Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

Mencium Pipi Suami Saat Setan Menangis

Sujud Tilawah (ilustrasi sahabatyatim)
Mmmmuuuuuaaach… tiba-tiba sebuah ciuman mesra mendarat tepat di pipi. Yang punya pipi tentu saja reflek terkejut. Tangan kirinya terangkat mengelus pipi bekas ciuman tadi sambil mengerutkan alis mempertanyakan alasan. Padahal belum sampai sepuluh detik dirinya bangkit dari sujud. Mushaf Al Qur’an masih terpegang erat di tangannya yang sebelah, khawatir meluncur bebas. Jatuh.

"Hadiah dariku, he he he," sahut perempuan muda itu dengan gaya sedikit centil.
"Hadiah apaan?" tanya si lelaki penasaran.
"Ada deeeeh..." jawab perempuan muda itu dengan senyum tertahan.

Si lelaki tanpa pikir panjang tetap melanjutkan bacaan tilawahnya kala itu. Sambil duduk bersila di samping si lelaki, perempuan muda itu turut menikmati lantunan kalam Illahi yang sedang suaminya baca.

Itu sujud tilawahnya yang kesekian kali, sejak hari pertama dia sah menjadi imamnya. Ya... keduanya adalah pasangan suami istri, belum genap lima hari keduanya menikah. Sedang indah-indahnya. Saat pertama kali melihat suaminya melakukan sujud tilawah, dia cuma bisa terpana. Kagum.

Bukan tidak pernah, dia mendengar amalan “sujud special” itu tapi baru kali ini perempuan muda itu melihat orang dekatnya melakukan amalan tersebut. Dosen di kampusnya pernah menjelaskan mengenai hal itu. Guru agamanya sewaktu SMA juga pernah menyampaikannya.

Namun, perempuan muda itu belum pernah melihat ayahnya, saudara-saudaranya, gurunya, dosen kuliahnya, teman-teman di rumah kost yang ia tinggali, atau teman-teman taklimnya yang dengan spontan dan istiqomah melakukan sujud tilawah ketika mereka tilawah Al Qur’an. Kapanpun dan di mana pun. Padahal tak sedikit yang memiliki latar belakang “pendidikan agama” yang lebih. Tentu saja baginya, amalan yang dilakukan suaminya yang notabene background agamanya “otodidak” adalah sesuatu yang istimewa. Berilmu sedikit kemudian langsung beramal.

Dan sejak itu, si perempuan muda berjanji memberi hadiah “satu kecupan mesra bagi sang suami tiap kali dia melakukan sujud tilawah”. Terlalu genit…? Yaaach tak apalah… sudah halal ini… hihihi

Eiiits… Tapi bukan soal kemesraan mereka berdua yang akan dibahas kali ini. Tapi soal salah satu pemicu kemesraan mereka yakni sujud tilawah. Sebagai seorang muslim tentu kita perlu tahu atau sekedar mengingat kembali bagaimanakah sejatinya sujud tilawah dan bagaimana hukumnya. Berikut ini sedikit penjelasan yang berhasil dihimpun penulis dari berbagai sumber.

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan sebab membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat di Al Qur’anul Karim.

Pada mushaf yang kita miliki, biasanya sudah ada penanda pada ayat-ayat Al Qur’an yang termasuk aya-ayat sajadah. Tanda tersebut dapat berupa lambang berbentuk kubah atau bentuk simbol lain di akhir ayat.

Saat kita membaca atau mendengar ayat-ayat tersebut dibacakan kita disunnahkan melakukan sujud tilawah. Ada hadits yang menjelaskan mengenai keutamaan amalan sujud tilawah ini yaitu,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.”
(HR. Muslim no. 81)

Sedangkan lafadz yang dibaca saat melakukan sujud tilawah sama seperti yang dibaca ketika sujud dalam sholat fardhu. Ada beberapa pilihan bacaan yang bisa dipakai, diantaranya :

Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca: “Subhaana robbiyal a’laa”. Artinya: Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi. (HR. Muslim no. 772).

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud:“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” Artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku. (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484).

Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca: “Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.”. Artinya: Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta. (HR. Muslim no. 771).

Dan berikut ini ayat-ayat dalam Al Qur’an yang termasuk ayat- ayat sajadah, antara lain :
1. Surat Al A’rof ayat 206
2. Surat Ar Ro’du ayat 15
3. Surat An Nahl ayat 49-50
4. Surat Al Isro’ ayat 107-109
5. Surat Maryam ayat 58
6. Surat Al Hajj ayat 18
7. Surat Al Furqon ayat 60
8. Surat An Naml ayat 25-26
9. Surat As Sajdah ayat 15
10. Surat Fushilat ayat 38
11. Surat Shaad ayat 24
12. Surat An Najm ayat 62
13. Surat Al Insyiqaq ayat 20-21
14. Surat Al ‘Alaq ayat 19
15. Surat Al-Hajj ayat 77

Dari daftar ayat-ayat yang tersebut di atas, para ulama berselisih pendapat apakah surat Shaad ayat 24, surat An Najm ayat 62, surat Al Insyiqaq ayat 20-21, surat Al ‘Alaq ayat 19, dan surat Al-Hajj ayat 77 termasuk ayat sajadah atau bukan.

Sedangkan mengenai hukum sujud tilawah ini, di antara para ulama ada perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat wajib ada yang berpendapat sunnah.

Dalil ulama yang menyatakan sujud tilawah adalah wajib, yaitu firman Allah Ta’ala,

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ
“Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al Insyiqaq: 20-21).

Para ulama yang mewajibkan sujud tilawah beralasan, dalam ayat ini terdapat perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Dan dalam ayat tersebut juga terdapat celaan bagi orang yang meninggalkan sujud. Namanya celaan tidaklah diberikan kecuali pada orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib.

Sedangkan dalil yang menjadi hujjah jika sujud tilawah tidak wajib (sunnah) adalah hadist berikut ini,

Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,

قَرَأْتُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ( وَالنَّجْمِ ) فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا
“Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhir kata, yang dikemukakan di atas adalah sekedar referensi. Tambahan ilmu saja. Adalah pilihan kita, cukup menyimpannya saja di kepala kemudian terlupa ataukah memilih menyempurnakannya menjadi tambahan amal pahala. It’s all up to you.

Tapi… semoga sujud tilawahnya bukan karena hadiah bonusan tadi ya… #Uuuups…!!! [Kembang Pelangi]

Dahsyatnya Doa Orang Tua

Dahsyatnya doa ibu (ilustrasi)
Doa orang tua adalah syarat utama bagi suksesnya seorang anak. Karena doa, adalah perlambang ridho. Sedangkan dalam hadits disebutkan, bahwa ridho Allah tergantung ridho orang tua dan murka Allah tergantung pula dengan murka orang tua.

Doa dari orang tua kepada anaknya adalah perlambang cinta. Ia tidak tergantung dengan bakti kita kepada keduanya. Sehingga, tidak jarang kita jumpai, banyak anak-anak durhaka yang tetap didoakan oleh orang tuanya, lebih-lebih lagi seorang ibu. Meskipun, dengan sempurnanya bakti, doa itu akan semakin terasa khasiatnya.

Sudah banyak cerita, sejak dulu hingga masa yang akan datang. Banyak contoh tentang kasus bakti anak kepada orang tuanya. Ketika berbakti, maka sukses, selamat dunia dan akhirat adalah jaminannya. Sementara, ketika durhaka, maka siksa adalah balasan yang tak mungkin dielakkan, oleh siapapun. Parahnya, siksa bagi mereka yang durhaka ini tidak hanya diberikan di akhirat, melainkan juga ditimpakan juga ketika pelakunya masih hidup di dunia.

Pada sebuah sore, di rumahnya yang megah, seorang sahabat bertutur. Tentang khasiat doa orang tua bagi kesuksesan dirinya. Orang ini memulai karir sebagai kuli di salah satu stasiun televisi ternama di negeri ini. Dalam sebuah kesempatan, stasiun televisi yang akan mengadakan konser akbar ini, ketika zaman dahulu panggung masih menggunakan kayu, mengalami sebuah kejadian yang tidak diharapkan.

Panggung yang sudah disiapkan untuk konser itu roboh tepat tiga puluh menit sebelum konser dimulai. Sang produserpun bingung, hingga akhirnya, ia menawarkan kepada kumpulan kuli-kuli yang ada di tempat itu, “Siapa yang bisa membetulkan panggung konser itu dalam waktu kurang dari tiga puluh menit?” Serta merta, kumpulan kuli yang memang mempunyai keahlian dalam bidang pertukangan itu langsung menyanggupi tantangan sang produser. Hanya dalam waktu lima belas menit, panggung yang porak poranda bisa dibetulkan dengan kualitas prima. Alhasil, rombongan kuli itu merasa sumringah dan mendapatkan kesempatan melihat konser itu dari dekat. Sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Esok harinya, sang produser kembali mendatangi kumpulan kuli-kuli itu dengan bertanya aneh, “Siapa yang kemarin membetulkan panggung untuk acara konser?” Mereka yang telah berjasa itu, malu mengakui. Bukan lantaran gengsi, tapi lebih kepada perasaan takut. Khawatir disalahkan, takut jika ada barang-barang yang hilang, dan seterusnya. Kemudian, setelah sang produser mengatakan lugas, “Saya mau mengucapkan terima kasih.” Serta merta, mereka berebut mengacungkan jarinya.

Cerita berlanjut, hingga beberapa dari mereka diangkat ke jenis pekerjaan yang lebih baik. Mulai diajak untuk mengikuti shooting sebagai pembawa alat-alat studio, hingga kemudian belajar, dan terus belajar. Pengalaman yang lama itu kemudian mengantarkan salah seorang dari mereka, sebut saja Bayu, menuju puncak karir. Ia berhasil menguasai semua teknik dalam dunia perfilman, hanya berbekal dari melihat dan praktek di lapangan. Dalam hal ini, benarlah sebuah nasehat bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.

Lambat laun, ia mulai berfikir untuk maju. Hingga akhirnya, dia mulai serius dalam dunia perfilman itu. Sebelum itu, hanya sebagai seorang kuli angkat, ia sempat berada dalam dasar keterpurukan. Bahkan, istrinya minta diceraikan karena ketidakmampuannya dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Lantaran sakit hati itu pula, ia mempunyai semangat yang tinggi untuk membuktikan. Berbekal semangat itu pula, ia tak lupa meminta doa dan dukungan dari orang tuanya di kampung. Hingga akhirnya, kesungguhan bertemu dengan momentum. Karirnya mencapai puncak. Di stasiun televisi tempat dia bekerja itu, posisinya sudah tak tergantikan. Hingga kemudian, ia merasa bosan dan memutuskan untuk resign. Selepas resign, ia memutuskan untuk bekerja free lance dengan membuat Production House sendiri. Bagi Bayu, ini hal yang mudah. Karena seluk beluk tentang dunia ini sudah dia kuasai. Terkait order, dia justru bingung, “Jika orang lain kebingungan dalam mencari order, saya justru bingung karena kebanyakan order. Sementara modal saya pas-pasan.” Kemudian, dia melalangbuana ke berbagai stasiun televisi di negeri ini. Hingga karyanya diterima di mana-mana. Mulai dari RCTI, ANTV, TRANS, MNC TV, METRO TV, dan stasiun-stasiun televisi lain seperti Kompas TV dan seterusnya.

Di sinilah cerita lain bermula. Lantaran kebanyakan order, ia menjadi pemburu rupiah. Bahkan, sholat sering lupa lantaran sibuk. Ditambah lagi, orang tuanya sudah meninggal lantaran usia. Sehingga, ujarnya sambil mengenang, “Jadi, setelah orang tua wafat, nyaris tak ada yang mengingatkan saya. Sholat lupa, karena alasan sibuk dan seterusnya.” Tak ayal, kerajaan bisnis yang ia bangun itu mulai mengalami kemunduran. Padahal, dari segi saingan, ia tidak memiliki lawan yang berarti.

Namun, kehancuran sebuah kerajaan bisnis, atau apapun, selalu mempunyai ceritanya sendiri. Apalagi, jika faktor-faktor pendukung asasinya sudah mulai diabaikan.

Perlahan, banyak tagihan macet. Dari stasiun televisi sendiri, mempunyai sistem jangka pembayaran yang lama, sehingga butuh dana besar untuk modal. Paling cepat, pembayaran dari stasiun televisi itu tiga pekan. Itupun haya satu stasiun, yang lain antara 1-3 bulan. Uang modalnya sendiri banyak yang dibawa kabur oleh pihak-pihak yang diajak kerja sama. Bahkan, ia menuturkan, salah satu ustadz yang ia promosikan via PH-nya itu, tidak membayar uang tagihan yang jumlahnya ratusan juta rupiah. Ketika kami tanyakan, ia berujar ikhlas, “Itu sudah tidak saya pikirkan, mas. Biarlah ustadz itu saja yang menanggung dosanya. Saya sudah cari ke mana-mana, tapi dia selalu lari dan banyak janji. Saya mau fokus dengan usaha baru saya saja.”

Terkait ketergelincirannya itu, pria asal Jepara ini sudah menemukan penyebab utamanya, “Mulanya dari ketiadaan doa orang tua. Karena sampainya saya ke puncak karir itu, sebab utamanya adalah doa beliau. Setelah orang tua saya wafat, saya oleng. Tidak dapat doa dari mereka, tidak ada yang mengingatkan saya. Sehingga, ketika Allah menarik semua kekayaan yang sempat diberikan itu, saya ikhlas. Karena saya sudah sangat jauh dariNya dan melalaikan perintah-perintahNya.”

Dalam perbincangan hangat di sore hari itu, akhirnya kami berpamit. Bayu harus meluncur ke bilangan Jakarta karena ada urusan terkait pameran yang sedang diselenggarakan oleh rekan-rekannya yang lain. Sementara kami, melanjutkan jalan-jalan menikmati hari yang mulai malam.

Alhamdulillah, Rasulullah memang tak pernah berdusta. Perintah silaturahim yang digalakkan sejak seribu empat ratusan tahun yang lalu itu memang mempunyai dampak yang dahsyat. Kami berhasil mendapatkan hikmah yang sangat mahal, langsung dari pelaku sejarahnya.

Semoga kita semakin mengerti. Bahwa doa orang tua adalah syarat utama kesuksesan seorang anak. Jika saat ini, banyak cita-cita kita yang belum tercapai, maka jalan yang harus kita tempuh adalah mendatangi orang tua kita. Mencium tangannya, kedua pipi dan keningnya. Lantas, meminta dengan tulus agar beliau selalu membawa nama kita dalam doa mereka. Memang, tanpa dimintapun, beliau akan selalu mendoakan. Tapi bagi kita, anak-anaknya, minta didoakan adalah perlambang rendah hati, bahwa kita menghargai orang tua kita, bahwa kita membutuhkan mereka, sehebat apapun kita saat ini. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Tiga Nasehat Ayah

Ayah menggendong anak
Ayah adalah ayah. Ia bukanlah ibu. Jika ibu sering memberikan perhatian dengan banyak nasehat, maka ayah, sesuai khasnya, lebih banyak diam. Namun, diamnya adalah sebentuk cinta. Dalam diam, ia terus berpikir untuk mencari jalan keluar. Dalam pikiran logisnya, banyak bicara tak selalu menghasilkan banyak solusi. Maka ayah, selamanya, tak mungkin sama dengan ibu.

Setiap kita, siapapun, pasti punya kenangan dengan ayah kita. Entah, sebagai apapun ayah kita itu. Pun, jika misalnya, ayah kita adalah seorang penjahat, maka satu jasanya yang haram kita lupakan, bahwa ayah adalah salah satu sebab lahirnya kita ke dunia ini. Ayah kitalah yang mengeluarkan air mani untuk membuahi sel telur ibu. Maka ayah, sebejat apapun, adalah peran yang tak mungkin digantikan oleh selainnya.

Ayah kita, mungkin saja adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai jabatan. Ayah kita, bisa jadi, bukanlah sosok kaya yang berharta. Ayah kita, mungkin saja, bukanlah keturunan ningrat yang layak dibanggakan. Tapi yang paling pasti, ayah kita adalah seorang pemberani yang telah mepersunting ibu kita sehingga kemudian melahirkan kita ke dunia ini.

Sebagai apapun ayah, pastilah kita mempunyai kenangan manis dengan sosok pendiam ini. Sosok yang bisa jadi, legam kulitnya lantaran terpanggang surya. Sosok yang mungkin saja, berkerut dahinya lantaran setiap waktu memeras otak demi kelangsungan hidup kita, anak-anaknya. Sosok yang mungkin saja, bertambah lelah saat kita tengah dewasa, berkeluarga dan beranak. Karena ayah, adalah perlambang keberanian.

Seorang sahabat bertutur. Bahwa ayahnya, adalah pahlawan. Di sepanjang kehidupannya, jarang sekali ia menghabiskan waktu bersama sang ayah. Lantaran ayahnya, mempunyai kehidupan di perantauan. Alhasil, jadwal pulangnya tak menentu. Bahkan, dalam banyak kasus, sang ayah lebih rela memulangkan uangnya untuk kebutuhan istri dan anak-anaknya. Ia bukan tak mau pulang, tapi ia lebih memilih menumpuk rindu, demi sesuap nasi bagi orang-orang yang dia cintai.

Suatu ketika, ketika sang ayah mengetahui bahwa salah satu anaknya aktif dalam kegiatan di masjid dan aneka kegiatan agama di kampungnya, dalam sebuah kesempatan pulang kampung yang tak tentu itu, ia memanggil buah cintanya. Diajaklah dia bercerita, tentang aneka rupa persoalan kehidupan. Lalu, mengalirlah buliran-buliran nasehat yang menentramkan jiwanya.

Sang anak nampak kaget, karena ayahnya ini terkenal pendiam. Namun perbincangan kala itu, benar-benar membekas dalam benaknya. Kata sang ayah lembut, ”Nak, ayah tahu bahwa kau mulai aktif di kegiatan keagamaan. Ayah sangat senang, semoga pahalamu mengalir juga untuk ayah.” Ucapnya berharap.

“Sejak dulu, ayah tahu, bahwa di kampung kita, ketika ada undangan kenduri, yang punya hajat pasti akan memberikan uang. Memang, mereka ikhlas dan menganggap itu sebagai ucapan terima kasih. Tapi, ayah berpesan, jangan jadikan itu sebagai tujuan. Jika perlu, jangan terima. Berikan kepada orang lain yang lebih berhak.”

Sang anak bingung. Mengapa ayahnya memerintahkan untuk menolak uang pemberian? Sementara ia tahu bahwa keluarganya bukanlah keluarga berada?

Kini, sang anak mengerti, bahwa ketika itu, ayahnya sedang mengajarkan makna keikhlasan. Bahwa amal, bahwa membantu sesama, haruslah diniatkan untuk Allah, bukan untuk selainnya. Apalagi, hanya untuk recehan yang tak seberapa.

Sahabat yang lain pun berkisah. Tentang ayahnya. Sang ayah adalah seorang kuli bangunan. Sehari-hari, sang ayah biasa menjadi pesuruh. Ragam majikan sudah pernah diikuti. Mulai dari yang preman, hingga yang haji. Hingga akhirnya, sang ayah menemukan kejanggalan. Mereka yang kadangkala dianggap baik oleh masyarakat, justru berkelakuan sebaliknya. Bahkan, ayahnya itu, seringkali didholimi. Baik berupa pembayaran yang tak sesuai dengan akad, atau kata-kata kotor yang tak bermoral.

Dalam sebuah kesempatan, sang ayah kemudian menuturkan, “Sayang, ayah ini sudah kenyang dengan pahit getirnya hidup. Hampir semua jenis orang sudah ayah ikuti untuk dijadikan majikan.” Ucapnya seraya mengelus lembut kepala anaknya.

“Ayah hanya ingin berpesan kepadamu, selaraskanlah antara fikiran, ucapan dan tindakan.” Lanjutnya sambit menyeruput kopi kental favoritnya. Dalam hening, sang anak hanya bingung lantaran belum mengetahui maksud ayahnya itu.

Seiring berjalannya waktu, sang anak memahami. Ketika itu, ayahnya sedang mengajarkan tentang iman. Bahwa iman, tak hanya ada di hati. Melainkan terucap dengan lisan. Dan, terbukti dalam laku.

Begitulah. Nasehat ayah yang kadang singkat, ternyata memiliki ribuan bahkan jutaan makna. Sebagai anak, kita mesti pandai menafsirkannya, meski tafsiran kita, tak mungkin sebijak nasehat ayah.

Ayah juga kerapkali mengajarkan tanggungjawab, tanpa banyak bertutur. Dalam sebuah perbincangan, seseorang berkisah. Seputar ayahnya. Ia mengenang nasehat ayahnya itu sesaat selepas sang anak mengucap ijab qobul pernikahan. Sang anak yang merupakan anak ketiga dari banyak bersaudara itu menuturkan, “Ayahku itu tak banyak cakap. Beliau lebih suka diam. Kesehariannya juga biasa saja. Kutahu, beliau juga tak bersekolah.” Kisahnya, seraya menerawang ke angkasa.

“Namun, aku dibuat terkejut ketika hari pernikahanku. Selepas kucium tangan, dan kupeluk erat badan ringkihnya, ketika aku minta didoakan, seraya membalas jabat tanganku dan merengkuhku dalam dekapnya, beliau memberikan nasehat yang sangat berharga. Kata ayahku, ‘Jangan lupakan kewajibanmu sebagai kepala keluarga.’” Pungkasnya bertutur.

Begitulah, dan kisah tetang ayah, akan terus seperti itu. Ia adalah sosok bijak yang hemat bertutur. Karena dalam kamus kehidupan seorang ayah, seringkali terdapat sebuah nasehat bijak. Bahwa, dalam banyak kasus, semakin banyak bicara, bisa membuat seseorang semakin banyak bersalah. Maka diamnya seorang ayah, adalah fikir. Diamnya ayah, adalah perenungan untuk menemukan solusi dan kesejatian diri.

Kita, tak mungkin bisa sebijak ayah. Tapi kita, bisa menjadi bijak dalam pandnagan anak-anak kita kelak. Tentu, jika kita mau belajar dengan sungguh-sungguh. Dan, materi untuk menjadi ayah yang baik itu, tidak ada di bangku kuliah manapun. Ia hanya bisa didapat di madrasah bernama keluarga.

Untuk ayahku, aku ingin sampaikan, bahwa aku, anak-anakmu, sangat mencintaimu, karena Allah. Jika seringkali kami membantah, bukan lantaran benci. Itu hanya karena kami, anak-anakmu, belum mengetahui apa maksud di balik bijaknya nasehatmu. Semoga Allah membahagiakan ayah, sebagaimana ayah telah membuat kami bahagia. Aku, hanya ingin memanggilmu, “Ayah...” []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Empat Prinsip Pembelajaran Nabi Khidir

Nabi Khidir - ilustrasi dari cover buku Rahasia Marifat Nabi Khidir as
Sudah menjadi hal biasa jika kita temukan jumlah siswa di sebuah lembaga pendidikan, terutama pesantren, yang di tahun ajaran baru jumlahnya banyak kemudian berkurang sedikit demi sedikit.

"Seleksi alam," kata ustadzah saya di ma'had dulu. Beliau menyebut santri yang keluar dari ma'had dengan alasan tidak kerasan dan tidak kuat dengan materi sebagai bagian dari "seleksi alam". Siapa yang tidak sabar, yang tidak kuat berada dalam ma'had dengan sendirinya akan terseleksi oleh alam.

Saya lantas mencermati kata "seleksi alam" tersebut dan mencoba menghubungkan dengan empat prinsip pembelajaran Nabi Khidir yang dijelaskan dalam buku Prophetic Learning karya Agus Dwi Budianto, yaitu :

Yang pertama adalah setiap kali akan belajar ciptakan kemauan yang kuat. Kita menyebutnya sebagai “azzam”. Yakni kemauan yang kuat yang tertanam dalam diri. Setiap manusia adalah pembelajar sejati. Dari bayi kita dilahirkan kita belajar bergerak, belajar mendengar, kemudian belajar memegang sampai ketika kita menjelang sakaratul maut. Semuanya adalah sebuah proses pembelajaran.

Sebagai seorang pembelajar hendaknya kita senantiasa menghadirkan azam dalam diri kita. Mengapa? Karena sesungguhnya jiwa kita akan mudah trombang ambing. Ketika sedikit saja godaan datang kita langsung goyah.

Mari kita menengok Nabi Musa. Beliau punya kemauan yang kuat dalam mencari ilmu bersama Nabi Khidir.

Yang kedua adalah bersikap gigih dalam belajar. Marilah kita lihat Nabi Musa kembali, beliau punya keinginan kuat untuk bertemu Nabi Khidir. Seorang yang dikabarkan lebih pandai daripada beliau. Padahal beliau sendiri seorang Nabi.

Sedangkan kita? Kita pada era sekarang dengan berbagai fasilitas dan kecanggihan teknologi terkadang masih bermalas-malasan. Adanya fasilitas tersebut malah membuat kita cengeng dan mengalami ketergantungan pada keadaan. Sebut saja ketika laptop kita rusak, seketika mood kita untuk belajar langsung hilang.

Seorang pembelajar sejati adalah seorang yang ulet dan gigih dalam belajar. Walau halangan rintangan membentang tak jadi beban masalah tak jadi beban pikiran.

Saudaraku, sebuah prestasi tak akan diperoleh hanya dengan berpangku tangan. Kita ingat Thomas Alva Eddison kan? Ia berhasil menemukan bohlam pada percobaan yang keseribu.

Yang ketiga adalah melipat gandakan kesabaran. Di balik kesabaran ada ketulusan, ada keikhlasan dan ketegaran yang akan mengantarkan kita kepada pintu gerbang kesuksesan.

Sabar ini yang menjadi prasyarat utama Nabi Khidir kepada Nabi Musa ketika ia hendak berguru padanya. Ternyata Nabi Musa tidak terlalu memililki banyak kesabaran sehingga beliau gagal memenuhi prasyarat Nabi Khidir.

Perlu kita garis bawahi banwa ketika kita sabar berarti kita harus mau menerima semua ujian yang ada selama proses pembelajaran dengan hati yang legowo. Segala tantangan yang ada harus kita hadapi dengan kesabaran. Bukan dengan beputus asa. Seperti bersabar atas sarana dan fasilitas, bersabar atas materi pembelajaran yang sedang dipelajari, dan bersabar terhadap guru. Termasuk di dalamnya bersabar dalam memperoleh jawaban atas keingin tahuan.

Yang terakhir adalah mengasah tiada henti. Seorang pembelajar sejati tidak akan pernah puas dengan ilmu yang diperolehnya. Sekali lagi mari kita tengok Nabi Musa. Beliau tidak merasa puas dengan predikat kenabiannya. Sehingga ketika kaumnya mengatakan ada orang yang lebih pandai dari beliau yakni Nabi Khidir, beliau langsung minta petunjuk Allah dan bergegas untuk berguru kepadanya.

Saudaraku, adanya rasa puas itulah yang menjadikan kita malas dan akhirnya berhenti untuk belajar. Kita merasa sudah tahu banyak sehingga kita malas belajar. Pernah tidak kita pada saat kita belajar atau seminar, guru atau pemateri menyampaikan materi yang sudah pernah kita pelajari? Kemudian kita mengatakan "itu kan sudah pernah disampaikan guruku" atau gini "itukan sudah aku pelajari beberapa waktu yang lalu".

Saudaraku, mungkin bisa jadi materi yang disampaikan sama, tetapi apakah kita sudah yakin betul-betul menguasaianya? Bisa jadi materi tersebut menjadi pelengkap atas pengetahuan kita dan bisa menjadi pengingat kita terhadap materi tersebut.

Saudaraku, seorang pembelajar sejati tak mengenal rasa puas, sehingga kita akan terus mengasah diri kita dengan ilmu pengetahuan. Sehingga dari situlah akan terjadi revolusi dan discoveri dalam ilmu pengetahuan.

Mari kita ingat baik-baik nasehat Imam Ghozali, "Siapa yang merasa sudah tahu, niscaya ia akan segera bodoh."

Jadi bukan perkara “seleksi alam”, tetapi kurangnya tekad, azam, serta kesabaran yang menyebabkan jiwa seseoarang terombang-ambing dalam belajar.

Semoga bermanfaat... Waallahu a'lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]


Berani Jujur itu Hebat

Area Wajib Jujur (sohoque.com)
“Retno, kita harus jujur mengatakannya walaupun itu pahit rasanya,” pinta Sulastri kepadaku.

“Tapi? Gak mungkinlah aku harus mengatakan dengan jujur tentang peristiwa ini! Ini sangat fatal, Lastri!” belaku dengan jantung yang kian berdegup kencang.

“Aku tahu Retno, ini kejadian tidak hanya kamu yang mengalami, tapi aku juga terlibat di dalamnya. Lihat! Coba lihat! Hancur kan? Sudahlah, ayo kita selesaikan permasalahan ini kepadanya. Insya Allah, Dia pasti akan membantu siapapun ketika ia mau berusaha dan bertawakkal kepadaNya. Tapi ingat, kita harus menjelaskan dengan sejujur-jujurnya, tentang apa yang menimpa kita. Gimana?”, jelas Sulastri.

Kepalaku semakin cenat-cenut dengan penjelasan ini. Jujur? Bagaimana aku bisa jujur? Semua ini adalah salahku. Andai saat itu aku tak mampir ke penjual kaos, andai saat itu aku tak meminta Sulastri untuk mengantar anak-anakku ke rumah emak, andai saat itu aku langsung pulang. Andai saat itu…

“Ret, kok malah bengong? Gimana nih? Sudahlah, percaya padaku. Allah akan menolong hambaNya, selagi dia mengingatNya dalam situasi apapun. Yang terpenting saat ini, kita harus berkata jujur. Apa adanya”.

“Aku takut Lastri… Aku takut kalau dia marah kepadaku, jika aku harus mengatakan dengan jujur peristiwa ini. Inikan diluar rencana kita sebelumnya. Sungguh, aku sangat takut…”, nadaku memohon.

“Retno, sahabatku. Musibah itu datang tanpa sepengetahuan kita. Musibah itu datang bukan atas keinginan kita. Musibah itu datang tanpa harus memilih siapa yang akan dijumpainya. Sesungguhnya, musibah adalah sebuah cobaan untuk mengetahui bagaimana sikap kita menghadapinya. Musibah adalah sebuah peringatan agar kita tak menyimpang dari jalan yang telah ditentukan. Musibah adalah sebuah ujian, apakah kita pantas untuk naik ke level berikutnya atau tetap pada level yang sebelumnya atau jangan-jangan kita harus terjun ke level yang paling bawah?. Na’udzubillah … ”, jelas Sulastri panjang lebar bagai seorang ustadzah kelas atas.

“Hmmmmm”, aku menghela nafas dalam-dalam. Benar juga perkataan sahabat dekatku ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir. Laa haula wa laa quwwata illah billaahil’aliyil ‘adhiiim. “Baiklah, saatnya kita bertanggung jawab atas peristiwa ini”, jawabku mantap.

“Siiip, ini baru sahabatku. Tapi kita harus tetap jujur ya”, warning Sulastri.

“Insya Allah. Kan kamu yang bilang kalau kita harus berkata jujur walau itu pahit rasanya”, candaku.

“Hehehehe….”.
***

Sahabat, itulah cuplikan kisah nyata yang pernah dialami oleh salah satu sohib dekatku. Kisah ini sungguh penuh makna dan pertolongan dariNya. Kisah ini terjadi saat beliau hendak menjalankan tugas dakwahnya. Selepas menjalankan misi dakwahnya itu, beliau merapel tugas-tugas yang lain seperti yang telah dipaparkan di atas.

Sahabatku, ketika sang sohib dekatku ini hendak pulang dan hendak mengembalikan mobil pinjaman dari salah satu rekan dakwahnya, tiba-tiba sebuah truck trailer menghantam bemper depan mobil sedan tersebut. Alhamdulillah, tak ada korban jiwa dalam peristiwa naas malam itu. Hancur? Ya, sangat fatal! Saat itulah Allah menguji hambaNya. Saat itulah Allah mengingatkan secara halus kepada hamba pilihanNya. Dan saat itulah Allah hendak menaikkan atau menurunkan level keimanan seorang hamba.

Sahabat, pernahkah kita berfikir bahwa di balik semua musibah ada banyak hikmah yang kita dapatkan? Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya memberikan musibah tanpa ada pertolongan dariNya. Ternyata, sohib dekatku itu mendapatkan pertolongan yang sangat hebat dariNya. Sang rekan dakwah sama sekali tidak marah kepada beliau, tidak juga meminta ganti rugi atas fatalnya kerusakan mobil sedannya tersebut. Subhanallah…

Sahabat, jangan pernah berfikir bahwa dengan adanya musibah adalah tanda bahwa Allah tidak menyaangi kita. Itu adalah salah besar! Musibah adalah sebuah cobaan untuk mengetahui bagaimana sikap kita menghadapinya, akankah kita tabah menghadapinya, atau malah kita menyalahkan nasib? Musibah adalah sebuah peringatan agar kita tak menyimpang dari jalan yang telah ditentukan, karena kita tahu bahwa manusia tak luput dari dosa dan salah. Musibah adalah sebuah ujian, untuk melihat tingkat keimanan kita : apakah kita pantas untuk naik ke level berikutnya? Atau tetap pada level yang sebelumnya? Atau, jangan-jangan, kita harus terjun ke level yang paling bawah? Na’udzubillah wahai sahabatku…

Wallahu a’lam bish shawab. []

Penulis : Heny Rizani
Editor : Pirman

Resolusi Muslim Sejati

Renungan - ilustrasi
Diakui atau tidak, kadang, bahkan seringkali, kita menjadi pribadi yang latah. Bukan hanya terkait kehidupan secara umum. Pun, dengan hal remeh temeh lainnya. Sebut saja, ketika momen pergantian tahun menjumpai. Serta merta, kita banyak melakukan sesuatu yang kurang diketahui esensinya. Mulai tindakan hura-hura hingga hal-hal lainnya. Sebut saja, salah satunya tentang resolusi.

Sebagai seorang muslim, resolusi tak ada salahnya. Karena dalam al-Qur’an, Allah juga memerintahkan agar kita memerhatikan akan apa yang terjadi di esok hari. Baik kehidupan dunia, terlebih lagi di akhirat. Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan. Bahwa Dia tidak akan mengubah suatu kaum selama kaum tersebut tidak berupaya untuk mengubah dirinya. Dalam haditspun demikian. Rasul menegaskan bahwa tanda dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Dari rangkaian ajaran langit ini, dapatlah kita simpulkan. Bahwa resolusi, bukan hanya dilakukan ketika pergantian tahun. Tapi bisa kita lakukan kapan saja. Sekali dalam sebulan, sepekan sekali, sehari satu kali, bahkan bisa berkali-kali dalam sehari.

Resolusi, bukan hanya terkait kehidupan dunia. Bukan hanya tahun ini kita harus memiliki rumah, atau bertambah koleksi mobil dan sawah. Resolusi, bagi seorang muslim, haruslah menyentuh hal-hal duniawi yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan akhirat. Karena kita menyadari, bahwa dunia hanya sementara. Bahwa dunia, cepat atau lambat, pasti akan ditinggalkan.

Kalau begitu, apa saja yang mesti kita jadikan resolusi di sepanjang kehidupan kita?
Pertama, Shalat. Rasulullah menganggap shalat sebagai salah satu sarana untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia yang melenakkan. Shalat, dalam sebuah hadits disebutkan sebagai mi’roj-nya orang beriman. Ia merupakan sarana untuk selalu terhubung dengan pencipta alam semesta. Untuk mengambil kekuatan dari langit, dan menebarkannya di bumi.

Shalat adalah sarana dzikir. Siapa saja yang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya. Shalat adalah solusi dari segala macam masalah. Sehingga, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa amal pertama yang dihisab kelak, adalah shalat. Jika shalat bagus, maka amal lain akan serupa. Jika shalat buruk, maka kebaikan amal lainpun sulit diharapkan. Tentu, jika ada orang yang rajin shalat tapi amal lain tak sebaik shalatnya, bisa jadi, shalat yang nampak baik itu tidak memiliki ruh.

Shalat juga pembersih. Ibarat mandi yang meluruhkan seluruh daki. Jika dalam sehari shalat fardhu kita lima kali, terjaga dengan baik, maka insya Allah amal itu menjadi sarana untuk melebur dosa-dosa kita di sepanjang hari itu.

Resolusi tentang shalat ini, bisa bertahap. Bagi yang Islamnya masih di KTP saja, maka bisa diazzamkan untuk melakukan shalat lima waktu, mulai hari ini juga. Bagi yang sudah biasa lima waktu, maka bisa ditambah dengan sunnah rawatib yang muakkad, sepuluh atau dua belas roka’at. Jika fardhu dan rawatib sudah terbiasa, maka bisa ditambah dengan dhuha, tahajjud, dan shalat sunnah lainnya.

Jika semuanya sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka lambat laun, shalat itu akan menjadi sebuah kebutuhan. Sehingga, ada yang kurang ketika belum menjalaninya. Sehingga, ada kenikmatan saat bisa mendirikannya. Sehingga, akan berlimpah inspirasi, ketenangan, kedamaian setelah menunaikannya. Dan, timbul rindu saat waktu shalat yang ditunggu tak jua tiba. Sehingga, akan tertanam keyakinan, sebelum jauh-jauh mencari solusi, perbaiki dulu shalat kita.

Kedua, al-Qur’an. Kalam Allah ini adalah panduan hidup. Ia satu-satunya kitab yang anti kadaluarsa. Allah yang memfirmankan, dan Dia pula yang akan menjaganya. Al-Qur’an adalah sumber inspirasi. Ia merupakan pemicu semangat bagi pembacanya, agar sungguh-sungguh dalam hidup di dunia guna mengumpulkan bekal di akhirat.

Al-qur’an, adalah selaksa oase. Di dalamnya, gambaran surga begitu jelas. Sehingga, kita akan bisa membayangkan dan mengharapkannya, sepenuh hati. Di dalamnya, cerita tentang neraka begitu membekas. Sehingga, kita akan menjaga diri, dan berdoa agar tidak dimasukkan ke dalam tempat terburuk itu.

Resolusi terkait al-Qur’an ini, bisa dimulai dari belajar membaca bagi yang memang belum lancar. Dilanjut dengan tahsin, memperbaiki bacaan. Jika sudah, targetkan untuk satu juz dalam satu hari. Lanjutkan dengan tafsir. Dan, yang paling utama, mengamalkan apa yang diajarkan dalam al-Qur’an. Kunci sukses dalam interaksi dengan Kalam Allah ini, salah satunya, ada pada satu kalimat, “Bacalah al-Qur’an, seperti Allah sedang mendengarkan bacaanmu.” Sehingga bacaan itu, tak sebatas di lidah. Tapi, merasuk dalam fikiran, menghujam dalam hati, dan meledak-ledak untuk diamalkan.

Ketiga, dakwah. Dakwah adalah ajakan. Bukan caci maki, hujatan atau penghakiman. Dakwah adalah tugas asasi para nabi. Yakni mengajak manusia, untuk menyembah Allah saja, dan menafikan selainNya. Teladan dakwah, adalah teladan kesabaran. Sebagaimana Nuh ‘alahis Salam yang mengajak umatnya untuk menyembah Allah dalam kurun waktu 950 tahun. Di sanalah, komitmen, kesabaran, diuji. Tanpa batas.

Dakwah adalah ibadah. Karena surga teramat luas, sehingga tak terlalu seru jika dimasuki sendiri. Sehingga, harus banyak orang yang kita ajak untuk menghuninya.

Dakwah bermula dari diri sendiri. Perbaikan yang tak pernah usai, hingga ajal menjelang. Berlanjut kepada orang yang kita cintai, suami/istri, orang tua, anak, sanak saudara hingga masyarakat luas.

Yang penting untuk dicatat, dakwah bukan sekedar retorika. Tidak terbatas pada masjid, di atas mimbar, dengan sarung, baju koko, ataupun sorban. Ia adalah amalan yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan tak terbatas pada pakaian yang kita kenakan. Lebih lanjut, dakwah dengan perilaku, dengan teladan, adalah lebih utama disbanding dengan ribuan retorika.

Maka dakwah, adalah seni mengambil hati. Karena kita adalah pendakwah, sebelum sebagai apapun kita. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Evaluasi Akhir Tahun

Muhasabah - ilustrasi anwardjaelani.com
Sebaiknya kita evaluasi. Berkaca pada masa lalu untuk menatap tegak masa depan.

Jujur adalah kunci kesuksesan sebuah evaluasi. Sampaikan apa adanya, jangan sampai ada manipulasi. Karena evaluasi adalah terhadap diri sendiri. Sedangkan mereka yang berlaku jujur kepada orang lain adalah mereka yang paling bisa jujur terhadap diri sendiri.

Jika terhadap dirinya sendiri saja dia berbohong, maka terhadap orang lain sangat tidak mungkin untuk berlaku jujur. Jikapun jujur, kemungkinannya kecil. Bahkan sangat kecil.

Jika memang setahun lalu kita banyak mendapati keberhasilan. Rencana yang kita tetapkan berhasil gilang gemilang. Bahkan melebihi apa yang ditargetkan, maka bersyukurlah. Menyungkurlah dalam sujud panjang kepada Dzat yang telah membuat kita berhasil. Jangan sampai berkata pongah, "Ini karena rencanaku yang keren. Karena strategiku yang jitu." Tapi katakanlah dengan penuh haru. Seperti halnya yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman, "Haadzaa min Fadhlii Robbii," Bahwa, "Ini semua adalah atas kehendak Allah, atas kemurahan Allah."

Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya. Maka yang perlu dilakukan adalah kejujuran dalam mengakui setiap kelemahan kita.
Mungkin, rencana tidak realistis. Memaksakan kehendak, strategi yang kurang jitu, kesungguhan yang tidak penuh, terlalu banyak ngelantur, sibuk dengan hal-hal kecil, atau alasan lainnya. Maka, diperlukan kesungguhan untuk melaksanakan refleksi dan pembelajaran dari kegagalan pertama. Sehingga, kita tidak terjatuh pada lubang yang sama.

Selanjutnya, rumuskan langkah. Jadikan kemarin sebagai cermin. Rencanakan untuk esok yang lebih cerah ceria. Melangkahlah dengan sumringah, bertabur senyum semangat, berbekal jutaan harap pada Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah menjadikan kita sukses di dunia, terlebih lagi kelak di akhirat. aamiin ya Robbal 'alamiin.

Jangan lupa untuk selalu mengistighfari dosa kita yang telah lalu. Astaghfirullahal 'adhiim... Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adhiim.. Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad.

Sukses milik kita, insya Allah. [Pirman]



Bidadari yang Terbuang

Ibu dan bidadari yang terbuang - ilustrasi
Dalam banyak ayat, Allah mengingatkan kepada kita, bahwa ujian, seringkali berasal dari orang-orang yang dekat dengan keseharian kita. Baik yang bernasab layaknya bapak, ibu, saudara kandung, teman hidup baik suami maupun istri. Juga, orang-orang terdekat yang tidak ada kaitan darah seperti tetangga, sahabat atau siapapun yang dekat dalam kehidupan kita.

Tak terkecuali dalam kehidupan bisnis. Hal ini berlaku serupa. Adalah Malin Kundang. Sebuah legenda yang sangat populer. Lantaran bisnis, gengsi dengan kehidupan istri dan mertuanya, ia campakkan orang tuanya. Hingga akhirnya, dia terkutuk. Menjadi batu. Dan namanya, abadi dalam ketidakbaikan.

Tentu, sebagai orang yang berakal. Kita berharap agar tidak menjadi Malin Kundang berikutnya. Karena sebelum ajal menjelang, siapapun kita, bisa menjadi apapun selama kita tidak waspada dalam mendidik diri. Ini niscaya. Karena setan, tidak akan membiarkan kita berada dalam pendukung dan pelaku kebenaran.

Saya ingin menamainya dengan Fulan. Ia hidup di sekitar Jazirah Arab. Kegigihannya dalam berusaha telah mengantarkan dirinya menjadi seorang pebisnis ulung. Ia berpindah dari satu lokasi menuju lokasi lain untuk memperdagangkan komoditinya. Hampir semua tempat, sudah pernah ia jelajahi.

Ia hidup berempat. Bersama istri tercintanya, anak semata wayang penyejuk hati, dan ibu yang sudah tak muda lagi. Ibu yang telah melahirkannya itu, menderita lumpuh. Alhasil, cara hidup nomadennya ini, bertambah berat lantaran harus mengurusi sang ibu. Artinya, ia harus memindahkan ibunya, kemanapun ia beranjak.

Hingga akhirnya, ia mengalami puncak kegelisahan. Dalam gelisah itulah, timbul sebuah ide konyol. Ide yang sama sekali tidak manusiawi. Dan tak layak dilakukan oleh manusia manapun, apalagi dari anak terhadap ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan dirinya itu. Namun, takdir hendak memberikan pelajaran untuk kita, generasi setelah Fulan tiada.

Ia kemudian berkata kepada istrinya, menyampaikan ide gilanya itu. “Umi, sore ini kita akan beranjak ke daerah lain. Kembali menjajakan barang dagangan kita. Tolong, kemasi semua barang ibu. Kita tinggalkan ibu di tengah sahara. Abi lelah karena ibu sudah sangat merepotkan kita.”

Sang istri, hanya diam. Kemudian mengangguk sembari melaksanakan perintah belahan jiwanya itu. Naluri kemanusiaan sang istri terusik. Namun, sebagai istri, ia tak bisa berbuat banyak.

Hingga akhirnya, apa yang dititahkan oleh Fulan ditunaikan dengan baik. Sang istri, melakukan lebih dari yang diminta. Di samping meninggalkan mertuanya, ia menyertakan anaknya. Mereka berdua ditinggal di tengah sahara. Dengan ancaman mati kedinginan atau diterkam binatang buas.

Sesampainya di tempat yang dituju, Fulan memanggil istrinya. “Umi, dimana anak kita? Aku ingin rehat sejanak sembari bermain dengannya. Agar luruh lelah yang menggelayut selepas perjalanan tadi.”

Tanpa canggung, sang istri menjawab, “Aku meninggalkan anak kita bersama ibu di tengah sahara.” Bagai disambar petir, Fulan langsung menyergap, sembari membentak, “Ha?! Kenapa kau tinggalkan anak kita bersama Ibu? Bukankah aku hanya menyuruh untuk meninggalkan ibu?”

Dengan sangat tenang, sang Istri menyahut, “Jika kubawa anak kita, dan hanya meninggalkan ibu, maka kelak, anak kita akan membuangmu sebagaimana kau membuang ibumu.”

Tanpa kata, Fulan langsung memacu kendaraannya ke tengah sahara. Hingga didapatilah pemandangan yang menyadarkan hati. Ibu dan anaknya tengah dikelilingi binatang buas. Sang anak ketakutan. Dan wanita terbuang itu, tengah mendekap erat cucunya, seraya melindungi. Fulan bergegas mengibas-ngibaskan pedangnya untuk menguisir kerumunan binatang buas yang hendak menerkam ibu dan anaknya.

Setelah aman, ia menyungkur sujud, menangis sejadi-jadinya, meminta maaf, sambil menciumi ibu dan anaknya.

Begitulah. Terkadang, kehidupan dunia bisa membutakan mata hati. Maka dalam cerita ini, istri, ataupun pasangan hidup kita, berfungsi sebagai penyeimbang. Yang mengingatkan di kala kita lupa. Yang meluruskan di kala kita tengah melenceng. Pasangan hidup itu, adalah mereka yang mengulurkan tangannya di saat orang lain enggan untuk membantu.

Sejatinya, orang tua adalah sarana utama bagi suksesnya seorang anak. Meskipun, secara kasat mata, ketika keduanya sudah memasuki senja, keberadaan orang tua nampak merepotkan. Namun, jika kita menggunakan kaca mata langit, keberadaannya adalah sumber kesuksesan.

Dari cerita Fulan ini, kita belajar. Bahwa ibu, dalam berbagai kasus adalah ujian bagi kita anak-anaknya. Dari si Fulan, kita juga belajar tentang hikmah. Bahwa penentangan akan ketidakbenaran, tidak selalu berbentuk kalimat kasar, melainkan dengan tindakan cerdas yang berasal dari hati, hingga sampai pulalah ke dalam hati.

Mari, bahagiakan ibu. Maka Allah, pasti membahagiakan kita. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



Catatanku tentang Ibu

Kasih ibu - ilustrasi
“Nyai Yah masih inget, dulu nyai berjalan sekian kilo hanya untuk mendapatkan beras” kata Nyai Yah saat kami silaturrahmi ke tempat beliau.

“Sekarang Nyai seneng lihat anak-anak sudah besar dan jadi guru semua” Nyai Yah menambahkan. Ada rasa haru dan pedih saat mendengar perkataan Nyai Yah. Cerita mengenai seorang ibu yang berjuang demi kesuksesan anak-anaknya. Cerita yang mengingatkan saya pada hari-hari saya bersama ibu.

Dulu keluarga kami tak seperti sekarang. Ayah dan ibu hanya seorang petani sekaligus usaha sarung kecil-kecilan. Kami hidup 3S (sangat sederhana sekali). Kala musim kemarau datang, kami kesulitan mencari air sehingga hampir tiap malam ibu mengajak saya menimba air di sumur samping masjid sebelah. Itupun kalau saya sedang tidak malas. Biasanya kalau saya sedang malas ibu menimba sendirian. Dan mengangkat berjerigen-jerigen air dari masjid ke rumah yang jaraknya sekitar 200 meter.

Karena pekerjaan yang cukup berat, ibu jadi sering sakit. Dari mulai mag, typus sampai paru-paru yang awalnya kami kira itu hanya batuk biasa. Sehingga hari-hari kami lalu dengan ibu yang sering terbaring sakit. Saya dan kakak jadi sering makan mie instant karena ayah juga tak pandai masak.

“Ya Allah, beri ibuku kesembuhan hingga ibu bisa hidup sampai aku SMP” doa saya di samping ibu yang terbaring lemah di tempat tidur dengan suara batuk yang membuat sesak dada saya. Saya yang waktu itu duduk di kelas 4 SD itupun tak mengerti apa-apa. Saya hanya sering melihat ibu sakit-sakitan. Terbaring lemah ditempat tidur. Selain itu saya juga sering mimpi kalau ibu akan pergi mendahului kami.

“Ibu... ibu jangan pergi” teriak saya dalam mimpi. Biasanya setelah itu saya langsung ke kamar ibu untuk memastikan beliau masih bernafas.

Seiring berjalannya waktu, perlahan ibu mulai jarang sakit. Seingat saya terakhir ibu sakit parah setelah ibu melahirkan adik. Saya sangat senang sekali. Namun saya terlena dengan kesehatan ibu. Saya jadi sering main, bandel dan tak bisa membahagiakan beliau.

Tahun 2008 setelah lulus SMA saya memutuskan untuk kuliah di Jawah Tengah. Berat ibu melepaskan saya setelah 3 tahun kami berpisah karena beliau meminta saya untuk mondok. Beliau lantas menyuruh saya untuk ikut SMPB lagi di Surabaya. Tapi saya tetap bersikukuh dan tetap berangkat walau ibu masih berat untuk melepaskan saya.

“Nur, kamu tahu ga? Hampir tiap hari ibumu menangisimu” kata Fita sahabat karib saya yang saat itu bekerja di rumah saya.

“Apa?” Saya terperanjat. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Fita. “Fit? Kamu yang benar?” tanya saya sekali lagi disambut anggukan Fita. Air mata saya mulai berjatuhan. Bayangan ibu menangis kembali menyeruak dalam hati saya, mencabik-cabik hati yang dulu diliputi keegoisan karena tak pernah memikirkan perasaan ibu.

Dengan segenap penyesalan ingin rasanya saya berhenti kuliah dan menemani ibu di rumah. Tapi aah... semuanya sudah terlanjur. Saya harus menyelesaikan studi saya dan harus membuktikan pada ibu kalau saya bisa mewujudkan mimpi saya.

Sungguh saya tak pernah tahu bahwah ibu begitu menyayangi saya. Di depan saya beliau kelihatan tegar, walau beliau sendiri rapuh. Kadang saya malah lebih sering ngambek karena sering dibanding-bandingkan dengan saudara. Dan memang ketika di rumah saya lebih sering berbuat onar dan bandel. Saya sengaja seperti itu supaya ibu tega untuk melepas saya ketika saya berangkat.Tapi itulah ibu, kasih sayangnya tak pernah putus walau “senakal” apapun saya di mata beliau.

Setiap saya berangkat ke pondok, setiap saya mau balik untuk melanjutkan studi saya yang belum selesai, kue buatan ibu, masakan ibu, bahkan hadiah dari ibu selalu mengisi tas ransel saya. Bahkan tak jarang ibu memberi saya uang saku tambahan.

Kecup kening ibu yang begitu hangat, doa-doa ibu dalam setiap sujud panjangnya. Aaah ibu… sungguh engkau wanita yang luar biasa. Doa-doamu diijabah olehnya. Ridhomu adalah ridho-NYA.

Saya masih ingat kata-kata beliau waktu saya bersikukuh untuk tinggal di tanah rantau. “Nak, dimanapun kamu hidup asal ibu ridho hidupmu akan berkah”. Dan ternyata itu benar. Engaku ridho kepada saya, meski berat rasanya untuk berpisah dengan “keluarga baru saya” di sana. karena ridhomu semuanya dipermudah oleh-Nya.

Ibu… beliau segalanya bagi saya. Saya tak menyangka dengan doa waktu kecil saya. Saya tak percaya dengan mimpi-mimpi saya yang selalu membuat saya gelisah dan murung. Karena saya tahu kasih sayang beliau yang begitu tulus mengisi setiap ruas sendi saya yang kini mulai rapuh.

Setiap kali saya pulang, memijit-mijit tangan beliau. Saya merasakan tangan beliau kian hari kian kusut. Tubuh itu tak sekokoh dulu. Wajah itu tak sesegar dulu. Namun kasih sayang dan cintanya tetap berdiri anggun dalam rengkuhan cinta-Nya.

Aku mencintamu dengan setulus hatiku, aku menyanyangimu dengan segenap jiwa ragaku. Meski itu tak bisa membayar semua pengorbananmu wahai ibuku... [Ukhtu Emil]

Semoga Ibu Semakin Disayang Allah

Semoga Ibu semakin disayang Allah (foto Pirman)
“Bu, apa kabar? Semoga iman selalu tertanam di dalam dadamu. Semoga Islam selalu menjadi pegangan hidupmu, hingga Izrail menjemputmu. Semoga taqwa senantiasa mengiringi hari-harimu. Semoga ihsan senantiasa menemanimu, di mana dan kapanpun kau berada.”

“Bu, apakah kau sudah makan pagi ini? Menu apakah yang kau masak dan sediakan untuk dirimu dan adik-adikku?”

Ah, jika bicara makanan, aku pasti ingat akan dirimu. Karena kau adalah koki paling hebat di dunia ini. Sekalipun hanya bayam, bawang merah, bawang putih dan cabe, namun kau bisa menyulapnya menjadi makanan yang penuh cinta, full kasih, sarat sayang. Sehingga aromanya adalah nikmat, rasanyapun mantap. Tak ayal, sederhana yang nampak luar biasa. Dan kini, aku sungguh merindukan luar biasanya masakanmu itu.”

“Bu, apakah kau sudah sholat ?”

Kawan, aku malu jika menanyakan ini pada ibuku. Dulu, ketika aku masih kecil, beliaulah yang cerewet mengajakku untuk sholat. Dengan segala macam kesibukan yang beliau emban, beliau sempatkan mencariku yang tengah asyik dengan duniaku. Dengan cinta beliau menyapaku, “Mas, sudah sholat belum?” Beliau memanggilku dengan bahasa cintanya, ”Mas”. Dan kini, aku bukan ingin mengguruinya dengan menanyakan sholatnya. Bukan itu, aku hanya ingin mengingatkannya. Karena aku tidak mau kita berbeda tempat di akhirat kelak. Inginku sederhana Bu, kita bersama menghuni surgaNya, Amin.. ya Rabb.

Bahkan beliau tak pernah menyerah untuk menanyai sholatku, padahal hampir setiap ditanya, bukan jawaban yang kuberikan, melainkan mirip bantahan, ”Ngapain nanya-nanya sholat segala?”, ucapku kesal. “Gak lihat sedang asyik main sama teman apa?” lanjutku. Astaghfirullah.. Maafkan aku Bu, semoga Allah mengampuni semua khilafku padamu.

“Bu, Ibu sudah mandi?” Ingin sekali aku dimandikanmu, seperti dulu ketika aku kecil. Mandi bersamamu dengan air sayang, dicampur kehangatan kasih. Membersihkan setiap kotoran yang melekat ketika diri memang belum berdaya apa–apa. Pun, ketika diri ini sudah bisa berlari dan bermain, aku masih sering dimandikan olehmu.

Tanganmu lembut sekali, belaianmu benar-benar menguatkanku. Dengan sabar kau lakukan peran itu. Menggosok pelan tubuhku, membersihkannya dengan sepenuh jiwa, seperti kau memandikan dirimu sendiri. Bahkan, kau lebih bersih, lebih teliti dalam memandikanku, daripada ketika kau bersihkan dirimu sendiri. Dengan segenap batas, ijinkan aku untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk kasihmu yang tiada terbalas.

“Bu, Ibu sedang apa sekarang ?” Mudah-mudahan Allah melapangkan semua aktivitas kebaikanmu. Semoga Allah mencegahmu dari berbuat keburukan, sekecil apapun. Semoga, Allah menjadikan setiap lakumu adalah keberkahan, sehingga bisa mengantarkanmu dan kami (anak-anakmu) ke surgaNya kelak, Aamiin. Jangan lupa ya Bu, iringi setiap langkah dengan dzikir, dengan munajat panjang untuk kami, anak-anakmu. Karena Allah tidak akan menolak doa kebaikan dari seorang Ibu kepada anaknya. Untuk yang kesekian kalinya, ijinkan aku mengucapkan, ”Jazakillah ahsanal jazaa atas semua yang kau berikan kepada kami, termasuk doa-doa panjangmu, yang tak pernah putus demi kebaikan kami, anakmu”

Bu, aku tersinggung ketika kau bertanya demikian, ”Mas, nanti kalau Ibu sudah tua gimana? Ibu khawatir jika kalian akan meninggalkan Ibu sendirian.” Hatimu sungguh halus, selembut sutra bahkan lebih lembut lagi. Jangan khawatir Bu, Allah pasti memudahkanku untuk merawatmu, sebagaimana kau merawatku dulu. Akan kuajak kau serumah denganku, dengan istriku, juga dengan cucu-cucumu nanti.

Insya Allah, Allah pasti akan memudahkan terwujudnya niat baikku itu. Tak perlu kau risau, tak perlu kau ragu. Aku sudah berkomitmen untuk tidak menjadi seperti Malin Kundang yang durhaka pada ibunya. Aku hanya ingin seperti para sahabat Nabi yang membaktikan hidupnya untuk orang tua mereka. Karena kebaktian kepadamu, karena kedekatan hati denganmu, adalah sumber keberkahan di dunia ini, juga dia khirat kelak. Tentunya, selama kau tidak menyuruhku untuk melanggar aturan-aturan Allah.

“Bu, aku rindu padamu, sangat rindu sekali.” Walaupun kutahu, rinduku hanyalah seujung kuku jika dibanding dengan rindumu yang sepanjang masa. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Aku rindu senyummu. Aku rindu teduhnya wajamu. Aku rindu belaian tanganmu. Aku rindu pijitan cintamu. Aku rindu dekapanmu. Aku, rindu gurauanmu. Aku rindu kemanjaan di waktu tuamu. Aku rindu masakanmu. Aku rindu omelanmu. Aku, aku, aku, merindukan semua tentangmu. Karenamulah, aku belajar rindu. Semoga rindu ini akan berakhir di tempat terindah yang Allah sediakan kelak di surgaNya. Untuk anak dan orang tua yang saling merindukan Surga, pertemuan sejati dengan Allah. Aamiin ya Rabb.

“Bu, jikapun aku jauh dari fisikmu. Yakinlah! Bahwa diriku tengah mencoba mendekatkanmu dalam setiap jenak kehidupan. Dalam setiap doa bahkan desah nafas. Dalam setiap langkah, aku akan selalu menyertakanmu. Karena Rasul pernah bersabda, ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua. Murka Allah tergantung kepada murka orang tua. Maka dari itu, ridhoilah anakmu ini agar Allah tidak memurkai diri yang banyak salah ini.”

“Bu, usiamu semakin senja. Namun, sedikitpun tak kujumpai kelelalahan dalam dirimu. Senyummu tambah merekah, tawamu tambah renyah, bincangmupun semakin sarat makna. Aku tak tahu, terbuat dari apakah dirimu, sehingga begitu tegarnya dalam mengahadapai karang kehidupan yang seringkali mengahantammu sesukanya. Ah, lagi-lagi aku lupa! Bahwa kau adalah manusia terbaik di dunia ini setelah Rasulullah. Bukankah Allah pernah berpesan bahwa Ibu berbanding tiga kali dengan Ayah? Maka, di senjanya usiamu yang kian bergairah, ijinkan kami untuk berbakti, sekali lagi, walaupun apa dadanya.”

Bu, jangan berhenti melantunkan doa agar aku bisa membuatmu tersenyum bangga, di dunia dan terlabih lagi di akhirat.

Ah, aku lupa!!

Kawan, apakah ibumu sudah bertemu Allah?

Jika ‘Iya,’ maka belum terlambat. Masih ada waktu untuk berbakti padanya. Doakan dengan doa terkhusyu’ yang kau punya. Agar Allah mengumpulkanmu dan ibumu di surgaNya. Lakukan pula sedekah, lalu hibahkan pahala untuknya. Karena Nabi mengajarkan hal itu. Lakukan pula haji dan niatkan untuk menghajikan Ibumu jika ternyata beliau belum sempat bertamu ke bumi Allah di Makkah. Lakukan pula amal sholih, terus menerus, agar beliau tersenyum melihat kegigihanmu di dunia ini.

Jika ibuku yang masih hidup saja sangat kurindukan, padahal bisa kutemui sewaktu-waktu, maka aku tidak bisa membayangkan betapa rindunya dirimu kepada ibumu yang telah berada di negeri yang sangat susah untuk sekedar kau temui atau untuk kau kecup keningnya. Tapi, yakinlah kawan! Bahwa kau akan menemuinya kelak di Surga. Amin.. Ya, Rabb.

Terakhir, untuk para calon ibu, “Jadilah ibu yang melahirkan pahlawan bagi agama Allah. Karena tidak ada balasan bagi para mujahid selain menang atau surga. Jangan biarkan dirimu dipersunting oleh orang yang tidak mau tahu tentang agamaNya. Namun relakan dirimu, ketika ada orang yang dengan tulus akan mengajakmu meniti jalan cinta para pejuang, jalan cinta yang akan mengantarkanmu, pasanganmu dan keluargamu ke surga yang sangat indah.”

Untuk para ibu dan calon ibu di seluruh dunia, kuucap syahdu penuh rindu, “Semoga Allah memudahkanmu untuk mendidik para mujahid di jalan Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepadamu. Semoga Allah melindungimu, selamanya. Aku, mencintaimu karena Allah. Semoga Allah semakin menyayangimu, selalu dan selamanya.” []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



Jihadku untukmu, Ibu

mencium tangan ibu (foto de_liyana on photobucket)
“Jangan kau gadaikan prinsipmu, Anakku!!!” kata-kata itu selalu membayangi pikiranku. Setiap kali aku akan melangkah, pasti kata-kata ini kembali berputar-putar dalam benakku.

***

Aku begitu bahagia ketika dipanggil sebagai peraih NEM tertinggi di SMA-ku saat itu. Tapi di sisi lain, aku melihat wajah ibuku yang tak menampakkan sedikitpun rasa bahagia atas prestasi yang telah kuraih habis-habisan selama 3 tahun ini. Ada apa dengan ibuku?

“Selamat ya anakku, atas prestasi yang telah kau raih selama ini. Ibu cukup bangga denganmu, anakku sayang”, tuturnya sangat lembut.

‘Cukup bangga?!?!?’ ini yang membuat jantungku berdebar hebat, yang membuat otakku berpikir keras, yang membuat mataku susah terpejam di malam hari. Kenapa koq ‘cukup bangga?’ Kenapa bukan dengan ‘sangat bangga?’, padahal aku telah mati-matian berusaha untuk mendapatkan ini semua hanya untuk membuatmu bangga ibuku. Tapi...

***

Alhamdulillah, 10 lamaran pekerjaan telah kumasukkan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga pekerja. Kini aku tinggal menunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan yang telah membuka dan membaca serta mempelajari surat lamaranku itu.

Subhanallah, 3 hari dalam masa penantian, akhirnya tiba juga. Tujuh dari sepuluh perusahaan merespon surat lamaranku itu. Aku mendapatkan panggilan untuk tes tulis dan tes wawancara. Saat itu hatiku mulai galau, perusahaan mana yang akan ku datangi? Semua memanggil di hari yang sama dan jam yang sama pula. Ya Allah beri aku petunjukMu.

“Anakku, pakailah ini saat kau berangkat tes ke perusahaan yang engkau inginkan”, senyum itu sangat luar biasa untukku. Yah, senyuman ini yang membuat galauku mulai memudar. Senyuman ini yang sangat kurindukan bertahun-tahun lamanya. Sebuah jilbab biru dongker beliau sodorkan kepadaku.

“Jangan kau gadaikan prinsipmu, anakku!!! Insya Allah, Allah akan selalu bersamamu”. Nyess...luluh sudah hati ini, berlinanglah airmata di kedua mataku. Ibuku oh ibu...

Berangkatlah aku menuju perusahaan yang sangat aku idamkan. Gaji besar, fasilitas terpenuhi, libur Sabtu-Minggu plus libur hari besar dan pekerjaan yang tak membutuhkan tenaga terlalu banyak. Aku tak menghiraukan 6 panggilan tes perusahaan yang lainnya. Alhamdulillah tes tulis lolos, tes wawancara exellent, tapi ada satu hal yang sangat mengujiku saat itu.

“Apakah anda berjilbab?”, HRD mulai menanyaiku selepas tes wawancara.

“Kenapa bu dengan jilbab saya? Apakah jilbab ini sangat mengganggu di perusahaan ini?”, tanyaku balik.

“Aturan di perusahaan ini adalah tidak diperkenankan seorang wanita memakai jilbab. Bagaimana?”, tanyanya dengan mimik yang sangat serius.

“Saya lihat, tes tulis anda sangat luar biasa. Begitupun dengan tes wawancara, tidak diragukan lagi. Anda berpeluang untuk menempati asisten Kepala Bagian produksi di perusahaan ini”, kepalaku mulai cenat-cenut saat itu.

“Apakah tidak ada jalan lain bu untuk solusi dari jilbab ini? Mungkin jilbab ini dimasukkan dalam pakaianku atau...”.

“Maaf mbak, aturan tetaplah aturan! Kami tidak berani menanggung resiko, apabila terjadi kecelakaan hanya gara-gara sepotong jilbab, apalagi anda berada di bagian produksi”.

Aku berpikir dalam-dalam. Disatu sisi, perusahaan ini adalah idaman semua orang, termasuk aku. Di sisi lain, akankah kugadaikan jilbabku ini?!?! Ya Robb, bantulah hambaMu ini.

Subhanallah, saat itu juga aku teringat kata-kata ibuku. “Jangan kau gadaikan prinsipmu, anakku!!!”. Ibu maafkan aku apabila keputusan ini tidak membuatmu bangga dan maafkan aku apabila keputusan ini tidak membuatmu bahagia ibu. Ku tarik nafas dalam-dalam dan Bismillah, dengan tegas kukatakan kepada bu HRD, “Terima kasih saya sampaikan atas tawaran, apresiasi dan juga respon yang luar biasa dari ibu dan perusahaan ini kepada saya. Saya sungguh menyesal, karena keputusan yang akan saya sampaikan ini. Saya memutuskan untuk memilih mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya mohon maaf apabila ada tutur kata yang kurang berkenan di hati ibu. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih banyak atas semuanya”, dengan mantap kutinggalkan ruangan itu sambil tersenyum lega. Allahu Akbar...

***

Sahabatku, tahukah kalian, apa yang terjadi setelah itu? Aku menangis dalam dekapan ibu. Aku terisak dalam tangisku, karena menyesal tidak menyanggupi dan tak mampu membahagiakan sang Ibu, orangtua satu-satunya yang kumiliki saat ini. Tapi, di balik itu semua, Ibu ‘sangat bangga’ dengan keputusan yang kuambil. Keputusan yang sangat tepat dan sangat luar biasa. Inilah awal aku membuatnya bangga dan bahagia. Meskipun setelah itu, aku bekerja sebagai pegawai biasa dalam sebuah koperasi yang gajinya sangat minim sekali. Alhamdulillah, sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat istimewa. Ini semua karena do’a tulus darimu ibuku dan ini sebuah karena ridhomu. Terima kasih ibuku, I love U so much.

Sahabatku, Ridho Allah tergantung pada ridho orangtua dan murka Allah tergantung pada murka orangtua. Andai saat itu aku tetap memilih untuk menerima pekerjaan dan tak mempedulikan jilbab pemberian ibuku, mungkin aku tak akan mendapatkan karuniaNya. Mungkin saat ini, hidayah tak kunjung datang menghampiriku. Atau mungkin aku akan selalu membuatnya ‘cukup bangga’ denganku. Andai saat itu aku tak mempedulikan pesan ibuku untuk selalu menjaga prinsip ini, pastilah aku sudah jadi anak durhaka saat ini, Na’udzubillah..

Sahabatku, akankah kita gadaikan prinsip ini hanya demi mengejar kesenangan di dunia? Akankah kita jual prinsip ini hanya dengan lembaran-lembaran uang yang tak sedikitpun mendapat ridhoNya? Atau akankah kita tukar amanah seorang ibu dengan jabatan yang sementara dan tak berarti di hadapanNya? Jangan kau gadaikan prinsipmu!!! Kapanpun dan dimanapun aku akan tetap berjuang untuk mempertahankan prinsip ini, ibuku, meski darah harus mengucur dari tubuhku atau nyawa harus melayang. Aku akan tetap memegang kata-katamu dan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankannya.

“Jangan kau gadaikan prinsipmu, Anakku!!! [Heny Rizani. Spesial untukmu, Ibu]

Ketika Cinta Harus Memilih

CInta - ilustrasi
Dalam perjalanan kehidupan, pasti pernah mengalami pertentangan. Atau, sebuah persimpangan jalan. Baik antara kita dengan ayah,ibu, pasangan hidup, anak, tetangga ataupun sahabat dan orang lain yang berinteraksi dengan kita.

Ketika menjumpai persimpangan itulah, kedewasaan dan kebijakan kita dipertaruhkan. Jika benar memilih, insya Allah baik kesudahannya. Jika salah jalan, bisa jadi itu adalah awal kehancuran. Di dunia, terlebih lagi di akhirat.

Sebut saja ketika kita hendak memasuki perguruan tinggi. Dalam fase ini, tak jarang ada perdebatan yang sengit antara ingin kita dan kemauan orang tua. Jika hal ini tidak didiskusikan dengan kepala dingin, bisa jadi akan buruk kesudahannya.

Dalam memilih jodohpun, hal ini kerapkali terjadi.

Sebut saja Bejo. Atas kerja keras ibunya, ia berhasil diwisuda sebagai dokter. Selepas itu, dia berkenalan dengan seorang wanita. Keduanyapun bersepakat untuk mengikat cinta dalam bingkai kehalalan. Menikah.

Keduanya larut dalam kebahagiaan lantaran dipertemukan dengan belahan hatinya. Namun, sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Khususnya bagi Bejo. Calon istri yang selama ini dia impikan itu, memberikan syarat yang berat.

Sebelum mengucap kata sepakat untuk melangsungkan akad, wanita yang kelak menjadi bidadarinya ini berujar, "Ada syaratnya, tolong jangan ajak Ibumu untuk hadir dalam pesta pernikahan kita."

Seperti mendapat simalakama, Bejo belum bisa memutuskan. Hingga akhirnya, ia teringat akan sosok dosen yang selama ini telah menjadi Guru Spiritualnya.

Sebelum memberi jawaban, didatangilah Sang Dosen. Diceritakanlah apa yang tengah dia alami, hingga akhirnya sang Dosen bertanya, "Apa yang membuat calon istrimu itu keberatan jika Ibumu hadir dalam pesta pernikahan kalian?"

Bejo pun berkisah, sambil menerawang, "Selama ini, hingga saya lulus sebagai Dokter, yang membiayai hidup dan pendidikanku adalah Ibu. Karena ayah sudah lama tiada. Ibu bekerja sebagai tukang cuci baju keliling. Mungkin, calon istriku malu jika di pesta pernikahan nanti, semua kolega ayahnya mendapati malu lantaran besannya adalah Ibuku yang hanya tukang cuci baju keliling."

Seraya memahami, sang Dosen berpesan, "Silahkan pulang ke rumah. Cuci tangan Ibumu. Esok harinya, datanglah lagi ke mari."

Tanpa tapi, Bejo langsung mematuhi apa yang disarankan oleh Dosennya itu. Sesampainya di rumah, Bejo langsung mencari Ibunya, dan kemudian meminta ijin untuk mencuci tangan wanita yang selama ini telah menghidupi dirinya itu.

Dalam prosesi pencucian tangan itu, Bejo dibuat terkejut lantaran tangan ibunya yang rusak. Iritasi akut bersebab sering terkena sabun ketika mencuci. Ketika itu pula, sang Ibu menahan perih. Tak terasa, Bejo pun menangis. Betapa selama ini,dirinya hidup di atas perih yang dialami Ibunya, selama bertahun-tahun.

Setelah selesai, Bejo langsung memahami apa yang dimaksudkan oleh Dosennya. Ia langsung menghubungi Dosennya itu, "Pak, saya sudah memahami apa yang bapak maksudkan. Saya tak perlu lagi menunggu sampai esok hari. Saya tidak mungkin meninggalkan Ibu ketika pesta pernikahan kami nanti, karena beliau telah mewakafkan seluruh hidupnya untukku, hingga aku menjadi seperti sekarang ini."

Begitulah, persimpangan-persimpangan dalam kehidupan kita, kerap kali dihadirkan sebagai pelengkap, agar hidup lebih dinamis.

Yang perlu diperhatikan, dalam hal ini, adalah jebakan kegegabahan. Jika salah, fatal akibatnya. Sehingga,berpikir bijak dengan meminta pertimbangan yang sudah berpengalaman, adalah keniscayaan.

Dalam hal ini, selalu terhubung dengan Allah sebagai sumber solusi, adalah kemestian. Pun, dengan mencontoh apa yang sudah dipraktekan oleh Para Nabi, Sahabat-sahabat Nabi, dan orang-orang yang telah berhasil melalui ujian hidup dengan gemilang, sesuai dengan apa yang Allah inginkan.

Calon istri anda, bisa jadi tak hanya satu. Tapi Ibu Kandung anda, sampai kapanpun, tidak mungkin lebih dari satu. Ia adalah Ibu, yang sudah berbahagia ketika anda menghuni rahimnya. Padahal, tak ada jaminan dari siapapun, sedikitpun, bahwa kelak, anda, anak-anaknya, akan menjadi permata hati yang membuat ia berbahagia.

Bu, maafkan jika bakti kami selama ini, ala kadarnya. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



Penjara dalam Kaca Mata Pencetak Sejarah

Sayyid Quthb di penjara (foto blogammar.com)
Dalam kaidah-kaidah kehidupan orang besar di setiap lapis zaman, penjara memiliki makna yang unik, berbeda dan kelak menyejarah.

Kita mulai dari Ibnu Taimiyah. Bagi beliau, penjara tak ubahnya surga. Di sana, beliau memiliki kesempatan tak terbatas untuk selalu 'berdua' dengan Allahnya. Ungkapan beliau yang sering dikutip, kurang lebih bermakna, "Bahwa surga, kebahagiaan, adanya di dalam hati." Sehingga, selama hati selalu lapang, dekat dengan Allah Sang Pencipta, tak berartilah semua masalah terkait dunia yang remeh temeh ini.

Selanjutnya, ada Sayyid Quthb. Pemikir Islam yang sempat melalang buana di Negeri Paman Sam ini, akhirnya menemukan pelabuhan hatinya pada Islam yang mulia. Karena vokalnya beliau dalam menentang segala macam pemikiran yang menentang Islam, beliau dipenjara oleh rezim keji Mesir kala itu.

Quthb yang dipenjara, tak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Bayangkan, bagaimana bisa, seseorang yang dipenjara sanggup menyelesaikan tafsir yang kemudian menjadi monumental di sepanjang zaman? Kapan menulisnya? Kertas dan tintaya dari mana? Apakah ada penerangan yang cukup? Bagaimana untuk hunting informasi? Dan, seterusnya.

Pelajaran berikutnya, bahwa kesungguhan selalu membuahkan hasil yang monumental. Hingga kini, Fi Zhilalil Qur'an gubahan Sayyid Quthb dicetak di berbagai negara, dalam berbagai bahasa, oleh banyak penerbit, dan menjadi inspirasi Gerak Aktivis Muslim. Di negeri kita sendiri, tafsir ini dicetak oleh sedikitnya dua penerbit puluhan kali.

Penjara, bagi Quthb adalah tempat untuk berkarya. Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk umat.

Dari dalam negeri, kita punya Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Lelaki yang menjadi Ketua MUI Pertama ini sempat mendekam di balik hotel prodeo atas prakarsa rezim di negeri ini.

Apa makna penjara bagi ulama yang akrab dipanggil Buya HAMKA ini? Beliau menuturkan dengan lugas kepada kita, "Tiga hari di dalam penjara, saya sudah mengkhatamkan al-Qur'an 5 kali. Dalam kurun waktu 2 tahun di dalam penjara, saya mengkhatamkan al-Qur'an sekitar 150 kali."

Apakah selesai sampai di situ? Tidak, kawan-kawan!

Selama dua tahun itu, HAMKA merampungkan penulisan Tafsir Al-Azhar sebanyak 28 Juz. Karena dua juz (yakni juz 18 dan 19) sudah diselesaikan sebelum beliau dijebloskan ke dalam jeruji besi.

Sekeluarnya beliau dari hotel prodeo, uang hasil royalti penulisan tafsir itu bisa digunakan untuk menjalankan ibadah haji di tanah suci. Bukan hanya beliau, tetapi juga untuk keluarganya. Hingga kini, tafsir yang diterbitkanoleh Pustaka Panjimas ini, menjadi inspirasi bagi mereka yang hendak menyelami samudera al-Qur'an dan hendak menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman mereka untuk menjalani kehidupan ini.

Ketiga orang besar ini, memberikan kita pelajaran berharga. Bahwa di manapun, dan bagaimanapun keadaan kita saat ini, hendaknya tidak membuat diri malas untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk umat. Bahwa bahagia, prestasi, karya, dan karya monumental, sama sekali tidak terkait dengan suasana ataupun fasilitas. Tapi adanya di hati dan kemauan yang kuat untuk memberikan sumbangan terbaik bagi peradaban.

Selain ketiga nama besar di atas, kita masih ingat dengan sosok Mursi. Presiden Mesir yang hafal al-Qur'an ini, ketika dijebloskan ke dalam jeruji besi, hanya meminta dua hal, sajadah dan mushaf. Tentu, kita sama mengetahui, apa fungsi dari kedua barang berharga tersebut. Adalah dua diantara banyaknya sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Yang lebih hangat, sebagaimana kita jumpai bersama bebarapa hari yang lalu, ketika ada tokoh yang divonis berat, tidak berimbang dan sarat kejanggalan, beliau dengan tegar terus tersenyum dan berkata, "Kita tidak mungkin berharap keadilan dari orang yang tidak bisa berlaku berlaku adil terhadap dirinya sendiri. Kita hanya bisa berharap keadilan kepada Allah yang Maha Adil."

Nampaknya, bagi orang ini, penjara bisa bermakna surga sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah, atau tempat untuk menghasilkan Fi Zhilalil Qur'an sebagaimana Qutbh, atau sebuah fase untuk melakukan kontemplasi sebagaimana HAMKA ketika menulis Al-Azhar.

Kita tak tahu, dan tak pernah tahu akan apa yang terjadi esok hari. Jika saat ini, beliau yang dijadikan korban. Bisa jadi, kelak, entah kapan, kitalah yang akan diperlakukan selayak beliau-beliau yang telah melakukan sesuatu demi kebenaran.

Sehingga, yang perlu kita siapkan, selain kompetensi, adalah sebuah kesadaran, bahwa penjara bisa bermakna surga. Jika, kita bisa memaknai ruhani sebagaimana Ibnu Taimiyah. []




Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



Ujian itu Memisahkan Mana yang Emas dan Mana yang Loyang

Ilustrasi perang (foto pks-petir.org)
Kondisi di Makkah dan di Madinah sungguh berbeda. 12 tahun di Makkah, Islam hanya dipenuhi dengan orang-orang yang benar-benar beriman. Menjadi muslim di saat itu sama sekali tidak menguntungkan secara materi. Yang ada justru pengorbanan demi pengorbanan. Cacian, hinaan, intimidasi hingga siksaan dan bahkan pembunuhan.

Di Madinah, muslim adalah pemegang kekuasaan. Pundi-pundi kemelimpahan mulai terbuka. Kemenangan demi kemenangan didapatkan. Maka, beragam corak manusia menyatakan masuk Islam. Tidak mudah bagi sahabat sekalipun untuk memastikan siapa yang jujur dan siapa yang berdusta dalam keislamannya. Namun Allah memiliki banyak cara untuk menyingkap mana yang emas dan mana yang loyang.

Syawal 5 Hijriyah. Sepuluh ribu pasukan mengepung Madinah. Ini adalah pasukan koalisi terbesar yang pernah dihimpun bangsa Arab saat itu. Terdiri dari suku Quraisy, Kinanah, sekutu-sekutu dari Tihamah, Bani Sulaim, serta kabilah-kabilah Ghathafan. Pendek kata, seluruh suku memerangi Madinah. Jika hizb diartikan partai, maka perang ahzab ini maknanya adalah seluruh partai memusuhi Madinah.

Ini ujian berat. Tapi melalui ujian inilah Allah memisahkan mana yang emas dan mana yang loyang. Al Qur’an menjelaskan, ada empat golongan orang-orang Madinah menyikapi perang ahzab ini. Pertama, orang-orang munafik. Melihat pasukan ahzab datang, tampaklah kemunafikannya. Karena sesungguhnya mereka tidak pernah mempercayai janji Allah. “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’” (QS. Al Ahzab : 12).

Kedua, golongan yang ketika menghadapi ujian peperangan, mereka meminta ijin untuk pulang. Mereka mencari alasan agar tidak ikut berperang. Ayat 13 mengutip alasan mereka, “sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka, tidak ada yang menjaga.” Yang lebih parah, mereka juga memprovokasi orang lain untuk lari dari medan juang.

Ketiga, Al Qur’an menyebut mereka sebagai mu’awwiqiin, sukanya merecoki perjuangan. Di samping itu mereka malas berjuang di medan yang sulit dan beresiko tinggi. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk memisahkan diri, membuat kelompok sendiri.

Keempat, golongan orang-orang yang beriman. Melihat seluruh hizb datang untuk mengeroyok Madinah, mereka justru semakin beriman, yakin akan janji kemenangan, dan meningkatkan ketaatannya. “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.” (QS. Al Ahzab : 22)

Jika perang Ahzab menjadi ujian yang dengannya terlihatlah orang-orang yang beriman dari kelompok lainnya, demikian pula ujian-ujian berat yang menimpa harakah islamiyah. Pada saat hari-hari biasa, masa-masa menguntungkan, akan sangat mudah bagi banyak orang membersamainya. Namun di saat sulit, di saat ujian datang, saat itulah nyata siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang hanya berpangku tangan, atau bahkan sekedar mencari keuntungan.

“Sungguh, tidaklah setiap ujian itu dimaksudkan untuk melemahkan,” kata Ani Matta, “Namun justru ujian itu hadir sebagai sebuah keniscayaan untuk benar-benar memisahkan mana yang emas dan mana yang loyang” [Abu Nida]

Tentang Cinta dan Lapang Dada

Ilustrasi cinta
“Mencintai dan dicintai adalah sebuah anugerah terindah bagi makhluk yang bernyawa. Ya Allah, izinkan aku untuk tetap mencintainya dan menyayanginya hanya karenaMu semata“. Itulah sebuah kutipan yang tak sengaja aku temukan dari buku baru milik temanku yang tergeletak di dekat tempat tidurnya.

Memang dunia ini akan terasa indah apabila ada cinta. Entah itu cinta orangtua kepada anaknya atau sebaliknya, cinta seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya, cinta seorang guru kepada muridnya atau sebaliknya, bahkan bisa jadi cinta seorang sahabat.

“Sebenarnya aku masih sayang dia ukh, tapi kenapa dia selalu menyakiti hati ini?” itulah sebuah kalimat yang seminggu lalu aku lontarkan kepadanya. Dia hanya tersenyum ketika aku menyampaikan uneg-uneg tentang persahabatanku saat ini yang sedang memudar.

“Anti menyayanginya karena Allah kan?“ Aku manggut-manggut mengiyakan pertanyaannya. “Trus ngapain anti menangis? kan sudah jelas bahwa anti menyayangi dan mencintainya bukan karena apa-apa, tapi semua itu karena Allah”, jelasnya pasti. Aku tertegun mendengar jawaban itu. Sontak aku ingin berteriak, bodohnya diriku. Tapi....

“Kok anti melamun? nangisnya nggak dilanjutin lagi ta, hehe...”, ledeknya. Aku pun tersenyum dan segera kuseka airmataku. Aku dipeluknya erat dan tiba-tiba..., ”Hiks...hiks...hiks”. Segera kulepas pelukannya dan dengan bingung bercampur heran, aku tatap wajahnya yang basah karena airmata.

“Anti kenapa, kok menangis? Afwan ya ukh kalo aku membuatmu sedih” tanyaku. Dia menggelengkan kepala, cepat-cepat dia hapus airmatanya dan melemparkan senyum kepadaku.

“Ukhtiku yang cantik, aku menangis bukan karena kamu, tapi aku menangis karena aku teringat dengan sebuah kenangan yang sama denganmu. Itu semua sudah berlalu, karena aku tahu cintaku kepadanya hanya karena Allah. Jadi meskipun kita sudah tidak bersama lagi, aku akan tetap selalu menyelipkan do’a untuknya di setiap sholat malamku. Itulah arti sebuah ukhuwah uktiku sayang. Kita harus selalu berlapang dada dengan orang-orang yang kita sayangi, tak peduli mereka sayang dengan kita atau bahkan mereka sangat membenci kita. Itulah yang membuatku menangis, bukan karena kenangan yang telah berlalu, tapi karena indahnya mencintai karena Allah dan berlandaskan lapang dada”. Subhanallah, damai rasanya hati ini ketika mendengar kata-katanya.

Hidup tanpa masalah bagaikan lautan tanpa ikan alias gak seru, hehe... Sobat, inilah fenomena yang kerap kali menyapa kita. Karena ini adalah hidup yang harus kita jalani setiap harinya. Rasa sayang dan benci silih berganti. Namun semua itu bisa kita atasi, asalkan kita memiliki rasa lapang dada yang luar biasa.

Sobat, kita mesti tahu tingkatan-tingkatan dalam ukhuwah, di mana salah satu tingkatan tersebut adalah berlapang dada atau salamatusshodr. Berlapang dada itu sangat mudah kita ucapkan tapi sangatlah sulit kita lakukan. Tak semua orang yang tersakiti hatinya mampu memerankan sikap lapang dada ini di dalam dirinya.

Dan tak semua orang yang mempunyai cinta mau memaafkan dengan ikhlas kesalahan orang yang sangat dicintainya. Terkadang orang yang telah menyakiti kita telah meminta maaf, tapi ketika kita bertemu dengannya, tak ada lagi senyum menawan untuknya. Padahal lapang dada ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam ukhuwah. Jika yang paling rendah saja kita tak mampu, bagaimana bisa kita melakukan tingkatan yang paling tinggi????

Sobat, kita adalah manusia yang selalu diikuti bayang-bayang khilaf dan dosa. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau ada orang yang menyakiti kita, kita tidak sakit hati. Ini mustahil!!! Dan tidak mungkin juga cinta kita terhadap seseorang tidak terkikis sedikitpun bilamana orang tersebut menyinggung perasaan kita. Inilah sifat manusiawi dari seorang makhluk paling sempurna di dunia ini. Inilah kita!!! Tapi, ada seseorang di jaman Rosul shallallahu 'alaihi wasallam yang dijamin masuk syurga hanya karena sifat lapang dada yang dimilikinya.

Dia dijamin masuk syurga bukan karena amalan-amalan ibadah mahdlah yang dia miliki. Bukan juga karena dia dekat dengan Baginda Rosul. Tapi dia dijamin masuk syurga karena disetiap dia memejamkan mata di malam hari, dia selalu memaafkan dengan lapang dada dan penuh keikhlasan semua kesalahan orang-orang yang dijumpainya dan yang tak dijumpainya sejak dia membuka mata sampai kembali memejamkan mata. Dan itu tidak dia lakukan sehari dua hari, tapi itu dia lakukan setiap hari ketika dia hendak memejamkan mata di malam hari. Luar biasa!

Sobat, saatnya kita mencoba mencintai seseorang tulus karenaNya. Dan inilah saatnya kita belajar, bagaimana menerapkan dan mengalirkan sifat salamatusshodr ini dalam diri kita untuk orang-orang yang kita cintai dan kita sayangi ketika mereka menyentil hati ini. Tetap berikanlah senyuman terindahmu kepada orang-orang yang telah menyakiti hatimu, walau itu baru atau sudah kadaluwarsa. Tak ada kata terlambat untuk mencobanya, Sobat! Karena pintu syurga masih terbuka untukmu...

Wallahu a’lam bisshowab. [Heny Rizani]

 

suara islam Powered by Blogger