Tampilkan postingan dengan label Debat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debat. Tampilkan semua postingan

Jangan Ditawar (Versi Boso Jowo)

Jangan Ditawar.. Apalagi Sampai Dibantah dan Ditolak...

Wak Codhot : Kerupuknya satu berapa kang ??
Wak Kluprut : Mangatus (500)..
Wak Codhot : telungatus (300) ya…??
Wak Kluprut : codhotmu kuwi !! Ha wong mangatus kok ditawar. Ya harganya segitu. Gak gableg duit gak usah beli !!

Itulah reaksi wak Kluprut saat krupuknya yang seharga mangatus ripis ditawar wak Codhot yang selisih harganya cuma dua ratus ripis. Cuma duaratus, tapi sudah mbikin wak Kluprut sewot. Pasalnya orang biasa mbeli gak pernah nawar. Ha kok tahu-tahu ditawar cuma tigaratus ripis..
============================

Coba bandingken dengan wak Koplo yang mau mbeli mobil pada nyak Gembuk :

Wak Koplo : Dijual berapa mobilnya nyak ??
Nyak Gembuk : Empat puluh juta wak..
Wak Koplo : Wah bodynya full dempul kok empat puluh, mbok tiga lima saja nyak..
Nyak Gembuk : Wah, meski dempulan, tapi masih lumayan ngaleng lah… mingsih gemlondhang kalo didhodhog..
Wak Koplo : halah, ha wong genah jelas dempulan rata gitu kok. Sudahlah, tiga enam saja, gak lebih… kalo gak mau saya pulang..
Nyak Gembuk : Ya udah, ambil wak. BPKBnya saya ambil dulu.

Nyak Gembuk dengan lego lilo melepas mobilnya meski selisih 4 juta ripis dari harga penawaran. Dan tidak dengan marah-marah. Beda dengan krupuknya wak Kluprut tadi..
============================
Coba bandingkan lagi dengan Haji Amat yang mau beli tanah seluas empat hektar pada Haji Sangad :

Haji Amat : Gimana ji, saya sudah nawar setengah M mosok gak dilepas sih..
Haji Sangad : Kan sudah saya bilang, saya mbuka 800 juta, boleh nawar, tapi jangan setengah M dong…. saya tekor ji..
Haji Amat : Ya gimana ya, duitnya cekak je. Gini aja, saya naikin seratus. Gimana kalo 600 juta. Dah… saya punyanya cuma segitu..
Haji Sangad : Walah dikit lagi aja deh, 650 lah … dah saya lepas..
Haji Amat : Baik. Ini saya kasih DP dulu.

Haji Sangat gak keberatan amat menerima tawaran Haji Amat, meski selisih harga tawarnya mencapai 150 juta. Bandingkan dengan wak Kluprut yang misuh-misuh hanya karena krupuknya ditawar selisih duaratus ripis sama wak Codhot.
============================

Dan hal diatas adalah wajar terjadi di masyarakat. Semakin tinggi harga barang, maka selisih harga tawarnya juga akan tinggi. Sampeyan njual mobil seharga 60 juta, orang gak akan menawar dengan harga yang selisihnya cuma dua ratus ripis (Rp. 200,00). Mesti selisih tawarnya akan tinggi juga...

Nah...., Sekarang bayangkan dengan harga amalan akherat sampeyan !! Lha amalan akherat itu gak ada yang murah. Sholat 2 raka'at sebelum shubuh saja harganya lebih mahal daripada dunia dan seisinya, lha kalo ditawar sampeyan kelangan berapa itu ??? Rugi atau tekor dunia dan seisinya kan???
 
Dalam satu riwayat, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberangkatkan pasukan yang dipimpin oleh 3 panglima yang nantinya saling menggantikan jika salah satunya gugur. Tersebutlah Panglima cadangan terakhir bernama Abdullah ibnu Rawahah radhiallahu anhu, beliau mau berangkat agak terakhir. Pasukannya dah berangkat duluan pagi harinya. Beliau mau berangkat selepas tengah hari. Tapi beliau ditegur oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

"Kamu ketinggalan kebaikan dengan mereka yang berangkat pagi tadi sejauh 500 tahun perjalanan. "

Lhadhalah..., padahal cuma selisih setengah hari ?! udah ketinggalan 500 tahun perjalanan???

Para ulama sering menasehatkan.. Bahwa nyang namanyah kebaikan jangan suka ditunda dan ditawar, karena selisih ganjarannya akan jauh berbeda. Sebagaimana perbandingan orang jual krupuk dengan jual tanah 4 hektar tadi.

Kita ambil contoh :

Sholat jamaah ditawar sholat sendirian, sedekah banyak ditawar juga, sholat tepat waktu ditawar agak telat, haji muda ditawar haji setelah bangkotan, mertobat muda ditawar entar ajah kalo dah mambu lemah dan siap mujur ngalor mlumah…. halah...halah...!!
 
Ada lagi yang lebih parah broooooohhhh...

Jelas-jelas perintah itu datang nya dari Allah dan Rasul-Nya , jangankan ditawar, tapi malah banyak yang menolaknya secara mentah-mentah... Contohnya :

- Diperintahkan agar memakai jilbab yang longgar dan panjang bagi wanita..., eeee... lha kok malah banyak yang memakai pakaian ketat, ngancut, cekak, sampai hampir keliatan semua bagian dan lekuk auratnya...??? Rugi n Tekor berapa tuh??? dosa juga kan???

- Diperintahkan membiarkan jenggot tumbuh subur... Lha kok malah dicukur habis sampai klimis...???

- Diperintahkan agar meninggikan/memotong sarung atau celana bagi laki-laki sampai diatas mata kaki... Lha kok malah banyak yang celananya nglesreh sampai nyapu lemah...???

Contoh lagi : Diperintahkan kalo ada saudara atau tetangga yang meninggal agar memberikan makanan pada ahli mayitnya.. Lhadalah... Lha kok malah banyak yang podho makan-makan dirumahnya ahli mayit yang sedang kesusahan itu ?? Dan masih banyak contoh lainnya....

Hhmm.. Kalo gitu caranya, kehilangan pahala berapa banyak sampeyan ????
============================

Simulasi percakapan hanyalah rekaan, kalo ada kesamaan nama tokoh dan peristiwa, itu hanyalah kebetulan saja. Ini hanya sekedar ajakan untuk kita semuah agar jangan suka menawar apalagi menolak ketetapan Allah dan RasulNya...

Mudah-mudahan bermanfaat.. Wallahu Ta'la A'lam Bish-showaab..

Larangan Berdebat dan Jidal Dengan Ahli Kalam

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد،فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار .

Sebelum kita menyimak apa yang dikatakan para ulama tentang perdebatan, kita hendaknya meresapi kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal (debat untuk membantah).”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [Az-Zuhruf: 58]” (HSR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

I. Perkataan Imam Asy-Syafii rahimahullah


1. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan tentang Imam Asy-Syafii rahimahullah:

وَكَتَبَ إلَيْهِ رَجُلٌ يَسْأَلهُ عَنْ مُنَاظَرَة أَهْلِ الْكَلَامِ ، وَالْجُلُوس مَعَهُمْ، قَالَ: وَاَلَّذِي كُنَّا نَسْمَع وَأَدْرَكْنَا عَلَيْهِ مَنْ أَدْرَكْنَا مِنْ سَلَفِنَا مِنْ أَهْل الْعِلْم أَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ الْكَلَامَ وَالْخَوْضَ مَعَ أَهْل الزَّيْغ وَإِنَّمَا الْأَمْر فِي التَّسْلِيم وَالِانْتِهَاء إلَى مَا فِي كِتَابِ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّةِ رَسُوله لَا تَعَدَّى ذَلِكَ .

Seseorang menulis surat kepada Imam Asy-Syafii menanyainya tentang berdebat dengan ahli kalam dan duduk-duduk bersama mereka. Imam Syafii berkata: “Yang kami dengar dan kami dapati dari salaf (pendahulu) kami dari para ulama, bahwa mereka membenci ilmu kalam dan berdebat dengan orang-orang menyimpang. Agama itu hanyalah dalam tunduk dan berhenti kepada apa yang ada di Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak melampuinya.”

2. Az-Za’faroni berkata: Aku mendengar Asy-Syafii rahimahullah berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَهْلَ الْكَلَام إلَّا مَرَّةً وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذَلِكَ .

“Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu.”

3. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata:

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ .

“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.”


II. Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah


1. Beliau berkata:

كُلَّمَا جَاءَ رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ تَرَكْنَا مَا نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِجَدَلِهِ ، وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : { عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي } الْخَبَرُ .

“Apakah setiap datang seseorang yang lebih pandai berdebat dari orang lain, kami akan meninggalkan wahyu yang diturunkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena perdebatannya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlah bersabda: ‘Wajib kalian memegang teguh sunnahku’.”

2. Abul Muzhaffar As-Sam’ani berkata dalam Kitab Al-Intishor Li Ahlil Hadits: Imam Malik rahimahullah pernah ditanya siapa ahli bid’ah itu. Maka beliau menjawab:

أَهْلُ الْبِدَعِ الَّذِينَ يَتَكَلَّمُونَ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ وَكَلَامِهِ وَعِلْمِهِ وَقُدْرَتِهِ ، وَلَا يَسْكُتُونَ عَمَّا سَكَتَ عَنْهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ .

“Ahli Bid’ah adalah orang-orang yang berbicara tentang Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat-Nya, Kalamullah, Ilmu-Nya, dan Taqdir Allah, dan mereka tidak diam dari perkara yang para shohabat dan tabiin diam darinya.

3. Imam Malik rahimahullah berkata:

لَيْسَ هَذَا الْجَدَلُ مِنْ الدِّينِ بِشَيْءٍ .

Tidaklah jidal ini sedikitpun dari agama Islam.”


III. Perkataan Imam Ahmad rahimahullah

1. Abdus bin Malik Al-‘Aththar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ ، وَتَرْكُ الْبِدَعِ ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ ، وَتَرْكُ الْخُصُومَاتِ، وَالْجُلُوسِ مَعَ أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ ، وَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ.وَالْخُصُومَاتِ فِي الدِّينِ … لَا تُخَاصِمْ أَحَدًا وَلَا تُنَاظِرْهُ ، وَلَا تَتَعَلَّمْ الْجِدَالَ فَإِنَّ الْكَلَامَ فِي الْقَدَرِ وَالرُّؤْيَةِ وَالْقُرْآنِ وَغَيْرِهَا مِنْ السُّنَنِ مَكْرُوهٌ مَنْهِيٌّ عَنْهُ لَا يَكُونُ صَاحِبُهُ إنْ أَصَابَ بِكَلَامِهِ السُّنَّةَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ حَتَّى يَدَعَ الْجِدَالَ .

“Pokok-pokok aqidah menurut kami adalah berpegang teguh dengan yang dipegang oleh para shohabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani mereka, serta meninggalkan bid’ah. Karena semua bid’ah itu sesat. Dan juga untuk meninggalkan percekcokan dan duduk-duduk bersama ahlul ahwa, serta meninggalkan perdebatan, jidal, dan percekcokan dalam agama … Janganlah engkau cekcok dengan seorangpun dan jangan mendebatnya. Janganlah engkau mempelajari jidal, sesungguhnya ilmu kalam dalam aqidah seperti dalam masalah taqdir, ru’yah (melihat Allah di hari kiamat), Al-Qur’an, dan lainnya adalah dibenci dilarang. Tidaklah pelakunya walau dia mencocoki aqidah (yang benar) dengan ilmu kalamnya menjadi ahlussunnah, sampai dia meninggalkan jidal.”

2. Al-‘Abbas bin Ghalib Al-Warroq berkata: Aku berkata kepada Ahmad bin Hambal: Wahai Abu Abdillah, aku duduk dalam satu majlis yang tidak ada yang mengetahui sunnah selainku. Kemudian ada seorang ahli kalam ahli bid’ah berbicara, apakah aku bantah dia?” Beliau menjawab: “Jangan engkau dudukkan dirimu untuk demikian ini. Beritahu kepadanya sunnah dan jangan berdebat.” Kemudian aku mengulangi perkataanku lagi, sampai beliau berkata: “Aku tidak memandangmu kecuali seorang yang suka membantah.”   



IV. Perkataan para ulama yang lain


1. Al-Auza’i rahimahullah berkata:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ ، وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ ، وَإِنْ زَخْرَفُوا لَك الْقَوْلَ ، فَلْيَحْذَرْ كُلُّ مَسْئُولٍ وَمُنَاظِرٍ مِنْ الدُّخُولِ فِيمَا يُنْكِرُهُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ .وَلْيَجْتَهِدْ فِي اتِّبَاعِ السُّنَّةِ وَاجْتِنَابِ الْمُحْدَثَاتِ كَمَا أُمِرَ .

“Wajib kamu memegang atsar salaf (yang telah mendahului), meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hati kamu dari ro’yu (logika) orang-orang, meskipun orang-orang menghiasi perkataan itu untukmu. Maka hendaklah setiap orang yang ditanya dan yang mendebat hati-hati dari masuk ke dalam perkara yang menyebabkan dia diingkari oleh yang lainnya. Dan bersungguh-sungguhlah dalam ittiba’ (mengikuti) sunnah dan menjauhi perkara-perkara baru sebagaimana diperintahkan.”

2. Al-Auza’i rahimahullah juga pernah berkata

إذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْمٍ شَرًّا فَتَحَ عَلَيْهِمْ الْجِدَالَ، وَمَنَعَهُمْ الْعَمَلَ .

“Jika Allah menginginkan kejelekan pada satu kaum, maka Allah akan membuka atas mereka jidal, dan menghalangi mereka dari beramal.”
2. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah -seorang tabiin- pernah ditanya: “Apakah engkau berjidal?” Dia menjawab:

لَسْتُ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي

“Aku tidak ragu dengan agamaku, (kenapa aku berjidal)?
3. Seseorang (yang mau mendebat) berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah: “Bolehkah aku mengatakan kepadamu satu kata saja?” Ayyub rahimahullah menjawab:

لَا وَلَا بِنِصْفِ كَلِمَةٍ .

“Tidak, dan tidak pula walaupun setengah kata.”

Mari bersegeralah kembali kepada Allah dan bertaubat,
Subhanakallahuma wabihamdik, Asyhaduanlaa ilaaha illa anta, wa asyhtaghfiruka wa atubuilaik.

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته




Sumber http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2009/10/larangan-berdebat-dan-jidal-ahli-kalam.html
 

suara islam Powered by Blogger