruhku ini dan itu sedangkan beliau sendiri tidak melaksanakannya? Mengapa beliau membuat peraturan ini dan itu sedang beliau tidak mau melaksanakannya?”

Mungkin bagi anak-anak, terutama siswa SMP, hal ini terkesan tidak adil. Dan ini adalah sebuah tanda tanya besar, bagaimana anak-anak bisa mengerjakan kebaikan kalau kita sendiri tak mau melakukannya? Bagaimana anak-anak mau menuruti perintah kita kalau kita sendiri tidak mau mengerjakannya?

Saudaraku... Tentu ini sangat berkebalikan dengan metode mendidik Rasulullah. Dalam sabdanya yang driwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengatakan pada anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu’ namun dia tidak memberi, maka itu ada adalah sebuah kedustaan”.

Meski hal ini terkesan remeh, secara tidak langsung kita telah mengajarinya berbohong. Kita telah memberi iming-iming palsu sehingga timbullah kekecewaan yang akan membekas dalam ingatan anak tersebut. Yang suatu saat anak itu akan menirunya dengan mengatakan begini, “Aah dulu ibu pernah menjanjikan saya hadiah. Tapi ternyata bohong. Sekarang kalau aku bohong gak apa-apa kan? Kan ibu dulu juga pernah bohong”. Atau misalkan begini “Aah ustadzah saja pernah telat shalat. Jadi kalau kita telat sesekali juga ga apa-apa kan?”

Dalam buku Prophetic Parenting karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafiz dijelaskan bahwa seorang anak akan selalu memperhatikan dan meneladani prilaku orang dewasa. Baik itu orang tuanya, saudaranya atau gurunya. Apabila mereka melihatnya berprilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian seterusnya.

Orang dewasa (khususnya kedua orang tua dan guru) selalu dituntut menjadi suri teladan yang baik. Karena seorang anak yang berada di masa pertumbuhan selalu memperhatikan sikap dan ucapan orang tuanya. Dia juga bertanya sebab mereka berlaku demikian.

Selain itu dalam buku 100 Cara agar Anak Bahagia, Dr. Timothy menjelaskan bahwa anak-anak belajar dengan mengamati. Mereka memperhatikan dan menirukan tingkah laku kita. Untuk itu kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka. Apabila kita ingin kata-kata kita didengar oleh mereka.

Oleh karenanya, kalau dulu kita mengatkan “Lakukan sesuai kataku, bukan seperti perbuatanku” maka mari kita buang jauh-jauh kata-kata itu. Karena perbuatan jauh lebih menancap dari perkataan. Anak didik kita akan cenderung meniru perbuatan kita daripada apa yang kita katakan. Sehingga dari situ kita dapat berkaca “Sepeti apakah diri kita?”. Karena anak kita atau anak didik kita adalah cerminan diri kita.

Semoga ini menjadi bahan evaluasi bagi kita...

Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Anak Tidak Mau Makan Sayur dan Buah?

Ilustrasi anak tidak mau makan sayur (foto kolomjualbeli.com)
Banyak anak-anak usia PAUD yang tidak mau makan sayur dan buah. Agar bayi Anda nantinya tidak seperti mereka, ada tips yang terbukti jitu.

Tips agar anak doyan makan sayur dan buah ini saya dapatkan dari salah seorang wali murid di tempat saya mengajar. Ketika itu kami terbengong mendapati si anak dengan lahapnya memakan sayur brokoli yang hanya direbus tanpa diberi bumbu apa pun. Begitu juga di hari-hari berikutnya, bekal yang dibawakan oleh orang tua tidak layaknya bekal yang dibawa teman-temannya. Jika anak-anak lain membawa jajanan sebagai bekal, ia justru membawa buah atau sayur yang direbus begitu saja. Anak itu tidak pernah memilih-milih makanan seperti kebanyakan temannya. Ia pun sudah tidak lagi minum banyak susu dalam sehari karena kebutuhan vitamin dan mineralnya sudah ia dapatkan pada makanan yang ia konsumsi.

Kami pun kemudian “berguru” dari sang ibu. Ternyata, ketika si anak menginjak masa pemberian makanan pendamping ASI, sang ibu tidak memberikan pisang kerik atau bubur instan seperti yang diberikan para orang tua umumnya. Akan tetapi sang ibu mengenalkan ananda dengan rasa buah dan sayur yang sesungguhnya pada anak.

Seminggu pertama, ananda diberikan satu jenis buah yang sudah dihaluskan tanpa diberi tambahan rasa apa pun, hanya air secukupnya saja. Di minggu berikutnya, sang ibu memberikan jenis buah yang lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar anak mengenal betul rasa dari setiap buah yang diberikan sang ibu. Biasanya kita mendapatkan tips untuk mencampur bubur dengan buah atau beberapa buah, padahal hal ini justru akan membuat si anak tidak bisa mengenali rasa sesungguhnya dari buah atau sayur tersebut. Itulah yang membuat anak tidak menyukai buah dan sayur atau bahkan pilih-pilih makanan karena mereka tidak familiar dengan rasa itu sejak kecil. Selain itu, pemberian secara bergantian selama seminggu juga akan memudahkan orang tua untuk mendeteksi apakah anak alergi terhadap makanan tertentu.

Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa untuk anak-anak yang masih dalam masa pemberian makanan pendamping asi, sebaiknya tidak diperkenalkan dengan berbagai macam makanan yang bercampur-campur rasanya karena itu adalah masa emas bagi anak untuk mengenal setiap rasa sehingga ketika anak sudah disapih dan mulai dengan makanan biasa, ia tidak akan pilih-pilih makanan lagi karena mudah dalam mendeteksi rasa setiap makanan.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Mengapa Anakku Tak Peduli Saat Kupanggil?

Anak lari - foto uungferi.com
Apakah Anda pernah mendapati anak seusia 10-16 tahun (menginjak kelas 4-6 Sekolah Dasar) memiliki ‘cuek’ yang tinggi terhadap hal-hal di sekitarnya, seperti tak menoleh atau menyahut saat dipanggil, dimintai tolong, atau bahkan tak peduli ketika ada hal-hal di sekitarnya yang tak beres? Apakah anak itu yang seratus persen bersalah atau justru kita atau bahkan mungkin para orang tua sendiri yang telah melakukan ‘proses budekisasi’ (dalam bahasa Jawa budek berarti tuli)?

Seringkali orang-orang di sekitar anak menyepelekan hal-hal yang sebenarnya mendasar bagi mereka. Kita sering lupa bahwa mereka adalah imitate (peniru) yang handal terhadap hal-hal di sekitarnya. Ketika kita dalam kedaan payah sepulang kerja atau saat penat dengan bejibun aktivitas dan masalah, celoteh-celoteh ringan anak menjadi hal yang sambil lalu kita tanggapi. Bagaimana tidak, saat anak iseng menanyakan ini itu kepada orang dewasa, dengan ‘enteng’ kita jawab “ah ndak tahu lah”, “kapan-kapan saja ya jawabnya”, “jangan tanya terus”, “sudah diam”, dan berbagai kata-kata senada untuk membungkam celoteh si anak agar tak menambah lelah dan penat. Apakah Anda pernah melakukannya? Sepertinya masing-masing dari kita perlu mengoreksi diri karena hal-hal tersebut secara tidak sadar dapat membuat anak tumbuh menjadi anak yang terjangkit ‘proses budekisasi’ yang kita lakukan secara tidak sadar pada anak.

Seperti yang diungkap Dra. Sumarti Thohir dalam sebuah acara parenting, bahwa anak akan merasa percuma saja bertanya atau berbicara dengan orang dewasa, mereka juga tidak akan menjawab atau bahkan mereka akan berfikir bahwa diri mereka hanya pengganggu bagi orang dewasa. Sejak itu pun, anak tidak akan peduli pula dengan panggilan-panggilan yang datang padanya. Persis seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Lalu, jika sudah begini apakah salah si anak atau kah justru kita yang telah mendzoliminya?

Bagi hati-hati yang lembut dan masih putih itu, perhatian kecil untuk mereka merupakan suatu momen tersendiri yang akan menjadi pijakan mereka hingga dewasa kelak. Jika kita melihat anak yang baik atau pun buruk, itu pula lah gambaran kita, kita lah yang membuat mereka serupa itu. Jangan salahkan si anak, salah kan diri kita yang kurang siap dengan ilmu-ilmu untuk menumbuhkan mereka. Karena laksana mendidik anak seperti menanam pohon, anak-anak tumbuh sesuai kebutuhan dan pengalaman mereka.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS. Ibrahim : 24)

Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

Memahami Remaja Lebih Dekat

“Menjadi seorang musyrifah (pembina asrama), guru atau ustadzah bukan hanya sekedar mengelola manusia (murid atau santri). Tapi ia mengelola hati dan perasaan (jiwa) seseorang” kata ustadz Sholihun dalam perjalanan terakhir saya ke Srunen awal Juli lalu. Maksudnya adalah kita tidak sekedar mengatur adik-adik binaan kita, santri atau murid kita. Yang dalam perjalanannya kita minta mereka begini dan begitu sesuai dengan berbagai program yang telah kita buat sedemikian rupa. Ada hati di sana, ada perasaan di sana, yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan mood dan pikiran.

Karena pada dasarnya menjadi seorang musyrifah, guru, ustadzah atau apalah sebutannya bukan hanya sekedar memberi materi-materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang telah dibuat. Tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan murid atau santri kita.

Kadang kala ketika kita menyusun berbagai program dan kurikulum kita lupa bahwa ada jiwa-jiwa yang perlu kita perhatikan perasaannya, perlu kita dekati secara khusus, dan perlu kita berikan bimbingan agar menjadi pribadi yang baik karakter dan kepribadiannya.

Terutama mengelola siswa MTs atau setingkat SMP. Di mana pada masa itu adalah masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa. Masa yang kepribadiannya bisa berubah-ubah sewaktu-waktu , masa yang membutuhkan inspirasi dalam kehidupannya. Emosinya labil dan sangat peka terhadap cara pandang orang lain terhadap diri mereka. Dan pada masa ini pengaruh teman sebaya sangat kuat terhadapnya. Maka tak heran apabila di rumah kita menjumpai adik kita yang pendiam namun setelah sering bergaul dengan teman sebayanya yang rame adik kita berubah.

Contohnya dulu sewaktu saya menjadi musyrifah di SMPIT Abu Bakar Yogya. Dulu saya kelompokkan adik-adik yang kurang rapi atau akhlaknya kurang dengan mereka yang baik dan penurut. Dalam beberapa bulan si adik yang agak ngeyelan dan kalau sholat selalu di baris belakang perlahan berubah. Sholatnya mulai rajin, karakternya juga mulai membaik.

Saudaraku, memahami remaja tidak seperti memahami anak-anak atau orang dewasa. Jikalau anak-anak, mungkin mereka cukup dibilangin lalu nurut atau sekedar bertanya “buat apa ustadzah?” atau kalau orang dewasa mereka akan mengerti atau sesekali mereka protes dengan bahasa yang sudah mereka pilih. Tapi kalau remaja, mereka bukan sekedar bertanya atau protes, ngeyel, manyun atau bahkan ketika emosi mereka tidak terkendali, mereka akan membentak dan melakukan hal-hal yang kasar adalah hal yang sering terjadi.

Maka di sinilah perasaan atau jiwa itu harus kita kelola, mengingat tipe anak-anak sangat beragam. Ada mereka yang cuek, ada mereka yang penurut, ada mereka yang manyun dan suka membantah, ada yang lugu, ada yang polos dan berbagai karakter mereka sesuai dengan latar belakang dan background mereka.

Dalam dauroh murobbi pesatren beberapa waktu yang lalu, kak wahyu salah seorang pembicaranya menjelaskan tentang keterampilan memahami remaja. Yang pertama yakni, memahami penyebabnya. Maksudnya kita cari tahu penyebab dari prilaku remaja tersebut. Misalnya, dulu salah seorang santri saya di Abu Bakar ada yang tiba-tiba menjadi pendiam dan sekali ngomong nyelekit bahasa Gresiknya, padahal biasanya si adik selalu ceria. Ternyata setelah kami telisik, dia merasa malu karena akan punya adik lagi. Atau ada salah seorang santri yang emosinya labil, sedikit-sedikit manyun, eh ternyata keluarganya broken home, ayah dan ibunya pisah saat dia masih TK.

Yang kedua adalah memberikan empati, yakni dengan memberikan perhatian pada hal-hal kecil. Misalnya dengan mengetahui kebiasaan makannya, di mana letak sepatunya, atau warna atau kesukaannya dll. Mungkin terkesan sepeleh tapi itu akan menjadi kesan tersendiri buat adik-adik. Karena kalau hal-hal kecil saja diperhatikan apalagi yang besar?

Yang ketiga yakni berbicara dari hati kehati. Yakni apabila terjadi sebuah prilaku yang kurang maka kita ajak bicara pelan-pelan. Kita minta dia menceritakan atau curcol sama kita dengan cara yang baik dan kalau bisa kita luluhkan hatinya.

Dan yang terakhir dengan melakukan konseling. Konseling ini bisa dilakukan dengan memanggil satu persatu, atau dengan melakukan pendekatan spiritual vision atau memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak sesuai syariat misalnya.

Contohnya ketika terjadi kasus pencurian dalam sebuah asrama, kita buat renungan, kita pahamkan pada anak-anak bahwa mencuri adalah akhlak tercela, dan hukumnya adalah haram. Kalau tidak ada yang mengaku maka kita panggil satu persatu, dan kita tanyakan baik-baik.

Kemudian dalam dauroh tersebut beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus dihindari oleh seorang guru, ustadzah, atau teacher bahasa Inggrisnya. Yang pertama adalah membandingkan. Setiap anak atau remaja adalah unik, dia punya karakter yang khas. Dia juga ingin dihargai dan diapresiasi sekecil apapun prestasinya, dia ingin diakui eksistensi dirinya. Karena pada masa ini adalah masa pencarian jati diri mereka dan masa yang labil. Sekali mereka tidak dihargai mereka akan jatuh dan tidak akan mau berusaha lagi.

Misalnya saja, adik kita mendapat rangking 16 di kelasnya, sementara tetangga mendapat rangking 3 besar. Maka jangan sekali-kali membandingkan dia dengan tetangga kita tersebut. Kita hargai adik kita yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan yang terbaik dan kita motivasi agar ke depannya dia berusaha lebih giat lagi hingga dapat meningkatkan prestasinya. Atau misalnya si A punya prestasi di bidang sastra tapi nilai matematikanya jeblok. Maka jangan sekali-kali menjust bahwa anak ini bodoh, tidak bisa, dan membandingkan dengan temannya yang nilainya bagus. Dia akan ngedrop dan meninggalkan hobinya menulis cerpen misalnya. Padahal di situlah bakatnya. Maka hendaklah kita bisa memotivasinya agar dia terus mengasah bakatnya hingga suatu saat dia bisa menjadi penulis besar.

Yang kedua yakni pilih kasih. Saudaraku, janganlah sekali-kali kita pilih kasih pada salah satu murid atau santri kita. Karena hal ini akan menimbulkan kesenjangan sosial diantara anak-anak. Tidak ada bedanya mau santri yang rajin, mau santri yang penurut, mau santri yang ngeyelan. Semuanya sama. Mereka punya karakter yang unik dan perlu penyikapan yang berbeda-beda.

Dan yang terakhir yakni, cuek, pasif, masa bodoh. Setiap anak selalu ingin diperhatikan, baik itu orang tua, teman, atau gurunya. Apalagi mereka yang punya prilaku “spesial” yang memerlukan perhatian khusus. Maka sikap cuek, pasif, dan masa bodoh terhadap mereka sudah selayaknya kita hindari sebagai seorang guru. Kalau kata ustadz Musyafa’, sikap ini merupakan ciri guru yang tidak bertanggung jawab. Karena seorang guru adalah pendidik, pejuang, seorang yang banyak berkorban dan seorang kader yang terus mengembangkan diri yang terus melakukan perbaikan diri.

Saudaraku, semoga yang sedikit ini menjadi pelajaran buat kita dalam memahami adik-adik, murid atau santri kita yang masih remaja. Karena mereka adalah pribadi yang unik, pibadi yang khas yang memerlukan penyikapan yang berbeda-beda.

Maka sikap pertama yang harus kita miliki dan selalu kita memiliki adalah sabar. Karena di balik kesabaran ada keikhlasan dan ketulusan, yakni ikhlas ketika sikap labil mereka membuat mereka bersikap kasar terhadap kita, dan tulus dalam memberikan setiap bimbingan dan arahan kepada mereka. Karena di balik kesabaran ada sikap qona’ah, yakni menerima mereka dengan segala keunikan sikap mereka, menerima mereka satu paket kelebihan dan kekurangan mereka. Dan di balik kesabaran itu pula ada ketegaran, yakni tegar dalam menghadapi segala bentuk tingkah laku mereka.

Waallahu a’lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]
 

suara islam Powered by Blogger