Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

5 Lomba yang Membuat Suami Istri Makin Saling Mencintai

Suami istri (mellena)
Saling mencintai dan menyatu dalam cinta adalah idaman setiap suami istri. Hanya saja, terkadang ada pasangan yang telah sekian lama menikah, cinta dan penyatuan jiwa itu belum hadir dalam kehidupan berumah tangga.

Sedikitnya, ada 5 lomba yang perlu dilakukan suami istri agar mereka menemukan chemistry penyatuan jiwa dan saling mencinta, sebagaimana diterangkan oleh Ustadz Cahyadi Takariawan, Penulis Buku "Wonderful Family" dan Konselor "Jogja Family Center" (JFC):

1. Berlomba untuk mendahului meminta maaf kepada pasangan. Siapa yang lebih cepat meminta maaf kepada pasangan, dialah yang paling baik.

2. Berlomba untuk mendahului memaafkan pasangan. Siapa yang lebih cepat memaafkan pasangan, dialah yang paling baik.

3. Berlomba untuk mendahului mengalah demi kebaikan bersama. Siapa yang lebih cepat mengalah demi kebaikan bersama, dialah yang paling baik.

4. Berlomba untuk mendahului menyesuaikan dengan keinginan pasangan. Siapa yang lebih cepat menyesuaikan dengan keinginan pasangan, dialah yang paling baik.

5. Berlomba untuk mendahului memberikan yang terbaik bagi pasangan. Siapa yang lebih cepat memberikan yang terbaik bagi pasangan, dialah yang paling baik. []

Bolehkah Langsung Tidur Setelah “Bercinta”

Ilustrasi mandi junub
Setiap muslim pasti paham bahwa setelah berhubungan seksual, suami istri wajib mandi junub untuk mensucikan diri dari hadats besar. Yang menjadi pertanyaan adalah, bolehkah menunda mandi junub dengan tidur terlebih dahulu? Misalnya karena alasan mandi di malam hari terasa dingin dan berat.

Berikut ini 6 hadits yang menjelaskan mengenai masalah tersebut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَ نَوْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْجَنَابَةِ أَيَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ
Dari Abdullah bin Abu Qais dia berkata; "Aku bertanya kepada Aisyah bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidur dalam keadaan junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur? Atau tidur sebelum mandi? ' Aisyah menjawab, 'Semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.. Kadang beliau mandi dahulu lantas tidur, dan kadang (hanya) wudhu lalu tidur." (HR. An Nasa’i)

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ
Umar bin Al Khaththab bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Apakah boleh seorang dari kami tidur dalam keadaan dia junub?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Ya. Jika salah seorang dari kalian berwudhu, maka hendaklah ia tidur meskipun dalam keadaan junub." (HR. Bukhari)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قُلْتُ كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَمْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً
Dari Abdullah bin Abi Qais dia berkata, "Saya bertanya kepada Aisyah tentang witir Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam. Lalu dia menyebutkan suatu hadits. Aku bertanya lagi, 'Bagaimana (yang harus) beliau perbuat ketika dalam keadaan junub, apakah beliau harus mandi sebelum tidur atau tidur tanpa mandi? ' Aisyah menjawab, 'Sungguh semuanya telah dilakukan beliau, kadang beliau mandi lalu tidur, kadang beliau berwudhu lalu tidur.' Aku berkata, 'Segala puji bagi Allah yang menciptakan dalam perkara tersebut suatu keleluasaan'." (HR. Muslim)

إِذَا أَصَابَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ فَلَا يَنَمْ حَتَّى يَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ
"Apabila kalian menggauli istri kalian, kemudian hendak tidur sebelum mandi, maka jangan tidur hingga berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat." (HR. Malik dalam Al Muwatha’)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجْنِبُ ثُمَّ يَنَامُ وَلَا يَمَسُّ مَاءً حَتَّى يَقُومَ بَعْدَ ذَلِكَ فَيَغْتَسِلَ
Dari Aisyah ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam junub kemudian tidur tanpa menyentuh air. Setelah itu beliau bangun dan mandi." (HR. Ibnu Majah)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ وَلَا يَمَسُّ مَاءً
Dari 'Aisyah ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah tidur dalam keadaan junub, dan beliau tidak menyentuh air." (HR. Tirmidzi)

Jadi, dari keenam hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa boleh bagi suami istri untuk tidur setelah “bercinta” di malam hari (menunda mandi junub) dan dianjurkan untuk wudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Tiga Mantra Cinta

Ilustrasi cinta
Ibarat tumbuhan, pernikahan adalah jenis tanaman sensitif yang membutuhkan perlakuan lebih dalam merawatnya. Ia tidak cukup disiram dengan air kebaikan, tapi juga pupuk-pupuk kebajikan yang harus senantiasa diberikan di sepanjang waktu, dengan jumlah yang konsisten. Jika hal ini tidak dilakukan dengan baik, maka tanaman cinta dalam pernikahan itu, akan cepat layu dan kemudian mati.

Layunya tanaman cinta pernikahan ini, biasanya bermula dari kelalaian pertama dalam memberikan pupuk kebajikan dan siraman air kebaikan. Lalu berlanjut dengan salah faham kecil, dengan aneka bumbu masalah dalam biduk rumah tangga yang tidak disikapi dengan bijak. Masalah ini diperparah dengan orientasi dunia berlebih sehingga tanaman itu kering dan kemudian layu lantaran kehilangan orientasi utamanya.

Pernikahan adalah ibadah. Maka, ia harus diniatkan karena Allah, dijalani sesuai aturan Allah, dan dikembalikan kepada Allah ketika di tengah perjalanan terdapat ujian-ujian. Baik ujian kecil, maupun ujian besar dalam pernikahan.

Sejatinya, tidak ada dikotomi antara masalah kecil ataupun masalah besar. Karena masalah besar, adalah tumpukan dari masalah-masalah kecil yang tidak diakomodir dengan baik. Kecemburuan yang tak beralasan, masakan kurang asin berkelanjutan, egoisme berlebih lantaran kesibukan di luar rumah, merasa menjadi paling berjasa, dan seterusnya. Tumpukan masalah-masalah inilah yang kemudian berakumulasi sehingga menjadi gelombang yang menghancurkan bangunan pernikahan.

Siraman air kebaikan dan pupuk kebajikan dalam tanaman pernikahan itu, bisa berupa kata yang baik, kalimat penyejuk jiwa, senyum hangat yang menginspirasi juga laku tulus perlambang cinta. Inilah mengapa, tugas utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak. Karena, keshalihan seseorang, hanya akan sempurna dengan baiknya akhlak seseorang. Bukan hanya rajin shalat tapi jahat kepada istri, atau rajin bayar zakat tapi main kasar kepada anak yatim, dan seterusnya. Karena, muslim yang diidamkan, adalah muslim yang kokoh aqidahnya, benar ibadahnya, juga shalih akhlaknya -terhadap diri, keluarga dan masyarakat.

Terkait penggunaan kalimat dalam menyemai kesuburan pernikahan, pasangan ini memiliki pendangan yang berbeda sesuai kekhasannya. Bagi seorang istri, kata itu sangat penting. Karena ia bentuk pengakuan. Sehingga, di samping uang segepok dan aneka kebutuhan materi lainnya, mereka sangat membutuhkan kalimat-kalimat cinta seperti : aku sayang kamu, kamu cantik, terima kasih atas semua baktimu, dan sebagainya.

Sementara itu, suami justru memiliki pandangan yang berbeda. Bagi mereka, kata tak begitu bermakna. Karena bukti lebih dari utama. Sehingga, kesibukannya di luar rumah, semangatnya dalam menumpuk rupiah, dan aneka kerja-kerja lainnya, dianggapnya sebagai bukti cinta yang sesungguhnya, sehingga tak perlu lagi 'menggombal' dengan kalimat-kalimat cinta yang sangat digemari oleh kaum wanita ini.

Dalam hal inilah, terdapat seni dalam pernikahan. Karena sejatinya, mereka adalah satu tubuh yang dipisah dalam dua jenis. Jika kemudian sudah beranak, maka satu cinta itu harus diejawantahkan dalam diri buah hati mereka, sesuai kekhasannya masing-masing. Makanya, pernikahan ini mengandung pahala yang sangat besar bagi siapa yang sungguh-sungguh dalam menjalankannya.

Sehingga, penggunaan kata-kata cinta ini, harus disepakati oleh kedua pasangan. Agar tanaman pernikahan, bisa tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi sekitarnya. Tentu, harus dilandasi ketulusan. Bukan kalimat gombal yang tidak memiliki ruh.

Sayang, aku sayang kamu. Ini adalah kalimat pertama yang harus sering disampaikan oleh masing-masing pasangan kepada pasangannya. Berlandaskan ketulusan yang terdalam, sehingga kalimat ini memiliki ruh. Jika ia memiliki ruh, maka akan bermanfaat bagi pengucap maupun yang dijadikan objek ucapannya. Ruh cinta inilah yang akan memberikan semangat bagi keduanya untuk berkarya di luar rumah secara optimal. Kalimat ini, bisa diucapkan sesering mungkin, atau berkala. Misal, ketika bangun tidur, sebelum beranjak ke masjid berjama’ah subuh, di tengah-tengah kerja dengan mengirim pesan singkat, di tengah perjalanan, sepulang kerja, menjelang tidur, di tengah-tengah tilawah bersama, dan seterusnya.

Kedua, terima kasih, sayang. Ini adalah ungkapan tulus atas semua jasa pasangan kita. Untuk penerimaannya, padahal kita banyak cela. Untuk cintanya yang terus dieja di sepanjang jenak kehidupan. Bagi seorang suami, ini adalah kalimat pengakuan. Wujud syukur atas hadirnya istri dalam kehidupannya, sehingga tak lagi sepi. Ia juga ungkapan syukur atas sarapan, teh hangat, kopi kental, maupun semua jenis pelayanan yang dilakukan tanpa tarif. Termasuk juga jasanya mengurus rumah, menyapu, ngepel lantai, dan tugas domestik lainnya. Juga, untuk tulusnya mengandung calon anak, dan mengurusnya hingga besar.

Maafkan aku, cinta. Inilah mantra ketiga cinta. Rumah tangga ibarat samudra. Banyak ombak, tak jarang membadai. Kesalahan-kesalahan sering terjadi, juga kekurangan dari masing-masing pasangan. Di sinilah, diperlukan kedewasaan. Bahwa ketika pasangan kita tak sempurna, maknanya kita juga banyak cela. Ketika pasangan salah, maka kitalah orang pertama yang wajib mengingatkan dan kemudian membenarkannya. Lagi-lagi, bahwa rumah tangga adalah kesatuan. Istrimu, adalah perlambang dirimu. Suamimu, adalah imam yang tak mungkin sempurna. Harus ada sinergi, bukan saling menyalahkan.

Ketiga mantra itu harus dibingkai dalam syari’ah. Bukan sekedar romantisme picisan apalagi obrolan gombal tanpa makna. Semoga, Allah berikan keberkahan untuk rumah tangga kita, dari semenjak meniatkan menikah, hingga kelak Allah memisahkan kita di dunia ini. Dan, semoga Allah kembali pertemukan kita dengan pasangan terbaik kita, di surgaNya. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

Solusi Mujarab Menghadapi Konflik Suami Istri

Suami istri bersinggungan (Desainkawanimut)
Diam itu, dalam banyak cerita, bisa menjadi obat yang mujarab. Minimal, ia bisa membuat luka tak semakin menganga.

Sebut saja misalnya, dalam riak-riak gelombang suami-istri. Jika sang istri ngambek, lantas suami tak bisa menahan ocehannya, bisa jadi konflik akan meruncing. Dan, pecahlah perang dunia ketiga. Dan memang, dalam banyak pelajaran ilmu psiokologi, ngambeknya pasangan kita, hanyalah sinyal bahwa ia ingin semakin diperhatikan. Cukuplah duduk manis, mendengarkan curhatannya, sembari menyediakan teh hangat dan bahu yang lebar agar dia bisa menyandarkan lelahnya.

Atau, misalnya. Ketika orang tua kita tengah tidak puas dengan bakti kita yang memang ala kadarnya. Maka, sediakan saja telinga ikhlas untuk mendengarkan segenap keluh kesahnya. Sulit, mungkin. Tapi itu hanya di awal. Jika sudah terbiasa, ia akan gampang, nikmat dan nyaman. Dari telinga ikhlas itu pula, kelak, kita bisa membaca apa yang dimau oleh orang tua, atau orang-orang terdekat dan orang-orang yang kita cintai.

Dalam bersahabat pun demikian. Ini sederhana. Karena hidup, jika tak ada konflik di dalamnya, maka jalannya akan datar saja. Dan datar ini, kurang nikmat rasanya. Maka konflik, sejatinya adalah sarana. Agar damai terasa lebih nikmat, agar diri lebih bijak. Tentu, konflik kecil tersebut adalah riak kecil yang diselesaikan dengan kepala dingin, hati jernih dan semangat untuk saling memperbaiki diri. Bukan semangat mencari kesalahan atau meruncingkan beda.

Dalam konteks ini, jika misalnya diri merasa bersalah. Atau misalnya dalam posisi yang benar sekalipun. Namun, kawan kita itu terus menerus menerocos bak wartawan peliput aksi Densus88, maka diam adalah solusi paling bijak. Dari bicaranya, kita bisa berkaca. Mungkin, memang kita yang salah tapi tidak merasa. Mungkin, kawan kita itu sedang mendapat masalah dan luapan katanya adalah sebentuk pelampiasan. Jika itu yang terjadi, maka berdoalah. Semoga dengan lontaran kata dan kalimatnya, bisa sedikit menanangkan hatinya. Dari kicauannya juga bisa kita jadikan sebagai pelajaran. Bahwa kita, memang manusia yang tak luput dari alpa. Sehingga, apa yang dia sampaikan, bisa kita jadikan bahan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Begitupun seterusnya. Diam, dalam banyak kasus, adalah obat yang paling muajarab. Minimal, dengan mengeja diam, dengan mengaktifkan telinga ikhlas, konflik yang ada tak menjadi semakin meruncing.

Oh ya, berikan saja hadiah kepada pasangan, orang tua, kawan atau siapapun yang sedang marah kepadamu. Insya Allah, hadiah itu akan melunakkan hatinya, dan kelak, cinta diantara kalian akan semakin mesra dan tumbuh memesona.

Terakhir, mungkin kita perlu ingat. Bisa jadi, disadari atau tidak, ngambeknya orang-orang yang kita cintai disebabkan oleh kita yang salah ucap, salah tindak maupun salah respon. Sehingga, benarlah apa yang diwasiatkan oleh sang Nabi Teladan, "Katakan yang baik, atau diamlah." Dan, nasehat itu, adalah salah satu tanda benarnya iman seseorang. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

3 Perasaan Suami yang Tak Terwakili Kata-Kata

Suami istri romantis - ilustrasi
Laki-laki memang berbeda dengan perempuan. Ketika keduanya telah menjadi suami istri, perbedaan ini pasti dirasakan dan kadang-kadang menimbulkan masalah jika tidak dipahami dengan baik. Tentang mengungkapkan perasaan, misalnya.

Sebagai seorang wanita yang menurut penelitian kaum Hawa ini bisa bicara 20 ribu kata, istri biasa mengungkapkan perasaannya langsung dengan kata. Namun, suami yang menurut penelitian hanya bicara sekitar 7 ribu kata sehari, seringkali tidak ‘pandai’ mengungkapkan perasaannya.

Ustadz Cahyadi Takariawan di akun facebook-nya, Rabu (1/1), menjelaskan tiga perasaan suami kepada istri yang sering tidak terungkapkan secara lisan.

1. "Jika di rumah aku tak banyak bicara, jangan anggap aku tak lagi mencintaimu. Aku merasa telah menyatakan cinta dengan perbuatan nyata, seperti bekerja mencari nafkah, pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga, dan lain sebagainya. Aku memang tak pandai merangkai kata-kata cinta".

2. "Jika aku tak pandai bahkan tak bisa merayu, jangan anggap aku tidak memperhatikanmu. Kehadiranku di rumah bersamamu dan anak-anak adalah bukti perhatianku. Aku memang tidak biasa romantis, namun aku selalu berusaha memberikan perhatian semampuku".

3. "Jika aku tak pandai bahkan tak bisa mengekspresikan perasaanku kepadamu, jangan anggap aku tak lagi memerlukanmu. Melihatmu di sampingku saja aku sudah bahagia. Apalagi saat bersama anak-anak. Tentu aku sangat memerlukanmu walau aku tak pernah menyatakan hal itu kepadamu".

Semoga dengan memahami perbedaan ini, suami istri bisa semakin harmoni dalam berkeluarga. Hingga terwujudlah keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. [IK/Bersamadakwah]

Dialog Terbalik Pengantin Baru vs Pengantin Lama

Pengantin baru (ilustrasi ipb.ac.id)
Suami : “Aku sudah menunggu saat seperti ini sejak lama. Akhirnya kesampaian juga.
Istri : “Apakah kau rela kalau aku pergi meninggalkanmu?”
Suami : “Tentu tidak! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu.”
Istri : “Apakah kau benar-benar mencintaiku?”
Suami : “Tentu! Selamanya akan tetap begitu.”
Istri : “Apakah kau akan selingkuh?”
Suami : “Tidak! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu.”
Istri : “Maukah kau menciumku?”
Suami : “Ya.”
Istri : “Hmmmmm… Sayangku…”


Dialog yang ditulis Ustadz Cahyadi Takariawan dalam buku Wonderful Husband ini sungguh menggelitik. Jika dibaca dari atas ke bawah, dialog ini adalah dialog pengantin baru. Romantis, mesra.

Tetapi, dialog ini juga dapat menggambarkan ‘prahara’ rumah tangga pengantin lama. Jika, dialognya dibaca dari bawah ke atas.

Lalu bagaimana agar dialog keluarga kita selalu ‘dari atas ke bawah’? “Maka selalu rawat dan sirami cinta kasih dalam keluarga Anda,” nasehat Ustadz Cahyadi usai mengetengahkan dialog tersebut, “selamanya Anda akan menjadi pengantin baru…”

Ustadz Fauzil Adhim menjelaskan, langkah pertama merawat cinta agar bersemi indah adalah menerima pendamping kita ada adanya. Dengan tidak berharap terlalu banyak. Dalam bahasa hadits, ini disebut dengan ridha.

Ridha adalah pekerjaan pertama dalam mencintai dan merawat cinta suami istri. Sebaliknya, saling menuntut tanpa memperhatikan kondisi adalah awal dari keretakan hubungan. Seorang suami yang ridha dengan istrinya, ia memberikan perhatian kepadanya. Pun istri yang ridha pada suaminya, ia pun akan memberikan perhatian pada sang imam dalam rumah tangganya itu.

Namun untuk merawat dan menyirami cinta, suami istri tidak boleh berhenti di sini. Ia harus melanjutkan dengan tahap berikutnya: penumbuhan. Pada mulanya ia menerima segala kondisi pendampingnya. Namun dalam cinta, ia memberikan sentuhan edukasi pada hubungan keduanya. Jadilah istrinya lebih shalihah, lebih cerdas, lebih dewasa, dan seterusnya.

Jika kita lihat keluarga Nabi, sungguh beliau menerima setiap istrinya apa adanya. Meski, tentu, setiap istri memiliki kelebihan dan kekurangannya. Baik dalam aspek fisik maupun karakter dan sifatnya. Namun kemudian, beliau memperbaiki mereka ketika ada kesalahan. Seperti saat mereka menuntut nafkah yang lebih, atau dibakar oleh api cemburu hingga memecahkan nampan. Di saat-saat seperti itu, Nabi tampil melakukan edukasi; menumbuhkan pribadi, merawat cinta.

Dari kehidupan Rasulullah, kita juga mendapati petunjuk merawat cinta dengan menyeimbangkan pemenuhan fisik-biologis dan ruhiyah-spiritual. Dalam aspek pertama kita dapati contoh beliau bercanda mesra, berlomba lari dengan istrinya, hingga acara mandi berdua. Sedangkan dalam aspek kedua, beliau membangunkan istrinya untuk qiyamul lail, mengajak mereka i’tikaf, bersama-sama berpuasa, dan seterusnya.

“Allah merahmati laki-laki yang bangun di tengah malam, ia shalat lalu membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan bangun, ia meneteskan air ke wajahnya. Allah juga merahmati wanita yang bangun di tengah malam, ia shalat lalu membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan bangun, ia meneteskan air ke wajahnya.” (HR. Abu Daud)

Apa yang beliau contohkan dan kemudian beliau ajarkan kepada umatnya ini adalah salah satu kunci turunnya rahmat Allah. Dan bukankah rahmat adalah kasih sayang? Bukankah rahmat adalah cinta? Jika Allah yang memberikan rahmat kepada suami istri, subhanallah… cinta keduanya akan bersemi, terawat dan tersirami. Jika demikian, tidak masalah telah berapa lama ia berumah tangga, kehidupan suami istri insya Allah bahagia dan penuh cinta. [Abu Nida]

Ketika Pasangan Tak Sebaik Perkiraan Kita

Ilustrasi Pengantin Baru (desainkawanimut)
Ada banyak pasangan yang kemudian menyesal selepas menikah. Karena, pasangannya itu tak sebaik yang dia bayangkan selama ini. Karena, ternyata, pasangannya itu lebih banyak buruknya daripada kebaikan yang selama ini ditampilkan. Dan, keluhan-keluhan sejenis itu.

Mungkin, teman kita ini sering melihat romantisme ala film India. Atau, bisa jadi, sahabat kita itu keseringan membaca kisah roman percintaan yang tak berimbang. Bisa juga, karena sahabat kita yang ini, dulunya, punya banyak mantan pacar. Sehingga membanding-bandingkan dengan pasangnya itu. Di sinilah, terletak salah satu hikmah mengapa Islam sangat melarang praktek pacaran, apapun alasannya.

Sejatinya, akar utama dari masalah itu, hanya satu: tidak bersyukur.
Ya. Mereka tidak menyadari, bagi istri, memilih anda sebagai suaminya merupakan keputusan yang tak ringan. Apalagi, jika dalam mengambil keputusan itu, ia harus berseberangan dengan keluarga besarnya.

Belum lagi, jika istri anda adalah mantan bunga desa. Banyak yang berminat, banyak yang mengkhitbah dan segera mengajaknya menikah. Jikapun kemudian dia memilih anda sebagai suaminya, bukan lantas bahwa anda adalah yang terbaik diantara yang datang. Ini lebih pada kesesuaian jiwa, kehendak Allah dan hal lain yang tidak bisa kita deskripsikan satu demi satu.

Anda mungkin juga lupa, bahwa suami anda, di luar sana, harus menundukkan mata dan hati dalam-dalam untuk tidak melirik wanita lain yang berdandan tidak sepantasnya. Bahwa mungkin saja, lelaki yang kini menemani anda sepanjang waktunya, adalah idaman yang sempat diminta untuk menikahi berbagai ragam calon istri.

Mulai dari yang ditawarkan oleh sahabatnya, guru ngajinya, ataupun teman kantor, tetangga dan kerabat-kerabatnya yang lain. Jikapun kemudian andalah yang menjadi istrinya, bukan bermakna bahwa anda adalah yang paling baik dibanding calon-calon yang pernah diajukan. Melainkan lebih pada takdir Allah, bahwa Dia hendak memberikan kebaikan yang banyak kepada anda berdua.

Belum lagi, pengorbanan di jalan Allah yang harus dilakukan oleh suami atau istri anda untuk menjalani biduk yang penuh dinamika ini.

Maka, ketika anda bersyukur, selesailah semua persoalan. Bisa jadi, dalam ketidakbaikan istri, terdapat kebaikan yang banyak bagi suami. Bisa jadi, dalam kekurangbaikan suami, ada kebaikan yang sangat banyak bagi istri.

Bersyukur, membuat anda lebih bahagia dengan yang ada. Karena mentari, tak mungkin mundur ke tempat terbitnya. Bukankah Allah tak mungkin salah menjodohkan? Bukankah jodoh tak mungkin tertukar?

Semoga Allah memberikan keberkahan kepada keluarga kita, dengan sesuatu yang kita senangi atau tidak kita senangi. Allah, selalu mempunyai maksud baik. Maka, jadilah pribadi yang bisa menemukan emas di tengah kubangan lumpur. Selanjutnya, didiklah pasangan anda sebagaimana anda mendidik diri sendiri. Jangan biarkan pasangan kita berhenti bertumbuh selepas menikah dengan anda. []





Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



Wanita Dunia Berkualitas Surga

Ilustrasi wanita cantik dan shalihah (foto abujibriel.com)
Lelaki suci itu termangu sedih. Wajah langitnya memudarkan rona duka. Hati beningnya tertusuk-tusuk. Ia seakan tak percaya saat para wanita penghuni griya kenabian itu meminta sesuatu yang justru dijauhinya. Duka yang membuncah membuat lelaki pamungkas segenap nabi itu bahkan tidak berkenan menemui para sahabatnya untuk beberapa saat. Abu Bakar dan Umar bin Khatab pun tak kuasa menemuinya.

Tak lama berselang, lelaki mulia itu memperkenankan kedua sahabat sekaligus mertuanya itu menemuinya. Saat itu, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut sedang dikelilingi oleh semua belahan jiwanya, tak terkecuali Aisyah putri Abu Bakar dan Hafshah putri Umar bin Khatab. Para wanita itu diam membisu. Mereka tak kuasa menatap wajah teduh suami yang sedang tersaput mendung. Suasana begitu hening.

Sejurus kemudian, lelaki bergelar Al Amin itu menatap dalam-dalam wajah Abu Bakar dan Umar bin Khatab seraya berkata, “Bidadari duniaku ini sedang meminta tambahan nafkah dariku.” Dengan segera wajah kedua sahabat tersebut merona merasa malu. Maka, bangkitlah kedua sahabat tersebut pada masing-masing buah hatinya sambil menghardik, “Apakah kalian menuntut Rasulullah dengan sesuatu yang tidak dimilikinya?”

Kedua wanita berkelas surga itu serempak menjawab, “Sesungguhnya demi Allah, setelah permintaan kali ini, kami tidak akan menuntut Rasulullah dengan sesuatu yang tidak ada padanya.” Mendengar jawaban putri-putrinya itu, kedua sahabat yang bermaksud akan memukul putrinya, segera dicegah Rasulullah. Dengan penuh kasih, Rasulullah berkata, “Mereka tidak layak engkau perlakukan seperti itu.”

Tidak lama kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat tentang perkara memilih. Karena itu, Rasulullah bergegas menemui Aisyah dan kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku akan mengingatkanmu tentang sesuatu, namun aku tidak ingin engkau tergesa-gesa memutuskan sebelum engkau bermusyawarah dengan kedua orangtuamu.” Aisyah pun bertanya, “Apa itu?”

Maka Rasulullah pun membacakan ayat yang baru turun, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah untuk kuberikan mutah dan akan aku ceraikan kamu dengan cara yang sebaik-baiknya. Dan jika kamu memilih Allah dan RasulNya serta kebahagiaan dunia akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.’” (QS. Al Ahzab : 28-29)

Begitu Rasulullah selesai membacakan ayat tersebut, Aisyah langsung menjawab, “Buat apa aku harus bermusyawarah dengan orangtuaku tentang perkara ini? Karena sudah pasti aku lebih memilih Allah, RasulNya dan kebahagiaan akhirat. Dan aku memintamu untuk tidak menyampaikan jawabanku ini kepada istri-istrimu yang lain.”

Sesungguhnya, kisah indah ini menjelaskan bahwa istri-istri Rasul adalah wanita biasa seperti Anda. Dan Abu Bakar dan Umar bin Khatab adalah lelaki biasa seperti suami atau ayah Anda. Mereka hidup dengan segala perasaan, kecenderungan, dan tabiat kemanusiaan yang sama dengan kita. Namun saat Anda bisa seperti istri-istri Rasul yang lebih memilih Allah dan RasulNya, maka Anda berpeluang besar juga untuk bisa menjadi wanita dunia yang berkualitas surga. []


Penulis : H. Hamy Wahjunianto, drh, MM.
Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Jawa Timur





14 Nasehat untuk Suami yang Membiarkan Aurat Istrinya Terbuka

Suami pusing (foto dari konsultasisyariah)
Tidak sedikit suami muslim yang masih membiarkan istrinya terbuka auratnya. Bahkan, ada pula yang melarang istrinya yang seorang muslimah menutup aurat. Untuk suami yang demikian, ada 14 poin nasehat yang disampaikan Ustadz Felix Siauw dalam fan page FB-nya, Rabu (27/11):

1. suami yang membiarkan istrinya terbuka auratnya | sepertinya yang tidak peduli dan sayang pada istrinya

2. mobil bagus aja punya garasi dan ditutup terpal pula | masak aurat istrinya dilihat semua lelaki dia malah tega

3. hpnya dipasang anti-peek supaya nggak diintip manusia | aurat istrinya dinikmati berpasang mata tak mengapa

4. kewajiban suami adalah membimbing dan menasihati | membesarkan hati istri agar mau menaati Allah dan suami

5. karenanya suami pun harus beri teladan ketaatan pada istri | agar istri bersemangat menaati Allah bersama-sama suami

6. lebih heran lagi ada suami malah melarang istrinya menutup aurat | sudahlah tidak menyayangi istrinya juga melawan Allah?

7. menjadi suami itu berarti mengambil tanggungan ayahnya | untuk mengawal istri jauh dari neraka dan membimbingnya ke surga

8. dan awalnya juga tandanya adalah hijab yang jadi pakaiannya | kehormatan diri dan pembatas dirinya dari maksiat dan dimaksiati

9. bagaimana bila istrinya yang belum mau menaati suaminya dan Allah? | tenang hati wanita bukan terbuat dari batu keras tak bercelah

10. perintahkan dengan kalimat lembut sarat pengertian | yang bukan hanya didengar namun juga dirasakan

11. berdoa pula pada Allah pemilik segala hati manusia | agar mudahkan petunjuk dan istiqamah pada istrinya

12. sediakan jalan bagi istri baginya agar mudah menutup auratnya | fasilitasi dan semangati bukan dipatahkan dan dicela usahanya

13. kenalkan dia dengan gabungan para salihah agar bersih akalnya | agar satu pandangan dan satu perasaan tentang taat pada-Nya

14. adalah tugas suami untuk tidak menyerah dalam membimbing | menasihati dan menyayangi istri agar taat pada Allah semata


Rinduku, Rindumu, Jadi Satu

Menikah (desainkawanimut)
Saudaraku,
Kutulis ini, sebagai nasehat diri juga sahabat sekalian. Baik yang sudah lama menikah, baru menikah, baru banget menikah, atau yang baru berniat untuk menikah. Pun, untuk siapa saja yang belum berniat untuk menggenapkan separuh agama, dalam naungan sunnah. Saling menasehati ini, sangat dianjurkan diberikan kepada saudara sesama muslim, juga saudara sesama umat manusia. Karena sabda Nabi, “Agama adalah nasehat.”

Saudaraku,
Menikah bukanlah akhir. Ia adalah permulaan. Maka, permulaan sangatlah menentukan baik dan buruknya proses berikutnya. Jika menikah yang dijalani hanyalah diniatkan untuk meraih Ridho Allah, maka yakinlah! Bahwa sesudahnya adalah Barokah. Begitupun sebaliknya, Jika menikah hanya karena ingin memuaskan nafsu, atau atribut duniawai lainnya, maka bersiaplah berada dalam kecewa. Tentunya, kita berharap, semoga niat menikah, hanya karena Allah.

Menikah itu berubah. Yang tadinya lajang, sekarang menjadi sepasang. Maknanya, setelah menikah, kita akan mempunyai pendamping. Dimanapun kita berada. Entah di kamar, di dapur, di rumah, di jalan, di masjid, ketika ke pasar, ketika pergi haji dan seterusnya. Maka, kebersamaan ini jangan hanya dimaknai kebersamaan fisik. Karena bagaimanapun, fisik sangatlah terbatas.

Maknailah ia dengan kebersamaan ruhani. Kebersamaan jiwa. Meski diri berpisah, tapi hati selalu berpelukan. Oh, Indahnya! Jadi, ketika suami tugas ke luar negeri, tugas ke luar kota atau ada urusan di luar, sang istri bisa terus membersamainya, baik dengan doa juga bertemunya dua hati dalam naungan cinta ilahi. Jika kita sudah menikah, tapi masih merasa sendiri, bisa jadi, ada yang salah dengan diri kita.

Menikah itu asyik. Ups! Maaf, kayaknya salah ketik. Maksud saya, “Menikah itu nikmat.” Hmmm, sama saja ya? Iya. Menikah itu nikmat. Tanya saja kepada yang sudah menikah. Ketika lelah, ada yang mijitin. Ketika mau makan, ada yang nemenin, ketika bosan ada yang menghibur, ketika nyuci, ada yang bantuin. Ketika masak, ada yang bantu menghabiskan. Hahaha. Oh iya, ketika lagi gak punya uang, ada yang minta uang. Hehehe. Ketika salah, ada yang menasehati, ada juga yang memarahi dengan cinta. Singkatnya, setelah menikah ada sandaran untuk berbagi, tanpa batas, dimana dan kapan saja. Semoga kita dikaruniai pasangan yang selalu menikmati kebersamaan dengan kita, apapun kondisinya, hingga kita benar-benar berpisah dengan dia yang kita cintai untuk kemudian bersatu dalam reuni akbar di JannahNya, Aamiin.

Saudaraku,
Menikah adalah seni. Seni mengelola kehidupan. Seni itu indah, begitupun dengan menikah. Ia akan bertabur keindahan, kapan dan dimana saja, tergantung kemauan kedua pasangan.

Contohnya?
Begini : “Saya pulang kerja. Waktu itu kerjaan lagi sepi. Tanggal tua pula. Dipastikan, saya pulang dengan kantong kosong. Namun, hati saya dipenuhi cinta. Sesampainya di rumah, ada bidadari berjilbab pink yang menyambut dengan senyum manja. Ia menjawab salamku dengan lembut, lebih lembut dari es krim yang paling lembut. Kemudian ditariklah tanganku untuk dia salami. Dicium dikeningnya. Katanya, “Mau makan apa, Mas?” Suaranya merdu sekali. Semerdu kicauan burung di pagi buta. Jawabku, “Emang Adik masak apa ?” tanyaku, agak galau karena pagi tadi aku tidak meninggalkan uang untuk masak sore hari. Uangku habis. Apa jawab istriku? “Ada sayur asem, campur tempe disambeli. Meski seadanya, Adik memasaknya dengan bumbu cinta lho mas,”

Menikah adalah ekspresi cinta. Jangan ragu untuk mengatakan, “Aku cinta padamu, karena Allah” kepada pasangan halalmu. Ungkapkan kebaikan setiap berjumpa dengannya. Tegur ia jika terbukti bersalah dan melanggar aturan Allah. Nasehati dengan cinta, sentuh ia dengan kasih sayang. Hindari sentuhan fisik ketika marah. Karena itu adalah perbuatan keji, tidak disukai Nabi juga dilarang oleh norma. Maka, cintailah pasanganmu sepenuh jiwa niscaya ia akan mencitaimu, melebihi cintamu padanya.

Saudaraku,
Pasanganmu bukanlah malaikat. Ia adalah manusia biasa seperti halnya dirimu. Jangan berharap kesempuranaan darinya. Karena itu sia-sia dan tidak mungkin bisa. Maka, terimalah kekuranganya sebagaimana kau menerima kekuranganmu sendiri. Kemudian jadilah kedua insan yang senantiasa setia dalam setiap kondisi. Saling menasehati. Baik nasehat dalam kebenaran, nasehat dalam kesabaran, maupun nasehat dalam kasih dan sayang. Jika kau bisa melakukan ini, maka riak gelombang kehidupan, tidak akan membuat perahu kalian goyah. Gelombang dan badai itu, hanya akan membuat pelukan kalian semakin kencang. Kemudian kalian berdua akan bersegera berlari menuju Allah, karena Dialah Maha Penolong atas setiap persoalan hambaNya.

Saudaraku,
Keluarga pasanganmu adalah keluargamu juga. Hargai mereka sebagaimana kau menyayangi keluargamu. Jangan anggap mereka orang asing. Bagaimanapun, keberadaan keluarganya, telah berperan dalam menghadirkan dirinya sehingga menjadi pasanganmu. Maka, setelah itu, kau akan memiliki keluarga baru. Semoga ia juga menerima keluargamu apa adanya. Dan belajarlah dari mereka. Rajutlah tali silaturahim dengan mereka sehingga hidupmu berkah, rizkimu berlimpah dan umurmu panjang dalam keberkahan pula.

Saudaraku,
Tak baik jika aku berlama lama menulis ini. Karena aku, sama sepeti dirimu : masih belajar. Mudah mudahan yang sedikit ini, banyak berkah dan manfaatnya.

Pesan terakhir, “Hadirkan kenikmatan-kenikmatan ruhani diantara kalian berdua.” Menikah, tak dipungkiri siapapun , pastilah menghadirkan kenikmatan fisik bagi kedua pasangan. Jika menikah hanya untuk mendapat kenikmatan itu, maka alangkah meruginya kita. Karena hewanpun mendapatkan kenikmatan serupa. Maka, ciptakanlah kenikmatan-kenikmatan ruhani dalam tiap jenak kehidupan kalian berdua. Agar dunia serasa surga.

Bangunkan pasanganmu untuk tahajud bersama. Rasakan indahnya suara suamimu ketika ia melantunkan ayat-ayat Allah di sepertiga malam terakhir. Minta ia untuk membaca dengan tartil. Maka, air matamu dan air matanya, akan bertemu dalam ketaatan. Rasakan indahnya, ketika isak tangis kalian berdua bertemu dalam mentadabburi ayat – ayat Allah. Subhanallah ….

Kemudian, ajak ia untuk menikmati santap sahur bersama. Ajak ia untuk rutin dalam berpuasa sunnah, semampu kalian. Maka, nikmat sahur berdua, akan membuat kalian semakin bertaqwa, karena ada yang mau menyiapkan makanan bagi kita ketika sahur. Dimana sebelumnya, kita hanya ditemani “Magic Jar” ketika melahap makanan penuh berkah itu.

Belum lagi ketika kalian berdua menanti buka puasa bersama. Suamimu menyiapkan es teh, sedangkan istrimu sibuk memasak menunya. Sesekali, kalian bergantian dalam mengulang–ngulang hafalan al-Qur’an. Allahu Akbar Walillahil hamd. Kupastikan, masakan kala itu akan lebih nikmat dibanding hari biasanya. Buktikanlah !

Jangan lupa pula dengan tilawah bersama. Bergantianlah. Kau membaca, istrimu mendengarkan. Ketika pasanganmu membaca, maka nikmati indah suaranya dalam melantunkan ayat –ayat Allah. Jika di tengah jalan ia salah baca ayat, cubitlah sedikti dan katakan padanya, “Mikirin saya ya, Cin? Kok bacaannya salah ?”

Ups! Ada yang lupa, jangan lupa bedoa agar anak yang terlahir adalah sholih dan sholikhah. Azamkan untuk menghasilkan keturunan terbaik dengan jumlah terbanyak. Karena kita hanya boleh memilih dua hal : Menjadi pelaku kebaikan atau pelaku keburukan. Semoga yang terlahir dari pernikahan kalian juga kami kelak, adalah Pelaku Kebaikan. Minimal, pendukung kebaikan. Amiin.

“Di jalan cinta para pejuang, kesetiaan bukanlah pada istri atau suami kita. kesetiaan di jalan ini, hanya kepada Allah, Rasul dan Syari’atNya.” Demikian nasehat bijak ustadz Salim A Fillah. Semoga Allah semakin mengokohkan pijakan kita dalam memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah.

Salam sepenuh cinta, semoga Allah semakin menyayangi kita. Selalu, selamanya. Aamiin.[]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



Jima’ di Malam Jum’at = Membunuh Kafir dalam Jihad, Benarkah?

Kamar suami istri (foto homedit.com)
Sebagian masyarakat meyakini bahwa berhubungan suami istri di malam Jum’at pahalanya sama dengan membunuh orang kafir dalam jihad. Bahkan, bukan hanya membunuh satu orang kafir tetapi 40 orang kafir. Pemahaman seperti itu bertahan hingga sekarang, diantaranya karena masih ada muballigh yang menyampaikan bahwa ada hadits Nabi yang menjelaskan demikian.

Benarkah ada hadits yang menjelaskan keutamaan jima’ di malam Jum’at seperti itu?

Habib Munzir Al Musawa pernah ditanya oleh salah seorang jama’ahnya yang bernama Arasy, “Ya habib yang kumuliakan dan kusayangi, ada hadits barang siapa yang berhubungan suami istri pada malam senin dan jum`at maka seperti membunuh 40 orang kafir. Bunyi haditsnya bagaimana?”

Habib Munzir menjawab, “Saudaraku yang kumuliakan, saya tak menemukan riwayat hadits shahih akan hal itu, namun hal itu merupakan sunnah dan dibahas pada banyak kitab para Imam kita, diantaranya Hashyatul Jamal dan lain-lain, yang dimaksud adalah berjima’ pada malam malam dan hari mulia adalah diharapkan keturunan mulia pula yang akan dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada suami istri tersebut.”

Pertanyaan yang senada pernah ditujukan kepada Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

“Ustadz, saya sering mendengar dari kebanyakan orang yang mengatakan bahwa hubungan intim pada malam Jumat adalah sunah Nabi. Bahkan ada yang menghubungkan dengan keutamaan seperti membunuh kaum Yahudi. Apakah benar adanya?”

Ia pun menjawab, “Kami belum pernah menemukan ayat Alquran atau hadis sahih yang menunjukkan anjuran tersebut. Jika ada yang menyampaikan hal tersebut maka dia diminta untuk menyampaikan dalil.”

Demikianlah, kita kadang terjebak menganggap sesuatu sebagai hadits. Padahal, ancaman dosa mengatakan sesuatu yang bukan hadits sebagai sabda Nabi adalah sangat berat.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Shahih Keutamaan Jima’
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa jima’ antara suami dan istri adalah sedekah. Ia mendapatkan pahala atas hubungan halal ini, sebagaimana seseorang mendapatkan dosa jika ia berzina.

“Hubungan badan antara kalian (dengan istri) adalah sedekah”. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, ”Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Sedangkan tentang keutamaan jima’ di malam/hari Jum’at, hadits yang dapat dijadikan rujukan adalah berikut ini:

“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni menjima’ istri, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan jima’ di malam/hari Jum’at.

Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah jima’ pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah jima’ di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.

Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menjelaskan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang Subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

10 Adab Jima’

Ilustrasi kamar suami sitri (foto designiteriorarticle.com)
Islam adalah agama yang mulia dan memuliakan. Ia menjunjung tinggi akhlak dan etika. Setiap perbuatan baik di dalam Islam, pastilah ada tuntunan adabnya. Demikian pula dengan jima’.

Adab di dalam jima’ bukan hanya membuat hubungan suami istri lebih intim, tetapi juga menjadikan kenikmatan dunia itu sebagai ladang pahala. Menjalankan adab-adab jima’ bukan hanya membawa kebahagiaan bagi suami dan istri, tetapi juga mendatangkan keberkahan bagi keluarga dan keturunan yang ditakdirkan Allah lahir dari proses tersebut.

Berikut ini 10 adab jima’ suami istri:

1. Bersih Diri dan berwudhu
Mengkondisikan tubuh bersih (dengan mandi dan gosok gigi) adalah bagian dari adab jima’ sekaligus membuat suami atau istri lebih tertarik. Sebaliknya, tubuh yang tidak bersih cenderung mengganggu dan menurunkan daya tarik.

Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?” Beliau menjawab, “Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

2. Memakai parfum/wewangian
Wewangian adalah salah satu sunnah Nabi. Beliau bersabda: “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi).

Bagi istri, memakai parfum/wewangian yang dianjurkan adalah saat-saat seperti ini, bukan pada waktu keluar rumah yang justru dilarang Rasulullah.

“Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka dia seorang pezina” (HR Ahmad)

Yang perlu diperhatikan di sini ialah, aroma atau jenis wewangian yang dipakai hendaknya yang disukai suami atau istri. Sebab, ada suami atau istri yang tidak menyukai aroma wewangian tertentu. Wewangian yang tepat membuat hasrat suami atau istri semakin meningkat.

3. Shalat dua raka’at
Adab ini terutama bagi pengantin baru. Sebagaimana atsar Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu yang menasehati pengantin baru agar mengajak istrinya shalat dua raka’at terlebih dahulu ketika memulai malam pertama.

4. Berdandan dan berpakaian yang disukai suami atau istri
Adakalanya istri malu memakai pakaian minim yang disukai suaminya. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan “Sebaik-baik istri kalian adalah yang pandai menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat. Yakni keras menjaga kehormatan dirinya lagi pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Ad Dailami).

Senada dengan hadits itu, Muhammad Al Baqir, cicit Husain bin Ali menjelaskan: “Sebaik-baik wanita diantara kalian adalah yang membuang perisai malu ketika menanggalkan pakaian di hadapan suaminya dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian kembali.”

Hadits dan maqalah ini juga menjadi dalil bahwa di dalam jima’, suami istri boleh menanggalkan pakaian dan tidak haram melihat aurat masing-masing.

5. Jima’ di tempat tertutup
Islam mengatur kehidupan umat manusia agar kehormatan dan kemuliaannya terjaga. Demikian pula dengan jima’. Ia harus dilakukan di tempat tertutup, tidak diketahui oleh orang lain meskipun ia adalah anak atau keluarga sendiri. Karenanya saat anak berumur 10 tahun, Islam mensyariatkan untuk memisahkan kamar anak-anak. Kamar anak laki-laki terpisah dari kamar anak perempuan.

Bagaimana jika anak masih kecil dan tidurnya bersama orang tua? Pastikan ia tidak melihat aktifitas suami istri tersebut. Caranya bisa Anda berdua yang pindah kamar.

6. Berdoa sebelum jima’
Yakni membaca doa:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari syetan, dan jauhkan syetan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rezekikan kepada kami” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengenai keutamaan doa ini, bisa dibaca di sini.

7. Melakukan mubasharah, ar rasuul, foreplay, atau pemanasan
Hendaknya suami tidak langsung ke inti, tetapi ada mubasharah/ar rasuul/ foreplay terlebih dulu.

“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)

Ada tiga langkah foreplay yang bersumber dari hadits Nabi. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

8. Membawa ke puncak, saling memberi hak
“Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)

9. Mencuci kemaluan dan berwudhu jika mau mengulangi
“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulanginya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim)

10. Mandi besar (janabat) setelah jima’
Jima' mewajibkan suami dan istri untuk mandi junub (mandi besar). Jika karena suatu alasan -semisal sangat dingin- mandi junub bisa dilakukan setelah bangun tidur, dengan syarat setelah jima' mengambil wudhu' terlebih dahulu baru beristirahat/tidur. Penjelasannya bisa dibaca di sini.

Demikian 10 Adab Jima’ yang disarikan dari berbagai sumber, khususnya Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah dan Sutra Ungu karya Abu Umar Baasyir. [Bersamadakwah]

3 Langkah ‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi

Kamar cinta (foto uniquebedroom.com)
Jima’ adalah kebutuhan suami istri, bukan hanya salah satunya. Kepuasan dalam jima’ juga hak keduanya, bukan hanya milik suami. Mengingat kaum wanita umumnya lebih ‘dingin’ dan lama dalam proses pendakian menuju puncak, Islam mengajarkan para suami untuk tidak langsung memulai jima’ sebelum melakukan pemanasan.

Sedikitnya ada tiga langkah pemanasan yang bersumber dari hadits:

1. Kata-kata mesra
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)

Sebelum melakukan jima’, dahuluilah dengan kata-kata romantis. Kata-kata yang mesra. Rasulullah, di hari-hari biasa saja memanggil Aisyah dengan humaira, yang pipinya kemerahan. Betapa beliau sangat romantis, apalagi ketika hendak ‘bercinta’ bersama istri.

Kata-kata romantis dan mesra ini yang pertama akan mencairkan suasana dan membuat rileks. Tingkatan kata-kata yang lebih mesra selanjutnya akan membuat tubuh yang rileks mulai ‘memanas’ serasa dipanggil untuk tidak hanya bermain kata.

2. Ciuman
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)

Jika kata-kata melahirkan imajinasi dan emosi, maka ciuman lebih ‘terasa’ bagi istri. Detak jantung menjadi lebih cepat, nafas menjadi tak teratur, dan hasrat jima’ pun mulai timbul.

Dalam bab ini, ciuman tidaklah sebatas bibir bertemu bibir.

3. Sentuhan
Jika kata-kata mesra adalah pemanasan dengan ucapan dan ciuman adalah pemanasan dengan bibir, pemanasan yang lainnya adalah dengan tangan; sentuhan.

Imam Abu Hanifah ditanya oleh muridnya tentang suami yang memegang kemaluan istrinya atau istri memegang kemaluan suaminya (sebagai pendahuluan jima’), beliau menjawab, “Tidak masalah, bahkan saya berharap ini akan memperbesar pahalanya.” (Tabyin al-Haqaiq).

Demikian 3 Langkah ‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi. Langkah kedua dan ketiga tidak harus berurutan. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]


Oral Seks dalam Islam

Hukum oral seks dalam Islam - ilsutrasi
Oral seks, yang tidak dijumpai secara tegas dalam hadits, menjadi bahasan tersendiri dalam seksologi Islam. Apakah oral seks diperbolehkan dalam Islam? Secara tegas dilarang, atau ada syarat-syarat dan batasan tertentu yang menjadikannya halal atau haram?

Ketiadaan nash yang sarih inilah yang membuat para ulama berbeda pendapat mengenai oral seks. Sebagian ulama memperbolehkan karena tidak ada dalil yang melarangnya.

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu dari mana saja kamu kehendaki” (QS. Al Baqarah ayat 223)

Namun, sebagian ulama lainnya menghukuminya makruh atau melarangnya dengan berargumen menjaga kehormatan (muru’ah), oral seks menjijikkan, dan tidak termasuk menjaga kemaluan seperti ciri orang yang beriman: ’alaa furuujihim yuhaafidhuun..

Perbedaan pendapat ini dan semakin banyaknya pertanyaan tentang oral seks membuat para ulama muta’akhirin berijtihad dalam masalah ini lebih detail. Dari ijtihad itulah kemudian didapatkan fatwa seputar hukum oral seks ini.

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Dalam buku Sutra Ungu, Abu Umar Basyir mengutip jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika ditanya tentang oral seks. Beliau menjawab, “Itu perilau kurang bagus, namun hukumnya boleh-boleh saja.”

Fatwa Syaikh Mukhtaar As Sinqithi
Dikutip dari buku yang sama, Syaikh Mukhtaar As Sinqithi menyatakan mubah secara mutlak, karena hukum asal dari segala cara berhubungan seks adalah halal. Tentu catatannya, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Fatwa Syaikh As Saami Ash Shuqair
Menurut murid utama Syaikh Shalih bi Utsaimin ini, oral seks hukumnya mubah asal tidak sampai menjilat madzi. Jika sampai menjilat cairan najis itu, maka hukumnya haram. Meski mubah, Syaikh ini memberikan catatan: “hanya saja, kami merasa jijik (dengan oral seks itu)”.

Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin
Ketika ditanya oral seks, beliau menjawab, “Boleh, namun dimakruhkan. Karena asalnya suami istri boleh bersenang-senang satu dan lainnya, menikmati seluruh badan pasangannya kecuali jika ada dalil yang melarang. Boleh antara suami istri menyentuh kemaluan satu dan lainnya dengan tangannya dan memandangnya. Akan tetapi, mencium kemaluan semacam itu tidak disukai oleh jiwa karena masih ada cara lain yang lebih menyenangkan.”

Fatwa Syaikh Yusuf Al Qardhawi
Dikutip dari buku Bahagianya Merayakan Cinta, Syaikh Yusuf Al Qardhawi berfatwa bahwa oral seks diperbolehkan dengan syarat menghindari madzi agar tidak terjilat atau tertelan, serta memperhatikan kebersihan mulut dan kemaluan karena jika tidak terjaga kebersihannya, terdapat potensi bakteri yang membahayakan kesehatan.

Kesimpulan:
Oral seks boleh dilakukan –khususnya untuk foreplay- dengan syarat tidak sampai menjilat madzi atau menelannya, menjaga kebersihan mulut dan kemaluan, dan disepakati oleh suami istri (tidak jijik salah satunya). Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

3 Cara Menjadi “Bocah” di Depan Istri

Suami cium istri (foto noormuslima.com)
“Jadilah engkau bocah di depan istrimu.” Kata-kata Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu itu adalah pesan beliau untuk para suami. Meski Umar dikenal sebagai muslim paling kuat dan pemberani, ia bisa memposisikan sebagai bocah saat bersama istrinya. Dan karenanya, ia memberikan tips itu kepada sahabat lainnya, hingga keluarga sakinah mawaddah wa rahmah pun digapainya.

Lalu bagaimana cara menjadi bocah di depan istri? Berikut ini 3 makna dan caranya:

1. Bocah itu Manja
Menjadi bocah di depan istri, artinya kita menghadirkan sikap “manja” kita sebagai ekspresi cinta. Rasulullah mencontohkan, beliau kerap bersikap “manja” dengan istrinya. Misalnya meletakkan kepala di paha istrinya, bahkan memposisikan kepala beliau agar istri bisa menyisirnya saat beliau sedang i’tikaf. Subhanallah... jika saat i’tikaf saja se-“manja” itu, betapa beliau di hari-hari biasa?

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah bermanja-manja dengan istri hingga cinta makin menyala atau kita jaim hingga terkesan kaku pada istri?

2. Bocah itu Pemaaf
Tidak ada bocah yang pendendam. Lihatlah bocah-bocah di sekitar kita. Mungkin suatu saat mereka berselisih dengan temannya. Mungkin suatu saat ada diantara mereka yang berkelahi dengan temannya. Tetapi setelah perselisihan itu selesai, mereka kembali beraktifitas bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan setelah berkelahi, mereka kembali akrab seperti semula. Tak ada dendam, mereka langsung memaafkan.

Pun demikian seharusnya menjadi suami istri. Tidak mungkin tak pernah ada masalah dalam hitungan tahun pernikahan. Tetapi, masalah atau perselisihan hanya berlangsung sebentar dan tidak pernah berkarat menjadi dendam. Suami yang baik, ia seperti bocah yang suka memaafkan.

3. Bocah itu Suka Bermain

Dunia bocah adalah dunia bermain. Suami yang menjadi bocah di depan istrinya juga suka bermain. Rasulullah mencontohkan, beliau pernah bermain lomba lari dengan Aisyah. Pertama kali lomba, Rasulullah kalah. Pada kesempatan berikutnya, ketika Aisyah menjadi gemuk, Rasulullah memenangkan lomba lari kali itu. Pernahkah kita berlomba lari dengan istri?

“Permainan” yang lebih “dewasa” juga dicontohkan Rasulullah. Beliau mandi bersama Aisyah dalam satu bejana. Pernahkah kita melakukannya bersama istri kita? Mandi bersama dalam bathtub yang sama?

Berikutnya, kita bisa mengembangkan “permainan-permainan” lainnya. Dengan berbagai posisi, dengan berbagai gaya.

“Istri-istrimu adalah (seperti) ladang bagimu, maka datangilah ladang itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” (QS. Al Baqarah : 223)

Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

10 Alasan Mengapa Sebaiknya Anda Monogami Saja (1)

Poligami - ilustrasi
Poligami, di mana seorang laki-laki memiliki dua hingga empat istri, adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” (QS. An Nisa’ : 3)

Sayyid Qutb ketika menjelaskan ayat ini dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyebut poligami sebagai rukhshah; kemurahan.

“Diberikannya rukhshah ‘kemurahan’ untuk melakukan poligami disertai dengan sikap kehati-hatian seperti itu bila dikhawatirkan tidak dapat berlaku adil, dan dicukupkannya dengan monogami dalam kondisi seperti itu...”

Cahyadi Takariawan dalam buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri merinci lebih lengkap 10 kondisi -yang jika dikhawatirkan terjadi- sebaiknya seorang laki-laki monogami saja, dan tidak melakukan poligami.

1. Tidak sanggup berlaku adil
Orang yang bisa adil terhadap seluruh anggota keluarganya, ia memenuhi salah satu syarat poligami. Tetapi jika tidak bisa adil, Allah memerintahkannya untuk monogami saja.

”Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” (QS. An Nisa’ : 3)

”Barangsiapa yang memiliki dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dengan salah satu bagian tubuhnya membungkuk.” (HR. Abu Daud)

Kecondongan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dalam hal nafkah lahiriyah, bukan kecondongan hati atau cinta. Tentang kecondongan hati, QS. An Nisa’ ayat 129 telah menerangkan bahwa adil dalam hal kecondongan hati hampir tak mungkin terjadi. Tetapi, perbedaan kadar cinta itu tidak boleh membuat suami yang melakukan poligami menjadi lebih condong kepada salah seorang istrinya daripada istri yang lain dalam hal nafkah.

Rasulullah mencontohkan, meskipun dalam hadits disebutkan beliau paling mencintai Aisyah daripada istri beliau yang lain yang masih ada, beliau memberikan pembagian nafkah secara adil. Bahkan, saat bepergian pun, beliau mengundi siapa diantara istrinya yang ikut. Pun saat menjadwal berada di rumah masing-masing istri, beliau melakukannya dengan adil. Kalaupun ada perbedaan waktu, itu sudah menjadi kesepakatan istri-istrinya, misalnya antara Aisyah dan Saudah.

Bagi bagi Anda yang khawatir tidak bisa berlaku adil, sebaiknya monogami saja.

2. Tidak sanggup menafkahi
Surat An Nisa’ ayat 34 menegaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Dalam hadits disebutkan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya. Dan salah satu kewajibannya adalah memberikan nafkah.

”Dan kalian wajib memberi nafkah kepada mereka (para istri) dan memberi pakaian secara ma’ruf” (HR. Muslim)

Maka bagi laki-laki yang dengan satu istri saja tidak sanggup menafkahi dengan baik, sebaiknya ia tidak melakukan poligami.

3. Tidak sanggup membahagiakan
Kebahagiaan adalah hal yang dirindukan oleh siapa saja. Termasuk oleh orang yang menikah. Seorang perempuan mengharapkan bisa berbahagia dalam pernikahannya. Demikian pula seorang laki-laki.

Kebahagiaan ini unik. Ia tidak dapat diukur dengan materi. Sebab ada keluarga yang tidak kaya, tetapi hidup mereka bahagia. Sebaliknya, ada pula yang hidupnya bergelimang harta, tetapi mereka tidak bahagia.

Jika seorang suami, meskipun sanggup memberikan nafkah secara finansial kepada istri-istrinya, tetapi dengan dua istri atau lebih ia justru khawatir membuat mereka tidak bahagia, sebaiknya ia mengurungkan poligami yang menjadi niatnya.

4. Tidak sanggup mengelola kecemburuan
Wanita adalah makhluk pencemburu. Kecemburuan antar-istri dalam berumah tangga bahkan terjadi dalam kehidupan Nabi. Misalnya dalam kisah Nabi Ibrahim, antara Hajar dan Sarah. Bahkan, dalam kehidupan Rasulullah. Bagaimana sampai menjatuhkan nampang, dan sebagainya.

“Diantara kecemburuan itu ada yang disukai Allah dan ada yang dibenci Allah. Ada pun yang disukai Allah adalah kecemburuan yang berisi keraguan, sedangkan yang dibenci Allah adalah kecemburuan yang tidak ragu-ragu lagi” (HR. Abu Daud)

Lalu, sanggupkah kita mengelola kecemburuan istri-istri? Rasulullah pernah ditegur Allah karena hendak mengharamkan maghafir (getah manis seperti madu). Mengapa beliau berbuat demikian, sebab Aisyah cemburu beliau lama di rumah Zainab setelah disuguhi maghafir. Allah menegur dengan menurunkan surat At Tahrim bagian awal. Lalu, siapa yang akan menegur kita jika karena tidak sanggup mengelola kecemburuan istri lalu terjerumus dalam kesalahan?

5. Tidak sanggup mengatur waktu
Jika seorang laki-laki khawatir tidak sanggup mengatur waktu dengan bertambahnya istri, sebaiknya ia monogami saja. Menikah dengan lebih dari satu istri artinya menambah kewajiban. Menambah jumlah orang yang harus dipenuhi hak-haknya, bukan hanya masalah materi tetapi juga perhatian dan kasih sayang yang seluruhnya membutuhkan waktu. Termasuk kepada anak-anaknya dari seluruh istri.

Sedangkan kewajiban bagi seorang muslim tidak berkurang dengan bertambahnya istri. Ia tetap harus shalat lima waktu, lebih utama berjama’ah. Dan seterusnya. Belum lagi ibadah-ibadah sunnah. Qiyamullail, tilawah, dzikir dan sebagainya. Terlebih bagi suami yang jika menyadari bahwa setelah berhubungan suami istri ia sulit bangun dan ketinggalan shalat Subuh berjama’ah, ia perlu mempertimbangkan dengan serius, bahwa jika ia poligami, apakah tidak semakin ia meninggalkan qiyamul lail dan shalat Subuh berjama’ah.

Wallahu a’lam bish shawab. [bersambung]

3 Manfaat Jima’ Bagi Istri, Hasil Riset Terkini

Kamar suami istri - ilustrasi
Sungguh, Islam adalah agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam mensyariatkan pernikahan, yang dengannya seorang suami dan seorang istri saling berbagi menunaikan kewajiban dan mendapatkan haknya. Salah satu diantara hal yang paling penting adalah hubungan suami istri (jima’).

Jima’ ternyata memiliki banyak manfaat, bukan hanya semata memenuhi kebutuhan biologis. Beberapa penelitian terbaru mengungkapkan tiga manfaat jima’ bagi istri.

1. Membuat istri lebih berbahagia

Survei yang dilakukan majalah Top Sant di Inggris mengungkapkan, 22 persen wanita yang ‘bercinta’ lebih dari dua kali sepekan mengaku sangat bahagia, dibandingkan hanya 15 persen yang ‘bercinta’ setiap dua sampai tiga bulan.

"Berhubungan suami istri bukan barang mewah, tapi ini sangat penting. Hubungan suami istri membantu mengurangi stres, meningkatkan daya tahan tubuh dan memberi rasa kebahagiaan," jelas pakar seks Tracey Cox, dikutip dari Dailymail, Jum’at (6/9).

2. Membuat istri lebih cerdas

Sebuah penelitian yang dipublikasikan telegraph.co.uk bulan lalu menunjukkan hasil bahwa orgasme yang dialami wanita tidak hanya memberikan kepuasan, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan. Seorang ilmuwan bernama profesor Barry Komisaruk menemukan bahwa orgasme pada wanita dapat mengaktifkan beberapa daerah di otak. Selain itu, orgasme dapat mengurangi rasa sakit.

Peningkatan kecerdasan karena orgasme ini bahkan lebih baik dibandingkan bermain teka-teki atau permainan yang mengasah pikiran. Saat mengasah otak dengan game, hanya sebagian kecil bagian otak yang aktif. Sedangkan saat orgasme, semua bagian otak aktif.

3. Membuat istri lebih nyaman dan sayang suami

Riset lain yang juga dipublikasikan pada bulan Agustus mengungkapkan bahwa berhubungan suami istri membuat wanita merasa lebih dekat dengan suaminya.

Jima' yang Bagaimana
Lalu jima’ seperti apakah yang mendatangkan tiga manfaat tersebut? Poin dua agaknya cukup jelas menyebut syaratnya: orgasme. Sedangkan poin tiga, selain tidak mengabaikan itu juga menekankan kelembutan dan keharmonian. Keduanya, perlu didahului dengan pemanasan, atau ar rasuul, atau mubasyarah, yang dalam istilah populernya disebut foreplay.

Dalam hadits dijelaskan pentingnya ar rasuul atau foreplay ini:
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)

Jika start awalnya adalah ar rasuul, suami perlu memastikan istrinya sampai ke finish. Minimal satu kali finish. Dan finishnya adalah inzaal/orgasme.

Demikian pentingnya istri mendapatkan hal ini, sehingga dinasehatkan dalam hadits:

“Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)

Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]


8 Karakter Suami Ideal

Suami ideal - ilustrasi
Anda ingin menjadi suami ideal? Ingin menjadi suami yang dicintai dan dibanggakan istri, sekaligus dirindukan bidadari? Inilah 8 karakter yang perlu Anda miliki. Jika belum ada pada diri, 8 karakter ini perlu ditarbiyah sejak dini.

1. Suami yang sejak awal telah menunjukkan kejujuran dan sikap terus terang. Kelemahan dan kekurangan yang dimiliki tidak disembunyikan sejak melamar.

2. Suami yang menggauli istrinya dengan baik; lembut; memuliakan dan menerima kelebihan serta kekurangan keluarga istrinya.

3. Suami yang mampu menghibur istri dan bersikap lembut terhadap istri. Ia berbicara dengan bahasa yang menarik, mau mengerti dan mendengar perkataan istrinya jika memang pendapatnya itu logis dan tak melanggar agama.

4. Suami yang tidak terlalu pencemburu, tidak mengumbar prasangka, tidak suka memata-matai dan tidak berlebihan.

5. Suami yang memberikan belanja yang cukup kepada istri, tidak boros dan juga tidak bakhil.

6. Suami yang selalu tampil di muka istrinya dengan rapi dan meyakinkan. Ia selalu menjaga penampilan dan kebersihannya, sehingga yang tercium darinya hanyalah bau harum semerbak.

7. Suami yang senantiasa menjaga rahasia rumah tangga. Hal ini mencegah orang-orang sekitarnya menggunjing keluarga mereka.

8. Suami yang senantiasa menjaga kejantanannya, baik secara fisik maupun psikis, sehingga memancarkan kewibawaan.

[Sumber: Al Masyaakil Az Zaujiyah wa Hululuha fi Dhau’il Kitabi wa As Sunnah wa Al Ma’arif Al Haditsah karya Syaikh Muhammad Utsman Al Khusyt seperti dikutip Cahyadi Takariawan dalam buku Pernik-pernik Rumah Tangga Islami]

Haruskah Suami Istri Menutupi Tubuh Saat Jima’?

Hingga saat ini, banyak Muslim yang beranggapan bahwa ketika suami istri berjima’, mereka harus menutupi tubuhnya alias tidak diperbolehkan telanjang. Umumnya, anggapan ini dilandasi oleh dua hadits berikut ini.

Pertama, hadits riwayat Ibnu Majah.
“Jika seseorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, maka hendaklah menutupi tubuhnya, dan janganlah bertelanjang bulat seperti telanjangnya dua khimar.”

Kedua, hadits riwayat Tirmidzi.
”Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah...”

Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya dan bagaimana kedudukan dua hadits tersebut? Salim A. Fillah di dalam bukunya Bahagianya Merayakan Cinta menjelaskan bahwa hadits pertama (yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah) adalah dhaif. Dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim dan Walid bin Al Qasim Al Hamdani, keduanya dhaif. Bahkan, An Nasa’i memberi catatan: “hadits ini mungkar.”

Sedangkan hadits kedua (riwayat Tirmidzi), sesungguhnya tidak bisa dijadikan alasan suami istri harus menutup tubuhnya dengan selimut atau semisalnya saat berjima’ dikarenakan malu dengan makhluk lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Padahal, di dalam hadits itu telah ada jawabannya. Yakni kelajutan hadits tersebut yang sering tidak diketengahkan secara lengkap.

“Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah kecuali di saat kalian membung hadats di jamban dan ketika seorang suami mendatangi istrinya” (HR. Tirmidzi).

Salim A. Fillah kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat berikut: “Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, bahkan Ia menghendaki kemudahan bagi mereka. Ketika seorang hamba bersama istrinya telah menutup diri dari pandangan manusia di dalam satu bilik di rumahnya, maka Allah tidak lagi membebani mereka dengan hal yang menyulitkan dan memberatkan seperti memakai selimut. Karena bisa jadi selimut akan mengganggu jika hendak berekspresi dan berkreasi. Padahal yang demikian adalah hak yang Allah berikan pada mereka berdua untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya.”

Wallahu a’lam bish shawab. [IK/bersamadakwah]

Dalam Islam, Usia Berapakah Boleh Menikah?

Menikah di usia muda saat ini dianggap aneh. Bahkan, kadang menjadi sorotan. Padahal, menikah di usia muda atau pernikahan dini memiliki banyak maslahat bagi pemuda. Terlebih, pada era informasi dan globalisasi sekarang ini yang godaan menjaga kehormatan dan kesucian jauh lebih sulit daripada era-era sebelumnya.

Menikah di usia muda, seperti sabda Nabi, membuat pemuda lebih mudah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Beliau bersabda:

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits di atas, Rasulullah menggunakan istilah syabab yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pemuda. Siapakah yang dimaksud syabab dalam hadits tersebut? Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun.

Masa aqil baligh ini umumnya telah dialami pada rentang usia sekitar 14-17 tahun. Salah satu tanda yang menjadi patokan aqil baligh adalah datangnya ihtilam (mimpi basah). Akan tetapi, pada masa sekarang, datangnya ihtilam sering tidak sejalan dengan telah cukup matangnya pikiran. Sehingga generasi yang lahir pada zaman ini banyak yang telah memiliki kematangan seksual tetapi belum memiliki kedewasaan berpikir.

Jika seorang laki-laki telah mencapai aqil-baligh dan memiliki ba’ah, mampu menunaikan kewajiban baik batin maupun lahir (materi), ia dianjurkan oleh Rasulullah untuk segera menikah. Jadi secara fisik ia telah mengalami kematangan seksual, dari segi akal ia telah mencapai kematangan berpikir (ditandai dengan sifat rasyid dasar yang mampu mengambil pertimbangan sehat dalam memutuskan sesuatu dan bertanggungjawab), dan dari segi maliyah ia bisa mencari nafkah, ia disunnahkan untuk segera menikah meskipun usianya masih 20-an tahun.

Bagaimana dengan pemudi (wanita)? Untuk para gadis, syaratnya bahkan lebih mudah. Sebab, ia tidak seperti laki-laki yang dibebani kewajiban mencari nafkah. Sehingga, asalkan ia sudah aqil baligh (ditandai dengan menstruasi) dan memiliki kematangan berpikir, ia boleh dan dianjurkan untuk menikah. Tentu saja –bagi keduanya, pemuda maupun pemudi- bekal agama yang sekaligus membuatnya dewasa dalam mengarungi bahtera rumah tangga perlu untuk dimiliki.

Karena itulah kita mendapati di dalam sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah, para shahabat dan para shahabiyah telah menikah di usia mereka yang masih sangat muda. Fatimah Az Zahra menikah pada usia 19 tahun, sedangkan Ali bin Abu Thalib saat itu berusia 25 tahun. Rasulullah sendiri juga menikah di usia 25 tahun.

Jika Ali dan Fatimah menikah pada saat keduanya di usia muda, pernikahan dalam Islam tidak selalu seperti itu. Rasulullah yang menikah pada usia 25 tahun, saat itu istri beliau Khadijah telah berusia 40 tahun.

Yang terkenal menikah di usia paling muda adalah ummul mukminin Aisyah. Menurut sebagian riwayat, beliau dinikahi Nabi pada usia 7 tahun kemudian mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Tetapi ada data berbeda yang menyebutkan bahwa beliau dinikahi oleh Rasulullah pada usia 14 tahun. Wallahu a’lam bish shawab.

Seperti Rasulullah dan Aisyah yang usianya terpaut jauh, Utsman bin Affan juga pernah menikah dengan gadis belia. Saat rambut Utsman telah memutih, beliau menikah dengan Nailah yang masih berusia 18 tahun. Namun begitulah, Islam menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga tanpa peduli usia. Menikah dengan sesama usia muda mengandung banyak berkah. Namun, menikah saat muda dengan pasangan yang jauh lebih dewasa juga terbukti tidak bermasalah. Dari niat, segalanya dimulai. Dan dari niat, Allah menilai. []
 

suara islam Powered by Blogger