Tampilkan postingan dengan label Gresia Divi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gresia Divi. Tampilkan semua postingan

Mengapa Anakku Sering Marah-marah dan Sulit Konsentrasi?

Ilustrasi anak marah (givinglifeonline.com)
Menjadi seorang guru kadang kala seperti menjadi seorang dokter. Terutama ketika rapotan, orang tua akan berkonsultasi dengan guru, begitu juga sebaliknya. Seorang guru juga akan mencari informasi sedetail-detailnya tentang perkembangan ananda baik di rumah atau pun di sekolah.

Beberapa keluhan yang sering saya dapatkan ketika konsultasi adalah ketika seorang anak usia dini mudah sekali marah-marah yang tak wajar sampai membanting apa saja yang ada di sekitarnya atau teriak kencang-kencang bahkan memukul. Dalam pengamatan saya mendapati beberapa anak didik yang memiliki kasus serupa, orang tua tidak perlu panik dengan hal ini. Anak usia dini, seusia play group atau TK berada pada masa penuntasan sensorial mereka terutama taktil (perabaan). Jika hal ini belum tuntas, tidak salah jika mereka memang sulit sekali untuk konsentrasi, membaca, apalagi menulis. Selain itu, emosi mereka juga sulit sekali terkontrol. Bagaimana bisa begitu?

Orang buta dan tuli masih bisa survive dengan perabaan mereka. Sedangkan orang yang tidak memiliki tangan dan kaki, mereka akan sulit melakukan banyak hal. Itulah mengapa perabaan anak harus dituntaskan terlebih dahulu karena penglihatan dan pendengaran dapat diwakili dengan perabaan. Selain itu, sistem pengendalian saraf pusat anak sedang dalam proses perkembangan agar dapat disimpan otak dalam jangka panjang. Aspek yang mempengaruhi perkembangan sistem saraf pusat salah satunya adalah taktil (perabaan) ini. Sulitnya membaca, menulis, dan emosi yang sulit dikendalikan kemungkinan besar karena taktil yang belum tuntas.

Itulah mengapa anak-anak yang belum tuntas sensorial perabaannya sangat senang sekali ketika melihat air atau pun pasir. Entah itu genangan air atau air di bak mandi sekali pun. Anda pasti juga sering melihat anak-anak yang senang sekali bermain pasir, tidak peduli itu membahayakan kesehatannya atau tidak. Semua itu alamiah bagi anak-anak. Bagi orang tua dan pedidik sudah seharusnyalah kita mengetahui akan hal ini agar kita tidak “mendzolimi”anak karena kebodohan kita sendiri. Ketika kita melarang anak bermain kotor, ketika itu pula kita melarang mereka untuk berkembang lebih baik. Pasti karena alasan kesehatan dan kerepotan.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menuntaskan taktil anak dengan tetap menjaga kesehatan mereka?

1. Berenang
Sebaiknya kita mengganti kesenangan anak bermain genangan air dengan berenang. Banyak hal yang bisa diajarkan ketika anak bermain air di kolam renang. Selain mengajarkan renang, kita juga bisa mengajarkan berwudhu kepada mereka.

2. Bermain Pasir Putih
Hal yang kita khawatirkan ketika anak bermain pasir adalah tentang kesehatan mereka. Kita bisa menggunakan pasir putih untuk memperkecil kemungkinan cacingan dan gangguan kesehatan lainnya.

3. Bermain plastisin, tanah liat, lem, dan sejenisnya.
Satu hal yang perlu diingat, ketika anak bermain kotor, ketika itu pula mereka belajar. Jika mereka kotor setelah bermain, kita bisa mengajarkan kebersihan dengan mengajak mereka membersihkan diri. Jika bisa dibersihkan, mengapa kita panik? Selamat mencoba!

Wallahua’lam bish showab. [Gresia Divi]


Bijak Menyikapi Kesalahan Anak

Ayah dan anak (foto liputan6.com)
"Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa."

"Subhanallah, menakjubkan!" Itulah kalimat yang terlontar dari kami, para guru yang sedang mengikuti pelatihan siang itu. Pemateri kami, ustadz Setiawan Agung Wibowo menceritakan pengalaman temannya sebagai guru sekolah Jerman di Serpong untuk lebih membuka wawasan kami.

Berdasarkan kisah guru tersebut, beberapa waktu lalu seorang anak direktur salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di Indonesia menggunakan kosa kata baru yang tidak pantas dan mengandung unsur seksual yang vulgar. Beberapa guru di sana menduga anak ini telah mengakses website yang berisi konten dewasa yang tidak pantas.

Ketika pertama kali mendengar berita ini hampir kebanyakan orang pasti berfikir, anak orang kaya sih, terlalu dimanja, makanya aneh-aneh. Atau, paling-paling anaknya bodoh makanya buka-buka website porno. Bahkan kita mungkin berpikir, pasti ini anak kurang perhatian di rumah dan orangtuanya tidak pernah mendidiknya dengan baik. Kalau memang demikian, case closed. Kita tahu siapa kambing hitamnya.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Meskipun secara finansial berlimpah, anak ini tidak sombong atau sok pamer kekayaan. Pembawaannya sederhana, sopan, dan kemampuan sosialnya sangat baik. Selain itu, dia adalah salah satu murid yang memiliki kemampuan menonjol di bidang Fisika dan Matematika serta berkinerja sangat baik di bidang lain. Dia keukeuh bercita-cita untuk kuliah di bidang nuklir. Kemampuan akademisnya pun sangat menunjang. Kedua orangtuanya juga penuh perhatian dan dekat kepada anak ini sampai-sampai setiap kali bapaknya tugas ke luar negeri, anak dan istrinya dibawa supaya mereka selalu dekat.

Sebelum kepala sekolah memanggil orangtua anak ini, pihak sekolah menyampaikan kekhawatiran para guru kepadanya. Tanpa banyak tarik ulur, anak ini mengaku telah mengakses situs-situs porno dan merasa kalau dirinya kecanduan. Anak ini baru berusia 13 tahun dan duduk di kelas 7. Segera setelah itu pihak sekolah menghubungi kedua orangtua anak ini dan mereka serta merta datang hari itu juga.

Kedua orangtua ini begitu solid. Kalimat pertama yang mereka ucapkan ketika bertemu pihak sekolah adalah kalimat penuh terima kasih karena mereka telah diberitahu tentang hal buruk yang dilakukan anaknya. Setelah mendengar cerita tentang anak mereka, kedua orangtua anak ini langsung mengajak pihak sekolah berdiskusi mengenai solusinya. Tidak sekalipun mereka menyalahkan internet, gadget, pengaruh negatif teman-teman anaknya, sekolah yang terlalu bebas, guru-guru yang tidak mengkontrol, pendidikan agama yang kurang, masyarakat yang rusak, informasi yang terlalu terbuka, dll. Fokus mereka hanya mencari solusi terbaik untuk anaknya.

Setelah berdiskusi panjang lebar dan mencari solusi yang ramah terhadap anak, tanpa hukuman, yaitu melalui serangkaian pendidikan untuk menggugah kesadarannya yang dilakukan di sekolah dan di rumah, pihak sekolah mengakhiri pertemuan hari itu.

"Saya berkesempatan ngobrol lebih lanjut dengan kedua orangtua ini sembari jalan di hall sekolah. Terus terang saya kagum dengan mereka berdua dan saya ungkapkan rasa salut saya kepada mereka yang fokus mencari solusi daripada mencari kambing hitam," kata ustadz Agung menirukan cerita temannya.

"Dengan rendah hati dan tidak dibuat-buat, ayah anak ini bilang, 'Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa'," tambahnya lagi.

“Saya berharap ini jadi renungan para guru yang ada di sini,” ujarnya mengakhiri kisah ini. Saya pribadi berharap, ini bukan hanya menjadi renungan saya dan teman-teman saya tetapi juga seluruh pendidik dan orang tua. Jika orang tua dan pendidik memegang prinsip bahwa pendidikan adalah upaya perubahan maka mereka tidak akan langsung menghukum kesalahan anak.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Ketika Akhwat Diuji dengan Suami

La Tahzan (gambar faniafnan.blogspot.com)
“Biarlah itu menjadi urusan suamiku dengan Allah, yang terpenting aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri.”

Begitu menohok ketika sebuah kalimat itu kudengar setelah rentetan kisahnya dalam mengarungi biduk rumah tangga. Dia adalah sosok yang begitu luar biasa di mataku. Bagaimana tidak, dalam kondisi harus bekerja untuk menghidupi keempat anaknya, ia tetap aktif berdakwah. Sementara suaminya, selain hanya bekerja serabutan, kondisinya jauh dari nilai-nilai dakwah yang ia bawa.

“Mengapa engkau mau menikah dengannya, bukankah ia perokok dan sama sekali tidak seiring dengan jalan juangmu?” tanyaku ketika itu.

“Begitulah yang namanya jodoh,” jawabnya, “Dulu pemahamanku tidak seperti sekarang. Aku terima saja lamarannya, toh tidak ada yang fatal dari dirinya, menurutku waktu itu. Dengan kefahamanku yang sekarang pun harusnya aku bisa lebih bijak. Tak pernah aku surut untuk mengajaknya melangkah bersama dalam kebaikan walau pun sungguh berat. Kalau pun masih banyak hal yang tidak sesuai dari dirinya, biarlah itu menjadi urusan suamiku dengan Allah, yang terpenting aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri. Itulah ladang dakwahku.”

Diriku yang nol sama sekali dari pengalaman mengarungi biduk rumah tangga hanya melongo mendengar jawabannya. Bukan lantaran kisah sedih hidupnya. Banyak kisah yang mungkin lebih tragis dari itu. Akan tetapi, fikiranku serasa menerawang, jikalau itu aku… bisakah aku berfikir sebijak itu…

Selama ini para bujanghidin (sebutan keren bagi yang belum menikah) sering kali hanya mempunyai teori-teori tentang pernikahan baik itu dari buku-buku yang dibaca atau pun pengalaman orang-orang di sekitarnya. Tapi jelas teori tidaklah cukup. Pun tidak ada percobaan menikah. Menikah adalah sebuah pilihan. Pembelajarannya dimulai pada saat menikah itu lah.

Selesai menerawang dengan segala fikiran yang bergelayutan, akhirnya kusimpulkan. Paling tidak, gambaran-gambaran yang kudapatkan selama ini tentang biduk pernikahan dapat membuatku memutuskan di saat itu, menjadi bijak atau menunggu keadaan yang membuatmu bijak.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Awas! Ada Promosi Israel di SCTV

Belanja di Tel Aviv (LIputan6)
Rabu (30/10) pukul 17.20 tepatnya, mataku langsung tertuju pada berita di televisi mengenai Israel. Yang aku herankan, tidak biasanya acara Liputan 6 menyiarkan berita Israel, apalagi bernada promosi.

"Belanja di Tel Aviv" demikian judul reportasenya. Ketika kusimak lebih seksama, siaran itu berisi promosi agar berbelanja ke Tel Aviv dan jaminan keamanan berbelanja di sana.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tanah milik Israel adalah hasil jajahan yang telah direbut dari Palestina, termasuk Tel Aviv yang kini menjadi ibukota Israel. Hingga saat ini pun Israel masih menjajah Palestina.

Mengapa promosi Israel ini menjadi tayangan SCTV? Adakah agenda tersembunyi di baliknya? Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia harusnya mendukung atas kemerdekaan Palestina. Tapi yang tergambar oleh pemberitaan di Liputan 6 justru seakan membiaskan hal itu. Seolah tidak terjadi apapun antara Israel dengan Palestina yang higga kini masih berjuang mempertahankan tanah mereka.

Sebagai stasiun televisi yang baik harusnya SCTV, khususnya Liputan 6 memberitakan hal-hal yang tidak terkesan pro pada Israel yang merupakan representasi penjajahan di milenium ketiga. Sejalan dengan aspirasi umat Islam di Indonesia, akan lebih baik stasiun TV di negeri ini mendukung Palestina..

Selain itu, kepekaan masyarakat muslim di Indonesia atas kepeduliannya dengan nasib saudaranya seiman yang ada di Palestina bisa terlihat dari respon atas tayangan seperti ini. Jika masyarakat menyambut baik ajakan Liputan 6, ini pertanda propaganda tersebut berhasil. Semoga saja masyarakat kita masih kritis sehingga melayangkan protes ke KPI atas tayangan tersebut. Sebagaimana Februari lalu umat Islam memprotes keras Metro TV yang menayangkan program Inside bertajuk "Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia". [Gresia Divi]

Cuplikan video bisa dilihat di bawah ini, sedangkan video lengkap bisa dilihat di http://video.liputan6.com/main/read/22/1162183/0/liputan6-petang-30-10-2013-3-kelangkaan-buku-nikah-jendela-dunia-belanja-di-tel-aviv?wp.vido



Mengapa Anak-anak Lebih Mudah Menghafal dari Kita?

Anak membaca Qur'an (foto Isykarima.com)
“Itu karena anak-anak tidak memiliki tendensi apa-apa selain hanya ingin menghafal. Berbeda dengan kita yang masih tercampuri dengan harapan-harapan fatamorgana yang melenakan sekalipun niat kita menginginkan pahala.”

Kata-kata itu laksana beker yang otomatis mengingatkan saya ketika mengejar target-target hafalan. Seorang ustadzah di tempat saya mengajar yang anaknya ketika itu beliau titipkan di salah satu pondok tahfidz di Jawa Timur memutarkan video berkunjungnya di pondok tempat anaknya menuntut ilmu. Rasa haru langsung menyeruak ketika kami melihat betapa si anak yang dulu adalah anak yang paling pemalu dan rewel, kini sudah menghafal surat Al Fath, tiga pekan setelah ia khatam tilawah Al Qur’an.

Sang ibu sengaja membawanya ke tempat itu untuk memupuk kecintaan anaknya pada Al Qur’an selepas dari Taman Kanak-kanak, tidak langsung ke Sekolah Dasar seperti pada umumnya. Sang ibu yakin dengan ketercintaan si anak pada Al Qur’an dan Islam sebagai dasar, otomatis akan memudahkan si anak untuk mendalami ilmu-ilmu yang lain.

“Mungkin kita ini banyak dosa ya ustadzah sehingga tidak bisa sepertinya….”, kata-kata itu mengingatkan kita pada kisah Imam Syafi'i yang mengadukan hafalannya pada gurunya, Syaikh Waqi.

"Aku mengadukan buruknya hafalanku pada Syaikh Waqi'" kata Imam Syafi'I, "maka beliau berpesan agar aku menjauhi kemaksiatan".

“Anak-anak itu masih bersih hatinya, Us" lanjut sang ustazah menasehati kami, "Mereka menghafal bukan untuk apa-apa, mereka hanya ingin menghafal itu saja. Sedangkan kita, banyak tendensi yang kita gantungkan ketika menghafal. Mulai dari harapan mendapat pujian sampai mengharap pahala. Untuk yang terakhir tidak salah memang jika menghafal karena ingin mengharap pahala, tetapi tetap saja ada hal yang membuat kita belum berada pada derajat keikhlasan tertinggi. Sedangkan anak-anak, mereka menghafal murni karena kecintaan mereka pada Al Qur’an.”

Menghujam dan membuat kami kala itu serasa tertampar. Memang benar dan sungguh benar hal itu. Semua kami lakukan karena tendensi bermacam-macam bukan murni karena kecintaan kami pada Al Qur’an atau Islam karena tilawah pun masih butuh memaksa diri untuk melampaui sehari sejuz apalagi dengan menghafal.

Asraghfirullah… [Gresia Divi]

Anak Tidak Mau Makan Sayur dan Buah?

Ilustrasi anak tidak mau makan sayur (foto kolomjualbeli.com)
Banyak anak-anak usia PAUD yang tidak mau makan sayur dan buah. Agar bayi Anda nantinya tidak seperti mereka, ada tips yang terbukti jitu.

Tips agar anak doyan makan sayur dan buah ini saya dapatkan dari salah seorang wali murid di tempat saya mengajar. Ketika itu kami terbengong mendapati si anak dengan lahapnya memakan sayur brokoli yang hanya direbus tanpa diberi bumbu apa pun. Begitu juga di hari-hari berikutnya, bekal yang dibawakan oleh orang tua tidak layaknya bekal yang dibawa teman-temannya. Jika anak-anak lain membawa jajanan sebagai bekal, ia justru membawa buah atau sayur yang direbus begitu saja. Anak itu tidak pernah memilih-milih makanan seperti kebanyakan temannya. Ia pun sudah tidak lagi minum banyak susu dalam sehari karena kebutuhan vitamin dan mineralnya sudah ia dapatkan pada makanan yang ia konsumsi.

Kami pun kemudian “berguru” dari sang ibu. Ternyata, ketika si anak menginjak masa pemberian makanan pendamping ASI, sang ibu tidak memberikan pisang kerik atau bubur instan seperti yang diberikan para orang tua umumnya. Akan tetapi sang ibu mengenalkan ananda dengan rasa buah dan sayur yang sesungguhnya pada anak.

Seminggu pertama, ananda diberikan satu jenis buah yang sudah dihaluskan tanpa diberi tambahan rasa apa pun, hanya air secukupnya saja. Di minggu berikutnya, sang ibu memberikan jenis buah yang lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar anak mengenal betul rasa dari setiap buah yang diberikan sang ibu. Biasanya kita mendapatkan tips untuk mencampur bubur dengan buah atau beberapa buah, padahal hal ini justru akan membuat si anak tidak bisa mengenali rasa sesungguhnya dari buah atau sayur tersebut. Itulah yang membuat anak tidak menyukai buah dan sayur atau bahkan pilih-pilih makanan karena mereka tidak familiar dengan rasa itu sejak kecil. Selain itu, pemberian secara bergantian selama seminggu juga akan memudahkan orang tua untuk mendeteksi apakah anak alergi terhadap makanan tertentu.

Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa untuk anak-anak yang masih dalam masa pemberian makanan pendamping asi, sebaiknya tidak diperkenalkan dengan berbagai macam makanan yang bercampur-campur rasanya karena itu adalah masa emas bagi anak untuk mengenal setiap rasa sehingga ketika anak sudah disapih dan mulai dengan makanan biasa, ia tidak akan pilih-pilih makanan lagi karena mudah dalam mendeteksi rasa setiap makanan.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Mengapa Anakku Tak Peduli Saat Kupanggil?

Anak lari - foto uungferi.com
Apakah Anda pernah mendapati anak seusia 10-16 tahun (menginjak kelas 4-6 Sekolah Dasar) memiliki ‘cuek’ yang tinggi terhadap hal-hal di sekitarnya, seperti tak menoleh atau menyahut saat dipanggil, dimintai tolong, atau bahkan tak peduli ketika ada hal-hal di sekitarnya yang tak beres? Apakah anak itu yang seratus persen bersalah atau justru kita atau bahkan mungkin para orang tua sendiri yang telah melakukan ‘proses budekisasi’ (dalam bahasa Jawa budek berarti tuli)?

Seringkali orang-orang di sekitar anak menyepelekan hal-hal yang sebenarnya mendasar bagi mereka. Kita sering lupa bahwa mereka adalah imitate (peniru) yang handal terhadap hal-hal di sekitarnya. Ketika kita dalam kedaan payah sepulang kerja atau saat penat dengan bejibun aktivitas dan masalah, celoteh-celoteh ringan anak menjadi hal yang sambil lalu kita tanggapi. Bagaimana tidak, saat anak iseng menanyakan ini itu kepada orang dewasa, dengan ‘enteng’ kita jawab “ah ndak tahu lah”, “kapan-kapan saja ya jawabnya”, “jangan tanya terus”, “sudah diam”, dan berbagai kata-kata senada untuk membungkam celoteh si anak agar tak menambah lelah dan penat. Apakah Anda pernah melakukannya? Sepertinya masing-masing dari kita perlu mengoreksi diri karena hal-hal tersebut secara tidak sadar dapat membuat anak tumbuh menjadi anak yang terjangkit ‘proses budekisasi’ yang kita lakukan secara tidak sadar pada anak.

Seperti yang diungkap Dra. Sumarti Thohir dalam sebuah acara parenting, bahwa anak akan merasa percuma saja bertanya atau berbicara dengan orang dewasa, mereka juga tidak akan menjawab atau bahkan mereka akan berfikir bahwa diri mereka hanya pengganggu bagi orang dewasa. Sejak itu pun, anak tidak akan peduli pula dengan panggilan-panggilan yang datang padanya. Persis seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Lalu, jika sudah begini apakah salah si anak atau kah justru kita yang telah mendzoliminya?

Bagi hati-hati yang lembut dan masih putih itu, perhatian kecil untuk mereka merupakan suatu momen tersendiri yang akan menjadi pijakan mereka hingga dewasa kelak. Jika kita melihat anak yang baik atau pun buruk, itu pula lah gambaran kita, kita lah yang membuat mereka serupa itu. Jangan salahkan si anak, salah kan diri kita yang kurang siap dengan ilmu-ilmu untuk menumbuhkan mereka. Karena laksana mendidik anak seperti menanam pohon, anak-anak tumbuh sesuai kebutuhan dan pengalaman mereka.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS. Ibrahim : 24)

Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

Tips Agar Mereka Mematuhi Perkataanmu

Sebagai seorang pendidik, orang tua, bahkan public figure sangat penting sekali bagaimana mengolah kata untuk menyampaikan sesuatu hal agar didengar, diikuti, dan dilaksanakan. Bahkan untuk hal ini banyak orang yang sekolah khusus untuk melatih retorika dan public speaking mereka. Sama sekali tidak salah memang, bahkan itu lebih baik. Akan tetapi ada satu pelajaran berharga yang nampaknya belum pernah saya dapatkan pun saat kuliah public speaking semasa muda dulu.

Berawal dari keluh kesah teman-teman seperjuangan mengajar dan para orang tua dengan anak-anak yang tak juga mengikuti nasihat mereka. Padahal banyak dari mereka yang tak kurang-kurang pengalaman mengajarnya bertahun-tahun bahkan para orang tua yang gelar sarjananya bertumpuk-tumpuk pun mengeluhkan hal itu. Tak perlu banyak waktu untuk peka dengan situasi saat itu, seorang ustadzah senior menguraikan kata demi katanya yang hanya membuat kita semua manggut-manggut di ruang rapat saat itu: “Amalan-amalanmu yang tidak terlihat oleh manusia itulah yang membuat setiap perkataanmu didengar, diikuti, dan dipatuhi.”

Hening sejenak membuat kita saat itu menerawang, meraba-raba, mengingat kembali apakah shalat malam sudah ditunaikan dengan setulus rindu pada-Nya, apakah tilawah sudah dilantunkan sepenuh rasa, apakah infaq yang keluar sudah lebih didahulukan daripada pulsa, dan apakah semua amalan sudah setulus jiwa hanya untuk-Nya, bukan untuk perkataan orang bahwa kita shalih…

Allah-lah yang menguasai hati-hati manusia dan Allah lah pula yang akan membolak-balikkannya. Seberapa lihai pun kita berorasi, beretorika, berceramah, tak kan mampu menundukkan hati tanpa kehendak-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu".(HR.Muslim)

Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Resep Mengejar Target Tilawah

Seribu satu kiat memenej waktu agar tercapai target tilawah sering kita temui di buku-buku bahkan di situs-situs keislaman. Tapi nampaknya ada satu resep sederhana selain resep-resep andalan lainnya yang patut dicoba dan sudah teruji.

Berawal dari pertemuan dengan seorang ustadzah dalam suasana buka bersama sore itu, dengan mulut yang komat-kamit dan buku tipis kecil di tangannya. Berbeda dengan pegangan teman yang lainnya ; handphone atau pun mushaf Al Qur’an. Selidik punya selidik, setelah introgasi sana sini termasuk pada beliau secara langsung, itu merupakan salah satu kiat beliau untuk tetap konsisten pada target tilawah hariannya dan bukan hanya saat Ramadhan.

Ternyata, menurut beliau dengan menggunakan mushaf yang sudah terbagi-bagi menjadi per juz akan lebih memicu kita untuk menuntaskan target tilawah dalam sehari itu. Semisal, jika beliau mentargetkan khatam Al Qur’an tiga kali dalam sebulan, maka tiga buah buku mushaf per juz yang akan ia bawa ke mana-mana dan menjadi patokannya untuk sesegera mungkin menuntaskan segala amanah dan mencari-cari waktu senggang untuk menghabiskan ketiganya. Jika belum maka beliau tidak akan tidur terlebih dahulu.

Hal ini memang saya rasakan berbeda ketika sempat meminjam handphone teman yang terdapat mushaf digitalnya atau pun dengan menggunakan mushaf biasanya. Kita akan termindset bahwa banyak sekali lembar juz yang masih harus ditempuh yang secara psikologis sering kali pula membuat kita enggan melanjutkan melahap habis ayat demi ayat. Selain itu, sulit untuk mengukur capaian kita, naik turunnya semangat, dan tentu saja kurang praktis.

Nampaknya, hal sesepele ini perlu kita cermati dan praktikkan, termasuk saya yang selama ini menggunakan mushaf pada umumnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga ada trik tersendiri bagi setiap orang untuk menuntaskan target tilawahnya. Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

Resep Sabar di Bulan Ramadhan

Kalau kita dengar kata ‘resep’ tentu yang ada di pikiran kita adalah makanan, apalagi di bulan Ramadhan. Tapi kali ini resep yang akan saya sajikan adalah resep sabar di bulan Ramadhan. Rugi kan rasanya kalau bulan yang memiliki banyak bonus ini kita lalui dengan kemarahan-kemarahan baik besar atau pun kecil yang seringkali juga kita lakukan di bulan-bulan lainnya. Nah, resep sabar kali ini adalah resep sabar ala chef ternama di ranah politik beberapa tahun silam. Beliau adalah almarhumah Yoyoh Yusroh yang beberapa tahun silam telah berpulang ke Rahmatullah.

Dalam salah satu buku yang disusun oleh Tim GIP, tertuang resep beliau untuk menanggulangi sabar dalam segala situasi. Resep itu muncul dari nasihat salah satu ustadz yaitu ustadz Abu Ridho, “Apabila mau marah kepada anak, lebih baik marah kepada Yahudi saja. Apabila dihadapkan dalam banyak masalah keluarga, dan lain-lain, ketahui dan sadari, bahwa ada masalah yang jauh lebih besar yaitu Yahudi”.

Ketika di satu titik beliau ingin sekali marah entah karena urusan keluarga, pekerjaan, atau yang lainnya, beliau selalu mengingat bahwa masih banyak hal yang layak kita beri kemarahan kita. Contohnya saja kaum muslimin di belahan Barat, banyak sekali yang sedang mengalami nasib yang sangat tragis. Agama kita diijnjak-injak di sana. Saudara-saudara kita sesama muslim pun banyak sekali yang didzolimi dengan sangat. Pengetahuan tentang berita-berita terbaru seputar Islam baik di dalam negeri maupun di luar negeri itu lah yang membuat beliau berpikir seribu kali jika ingin meluapkan kemarahan pada masalah-masalah yang sebenarnya bisa dibuat simple. Tidak usahlah kita buang-buang energi hanya untuk marah-marah apalagi marah yang tidak jelas yang hanya akan menambah beban dosa kita. Alangkah baiknya jika marah itu untuk orang-orang kafir yang mendzolimi saudara-saudara kita seiman di belahan bumi mana pun. Hal itu jauh lebih berpahala.

Satu hal lagi, resep yang tak kalah jitu adalah resep dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada banyak sekali hadits dan ayat Al Qur’an yang menganjurkan kita untuk tidak marah. Salah satunya ini mungkin bisa membuat kita untuk tidak marah karena ada bingkisan yang indah dari Allah bagi orang-orang yang menahan amarahnya.

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” Hasan, HR.Ahmad (III/440), Abu Dawud (no.4777), at-Tirmdzi (no.2021), dan Ibnu Majah (no.4286) dari Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir (no.6522)

Setidaknya, jika masalah-masalah saudara-saudara kita seiman yang terdzolimi di belahan bumi yang lain dan iming-iming yang diberikan Allah tidak sanggup meredam amarah kita, betapa meruginya kita. Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Awal Ramadhan Kita Berbeda

Bersumber dari Pak Cahyadi Takariawan dalam sebuah forum, penentuan awal Ramadhan biasa dikenal menggunakan metode ru’yatul hilal dan metode hisab. Untuk mengetahui apakah tanggal 1 Ramadhan 1434 = 9 Juli 2013, kita harus melihat keadaan atau posisi bulan dan matahari menjelang Maghrib 8 Juli 2013.

Dari hasil tayangan Software Stellarium, hilal sudah wujud namun akan mustahil tampak di nusantara, sebab posisi hilal sangat dekat dengan matahari yang jauh lebih terang daripada bulan sabitnya.

Dari lampiran hisab Moonsighting, dapat diketahui bahwa pada 8 Juli 2013 daerah yang mungkin tampak hilal adalah Amerika Selatan. Sedangkan pada saat itu di nusantara sudah melampaui waktu Isya’. Artinya untuk Amerika Selatan tanggal 1 Ramadhan = 9 Juli namun mulai dari Fiji dan Australia, 1 Ramadhan = 10 Juli, berdasarkan metode ru’yatul hilal.

Kesimpulannya, pertama, bagi yang memilih 1 Ramadhan = 9 Juli, memulai puasa pada saat bulan belum tampak di Indonesia. Kriteria yang digunakan adalah “wujudul hilal”, yaitu hilal wujud namun tidak tampak. Ini yang digunakan dasarnya oleh Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal.

Kesimpulan kedua, bagi yang memilih 1 Ramadhan = 10 Juli, memulai puasa setelah bulan sabit pertama benar-benar bisa dilihat. Ini yang menjadi landasan NU dengan ru’yatul hilal.

Kesimpulan ketiga, perbedaan ini adalah persoalan ijtihadiyah. Hendaklah semua pihak bisa bertoleransi atas perbedaan yang ada dan tidak melunturkan semangat kita menyambut bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Mengapa Harus Kaya?

Kawan, coba kalian jawab apakah kalian setuju dengan 10 pernyataan berikut ini.

- Uang adalah akar dari segala kejahatan
- Uang bukan segalanya
- Uang tidak bisa membeli cinta
- Uang tidak menyelesaikan masalah
- Easy come easy go
- Orang harus pelit baru bisa jadi kaya
- Orang mati tidak membawa uang, maka tidak perlu cari banyak uang
- Orang kaya seringkali hidupnya tidak bahagia
- Orang yang uangnya banyak kurang spiritual
- Orang kaya dekat kesombongan

Setelah menjawab, apakah masih ingin menjadi kaya?

Pada suatu kesempatan, saya dipertemukan dengan Pak Rusli. Dari pertemuan dengan pengusaha sukses asal Gresik itu, saya semakin mantap untuk berusaha menjadi muslimah kaya.

Seperti yang dipaparkan beliau, ada beberapa hal mengapa sebaiknya orang Islam itu kaya. Pertama, harta merupakan tulang punggung kehidupan. Bagaimana tidak, terlepas dari faktor bahwa semua rezeki kita adalah anugerah Allah, sejak mulai bangun sampai tidur lagi kita selalu berhubungan dengan uang. Semisal, ketika bangun pagi kita harus bersih diri mulai dari mandi, pakai baju, sampai dandan. Tentu saja setiap hal itu memerlukan materi, memerlukan uang untuk memperolehnya terutama di daerah perkotaan yang air saja harus membayar. Belum lagi saat kita sarapan, berangkat kerja atau sekolah dan bejibun aktivitas lainnya tidak lepas dari kebutuhan duniawi kita yaitu uang. Nah, dari sini mungkin banyak yang mengiyakan tapi juga banyak yang masih kontra dengan hal ini.

Kedua, uang bukanlah indikator keshalihan/keburukan, tetapi sikap terhadap uang menunjukkan kualitas keshalihan seseorang. Ada sahabat Nabi yang kaya, ada pula yang tidak banyak uang. Tetapi, dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, mayoritas adalah orang-orang kaya. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa seringkali uang membuat seseorang menjadi kalap dan khilaf melakukan hal-hal yang dilarang oleh norma-norma agama untuk memenuhi kebutuhan di balik himpitan biaya yang memaksa mereka untuk melakukannya, hingga ada maqolah: "kaadal faqru an yakuuna kufran" (hampir-hampir saja, kefakiran menjerumuskan ke dalam kekafiran). Uang menjadi alasan sekian banyak orang untuk melakukan kejahatan (mencuri, dan sebagainya) dan menganiaya dirinya sendiri (menjual diri, dan sebagainya). Sebaliknya, betapa banyak pula orang seperti Qarun yang menjadi sombong, gemar bermaksiat dan jauh dari Allah setelah memiliki banyak uang. Berbeda dengan orang yang kokoh imannya, saat bertambah uangnya, bertambah pula syukurnya.

Ketiga, banyak perintah syariah yang pelaksanaannya memerlukan uang. Contoh yang paling mudah adalah tentang haji. Ibadah satu ini jelas, tidak mungkin tidak, pasti memerlukan uang dan tidak sedikit. Walau memang ada banyak kisah tentang seseorang yang naik haji mendadak karena memang sudah jalannya Allah mengatur mudah tanpa biaya. Belum lagi ibadah lainnya seperti zakat, infaq, shodaqoh yang salah satu bentuknya adalah uang. Selain itu, permisalan seperti “jika cukup hanya dengan shodaqoh senyum, apa iya jika masjid roboh kita hanya shodaqoh senyum terus selesai begitu saja?” Tentu kita butuh uang juga untuk hal itu.

Hal yang keempat, harta itu adalah hal-hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Tidak menafikan bahwa seseorang memang akan lebih dihormati ketika memiliki kedudukan terutama dalam strata sosial. Akan lebih mudah pula bagi seorang juru dakwah jika ia dihormati dan disegani, walaupun memang bukan hanya karena kedudukan yang dapat membuat seseorang dihormati dan disegani akan tetapi hal itu merupakan keniscayaan dalam masyarakat. Apalagi jika sudah membahas mengenai kekuasaan. Banyak orang yang sangat memandang buruk akan kekuasaan. Padahal di sisi lain jika kita tilik lagi, dengan kekuasaan logikanya seseorang itu akan dengan mudah melakukan berbagai kebijakan dalam pengambilan keputusan. Coba dibayangkan manakala penguasa itu seorang yang zholim, dengan mudah ia akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Begitu juga sebaliknya jika penguasa tersebut seorang yang adil, maka banyak kebijakan yang menguntungkan masyarakat.

Hal terakhir, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang bisa bahagia di dunia. Dalam hal ini perlu digarisbawahi kata ‘salah satu’, harta adalah salah satu sebab seseorang bahagia hidup di dunia. Hal ini juga tak dapat dipungkiri dan impian semua orang jika mendapatkan kebahagiaan di dunia juga di akhirat dan hal yang perlu diingat juga bahwa :

:لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d : 11)

Nah kawan, sekarang sepakat kan jika memang sebaiknya kita kaya, tentu tidak ada orang yang tidak mau. Untuk itu perlu ada usaha untuk menjadi kaya. Bukan hanya kerja keras tapi kerja cerdas. Bukan hanya mau tapi melakukan sesuatu. Untuk langkah-langkah selanjutnya menjadi kaya (masih dari nara sumber yang sama) akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam bisshowab. [Gresia Divi]
 

suara islam Powered by Blogger