Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Memperjuangkan Kriteria Cinta

Menikah (desainkawanimut)
Menikah itu bukan hanya urusan dunia saja, Sayang. Menikah adalah perkara yang juga akan dibawa di akhirat kelak. Makanya,pertimbangannya juga tidak boleh hanya pertimbangan duniawi saja. Bahkan seharusnya, pertimbangan akhirat yang memiliki bobot yang lebih tinggi. Karena kita akan hidup lebih lama di akhirat daripada di dunia, bukan?
#repost statusnya EDCOUSTIC

Hari I
“Jadi bagaimana Pak keputusan terakhirnya…?” Zahra bertanya to the point memecah kebisuan yang merebak di antara keduanya. Bapak, orangtua yang tinggal satu-satunya dengan dirinya, putri pertama yang dikenal penurut.
“Bolehkah….?”Lanjutnya saat belum jua terdengar suara.
“Tidak…” ucap si Bapak perlahan seperti takut jawabannya akan menyakitkan.
“Apakah benar- benar tak bisa dinego…?” Zahra coba kembali mengais kesempatan.
“Sudah bapak bilang tidak… sudah bapak timbang baik-baik beberapa hari ini, tak mungkin kulepas putriku pada lelaki yang tak bisa tiap hari pulang karena pekerjaan, dan terlebih lagi tak sebanding antara pengorbanannya dan gaji yang ia terima… pendidikanya juga biasa saja… keluarga dan kerabatnya jauh tak mudah ditemui untuk silaturrahmi… berat… ”lanjut bapak menjabarkan sederet alasan.
“Apa benar-benar tidak bisa…”Zahra kembali memastikan.
“Tidak…” jawab bapak singkat.
Zahra diam tidak membantah.

Hari II
“Bapak bilang tidak boleh… benar seperti yang diperkirakan… pekerjaan antum yang jadi simpul penghalang…” Zahra mengabarkan pada Syam, Si Lelaki Cahaya.
“Ya sudah tidak apa-apa… kewajiban anak patuh dan nurut dengan orang tua…” bijak Syam memberi jawaban.
“Saya akan coba perjuangkan lagi...” Zahra memberi harapan.
“Wajar seorang ayah ingin yang terbaik untuk putrinya… ada baiknya anti mencari keridhoan orang tua… ikhtiar sudah dilakukan… apapun hasilnya… pasrahkan saja padaNya… ” lanjut Syam
“Baik… InsyaAlloh Jum’at besok saya kabari…” Zahra mengakhiri.

Hari III
“Maaf Pak, untuk kali ini saya kurang sepakat dengan keputusan Bapak… bagi saya alasan penolakan yang Bapak utarakan jujur hingga saat ini belum bisa saya terima… sekeliling saya merekomendasikan dengan lelaki karakter seperti itu… terlalu sayang untuk dilepaskan… beliau mau menerima kekurangan fisik dan gangguan kesehatan yang saya derita… dan yang terpenting beliau bisa menerima “dunia dakwah” yang saya geluti dengan segala konsekuensinya… maaf Pak untuk kali ini saya kurang sepakat… apa benar-benar keputusan bapak tidak bisa dipertimbangkan ulang…?” Zahra memberanikan diri menyampaikan pendapatnya.
“Ridho Bapak adalah syarat yang utama… beliau tidak memaksa… terserah Bapak… hanya ikhtiar kemudian pasrah saja..”Zahra melanjutkan.
“Baiklah… Bapak anggap kamu sudah siap dan memikirkan semua resiko yang akan kalian hadapi… silahkan… bapak ridho…” Bapak memberikan keputusan akhirnya.

Hari ini
Ijab Qobul pernikahan sudah terjadi, hidup bersama sudah mulai dijalani.Si Bapak dan Zahra hanya bisa bersyukur memilih Syam, sang lelaki cahaya sebagai bagian keluarga. Lelaki yang berusaha sholat berjamaah di setiap fardhunya. Berlama-lama saat ruku dan sujudnya. Menjaga wudhu di setiap waktu matanya terbuka. Dan berusaha tidak lupa sujud tilawah setiap ayat sajdah yang ia temui ketika mengaji. Dan semua itu jauh lebih menentramkan dari pada seraut wajah yang tampan, bergelimangnya kekayaan, atau baiknya nasab keturunan. Tak akan kecewa yang menikah atas dasar pilihan agama.

Waaaah… panjang juga kisah pembukanya. Tak penting ini kisah fiksi atau nyata. Ibrohnya, sepertinya sebagian pembaca sudah bisa menduga.Ya, tentang bagaimana menetapkan standar kriteria dalam urusan pernikahan. Baik bagi yang menjalani maupun yang terbebani kewajiban mencarikan jodoh untuk putra dan putri tercinta. Banyak dari kita sudah tahu secara teori, bagaimana Islam menuntun umatnya.

“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tapi rupanya untuk tataran aplikasi, tak bisa dipungkiri masih banyak orang tua dan “calon pengantin” yang pilih-pilih atau terlalu berlebihan menetapkan standar kriteria. Harus putih, tinggi , mulus wajah dan kulitnya, keturunan ningrat, strata satu minimal pendidikannya, jelas hitungan gaji per bulannya, apa tipe dan merek kendaraan yang dimilikinya, berapa meter persegi luas rumah dan aset pribadinya. Waah saya terlalu berlebihan sepertinya menyebutkannya. Bukan berarti tidak boleh, tentu sah–sah saja. Semua hal yang baik-baik itu bisa dimasukkan dalam list kriteria kita. Tapi apakah sudah tepat urutan yang kita pakai saat membuat standar kriteria. Apakah akhlak dan agama menempati urutan pertama atau sebaliknya justru menempati urutan paling buncit… paling akhir. Mana yang lebih kita dahulukan pertimbangan duniawi atau pertimbangan akhirat.

Padahal jika kita rasional, mana yang lebih awet “daya tahan” dan “daya guna” nya bagi kita. Yang bersifat duniawi dan materi seperti keindahan fisik dan berlimpahnya harta atau indahnya akhlak dan iman yang terjaga. Dua yang pertama masa menikmatinya berbatas waktu. Sebaliknya dua yang selanjutnya saya kira lebih bisa tahan lama. Lebih bisa berguna bahkan saat kita sudah tidak lagi di dunia. Akhlak yang indah dan iman yang terjaga lebih berpotensi mendorong seorang manusia untuk mendulang banyak pahala. Dan itu bekal yang sejatinya kita bawa sesudah akhir dunia. Dan kehidupan sesudah dunia itu jauh lebih lama. Sebagaimana kata hikmah dari Fanpage tim Nasyid ternama EDCOUTIC di atas.

Menikah itu bukan hanya urusan dunia saja, Sayang. Menikah adalah perkara yang juga akan dibawa di akhirat kelak. Makanya,pertimbangannya juga tidak boleh hanya pertimbangan duniawi saja. Bahkan seharusnya, pertimbangan akhirat yang memiliki bobot yang lebih tinggi. Karena kita akan hidup lebih lama di akhirat daripada di dunia, bukan?

Soal itu Allah sudah jelas-jelas menerangkan dalam firman Nya
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
(QS. Al-Ankabut ayat 64)

Baiklah sedikit saran telah selesai disampaikan. Untuk para orang tua dan “calon pengantin” akankah tertarik mengubah nomor urutan standar yang telah ditentukan…? Well…di tangan andalah letak semua keputusan dan pilihan. Wallahu’alam bish shawab. [Kembang Pelangi]

Berjilbab itu Ribet? No Way!

Asma Nadia - Jilbab Traveler
Matahari bersinar cukup terik membuat siang itu terasa semakin panas.
“Mbak, aku ingin jadi muslimah biasa-biasa saja, tidak terlalu ribet,” seorang adik binaanku memulai curhatnya.
“Maksud anti dengan ribet itu apa dek?”
“Ya kalau pakai kerudung ya sewajarnya saja, lalu tidak harus pakai bawahan rok dan kaos kaki...”

Cukup lama kami berdialog. Soal jilbab, hingga soal ikhtilat. Meskipun dialog siang itu belum membuatnya berubah, setidaknya dakwah fardiyah telah sampai kepadanya, seiring doa agar Allah mengkaruniakan hidayahNya. Seringkali dibutuhkan proses yang panjang hingga seseorang berubah menjadi lebih syar’i.

Ada banyak alasan mengapa seorang muslimah belum juga mau berjilbab. Diantaranya seperti yang dikemukakan adik binaanku tadi. Jilbab itu ribet. Apalagi jika harus memakai gamis atau rok, ditambah dengan kaos kaki. Benarkah?

Jika yang dimaksud jilbab adalah jilbab modis, jilbab stylish, dan jilbab ‘kreasi’, mungkin butuh waktu cukup lama memakainya. Pun tidak semua muslimah bisa karena sulitnya menghias dan menata. Tetapi untuk jilbab syar’i yang biasa dipakai akhwat, hanya dibutuhkan waktu sekitar dua menit untuk memakainya. Apalagi jika untuk acara santai, saat ini tersedia banyak model jilbab kaos yang hanya membutuhkan bilangan detik untuk memakainya.

Setelah jilbab terpakai dan aurat tertutup, selanjutnya lebih mudah. Muslimah menjadi lebih terhormat dan memiliki izzah. Ia juga aman dan nyaman tanpa sibuk membetulkan dan menutup bagian tubuh yang terbuka. Yang terakhir ini kadang kita lihat di atas motor, atau di kendaraan umum. Seorang wanita yang tidak memakai jilbab, dengan t-shirt atau baju yang agak kekecilan, ia jadi ribet sendiri menariknya ke bawah agar perutnya tidak kelihatan. Atau menutupnya dengan taplak meja agar pahanya tidak terumbar. Jadi ribet kan?!

Jika yang dimaksud jilbab ribet itu menghambat aktifitas muslimah, faktanya tidak demikian. Sejak zaman Nabi, para sahabiyat mudah beraktifitas di banyak pentas. Pentas pendidikan, pentas kesehatan, bahkan di medan perang. Toh, jilbab tidak mengganggu mereka. Pun di dunia modern. Kini kita temukan dokter-dokter hebat, penulis-penulis handal, tokoh-tokoh terkenal, mereka berjilbab. Asma Nadia salah satu contohnya. Muslimah berjilbab ini menjadi tokoh perubahan Republika 2010. Ia juga telah berkeliling dunia dalam misinya, jilbab traveler. Ada pula Oki Setiana Dewi yang sukses menjadi bintang film, sinetron, penulis buku dan juga menerbitkan album lagu. Jilbab tak jadi penghalang kan?! Apalagi sekarang ini jilbab telah didukung oleh hampir semua elemen negara. Terakhir, polwan akan diijinkan berjilbab. Insya Allah realisasi resminya tahun depan.

Jadi, di mana ribetnya jilbab? Kita perlu mewaspadai jika ternyata ribet yang sebenarnya ternyata ada di hati. Di kalangan remaja dan pemuda, kadang ada rasa takut karena tidak bisa mengikuti arus pergaulan sehingga kemudian ‘terpaksa’ mengikuti mereka biar kita diterima dalam komunitas pergaulan. Takut kehilangan teman-teman, padahal ketakutan itu hanya di hati. Tidak sepenuhnya terbukti.

Keimanan kita yang ternyata belum siap menerima kebenaran dan resiko yang harus kita tanggung, kita takut terkucilkan dengan prinsip kita, rasa takut yang hanya berorentasi kepada dunia. Padahal ada Dzat yang patut lebih kita takuti jika kita tidak mampu melaksanakan apa yang menjadi perintahNya.

Padahal jika kita mampu mempertahankan prinsip bahwa agama adalah segalanya, maka orang yang ada di sekitar kita akan menghargai prinsip kita.

Kita baca arti Firman-Nya dalam surat Muhammad ayat 7: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Saat kita memenuhi seruan Allah ini,
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Qs. An-nur :31)
sesungguhnya kita membuktikan iman kita, sekaligus membuktikan bagian dari menolong agama Allah. Dan yakinlah dengan janji pertolongan-Nya.

Wallahu a’lam bish sawab. [Retno Zuraida]

Ketika Akhwat Diuji dengan Suami

La Tahzan (gambar faniafnan.blogspot.com)
“Biarlah itu menjadi urusan suamiku dengan Allah, yang terpenting aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri.”

Begitu menohok ketika sebuah kalimat itu kudengar setelah rentetan kisahnya dalam mengarungi biduk rumah tangga. Dia adalah sosok yang begitu luar biasa di mataku. Bagaimana tidak, dalam kondisi harus bekerja untuk menghidupi keempat anaknya, ia tetap aktif berdakwah. Sementara suaminya, selain hanya bekerja serabutan, kondisinya jauh dari nilai-nilai dakwah yang ia bawa.

“Mengapa engkau mau menikah dengannya, bukankah ia perokok dan sama sekali tidak seiring dengan jalan juangmu?” tanyaku ketika itu.

“Begitulah yang namanya jodoh,” jawabnya, “Dulu pemahamanku tidak seperti sekarang. Aku terima saja lamarannya, toh tidak ada yang fatal dari dirinya, menurutku waktu itu. Dengan kefahamanku yang sekarang pun harusnya aku bisa lebih bijak. Tak pernah aku surut untuk mengajaknya melangkah bersama dalam kebaikan walau pun sungguh berat. Kalau pun masih banyak hal yang tidak sesuai dari dirinya, biarlah itu menjadi urusan suamiku dengan Allah, yang terpenting aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri. Itulah ladang dakwahku.”

Diriku yang nol sama sekali dari pengalaman mengarungi biduk rumah tangga hanya melongo mendengar jawabannya. Bukan lantaran kisah sedih hidupnya. Banyak kisah yang mungkin lebih tragis dari itu. Akan tetapi, fikiranku serasa menerawang, jikalau itu aku… bisakah aku berfikir sebijak itu…

Selama ini para bujanghidin (sebutan keren bagi yang belum menikah) sering kali hanya mempunyai teori-teori tentang pernikahan baik itu dari buku-buku yang dibaca atau pun pengalaman orang-orang di sekitarnya. Tapi jelas teori tidaklah cukup. Pun tidak ada percobaan menikah. Menikah adalah sebuah pilihan. Pembelajarannya dimulai pada saat menikah itu lah.

Selesai menerawang dengan segala fikiran yang bergelayutan, akhirnya kusimpulkan. Paling tidak, gambaran-gambaran yang kudapatkan selama ini tentang biduk pernikahan dapat membuatku memutuskan di saat itu, menjadi bijak atau menunggu keadaan yang membuatmu bijak.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Ketika Ta'aruf yang Kesembilan Gagal Lagi

Ilustrasi akhwat sedih
“Benarkah yang kedelapan kali?” Tanya saya pada teman kakak yang mengaku gagal ta’aruf berkali-kali.
“Iya, Dek. Dan ini yang kesembilan kali,” wajah kakak itu bertambah lesu.
“Ya Allah kak…”
“Iya, padahal tinggal seminggu lagi khitbah. Tapi ternyata gagal lagi, Dek” kalimat ini membuat saya semakin penasaran apa penyebab dari gagalnya ta’aruf beliau.
“Sabar ya kak. Namanya juga belum jodoh”
“Ya iya. Kalau jodoh pasti bakal jadi.. hehe” kakak itu mencoba tersenyum.
“Hmm… Kalau saya boleh tahu, emang penyebab gagalnya apa Kak?” Tanya saya hati-hati agar tidak sampai menyinggung perasaan beliau.
“Banyak Dek… Tapi ya rata-rata karena kakak ini hanya lulusan SMK”
“Apa? Masak segitunya kak?”
“Iya. Tapi kebanyakan orang tuanya yang gak setuju. Kalau akhwatnya sih biasa-biasa saja atau tidak mempermasalahkan. Tapi ada juga yang menolak mentah-mentah”
“Dan ini sudah yang kesembilan kali gagal. Dari akhwat yang satu daerah sampai yang luar kota bahkan luar pulau, semuanya gagal”
“Ouwh” kata saya. Bulet. Perasaan saya tidak karuan. Sedih bercampur kasihan. Kesel juga dengan dengan akhwat atau orang tua yang menetapkan banyak kriteria pada calon menantunya tersebut.

Saya jadi ingat kerita dari ummi saya beberapa tahun silam. Saat masih kuliah dulu ummi menetapkan banyak kriteria pada calon suaminya. Diantaranya harus cerdas, pinter, pendidikannya minimal S2 dan lain-lain. Beliau lantas cerita pada mbak kosnya dan mendapat nasehat seperti ini, “Eh Din, kamu berani menetapkan banyak kriteria seperti ini? Apa kamu bisa menjamin dengan kecerdasannya, kepandaiannya, dan S2nya ini bisa menjadikan kamu bahagia? Din... yang kamu hadapi setiap hari itu akhlaknya. Bukan kepandainya apalagi S2nya”.

Sejak saat itu beliau lalu mengubah kriteria calon pendamping beliau. Sampai akhirnya beliau menikah dengan ustadz yang waktu itu hanya lulusan SMA. Meskipun setelah itu ustadz melanjutkan ke sebuah universitas di Jawa Tengah.

Kata beliau awalnya memang berat. Tapi semua itu beliau jalani dengan ikhlas hingga ustadz sekarang banyak dikenal di kalangan masyarakat. Banyak mengisi kajian di mana-mana. Diminta mengurusi sebuah yayasan rumah tahfidz, diberi fasilitas rumah dan kemudahan-kemudahan lainnya.

Lha kalau sepeti ini apakah tingkat pendidikan bisa menjamin kesuksesan dan kebahagiaan seseorang? Nggak kan? Banyak kok orang pendidikannya tidak sampai perguruan tinggi namun bisa sukses dan hidupnya diberi keberkahan lantaran kemuliaan akhlaknya.

Ya memang sebagai orang tua terkadang khawatir dengan masa depan anaknya. Apa lagi kalau itu anak perempuan satu-satunya. Anak orang berada pula, yang tak ingin anaknya hidup susah. Tapi apakah dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi bisa menjamin kebahagiaan anaknya? Hayoo jaman sekarang gitu lho, banyak juga kok yang S2, S3 bahkan sudah professor tapi hidupnya tidak benar atau malah jadi koruptor.

Akhwati… tingkat pendidikan bukan penentu kesuksesan dan kebahagian seseorang. Yang penting akhlak dan ibadahnya bagus. Kalau kata ustadz saya, yang penting sholat lima waktunya sudah bagus itu sudah nikmat dunia akhirat. Kenapa? Kalau orang yang akhlaknya bagus itu mesti bertanggung jawab, dia mesti akan berusaha dan nggak akan menelantarkan keluarganya. Masa depan kita hanya Allah yang tahu. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin selanjutnya kita pasrahkan semua sama Allah.

Oleh karenanya, mari kita luruskan kembali niat kita untuk menikah. Apakah benar-benar hanya karena Allah ataukah ada misi lain yang menyelinap di hati kita. Kalau memang benar-benar hanya karena Allah semua itu tidak akan menjadi penghalang. Mau dia lulusan S1 ataupun hanya lulusan SD sekalipun tak jadi masalah. Mau dia direktur atau hanya seorang kondektur tidak akan menghalagi kita untuk tetap melangkah. Karena yang menjadi prioritas kita adalah kemuliaan akhlaknya dan kebagusan ibadahnya yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Perkara orang tua itu bisa dilobi atau bisa diberi kefahaman. Tentunya dengan cara yang hati-hati agar tidak malah menyinggung perasaan beliau atau malah menjadikan masalah baru.

Wallahu a’lam bish-showab. [Ukhtu Emil]

Kisah Wanita Cantik yang Membuat Kagum Para Ulama

Ilustrasi wanita cantik dan shalihah (foto abujibriel.com)
Ketika menelusuri sebuah jalan di kota Bashrah, Al Atabi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bersendau gurau dengan seorang lelaki tua buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbisik, laki-laki tersebut pun tertawa.

Al Atabi yang penasaran kemudian memberanikan diri bertanya kepada wanita itu. “Siapa laki-laki tersebut?”
“Dia suamiku”

“Kamu ini cantik dan menawan, bagaimana kamu dapat bersabar dengan suami yang jelek seperti itu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan” Al Atabi meneruskan pertanyannya.
“Barangkali karena mendapatkan wanita sepertiku, maka ia bersyukur. Dan aku mendapatkan suami seperti dirinya, maka aku bersabar. Bukankah orang yang sabar dan syukur adalah termasuk penghuni surga? Tidak pantaskah aku bersyukur kepada Allah atas karunia ini?”

Al Atabi kemudian meninggalkan wanita itu disertai kekaguman. Ulama Al Azhar, Dr Mustafa Murad, juga kagum dengan wanita itu sehingga memasukkan kisah ini dalam bukunya Qashashush Shaalihiin. Kedua ulama tersebut tidaklah kagum kepada wanita itu karena kecantikannya. Mereka kagum karena agamanya.

Dan benarlah pesan Rasulullah: “Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita yang baik agamanya, ketika ia kaya, ia tidak sombong. Ia justru dermawan, suka berinfaq dan mendukung perjuangan dakwah suami dengan hartanya.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia, ia tidak menghina orang lain. Ia justru menjadi wanita yang mulia dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. Ia justru menjadi penghibur hati dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]




Mengaku Akhwat, Tapi Mengundang Syahwat

Koleksi parfum menggoda - ilustrasi
“Mengaku Akhwat, Mengundang Syahwat”, itulah sebuah judul yang ditulis pada artikel anak-anak dalam rangka tugas Bahasa Indonesianya. Dalam tugas tersebut mereka mewawancarai dua orang guru yang berbeda pendapat. Satu dari ibu guru sedang yang satu dari bapak guru.

Kurang lebihnya seperti ini,
“Bu Guru, bagaimana pendapat anda mengenai pakaian yang sesuai syariat Islam?”
“Cara berpakaian yang sesuai syariat Islam adalah memakai kerudung minimal menutup dada, meskipun tidak terlalu lebar” jawab Bu Guru
“Percuma dong, kalau jilbabnya besar tapi hatinya tidak sesuai kehendak hati, ya sama saja tindakan yang dilakukan sia-sia?” imbuhnya.

Kemudian merekapun memberi pertanyaan lagi,
“Bu Guru, bagaiamana menurut anda akhwat yang memakai parfum?”
“Saya nggak setuju kalau akhwat dilarang memekai parfum”
“Alasannya?”
“Minyak wangi itu bisa membangunkan syahwat. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menggunakannya. Kita boleh menggunakannya asalkan tidak sampai tercium orang lain”

Lain lagi dengan jawaban dari bapak guru yang satu ini,
“Cara berkerudung akhwat yang benar menurut syariat islam yakni menutup dari ujung rambut sampai setengah lengan. itu minimal”

Kemudian beliau memperkuat jawabannya dengan dasar surat An-Nur ayat 31 yang di dalamnya kita diperintahkan untuk menjulurkan jilbab sampai menutup dada.

Kemudian anak-anak menanyakan kepada beliau mengenai jahitan punggul yang membentuk lekak-lekuk tubuh. Menurut beliau hukum jahitan punggul pada baju tidak boleh. Karena baju yang menggunakan jahitan punggul “sekengan” biasanya membentuk tubuh (yang gendut ya kelihatan gendutnya, sedangkan yang kurus yang keliahatan kurusnya).

Sedangkan mengenai hukum memakai minyak wangi beliau berpendapat bahwa memakai minyak wangi bagi laki-laki adalah halal. Sedangkan bagi perempuan sebenarnya boleh tapi harus tahu tempat. Minyak wangi dikatakan haram jika dipakai diluar rumah, karena bisa mengundang syahwat dan menimbulkan fitnah.

Akwati fillah... Itulah sedikit gambaran mengenai dua perbedaan pendapat mengenai pakaian oleh bapak ibu guru di sebuah sekolah. Yang satu mengatakan bahwa dengan menutup dada saja sudah cukup, sedang yang satu sebaiknya sampai pada lengan atau siku.

Yang berpedapat pakaian yang sesuai syariat hanya sebatas menutup buah dada alasanya “Buat apa berjilbab besar kalau hatinya tidak ikhlas?” Mungkin kalau saya boleh membantah dengan judul anak-anak di atas, buat apa berjilbab tapi kalau masih mengundang syahwat? Buat apa pakai busana muslimah, kalau masih menunjukkan lekak-lekuk tubuh sehingga mengundang syahwat kaum Adam?. Bukankah begitu?

Terkadang awal untuk melakukan kebaikan perlu adanya paksaan. Perlu adanya proses, perlu adanya pembiasaan. Bukankah dipaksa untuk melakukan kebaikan yang membawa manfaat itu lebih baik dari pada terus membiarkan diri dalam kemaksiatan? Perkara itu diterima Allah atau tidak, itu urusan Allah. Ingat, ikhlas itu bisa dilatih sis...

Lain lagi dengan pendapat bapak guru di atas. Menurut beliau sebaiknya seorang wanita mengenakan kerudung sampai pada lengan atau siku. Hal ini untuk menghindari terlihatnya lekak-lekuk tubuh. Karena sesuai yang telah dijelaskan (baik dalam al-quran maupun hadits) syarat pakaian muslim adalah tidak nerawang, tidak menunjukkan leka-lekuk tubuh, tidak mencolok dan tidak memakai wangi-wangian yang berlebihan sehingga dapat mengundang syahwat kaum Adam.

Akhwati fillah... Berpakaian, bukan masalah modis, bukan masalah ga sesuai zaman, tapi kembali pada fungsi dan tujuan kita memakai pakaian itu sendiri. Tak apa pakai jilbab dengan model yang dibilang “jadul” atau model mirip “bu haji” (sehingga pas kita lewat skita sering dipanggil “bu haji” hehe ) yang penting sesuai syariat, tidak melanggar aturan syariat dan yang jelas sesuai dengan fuungsi pakaian itu sendiri menutup aurat agar terhindar dari pandangan syahwat kaum Adam...

Percuma kita mengikuti trend mode zaman sekarang, dengan berbagai model jilbab tapi masih menunjukkan lekak-lekuk tubuh, masih terawang, masih belum bisa menutup aurat kita dengan sempurna, dan masih memancing mata-mata tak berdosa untuk menikmati keindahan tubuh kita.

Oleh karenanya akhwati fillah... Marilah kita kembalikan fungsi pakaian muslimah itu sendiri, yakni sebagai penutup aurat kita yang akan menjaga kehormatan kita sebagai seorang muslimah. Sehingga kita terhindar pandangan syahwat kaum lak-laki yang ujungnya menjerumuskan kita ke dalam lembah kemaksiatan yang berujung pada neraka (ingat guys, masyoritas penguhuni neraka adalah kaum wanita) karena bila terjadi tindakan asusila seperti kasus rok mini yang terjadi beberapa waktu lalu, bukan hanya dari pihak lelaki yang disalahkan, tapi juga wanitanya. Karena dia tidak memakai pakaian sesuai syariat, sehingga laki-laki tersebut tergoda.

Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Antara Wanita Shalihah dan Bidadari Surga


Jam menunjukkan pukul 13:30. Matahari menyembulkan sinar dari balik awan, cerah. Awan putih di sekelilingnya menghiasi langit biru, ia seolah tersenyum melihat aku dan ummi yang tengah duduk berdua. Angin sepoi yang berhembus, membuat kami semakin asyik dalam angan kami. Di depan kami, terlihat kupu-kupu yang sedang berterbangan diantara bunga-bunga pohon yang biasa disebut orang Gresik sebagai pohon Keres, sedangkan orang Jogja biasa menyebutnya Talok.

“Dek” kata ummi, anganku terhenti. Kututup buku yang kupegang.
“Iya ummi” kupalingkan wajahku pada ummi, ummi terdiam sejenak.
“Liat deh dek, kupu-kupu itu seperti bidadari-bidadari yang berterbangan di taman surga. Sayapnya yang indah, dengan aneka macam warna, mengelilingi bunga talok dan daun-daunnya yang hijau. Indah ya dek?” kata ummi, matanya memandang ke arah kupu-kupu yang berterbangan di atas daun Talok yang terletak di samping asrama kami.

“Iya mi, indah ya. Kupu-kupunya bagus. Berwarna–warni. Subhanallah...” kataku pada ummi.

Aku lalu membayangkan bagaimana bidadari-bidadari surga itu menghiasi taman surga. Mereka saling bercengkerama. Matanya yang jeli, kulitnya yang halus dan bening, suaranya yang merdu, aah indahnya...

Tapi...

Anganku terhenti sejenak… Diam. Kosong. Mataku kembali menerawang jauh ke angkasa. Bukankah bidadari dunia itu lebih indah dan mulia tatkala ia bisa menjadi wanita sholihah, mereka wanita shalihah yang menjaga kehormatan dirinya dan martabat suaminya, mereka wanita-wanita shalihah yang tetap tegar menegakkan panji-panji Islam di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, mereka yang rela dianggap asing demi tegaknya sunnah Nabi di muka bumi ini, dan mereka yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau maksiat dan syubhat.

Dalam hadits diceritakan bahwa suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ”Ya Rasulullah beritakanlah kepada kami, mana yang lebih utama di surga, wanita di dunia ataukah bidadari surga?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wanita-wanita di dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tidak terlihat”

Ummu Salamah kemudian bertanya “Mengapa wanita-wanita shalihah lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab “Karena shalat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya dari emas. Mereka lalu berkata “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Maka berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya” (HR. At-Thabrani)

Subhanallah... Sungguh mulianya wanita shalihah hingga Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalihah lebih utama daripada bidadari surga. Wanita shalihah yang mengerjakan sholat, puasa dan memperbanyak ibadah.

Wahai saudariku...

Sungguh kita semua adalah wanita yang cantik, maka mari kita percantik diri kita dengan akhlak yang mulia, dengan menjadikan diri kita wanita yang shalihah hingga kita bisa menyaingi bidadari surga....

Wallahu a’lam bish-shawab... [Ukhtu Emil]
 

suara islam Powered by Blogger