Tampilkan postingan dengan label Ukhtu Emil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukhtu Emil. Tampilkan semua postingan

Empat Prinsip Pembelajaran Nabi Khidir

Nabi Khidir - ilustrasi dari cover buku Rahasia Marifat Nabi Khidir as
Sudah menjadi hal biasa jika kita temukan jumlah siswa di sebuah lembaga pendidikan, terutama pesantren, yang di tahun ajaran baru jumlahnya banyak kemudian berkurang sedikit demi sedikit.

"Seleksi alam," kata ustadzah saya di ma'had dulu. Beliau menyebut santri yang keluar dari ma'had dengan alasan tidak kerasan dan tidak kuat dengan materi sebagai bagian dari "seleksi alam". Siapa yang tidak sabar, yang tidak kuat berada dalam ma'had dengan sendirinya akan terseleksi oleh alam.

Saya lantas mencermati kata "seleksi alam" tersebut dan mencoba menghubungkan dengan empat prinsip pembelajaran Nabi Khidir yang dijelaskan dalam buku Prophetic Learning karya Agus Dwi Budianto, yaitu :

Yang pertama adalah setiap kali akan belajar ciptakan kemauan yang kuat. Kita menyebutnya sebagai “azzam”. Yakni kemauan yang kuat yang tertanam dalam diri. Setiap manusia adalah pembelajar sejati. Dari bayi kita dilahirkan kita belajar bergerak, belajar mendengar, kemudian belajar memegang sampai ketika kita menjelang sakaratul maut. Semuanya adalah sebuah proses pembelajaran.

Sebagai seorang pembelajar hendaknya kita senantiasa menghadirkan azam dalam diri kita. Mengapa? Karena sesungguhnya jiwa kita akan mudah trombang ambing. Ketika sedikit saja godaan datang kita langsung goyah.

Mari kita menengok Nabi Musa. Beliau punya kemauan yang kuat dalam mencari ilmu bersama Nabi Khidir.

Yang kedua adalah bersikap gigih dalam belajar. Marilah kita lihat Nabi Musa kembali, beliau punya keinginan kuat untuk bertemu Nabi Khidir. Seorang yang dikabarkan lebih pandai daripada beliau. Padahal beliau sendiri seorang Nabi.

Sedangkan kita? Kita pada era sekarang dengan berbagai fasilitas dan kecanggihan teknologi terkadang masih bermalas-malasan. Adanya fasilitas tersebut malah membuat kita cengeng dan mengalami ketergantungan pada keadaan. Sebut saja ketika laptop kita rusak, seketika mood kita untuk belajar langsung hilang.

Seorang pembelajar sejati adalah seorang yang ulet dan gigih dalam belajar. Walau halangan rintangan membentang tak jadi beban masalah tak jadi beban pikiran.

Saudaraku, sebuah prestasi tak akan diperoleh hanya dengan berpangku tangan. Kita ingat Thomas Alva Eddison kan? Ia berhasil menemukan bohlam pada percobaan yang keseribu.

Yang ketiga adalah melipat gandakan kesabaran. Di balik kesabaran ada ketulusan, ada keikhlasan dan ketegaran yang akan mengantarkan kita kepada pintu gerbang kesuksesan.

Sabar ini yang menjadi prasyarat utama Nabi Khidir kepada Nabi Musa ketika ia hendak berguru padanya. Ternyata Nabi Musa tidak terlalu memililki banyak kesabaran sehingga beliau gagal memenuhi prasyarat Nabi Khidir.

Perlu kita garis bawahi banwa ketika kita sabar berarti kita harus mau menerima semua ujian yang ada selama proses pembelajaran dengan hati yang legowo. Segala tantangan yang ada harus kita hadapi dengan kesabaran. Bukan dengan beputus asa. Seperti bersabar atas sarana dan fasilitas, bersabar atas materi pembelajaran yang sedang dipelajari, dan bersabar terhadap guru. Termasuk di dalamnya bersabar dalam memperoleh jawaban atas keingin tahuan.

Yang terakhir adalah mengasah tiada henti. Seorang pembelajar sejati tidak akan pernah puas dengan ilmu yang diperolehnya. Sekali lagi mari kita tengok Nabi Musa. Beliau tidak merasa puas dengan predikat kenabiannya. Sehingga ketika kaumnya mengatakan ada orang yang lebih pandai dari beliau yakni Nabi Khidir, beliau langsung minta petunjuk Allah dan bergegas untuk berguru kepadanya.

Saudaraku, adanya rasa puas itulah yang menjadikan kita malas dan akhirnya berhenti untuk belajar. Kita merasa sudah tahu banyak sehingga kita malas belajar. Pernah tidak kita pada saat kita belajar atau seminar, guru atau pemateri menyampaikan materi yang sudah pernah kita pelajari? Kemudian kita mengatakan "itu kan sudah pernah disampaikan guruku" atau gini "itukan sudah aku pelajari beberapa waktu yang lalu".

Saudaraku, mungkin bisa jadi materi yang disampaikan sama, tetapi apakah kita sudah yakin betul-betul menguasaianya? Bisa jadi materi tersebut menjadi pelengkap atas pengetahuan kita dan bisa menjadi pengingat kita terhadap materi tersebut.

Saudaraku, seorang pembelajar sejati tak mengenal rasa puas, sehingga kita akan terus mengasah diri kita dengan ilmu pengetahuan. Sehingga dari situlah akan terjadi revolusi dan discoveri dalam ilmu pengetahuan.

Mari kita ingat baik-baik nasehat Imam Ghozali, "Siapa yang merasa sudah tahu, niscaya ia akan segera bodoh."

Jadi bukan perkara “seleksi alam”, tetapi kurangnya tekad, azam, serta kesabaran yang menyebabkan jiwa seseoarang terombang-ambing dalam belajar.

Semoga bermanfaat... Waallahu a'lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]


Catatanku tentang Ibu

Kasih ibu - ilustrasi
“Nyai Yah masih inget, dulu nyai berjalan sekian kilo hanya untuk mendapatkan beras” kata Nyai Yah saat kami silaturrahmi ke tempat beliau.

“Sekarang Nyai seneng lihat anak-anak sudah besar dan jadi guru semua” Nyai Yah menambahkan. Ada rasa haru dan pedih saat mendengar perkataan Nyai Yah. Cerita mengenai seorang ibu yang berjuang demi kesuksesan anak-anaknya. Cerita yang mengingatkan saya pada hari-hari saya bersama ibu.

Dulu keluarga kami tak seperti sekarang. Ayah dan ibu hanya seorang petani sekaligus usaha sarung kecil-kecilan. Kami hidup 3S (sangat sederhana sekali). Kala musim kemarau datang, kami kesulitan mencari air sehingga hampir tiap malam ibu mengajak saya menimba air di sumur samping masjid sebelah. Itupun kalau saya sedang tidak malas. Biasanya kalau saya sedang malas ibu menimba sendirian. Dan mengangkat berjerigen-jerigen air dari masjid ke rumah yang jaraknya sekitar 200 meter.

Karena pekerjaan yang cukup berat, ibu jadi sering sakit. Dari mulai mag, typus sampai paru-paru yang awalnya kami kira itu hanya batuk biasa. Sehingga hari-hari kami lalu dengan ibu yang sering terbaring sakit. Saya dan kakak jadi sering makan mie instant karena ayah juga tak pandai masak.

“Ya Allah, beri ibuku kesembuhan hingga ibu bisa hidup sampai aku SMP” doa saya di samping ibu yang terbaring lemah di tempat tidur dengan suara batuk yang membuat sesak dada saya. Saya yang waktu itu duduk di kelas 4 SD itupun tak mengerti apa-apa. Saya hanya sering melihat ibu sakit-sakitan. Terbaring lemah ditempat tidur. Selain itu saya juga sering mimpi kalau ibu akan pergi mendahului kami.

“Ibu... ibu jangan pergi” teriak saya dalam mimpi. Biasanya setelah itu saya langsung ke kamar ibu untuk memastikan beliau masih bernafas.

Seiring berjalannya waktu, perlahan ibu mulai jarang sakit. Seingat saya terakhir ibu sakit parah setelah ibu melahirkan adik. Saya sangat senang sekali. Namun saya terlena dengan kesehatan ibu. Saya jadi sering main, bandel dan tak bisa membahagiakan beliau.

Tahun 2008 setelah lulus SMA saya memutuskan untuk kuliah di Jawah Tengah. Berat ibu melepaskan saya setelah 3 tahun kami berpisah karena beliau meminta saya untuk mondok. Beliau lantas menyuruh saya untuk ikut SMPB lagi di Surabaya. Tapi saya tetap bersikukuh dan tetap berangkat walau ibu masih berat untuk melepaskan saya.

“Nur, kamu tahu ga? Hampir tiap hari ibumu menangisimu” kata Fita sahabat karib saya yang saat itu bekerja di rumah saya.

“Apa?” Saya terperanjat. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Fita. “Fit? Kamu yang benar?” tanya saya sekali lagi disambut anggukan Fita. Air mata saya mulai berjatuhan. Bayangan ibu menangis kembali menyeruak dalam hati saya, mencabik-cabik hati yang dulu diliputi keegoisan karena tak pernah memikirkan perasaan ibu.

Dengan segenap penyesalan ingin rasanya saya berhenti kuliah dan menemani ibu di rumah. Tapi aah... semuanya sudah terlanjur. Saya harus menyelesaikan studi saya dan harus membuktikan pada ibu kalau saya bisa mewujudkan mimpi saya.

Sungguh saya tak pernah tahu bahwah ibu begitu menyayangi saya. Di depan saya beliau kelihatan tegar, walau beliau sendiri rapuh. Kadang saya malah lebih sering ngambek karena sering dibanding-bandingkan dengan saudara. Dan memang ketika di rumah saya lebih sering berbuat onar dan bandel. Saya sengaja seperti itu supaya ibu tega untuk melepas saya ketika saya berangkat.Tapi itulah ibu, kasih sayangnya tak pernah putus walau “senakal” apapun saya di mata beliau.

Setiap saya berangkat ke pondok, setiap saya mau balik untuk melanjutkan studi saya yang belum selesai, kue buatan ibu, masakan ibu, bahkan hadiah dari ibu selalu mengisi tas ransel saya. Bahkan tak jarang ibu memberi saya uang saku tambahan.

Kecup kening ibu yang begitu hangat, doa-doa ibu dalam setiap sujud panjangnya. Aaah ibu… sungguh engkau wanita yang luar biasa. Doa-doamu diijabah olehnya. Ridhomu adalah ridho-NYA.

Saya masih ingat kata-kata beliau waktu saya bersikukuh untuk tinggal di tanah rantau. “Nak, dimanapun kamu hidup asal ibu ridho hidupmu akan berkah”. Dan ternyata itu benar. Engaku ridho kepada saya, meski berat rasanya untuk berpisah dengan “keluarga baru saya” di sana. karena ridhomu semuanya dipermudah oleh-Nya.

Ibu… beliau segalanya bagi saya. Saya tak menyangka dengan doa waktu kecil saya. Saya tak percaya dengan mimpi-mimpi saya yang selalu membuat saya gelisah dan murung. Karena saya tahu kasih sayang beliau yang begitu tulus mengisi setiap ruas sendi saya yang kini mulai rapuh.

Setiap kali saya pulang, memijit-mijit tangan beliau. Saya merasakan tangan beliau kian hari kian kusut. Tubuh itu tak sekokoh dulu. Wajah itu tak sesegar dulu. Namun kasih sayang dan cintanya tetap berdiri anggun dalam rengkuhan cinta-Nya.

Aku mencintamu dengan setulus hatiku, aku menyanyangimu dengan segenap jiwa ragaku. Meski itu tak bisa membayar semua pengorbananmu wahai ibuku... [Ukhtu Emil]

Kitalah Teladan Mereka

Siswi muslimah (ilustrasi dari Sindikasi)
“Ustadzah itu begini dan begitu...” kata itu tertulis pada sebuah kertas yang ditaruh di atas tempat tidur teman saya.

Sesaat setelah membaca tulisan itu, teman saya terduduk lemas. Tangannya gemetar. Air mata mulai menetes mengalir di sela-sela pipinya. Tak disangka, di mata anak-anak ia seperti itu. Ia kemudian menenangkan diri. Diambilnya air wudlu lalu melaksanakan shalat. Kebetulan waktu itu adzan berkumandang.

Setelah sholat ia hanya diam di kamarnya. Tak beranjak walau hanya untuk menengok santri-santrinya. Entah takut atau kalut masih menyelimuti hatinya. Setelah agak sedikit tenang dibacanya kembali surat kaleng itu. Ada satu kata yang begitu menancap di hatinya: “Ustadzah itu nyuruh kami melakukan ini dan itu, tapi ustadzah sendiri gak mau melakukannya!”

Kalimat itu seolah terucap berapi-api. Mencabik-cabik hatinya. Teringat kembali akan surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ini hanyalah cerita singkat mengenai ekspresi seorang santri terhadap ustadzahnya. Ada banyak hal yang disampaikannya. Tapi dari surat itu saya mengambil kesimpulan, bahwa dalam benak santri tersebut ada pertanyaan yang selalu mengeglayuti hatinya, “Mengapa ustadzahku menyuruhku ini dan itu sedangkan beliau sendiri tidak melaksanakannya? Mengapa beliau membuat peraturan ini dan itu sedang beliau tidak mau melaksanakannya?”

Mungkin bagi anak-anak, terutama siswa SMP, hal ini terkesan tidak adil. Dan ini adalah sebuah tanda tanya besar, bagaimana anak-anak bisa mengerjakan kebaikan kalau kita sendiri tak mau melakukannya? Bagaimana anak-anak mau menuruti perintah kita kalau kita sendiri tidak mau mengerjakannya?

Saudaraku... Tentu ini sangat berkebalikan dengan metode mendidik Rasulullah. Dalam sabdanya yang driwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang mengatakan pada anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu’ namun dia tidak memberi, maka itu ada adalah sebuah kedustaan”.

Meski hal ini terkesan remeh, secara tidak langsung kita telah mengajarinya berbohong. Kita telah memberi iming-iming palsu sehingga timbullah kekecewaan yang akan membekas dalam ingatan anak tersebut. Yang suatu saat anak itu akan menirunya dengan mengatakan begini, “Aah dulu ibu pernah menjanjikan saya hadiah. Tapi ternyata bohong. Sekarang kalau aku bohong gak apa-apa kan? Kan ibu dulu juga pernah bohong”. Atau misalkan begini “Aah ustadzah saja pernah telat shalat. Jadi kalau kita telat sesekali juga ga apa-apa kan?”

Dalam buku Prophetic Parenting karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafiz dijelaskan bahwa seorang anak akan selalu memperhatikan dan meneladani prilaku orang dewasa. Baik itu orang tuanya, saudaranya atau gurunya. Apabila mereka melihatnya berprilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian seterusnya.

Orang dewasa (khususnya kedua orang tua dan guru) selalu dituntut menjadi suri teladan yang baik. Karena seorang anak yang berada di masa pertumbuhan selalu memperhatikan sikap dan ucapan orang tuanya. Dia juga bertanya sebab mereka berlaku demikian.

Selain itu dalam buku 100 Cara agar Anak Bahagia, Dr. Timothy menjelaskan bahwa anak-anak belajar dengan mengamati. Mereka memperhatikan dan menirukan tingkah laku kita. Untuk itu kita harus menjadi teladan yang baik bagi mereka. Apabila kita ingin kata-kata kita didengar oleh mereka.

Oleh karenanya, kalau dulu kita mengatkan “Lakukan sesuai kataku, bukan seperti perbuatanku” maka mari kita buang jauh-jauh kata-kata itu. Karena perbuatan jauh lebih menancap dari perkataan. Anak didik kita akan cenderung meniru perbuatan kita daripada apa yang kita katakan. Sehingga dari situ kita dapat berkaca “Sepeti apakah diri kita?”. Karena anak kita atau anak didik kita adalah cerminan diri kita.

Semoga ini menjadi bahan evaluasi bagi kita...

Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Ketika Ta'aruf yang Kesembilan Gagal Lagi

Ilustrasi akhwat sedih
“Benarkah yang kedelapan kali?” Tanya saya pada teman kakak yang mengaku gagal ta’aruf berkali-kali.
“Iya, Dek. Dan ini yang kesembilan kali,” wajah kakak itu bertambah lesu.
“Ya Allah kak…”
“Iya, padahal tinggal seminggu lagi khitbah. Tapi ternyata gagal lagi, Dek” kalimat ini membuat saya semakin penasaran apa penyebab dari gagalnya ta’aruf beliau.
“Sabar ya kak. Namanya juga belum jodoh”
“Ya iya. Kalau jodoh pasti bakal jadi.. hehe” kakak itu mencoba tersenyum.
“Hmm… Kalau saya boleh tahu, emang penyebab gagalnya apa Kak?” Tanya saya hati-hati agar tidak sampai menyinggung perasaan beliau.
“Banyak Dek… Tapi ya rata-rata karena kakak ini hanya lulusan SMK”
“Apa? Masak segitunya kak?”
“Iya. Tapi kebanyakan orang tuanya yang gak setuju. Kalau akhwatnya sih biasa-biasa saja atau tidak mempermasalahkan. Tapi ada juga yang menolak mentah-mentah”
“Dan ini sudah yang kesembilan kali gagal. Dari akhwat yang satu daerah sampai yang luar kota bahkan luar pulau, semuanya gagal”
“Ouwh” kata saya. Bulet. Perasaan saya tidak karuan. Sedih bercampur kasihan. Kesel juga dengan dengan akhwat atau orang tua yang menetapkan banyak kriteria pada calon menantunya tersebut.

Saya jadi ingat kerita dari ummi saya beberapa tahun silam. Saat masih kuliah dulu ummi menetapkan banyak kriteria pada calon suaminya. Diantaranya harus cerdas, pinter, pendidikannya minimal S2 dan lain-lain. Beliau lantas cerita pada mbak kosnya dan mendapat nasehat seperti ini, “Eh Din, kamu berani menetapkan banyak kriteria seperti ini? Apa kamu bisa menjamin dengan kecerdasannya, kepandaiannya, dan S2nya ini bisa menjadikan kamu bahagia? Din... yang kamu hadapi setiap hari itu akhlaknya. Bukan kepandainya apalagi S2nya”.

Sejak saat itu beliau lalu mengubah kriteria calon pendamping beliau. Sampai akhirnya beliau menikah dengan ustadz yang waktu itu hanya lulusan SMA. Meskipun setelah itu ustadz melanjutkan ke sebuah universitas di Jawa Tengah.

Kata beliau awalnya memang berat. Tapi semua itu beliau jalani dengan ikhlas hingga ustadz sekarang banyak dikenal di kalangan masyarakat. Banyak mengisi kajian di mana-mana. Diminta mengurusi sebuah yayasan rumah tahfidz, diberi fasilitas rumah dan kemudahan-kemudahan lainnya.

Lha kalau sepeti ini apakah tingkat pendidikan bisa menjamin kesuksesan dan kebahagiaan seseorang? Nggak kan? Banyak kok orang pendidikannya tidak sampai perguruan tinggi namun bisa sukses dan hidupnya diberi keberkahan lantaran kemuliaan akhlaknya.

Ya memang sebagai orang tua terkadang khawatir dengan masa depan anaknya. Apa lagi kalau itu anak perempuan satu-satunya. Anak orang berada pula, yang tak ingin anaknya hidup susah. Tapi apakah dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi bisa menjamin kebahagiaan anaknya? Hayoo jaman sekarang gitu lho, banyak juga kok yang S2, S3 bahkan sudah professor tapi hidupnya tidak benar atau malah jadi koruptor.

Akhwati… tingkat pendidikan bukan penentu kesuksesan dan kebahagian seseorang. Yang penting akhlak dan ibadahnya bagus. Kalau kata ustadz saya, yang penting sholat lima waktunya sudah bagus itu sudah nikmat dunia akhirat. Kenapa? Kalau orang yang akhlaknya bagus itu mesti bertanggung jawab, dia mesti akan berusaha dan nggak akan menelantarkan keluarganya. Masa depan kita hanya Allah yang tahu. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin selanjutnya kita pasrahkan semua sama Allah.

Oleh karenanya, mari kita luruskan kembali niat kita untuk menikah. Apakah benar-benar hanya karena Allah ataukah ada misi lain yang menyelinap di hati kita. Kalau memang benar-benar hanya karena Allah semua itu tidak akan menjadi penghalang. Mau dia lulusan S1 ataupun hanya lulusan SD sekalipun tak jadi masalah. Mau dia direktur atau hanya seorang kondektur tidak akan menghalagi kita untuk tetap melangkah. Karena yang menjadi prioritas kita adalah kemuliaan akhlaknya dan kebagusan ibadahnya yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Perkara orang tua itu bisa dilobi atau bisa diberi kefahaman. Tentunya dengan cara yang hati-hati agar tidak malah menyinggung perasaan beliau atau malah menjadikan masalah baru.

Wallahu a’lam bish-showab. [Ukhtu Emil]

Mengaku Akhwat, Tapi Mengundang Syahwat

Koleksi parfum menggoda - ilustrasi
“Mengaku Akhwat, Mengundang Syahwat”, itulah sebuah judul yang ditulis pada artikel anak-anak dalam rangka tugas Bahasa Indonesianya. Dalam tugas tersebut mereka mewawancarai dua orang guru yang berbeda pendapat. Satu dari ibu guru sedang yang satu dari bapak guru.

Kurang lebihnya seperti ini,
“Bu Guru, bagaimana pendapat anda mengenai pakaian yang sesuai syariat Islam?”
“Cara berpakaian yang sesuai syariat Islam adalah memakai kerudung minimal menutup dada, meskipun tidak terlalu lebar” jawab Bu Guru
“Percuma dong, kalau jilbabnya besar tapi hatinya tidak sesuai kehendak hati, ya sama saja tindakan yang dilakukan sia-sia?” imbuhnya.

Kemudian merekapun memberi pertanyaan lagi,
“Bu Guru, bagaiamana menurut anda akhwat yang memakai parfum?”
“Saya nggak setuju kalau akhwat dilarang memekai parfum”
“Alasannya?”
“Minyak wangi itu bisa membangunkan syahwat. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menggunakannya. Kita boleh menggunakannya asalkan tidak sampai tercium orang lain”

Lain lagi dengan jawaban dari bapak guru yang satu ini,
“Cara berkerudung akhwat yang benar menurut syariat islam yakni menutup dari ujung rambut sampai setengah lengan. itu minimal”

Kemudian beliau memperkuat jawabannya dengan dasar surat An-Nur ayat 31 yang di dalamnya kita diperintahkan untuk menjulurkan jilbab sampai menutup dada.

Kemudian anak-anak menanyakan kepada beliau mengenai jahitan punggul yang membentuk lekak-lekuk tubuh. Menurut beliau hukum jahitan punggul pada baju tidak boleh. Karena baju yang menggunakan jahitan punggul “sekengan” biasanya membentuk tubuh (yang gendut ya kelihatan gendutnya, sedangkan yang kurus yang keliahatan kurusnya).

Sedangkan mengenai hukum memakai minyak wangi beliau berpendapat bahwa memakai minyak wangi bagi laki-laki adalah halal. Sedangkan bagi perempuan sebenarnya boleh tapi harus tahu tempat. Minyak wangi dikatakan haram jika dipakai diluar rumah, karena bisa mengundang syahwat dan menimbulkan fitnah.

Akwati fillah... Itulah sedikit gambaran mengenai dua perbedaan pendapat mengenai pakaian oleh bapak ibu guru di sebuah sekolah. Yang satu mengatakan bahwa dengan menutup dada saja sudah cukup, sedang yang satu sebaiknya sampai pada lengan atau siku.

Yang berpedapat pakaian yang sesuai syariat hanya sebatas menutup buah dada alasanya “Buat apa berjilbab besar kalau hatinya tidak ikhlas?” Mungkin kalau saya boleh membantah dengan judul anak-anak di atas, buat apa berjilbab tapi kalau masih mengundang syahwat? Buat apa pakai busana muslimah, kalau masih menunjukkan lekak-lekuk tubuh sehingga mengundang syahwat kaum Adam?. Bukankah begitu?

Terkadang awal untuk melakukan kebaikan perlu adanya paksaan. Perlu adanya proses, perlu adanya pembiasaan. Bukankah dipaksa untuk melakukan kebaikan yang membawa manfaat itu lebih baik dari pada terus membiarkan diri dalam kemaksiatan? Perkara itu diterima Allah atau tidak, itu urusan Allah. Ingat, ikhlas itu bisa dilatih sis...

Lain lagi dengan pendapat bapak guru di atas. Menurut beliau sebaiknya seorang wanita mengenakan kerudung sampai pada lengan atau siku. Hal ini untuk menghindari terlihatnya lekak-lekuk tubuh. Karena sesuai yang telah dijelaskan (baik dalam al-quran maupun hadits) syarat pakaian muslim adalah tidak nerawang, tidak menunjukkan leka-lekuk tubuh, tidak mencolok dan tidak memakai wangi-wangian yang berlebihan sehingga dapat mengundang syahwat kaum Adam.

Akhwati fillah... Berpakaian, bukan masalah modis, bukan masalah ga sesuai zaman, tapi kembali pada fungsi dan tujuan kita memakai pakaian itu sendiri. Tak apa pakai jilbab dengan model yang dibilang “jadul” atau model mirip “bu haji” (sehingga pas kita lewat skita sering dipanggil “bu haji” hehe ) yang penting sesuai syariat, tidak melanggar aturan syariat dan yang jelas sesuai dengan fuungsi pakaian itu sendiri menutup aurat agar terhindar dari pandangan syahwat kaum Adam...

Percuma kita mengikuti trend mode zaman sekarang, dengan berbagai model jilbab tapi masih menunjukkan lekak-lekuk tubuh, masih terawang, masih belum bisa menutup aurat kita dengan sempurna, dan masih memancing mata-mata tak berdosa untuk menikmati keindahan tubuh kita.

Oleh karenanya akhwati fillah... Marilah kita kembalikan fungsi pakaian muslimah itu sendiri, yakni sebagai penutup aurat kita yang akan menjaga kehormatan kita sebagai seorang muslimah. Sehingga kita terhindar pandangan syahwat kaum lak-laki yang ujungnya menjerumuskan kita ke dalam lembah kemaksiatan yang berujung pada neraka (ingat guys, masyoritas penguhuni neraka adalah kaum wanita) karena bila terjadi tindakan asusila seperti kasus rok mini yang terjadi beberapa waktu lalu, bukan hanya dari pihak lelaki yang disalahkan, tapi juga wanitanya. Karena dia tidak memakai pakaian sesuai syariat, sehingga laki-laki tersebut tergoda.

Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Antara Wanita Shalihah dan Bidadari Surga


Jam menunjukkan pukul 13:30. Matahari menyembulkan sinar dari balik awan, cerah. Awan putih di sekelilingnya menghiasi langit biru, ia seolah tersenyum melihat aku dan ummi yang tengah duduk berdua. Angin sepoi yang berhembus, membuat kami semakin asyik dalam angan kami. Di depan kami, terlihat kupu-kupu yang sedang berterbangan diantara bunga-bunga pohon yang biasa disebut orang Gresik sebagai pohon Keres, sedangkan orang Jogja biasa menyebutnya Talok.

“Dek” kata ummi, anganku terhenti. Kututup buku yang kupegang.
“Iya ummi” kupalingkan wajahku pada ummi, ummi terdiam sejenak.
“Liat deh dek, kupu-kupu itu seperti bidadari-bidadari yang berterbangan di taman surga. Sayapnya yang indah, dengan aneka macam warna, mengelilingi bunga talok dan daun-daunnya yang hijau. Indah ya dek?” kata ummi, matanya memandang ke arah kupu-kupu yang berterbangan di atas daun Talok yang terletak di samping asrama kami.

“Iya mi, indah ya. Kupu-kupunya bagus. Berwarna–warni. Subhanallah...” kataku pada ummi.

Aku lalu membayangkan bagaimana bidadari-bidadari surga itu menghiasi taman surga. Mereka saling bercengkerama. Matanya yang jeli, kulitnya yang halus dan bening, suaranya yang merdu, aah indahnya...

Tapi...

Anganku terhenti sejenak… Diam. Kosong. Mataku kembali menerawang jauh ke angkasa. Bukankah bidadari dunia itu lebih indah dan mulia tatkala ia bisa menjadi wanita sholihah, mereka wanita shalihah yang menjaga kehormatan dirinya dan martabat suaminya, mereka wanita-wanita shalihah yang tetap tegar menegakkan panji-panji Islam di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, mereka yang rela dianggap asing demi tegaknya sunnah Nabi di muka bumi ini, dan mereka yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau maksiat dan syubhat.

Dalam hadits diceritakan bahwa suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ”Ya Rasulullah beritakanlah kepada kami, mana yang lebih utama di surga, wanita di dunia ataukah bidadari surga?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wanita-wanita di dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tidak terlihat”

Ummu Salamah kemudian bertanya “Mengapa wanita-wanita shalihah lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab “Karena shalat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya dari emas. Mereka lalu berkata “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Maka berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya” (HR. At-Thabrani)

Subhanallah... Sungguh mulianya wanita shalihah hingga Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalihah lebih utama daripada bidadari surga. Wanita shalihah yang mengerjakan sholat, puasa dan memperbanyak ibadah.

Wahai saudariku...

Sungguh kita semua adalah wanita yang cantik, maka mari kita percantik diri kita dengan akhlak yang mulia, dengan menjadikan diri kita wanita yang shalihah hingga kita bisa menyaingi bidadari surga....

Wallahu a’lam bish-shawab... [Ukhtu Emil]

Memahami Remaja Lebih Dekat

“Menjadi seorang musyrifah (pembina asrama), guru atau ustadzah bukan hanya sekedar mengelola manusia (murid atau santri). Tapi ia mengelola hati dan perasaan (jiwa) seseorang” kata ustadz Sholihun dalam perjalanan terakhir saya ke Srunen awal Juli lalu. Maksudnya adalah kita tidak sekedar mengatur adik-adik binaan kita, santri atau murid kita. Yang dalam perjalanannya kita minta mereka begini dan begitu sesuai dengan berbagai program yang telah kita buat sedemikian rupa. Ada hati di sana, ada perasaan di sana, yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan mood dan pikiran.

Karena pada dasarnya menjadi seorang musyrifah, guru, ustadzah atau apalah sebutannya bukan hanya sekedar memberi materi-materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang telah dibuat. Tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan murid atau santri kita.

Kadang kala ketika kita menyusun berbagai program dan kurikulum kita lupa bahwa ada jiwa-jiwa yang perlu kita perhatikan perasaannya, perlu kita dekati secara khusus, dan perlu kita berikan bimbingan agar menjadi pribadi yang baik karakter dan kepribadiannya.

Terutama mengelola siswa MTs atau setingkat SMP. Di mana pada masa itu adalah masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa. Masa yang kepribadiannya bisa berubah-ubah sewaktu-waktu , masa yang membutuhkan inspirasi dalam kehidupannya. Emosinya labil dan sangat peka terhadap cara pandang orang lain terhadap diri mereka. Dan pada masa ini pengaruh teman sebaya sangat kuat terhadapnya. Maka tak heran apabila di rumah kita menjumpai adik kita yang pendiam namun setelah sering bergaul dengan teman sebayanya yang rame adik kita berubah.

Contohnya dulu sewaktu saya menjadi musyrifah di SMPIT Abu Bakar Yogya. Dulu saya kelompokkan adik-adik yang kurang rapi atau akhlaknya kurang dengan mereka yang baik dan penurut. Dalam beberapa bulan si adik yang agak ngeyelan dan kalau sholat selalu di baris belakang perlahan berubah. Sholatnya mulai rajin, karakternya juga mulai membaik.

Saudaraku, memahami remaja tidak seperti memahami anak-anak atau orang dewasa. Jikalau anak-anak, mungkin mereka cukup dibilangin lalu nurut atau sekedar bertanya “buat apa ustadzah?” atau kalau orang dewasa mereka akan mengerti atau sesekali mereka protes dengan bahasa yang sudah mereka pilih. Tapi kalau remaja, mereka bukan sekedar bertanya atau protes, ngeyel, manyun atau bahkan ketika emosi mereka tidak terkendali, mereka akan membentak dan melakukan hal-hal yang kasar adalah hal yang sering terjadi.

Maka di sinilah perasaan atau jiwa itu harus kita kelola, mengingat tipe anak-anak sangat beragam. Ada mereka yang cuek, ada mereka yang penurut, ada mereka yang manyun dan suka membantah, ada yang lugu, ada yang polos dan berbagai karakter mereka sesuai dengan latar belakang dan background mereka.

Dalam dauroh murobbi pesatren beberapa waktu yang lalu, kak wahyu salah seorang pembicaranya menjelaskan tentang keterampilan memahami remaja. Yang pertama yakni, memahami penyebabnya. Maksudnya kita cari tahu penyebab dari prilaku remaja tersebut. Misalnya, dulu salah seorang santri saya di Abu Bakar ada yang tiba-tiba menjadi pendiam dan sekali ngomong nyelekit bahasa Gresiknya, padahal biasanya si adik selalu ceria. Ternyata setelah kami telisik, dia merasa malu karena akan punya adik lagi. Atau ada salah seorang santri yang emosinya labil, sedikit-sedikit manyun, eh ternyata keluarganya broken home, ayah dan ibunya pisah saat dia masih TK.

Yang kedua adalah memberikan empati, yakni dengan memberikan perhatian pada hal-hal kecil. Misalnya dengan mengetahui kebiasaan makannya, di mana letak sepatunya, atau warna atau kesukaannya dll. Mungkin terkesan sepeleh tapi itu akan menjadi kesan tersendiri buat adik-adik. Karena kalau hal-hal kecil saja diperhatikan apalagi yang besar?

Yang ketiga yakni berbicara dari hati kehati. Yakni apabila terjadi sebuah prilaku yang kurang maka kita ajak bicara pelan-pelan. Kita minta dia menceritakan atau curcol sama kita dengan cara yang baik dan kalau bisa kita luluhkan hatinya.

Dan yang terakhir dengan melakukan konseling. Konseling ini bisa dilakukan dengan memanggil satu persatu, atau dengan melakukan pendekatan spiritual vision atau memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak sesuai syariat misalnya.

Contohnya ketika terjadi kasus pencurian dalam sebuah asrama, kita buat renungan, kita pahamkan pada anak-anak bahwa mencuri adalah akhlak tercela, dan hukumnya adalah haram. Kalau tidak ada yang mengaku maka kita panggil satu persatu, dan kita tanyakan baik-baik.

Kemudian dalam dauroh tersebut beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus dihindari oleh seorang guru, ustadzah, atau teacher bahasa Inggrisnya. Yang pertama adalah membandingkan. Setiap anak atau remaja adalah unik, dia punya karakter yang khas. Dia juga ingin dihargai dan diapresiasi sekecil apapun prestasinya, dia ingin diakui eksistensi dirinya. Karena pada masa ini adalah masa pencarian jati diri mereka dan masa yang labil. Sekali mereka tidak dihargai mereka akan jatuh dan tidak akan mau berusaha lagi.

Misalnya saja, adik kita mendapat rangking 16 di kelasnya, sementara tetangga mendapat rangking 3 besar. Maka jangan sekali-kali membandingkan dia dengan tetangga kita tersebut. Kita hargai adik kita yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan yang terbaik dan kita motivasi agar ke depannya dia berusaha lebih giat lagi hingga dapat meningkatkan prestasinya. Atau misalnya si A punya prestasi di bidang sastra tapi nilai matematikanya jeblok. Maka jangan sekali-kali menjust bahwa anak ini bodoh, tidak bisa, dan membandingkan dengan temannya yang nilainya bagus. Dia akan ngedrop dan meninggalkan hobinya menulis cerpen misalnya. Padahal di situlah bakatnya. Maka hendaklah kita bisa memotivasinya agar dia terus mengasah bakatnya hingga suatu saat dia bisa menjadi penulis besar.

Yang kedua yakni pilih kasih. Saudaraku, janganlah sekali-kali kita pilih kasih pada salah satu murid atau santri kita. Karena hal ini akan menimbulkan kesenjangan sosial diantara anak-anak. Tidak ada bedanya mau santri yang rajin, mau santri yang penurut, mau santri yang ngeyelan. Semuanya sama. Mereka punya karakter yang unik dan perlu penyikapan yang berbeda-beda.

Dan yang terakhir yakni, cuek, pasif, masa bodoh. Setiap anak selalu ingin diperhatikan, baik itu orang tua, teman, atau gurunya. Apalagi mereka yang punya prilaku “spesial” yang memerlukan perhatian khusus. Maka sikap cuek, pasif, dan masa bodoh terhadap mereka sudah selayaknya kita hindari sebagai seorang guru. Kalau kata ustadz Musyafa’, sikap ini merupakan ciri guru yang tidak bertanggung jawab. Karena seorang guru adalah pendidik, pejuang, seorang yang banyak berkorban dan seorang kader yang terus mengembangkan diri yang terus melakukan perbaikan diri.

Saudaraku, semoga yang sedikit ini menjadi pelajaran buat kita dalam memahami adik-adik, murid atau santri kita yang masih remaja. Karena mereka adalah pribadi yang unik, pibadi yang khas yang memerlukan penyikapan yang berbeda-beda.

Maka sikap pertama yang harus kita miliki dan selalu kita memiliki adalah sabar. Karena di balik kesabaran ada keikhlasan dan ketulusan, yakni ikhlas ketika sikap labil mereka membuat mereka bersikap kasar terhadap kita, dan tulus dalam memberikan setiap bimbingan dan arahan kepada mereka. Karena di balik kesabaran ada sikap qona’ah, yakni menerima mereka dengan segala keunikan sikap mereka, menerima mereka satu paket kelebihan dan kekurangan mereka. Dan di balik kesabaran itu pula ada ketegaran, yakni tegar dalam menghadapi segala bentuk tingkah laku mereka.

Waallahu a’lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]
 

suara islam Powered by Blogger