Tampilkan postingan dengan label Pirman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pirman. Tampilkan semua postingan

Tiga Sufi Berebut Roti

3 sufi (ilustrasi)
Perubahan hanya bisa diraih jika seseorang berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Perubahan tak semudah membalikan telapak tangan atau sim salabim dalam sebuah pertunjukan sulap. Itulah mengapa, Allah mengingatkan bahwa Dia tidak akan mengubah nasib sebuah kaum hingga kaum tersebut berupaya untuk mengubah dirinya sendiri.

Untuk melakukan perubahan itu, seringkali dibutuhkan sikap berani dan keluar dari kaidah keumuman. Sikap berani inilah yang akan membuat seseorang melakukan sesuatu yang lebih dari selainnya. Mereka bukan tidak berpikir, tetapi menyederhanakan pikir, kemudian bergerak dan terus menerus berpikir untuk di sepanjang geraknya, untuk menyempurnakan perubahan yang telah menjadi mimpi di setiap jenak kehidupannya.

Tersebutlah tiga orang sufi yang tengah berkelana mencari dan mengumpulkan kebenaran. Hingga sampailah di ujung siang. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah gua yang mereka temukan. Tepat ketika istirahat di gua tersebut, roti yang mereka bawa sebagai bekal hanya tersisa satu potong.

Alhasil, sebelum menutup mata, mereka melakukan musyawarah. Dalam pembahasan itu, mereka mencari ide tentang siapakah yang paling berhak untuk memakan sisa satu potong roti tersebut.

Aneka usul disampaikan, banyak ide dibicarakan. Hingga akhirnya, ketiganya menemukan satu solusi yang mereka anggap paling jitu. Satu diantara mereka menyampaikan usul yang kemudian diamini oleh kedua sufi lainnya, “Bagaimana kalau kita tidur terlebih dahulu. Besok, kita tentukan siapa yang paling berhak memakan roti. Kriterianya, yang berhak memakan roti adalah orang yang berhasil mendapatkan mimpi paling bagus, dan disepakati oleh kita semua bahwa mimpi itu benar-benar bagus.”

Malam menjelang, ketiganya beranjak ke pembaringan yang telah mereka siapkan sebelumnya. Dalam jenak, lantaran lelah yang mendominasi, merekapun memejamkan mata dengan optimisme yang penuh bahwa dalam tidurnya, masing-masing mereka akan mendapatkan mimpi yang terbaik.

Hingga akhirnya, fajar menyingsing. Subuh tertunaikan dengan sempurna, dan pagi mulai menyapa. Dua dari sufi itu tersenyum sumringah lantaran malam tadi mendapatkan mimpi terbaik versi mereka. Dalam benak masing-masing, mereka meyakini bahwa merekalah yang kelak berhak untuk memakan satu potong roti tersisa.

Sufi pertama berujar, bangga, “Berdasarkan mimpi yang kuperoleh, sepertinya diriku yang paling berhak memakan roti tersebut.” Ucapnya gagah memulai bercerita. “Semalam, aku bermimpi menjadi Raja. Raja Adil yang dicintai rakyat. Banyak orang yang mendatangi kerajaanku guna meminta bantuan.” Ia melanjutkan dengan dada terbusung.

“Dari mimpi itu, aku menyimpulkan bahwa orang yang berhak memakan roti adalah aku. Karena kelak, aku akan ditakdirkan menjadi Raja. Sehingga, dengan memakan roti tersebut aku akan tetap hidup hingga mimpiku menjadi kenyataan.” Pungkasnya, satu sufi yang mendengarkan tetap dalam bingungnya, sedangkan sufi yang lain hanya tersenyum tipis, memicingkan mata.

Sufi yang memicingkan mata mengambil giliran cerita berikutnya, “Tunggu sebentar, Kawan! Jangan bahagia terlebih dahulu. Aku bermimpi lebih baik dari mimpi yang kau dapatkan semalam.” Sufi pertama sedikit melirik, seraya memperhatikan dalam penasaran. “Aku bermimpi, bahwa kelak aku akan menjadi seorang ‘Alim. Banyak orang yang datang kepadaku untuk meminta nasehat. Termasuk, para Raja-raja besar saling mendatangiku meminta pendapat, saran dan juga petuah.” Lanjutnya, semakin pongah. Dan sufi pertama semakin ciut nyalinya.

“Oleh karena itu, akulah yang paling berhak untuk memakan roti tersebut. Agar aku tetap hidup, karena banyak orang yang menunggu nasehatku. Kelak, ketika aku telah menjadi seorang ‘Alim.” Pungkasnya.

Ketiganyapun saling memandang, dan kemudian memberikan isyarat kepada sufi ketiga yang masih merasa kebingungan. Mau tidak mau, ia pu angkat bicara, “Kawan, sejatinya aku merasa malu. Karena semalam, aku tidak bermimpi.” Kedua sufi pertama langsung tersenyum bangga. Karena, satu pesaing telah gugur dari medan laga lantaran tidak bermimpi.

“Karena lapar, aku tidak bisa tidur. Hingga akhirnya, terbetiklah sebuah ide. Ya, aku berfikir bahwa dengan memakan roti, akan hilanglah laparku. Dan, aku akan bisa tidur nyenyak malam itu.” Kedua sufi yang awalnya sumringah, kini menjadi panik.

“Maka, kudatangilah tempat penyimpanan roti. Ketika kulihat kalian berdua telah lelap dalam mimpi, aku bersegera memakan roti tersebut hingga habis. Selepas itu, aku menuju pembaringan. Lantaran terlalu kenyang, aku tidur sangat pulas sehingga tidak bermimpi apapun.” Lanjutnya datar, menyudahi kisah.

Sahabat, begitulah. Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa seringkali, kita harus keluar dari kaidah keumuman jika keberhasilan yang kita harapkan. Tentu, keluar dari kaidah keumuman ini tidak lantas melanggar undang-undang Allah. Karena peraturanNya adalah yang terbaik.

Dibutuhkan sikap berani, agar kita bisa terus bertahan dan berubah menjadi lebih baik. Dari kisah ini, kita juga mengerti. Bahwa tindakan, lebih utama dari ucapan. Apalagi, dengan sekedar mimpi. Dua sufi yang memilih tidur, maka dia masih memelihara laparnya. Sedangkan sufi ketiga, yang berani menentang keumuman, maka dia berada dalam kenyang. Dan, tak perlu berbohong tentang mimpi-mimpinya itu. Karena, kita tidak bisa memastikan, apakah kedua sufi yang bermimpi itu, benar mimpinya atau hanya sekedar berbohong. [Pirman]

Perselingkuhan KPK

KPK - Anas - Ibas (ilustrasi inilah.com)
Mengamati pemberitaan di negeri ini, membuat siapa yang tak arif menjadi bingung. Bahkan, dalam taraf yang parah bisa menjadi antipati. Apalagi, sebagian besar masyarakat kita masih menjadikan berita sebagai barang langka. Pasalnya, masalah perut masih mendominasi, ketimbang mengkonsumsi data, angka dan berita yang tak jelas juntrungnya.

Keadaan ini diperparah dengan adanya perselingkuhan pemilik media dengan konten berita. Sehingga, pemberitaan tak lagi obyektif. Semua konten, harus sesuai dengan kemauan pemilik modal. Sehingga, wartawan maupun reporter di lapangan, ‘dipaksa’ untuk mengikuti kemauan pemodal. Apa alasannya? Demi mengenyangkan perut, karena itu perintah kerja, dan seterusnya. Meskipun, kita mengakui, masih banyak awak media yang profesional. Namun, seprofesional apapun, jika konten yang mereka sajikan tak sesuai dengan pemilik modal, mau dipublis di mana? Siapa yang mau mempublis?

Mari, kita sedikit kilas balik. Mumpung masih di pekan pertama tahun 2014. Akhir 2013, semua media diisi dengan pemberitaan Pesta Tahun Baru yang diadakan di Ibu Kota. Mulai dari pendirian panggung, penutupan jalan, informasi transportasi yang dibuka 24 jam, hingga pemimpin tertinggi provinsi itu yang melakukan duet dengan ‘lawan’ politiknya sebelum naik menjadi Jakarta 1.

Pertanyaannya, apakah pentingnya pesta itu? Sebuah gelaran bertajuk ‘pesta rakyat’ di 12 titik panggung, dengan dana 1 milyar dan menghasilkan sampah 200 ton? Jika kita mau berpikir, yang untung siapa? Ya pemodal, ya pemilik panggung, yang makelar petasan, dan pemodal-pemodal lain, termasuk pemilik stasiun televisi dan artis-artis yang hobi cerai itu.

Penjual keliling? Ya, mereka memang untung, tapi hanya sekali dalam setahun. Padahal, seharusnya mereka bisa lebih diberdayakan. Bagi penonton yang berdalih dihibur? Tengok saja, jika perlu lakukan survei, dari sekian juta orang yang datang, berapa yang berhasil bangun Shubuh dan menjalankan dua rakaat tepat waktu?

Tepat setelah pesta tahun baru itu, kita disuguhi dengan Drama Terorisme adegan lama. Ceritanyapun klasik. Banyak kejanggalan. Anehnya, aneka kejanggalan ini tidak dipublikasikan oleh media-media televisi itu. Enam orang ditembak mati. Sementara satu diantara mereka, didapati tidak terdapat luka tembak. Melainkan luka pada salah satu bahu dengan mata yang tercongkel.

Apakah mereka sangat stres sehingga harus membunuh satu demi satu warga yang baru terduga sebagai teroris? Ataukah mereka ingin mendapatkan angpao tahun baru dari Bos Amerika? Yang penting untuk kita ingat, jika kemarin mereka yang ditembak, bukankah suatu ketika, siapapun kita bisa menjadi sasaran tembak juga? Apalagi selama ini sering terjadi ‘salah’ tembak dengan berbagai dalih? Anehnya, berita ini terus menerus diputar, dengan esensi yang tak jelas. Masayarakat awam yang hanya hobi menonton televisi, langsung beranggapan, bahwa mereka adalah teroris. Parahnya lagi, dikaitkan dengan Islam, jilbab, jenggot dan celana cingkrang. Puncak dari drama terorisme ini adalah pelarangan edar buku-buku tulisan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Jadi mirip rezim sekuler saja negeri kita ini. Masih ingat buku Gurita Cikeas? Ada yang tahu nasib buku ini?

Drama ini ternyata tak terlalu seksi. Terbukti, pemberitaan dialihkan ke isu Komersialisasi Doa. Ini lebih aneh. Yang mempunyai program sudah mengakui kesalahan, dan mencabut program itu. Tapi, beliaunya dipanggil terus. Mulai stasiun A, B, dan seterusnya. Pola pemanggilannyapun terus menerus. Mulai pagi, siang, sore hinga malam. Yang menggelikan, jenis pertanyaannya sama.

Berita komersialisasi doa ini tidak berlangsung lama. Karena Drama Terorisme masih sedikit cerita. Sayangnya, sutradara salah perhitungan. Drama ini tak begitu diminati, sehingga pemberitaan beralih ke Dagelan Kenaikan Harga Gas. Ini lebih garing, kawan!

Begini, sebelum menaikkan harga, Pertamina seharunya berkoordinasi dulu dengan Menteri BUMN dan Pak Presiden. Lantas, Pertamina baru mengumumkan kenaikan. Kenaikanpun diumumkan, dengan harga yang melangit. Lantas, di hari libur, Pak Presiden mengadakan Rapat Terbatas. Temanya, agar Pertamina meninjau kembali kenaikan harga gas lantaran memberatkan masyarakat. Bahasanya manis sekali, “Kemarin, Kami kurang koordinasi.” Sang Menteri pun mengangguk, dan hari berikutnya, harga LPG tetap naik meski tak semelambung sebelumnya.

Jika kita mau mengamati sedikit lebih seksama, nampaknya strategi yang dijalankan sangat kentara maksudnya. Ada yang bilang pencitraan di pemilu mendatang, ada yang bilang menaikkan pamor partai pemimpin, dan seterusnya. Jika saya boleh memilih, maka saya memilih mengamini pendapat Glen Fredly dalam Mata Najwa Rabu malam kemarin, “Keberhasilan Presiden dalam dua periode ini ya bikin album.” Tentu, kita tidak menafikan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan, dan semoga menjadi kontribusi bagi bangsa ini.

Selanjutnya, yang paling baru, adalah Humor Perselingkuhan KPK. Ini berita juga menyedot media-media televisi untuk meliputnya. Saya ingin mengatakan, sebelum anda menghakimi, bahwa saya tidak sedang melawan KPK, saya malah menginginkan agar KPK lebih profesional dan tidak tebang pilih. Karena, dalam pandangan saya yang tak pandai ini, banyak kejanggalan yang kemudian dibela oleh banyak pihak.

Begini, Nazaruddin diburu sampai Kolombia. Ada yang tahu berapa dana yang digunakan dalam perburuan itu? Dari Nazaruddin disampaikan pengakuan bahwa Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum terlibat. KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka. Anehnya, kenapa Andi dan Anas tidak dijemput untuk ditahan? Apakah dana untuk menjemput keduanya lebih besar dibanding dana yang digunakan untuk menjemput Nazaruddin di Kolombia? Apakah keberadaan keduanya lebih tersembunyi dibanding keberadaan Gayus Tambunan yang sempat jalan ke mana-mana sebelum akhirnya ditangkap?

Hingga kini, Andi sudah ditangkap. Tapi, Anas masih berkeliaran. Sudah dua kali dipanggil, dan Anas selalu menolak hadir. Banyak pihak yang kemudian meminta agar Anas kooperatif, ada juga yang mendukung agar Anas ‘melawan’ ketidakadilan KPK. Pemberitaan ini semakin gelap ketika ada yang mengatakan bahwa sebelumnya, salah satu ketua KPK mendatangi Cikeas dengan Wamen Dani Idrayana.

Humor ala KPK ini, semakin menunjukkan bahwa KPK tidak mempunyai prosedur yang jelas. Salah satunya, ada perbedaan perlakuan. Sama-sama dinyatakan tersangka oleh KPK, tapi beda perlakuan. Ada yang dijemput paksa, padahal baru terduga. Ada yang dicari hingga keliling dunia, ada yang dibiarkan di rumahnya bahkan sampai membuat organisasi baru, ada yang diperiksa di rumahnya karena punya jabatan dekat dengan pemimpin, dan seterusnya.

Lantas, mereka juga terkutat dalam kasus-kasus yang bukan esensi. Lebih asyik kepada kasus kecil. Sedangkan kasus besar yang menyeret pejabat negara, mantan menteri, dan pejabat lain, seakan tidak disentuh. Aneka dalih diberikan, aneka alasan disampaikan. Baik yang logis maupun tidak. Parahnya, sisi tendensius KPK ini semakin terasa.

Sebut saja satu contoh, ketika Ridwan Hakim akan diperiksa sebagai saksi. Anehnya, Ridwan Hakim diberitakan sebagai anaknya siapa, bapaknya dari partai apa. Padahal, tak ada kaitannya. Belakangan, ketika Ridwan Hakim bersaksi bahwa dia belajar bisnis dengan Bunda Putri ataupun Seng Man, KPK mandeg. Padahal, menurut banyak sumber Bunda Putri dan Seng Man ini dekat dengan Cikeas.

Sebelum itu, ketika Ridwan Hakim akan diperiksa, dia sudah dimasukkan dalam daftar orang yang tidak diijinkan pergi ke luar negeri. Sementara itu, Menteri Sri Mulyani yang nyata ‘kontribusi’nya dalam Mega Skandal Century, tidak dicekal ketika akan pergi ke Amerika dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu direktur IMF. Sampai sekarang, KPK juga terkesan tidak menyentuh Sri Mulyani, mungkin karena bukan muhrim. Karena sentuhan dengan bukan muhrim, termasuk dalam dosa.

Akhirnya, ini hanyalah oret-oretan sederhana. Jika benar, silahkan diambil. Kalau salah, mohon dimaafkan. Yang ingin kami sampaikan, jangan sibuk dengan pemberitaan media yang tidak jelas keberpihakan dan latar belakangnya. Lebih baik, mulai sekarang, kita berupaya untuk mengikuti apa yang disarankan oleh Sayyid Quthb agar kita menjadi media bagi diri kita masing-masing. Jangan lupa juga, One Day One Juz.
Salam sepenuh cinta, semoga kita tetap bahagia. [Pirman]

Tiga Mantra Cinta

Ilustrasi cinta
Ibarat tumbuhan, pernikahan adalah jenis tanaman sensitif yang membutuhkan perlakuan lebih dalam merawatnya. Ia tidak cukup disiram dengan air kebaikan, tapi juga pupuk-pupuk kebajikan yang harus senantiasa diberikan di sepanjang waktu, dengan jumlah yang konsisten. Jika hal ini tidak dilakukan dengan baik, maka tanaman cinta dalam pernikahan itu, akan cepat layu dan kemudian mati.

Layunya tanaman cinta pernikahan ini, biasanya bermula dari kelalaian pertama dalam memberikan pupuk kebajikan dan siraman air kebaikan. Lalu berlanjut dengan salah faham kecil, dengan aneka bumbu masalah dalam biduk rumah tangga yang tidak disikapi dengan bijak. Masalah ini diperparah dengan orientasi dunia berlebih sehingga tanaman itu kering dan kemudian layu lantaran kehilangan orientasi utamanya.

Pernikahan adalah ibadah. Maka, ia harus diniatkan karena Allah, dijalani sesuai aturan Allah, dan dikembalikan kepada Allah ketika di tengah perjalanan terdapat ujian-ujian. Baik ujian kecil, maupun ujian besar dalam pernikahan.

Sejatinya, tidak ada dikotomi antara masalah kecil ataupun masalah besar. Karena masalah besar, adalah tumpukan dari masalah-masalah kecil yang tidak diakomodir dengan baik. Kecemburuan yang tak beralasan, masakan kurang asin berkelanjutan, egoisme berlebih lantaran kesibukan di luar rumah, merasa menjadi paling berjasa, dan seterusnya. Tumpukan masalah-masalah inilah yang kemudian berakumulasi sehingga menjadi gelombang yang menghancurkan bangunan pernikahan.

Siraman air kebaikan dan pupuk kebajikan dalam tanaman pernikahan itu, bisa berupa kata yang baik, kalimat penyejuk jiwa, senyum hangat yang menginspirasi juga laku tulus perlambang cinta. Inilah mengapa, tugas utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak. Karena, keshalihan seseorang, hanya akan sempurna dengan baiknya akhlak seseorang. Bukan hanya rajin shalat tapi jahat kepada istri, atau rajin bayar zakat tapi main kasar kepada anak yatim, dan seterusnya. Karena, muslim yang diidamkan, adalah muslim yang kokoh aqidahnya, benar ibadahnya, juga shalih akhlaknya -terhadap diri, keluarga dan masyarakat.

Terkait penggunaan kalimat dalam menyemai kesuburan pernikahan, pasangan ini memiliki pendangan yang berbeda sesuai kekhasannya. Bagi seorang istri, kata itu sangat penting. Karena ia bentuk pengakuan. Sehingga, di samping uang segepok dan aneka kebutuhan materi lainnya, mereka sangat membutuhkan kalimat-kalimat cinta seperti : aku sayang kamu, kamu cantik, terima kasih atas semua baktimu, dan sebagainya.

Sementara itu, suami justru memiliki pandangan yang berbeda. Bagi mereka, kata tak begitu bermakna. Karena bukti lebih dari utama. Sehingga, kesibukannya di luar rumah, semangatnya dalam menumpuk rupiah, dan aneka kerja-kerja lainnya, dianggapnya sebagai bukti cinta yang sesungguhnya, sehingga tak perlu lagi 'menggombal' dengan kalimat-kalimat cinta yang sangat digemari oleh kaum wanita ini.

Dalam hal inilah, terdapat seni dalam pernikahan. Karena sejatinya, mereka adalah satu tubuh yang dipisah dalam dua jenis. Jika kemudian sudah beranak, maka satu cinta itu harus diejawantahkan dalam diri buah hati mereka, sesuai kekhasannya masing-masing. Makanya, pernikahan ini mengandung pahala yang sangat besar bagi siapa yang sungguh-sungguh dalam menjalankannya.

Sehingga, penggunaan kata-kata cinta ini, harus disepakati oleh kedua pasangan. Agar tanaman pernikahan, bisa tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi sekitarnya. Tentu, harus dilandasi ketulusan. Bukan kalimat gombal yang tidak memiliki ruh.

Sayang, aku sayang kamu. Ini adalah kalimat pertama yang harus sering disampaikan oleh masing-masing pasangan kepada pasangannya. Berlandaskan ketulusan yang terdalam, sehingga kalimat ini memiliki ruh. Jika ia memiliki ruh, maka akan bermanfaat bagi pengucap maupun yang dijadikan objek ucapannya. Ruh cinta inilah yang akan memberikan semangat bagi keduanya untuk berkarya di luar rumah secara optimal. Kalimat ini, bisa diucapkan sesering mungkin, atau berkala. Misal, ketika bangun tidur, sebelum beranjak ke masjid berjama’ah subuh, di tengah-tengah kerja dengan mengirim pesan singkat, di tengah perjalanan, sepulang kerja, menjelang tidur, di tengah-tengah tilawah bersama, dan seterusnya.

Kedua, terima kasih, sayang. Ini adalah ungkapan tulus atas semua jasa pasangan kita. Untuk penerimaannya, padahal kita banyak cela. Untuk cintanya yang terus dieja di sepanjang jenak kehidupan. Bagi seorang suami, ini adalah kalimat pengakuan. Wujud syukur atas hadirnya istri dalam kehidupannya, sehingga tak lagi sepi. Ia juga ungkapan syukur atas sarapan, teh hangat, kopi kental, maupun semua jenis pelayanan yang dilakukan tanpa tarif. Termasuk juga jasanya mengurus rumah, menyapu, ngepel lantai, dan tugas domestik lainnya. Juga, untuk tulusnya mengandung calon anak, dan mengurusnya hingga besar.

Maafkan aku, cinta. Inilah mantra ketiga cinta. Rumah tangga ibarat samudra. Banyak ombak, tak jarang membadai. Kesalahan-kesalahan sering terjadi, juga kekurangan dari masing-masing pasangan. Di sinilah, diperlukan kedewasaan. Bahwa ketika pasangan kita tak sempurna, maknanya kita juga banyak cela. Ketika pasangan salah, maka kitalah orang pertama yang wajib mengingatkan dan kemudian membenarkannya. Lagi-lagi, bahwa rumah tangga adalah kesatuan. Istrimu, adalah perlambang dirimu. Suamimu, adalah imam yang tak mungkin sempurna. Harus ada sinergi, bukan saling menyalahkan.

Ketiga mantra itu harus dibingkai dalam syari’ah. Bukan sekedar romantisme picisan apalagi obrolan gombal tanpa makna. Semoga, Allah berikan keberkahan untuk rumah tangga kita, dari semenjak meniatkan menikah, hingga kelak Allah memisahkan kita di dunia ini. Dan, semoga Allah kembali pertemukan kita dengan pasangan terbaik kita, di surgaNya. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Dahsyatnya Doa Orang Tua

Dahsyatnya doa ibu (ilustrasi)
Doa orang tua adalah syarat utama bagi suksesnya seorang anak. Karena doa, adalah perlambang ridho. Sedangkan dalam hadits disebutkan, bahwa ridho Allah tergantung ridho orang tua dan murka Allah tergantung pula dengan murka orang tua.

Doa dari orang tua kepada anaknya adalah perlambang cinta. Ia tidak tergantung dengan bakti kita kepada keduanya. Sehingga, tidak jarang kita jumpai, banyak anak-anak durhaka yang tetap didoakan oleh orang tuanya, lebih-lebih lagi seorang ibu. Meskipun, dengan sempurnanya bakti, doa itu akan semakin terasa khasiatnya.

Sudah banyak cerita, sejak dulu hingga masa yang akan datang. Banyak contoh tentang kasus bakti anak kepada orang tuanya. Ketika berbakti, maka sukses, selamat dunia dan akhirat adalah jaminannya. Sementara, ketika durhaka, maka siksa adalah balasan yang tak mungkin dielakkan, oleh siapapun. Parahnya, siksa bagi mereka yang durhaka ini tidak hanya diberikan di akhirat, melainkan juga ditimpakan juga ketika pelakunya masih hidup di dunia.

Pada sebuah sore, di rumahnya yang megah, seorang sahabat bertutur. Tentang khasiat doa orang tua bagi kesuksesan dirinya. Orang ini memulai karir sebagai kuli di salah satu stasiun televisi ternama di negeri ini. Dalam sebuah kesempatan, stasiun televisi yang akan mengadakan konser akbar ini, ketika zaman dahulu panggung masih menggunakan kayu, mengalami sebuah kejadian yang tidak diharapkan.

Panggung yang sudah disiapkan untuk konser itu roboh tepat tiga puluh menit sebelum konser dimulai. Sang produserpun bingung, hingga akhirnya, ia menawarkan kepada kumpulan kuli-kuli yang ada di tempat itu, “Siapa yang bisa membetulkan panggung konser itu dalam waktu kurang dari tiga puluh menit?” Serta merta, kumpulan kuli yang memang mempunyai keahlian dalam bidang pertukangan itu langsung menyanggupi tantangan sang produser. Hanya dalam waktu lima belas menit, panggung yang porak poranda bisa dibetulkan dengan kualitas prima. Alhasil, rombongan kuli itu merasa sumringah dan mendapatkan kesempatan melihat konser itu dari dekat. Sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Esok harinya, sang produser kembali mendatangi kumpulan kuli-kuli itu dengan bertanya aneh, “Siapa yang kemarin membetulkan panggung untuk acara konser?” Mereka yang telah berjasa itu, malu mengakui. Bukan lantaran gengsi, tapi lebih kepada perasaan takut. Khawatir disalahkan, takut jika ada barang-barang yang hilang, dan seterusnya. Kemudian, setelah sang produser mengatakan lugas, “Saya mau mengucapkan terima kasih.” Serta merta, mereka berebut mengacungkan jarinya.

Cerita berlanjut, hingga beberapa dari mereka diangkat ke jenis pekerjaan yang lebih baik. Mulai diajak untuk mengikuti shooting sebagai pembawa alat-alat studio, hingga kemudian belajar, dan terus belajar. Pengalaman yang lama itu kemudian mengantarkan salah seorang dari mereka, sebut saja Bayu, menuju puncak karir. Ia berhasil menguasai semua teknik dalam dunia perfilman, hanya berbekal dari melihat dan praktek di lapangan. Dalam hal ini, benarlah sebuah nasehat bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.

Lambat laun, ia mulai berfikir untuk maju. Hingga akhirnya, dia mulai serius dalam dunia perfilman itu. Sebelum itu, hanya sebagai seorang kuli angkat, ia sempat berada dalam dasar keterpurukan. Bahkan, istrinya minta diceraikan karena ketidakmampuannya dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Lantaran sakit hati itu pula, ia mempunyai semangat yang tinggi untuk membuktikan. Berbekal semangat itu pula, ia tak lupa meminta doa dan dukungan dari orang tuanya di kampung. Hingga akhirnya, kesungguhan bertemu dengan momentum. Karirnya mencapai puncak. Di stasiun televisi tempat dia bekerja itu, posisinya sudah tak tergantikan. Hingga kemudian, ia merasa bosan dan memutuskan untuk resign. Selepas resign, ia memutuskan untuk bekerja free lance dengan membuat Production House sendiri. Bagi Bayu, ini hal yang mudah. Karena seluk beluk tentang dunia ini sudah dia kuasai. Terkait order, dia justru bingung, “Jika orang lain kebingungan dalam mencari order, saya justru bingung karena kebanyakan order. Sementara modal saya pas-pasan.” Kemudian, dia melalangbuana ke berbagai stasiun televisi di negeri ini. Hingga karyanya diterima di mana-mana. Mulai dari RCTI, ANTV, TRANS, MNC TV, METRO TV, dan stasiun-stasiun televisi lain seperti Kompas TV dan seterusnya.

Di sinilah cerita lain bermula. Lantaran kebanyakan order, ia menjadi pemburu rupiah. Bahkan, sholat sering lupa lantaran sibuk. Ditambah lagi, orang tuanya sudah meninggal lantaran usia. Sehingga, ujarnya sambil mengenang, “Jadi, setelah orang tua wafat, nyaris tak ada yang mengingatkan saya. Sholat lupa, karena alasan sibuk dan seterusnya.” Tak ayal, kerajaan bisnis yang ia bangun itu mulai mengalami kemunduran. Padahal, dari segi saingan, ia tidak memiliki lawan yang berarti.

Namun, kehancuran sebuah kerajaan bisnis, atau apapun, selalu mempunyai ceritanya sendiri. Apalagi, jika faktor-faktor pendukung asasinya sudah mulai diabaikan.

Perlahan, banyak tagihan macet. Dari stasiun televisi sendiri, mempunyai sistem jangka pembayaran yang lama, sehingga butuh dana besar untuk modal. Paling cepat, pembayaran dari stasiun televisi itu tiga pekan. Itupun haya satu stasiun, yang lain antara 1-3 bulan. Uang modalnya sendiri banyak yang dibawa kabur oleh pihak-pihak yang diajak kerja sama. Bahkan, ia menuturkan, salah satu ustadz yang ia promosikan via PH-nya itu, tidak membayar uang tagihan yang jumlahnya ratusan juta rupiah. Ketika kami tanyakan, ia berujar ikhlas, “Itu sudah tidak saya pikirkan, mas. Biarlah ustadz itu saja yang menanggung dosanya. Saya sudah cari ke mana-mana, tapi dia selalu lari dan banyak janji. Saya mau fokus dengan usaha baru saya saja.”

Terkait ketergelincirannya itu, pria asal Jepara ini sudah menemukan penyebab utamanya, “Mulanya dari ketiadaan doa orang tua. Karena sampainya saya ke puncak karir itu, sebab utamanya adalah doa beliau. Setelah orang tua saya wafat, saya oleng. Tidak dapat doa dari mereka, tidak ada yang mengingatkan saya. Sehingga, ketika Allah menarik semua kekayaan yang sempat diberikan itu, saya ikhlas. Karena saya sudah sangat jauh dariNya dan melalaikan perintah-perintahNya.”

Dalam perbincangan hangat di sore hari itu, akhirnya kami berpamit. Bayu harus meluncur ke bilangan Jakarta karena ada urusan terkait pameran yang sedang diselenggarakan oleh rekan-rekannya yang lain. Sementara kami, melanjutkan jalan-jalan menikmati hari yang mulai malam.

Alhamdulillah, Rasulullah memang tak pernah berdusta. Perintah silaturahim yang digalakkan sejak seribu empat ratusan tahun yang lalu itu memang mempunyai dampak yang dahsyat. Kami berhasil mendapatkan hikmah yang sangat mahal, langsung dari pelaku sejarahnya.

Semoga kita semakin mengerti. Bahwa doa orang tua adalah syarat utama kesuksesan seorang anak. Jika saat ini, banyak cita-cita kita yang belum tercapai, maka jalan yang harus kita tempuh adalah mendatangi orang tua kita. Mencium tangannya, kedua pipi dan keningnya. Lantas, meminta dengan tulus agar beliau selalu membawa nama kita dalam doa mereka. Memang, tanpa dimintapun, beliau akan selalu mendoakan. Tapi bagi kita, anak-anaknya, minta didoakan adalah perlambang rendah hati, bahwa kita menghargai orang tua kita, bahwa kita membutuhkan mereka, sehebat apapun kita saat ini. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Capres dan Koalisi Partai Islam?

Majalah Dakwah Al Intima' edisi 46
Majalah Dakwah Islam Al Intima’
Judul : Capres dan Koalisi Partai Islam?
Edisi : 046; Muharram – Shafar 1435 H / Desember 2013 – Januari 2014 M

Gelaran pesta demokrasi lima tahunan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Aneka strategi kampanye dilakukan oleh parpol dan calegnya untuk menarik simpati rakyat. Mulai dari kampanye bersih hingga kampanye kotor. Mulai tebar sembako, aneka baksos, bagi-bagi kalender, kaos hingga bagi-bagi uang. Semua dilakukan demi tercapainya target yang telah dicanangkan oleh seluruh partai peserta pemilu 2014 yang akan datang.

Mediapun senada. Banyak pemberitaan, survei dan aneka iklan caleg ataupun capres yang kian menghiasai layar kaca kita. Apalagi, stasiun-stasiun televisi yang dimiliki oleh salah satu kandidat capres, hampir setiap hari berkali-kali, mereka memutar iklan. Mulai iklan garing, hingga bentuk lain berupa lagu, retorika dan seterusnya.

Tak kalah menariknya, aneka wacana dan prediksipun digulirkan. Baik yang independen maupun yang memihak. Sehingga, sebagai warga negara yang cerdas, kita perlu menilik lebih jauh, melihat lebih mendalam. Agar tak salah pilih, agar tak tertipu untuk kesekian kalinya. Pasalnya, hingga kini, banyak pemilih yang membeli kucing dalam karung.

Berbicara pemilu, maka tak bisa dipisahkan dari wacana koalisi. Khususnya untuk menyongsong pilpres yang diadakan setelah pemilihan legislatif. Koalisi, memang tak segampang yang dikira. Karena di sana, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Bagi partai-partai kecil, koalisi menjadi sebuah cara efektif untuk menaikkan pamornya. Bagi partai besar, koalisi juga berperan dalam mengokohkan kekuatan mereka.

Tak terkecuali dengan koalisi partai Islam. Apalagi, Indonesia merupakan mayoritas muslim. Menurut berbagai pendapat, jika partai Islam bisa melakukan koalisi, maka partai Islam akan menang. Meskipun, kemenangan partai Islam tidak serta merta menghasilkan solusi. Karena setelah itu, oknum-oknum yang terlibat di dalamnya akan mempertaruhkan kredibiltasnya. Jika mereka menang dan berhasil mengejawantahkan Islam untuk menyejejahterakan masyarakat, maka itu menjadi kabar baik. Namun, jika yang terjadi adalah sebaiknya, maka hal itu akan semakin memperpuruk kaum muslimin sendiri. Bagi musuh-musuh Islam, koalisi ini tidak boleh dibiarkan. Karena kemenangan Islam, berarti kekalahan bagi mereka.

Sayangnya, dalam hal ini, partai-partai Islam sulit untuk mencapai kata sepakat. Di samping banyak alasan teknis, nampaknya perpecahan yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam masih mendominasi. Sehingga, Islam yang satu menjadi terkotak-kotakkan oleh aneka konspirasi. Khususnya, dalam hal ideologi, madzhab dan sejenisnya.

Padahal, kaum muslimin memiliki banyak stok pemimpin yang bisa dijadikan alternatif dalam mengangkat negeri ini dari keterpurukan. Bukan hanya mereka yang berasal dari pengurus partai, tetapi juga dari kalangan profesional yang jelas keberpihakannya terhadap Islam.

Tentu, dalam hal ini, kita harus tetap selektif. Karena salah pilih bisa berakibat fatal. Yang paling sederhana, pelajari dengan seksama. Lihat siapa pengusungnya, jika perlu, kenali keluarganya. Karena keluarga adalah miniatur terkecil masyarakat. Sangat mustahil seseorang bisa memimpin sebuah negara jika keluarganya saja berantakan.

Dalam hal ini, kita bisa melihat alternatif yang ada. Diantara beberapa nama yang sudah mulai terdengar dibincangkan adalah Yusril Ihza Mahendra dari PBB, Suryadharma Ali dari PPP, Rhoma Irama, Mahfudz MD dan Muhaimin Iskandar yang diusung PKB, Hatta Radjasa dari PAN, Jusuf Kalla yang menjadi alternatif potensial dan merupakan ketua Dewan Masjid Indonesia. Dari PKS yang baru saja melakukan Pemira (Pemilihan Raya) untuk menentukan capresnya, partai ini relatif memiliki banyak opsi. Mereka memiliki Hidayat Nur Wahid mantan Ketua MPR, Ahmad Heryawan Gubernur Jawa Barat, Irwan Prayitno Gubernur Sumbar, Gatot Pujo Nugroho Gubernur Sumatera Utara, Nur Mahmudi Ismail Wali Kota Depok, ataupun Anis Matta yang saat ini menjadi Presiden Partai.

Nama-nama ini bisa dijadikan alternatif untuk mengimbangi calon-calon yang kurang peduli terhadap Islam dan kaum muslimin. Tentu, dengan pertimbangan matang berdasarkan keshalihan dan prestasi mereka selama ini.

Terkait pemimpin ini, kita mesti menilik ulang pada apa yang telah disebutkan al-Qur’an. Baik itu dalam konteks Pemimpin ‘pilihan langit’ seperti Tholut, meskipun tak disukai oleh mayoritas Bani Israil karena berasal dari kalangan miskin, atau konteks ‘qowiyyun amiin’ seperti Musa yang berhasil menaklukan Fir’aun, ataupun ‘hafidzun ‘aliim’ yang berhasil mengantarkan Yusuf memimpin Mesir. Dari ketiga karakter kepemimpinan yang berbeda inilah, kita harus selektif. Karena salah pilih, bisa berakibat fatal. Apalagi, menjadi pasif dan hanya mengutuk kegelapan. Semoga, Allah berikan pemimpin terbaik untuk kita. Yang cinta kepadaNya, RasulNya, juga rakyat-rakyatnya. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Solusi Mujarab Menghadapi Konflik Suami Istri

Suami istri bersinggungan (Desainkawanimut)
Diam itu, dalam banyak cerita, bisa menjadi obat yang mujarab. Minimal, ia bisa membuat luka tak semakin menganga.

Sebut saja misalnya, dalam riak-riak gelombang suami-istri. Jika sang istri ngambek, lantas suami tak bisa menahan ocehannya, bisa jadi konflik akan meruncing. Dan, pecahlah perang dunia ketiga. Dan memang, dalam banyak pelajaran ilmu psiokologi, ngambeknya pasangan kita, hanyalah sinyal bahwa ia ingin semakin diperhatikan. Cukuplah duduk manis, mendengarkan curhatannya, sembari menyediakan teh hangat dan bahu yang lebar agar dia bisa menyandarkan lelahnya.

Atau, misalnya. Ketika orang tua kita tengah tidak puas dengan bakti kita yang memang ala kadarnya. Maka, sediakan saja telinga ikhlas untuk mendengarkan segenap keluh kesahnya. Sulit, mungkin. Tapi itu hanya di awal. Jika sudah terbiasa, ia akan gampang, nikmat dan nyaman. Dari telinga ikhlas itu pula, kelak, kita bisa membaca apa yang dimau oleh orang tua, atau orang-orang terdekat dan orang-orang yang kita cintai.

Dalam bersahabat pun demikian. Ini sederhana. Karena hidup, jika tak ada konflik di dalamnya, maka jalannya akan datar saja. Dan datar ini, kurang nikmat rasanya. Maka konflik, sejatinya adalah sarana. Agar damai terasa lebih nikmat, agar diri lebih bijak. Tentu, konflik kecil tersebut adalah riak kecil yang diselesaikan dengan kepala dingin, hati jernih dan semangat untuk saling memperbaiki diri. Bukan semangat mencari kesalahan atau meruncingkan beda.

Dalam konteks ini, jika misalnya diri merasa bersalah. Atau misalnya dalam posisi yang benar sekalipun. Namun, kawan kita itu terus menerus menerocos bak wartawan peliput aksi Densus88, maka diam adalah solusi paling bijak. Dari bicaranya, kita bisa berkaca. Mungkin, memang kita yang salah tapi tidak merasa. Mungkin, kawan kita itu sedang mendapat masalah dan luapan katanya adalah sebentuk pelampiasan. Jika itu yang terjadi, maka berdoalah. Semoga dengan lontaran kata dan kalimatnya, bisa sedikit menanangkan hatinya. Dari kicauannya juga bisa kita jadikan sebagai pelajaran. Bahwa kita, memang manusia yang tak luput dari alpa. Sehingga, apa yang dia sampaikan, bisa kita jadikan bahan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Begitupun seterusnya. Diam, dalam banyak kasus, adalah obat yang paling muajarab. Minimal, dengan mengeja diam, dengan mengaktifkan telinga ikhlas, konflik yang ada tak menjadi semakin meruncing.

Oh ya, berikan saja hadiah kepada pasangan, orang tua, kawan atau siapapun yang sedang marah kepadamu. Insya Allah, hadiah itu akan melunakkan hatinya, dan kelak, cinta diantara kalian akan semakin mesra dan tumbuh memesona.

Terakhir, mungkin kita perlu ingat. Bisa jadi, disadari atau tidak, ngambeknya orang-orang yang kita cintai disebabkan oleh kita yang salah ucap, salah tindak maupun salah respon. Sehingga, benarlah apa yang diwasiatkan oleh sang Nabi Teladan, "Katakan yang baik, atau diamlah." Dan, nasehat itu, adalah salah satu tanda benarnya iman seseorang. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Tiga Nasehat Ayah

Ayah menggendong anak
Ayah adalah ayah. Ia bukanlah ibu. Jika ibu sering memberikan perhatian dengan banyak nasehat, maka ayah, sesuai khasnya, lebih banyak diam. Namun, diamnya adalah sebentuk cinta. Dalam diam, ia terus berpikir untuk mencari jalan keluar. Dalam pikiran logisnya, banyak bicara tak selalu menghasilkan banyak solusi. Maka ayah, selamanya, tak mungkin sama dengan ibu.

Setiap kita, siapapun, pasti punya kenangan dengan ayah kita. Entah, sebagai apapun ayah kita itu. Pun, jika misalnya, ayah kita adalah seorang penjahat, maka satu jasanya yang haram kita lupakan, bahwa ayah adalah salah satu sebab lahirnya kita ke dunia ini. Ayah kitalah yang mengeluarkan air mani untuk membuahi sel telur ibu. Maka ayah, sebejat apapun, adalah peran yang tak mungkin digantikan oleh selainnya.

Ayah kita, mungkin saja adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai jabatan. Ayah kita, bisa jadi, bukanlah sosok kaya yang berharta. Ayah kita, mungkin saja, bukanlah keturunan ningrat yang layak dibanggakan. Tapi yang paling pasti, ayah kita adalah seorang pemberani yang telah mepersunting ibu kita sehingga kemudian melahirkan kita ke dunia ini.

Sebagai apapun ayah, pastilah kita mempunyai kenangan manis dengan sosok pendiam ini. Sosok yang bisa jadi, legam kulitnya lantaran terpanggang surya. Sosok yang mungkin saja, berkerut dahinya lantaran setiap waktu memeras otak demi kelangsungan hidup kita, anak-anaknya. Sosok yang mungkin saja, bertambah lelah saat kita tengah dewasa, berkeluarga dan beranak. Karena ayah, adalah perlambang keberanian.

Seorang sahabat bertutur. Bahwa ayahnya, adalah pahlawan. Di sepanjang kehidupannya, jarang sekali ia menghabiskan waktu bersama sang ayah. Lantaran ayahnya, mempunyai kehidupan di perantauan. Alhasil, jadwal pulangnya tak menentu. Bahkan, dalam banyak kasus, sang ayah lebih rela memulangkan uangnya untuk kebutuhan istri dan anak-anaknya. Ia bukan tak mau pulang, tapi ia lebih memilih menumpuk rindu, demi sesuap nasi bagi orang-orang yang dia cintai.

Suatu ketika, ketika sang ayah mengetahui bahwa salah satu anaknya aktif dalam kegiatan di masjid dan aneka kegiatan agama di kampungnya, dalam sebuah kesempatan pulang kampung yang tak tentu itu, ia memanggil buah cintanya. Diajaklah dia bercerita, tentang aneka rupa persoalan kehidupan. Lalu, mengalirlah buliran-buliran nasehat yang menentramkan jiwanya.

Sang anak nampak kaget, karena ayahnya ini terkenal pendiam. Namun perbincangan kala itu, benar-benar membekas dalam benaknya. Kata sang ayah lembut, ”Nak, ayah tahu bahwa kau mulai aktif di kegiatan keagamaan. Ayah sangat senang, semoga pahalamu mengalir juga untuk ayah.” Ucapnya berharap.

“Sejak dulu, ayah tahu, bahwa di kampung kita, ketika ada undangan kenduri, yang punya hajat pasti akan memberikan uang. Memang, mereka ikhlas dan menganggap itu sebagai ucapan terima kasih. Tapi, ayah berpesan, jangan jadikan itu sebagai tujuan. Jika perlu, jangan terima. Berikan kepada orang lain yang lebih berhak.”

Sang anak bingung. Mengapa ayahnya memerintahkan untuk menolak uang pemberian? Sementara ia tahu bahwa keluarganya bukanlah keluarga berada?

Kini, sang anak mengerti, bahwa ketika itu, ayahnya sedang mengajarkan makna keikhlasan. Bahwa amal, bahwa membantu sesama, haruslah diniatkan untuk Allah, bukan untuk selainnya. Apalagi, hanya untuk recehan yang tak seberapa.

Sahabat yang lain pun berkisah. Tentang ayahnya. Sang ayah adalah seorang kuli bangunan. Sehari-hari, sang ayah biasa menjadi pesuruh. Ragam majikan sudah pernah diikuti. Mulai dari yang preman, hingga yang haji. Hingga akhirnya, sang ayah menemukan kejanggalan. Mereka yang kadangkala dianggap baik oleh masyarakat, justru berkelakuan sebaliknya. Bahkan, ayahnya itu, seringkali didholimi. Baik berupa pembayaran yang tak sesuai dengan akad, atau kata-kata kotor yang tak bermoral.

Dalam sebuah kesempatan, sang ayah kemudian menuturkan, “Sayang, ayah ini sudah kenyang dengan pahit getirnya hidup. Hampir semua jenis orang sudah ayah ikuti untuk dijadikan majikan.” Ucapnya seraya mengelus lembut kepala anaknya.

“Ayah hanya ingin berpesan kepadamu, selaraskanlah antara fikiran, ucapan dan tindakan.” Lanjutnya sambit menyeruput kopi kental favoritnya. Dalam hening, sang anak hanya bingung lantaran belum mengetahui maksud ayahnya itu.

Seiring berjalannya waktu, sang anak memahami. Ketika itu, ayahnya sedang mengajarkan tentang iman. Bahwa iman, tak hanya ada di hati. Melainkan terucap dengan lisan. Dan, terbukti dalam laku.

Begitulah. Nasehat ayah yang kadang singkat, ternyata memiliki ribuan bahkan jutaan makna. Sebagai anak, kita mesti pandai menafsirkannya, meski tafsiran kita, tak mungkin sebijak nasehat ayah.

Ayah juga kerapkali mengajarkan tanggungjawab, tanpa banyak bertutur. Dalam sebuah perbincangan, seseorang berkisah. Seputar ayahnya. Ia mengenang nasehat ayahnya itu sesaat selepas sang anak mengucap ijab qobul pernikahan. Sang anak yang merupakan anak ketiga dari banyak bersaudara itu menuturkan, “Ayahku itu tak banyak cakap. Beliau lebih suka diam. Kesehariannya juga biasa saja. Kutahu, beliau juga tak bersekolah.” Kisahnya, seraya menerawang ke angkasa.

“Namun, aku dibuat terkejut ketika hari pernikahanku. Selepas kucium tangan, dan kupeluk erat badan ringkihnya, ketika aku minta didoakan, seraya membalas jabat tanganku dan merengkuhku dalam dekapnya, beliau memberikan nasehat yang sangat berharga. Kata ayahku, ‘Jangan lupakan kewajibanmu sebagai kepala keluarga.’” Pungkasnya bertutur.

Begitulah, dan kisah tetang ayah, akan terus seperti itu. Ia adalah sosok bijak yang hemat bertutur. Karena dalam kamus kehidupan seorang ayah, seringkali terdapat sebuah nasehat bijak. Bahwa, dalam banyak kasus, semakin banyak bicara, bisa membuat seseorang semakin banyak bersalah. Maka diamnya seorang ayah, adalah fikir. Diamnya ayah, adalah perenungan untuk menemukan solusi dan kesejatian diri.

Kita, tak mungkin bisa sebijak ayah. Tapi kita, bisa menjadi bijak dalam pandnagan anak-anak kita kelak. Tentu, jika kita mau belajar dengan sungguh-sungguh. Dan, materi untuk menjadi ayah yang baik itu, tidak ada di bangku kuliah manapun. Ia hanya bisa didapat di madrasah bernama keluarga.

Untuk ayahku, aku ingin sampaikan, bahwa aku, anak-anakmu, sangat mencintaimu, karena Allah. Jika seringkali kami membantah, bukan lantaran benci. Itu hanya karena kami, anak-anakmu, belum mengetahui apa maksud di balik bijaknya nasehatmu. Semoga Allah membahagiakan ayah, sebagaimana ayah telah membuat kami bahagia. Aku, hanya ingin memanggilmu, “Ayah...” []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Terlepas dari Jeratan Rentenir Setelah Berdoa dan Berdzikir

Berdoa (foto dari ROL)
Ingatan Mujahid menerawang ke masa tiga tahun silam. Ketika usia perantauannya menginjak tahun ketiga. Ia adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara. Terlahir dari keluarga yang sederhana, tak membuat nyalinya ciut. Berbekal baju dan celana yang lusuh, ia berangkat ke ibu kota untuk mengadu nasib.

Petualangan Mujahid di ibu kota dimulai ketika adik pertamanya masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di kotanya. Ia dan adiknya itu hanya terpaut tiga tahun. Sedangkan adik keduanya, terpaut tiga tahun pula dengan adik pertamanya. Tak ayal, ketika Mujahid baru lulus SMA, adik pertamanya langsung masuk SMA, dan adik keduanya masuk SMP.

Meski demikian, semangat orang tua Mujahid untuk menyekolahkan anak-anaknya tak pernah surut. Apalagi, Mujahid berhasil menunjukkan prestasi gemilang dengan menyabet gelar Siswa Teladan di kabupatennya. Harapannya, adik-adiknya bisa melanjutkan tradisi prestasif itu.

Namun, karut marutnya pendidikan di negeri ini membuat niat orang tua Mujahid menjadi kacau. Apalagi, ketika pendidikan dikomersilkan. Nyaris saja, keluarga itu tak bisa menyekolahkan adik pertama Mujahid. Karena berasal dari keluarga sederhana, bapaknya hanya seorang kuli bangunan di Ibu Kota, dan kedua kakak Mujahid belum mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Tak ayal, Mujahid yang berprestasi itu harus mengalah untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia memilih untuk bekerja, dengan harapan bisa membiayai keenam adik-adiknya.

Didaftarkanlah adik Mujahid ke SMA favorit di kotanya. Bagi kalangan menengah ke bawah, biaya masuk SMA ketika itu tergolong mahal. Belum lagi, biaya masuk SMP adik kedua Mujahid. Sang ibu yang bersikeras agar anak-anaknya mengenyam pendidikan pun, mengambil jalan pintas. Ia menerima tawaran tetangganya untuk berhutang pada rentenir. Di sinilah, awal mula prahara itu terjadi.

Sang Ibu terpaksa mengambil jalan itu, demi anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan. Meskipun, Mujahid sudah berkali-kali mengingatkan, bahwa itu bukanlah jalan terbaik. Dengan semangat berbakti, Mujahid akhirnya membulatkan tekad untuk merantau. Harapannya, gaji dari bekerjanya di Ibu Kota, bisa segera digunakan untuk melunasi hutang pada rentenir.

Waktu berlalu, usia merantau Mujahid sudah memasuki tahun ketiga. Gaji yang ia terima hanya cukup untuk menyambung hidup, dan keperluan keluarganya. Nyaris, tak ada banyak kelebihan untuk membayar hutang pada rentenir. Gaji kakaknya juga demikian. Sehingga, hutang pada rentenir yang awalnya sebesar satu juta rupiah, kini berlipat menjadi tujuh juta rupiah. Jumlah itu tidak termasuk uang tiga jutaan yang sudah digunakan oleh Mujahid dan kakaknya untuk menyicil hutang kepada rentenir. Entahlah, bagaimana lintah darat itu menggerogoti saudaranya sendiri. Padahal, berdasarkan penuturan Mujahid, rumah rentenir itu, persis di depan rumahnya. Miris, tapi begitulah adanya.

Keluarga itupun kembali berunding. Aneka solusi ditawarkan, aneka rencana dicanangkan. Hingga akhirnya, disepakati waktu dan rencana aksi yang akan mereka lakukan. Mujahid berbagi tugas dengan kakaknya. Ia tetap tinggal di Ibu Kota, sedangkan kakaknya bertugas pulang kampung untuk melunasi hutang tersebut.

Waktu yang disepakatipun tiba. Ketika itu, bertepatan dengan hari dimana Mujahid biasa mengikuti Halaqoh Dzikir bersama KH. Arifin Ilham. Dzikir yang lembut, diselingi dengan taujih, serta ukhuwah yang menghangatkan, membuat Mujahid nyaman di halaqoh tersebut. Tak ayal, waktu dzikir itu adalah sarana untuk mencurahkan seluruh masalah kepada Sang Pencipta. Apalagi, dzikir itu dihadiri oleh ratusan bahkan ribuah jama’ah manusia. Belum lagi jama’ah malaikat yang tak pernah terlihat, apalagi terhitung. Sehingga syi’ar dan semangatnya semakin kental terasa.

Selepas subuh, Mujahid membonceng sahabatnya untuk mendatangi halaqoh dzikir itu. Berbekal semangat untuk bertemu saudara seiman, pagi itu sangat cerah dan menyemangati. Sampailah mereka di tempat dzikir selepas tiga puluh menit perjalanan. Keduanya bersegera mencari tempat yang nyaman di atas karpet yang sudah disediakan oleh panitia. Ribuan jama’ah berpakaian serba putih sudah memadati tempat itu.

Dzikir dimulai. Semesta pun bertasbih. Semuanya larut dalam puji-pujian akan kebesaran Allah. Mengenang Sang Nabi dalam syahdu, juga doa-doa untuk kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Tak lupa, doa untuk Indonesia Tercinta, juga untuk masyarakat, keluarga dan diri sendiri. Dalam lantunan doa itu, Mujahid mengucap lirih, beriring linang air mata, “Ya Allah, bebaskan kami dari jeratan rentenir itu. Dan, berikan petunjuk kepadanya.”

Entah berapa kali doa itu diucapkan. Hingga akhirnya, dzikir diakhiri dengan sujud syukur dan saling menyalami antara sesama jama’ah. Dalam jenak, ketika hati berada dalam puncak ketenangan, Hand Phone Mujahid berbunyi. Ada pesan masuk. Tertera dalam layar hitam itu, pesan masuk dari kakaknya. Hatinya bergetar. Harap-harap cemas. Dengan bismillah, ditekanlah tombol Buka Kunci, dan Baca Pesan. Hatinya bertambah ceria, syukur yang tak terukur, selepas membaca kalimat sederhana di layar itu, “Alhamdulillah, hutang kita pada rentenir sudah lunas.”

Serta merta, ia menyungkur dalam sujud. Kesadarannya penuh, bahwa yang bisa membuat mereka keluar dari jeratan rentenir itu hanyalah Allah. Apalagi, kakaknya hanya membawa dua juta, sedangkan dalam catatan rentenir, hutang keluarganya tujuh juta dari awalnya satu juta. Tanpa banyak tanya, Mujahid membalas singkat pesan itu, “Alhamdulillah…”

Yang tak kalah mengejutkan, berdasarkan kisah dari Mujahid ketika Ramadhan lalu, rentenir itu akan masuk Islam. Ia sudah mulai belajar mengenakan kerudung, dan dalam waktu dekat, insya Allah, ia akan menikah dengan lelaki Muslim.

Begitulah. Hidayah hanya milik Allah. Dialah pemberi solusi atas semua masalah. Tak perlu membenci siapa yang berbuat jahat kepada kita. Karena kebencian, tak pernah memberikan manfaat. cintai, dan doakan. Insya Allah, yang terbaik akan kita dapatkan. Semoga, apa yang Mujahid alami, menginspirasi kita semua.

Salam Jum’at Barokah. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Resolusi Muslim Sejati

Renungan - ilustrasi
Diakui atau tidak, kadang, bahkan seringkali, kita menjadi pribadi yang latah. Bukan hanya terkait kehidupan secara umum. Pun, dengan hal remeh temeh lainnya. Sebut saja, ketika momen pergantian tahun menjumpai. Serta merta, kita banyak melakukan sesuatu yang kurang diketahui esensinya. Mulai tindakan hura-hura hingga hal-hal lainnya. Sebut saja, salah satunya tentang resolusi.

Sebagai seorang muslim, resolusi tak ada salahnya. Karena dalam al-Qur’an, Allah juga memerintahkan agar kita memerhatikan akan apa yang terjadi di esok hari. Baik kehidupan dunia, terlebih lagi di akhirat. Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan. Bahwa Dia tidak akan mengubah suatu kaum selama kaum tersebut tidak berupaya untuk mengubah dirinya. Dalam haditspun demikian. Rasul menegaskan bahwa tanda dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Dari rangkaian ajaran langit ini, dapatlah kita simpulkan. Bahwa resolusi, bukan hanya dilakukan ketika pergantian tahun. Tapi bisa kita lakukan kapan saja. Sekali dalam sebulan, sepekan sekali, sehari satu kali, bahkan bisa berkali-kali dalam sehari.

Resolusi, bukan hanya terkait kehidupan dunia. Bukan hanya tahun ini kita harus memiliki rumah, atau bertambah koleksi mobil dan sawah. Resolusi, bagi seorang muslim, haruslah menyentuh hal-hal duniawi yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan akhirat. Karena kita menyadari, bahwa dunia hanya sementara. Bahwa dunia, cepat atau lambat, pasti akan ditinggalkan.

Kalau begitu, apa saja yang mesti kita jadikan resolusi di sepanjang kehidupan kita?
Pertama, Shalat. Rasulullah menganggap shalat sebagai salah satu sarana untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia yang melenakkan. Shalat, dalam sebuah hadits disebutkan sebagai mi’roj-nya orang beriman. Ia merupakan sarana untuk selalu terhubung dengan pencipta alam semesta. Untuk mengambil kekuatan dari langit, dan menebarkannya di bumi.

Shalat adalah sarana dzikir. Siapa saja yang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya. Shalat adalah solusi dari segala macam masalah. Sehingga, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa amal pertama yang dihisab kelak, adalah shalat. Jika shalat bagus, maka amal lain akan serupa. Jika shalat buruk, maka kebaikan amal lainpun sulit diharapkan. Tentu, jika ada orang yang rajin shalat tapi amal lain tak sebaik shalatnya, bisa jadi, shalat yang nampak baik itu tidak memiliki ruh.

Shalat juga pembersih. Ibarat mandi yang meluruhkan seluruh daki. Jika dalam sehari shalat fardhu kita lima kali, terjaga dengan baik, maka insya Allah amal itu menjadi sarana untuk melebur dosa-dosa kita di sepanjang hari itu.

Resolusi tentang shalat ini, bisa bertahap. Bagi yang Islamnya masih di KTP saja, maka bisa diazzamkan untuk melakukan shalat lima waktu, mulai hari ini juga. Bagi yang sudah biasa lima waktu, maka bisa ditambah dengan sunnah rawatib yang muakkad, sepuluh atau dua belas roka’at. Jika fardhu dan rawatib sudah terbiasa, maka bisa ditambah dengan dhuha, tahajjud, dan shalat sunnah lainnya.

Jika semuanya sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka lambat laun, shalat itu akan menjadi sebuah kebutuhan. Sehingga, ada yang kurang ketika belum menjalaninya. Sehingga, ada kenikmatan saat bisa mendirikannya. Sehingga, akan berlimpah inspirasi, ketenangan, kedamaian setelah menunaikannya. Dan, timbul rindu saat waktu shalat yang ditunggu tak jua tiba. Sehingga, akan tertanam keyakinan, sebelum jauh-jauh mencari solusi, perbaiki dulu shalat kita.

Kedua, al-Qur’an. Kalam Allah ini adalah panduan hidup. Ia satu-satunya kitab yang anti kadaluarsa. Allah yang memfirmankan, dan Dia pula yang akan menjaganya. Al-Qur’an adalah sumber inspirasi. Ia merupakan pemicu semangat bagi pembacanya, agar sungguh-sungguh dalam hidup di dunia guna mengumpulkan bekal di akhirat.

Al-qur’an, adalah selaksa oase. Di dalamnya, gambaran surga begitu jelas. Sehingga, kita akan bisa membayangkan dan mengharapkannya, sepenuh hati. Di dalamnya, cerita tentang neraka begitu membekas. Sehingga, kita akan menjaga diri, dan berdoa agar tidak dimasukkan ke dalam tempat terburuk itu.

Resolusi terkait al-Qur’an ini, bisa dimulai dari belajar membaca bagi yang memang belum lancar. Dilanjut dengan tahsin, memperbaiki bacaan. Jika sudah, targetkan untuk satu juz dalam satu hari. Lanjutkan dengan tafsir. Dan, yang paling utama, mengamalkan apa yang diajarkan dalam al-Qur’an. Kunci sukses dalam interaksi dengan Kalam Allah ini, salah satunya, ada pada satu kalimat, “Bacalah al-Qur’an, seperti Allah sedang mendengarkan bacaanmu.” Sehingga bacaan itu, tak sebatas di lidah. Tapi, merasuk dalam fikiran, menghujam dalam hati, dan meledak-ledak untuk diamalkan.

Ketiga, dakwah. Dakwah adalah ajakan. Bukan caci maki, hujatan atau penghakiman. Dakwah adalah tugas asasi para nabi. Yakni mengajak manusia, untuk menyembah Allah saja, dan menafikan selainNya. Teladan dakwah, adalah teladan kesabaran. Sebagaimana Nuh ‘alahis Salam yang mengajak umatnya untuk menyembah Allah dalam kurun waktu 950 tahun. Di sanalah, komitmen, kesabaran, diuji. Tanpa batas.

Dakwah adalah ibadah. Karena surga teramat luas, sehingga tak terlalu seru jika dimasuki sendiri. Sehingga, harus banyak orang yang kita ajak untuk menghuninya.

Dakwah bermula dari diri sendiri. Perbaikan yang tak pernah usai, hingga ajal menjelang. Berlanjut kepada orang yang kita cintai, suami/istri, orang tua, anak, sanak saudara hingga masyarakat luas.

Yang penting untuk dicatat, dakwah bukan sekedar retorika. Tidak terbatas pada masjid, di atas mimbar, dengan sarung, baju koko, ataupun sorban. Ia adalah amalan yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dan tak terbatas pada pakaian yang kita kenakan. Lebih lanjut, dakwah dengan perilaku, dengan teladan, adalah lebih utama disbanding dengan ribuan retorika.

Maka dakwah, adalah seni mengambil hati. Karena kita adalah pendakwah, sebelum sebagai apapun kita. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Selamat Jalan, Kang Aden

Aden - Edcoustic
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun. Kalimat itu serta merta terucap dari lisan kami ketika mendengar kabar duka dari Kota Kembang, Bandung. Adalah Aden, satu dari dua personil Duo Band Edcoustic, menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Islam Bandung Jawa Barat. Kang Aden, sebelumnya menderita maag dan sudah bolak balik dibawa ke rumah sakit. Informasi terakhir yang kami dapatkan, beliau terindikasi Virus Toxo.

Berdasarkan penulusuran kami, Virus Toxo ini, salah satu penyebabnya adalah memakan daging atau telur yang kurang matang. Bisa juga dari kotoran hewan, seperti ayam, kucing dan utamanya tikus. Virus ini terbilang serius dan harus dilakukan pengobatan secara langsung. Diantara ciri dari pengaruh virus ini antara lain, pembengkakan kelenjar limfe, panas badan tinggi, mual dan pusing. Untuk memastikan apakah seseorang terjangkit virus ini, harus dilakukan pemeriksaan serogolis.

Deden sendiri adalah salah satu aktivis dakwah di ITB. Beliau tergabung dalam Keluarga Remaja Islam Salman (KARISMA) ITB. Sebagaimana umumnya aktivis dakwah, maka sejak muda dia sudah mengambil aneka ‘lahan’ untuk menyemai benih-benih dakwahnya. Dan dakwah melalu nasyid, adalah jalan yang dia pilih. Sehingga kemudian berdirilah Edcoustic pada tanggal 25 Mei 2002.

Edcoustic sendiri sudah menjadi kegemaran muda-mudi masa kini, khususnya pemuda pemudi muslim masa kini. Dimana lagu-lagu yang digubah tak hanya melenakkan fikiran sebagaimana lagu pop umumnya, namun lagu-lagu edcoustic ini bisa menenangkan hati, menggairahkan fikir dan menyemangati raga untuk bergerak melakukan aneka amal shalih.

Album pertama dari Duo Band ini, bertajuk Muda-Mudi, terjual sekitar 20.000 keping dan terus menanjak seiring berjalannya waktu dan kualitas album. Pretasinya semakin menanjak ketika Aden berduet dengan Melly Goeslaw dalam menciptakan Ost. Ketika Cinta Bertasbih.

Kabar kepulangan Kang Aden sendiri, beredar dari akun twitter Taufik Ridho, Sekjen PKS yang juga Munsyid Shoutul Harokah. Tulis beliau di akun twitternya, “Inna Lillahi wa Inna iahi Roji’uun, telah dipanggil keharibaan Ilahi Akh Deden Ecoustic munsyid Muhasabah Cinta dan penulis Hymne PKS.”

Sedangkan penulusuran kami di akun Facebook Kang Aden, banyak bertebaran ucapan bela sungkawa dan doa yang terlantun tulus. Salah satunya dari akun Indra Primathena, salah satu alumni SMUN 8 Bandung yang pernah belajar di Universitas Padjajaran Bandung. Tulisnya, “Inalillah... Selamat jalan Kang Aden.. teringat segala bimbingan beliau selama menjadi pementor saya di Discovery With Karisma ITB thn 2001. Segala kebaikan almarhum adalah teladan bagi saya. Semoga segala amalan teladannya bermultilevel pahala baginya. Dan mengundang rahmat Alloh SWT. Selamat jalan kang Aden. Selamat menikmati dekapan cinta Sang Maha cinta di sana.”

Yang penting untuk kita catat, kematian yang sudah dialami oleh Kang Aden ini, cepat atau lambat akan mengahampiri kita. Jika beliau sudah melakukan yang terbaik dengan menginspirasi dan menyemangati umat dengan nasyid-nasyidnya, apakah bekal yang sudah kita siapkan? Apakah bekal itu benar-benar bisa menyelamatkan kita kelak di akhirat? Semoga, Allah memudahkan kita untuk menjadi orang yang cerdas. Yang ingat mati dan bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan bekal selepas ajal menjelang. Aamiin

Kang Aden... Semoga khusnul khotimah. Semoga Allah semakin menyayangimu, dan kita semuanya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Terakhir, tak ada salahnya jika akhir tahu ini, kita sama sama menghayati lantunan Musahasah Cinta gubahan Almarhum Kang Aden dan Edcousticnya ini.



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Evaluasi Akhir Tahun

Muhasabah - ilustrasi anwardjaelani.com
Sebaiknya kita evaluasi. Berkaca pada masa lalu untuk menatap tegak masa depan.

Jujur adalah kunci kesuksesan sebuah evaluasi. Sampaikan apa adanya, jangan sampai ada manipulasi. Karena evaluasi adalah terhadap diri sendiri. Sedangkan mereka yang berlaku jujur kepada orang lain adalah mereka yang paling bisa jujur terhadap diri sendiri.

Jika terhadap dirinya sendiri saja dia berbohong, maka terhadap orang lain sangat tidak mungkin untuk berlaku jujur. Jikapun jujur, kemungkinannya kecil. Bahkan sangat kecil.

Jika memang setahun lalu kita banyak mendapati keberhasilan. Rencana yang kita tetapkan berhasil gilang gemilang. Bahkan melebihi apa yang ditargetkan, maka bersyukurlah. Menyungkurlah dalam sujud panjang kepada Dzat yang telah membuat kita berhasil. Jangan sampai berkata pongah, "Ini karena rencanaku yang keren. Karena strategiku yang jitu." Tapi katakanlah dengan penuh haru. Seperti halnya yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman, "Haadzaa min Fadhlii Robbii," Bahwa, "Ini semua adalah atas kehendak Allah, atas kemurahan Allah."

Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya. Maka yang perlu dilakukan adalah kejujuran dalam mengakui setiap kelemahan kita.
Mungkin, rencana tidak realistis. Memaksakan kehendak, strategi yang kurang jitu, kesungguhan yang tidak penuh, terlalu banyak ngelantur, sibuk dengan hal-hal kecil, atau alasan lainnya. Maka, diperlukan kesungguhan untuk melaksanakan refleksi dan pembelajaran dari kegagalan pertama. Sehingga, kita tidak terjatuh pada lubang yang sama.

Selanjutnya, rumuskan langkah. Jadikan kemarin sebagai cermin. Rencanakan untuk esok yang lebih cerah ceria. Melangkahlah dengan sumringah, bertabur senyum semangat, berbekal jutaan harap pada Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah menjadikan kita sukses di dunia, terlebih lagi kelak di akhirat. aamiin ya Robbal 'alamiin.

Jangan lupa untuk selalu mengistighfari dosa kita yang telah lalu. Astaghfirullahal 'adhiim... Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adhiim.. Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad.

Sukses milik kita, insya Allah. [Pirman]



Bidadari yang Terbuang

Ibu dan bidadari yang terbuang - ilustrasi
Dalam banyak ayat, Allah mengingatkan kepada kita, bahwa ujian, seringkali berasal dari orang-orang yang dekat dengan keseharian kita. Baik yang bernasab layaknya bapak, ibu, saudara kandung, teman hidup baik suami maupun istri. Juga, orang-orang terdekat yang tidak ada kaitan darah seperti tetangga, sahabat atau siapapun yang dekat dalam kehidupan kita.

Tak terkecuali dalam kehidupan bisnis. Hal ini berlaku serupa. Adalah Malin Kundang. Sebuah legenda yang sangat populer. Lantaran bisnis, gengsi dengan kehidupan istri dan mertuanya, ia campakkan orang tuanya. Hingga akhirnya, dia terkutuk. Menjadi batu. Dan namanya, abadi dalam ketidakbaikan.

Tentu, sebagai orang yang berakal. Kita berharap agar tidak menjadi Malin Kundang berikutnya. Karena sebelum ajal menjelang, siapapun kita, bisa menjadi apapun selama kita tidak waspada dalam mendidik diri. Ini niscaya. Karena setan, tidak akan membiarkan kita berada dalam pendukung dan pelaku kebenaran.

Saya ingin menamainya dengan Fulan. Ia hidup di sekitar Jazirah Arab. Kegigihannya dalam berusaha telah mengantarkan dirinya menjadi seorang pebisnis ulung. Ia berpindah dari satu lokasi menuju lokasi lain untuk memperdagangkan komoditinya. Hampir semua tempat, sudah pernah ia jelajahi.

Ia hidup berempat. Bersama istri tercintanya, anak semata wayang penyejuk hati, dan ibu yang sudah tak muda lagi. Ibu yang telah melahirkannya itu, menderita lumpuh. Alhasil, cara hidup nomadennya ini, bertambah berat lantaran harus mengurusi sang ibu. Artinya, ia harus memindahkan ibunya, kemanapun ia beranjak.

Hingga akhirnya, ia mengalami puncak kegelisahan. Dalam gelisah itulah, timbul sebuah ide konyol. Ide yang sama sekali tidak manusiawi. Dan tak layak dilakukan oleh manusia manapun, apalagi dari anak terhadap ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan dirinya itu. Namun, takdir hendak memberikan pelajaran untuk kita, generasi setelah Fulan tiada.

Ia kemudian berkata kepada istrinya, menyampaikan ide gilanya itu. “Umi, sore ini kita akan beranjak ke daerah lain. Kembali menjajakan barang dagangan kita. Tolong, kemasi semua barang ibu. Kita tinggalkan ibu di tengah sahara. Abi lelah karena ibu sudah sangat merepotkan kita.”

Sang istri, hanya diam. Kemudian mengangguk sembari melaksanakan perintah belahan jiwanya itu. Naluri kemanusiaan sang istri terusik. Namun, sebagai istri, ia tak bisa berbuat banyak.

Hingga akhirnya, apa yang dititahkan oleh Fulan ditunaikan dengan baik. Sang istri, melakukan lebih dari yang diminta. Di samping meninggalkan mertuanya, ia menyertakan anaknya. Mereka berdua ditinggal di tengah sahara. Dengan ancaman mati kedinginan atau diterkam binatang buas.

Sesampainya di tempat yang dituju, Fulan memanggil istrinya. “Umi, dimana anak kita? Aku ingin rehat sejanak sembari bermain dengannya. Agar luruh lelah yang menggelayut selepas perjalanan tadi.”

Tanpa canggung, sang istri menjawab, “Aku meninggalkan anak kita bersama ibu di tengah sahara.” Bagai disambar petir, Fulan langsung menyergap, sembari membentak, “Ha?! Kenapa kau tinggalkan anak kita bersama Ibu? Bukankah aku hanya menyuruh untuk meninggalkan ibu?”

Dengan sangat tenang, sang Istri menyahut, “Jika kubawa anak kita, dan hanya meninggalkan ibu, maka kelak, anak kita akan membuangmu sebagaimana kau membuang ibumu.”

Tanpa kata, Fulan langsung memacu kendaraannya ke tengah sahara. Hingga didapatilah pemandangan yang menyadarkan hati. Ibu dan anaknya tengah dikelilingi binatang buas. Sang anak ketakutan. Dan wanita terbuang itu, tengah mendekap erat cucunya, seraya melindungi. Fulan bergegas mengibas-ngibaskan pedangnya untuk menguisir kerumunan binatang buas yang hendak menerkam ibu dan anaknya.

Setelah aman, ia menyungkur sujud, menangis sejadi-jadinya, meminta maaf, sambil menciumi ibu dan anaknya.

Begitulah. Terkadang, kehidupan dunia bisa membutakan mata hati. Maka dalam cerita ini, istri, ataupun pasangan hidup kita, berfungsi sebagai penyeimbang. Yang mengingatkan di kala kita lupa. Yang meluruskan di kala kita tengah melenceng. Pasangan hidup itu, adalah mereka yang mengulurkan tangannya di saat orang lain enggan untuk membantu.

Sejatinya, orang tua adalah sarana utama bagi suksesnya seorang anak. Meskipun, secara kasat mata, ketika keduanya sudah memasuki senja, keberadaan orang tua nampak merepotkan. Namun, jika kita menggunakan kaca mata langit, keberadaannya adalah sumber kesuksesan.

Dari cerita Fulan ini, kita belajar. Bahwa ibu, dalam berbagai kasus adalah ujian bagi kita anak-anaknya. Dari si Fulan, kita juga belajar tentang hikmah. Bahwa penentangan akan ketidakbenaran, tidak selalu berbentuk kalimat kasar, melainkan dengan tindakan cerdas yang berasal dari hati, hingga sampai pulalah ke dalam hati.

Mari, bahagiakan ibu. Maka Allah, pasti membahagiakan kita. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



Beauty Jannaty

Beauty Jannaty
Judul : Beauty Jannaty ; 99 Bekal Menjadi Muslimah Jelita Dambaan Surga
Penulis : Keisya Avicenna
Penerbit : Tinta Medina( Imprint Tiga Serangkai –Solo )
Tebal : xx + 412Halaman ; 21 cm
Cetakan : I ; Agustus 2013
ISBN : 978-602-9211-87-0

Menjadi muslimah shalihah adalah anugerah terindah dari Sang Maha Kuasa. Menjadi muslimah shalihah adalah salah satu jalan pasti menuju surga. Menjadi muslimah shalihah adalah cara paling jitu untuk membuat para bidadari surga cemburu. Karena muslimah shalihah, dalam sebuah hadits nabi, disebutkan sebaga perhiasan dunia yang paling berharga. Menjadi muslimah shalihah adalah jalan panjang, terjal nan berliku. Banyak onak, ujian, godaan dan aneka makar yang menghiasi perjalanan untuk menujunya.

Menjadi muslimah shalihah dimulai dari jelitanya taqwa. Yaitu sejauh mana seorang muslimah melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-laranganNya. Dalam menggapai derajat taqwa ini, ada lima kiat yang bisa ditempuh. Yaitu mengingat janji (Mu’ahadah) kepada Allah di awal penciptaan, bersungguh-sungguh (Mujahadah) dalam menjalankan setiap amal menuju taqwa, merasa diawasi (Muraqabah) oleh Allah Yang Maha Mengetahui, evaluasi diri (Muhasabah) atas semua amal yang telah, sedang dan akan dilakukan serta memberikan sanksi kepada diri sendiri (Mu’aqabah) jika suatu ketika melakukan kesalahan, baik besar atau kecil, baik disengaja atau tidak. (Halaman 2-3).

Selanjutnya taqwa ini terderivasi dalam banyak amalan, baik ibadah langsung kepada Allah maupun dalam setiap muamalah kepada seama manusia. Ibadah langsung kepada Allah meliputi semua ibadah wajib, ibadah sunnah, ikhlas, zuhud, mengingat surga, memvisualisasikan neraka, ridha kepada tadir, banyak membaca al-Qur’an, menjaga wudhu dan seterusnya.

Sedangkan terkait diri sendiri dan amalan kepada sesama, muslimah shalihah senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji. Seperti, senantiasa mengenakan pakaian yang syar’i, menjaga kesehatan, tidak berlebihan dalam makan dan minum, menjaga kesehatan mulut, berpakaian bersih dan rapi, selalu merawat kebersihan dan keindahan rambut, berparas menarik, menghindari tabarruj dan tidak berlebihan dalam berhias. (Hal 86-102)

Muslimah shalihah yang jelita juga piawai dalam mengembangkan setiap potensi. Baik potensi ruh, pikiran juga fisik. Mereka adalah pribadi yang jelita dalam melindungi akalnya dengan ilmu, tidak lepas dari membaca dan menulis, selalu menghadiri majlis ilmu, berpikir sebelum bertindak, pandai mengatur waktu, tangguh dan pantang mengeluh, menjaga amanah, siap dikritik dan menerima saran, selalu belajar dan mengembangkan bakatnya.

Sebagai istri, muslimah shalihah pandai merawat diri agar suaminya tidak berpaling kepada wanita lain. Mereka menyadari bahwa berdandan tidak harus dengan make up dan perhiasan mahal. Tetapi cukup dengan membersihkan diri dengan mandi, siwak, memakai parfum serta berpakaian rapi dan serasi, dan aneka tuntunan sunnah yang lain dalam berdandan. (Hal 375)

Andai semua ajaran Allah dan Rasulullah yang disajikan dalam buku ini berhasil dipraktekan secara menyeluruh, maka kebangkitan Islam dari Bumi Pertiwi Indonesia bukanlah mimpi. Karena muslimah shalihah merupakan soko guru paling utama dalam kemajuan sebuah bangsa. Di pundaknyalah, diamanahkan pendidikan para generasi muslim yang kelak menjadi pemimpin masa depan.

Andai buku ini bisa diringkas, bisa jadi ia lebih menarik. Sehingga bentuk yang lebih kecil, tipis namun aplikatif itu, tidak merepotkan dan memberatkan jika dimasukkan dalam tas maupun saku setiap muslimah yang berkenan mempraktekan ilmunya.

Buku ini, tidak hanya bagus untuk muslimah. Melainkan bacaan wajib bagi para lelaki. Karena surga bagi muslimah, terdapat dalam ketaatan kepada lelaki,baik sebagai suami maupun bapak. Tentu, ketika perintah suami atau bapak, sesuai dengan perintah Allah, Rasulullah dan Syari’at Islam. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com




Tertarik dengan buku Beauty Jannaty ini?
silahkan hubungi Toko Buku Bahagia


Semoga Ibu Semakin Disayang Allah

Semoga Ibu semakin disayang Allah (foto Pirman)
“Bu, apa kabar? Semoga iman selalu tertanam di dalam dadamu. Semoga Islam selalu menjadi pegangan hidupmu, hingga Izrail menjemputmu. Semoga taqwa senantiasa mengiringi hari-harimu. Semoga ihsan senantiasa menemanimu, di mana dan kapanpun kau berada.”

“Bu, apakah kau sudah makan pagi ini? Menu apakah yang kau masak dan sediakan untuk dirimu dan adik-adikku?”

Ah, jika bicara makanan, aku pasti ingat akan dirimu. Karena kau adalah koki paling hebat di dunia ini. Sekalipun hanya bayam, bawang merah, bawang putih dan cabe, namun kau bisa menyulapnya menjadi makanan yang penuh cinta, full kasih, sarat sayang. Sehingga aromanya adalah nikmat, rasanyapun mantap. Tak ayal, sederhana yang nampak luar biasa. Dan kini, aku sungguh merindukan luar biasanya masakanmu itu.”

“Bu, apakah kau sudah sholat ?”

Kawan, aku malu jika menanyakan ini pada ibuku. Dulu, ketika aku masih kecil, beliaulah yang cerewet mengajakku untuk sholat. Dengan segala macam kesibukan yang beliau emban, beliau sempatkan mencariku yang tengah asyik dengan duniaku. Dengan cinta beliau menyapaku, “Mas, sudah sholat belum?” Beliau memanggilku dengan bahasa cintanya, ”Mas”. Dan kini, aku bukan ingin mengguruinya dengan menanyakan sholatnya. Bukan itu, aku hanya ingin mengingatkannya. Karena aku tidak mau kita berbeda tempat di akhirat kelak. Inginku sederhana Bu, kita bersama menghuni surgaNya, Amin.. ya Rabb.

Bahkan beliau tak pernah menyerah untuk menanyai sholatku, padahal hampir setiap ditanya, bukan jawaban yang kuberikan, melainkan mirip bantahan, ”Ngapain nanya-nanya sholat segala?”, ucapku kesal. “Gak lihat sedang asyik main sama teman apa?” lanjutku. Astaghfirullah.. Maafkan aku Bu, semoga Allah mengampuni semua khilafku padamu.

“Bu, Ibu sudah mandi?” Ingin sekali aku dimandikanmu, seperti dulu ketika aku kecil. Mandi bersamamu dengan air sayang, dicampur kehangatan kasih. Membersihkan setiap kotoran yang melekat ketika diri memang belum berdaya apa–apa. Pun, ketika diri ini sudah bisa berlari dan bermain, aku masih sering dimandikan olehmu.

Tanganmu lembut sekali, belaianmu benar-benar menguatkanku. Dengan sabar kau lakukan peran itu. Menggosok pelan tubuhku, membersihkannya dengan sepenuh jiwa, seperti kau memandikan dirimu sendiri. Bahkan, kau lebih bersih, lebih teliti dalam memandikanku, daripada ketika kau bersihkan dirimu sendiri. Dengan segenap batas, ijinkan aku untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk kasihmu yang tiada terbalas.

“Bu, Ibu sedang apa sekarang ?” Mudah-mudahan Allah melapangkan semua aktivitas kebaikanmu. Semoga Allah mencegahmu dari berbuat keburukan, sekecil apapun. Semoga, Allah menjadikan setiap lakumu adalah keberkahan, sehingga bisa mengantarkanmu dan kami (anak-anakmu) ke surgaNya kelak, Aamiin. Jangan lupa ya Bu, iringi setiap langkah dengan dzikir, dengan munajat panjang untuk kami, anak-anakmu. Karena Allah tidak akan menolak doa kebaikan dari seorang Ibu kepada anaknya. Untuk yang kesekian kalinya, ijinkan aku mengucapkan, ”Jazakillah ahsanal jazaa atas semua yang kau berikan kepada kami, termasuk doa-doa panjangmu, yang tak pernah putus demi kebaikan kami, anakmu”

Bu, aku tersinggung ketika kau bertanya demikian, ”Mas, nanti kalau Ibu sudah tua gimana? Ibu khawatir jika kalian akan meninggalkan Ibu sendirian.” Hatimu sungguh halus, selembut sutra bahkan lebih lembut lagi. Jangan khawatir Bu, Allah pasti memudahkanku untuk merawatmu, sebagaimana kau merawatku dulu. Akan kuajak kau serumah denganku, dengan istriku, juga dengan cucu-cucumu nanti.

Insya Allah, Allah pasti akan memudahkan terwujudnya niat baikku itu. Tak perlu kau risau, tak perlu kau ragu. Aku sudah berkomitmen untuk tidak menjadi seperti Malin Kundang yang durhaka pada ibunya. Aku hanya ingin seperti para sahabat Nabi yang membaktikan hidupnya untuk orang tua mereka. Karena kebaktian kepadamu, karena kedekatan hati denganmu, adalah sumber keberkahan di dunia ini, juga dia khirat kelak. Tentunya, selama kau tidak menyuruhku untuk melanggar aturan-aturan Allah.

“Bu, aku rindu padamu, sangat rindu sekali.” Walaupun kutahu, rinduku hanyalah seujung kuku jika dibanding dengan rindumu yang sepanjang masa. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Aku rindu senyummu. Aku rindu teduhnya wajamu. Aku rindu belaian tanganmu. Aku rindu pijitan cintamu. Aku rindu dekapanmu. Aku, rindu gurauanmu. Aku rindu kemanjaan di waktu tuamu. Aku rindu masakanmu. Aku rindu omelanmu. Aku, aku, aku, merindukan semua tentangmu. Karenamulah, aku belajar rindu. Semoga rindu ini akan berakhir di tempat terindah yang Allah sediakan kelak di surgaNya. Untuk anak dan orang tua yang saling merindukan Surga, pertemuan sejati dengan Allah. Aamiin ya Rabb.

“Bu, jikapun aku jauh dari fisikmu. Yakinlah! Bahwa diriku tengah mencoba mendekatkanmu dalam setiap jenak kehidupan. Dalam setiap doa bahkan desah nafas. Dalam setiap langkah, aku akan selalu menyertakanmu. Karena Rasul pernah bersabda, ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua. Murka Allah tergantung kepada murka orang tua. Maka dari itu, ridhoilah anakmu ini agar Allah tidak memurkai diri yang banyak salah ini.”

“Bu, usiamu semakin senja. Namun, sedikitpun tak kujumpai kelelalahan dalam dirimu. Senyummu tambah merekah, tawamu tambah renyah, bincangmupun semakin sarat makna. Aku tak tahu, terbuat dari apakah dirimu, sehingga begitu tegarnya dalam mengahadapai karang kehidupan yang seringkali mengahantammu sesukanya. Ah, lagi-lagi aku lupa! Bahwa kau adalah manusia terbaik di dunia ini setelah Rasulullah. Bukankah Allah pernah berpesan bahwa Ibu berbanding tiga kali dengan Ayah? Maka, di senjanya usiamu yang kian bergairah, ijinkan kami untuk berbakti, sekali lagi, walaupun apa dadanya.”

Bu, jangan berhenti melantunkan doa agar aku bisa membuatmu tersenyum bangga, di dunia dan terlabih lagi di akhirat.

Ah, aku lupa!!

Kawan, apakah ibumu sudah bertemu Allah?

Jika ‘Iya,’ maka belum terlambat. Masih ada waktu untuk berbakti padanya. Doakan dengan doa terkhusyu’ yang kau punya. Agar Allah mengumpulkanmu dan ibumu di surgaNya. Lakukan pula sedekah, lalu hibahkan pahala untuknya. Karena Nabi mengajarkan hal itu. Lakukan pula haji dan niatkan untuk menghajikan Ibumu jika ternyata beliau belum sempat bertamu ke bumi Allah di Makkah. Lakukan pula amal sholih, terus menerus, agar beliau tersenyum melihat kegigihanmu di dunia ini.

Jika ibuku yang masih hidup saja sangat kurindukan, padahal bisa kutemui sewaktu-waktu, maka aku tidak bisa membayangkan betapa rindunya dirimu kepada ibumu yang telah berada di negeri yang sangat susah untuk sekedar kau temui atau untuk kau kecup keningnya. Tapi, yakinlah kawan! Bahwa kau akan menemuinya kelak di Surga. Amin.. Ya, Rabb.

Terakhir, untuk para calon ibu, “Jadilah ibu yang melahirkan pahlawan bagi agama Allah. Karena tidak ada balasan bagi para mujahid selain menang atau surga. Jangan biarkan dirimu dipersunting oleh orang yang tidak mau tahu tentang agamaNya. Namun relakan dirimu, ketika ada orang yang dengan tulus akan mengajakmu meniti jalan cinta para pejuang, jalan cinta yang akan mengantarkanmu, pasanganmu dan keluargamu ke surga yang sangat indah.”

Untuk para ibu dan calon ibu di seluruh dunia, kuucap syahdu penuh rindu, “Semoga Allah memudahkanmu untuk mendidik para mujahid di jalan Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepadamu. Semoga Allah melindungimu, selamanya. Aku, mencintaimu karena Allah. Semoga Allah semakin menyayangimu, selalu dan selamanya.” []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



 

suara islam Powered by Blogger