Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Tiga Sufi Berebut Roti

3 sufi (ilustrasi)
Perubahan hanya bisa diraih jika seseorang berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Perubahan tak semudah membalikan telapak tangan atau sim salabim dalam sebuah pertunjukan sulap. Itulah mengapa, Allah mengingatkan bahwa Dia tidak akan mengubah nasib sebuah kaum hingga kaum tersebut berupaya untuk mengubah dirinya sendiri.

Untuk melakukan perubahan itu, seringkali dibutuhkan sikap berani dan keluar dari kaidah keumuman. Sikap berani inilah yang akan membuat seseorang melakukan sesuatu yang lebih dari selainnya. Mereka bukan tidak berpikir, tetapi menyederhanakan pikir, kemudian bergerak dan terus menerus berpikir untuk di sepanjang geraknya, untuk menyempurnakan perubahan yang telah menjadi mimpi di setiap jenak kehidupannya.

Tersebutlah tiga orang sufi yang tengah berkelana mencari dan mengumpulkan kebenaran. Hingga sampailah di ujung siang. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah gua yang mereka temukan. Tepat ketika istirahat di gua tersebut, roti yang mereka bawa sebagai bekal hanya tersisa satu potong.

Alhasil, sebelum menutup mata, mereka melakukan musyawarah. Dalam pembahasan itu, mereka mencari ide tentang siapakah yang paling berhak untuk memakan sisa satu potong roti tersebut.

Aneka usul disampaikan, banyak ide dibicarakan. Hingga akhirnya, ketiganya menemukan satu solusi yang mereka anggap paling jitu. Satu diantara mereka menyampaikan usul yang kemudian diamini oleh kedua sufi lainnya, “Bagaimana kalau kita tidur terlebih dahulu. Besok, kita tentukan siapa yang paling berhak memakan roti. Kriterianya, yang berhak memakan roti adalah orang yang berhasil mendapatkan mimpi paling bagus, dan disepakati oleh kita semua bahwa mimpi itu benar-benar bagus.”

Malam menjelang, ketiganya beranjak ke pembaringan yang telah mereka siapkan sebelumnya. Dalam jenak, lantaran lelah yang mendominasi, merekapun memejamkan mata dengan optimisme yang penuh bahwa dalam tidurnya, masing-masing mereka akan mendapatkan mimpi yang terbaik.

Hingga akhirnya, fajar menyingsing. Subuh tertunaikan dengan sempurna, dan pagi mulai menyapa. Dua dari sufi itu tersenyum sumringah lantaran malam tadi mendapatkan mimpi terbaik versi mereka. Dalam benak masing-masing, mereka meyakini bahwa merekalah yang kelak berhak untuk memakan satu potong roti tersisa.

Sufi pertama berujar, bangga, “Berdasarkan mimpi yang kuperoleh, sepertinya diriku yang paling berhak memakan roti tersebut.” Ucapnya gagah memulai bercerita. “Semalam, aku bermimpi menjadi Raja. Raja Adil yang dicintai rakyat. Banyak orang yang mendatangi kerajaanku guna meminta bantuan.” Ia melanjutkan dengan dada terbusung.

“Dari mimpi itu, aku menyimpulkan bahwa orang yang berhak memakan roti adalah aku. Karena kelak, aku akan ditakdirkan menjadi Raja. Sehingga, dengan memakan roti tersebut aku akan tetap hidup hingga mimpiku menjadi kenyataan.” Pungkasnya, satu sufi yang mendengarkan tetap dalam bingungnya, sedangkan sufi yang lain hanya tersenyum tipis, memicingkan mata.

Sufi yang memicingkan mata mengambil giliran cerita berikutnya, “Tunggu sebentar, Kawan! Jangan bahagia terlebih dahulu. Aku bermimpi lebih baik dari mimpi yang kau dapatkan semalam.” Sufi pertama sedikit melirik, seraya memperhatikan dalam penasaran. “Aku bermimpi, bahwa kelak aku akan menjadi seorang ‘Alim. Banyak orang yang datang kepadaku untuk meminta nasehat. Termasuk, para Raja-raja besar saling mendatangiku meminta pendapat, saran dan juga petuah.” Lanjutnya, semakin pongah. Dan sufi pertama semakin ciut nyalinya.

“Oleh karena itu, akulah yang paling berhak untuk memakan roti tersebut. Agar aku tetap hidup, karena banyak orang yang menunggu nasehatku. Kelak, ketika aku telah menjadi seorang ‘Alim.” Pungkasnya.

Ketiganyapun saling memandang, dan kemudian memberikan isyarat kepada sufi ketiga yang masih merasa kebingungan. Mau tidak mau, ia pu angkat bicara, “Kawan, sejatinya aku merasa malu. Karena semalam, aku tidak bermimpi.” Kedua sufi pertama langsung tersenyum bangga. Karena, satu pesaing telah gugur dari medan laga lantaran tidak bermimpi.

“Karena lapar, aku tidak bisa tidur. Hingga akhirnya, terbetiklah sebuah ide. Ya, aku berfikir bahwa dengan memakan roti, akan hilanglah laparku. Dan, aku akan bisa tidur nyenyak malam itu.” Kedua sufi yang awalnya sumringah, kini menjadi panik.

“Maka, kudatangilah tempat penyimpanan roti. Ketika kulihat kalian berdua telah lelap dalam mimpi, aku bersegera memakan roti tersebut hingga habis. Selepas itu, aku menuju pembaringan. Lantaran terlalu kenyang, aku tidur sangat pulas sehingga tidak bermimpi apapun.” Lanjutnya datar, menyudahi kisah.

Sahabat, begitulah. Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa seringkali, kita harus keluar dari kaidah keumuman jika keberhasilan yang kita harapkan. Tentu, keluar dari kaidah keumuman ini tidak lantas melanggar undang-undang Allah. Karena peraturanNya adalah yang terbaik.

Dibutuhkan sikap berani, agar kita bisa terus bertahan dan berubah menjadi lebih baik. Dari kisah ini, kita juga mengerti. Bahwa tindakan, lebih utama dari ucapan. Apalagi, dengan sekedar mimpi. Dua sufi yang memilih tidur, maka dia masih memelihara laparnya. Sedangkan sufi ketiga, yang berani menentang keumuman, maka dia berada dalam kenyang. Dan, tak perlu berbohong tentang mimpi-mimpinya itu. Karena, kita tidak bisa memastikan, apakah kedua sufi yang bermimpi itu, benar mimpinya atau hanya sekedar berbohong. [Pirman]

Berantas Kemaksiatan, Panen Kembali Normal

Ilustrasi panen kelapa sawit (foto radiogwp.com)
Ratusan hektar kebun sawit di sebuah daerah di Kalimantan Timur tiba-tiba dimakan tikus. Orang-orang heran dari mana asal ribuan tikus tersebut. Pun asisten manajer di perkebunan itu. Ia bingung.

Hingga kemudian, seorang ustadz di daerah itu menyarankan untuk memeriksa akhlak para buruh. Dan ternyata benar, ada buruh yang melakukan perselingkuhan.

Dalam rangka memberantas kemaksiatan, pelaku perselingkuhan itupun dikenai sanksi. Dihukum di depan publik.

“Dalam waktu singkat tikus-tikus pada hilang entah ke mana. Setelah itu panen normal kembali,” kata Rijalul Imam di akun facebooknya, Kamis (9/1), menceritakan peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Rijalul Imam adalah Mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pusat. Selain menjadi direktur Penerbit Muda Cendekia, ia juga bergerak di bidang investasi sawit.

Menurut Rijalul Imam, korelasi antara hewan dengan kemaksiatan ini merupakan salah satu “bukti” teori butterfly effect.

“Saya pernah membahas teori butterfly effect dalam tesis saya di UI. Tepatnya dalam pembahasan mengapa burung Hudhud yang di zaman Nabi Sulaiman itu bisa nyasar ke Negeri Saba” terangnya.

“Dugaan kuat karena binatang sangat sensitif dengan sinyal negatif maupun positif. Di Saba ketika itu ratu dan kaumnya menyembah matahari dan merebak kemaksiatan. Burung tersebut mendeteksi pusat sinyal ini hingga terdeteksi ke luar negeri, yang kemudian dilaporkan pada Nabi Sulaiman, dengan kata-kata "ahathtu bima lam tuhith bihi" aku mengetahui yang tidak kau ketahui.” Lanjutnya.

“Jadi perbuatan sekecil apapun akan berdampak pada kondisi ekologis,” simpul alumni pondok pesantren Darul Arqam ini.

Rijalul Imam menambahkan, tesisnya ini telah diterbitkan menjadi buku Quantum Leadership of King Sulaiman; kajian komprehensif QS. An-Naml : 15-44. [IK/Bersamadakwah]

Menjadi Hafidz Qur’an Gara-Gara Macet

Semanggi macet
Apakah mungkin gara-gara macet bisa menjadi Hafidz Qur’an? Jawabannya adalah tentu saja bisa. Bagaimana metodenya? Mari kita kaji bersama!

Fenomena macet adalah hal yang tidak asing bagi mereka yang hidup di kota-kota besar. Pagi, siang, sore, malam macet. Kadang bahkan sampai berjam-jam. Banyak yang menggerutu, ngedumel, bahkan tak jarang kata-kata tidak pantas pun terlontar yang akhirnya berbuah dosa.

Namun, apa solusi yang pas bagi kita selaku umat muslim?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran -yakni yang merupakan bencana- iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (HR Muslim)

Nah dari hadist di atas bagi seorang muslim kemacetan bisa menjadi lahan amal. Salah satunya menghafal Al-Quran dengan cara mendengarkan Murottal Al-Quran. Hal ini tentu saja dapat mengubah waktu yang seakan terhenti karena kemacetan menjadi produktif dan tentunya dapat menyejukkan hati kita sehingga kejenuhan, kelelahan dan kejengkelan ditengah kemacetan bisa terobati, sekaligus mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Saat ini sudah ada Murottal Al Qur’an edisi per halaman dan software Al Qur’an edisi hafalan yang bisa didownload gratis di http://download.pusatalquran.com. Sehingga nanti ketika menghadapi kemacetan bisa diaktifkan di laptop, smartphone atau tape mobil. Asyik kan!.

Mari sebarkan informasi ini, InsyaAllah nanti akan banyak orang berkata ketika macet “Alhamdulillah macet, saatnya menghafal Al Qur’an”. Atau “Alhamdulillah macet, jadi bisa murojaah”.

Begitu banyak kemudahan yang Allah berikan kepada kita sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, semoga kita tergolong orang yang mampu mensyukurinya dengan cara memanfaatkannya untuk kebaikan. []

Penulis : Rully Oktoberyanto

Selamat Jalan, Kang Aden

Aden - Edcoustic
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun. Kalimat itu serta merta terucap dari lisan kami ketika mendengar kabar duka dari Kota Kembang, Bandung. Adalah Aden, satu dari dua personil Duo Band Edcoustic, menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Islam Bandung Jawa Barat. Kang Aden, sebelumnya menderita maag dan sudah bolak balik dibawa ke rumah sakit. Informasi terakhir yang kami dapatkan, beliau terindikasi Virus Toxo.

Berdasarkan penulusuran kami, Virus Toxo ini, salah satu penyebabnya adalah memakan daging atau telur yang kurang matang. Bisa juga dari kotoran hewan, seperti ayam, kucing dan utamanya tikus. Virus ini terbilang serius dan harus dilakukan pengobatan secara langsung. Diantara ciri dari pengaruh virus ini antara lain, pembengkakan kelenjar limfe, panas badan tinggi, mual dan pusing. Untuk memastikan apakah seseorang terjangkit virus ini, harus dilakukan pemeriksaan serogolis.

Deden sendiri adalah salah satu aktivis dakwah di ITB. Beliau tergabung dalam Keluarga Remaja Islam Salman (KARISMA) ITB. Sebagaimana umumnya aktivis dakwah, maka sejak muda dia sudah mengambil aneka ‘lahan’ untuk menyemai benih-benih dakwahnya. Dan dakwah melalu nasyid, adalah jalan yang dia pilih. Sehingga kemudian berdirilah Edcoustic pada tanggal 25 Mei 2002.

Edcoustic sendiri sudah menjadi kegemaran muda-mudi masa kini, khususnya pemuda pemudi muslim masa kini. Dimana lagu-lagu yang digubah tak hanya melenakkan fikiran sebagaimana lagu pop umumnya, namun lagu-lagu edcoustic ini bisa menenangkan hati, menggairahkan fikir dan menyemangati raga untuk bergerak melakukan aneka amal shalih.

Album pertama dari Duo Band ini, bertajuk Muda-Mudi, terjual sekitar 20.000 keping dan terus menanjak seiring berjalannya waktu dan kualitas album. Pretasinya semakin menanjak ketika Aden berduet dengan Melly Goeslaw dalam menciptakan Ost. Ketika Cinta Bertasbih.

Kabar kepulangan Kang Aden sendiri, beredar dari akun twitter Taufik Ridho, Sekjen PKS yang juga Munsyid Shoutul Harokah. Tulis beliau di akun twitternya, “Inna Lillahi wa Inna iahi Roji’uun, telah dipanggil keharibaan Ilahi Akh Deden Ecoustic munsyid Muhasabah Cinta dan penulis Hymne PKS.”

Sedangkan penulusuran kami di akun Facebook Kang Aden, banyak bertebaran ucapan bela sungkawa dan doa yang terlantun tulus. Salah satunya dari akun Indra Primathena, salah satu alumni SMUN 8 Bandung yang pernah belajar di Universitas Padjajaran Bandung. Tulisnya, “Inalillah... Selamat jalan Kang Aden.. teringat segala bimbingan beliau selama menjadi pementor saya di Discovery With Karisma ITB thn 2001. Segala kebaikan almarhum adalah teladan bagi saya. Semoga segala amalan teladannya bermultilevel pahala baginya. Dan mengundang rahmat Alloh SWT. Selamat jalan kang Aden. Selamat menikmati dekapan cinta Sang Maha cinta di sana.”

Yang penting untuk kita catat, kematian yang sudah dialami oleh Kang Aden ini, cepat atau lambat akan mengahampiri kita. Jika beliau sudah melakukan yang terbaik dengan menginspirasi dan menyemangati umat dengan nasyid-nasyidnya, apakah bekal yang sudah kita siapkan? Apakah bekal itu benar-benar bisa menyelamatkan kita kelak di akhirat? Semoga, Allah memudahkan kita untuk menjadi orang yang cerdas. Yang ingat mati dan bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan bekal selepas ajal menjelang. Aamiin

Kang Aden... Semoga khusnul khotimah. Semoga Allah semakin menyayangimu, dan kita semuanya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Terakhir, tak ada salahnya jika akhir tahu ini, kita sama sama menghayati lantunan Musahasah Cinta gubahan Almarhum Kang Aden dan Edcousticnya ini.



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Dialog Jodoh untuk Yang Belum Menikah

Jodoh - ilustrasi (foto armetra.com)
• Syarif : assalaamu’alaikum

• Rais : wa’alaikumussalaam

• Syarif: akhi, denger-denger antum sibuk di pasar sekarang?

• Rais: yoi bro, bantuin ortu dagang, sunnah nabi, hhe....

• Syarif: wah manteup, sunnah yang satunya kapan tuh (nikah)?

• Rais: lagi i'dad (persiapan)

• Syarif: beneran nih? syukurlah, masalahnya jenggotnya dah tebal. hahaha

• Rais: bercanda..

• Syarif: ah mau ibadah aja bercanda..he..he..

• Rais: lho, itu kan ibadah yang bisa sambil bercanda, colek-colekan aja ibadah, hahaha

• Syarif: ah antum bisa aja, makin dewasa wae,,

• Rais: biasa, tuntutan zaman

• Syarif: he..he..siip lah

• Rais: istri udh isi belum tadz? Hhe

• Syarif: alhamdulillah baru 4 bulan insyaAllah

• Syarif: cepetan khitbah,

• Rais: belom ada maf'ul bihnya (obyek) nih bro

• Syarif: tapi terkadang maf'ul bihnya tersembunyi lho akh

• Rais: trus gimana biar nampak?

• Syarif: ganti dhamirnya,dan cepat cepat dicari. biar tidak terjadi kelabilan dalam ekonomi,dan engkau tidak mengkudeta hatimu sendiri. hahahahhahahaha

• Rais: Wah ustadz juga bisa tertular virus vickysasi rupanya.. hha....

• Syarif: hahahaaahahaha....udah cepetan nikah, keburu banyak tu jenggot!

• Rais: jenggot mah bisa dipotong

• Syarif: hahahaha...cepatlah sempurnakan agamamu sobat, nunggu apalagi? nungggu sukses?? engkau nikah, maka engkau akan sukses. Insya Allah...

• Rais: nyalinya kayaknya yang belom oke

• Syarif: pertanyaanya, takut sebelah mananya??????

• Rais: takut salah memilih

• Syarif: kita hanya usaha memilih, tapi hakikatnya Allah-lah yang memilihkan buat antum, dan mustahil Allah mendholimi hambaNya! bukan begitu ust???

• Rais: iya c, hhe

• Syarif: gimana betul ga, setuju ora? hehehe

• Rais: yo yo yo....

• Syarif: jadi??????

• Rais: jadi aku harus mencari dan memilih.

• Syarif: Temukan dan tentukan ia dalam tahajud dan istikhorohmu sobat 



Penulis : Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Solo


Tunggu Apa lagi? Mati?

Shalat jenazah
“Hai orang–orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr :18).

Tunduk terdiam! Merenung pilu ke relung hati terdalam, meng-insyafi diri akan masa yang telah terlewati dan satu harap ke depan bahwa masih ada kesempatan untuk selalu memperbaiki diri. Hidup bukan untuk hari ini, walaupun kematian selalu menjadi bayang–bayang. Hidup untuk dunia seakan tinggal selamanya dan hidup untuk akhirat segera tergesigap sebelum terlewat.

Waktu terus berjalan, kadang pelan kadang pun terlampau cepat tak dirasa tergantung kita memanfaatkannya. Seiring pergantian siang ke malam terus berulang, pertukaran detik ke detik menuju menit melewati menit sampai berjam–jam lamanya. Seakan saling mengejar tanpa henti, begitulah adanya waktu tak terasa dan tidak ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri. Sedangkan untuk perubahan diri seharusnya tidak cukup dengan memaknai momentum, terkadang kita hanya dapat berkata; tunggu waktu yang tepat.

Momentum bukanlah sekedar dalih untuk berubah seperti peralihan tahun. Yang lebih penting adalah mengukur diri kita. Kadar keimanan kita. Masihkah kokoh berdiri tegak atau mulai goyah atau tengah dilanda futur dalam beribadah akibat lemahnya iman. Untuk hari esok, akhirat! Mulailah kembali menata hati dan pikiran kita akan pentingnya menjalin kedekatan kepada Sang Pencipta karena hidup kita akan bahagia tentunya dengan ibadah, mati pun masuk surga.

Masih ada kesempatan untuk membangun dan meningkatkan mutu ibadah kita tapi mulailah dari sekarang!!! Sebelum ajal menghadang. Banyak yang bisa kita lakukan untuk mendekatkan diri kita pada Allah Rabbul ’izzati, salah satunya adalah dengan ibadah dzahir dan ibdah bathin.

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (QS. Al An’am : 162).

Siapa yang ingin belajar beribadah dengan baik, maka mulailah dari doa, dan siapa yang ingin belajar keikhlasan maka mulailah dengan puasa. Mau bahagia kan? Pastinya! Mudah kok, dengan mulai menanam. Lho kok? Maksudnya menanamkan mindset di kepala kita bahwa ibadah dzikir dan puasa adalah beberapa ibadah yang mudah, murah dan berkah. Hiasilah waktu kita selalu dengan mengingat Allah dalam sela–sela kesibukan kita bahkan di setiap detik dalam setiap hembusan nafas dan detakkan jantung.

“Demi sang waktu sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran“ (Q.S. Al Ashr : 1-3)

Bahkan Allah bersumpah dengan waktu, sebuah deklarasi! Waktu yang bukan hanya sekedar berganti dan berlalu, hampa makna, kosong arti? Easy going dengan waktu sama saja menyia–nyiakan waktu. Melalaikan setiap tarikan nafas yang mestinya menjadi sebuah perjuangan meraih kemenangan ridho dan kasih sayang Tuhan.

Hidup ini selalu beriring sejalan dan saling bergandeng dengan kematian. Tiap jiwa akan rasa, saat nyawa kembali pada pemilknya. Kita hanya manusia diberi amanah berupa kehidupan yang sesaat.

“Tiap–tiap yang berjiwa kan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kapan ajalnya menjemput. Di bumi mana ia akan mati? Allah Maha Tahu. Hanya saja kita bisa meminta dan berusaha kematian yang husnul khatimah. Pernah dengar lagu religi yang liriknya diambil dari sebuah hadis nabi redaksi Imam at Tirmidzi?

Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian melainkan yang beriman dan beramal saleh…
Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian melainkan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran,
Ingat lima perkara, sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati


Mumpung sehat masih kita rasakan ni’mat segeralah tobat sebelum terlambat, jika sakit mungkin tiba-tiba sekarat akhirnya kelewat. Yang masih muda jangan tunda–tunda segala perintahNya, jangan menunggu tua setelah sebelumnya hura–hura, kemana malu kita?. Jika sudah sempit akan terjepit, jika sekarang lapang sungguh jadi peluang! Kita masih hidup kan? Tunggu apa lagi? Gak usah sibuk ngitung 1…2….3… Sekarang Saja.!!! []


Penulis : Mestifarah
Mahasiswa STAI Thawalib Publisistik Jakarta

Mengenal Karakteristik Jama'ah-jama'ah Dakwah

Jamaah Tabligh (foto: rimanews.com)
Dakwah akan menjadi tinggi…saat pribadi yang membawanya…sama indah… dengan apa yang di bawanya…
[ Sarwo Widodo Arachnida ]

Radikal…!!! Sampeyan itu terlalu radikal…! Ucapan itu tiba –tiba meluncur tanpa diduga dari lelaki separuh baya yang ada di ujung meja, ayahnya. Sebuah ucapan yang belum pernah didengar sebelumnya. Tidak sekalipun sejak ia mengenal dan memutuskan bergabung dalam barisan kafilah dakwah, pengusung risalah para anbiya'. Kata “radikal” itu membuatnya menginsyafi, sepertinya kali ini ia salah langkah…salah memilih strategi dalam berdakwah. Tiba–tiba mucul sebuah tanya “seperti apakah format dakwah yang ideal itu sejatinya…? ”

Dewasa ini, dakwah Islam mengalami perkembangan. Beragam jamaah dengan berbagai bendera pun bermunculan. Yang mana hampir bisa dipastikan semua jamaah mengaku berjuang dan berdakwah di jalan Allah. Dan masing–masing jamaah mempunyai spesifikasi tertentu dalam dakwah yang mereka usung. Setiap jamaah dakwah mempunyai pendekatan dan sudut pandangnya sendiri. Tanpa perlu menghakimi siapa yang paling unggul dan terbaik. Ada baiknya kita mencoba mengenali sebagian di antaranya. Berikut ini beberapa jamaah beserta karakterisiknya sebagainya pernah disampaikan ustadz Amir Faishol Fath.

Jamaah yang satu ini terlihat begitu cinta dengan masjid. Mereka tak hanya sekedar mencintai masjid, mereka berusaha menghidupkannya. Cara dakwah mereka berkunjung dari masjid ke masjid. Isu utama yang mereka usung ketika menyampaikan dakwahnya adalah mengenai makna laa ilaha illaah. Sering kali terutama selesai shalat berjamaah mereka dengan penuh keyakinan menyampaikan pentingnya memaknai laa ilaha illallah sebagai pondasi untuk meraih kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana, yang jamak terjadi kini banyak muslim yang mengucapkan laa ilaha illallah tapi dalam kehidupan sehari–hari masih tetap menomor duakan Allah. Melaksanakan shalat tapi tetap bermaksiat. Halal dan haram aturan Allah sering dicampuradukkan. Dosa dan ketaatan masih dijalankan beriringan. Maka, ada kalimat pengantar yang menjadi ciri khas jamaah ini saat memberi taushiah yakni inna najaahanaa wa falaahanaa fiddunya wal akhirah biqodri a’maalinaa bi laa ilaha illallah yang kurang lebih artinya sesungguhnya kesuksesan dan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat sangat tergantung pada kesungguhan kita dalam mengamalkan laa ilaaha illallah. Meski jamaah ini jarang, bahkan menghindari membicarakan isu dan tema politik anggota jamaah ini tergolong kumpulan orang–orang yang santun penuh persaudaraan. Hampir tidak pernah menjelek-jelekkan, mencaci dan memusuhi jamaah dakwah lainnya. Mereka larut dalam kesederhanaan gaya penampilan dan dakwah mereka. Mereka meyakini bahwa dakwah itu untuk memperbaiki bukan untuk menghakimi apalagi mencaci. Mereka mengisyafi mungkin cara mereka bisa dibilang terlalu tradisional dan mengesampingkan teknologi, tapi bagian merekalah menangani sisi–sisi yang belum tersentuh oleh jamaah dakwah lainnya

Jamaah yang satu ini berbeda lagi. Biasanya mereka duduk khusuk di selasar masjid sambil jemari menggengam tasbih panjang. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Ibadah ritual yang menjadi kosentrasi mereka. Terkadang hingga membuat mereka mengacuhkan urusan dunia. Tak makan berhari-hari tak menjadi masalah bahkan dianggap sebagai pencapaian puncak ruhani. Lupa kewajiban pada anak dan istri. Tak hanya itu, bermunajat pada Allah dengan gerakan menari berputar–putar adalah salah satu ciri. Sebagian dari mereka menafsirkan Al Qur’an dengan pendekatan isyari (simbolik) yakni ayat Al Qur’an tak lagi dipahami sesuai makna bahasa Arab yang asli melainkan sebagai simbol dari makna ruhani yang mereka pahami. Para ulama tafsir dan ulumul Qur’an banyak yang tak sepakat dengan hal ini. Banyak yang mengkritisi apa yang dilakukan jamaah ini, sebab Islam yang dibawa Rasulullah ini universal mencakup segala hal bukan hanya ritual. Sebagimana pula yang Rasulullah contohkan, tak hanya rajin shalat tapi juga berjihad di medan perang. Tak hanya dzikir tapi urusan ekonomi dan Negara juga dipikir. Tidak timpang sebelah. Islam hadir tak hanya untuk menajamkan ruhiah kemudian menumpulkan sisi lainya. Justru Islam hadir sebagai solusi untuk semua dimensi.

Jamaah selanjutnya, ia begitu aktif mempromosikan berdirinya khilafah. Jamaah ini berpendapat jika umat Islam kehilangan kekuatannya akibat runtuhnya khilafah yang dianggap sebagai wadah politik untuk menegakkan ajaran Islam. Jamaah ini aktif menggelar beragam kajian dengan tujuan agar wawasan intelektual kaum muslim terbuka dalam berbagi hal. Terlebih mengenai pemahaman Islam dan permasalahan yang berkutat dalam hal intelektual. Namun, kita semua menyadari jika masalah umat ini tak hanya itu. Umat ini perlu tarbiyah yang berkesinambungan untuk menuju tegaknya kembali khilafah ala minhaji nubuwwah. Khilafah yang dulu pernah ada bukan datang begitu saja. Khilafah hadir dalam rentang sejarah perjuangan yang panjang dan pembinaan yang tanpa henti. Meski terkadang keterikatan secara emosional lebih terasa kuat dalam anggota jamaah ini, tetapi signifikansi kontribusi jamaah ini dalam menghadapi tantangan berbagai aliran pemikiran yang menyimpang di tengah masyakat layak untuk dibanggakan. Kita mesti mengakui hal tersebut sebagai terobosan yang mungkin belum dimiliki jamaah lain.

Berikutnya, jamaah kali ini berperan kongkrit dalam menyelesaikan masalah pembinaan akidah dengan kembali memahami nash –nash hadits dengan begitu selektif. Melalui proses tahqiq yang mereka lakukan, banyak hadits–hadits Rasulullah yang awalnya tak diketahui kedukukannya kemudian menjadi jelas klasifikasinya antara yang shahih dan yang dhaif. Menurut jamaah ini kembali pada tuntunan Rasulullah adalah keharusan sehingga tak jarang mereka menghadang fenomena apa saja yang menurut kacamata mereka tak ada nashnya dari Rasulullah. Meski tak jarang sebagian dari mereka yang begitu bersemangat menggebu mudah menjatuhkan anggapan sebuah fenomena yang yak ada teksnya dari Rasulullah sebagai sebuah bid’ah. Sebab tidak semua fenomena perkembangan hidup manusia modern tercover secara lengkap dan mendetail pada zaman rasulullah. Tak sedikit perkembangan tersebut yang membutuhkan ijtihad–ijtihad baru sehingga hal ini mehadirkan lahirnya ulama-ulama fiqih. Yang mana ulama–ulama tersebut menghasilkan berbagai dokumentasi terkait kajian fiqih yang kadang dengan alasan bahwa kita sudah memiliki teks hadits Rasulullah langsung yang mungkin hanya perdasarkan pemahaman versi ilmu sempit kita ijtihad-ijtihad dari ulama fiqih tersebut jadi terabaikan. Dan berujung mudah menjatuhkan vonis ahlu bid’ah atau takfir pada yang jamaah kurang sejalan. Bukankah perbedaan ijtihad belum pernah akan jadi alasan yang cukup untuk saling bertentangan dengan sesama muslim.

Jamaah terakhir yang dibahas kali ini, bersifat komperhensif. Jamaah ini memperhatikan betul pentingnya tarbiyah dan pembinaan keislaman yang utuh. Mereka mencoba memahami manhaj dakwah Rasulullah secara utuh tidak sepotong-sepotong.. Bukan mengambil sebagian kemudian menolak sebagian yang lain. Tak hanya masalah aqidah, fiqih, atau akhlaq sesama manusia namun juga permasalahan ekonomi dan pengelolaan negara. Hal–hal yang prinsip mereka perjuangkan. Mereka menekankan pentingnya bahasa Arab dan mendalami ilmu pengetahuan agama. Begitupun dalam hal ibadah hampir selalu terkontrol peningkatan dan perkembangannya tiap pekan. Sehingga dengan pembinaan intensif yang mereka lakukan diharapkan anggota jamaahnya akan memiliki kualifikasi pribadi muslim yang aqidahnyabenar, ibadahnya benar, akhlaqnya kokoh, pengetahuanya luas, fisiknya kuat dan sehat, produktif dalam hal ekonomi, efektif dan efisien dalam manajemen diri dan waktu dan tentu saja, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Jamaah ini berpendapat jika komitmen para anggota terhadap Islam lebih penting untuk membesarkan jamaah ini dari pada penokohan terhadap sosok tertentu yang ada dalam jamaah.

Demikianlah pemaparan keempat jamaah yang cukup mempunyai ruang dalam dakwah Islam. Ada baiknya jika masing–masing jamaah mempunyai pemahaman jika mereka adalah bagian dari jamaah umat Islam yang besar ini sehingga mereka tak akan pernah memaksakan bahwa umat Islam harus satu kubu dan satu suara dengan jamaah tersebut. Sebab yang terpenting adalah bagaimana bagimana jamaah–jamaah Islam ini bersinergi membangun pilar–pilar kebangkitan Islam dengan cara yang santun dan sesuai dengan syariat tapi juga tetap bisa diterima baik oleh masyarakat. Sebab indahnya Islam yang disampaikan sama indahnya dengan para dai yang membawanya, berasal dari manapun jamaahnya. Semoga… [Kembang Pelangi]

*disarikan dari opening buku Mencari format Gerakan Dakwah Ideal karya Dr. Shodiq Amin

Tips Agar Mereka Mematuhi Perkataanmu

Sebagai seorang pendidik, orang tua, bahkan public figure sangat penting sekali bagaimana mengolah kata untuk menyampaikan sesuatu hal agar didengar, diikuti, dan dilaksanakan. Bahkan untuk hal ini banyak orang yang sekolah khusus untuk melatih retorika dan public speaking mereka. Sama sekali tidak salah memang, bahkan itu lebih baik. Akan tetapi ada satu pelajaran berharga yang nampaknya belum pernah saya dapatkan pun saat kuliah public speaking semasa muda dulu.

Berawal dari keluh kesah teman-teman seperjuangan mengajar dan para orang tua dengan anak-anak yang tak juga mengikuti nasihat mereka. Padahal banyak dari mereka yang tak kurang-kurang pengalaman mengajarnya bertahun-tahun bahkan para orang tua yang gelar sarjananya bertumpuk-tumpuk pun mengeluhkan hal itu. Tak perlu banyak waktu untuk peka dengan situasi saat itu, seorang ustadzah senior menguraikan kata demi katanya yang hanya membuat kita semua manggut-manggut di ruang rapat saat itu: “Amalan-amalanmu yang tidak terlihat oleh manusia itulah yang membuat setiap perkataanmu didengar, diikuti, dan dipatuhi.”

Hening sejenak membuat kita saat itu menerawang, meraba-raba, mengingat kembali apakah shalat malam sudah ditunaikan dengan setulus rindu pada-Nya, apakah tilawah sudah dilantunkan sepenuh rasa, apakah infaq yang keluar sudah lebih didahulukan daripada pulsa, dan apakah semua amalan sudah setulus jiwa hanya untuk-Nya, bukan untuk perkataan orang bahwa kita shalih…

Allah-lah yang menguasai hati-hati manusia dan Allah lah pula yang akan membolak-balikkannya. Seberapa lihai pun kita berorasi, beretorika, berceramah, tak kan mampu menundukkan hati tanpa kehendak-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu".(HR.Muslim)

Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Hadiahku, Wasilah Menjemput HidayahNya

Di zaman sekarang, sarana dakwah telah berkembang. Kita bisa berdakwah secara tidak langsung, yakni dengan meminjamkan atau memberikan hadiah berupa kaset-kaset pengajian (audio/audio visual) atau buku-buku Islam yang menggugah. Dakwah dengan cara ini memiliki banyak kelebihan, yang diantaranya:

1. Tidak terkesan menggurui.
2. Materi lebih berbobot karena pemateri adalah seorang yang memang berilmu dan lebih bertakwa.
3. Penjelasan materi lebih detail.
4. Luwes dalam penggunaan waktu, karena dapat diputar atau di baca ketika saudara kita punya waktu luang.
5. Cara ini paling mudah dilakukan karena paling halus dalam masuk ke topik agama.

Adapun kelemahan tetap ada meskipun sebenarnya lebih kecil, yaitu diantaranya:
1. Bisa jadi materi tidak pas dengan keadaan, mood atau problematika dan latar belakangnya.
2. Bisa saja buku itu tidak dibaca atau kaset itu tidak disetel.

Dalam kenyataan sehari-hari cara ini sesungguhnya banyak membuahkan hasil. Secara umum saudara kita sangat menghargai pemberian saudaranya. Ini adalah fitrah di mana seseorang amat menyukai hadiah dan akan timbul di dalam hatinya rasa kasih kepada yang memberinya, sebagaimana hadiah merupakan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Ingat hadiah maka aku teringat dengan kisah yang aku alami terhadap saudara jauh aku yang ada di seberang sana, waktu itu.

Ketika dia akan pulang ke desa tempat kota kelahirannya aku bermaksud membelikannya sebuah hadiah. Akan tetapi hadiah itu bukanlah sebagai tanda kasih sayang seperti biasanya, karena dia dia bukanlah seorang muslim yang taat kebanyakan yang aku kenal. Boro-boro taat, shalat hanya Syarib (Isya’ dan Maghrib). Hadiah yang aku harapkan adalah sesuatu yang bisa mengguggahnya agar mengenal Islam lebih dalam.

Selama ini aku tak mampu berdakwah kepadanya secara langsung melalui penjelasan atau perdebatan. Maksimal aku hanya bisa memberinya teladan. Kadangkala ketika dia butuh seorang teman dan mengajak ngobrol selagi aku pas ada waktu maka aku temani. Beginilah akhlak orang Islam terlebih yang mengaku dirinya yang bertaqwa. Akan tetapi, sebentar lagi dia akan pulang ke kampung halaman karena permintaan orang tuanya yang sudah tua dan lagi mulai sakit-sakitan. Aku harus berbuat sesuatu untuknya.

Ketika aku berjalan-jalan di Surabaya pas ada acara pertemuan aktivis dakwah, maka aku sempatkan untuk mampir ke toko buku lslam yang sudah menjadi langganan saya ketika harus membeli buku. Di toko buku itulah aku melihat sebuah buku ber-cover putih dan warna hijau tulisan judul buku tersebut yang nampaknya cukup menarik dan pas untuk dibaca orang yang belum kenal Islam. Aku lihat harganya, ehm teramat murah untuk sebuah hadiah. Hanya beberapa ribu rupiah. Apakah pantas buku ini aku berikan sebagai hadiah? Dan aku teringat akan hadits Rasulullah tentang antar satu sama lain sesama muslim untuk senantiasa saling memberi. “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR al-Bukhari, al-Baihaqi, Abu Ya’la)

Hadits ini menyatakan bahwa saling memberi hadiah merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum Muslim. Al-Hafizh Ibn Hajar berkata, mengikuti al-Hakim, “Jika dengan tasydîd maka itu berasal dari al-mahabbah dan jika tidak dengan tasydîd maka itu berasal dari al-muhâbâh. Hal itu karena hadiah termasuk bagian dari akhlak Islam yang ditunjukkan oleh para nabi di didorong oleh para pengganti mereka di antara para wali; (bisa) melembutkan hati dan melenyapkan kemarahan di dalam dada.”

Hadiah adalah pemberian dalam makna pemindahan kepemilikan suatu harta kepada pihak lain karena adanya hubungan, untuk menjalin kedekatan dan kasih sayang, atau sebagai penghormatan.

Singkatnya, buku itu aku beli dan aku berikan kepadanya. Waktu berlalu begitu cepatnya dan tak terasa telah setahun sudah. Aku pun sebenarnya sudah melupakan perihal itu hingga tiba-tiba aku mendapat sms dari nomor yang asing yang masuk ke layar hpku. Aku tidak mengenal nomor itu, dari mana ia tahu nomorku. Setelah aku baca isi sms itu barulah aku paham bahwa ternyata sms itu dari dia. Nomornya telah berganti dengan nomor yang baru. Ia bercerita bahwa buku itulah yang membuatnya penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Islam, kemudian ia banyak membaca buku-buku tentang Islam lainnya dan bertanya dengan seorang ustadz yang ada di kotanya. Dan sekarang ia telah menjadi seorang muslim yang memegang prinsip Islam yang mengakar kuat pada pribadinya.

Dalam hati aku membatin dan bertanya bagaimana bisa semudah ini ya Allah? Hanya dengan sebuah buku yang tak seberapa harganya ternyata bisa mengubah nasib orang, dan bukan sembarang nasib. Nasib yang mempertaruhkan akidah seseorang. Memang bener-benar kita tidak boleh meremehkan suatu perbuatan yang nampaknya kecil dari sudut pandang kita tapi tidak di pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan dengan kejadian ini aku mengazzamkan diri untuk senantiasa memberikan hadiah berupa buku kepada siapa dalam kesempatan apa bagaimana dan dimanapun berada.

Yuk kita semarakkan sunnah Rasulullah dengan gemar memberi kepada sesama kita. Memberi tidak harus dengan yang mahal hingga jutaan yang ribuan saja juga tidak masalah ketika membawa makna bagi yang menerima itu lebih berkah syukur-syukur yang jutaan bagi mereka yang membutuhkan. Wallahu a’lam [Mija Akhmadt]

THR untuk 7 Turunan

Andaikan saja presiden negeri ini membuat pengumuman,

"Wahai rakyat negeri yang kucintai. Mulai malam ini, hingga sembilan malam mendatang, pintu kerajaanku terbuka lebar untuk kalian semua.

Aku telah menyediakan jamuan spesial di acara open house itu. Kalian bisa makan sepuasnya, minum sepuasnya, bersenang-senang sepuasnya. Setelah kalian puas, silahkan dibungkus. Bawa oleh-oleh untuk keluargamu di rumah. Sebanyak mungkin. Agar semuanya kebagian.

Di antara sepuluh malam itu, aku akan selipkan sebuah kejutan dahsyat bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh. Aku sediakan THR yang cukup untuk hidup sampai tujuh turunan."

Apa yang ada dalam benak kita jika ada pengumuman dari Istana Negara seperti itu? Bisa dipastikan, jumlah pengunjung akan membludak. Dan, dipastikan, Sang Presiden tak bisa memenuhi janjinya.

Saya yakin, semua warga juga sangat antusias dalam menyambut pengumuman itu. Pastilah ada yang menyiapkan bantal, kasur, makanan ringan, pakaian ganti, handuk, alat mandi,dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk bermalam selama sepuluh hari.

Jika ada beberapa yang enggan, kemungkinannya ada dua. Dia termasuk orang yang malas. Atau sombong. Yakni merasa tak butuh dengan apa yang ditawarkan oleh Sang Presiden di Negerinya itu. Benar?

Nah, sayangnya, ketika pengumuman itu datang melalui insan Paling Mulia di Jagat Raya ini, menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Dzat yang Menciptakan Sang Presiden, bahkan kepastiannya dijamin tak akan meleset, masih saja kita dapati sebuah pemandangan yang berkebalikan.

Sehingga, ketika Allah mengundang kaum muslimin untuk bermalam di RumahNya, sangat banyak diantara kita yang memilih acuh. Bahkan, banyak berdalih aneka cerita.

Padahal jelas janjiNya melalui lisan utusanNya, barangsiapa berjalan menuju Masjid untuk mencari kebaikan atau mengajarkan kebaikan, maka dia seperti Mujahid Fi Sabilillah.

Atau sabda Nabi yang lain, Siapa yang melangkahkah kaki ke masjid, maka satu langkahnya sebagai penghapus dosa dan satu langkah yang lain sebagai pengangkat derajat.

Kemudian, setibanya di RumahNya itu, kita disuguhi dengan aneka hidangan super lezat. Cukup duduk sambil dzikir, maka sudah dihitung I'tikaf. Ketika ia bertatap muka dengan sesamanya, berjabat tangan dan bertukar senyum, maka terhitung silaturahim. Apa balasan silaturahim? Siapa yang mengikat tali silaturahim, maka dipanjang umur, diluaskan rejeki dan dihindarkan dari penyakit.

Jikapun hanya tidur, setelah niat baik, maka bisa tercatat sebagai memakmurkan RumahNya. Dahsyat balasannya, "Hanya orang-orang yang beriman dengan Allah dan Hari Akhirlah yang memakmurkan Masjid."

Apalagi? Sangat banyak kawan. Bahkan, di forum itu, semua keutamaan diberikan oleh Sang Pemilik Rumah. Sampaikan semua hajat kita, maka Dia akan mengabulkan. Sampaikan saja.

Minta jodoh. Mulai dari satu, dua, tiga atau empat. Asal adil. Minta rejeki. Berapapun, karena Dia Maha Kaya. Agar dimudahkan segala urusannya. Agar dijauhkan dari penyakit. Agar Islam segera berjaya. Agar kaum Muslimin segera memenangkan pertempuran melawan kebatilan.

Sudah. Datang saja. Berdoa saja.

Untuk diri sendiri. Istri, suami, orang tua, kakek, nenek, anak, kakak, adik, keponakan, cucu, sahabat dan semuanya. Untuk negeri ini. Agar barokah dengan iman dan taqwa. Untuk Mesir, Palestina, Suriah, Rohingnya, dan semua negeri muslim lainnya. Berdoa pula agar Allah menjadikan diri ini bagian dari para Pejuang itu. Minimal, dengan kita mencintai dan mendoakan mereka yang berjuang.

Apakah ini bukan suatu tawaran sangat sangat sangat spesial? Adakah tawaran lain dari pihak lain yang lebih spesial dari tawaran ini?

Bahkan, jikapun kita tidak meminta apapun di RumahNya itu, Maka Dia akan memberikan yang terbaik dari apa yang kita butuhkan. Apalagi, ketika kita datang dengan niat yang tulus, melangkah dengan gagah, mengamalkan sepenuh hati apa yang telah diajarkan oleh Sang Nabi. Maka yakinlah, dunia dan seisinya adalah seperti sayap nyamuk. Kecil. Sangat tak layak jika dibandingkan dengan segala macam imbalan yang Allah berikan.

Dan jika, imbalan bukan menjadi alasan kita. Maka ketulusan niat itu, akan membuat kita cukup dengan Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Adakah kita akan menyia-nyiakan tawaran ini? Sementara esok, tak ada yang bisa menjamin bahwa kita masih bernafas. Apalagi tahun depan?!



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Video Renungan Idul Fitri yang Bikin Menangis

Sebuah video renungan hari raya Idul Fitri yang diproduksi oleh Bernas, Malaysia, membuat banyak orang menangis. Hampir seluruh komentar bernada haru dan mengatakan menangis saat menonton video berdurasi 7 menit 43 detik ini.

Dikisahkan, dua anak bersaudara berencana tetap tinggal di asrama yatim saat Idul Fitri tiba. Tetapi, ketika seluruh anak-anak lain telah mudik ke kampung halaman, kerinduan pada ibu pun membuat mereka ingin pulang.

Segala cara dicoba, dari terminal yang tak ada lagi bis hingga kereta api yang tiketnya telah habis. Akhirnya dua anak itu pun nekat menumpangi mobil barang. Perjalanan mereka penuh haru. Tetapi, endingnya jauh lebih mengharukan. Ternyata ibu mereka...

Silahkan simak langsung videonya:

Memahami Remaja Lebih Dekat

“Menjadi seorang musyrifah (pembina asrama), guru atau ustadzah bukan hanya sekedar mengelola manusia (murid atau santri). Tapi ia mengelola hati dan perasaan (jiwa) seseorang” kata ustadz Sholihun dalam perjalanan terakhir saya ke Srunen awal Juli lalu. Maksudnya adalah kita tidak sekedar mengatur adik-adik binaan kita, santri atau murid kita. Yang dalam perjalanannya kita minta mereka begini dan begitu sesuai dengan berbagai program yang telah kita buat sedemikian rupa. Ada hati di sana, ada perasaan di sana, yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan mood dan pikiran.

Karena pada dasarnya menjadi seorang musyrifah, guru, ustadzah atau apalah sebutannya bukan hanya sekedar memberi materi-materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang telah dibuat. Tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan murid atau santri kita.

Kadang kala ketika kita menyusun berbagai program dan kurikulum kita lupa bahwa ada jiwa-jiwa yang perlu kita perhatikan perasaannya, perlu kita dekati secara khusus, dan perlu kita berikan bimbingan agar menjadi pribadi yang baik karakter dan kepribadiannya.

Terutama mengelola siswa MTs atau setingkat SMP. Di mana pada masa itu adalah masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa. Masa yang kepribadiannya bisa berubah-ubah sewaktu-waktu , masa yang membutuhkan inspirasi dalam kehidupannya. Emosinya labil dan sangat peka terhadap cara pandang orang lain terhadap diri mereka. Dan pada masa ini pengaruh teman sebaya sangat kuat terhadapnya. Maka tak heran apabila di rumah kita menjumpai adik kita yang pendiam namun setelah sering bergaul dengan teman sebayanya yang rame adik kita berubah.

Contohnya dulu sewaktu saya menjadi musyrifah di SMPIT Abu Bakar Yogya. Dulu saya kelompokkan adik-adik yang kurang rapi atau akhlaknya kurang dengan mereka yang baik dan penurut. Dalam beberapa bulan si adik yang agak ngeyelan dan kalau sholat selalu di baris belakang perlahan berubah. Sholatnya mulai rajin, karakternya juga mulai membaik.

Saudaraku, memahami remaja tidak seperti memahami anak-anak atau orang dewasa. Jikalau anak-anak, mungkin mereka cukup dibilangin lalu nurut atau sekedar bertanya “buat apa ustadzah?” atau kalau orang dewasa mereka akan mengerti atau sesekali mereka protes dengan bahasa yang sudah mereka pilih. Tapi kalau remaja, mereka bukan sekedar bertanya atau protes, ngeyel, manyun atau bahkan ketika emosi mereka tidak terkendali, mereka akan membentak dan melakukan hal-hal yang kasar adalah hal yang sering terjadi.

Maka di sinilah perasaan atau jiwa itu harus kita kelola, mengingat tipe anak-anak sangat beragam. Ada mereka yang cuek, ada mereka yang penurut, ada mereka yang manyun dan suka membantah, ada yang lugu, ada yang polos dan berbagai karakter mereka sesuai dengan latar belakang dan background mereka.

Dalam dauroh murobbi pesatren beberapa waktu yang lalu, kak wahyu salah seorang pembicaranya menjelaskan tentang keterampilan memahami remaja. Yang pertama yakni, memahami penyebabnya. Maksudnya kita cari tahu penyebab dari prilaku remaja tersebut. Misalnya, dulu salah seorang santri saya di Abu Bakar ada yang tiba-tiba menjadi pendiam dan sekali ngomong nyelekit bahasa Gresiknya, padahal biasanya si adik selalu ceria. Ternyata setelah kami telisik, dia merasa malu karena akan punya adik lagi. Atau ada salah seorang santri yang emosinya labil, sedikit-sedikit manyun, eh ternyata keluarganya broken home, ayah dan ibunya pisah saat dia masih TK.

Yang kedua adalah memberikan empati, yakni dengan memberikan perhatian pada hal-hal kecil. Misalnya dengan mengetahui kebiasaan makannya, di mana letak sepatunya, atau warna atau kesukaannya dll. Mungkin terkesan sepeleh tapi itu akan menjadi kesan tersendiri buat adik-adik. Karena kalau hal-hal kecil saja diperhatikan apalagi yang besar?

Yang ketiga yakni berbicara dari hati kehati. Yakni apabila terjadi sebuah prilaku yang kurang maka kita ajak bicara pelan-pelan. Kita minta dia menceritakan atau curcol sama kita dengan cara yang baik dan kalau bisa kita luluhkan hatinya.

Dan yang terakhir dengan melakukan konseling. Konseling ini bisa dilakukan dengan memanggil satu persatu, atau dengan melakukan pendekatan spiritual vision atau memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak sesuai syariat misalnya.

Contohnya ketika terjadi kasus pencurian dalam sebuah asrama, kita buat renungan, kita pahamkan pada anak-anak bahwa mencuri adalah akhlak tercela, dan hukumnya adalah haram. Kalau tidak ada yang mengaku maka kita panggil satu persatu, dan kita tanyakan baik-baik.

Kemudian dalam dauroh tersebut beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus dihindari oleh seorang guru, ustadzah, atau teacher bahasa Inggrisnya. Yang pertama adalah membandingkan. Setiap anak atau remaja adalah unik, dia punya karakter yang khas. Dia juga ingin dihargai dan diapresiasi sekecil apapun prestasinya, dia ingin diakui eksistensi dirinya. Karena pada masa ini adalah masa pencarian jati diri mereka dan masa yang labil. Sekali mereka tidak dihargai mereka akan jatuh dan tidak akan mau berusaha lagi.

Misalnya saja, adik kita mendapat rangking 16 di kelasnya, sementara tetangga mendapat rangking 3 besar. Maka jangan sekali-kali membandingkan dia dengan tetangga kita tersebut. Kita hargai adik kita yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan yang terbaik dan kita motivasi agar ke depannya dia berusaha lebih giat lagi hingga dapat meningkatkan prestasinya. Atau misalnya si A punya prestasi di bidang sastra tapi nilai matematikanya jeblok. Maka jangan sekali-kali menjust bahwa anak ini bodoh, tidak bisa, dan membandingkan dengan temannya yang nilainya bagus. Dia akan ngedrop dan meninggalkan hobinya menulis cerpen misalnya. Padahal di situlah bakatnya. Maka hendaklah kita bisa memotivasinya agar dia terus mengasah bakatnya hingga suatu saat dia bisa menjadi penulis besar.

Yang kedua yakni pilih kasih. Saudaraku, janganlah sekali-kali kita pilih kasih pada salah satu murid atau santri kita. Karena hal ini akan menimbulkan kesenjangan sosial diantara anak-anak. Tidak ada bedanya mau santri yang rajin, mau santri yang penurut, mau santri yang ngeyelan. Semuanya sama. Mereka punya karakter yang unik dan perlu penyikapan yang berbeda-beda.

Dan yang terakhir yakni, cuek, pasif, masa bodoh. Setiap anak selalu ingin diperhatikan, baik itu orang tua, teman, atau gurunya. Apalagi mereka yang punya prilaku “spesial” yang memerlukan perhatian khusus. Maka sikap cuek, pasif, dan masa bodoh terhadap mereka sudah selayaknya kita hindari sebagai seorang guru. Kalau kata ustadz Musyafa’, sikap ini merupakan ciri guru yang tidak bertanggung jawab. Karena seorang guru adalah pendidik, pejuang, seorang yang banyak berkorban dan seorang kader yang terus mengembangkan diri yang terus melakukan perbaikan diri.

Saudaraku, semoga yang sedikit ini menjadi pelajaran buat kita dalam memahami adik-adik, murid atau santri kita yang masih remaja. Karena mereka adalah pribadi yang unik, pibadi yang khas yang memerlukan penyikapan yang berbeda-beda.

Maka sikap pertama yang harus kita miliki dan selalu kita memiliki adalah sabar. Karena di balik kesabaran ada keikhlasan dan ketulusan, yakni ikhlas ketika sikap labil mereka membuat mereka bersikap kasar terhadap kita, dan tulus dalam memberikan setiap bimbingan dan arahan kepada mereka. Karena di balik kesabaran ada sikap qona’ah, yakni menerima mereka dengan segala keunikan sikap mereka, menerima mereka satu paket kelebihan dan kekurangan mereka. Dan di balik kesabaran itu pula ada ketegaran, yakni tegar dalam menghadapi segala bentuk tingkah laku mereka.

Waallahu a’lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]

Resep Mengejar Target Tilawah

Seribu satu kiat memenej waktu agar tercapai target tilawah sering kita temui di buku-buku bahkan di situs-situs keislaman. Tapi nampaknya ada satu resep sederhana selain resep-resep andalan lainnya yang patut dicoba dan sudah teruji.

Berawal dari pertemuan dengan seorang ustadzah dalam suasana buka bersama sore itu, dengan mulut yang komat-kamit dan buku tipis kecil di tangannya. Berbeda dengan pegangan teman yang lainnya ; handphone atau pun mushaf Al Qur’an. Selidik punya selidik, setelah introgasi sana sini termasuk pada beliau secara langsung, itu merupakan salah satu kiat beliau untuk tetap konsisten pada target tilawah hariannya dan bukan hanya saat Ramadhan.

Ternyata, menurut beliau dengan menggunakan mushaf yang sudah terbagi-bagi menjadi per juz akan lebih memicu kita untuk menuntaskan target tilawah dalam sehari itu. Semisal, jika beliau mentargetkan khatam Al Qur’an tiga kali dalam sebulan, maka tiga buah buku mushaf per juz yang akan ia bawa ke mana-mana dan menjadi patokannya untuk sesegera mungkin menuntaskan segala amanah dan mencari-cari waktu senggang untuk menghabiskan ketiganya. Jika belum maka beliau tidak akan tidur terlebih dahulu.

Hal ini memang saya rasakan berbeda ketika sempat meminjam handphone teman yang terdapat mushaf digitalnya atau pun dengan menggunakan mushaf biasanya. Kita akan termindset bahwa banyak sekali lembar juz yang masih harus ditempuh yang secara psikologis sering kali pula membuat kita enggan melanjutkan melahap habis ayat demi ayat. Selain itu, sulit untuk mengukur capaian kita, naik turunnya semangat, dan tentu saja kurang praktis.

Nampaknya, hal sesepele ini perlu kita cermati dan praktikkan, termasuk saya yang selama ini menggunakan mushaf pada umumnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga ada trik tersendiri bagi setiap orang untuk menuntaskan target tilawahnya. Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

2 Orang yang Tidak Mendapat Ampunan Allah di Malam Nisfu Sya’ban

Betapa bahagianya mendapatkan ampunan Allah. Betapa menderitanya tidak mendapatkan ampunan dari-Nya.

Di malam nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni hamba-hamba-Nya. Namun, ada dua orang yang dikecualikan. Mereka tidak mendapatkan ampunyan-Nya.

Siapakah mereka? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

1. Orang yang berbuat syirik
Orang yang berbuat syirik, menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia tidak akan mendapatkan ampunan Allah. Tidak hanya di malam nisfu Sya’ban, di waktu apa pun ia tidak akan diampuni Allah kecuali dengan syarat meninggalkan perilaku syirik tersebut dan melakukan taubat nasuha.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’ : 48)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ : 116)

Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. (QS. Muhammad : 34)

Syirik bukan hanya berbentuk menyembah sesuatu selain Allah, sebagaimana kafir Quraisy menyembah berhala di sekeliling ka’bah. Di zaman sekarang, kadang syirik tidak disadari dan dianggap biasa-biasa saja. Misalnya, meminta sesuatu (berdoa) kepada selain Allah; berlindung kepada jin; percaya/meminta tolong kepada dukun; menggunakan tamimah (jimat) untuk perlindunga, keselamatan, dan sebagainya; mempercayai ramalan zodiak, dan sejenisnya.

Rasulullah pernah melihat seseorang memakai jimat kuningan. Lalu beliau bertanya kepadanya: “Apakah ini?” orang itu menjawab, “Penangkal sakit.” Nabi pun bersabda, “Lepaskan itu, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad)

2. Orang yang bertengkar dengan sesama Muslim
Islam bukan hanya menuntun hubungan dengan Allah (hablun minallah). Islam juga mengatur hubungan dengan sesama (hablun minannas). Islam menghendaki hablun minannas juga dijalankan dengan baik, apalagi kepada sesama muslim. Ada konsep ukhuwah islamiyah. Bahwa sesama muslim itu laksana bangunan yang saling menguatkan, dan orang-orang yang beriman itu bersaudara.

Karenanya sesama muslim tidak boleh saling menyakiti, tidak boleh saling membenci, memata-mati, menghasud dan sebagainya. Kalaupun dalam keadaan terpaksa kemudian berselisih, Islam hanya memberikan batas waktu tiga hari saling berdiam diri. Lebih dari tiga hari tidak saling sapa, orang itu berdosa. Dan khusus di malam nisfu Sya’ban, sesama muslim yang saling bertengkar –meskipun keduanya bersih dari syirik- mereka tidak mendapatkan ampunan dari Allah.

Maka, mari kita berlepas dari syirik dan memaafkan seluruh saudara seiman sejak malam ini. Dan semoga, dengannya Allah memberikan ampunan kepada kita di malam nisfu Sya’ban-Nya. []

Ketika Syekh Qardhawi Akui Kesalahan Fatwanya


Syekh Dr Yusuf Qardhawi adalah ulama besar Sunni. Ia merupakan ketua Persatuan Ulama Dunia. Doktor fikih dari Universitas Al Azhar, Kairo, kelahiran 9 September 1926 di desa kecil bernama Shafth di tengah Delta Nil, Mesir, ini telah menulis puluhan buku dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pandangannya selalu menjadi fatwa dan rujukan umat Islam dunia. Fatwa-fatwanya bukan hanya seputar ibadah dan muamalah, tapi juga mencakup berbagai masalah, dari politik, demonstrasi hingga revolusi rakyat melawan rezim penguasa yang zalim.

Qardhawi bahkan tidak hanya berfatwa, tapi juga ikut aktif dalam kegiatan politik. Itulah sebabnya, ketika pecah revolusi rakyat Mesir untuk menjatuhkan rezim Presiden Husni Mubarak pada awal 2011, ia pun terbang dari Qatar (tempatnya bermukim) ke Kairo. Ia bergabung dengan rakyat Mesir ikut berdemonstrasi. Selain memberi orasi di depan para demonstran, ulama berusia 87 tahun itu juga memimpin shalat Jumat di lapangan Tahrir. “Mubarak harus mundur dari kursi presiden,” katanya dalam khotbah Jumat, ketika itu. Alasannya, rakyat telah mencabut mandatnya kepada sang pemimpin Mesir itu.

Terhadap konflik di Suriah, Qardhawi juga mengeluarkan fatwa mengenai boleh dan tidaknya unjuk rasa melawan rezim penguasa. Menurutnya, menjatuhkan sebuah rezim dibolehkan alias halal manakala ada kezaliman dan penghilangan terhadap hak asasi manusia. Atas dasar itu, Qardhawi yang hafal Alquran pada usia 10 tahun ini memperbolehkan aksi unjuk rasa, bahkan revolusi melawan penguasa yang dianggap zalim, terutama mereka yang menyengsarakan rakyat, seperti rezim Presiden Bashar Assad.

Barangkali, karena fatwanya yang memperbolehkan menjatuhkan rezim Assad itulah Syekh Qardhawi kemudian mengakui kesalahan fatwa sebelumnya yang pernah ia ucapkan. Pada 2006, Qardhawi menyatakan wajib hukumnya mendukung Hizbullah dan pemimpinnya, Syekh Hasan Nasrullah dalam menghadapi serangan Israel ke Lebanon. “Saya pernah membela-selama bertahun-tahun-Hasan Nasrullah yang menamai partainya Partai Allah (Hizbullah), padahal partai itu adalah partai tirani (thoghut) dan partai setan. Mereka membela Bashar Assad,” katanya dalam sebuah pidato di Qatar, beberapa hari lalu.

“Saya (waktu itu) harus berlawanan dengan para ulama dan syekh besar di Arab Saudi untuk membela Hizbullah. Namun, ternyata para syekh (ulama) Saudi lebih dewasa daripada saya. Mereka berpandangan lebih jauh ke depan. Mereka (ulama Saudi) terbukti mengetahui siapa sebenarnya Hizbullah itu,” lanjut Qardhawi mengoreksi fatwanya yang pernah mendukung Hizbullah dan Hasan Nasrullah.

Dalam konflik di Suriah sekarang ini, Hasan Nasrullah secara terang-terangan menyatakan mendukung rezim Bashar Assad yang dinilai Qardhawi sebagai penguasa zalim. Tentara Hizbullah dan Bashar Assad saling membantu merebut Kota Qusair dari tangan para pejuang revolusi Suriah. Qusair adalah kota strategis bagi Assad untuk mempertahankan kekuasaannya. Pasukan Assad menyerang dari udara, sementara tentara Hizbullah dari darat. Puluhan orang tewas dalam pertempuran ini. Sebagian besar adalah para pejuang revolusi Suriah.

Syekh Qardhawi bukan hanya mencabut fatwa dukungannya terhadap Hasan Nasrullah dan Hizbullah, melainkan juga terhadap Iran. Katanya, dalam sebuah pidato di Qatar, “Selama ini dan sudah berlangsung bertahun-tahun saya menyerukan pendekatan antarmazhab (taqrib bainal madzahib). Untuk itu, saya terbang ke Iran saat dipimpin Presiden Mohammad Khatami. Mereka telah menertawakan saya dan banyak orang seperti saya. Mereka sebenarnya berpura-pura ketika menginginkan pendekatan antarmazhab.”

Pengakuan Syekh Qardhawi mengenai kesalahan fatwanya tadi kontan saja menjadi berita besar di berbagai media Arab, baik cetak, online, maupun televisi. Bukan hanya menjadi berita, mereka juga menurunkan berbagai ulasan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi, intinya hanya satu bahwa para ulama dan pemimpin Arab, terutama dari negara-negara Teluk, kini dihantui kekhawatiran mengenai semakin meluasnya pengaruh Syiah di kawasan Timur Tengah. Mereka munuduh Iran ingin menciptakan poros Syiah Teheran-Damaskus-Beirut. Apalagi, Iran selama ini secara terang-terangan juga membela rezim Presiden Bashar Assad.

Menurut pengamat Timur Tengah Abdul Rahman Al-Rasyid, Syekh Qardhawi tidak salah ketika melemparkan keinginannya untuk mendekatkan mazhab-mazhab dalam Islam. Ia juga tidak salah ketika menyerukan perlunya saling bahu-membahu antarpemimpin Muslim. Ide Syekh Qardhawi, lanjut Al-Rasyid, adalah sangat baik dan terpuji. Yang salah adalah ia (Qardhawi) kurang memahami strategi politik yang dimainkan oleh para pemimpin negara-negara di Timur Tengah, terutama para pemimpin Iran.

Yang jelas, pernyataan Syekh Qardhawi yang mencabut fatwa dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon Selatan dan Syekh Hasan Nasrullah serta keraguannya terhadap pendekatan antarmazhab dengan para ulama Iran akan berpengaruh luas terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah. Kawasan panas ini akan terus bergolak. Bukan hanya menghadapi penjajahan dan pendudukan oleh Zionis Israel, tapi juga kekhawatiran terjadinya gesekan antara penganut Sunni dan Syiah, seperti yang kini sedang berlangsung di Irak, Suriah, Lebanon, dan Bahrain. Wallahu a'lam.[]

Penulis : Ikhwanul Kiram Mashuri
Sumber : Resonansi Republika
 

suara islam Powered by Blogger